Publication Search

70,493 articles from 608 journals · 1,760 citations tracked

Showing 1-20 of 25

Analytics

Miftahul Rizqi; Zam Akhsanu Zahro; Fatihul Muhaimin; Mochammad Isa Anshori

Epsilon : Journal of Management (EJoM) 2026 Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Ichsan Gorontalo

The dominance of Western management paradigms in global leadership studies has created homogeneous standards that are less sensitive to non-Western cultural values, while the decolonization of management calls for more contextual, inclusive, and locally-informed approaches. This study aims to analyze the concept of cross-cultural leadership within the framework of management decolonization, identify critiques of Western leadership models, and formulate a conceptual framework for global leadership based on non-Western values. The approach employed is qualitative, drawing on literature review and thematic synthesis of academic publications, international reports, and policy documents relevant to leadership practices in Asia, Africa, and Latin America. The findings reveal that cross-cultural leadership emphasizes collectivism, social harmony, relationality, spirituality, and the integration of local values into decision-making, which significantly diverges from the individualistic and transformational models dominant in the West. These findings underscore the need to reconstruct global leadership standards to be more pluralistic, culturally sensitive, and adaptive to the diversity of multinational organizations. Conceptually, this article contributes an alternative framework for global leadership studies, providing a foundation for managerial practices that respect local cultural values, and offering implications for curriculum development in management education and organizational policies that support inclusivity and sustainability in cross-cultural environments. The abstract reflects the study’s contribution to expanding the literature on cross-cultural leadership through decolonial and indigenous leadership perspectives. Keywords: Cross-cultural leadership, Manajemen decolonization, Non-Western global standards, Indigenous leadership, Postcolonial management, Local cultural values

Astari Herdiani; Dyah Titisari Widyastuti

SARGA: Journal of Architecture and Urbanism 2026 Universitas 17 Agustus 1945

Pusat Kota Lama Toboali merupakan kawasan historis yang menyimpan nilai-nilai spasial, sosial, dan budaya yang penting dalam sejarah urban Kepulauan Bangka Belitung. Transformasi yang terjadi dari masa kolonial hingga kini telah mengubah banyak elemen pembentuk citra kota yang mempengaruhi persepsi kolektif masyarakat terhadap identitas kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis perubahan elemen-elemen pembentuk citra kota berdasarkan teori Kevin Lynch (paths, edges, districts, nodes, landmarks) serta bagaimana perubahan tersebut berdampak terhadap karakter kawasan. Penelitian menggunakan pendekatan rasionalistik kualitatif dengan metode historis-interprektif, observasi lapangan, wawancara mendalam, cognitive mapping, dan analisis konten. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perencanaan kota berkelanjutan dan strategi pelestarian kawasan historis Toboali.  

Rizal, Syamshul; Pudjiati, Emiliana Sri

Innovation, Theory & Practice Management Journal 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peningkatan kinerja pegawai sektor publik yang sering terkendala birokrasi, budaya organisasi hierarkis, dan regulasi ketat. Kepemimpinan autentik dan penyesuaian pekerjaan dipandang sebagai faktor yang dapat   memengaruhi kinerja pegawai baik secara langsung maupun melalui keterlibatan kerja. Kepemimpinan autentik berperan dalam menciptakan iklim kerja yang terbuka dan penuh integritas, sedangkan penyesuaian pekerjaan memberi ruang bagi pegawai menyesuaikan pekerjaan dengan kekuatan dan preferensi pribadi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan survei terhadap 153 pegawai Dinas Perhubungan Kabupaten Pemalang. Instrumen berupa kuesioner berskala Likert yang diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan dengan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji hubungan langsung maupun mediasi antar variabel berdasarkan teori JD-R, COR, dan Authentic Leadership. Hasil penelitian menunjukkan empat hipotesis diterima dan satu ditolak. Penyesuaian pekerjaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan kerja dan kinerja pegawai, serta menjadi prediktor paling kuat bagi kinerja (β = 0,432). Kepemimpinan autentik berpengaruh positif terhadap keterlibatan kerja (β = 0,335), namun tidak signifikan terhadap kinerja (β = 0,120). Keterlibatan kerja terbukti memediasi sebagian hubungan penyesuaian pekerjaan dengan kinerja, tetapi tidak memediasi pengaruh kepemimpinan autentik. Model penelitian mampu menjelaskan 44,2% varians keterlibatan kerja dan 60,8% varians kinerja pegawai. Temuan ini menegaskan pentingnya faktor individual seperti penyesuaian pekerjaan dibandingkan faktor kepemimpinan top-down dalam meningkatkan kinerja pegawai di sektor publik. Implikasi praktis penelitian ini adalah perlunya organisasi pemerintah mengembangkan program penyesuaian pekerjaan, memperkuat keterlibatan kerja, serta membangun kepemimpinan autentik sebagai fondasi budaya kerja yang positif.

Mangihut Siregar; Novita Dwi Indriani

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora 2026 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

The culture of patronage is a key characteristic of Indonesian political dynamics, having developed from the pre-colonial era to the contemporary democratic era. Despite decentralization and political reforms in Indonesia, patronage practices persist through relationships between political elites, bureaucracy, business actors, and communities, particularly at the local level. This study analyzes patronage using Pierre Bourdieu's Social Practice Theory framework, which emphasizes the interaction between habitus, capital, and the arena as factors shaping social practices. The method used is descriptive qualitative research with data collection techniques through desk studies, which allows researchers to examine various academic literature to build a comprehensive conceptual analysis. The research findings indicate that internalized political habitus, the accumulation of economic, social, cultural, and symbolic capital, and a competitive local political field are key elements in perpetuating patronage. Patronage is not merely a transactional political practice, but a social structure that is continuously reproduced and impacts the politicization of bureaucracy, the strengthening of oligarchy, power inequality, and the vulnerability of the poor to political manipulation. This research confirms that efforts to strengthen democracy in Indonesia require transformation of the political habitus of society, bureaucratic reform, and restrictions on the dominance of economic actors in the political arena to break the entrenched patron-client chain.

Dhiva Shahilla Saragih; Nur Zakiyah; Rizka Hasanah Nasution

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak pola asuh otoriter terhadap perkembangan sosial dan emosional anak usia dini. Perkembangan sosial emosional anