Publication Search

72,574 articles from 669 journals · 2,111 citations tracked

Showing 71981-72000 of 72,574

Analytics

Yannie Asrie Widanti, Brigitta Rizky Ade Herawati Nanik Suhartatik

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2018 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Cookies merupakan makanan ringan yang sudah banyak dijumpai di masyarakat. Pada umunyapembuatan cookies menggunakan bahan baku tepung terigu yang tinggi gluten. Ketergantungan bahanbaku industri kue terhadap impor gandum harus dikurangi, sebagai upaya pencapaian ketahanan panganjangka panjang. Salah satu solusinya dapat dilakukan melalui penyediaan alternatif sumber pangan lainyaitu penggunaan beras merah dan tepung mocaf sebagai pengganti tepung terigu. Pada cookies berasmerah – mocaf ini ditambahkan bubuk kayu manis sebagai flavor agar rasa cookies lebih enak. Penelitian inibertujuan untuk menentukan konsentrasi bubuk kayu manis yang tepat untuk menghasilkan cookies yangdisukai konsumen, mengetahui formulasi yang tepat pada proses produksi, dan mengetahui karakteristikcookies tepung beras merah-mocaf dengan penambahan bubuk kayu manis. Penelitian ini dilakukan denganmetode Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu rasio tepung beras merah : tepungmocaf ( 3:1, 1:1, 1:3) dan konsentrasi bubuk kayu manis (0,5;1;1,5%). Hasil penelitian yang terbaik adalah padarasio tepung beras merah 1 : tepung mocaf 3 dan konsentrasi bubuk kayu manis 0,5%. Hasil cookies yangterbaik mengandung kadar air 1,05%; kadar abu 0,88%; kadar lemak 25,17%; kadar protein 2,87%; kadargula total 50,52%; volume pengembangan 0,26%; warna coklat (2,73); ada rasa dan aroma kayu manis (3,00);kerenyahan (3,20); dan disukai panelis (3,26).Kata kunci: cookies, tepung beras merah, tepung mocaf, bubuk kayu manis

Linda Kurniawati, Pramusinto Nanik Suhartatik

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2018 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Beras kencur merupakan minuman herbal yang mampu menyegarkan dan menyehatkan tubuh sertamemiliki cita rasa khas rempah. Kencur (Kamferia galangal), jahe (Zingiber officinale), sereh (Cymbopogancitrates), dan beras merah (Oryza niwara) mengandung bahan-bahan fungsional yang merupakan zat-zataktif dan beberapa mempunyai aktivitas antioksidan. Beras kencur dibuat dari racikan rempah-rempahyang ditumbuk kemudian diseduh dengan air panas. Penyajian beras kencur yang demikian kurang praktis.Salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah mengolahnya menjadi sirup. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui aktivitas antioksidan dan membuat formulasi sirup herbal dengan berat kencur-jahe-sereh danratio berat beras merah-beras putih. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap(RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu berat kencur-jahe-sereh (150-200-150 g; 125-250-125 g; 100-300-100 g)dan ratio berat beras merah-beras putih (1:4; 2:3; 3:2; 4:1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasiperlakuan berat kencur-jahe-sereh dan ratio berat beras merah-beras putih yang terbaik adalah pada beratkencur 125 g-jahe 250 g-sereh 125 g dan ratio berat beras merah-beras putih (4:1). Hasil sirup herbal yangterbaik mengandung aktivitas antioksidan RSA DPPH 88,25%; aktivitas antioksidan FRAP 91,71%; total fenol30,95 mg asam galat/100 ml; viskositas 42,00 dPas; pH 5,66; warna coklat (skor 3,00); flavor kencur-jahe-serehsedikit terasa (skor 2,67); rasa manis (skor 2,80); dan tingkat kesukaan disukai (skor 3,20).Kata kunci: Sirup, beras kencur, herbal, antioksidan.

Akhmad Mustofa, Danang Angga Dwi Tamtomi Nanik Suhartatik

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2018 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Daun singkong adalah jenis sayur yang berasal dari tanaman singkong atau ketela pohon. Daun singkongmengandung vitamin, mineral, serat, serta klorofil. Vitamin yang terkandung di dalamnya adalah A, B, C, danniasin. Mineral terdiri dari besi, kalsium, dan fosfor. Kandungan senyawa fungsional dalam daun singkong,dan keberadaan daun yang melimpah, maka perlu dilakukan suatu inovasi, agar bahan makanan ini dapatlebih bermanfaat. Salah satu cara yaitu membuat daun singkong ini menjadi tempe. Pada fermentasi tempeterjadi proses penguraian zat-zat makro molekul (seperti karbohidrat, protein, dan lemak) dalam kedelaioleh aktivitas enzim protease dan lipase, sehingga menghasilkan senyawa yang lebih sederhana dan lebihmudah dimanfaatkan oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, dan mendapatkanformula yang tepat dari tempe daun singkong. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)faktorial yang terdiri dari 2 faktor, faktor pertama adalah ratio penambahan ragi (0,5; 1; 1,5%) sedangkanfaktor kedua lama perendaman (6, 12, dan 18 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi palingbaik yaitu penambahan ragi 1,5% dan lama perendaman 18 jam dengan kadar air 81,95 (%b/b), kadar abu1,18(%b/v), kadar protein 6,14 (%b/b), kadar serat tak larut 14,85(%b/b), kadar serat larut 0,86(%b/b), volumepengembangan 0,34(%), selisih berat 1,86(%), kekompakan 3,87(%), dan kepadatan 3,87(%).Kata kunci: Singkong, fermentasi, tempe

Yannie Asrie Widanti, Wuriana Ratma Asih Kapti Rahayu Kuswanto

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2018 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Daun kelor memiliki nilai gizi yang sangat baik yaitu mengandung vitamin A, vitamin C, vitaminB6, kalsium, kalium, zat besi, dan protein sehingga digunakan bayi dan ibu menyusui sebagai makananpendamping ASI (MPASI). Daun kelor memiliki kelemahan yaitu mempunyai aroma langu. Penambahanpuree pisang ambon yaitu untuk menghilangkan aroma langu daun kelor karena rasa pisang ambon disukaibayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis dan komposisi makronutrienMakanan Pendamping ASI dengan penambahan puree daun kelor dan puree pisang untuk bayi. MakananPendamping ASI dengan formula yang memenuhi SNI dan Angka kecukupan gizi bayi dengan menggunakanRancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor, faktor pertama adalah penambahanpuree daun kelor (3,89; 5,19; 6,49%) sedangkan faktor yang kedua penambahan puree pisang ambon (5,19;7,79; 10,38%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi paling disukai yaitu penambahan pureedaun kelor 3,89% dan puree pisang ambon 6,49% dengan kadar air 51,13%, kadar abu 0,39%, kadar protein7,06%, kadar lemak 7,69%, kadar gula 3,5%, vitamin C 17,41 mg/100g , warna hijau (3,07), tekstur lembekdan lembut (4,67), rasa pisang sangat terasa (4,27), dan aroma langu kurang terasa (2,73).Kata kunci: pisang ambon, daun kelor, Makanan Pendamping ASI.

Akhmad Mustofa, Mutiara Gustina Rohmawati Yannie Asrie Widanti

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2018 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Ampas tahu memiliki potensi gizi sebagai sumber protein dan mengandung serat yang tinggi. Labukuning merupakan sumber Beta-karoten. Beta-karoten adalah pembentuk Vitamin A atau retinol yangbermanfaat untuk pertumbuhan dan pembentukan jaringan tubuh. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh penggunaan jenis gula dengan tingkat penambahan ampas tahu dan tepung labukuning terhadap karakteristik fisikokimia snack bars dan tingkat kesukaan. Penelitian ini menggunakanRancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama yaitu perbandinganampas tahu dan tepung labu kuning (80:20, 60:40, 50:50) dan faktor yang kedua yaitu jenis gula (gula jawa,madu, fruktosa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa snack bars ampas tahu dengan penambahan tepunglabu kuning (80:20) dan variasi jenis gula (gula jawa) yang memiliki karakteristik terbaik yaitu: protein(7,77%), betakaroten (25,52 mg/g), kadar air (20,73%), kadar abu (2,41%), gula total (18,18%), warna coklat(3,66), rasa labu kuning sedikit terasa (2,06), rasa ampas tahu terasa (1,86), tekstur sedikit lengket (2,26),dan kesukaan keseluruhan yang paling disukai (3,40).Kata kunci: ampas tahu, labu kuning, snack bars.

Ida Royani

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2018 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Penelitian  yang dilakukan  terhadap sampel siswa/i SMP Pangudi Luhur Salatiga ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial orang tua dan monitoring orang tua terhadap self-esteem remaja awal. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk angket, yakni angket dukungan sosial orang tua, monitoring orang tua dan self-esteem. Metode analisa data yang digunakan adalah analisa regresi 2 prediktor dengan bantuan program SPSS versi 17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial orang tua dan monitoring orang tua secara simultan berpengaruh signifikan terhadap self-esteem (F- reg=33.833; p-value<0.05), dan total sumbangan yang diberikan sebesar 48.11%. Masing-masing variabel memberikan sumbangan sebesar 12.42% dan   35.69%.   Sumbangan   Monitoring   Orang   Tua   lebih   besar   (ß- MOT=0.525) dibandingkan sumbangan dari Dukungan Sosial Orang Tua (ß-DOT=0.206). Total sumbangan sebesar 48.11% menandakan bahwa masih ada  variabel-variabel  lain  di  luar  penelitian  ini  yang  dapat  dijadikan sebagai prediktor self-esteem sebesar 51.89%.

Tantani binti Longkiad

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2018 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Pencarian kebenaran sejati merupakan perjuangan setiap orang yang berpikir khususnya mereka yang “skeptik” terhadap kebenaran-kebenaran iman. Edith Stein yang berpersonalitas sangat keras dengan kemampuan intelektualnya  yang  sangat  tinggi berhadapan  dengan  krisis iman  sejak masih muda. Dia tidak percaya kepada eksistensi Allah sebagai seorang Pribadi. Dia adalah seorang “atheist” yang giat mencari kebenaran melalui ilmu pengetahuan – khususnya lewat fenomenologi yang diajarkan oleh Edmund Husssel. Perjumpaannya dengan beberapa filsuf beriman seperti Max Scheller dan Adolf Reinach telah menimbulkan kerinduannya untuk bertobat dan oleh rahmat Tuhan ia dituntun kepada suatu pengalaman iman ketika membaca buku Riwayat Hidup Teresa dari Avila.

Simplesius Sandur

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2018 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Apakah waktu? Apakah waktu itu ada? Bagaimana mengukurnya? Pertanyaan-pertanyaan yang luput dari perhatian kita tetapi Agustinus telah menjawabnya. Jelas waktu itu ada dan ia ada karena ia “lewat” dalam hidup kita. Bagi Agustinus waktu itu adalah distentio animi atau penggelembungan jiwa. Disebut “pengegelembungan” karena waktu adalah  suatu dialektika  antara 3 hal: memori, perhatian dan harapan. Penggelembungan jiwa membawa masa lalu dan yang akan datang pada saat ini yang sedang lewat. Masa lalu, masa depan dan sekarang selalu hadir dalam jiwa. Dalam masa lalu ada memori, dalam masa depan ada harapan dan saat ini ada perhatian dan ketiganya adalah aktivitas dari jiwa.   Waktu itu adalah suatu dialektika tiga hal “sekarang”:   sekarang tentang  hal-hal  masa   lalu,   sekarang  tentang  hal-hal  sekarang   dan sekarang tentang hal-hal yang akan datang.

Shelomita Selamat

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2018 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Human being is a rational animal who has the capability to think. The activity of thinking distinguishes man from other animals. Nevertheless, there are some people who do not use their capability to think. Many people just follow what other people said without really considering what they actually do. For Hannah Arendt, this is one of the factors that causes many evils have occurred in our daily life. Moreover, she used the term of the banality of evil to describe the evil that has  happened  because of  the culprit’s  inability  to think.  Therefore,  she emphasized the importance of thinking in every human being. For her, thinking makes human to avoid grave evil.

Irwan Irwan

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2018 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Penderitaan adalah bagian dari hidup manusia. Manusia berusaha memahami  mengapa  ada penderitaan  dan  bagaimana harus menyikapinya. Kebijaksanaan Israel kuno berusaha memahami misteri penderitaan itu, salah satunya adalah Kitab Ayub. Melalui studi pustaka, artikel ini menyelidiki jawaban Kitab Ayub terhadap persoalan penderitaan manusia dan bagaimana manusia menjalani hidupnya (moralitas) tatkala penderitaan menimpanya.

Ferry Hartono

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2018 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Every literature consists of Story and Plot, or should I say, series of events. While the Story is about what happened literally, the Plot is more about how the narrator explains what happened. Aristotle alleged that the Plot and Structure were the most important elements in of a Tragedy (Poetics VI,5; VII,1). However, the success of a story also depends on the rendering of Character (Poetics VI,5). Therefore, the study about Characters in  Narrative  Criticism  is  necessary  to  conclude  the  exploration  of  a literature.  Gospel  of  Mark,  as  presented  in  this  paper  is  through  and through a story. Study of plot and structure in it, therefore, is necessary to build the sufficient base for study of character. This research paper is dedicated mainly on plot of the Gospel of Mark, particularly Mark 4,35-8,30. To understand the plot, it is essential to know the style and context of the literature at hand, facts about the author and the setting of the story.

Kiswanto, Yulius

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Tempe is a traditional fermented food usually made from soybeans by Rhizopus sp. Recents publicationsmentioned that the major component was dietary fiber. One which has the capacity to lowering blood cholesterollevel. The purpose of this study was to examine the effect of tempe diet on the lipid profile and cholesterolexcretion in rats. 45 male Sprague Dawley rats were used and divided into 3 groups of 15. Each group were fedan isocaloric and isoprotein diet contained different proportion of tempe (0%, 10%,20%,30% and 40%) for 4weeks. This experiment used completely randomized design.The result showed that tempe diet significantly reduced total cholesterol (12%), LDL-cholesterol (50%) andtriglyceride (50,36%) and increased HDL resulted in the higher cholesterol faeces excretion with were maximumvalue 11,9 mg/g (40% tempe) compared 5,4 mg/g (standar diet).Keywords: Tempe, diet, lipid profile, cholesterol excretion.

Nanik Suhartatik, Rendra Lukmana Septiaji, Merkuria Karyantina &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Cookies merupakan salah satu produk makanan yang popular di masyarakat. Bahan baku cookies adalahtepung terigu, yang sampai saat ini masih impor dari luar negeri, sehingga ketergantungan tepung terigucukup tinggi. Pemanfaatan tepung biji alpukat akan mengurangi penggunaan tepung terigu dan dapatmengolah limbah dari alpukat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi dan karakteristik cookiesdengan substitusi tepung biji alpukat dan tepung jahe. Penelitian ini dilakukan dengan metode rancanganacak lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu rasio tepung biji alpukat (10, 20, 30%) dan tepungjahe (2, 4, 6%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan rasio tepung biji alpukat 10%dan tepung jahe 2% yang terbaik. Perlakuan tersebut menghasilkan karakteristik sebagai berikut kadar air3,28%, kadar abu 1,53%, kadar protein 5,75%, Kadar lemak 30,60%, Kadar gula 33,36%, volume pengembangan1,07%, warna ( 1,80%), rasa (2,13%), kerenyahan (1,93%) dan disukai panelis (3,80%).Kata kunci: cookies, tepung biji alpukat, tepung jahe, substitusi

Oktiva Anggraini, Dyah Titin Laswati, Natalia Retno Ika Sundari &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Penelitian ini bertujuan mengetahui sifat kimia dan sensoris terhadap 3 jenis olahan kersen dari daun,bunga,dan buah. Parameter yang diuji adalah rasa, warna, aroma, tekstur dan kesukaan. Metode yangdilakukan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan diulang 3 kali sebagai blok untuk tiap produk.Pengujian organoleptik secara uji pembedaan nilai dan Hedonic scale test. Panelis yang digunakan 30 panelistidak terlatih yakni masyarakat khususnya anggota KWT Karya Bunda di Dusun Patukan, Ambarketawang,Gamping, Sleman dan mahasiswa. Pembuatan produk olahan daun diolah menjadi kripik bunga menjaditeh yang diseduh, kemudian buah diolah menjadi selai. Hasil penelitian meliputi analisis kimia pada kersensegar dan olahan. Berturut-turut daun, bunga dan buah segar yaitu kadar air adalah 68,33%; 76,12% dan80,43%, kadar lemak (%b/b) 1,1; 0,50; dan 0,05, kadar protein (%b/b) adalah 2,99; 2,06 dan 0,53, kadarabu (%b/b) adalah 5,08; 2,32 dan 0,78, kadar karbohidrat by different (%b/b) adalah 28,76; 7,43 dan 16,85,serta kadar serat (%b/b) adalah 49,6%; 11,61% dan 4,22%. Sedangkan pada bunga juga mengandung kadartanin sebesar 0,37(% b/b); pada buah mengandung kadar gula total 4,53 (%b/b); vitamin C 23,79 mg/100 g(b/b) dan kadar pektin 0,05 (%b/b). Berturut-turut olahan daun(kripik), bunga (teh) dan buah (selai) yaitukadar air adalah 8,33%; 20,21% dan 70,50%, kadar lemak (%b/b) 8,71; 0,72; dan 0,20; kadar protein (%b/b)adalah 6,45; 2,06 dan 0,26, kadar abu (%b/b) adalah 3,26; 7,60 dan 1,02, kadar karbohidrat by different(%b/b) adalah 39,05; 48,53 dan 33,30, serta kadar serat (%b/b) adalah 16,46%; 16,42% dan 5,70%. kadartanin (% b/b) sebesar 0,10; 0,49; 0,70. Hasil uji organoleptik terhadap kripik daun kersen, 66,67% panelismenyatakan suka; terhadap teh bunga kersen 36.67% panelis menyatakan suka serta selai 70% panelismenyatakan suka .Kata kunci: Kersen, kripik, selai, teh.

Nanik Suhartatik, Farida Haznah Ma’ruf, Akhmad Mustofa &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Tortilla merupakan makanan khas dari Meksiko berbentuk keripik dengan bahan baku jagung. Dalampenelitian ini dipergunakan penambahan tepung sukun terhadap perbandingan jagung dan kacang hijau untukmeningkatkan nilai ekonomis produk serta meningkatkan kandungan protein produk dengan penambahankacang hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan proporsi jagung dan kacang hijau dengan penambahantepung sukun dalam pembuatan tortilla yang dapat diterima konsumen serta untuk mengetahui pengaruh variasijagung dan kacang hijau dengan penambahan tepung sukun terhadap karakteristik sensori dan kimia tortilla yangdihasilkan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan perlakuan perbandingan antaratepung sukun, jagung dan kacang hijau dengan komposisi tepung sukun (90, 120, dan 150 g) dan perbandinganjagung dengan kacang hijau (75 : 135, 75 : 105 , 75 : 75 g). Data yang diperoleh dianalisis dengan uji sidik ragampada jenjang nyata 0,05. Jika ada beda nyata dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwatortilla yang terbaik adalah dengan penambahan tepung sukun 120 g dan perbandingan jagung dengan kacanghijau 75 g : 135 g. Hasil tortilla terbaik mengandung kadar air 2,96%, kadar abu 4,63%, kadar protein 7,83%, kadarlemak 25,06%, karbohidrat (by different) 59,49%, warna kuning kecoklatan 3,66%, kerenyahan tortilla renyah3,46%, cita rasa tepung sukun dan kacang hijau nyata atau terasa 3,13% dan kesukaan keseluruhan 3,20%.Kata kunci:Tortilla, tepung sukun, jagung, kacang hijau

Nanik Suhartatik, Eka Wahyu Ismail, Linda Kurniawati &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Beras analog merupakan sebutan lain dari beras tiruan (artificial rice) yang dibuat dari bahan non padidengan kandungan karbohidrat yang mendekati atau melebihi dengan bentuk menyerupai beras dapatberasal dari tepung lokal atau padi. Metode pembuatan beras analog terdiri dua cara, yaitu metode granulasidan ekstruksi. Hasil cetakan metode granulasi adalah butiran sedangkan hasil cetakan metode ekstruksiadalah bulat lonjong dan sudah lebih menyerupai beras.Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktorjenis ubi jalar (ubi jalar putih, ubi jalar kuning, ubi jalar ungu) dan rasio tepung singkong dan tepung ubijalar (putih, kuning, dan ungu) sebagai berikut: 100:0, 85:15, 70:30, 55:45.Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang terbaik rasio tepung singkong dan ubi jalar 55:45 pada jenisubi jalar putih. Hasil beras analog yang terbaik mengandung kadar air 10,07%; kadar abu 2,52%; kadar gulatotal 8,87%; kadar betakaroten 326 mg/100 g; dan kadar serat kasar 6,74%.Kata kunci: beras analog, tepung singkong ubi jalar, rasio tepung, jenis ubi jalar

Akhmad Mustofa, Elang Wahyu Putra Adityas, Linda Kurniawati &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Marmalade merupakan produk yang menyerupai selai dibuat dari sari buah beserta kulitnya dengangula. Standar mutu marmalade mempunyai kadar pektin 0,75-1,5%, kadar gula 65-73%, pH 3,2–3,5 dan totalpadatan terlarut 66%-68%. Studi ini bertujuan untuk menghasilkan marmalade fungsional yang mengandungvitamin C tinggi serta disukai konsumen. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan AcakLengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama rasio buah jeruk sunkist-nanas (1:4,2:3, 3:2, dan 4:1) sedangkan faktor yang kedua yaitu kadar gula (65, 69, dan 73%). Hasil penelitian yangdirekomendasikan adalah kombinasi perlakuan rasio buah 4:1 dan kadar gula 69%. Perlakuan ini mempunyaikarakteristik sebagai berikut: kadar air 15,30%; kadar gula 68,20%; vitamin C 37,08 mg; pH 5; kadar pektin2,8650%; warna kuning (2,80); rasa manis (2,73); aroma buah kuat (2,36); dan disukai (2,66).Kata kunci: Marmalade, jeruk sunkist, nanas, Vitamin C

Akhmad Mustofa, Nurtika Sari, Yannie Asri Widanti &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Labu kuning merupakan sumber karoten (pro vitamin A) yang tinggi, serta mengandung antioksidansebagai penangkal radikal bebas. Labu kuning tersusun atas karbohidrat, protein, lemak, kalsium, fosfor,zat besi, vitamin A, vitamin B, vitamin C, dan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenissusu dengan tingkat penambahan bubur labu kuning terhadap karakteristik fisik dan kimia es krim yangdisukai konsumen. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari2 faktor. Faktor pertama yaitu jenis susu (susu kedelai, susu sapi UHT, dan susu kambing) dan faktor yangkedua yaitu konsentrasi labu kuning (20, 30, dan 40%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa es krim labukuning dengan jenis susu kambing dan konsentrasi labu kuning 20% yang paling banyak disukai konsumendan memiliki karakteristik sebagai berikut: kadar protein 2,39%, kadar lemak 0,36%, kadar betakaroten555,79μg, kadar gula total 12,90%, kadar air 55,48%, kadar abu 1,45%, titik leleh 13,45 menit; warna kuning(2,05); aroma sangat khas susu (1,45); rasa labu kuning agak terasa (3,35); tekstur sangat lembut (1,40);disukai (1,55).Kata kunci: es krim, susu, fisikokimia, sensori, labu kuning.

Nanik Suhartatik, Samuel Bayu Saputro, Merkuria Karyantina &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Biskuit merupakan produk kering dengan daya awet yang relatif tinggi dan salah satu produk makananyang popular di masyarakat. Bahan baku biskuit adalah tepung terigu, yang sampai saat ini masih impordari luar negeri, sehingga ketergantungan terhadap tepung terigu cukup besar. Pemanfaatan tepung sorgumsebagai substitusi dalam pembuatan produk pangan akan mengurangi impor tepung terigu dan menambahnilai fungsional sorgum, serta lebih membudayakan bahan baku lokal dengan maksimal. Penelitian inibertujuan untuk menentukan formulasi dan mengetahui karakteristik biskuit dengan substitusi tepungsorgum dan penambahan ekstrak jahe. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap(RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu konsentrasi tepung sorgum (10, 20, dan 30%) dan penambahanekstrak jahe (10, 15, dan 20 ml). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi tepung sorgum20% dan penambahan ekstrak jahe 10 ml adalah yang paling disukai. Biskuit dengan perlakuan ini memilikikadar air 4,01%; kadar gula total 34,28%; kadar protein 6,39%; kadar lemak 21,33%; rasa terasa manis (2,8000);aroma jahe sedikit terasa (2,0000); kerenyahan terasa renyah (2,8000); dan kesukaan keseluruhan disukai(2,6000).Kata kunci: Biskuit, tepung sorgum, ekstrak jahe, substitusi.

Linda Kurniawati, Lilly Candra Eka Putri, Akhmad Mustofa &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Biskuit merupakan salah satu produk makanan yang popular di masyarakat dan mengandungkarbohidrat, protein, dan lemak sehingga baik dikonsumsi anak-anak sekolah. Bahan baku biskuit adalahtepung terigu, yang sampai saat ini masih impor dari luar negeri, sehingga ketergantungan terhadap tepungterigu cukup besar. Pemanfaatan tepung bekatul beras merah sebagai substitusi dalam pembuatan produkpangan akan mengurangi impor tepung terigu, serta lebih meningkatkan kandungan gizinya. Penelitianini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis bekatul beras merah yaitu dengan mengolah bekatulberas merah menjadi tepung, selanjutnya menjadi biskuit dengan penambahan ekstrak jahe merah, danmenambah nilai gizi biskuit fungsional. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap(RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu substitusi tepung bekatul beras merah (20, 30, dan 40%) dankadar ekstrak jahe merah (0, 2, 4, dan 6%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuansubstitusi tepung bekatul beras merah dan kadar ekstrak jahe merah yang terbaik adalah pada substitusitepung bekatul beras merah 30% dan kadar ekstrak jahe merah 4%. Perlakuan ini menghasilkan biskuityang mengandung kadar air 3,91%; kadar abu 2,23%; kadar gula total 34,27%; aktivitas antioksidan 85,94%;volume pengembangan 0,36%; warna coklat (3,40); rasa/aroma jahe merah (2,93); memiliki kerenyahanatau tekstur renyah (3,13); dan disukai panelis (3,47).Kata kunci: Biskuit, tepung bekatul beras merah, ekstrak jahe merah, substitusi.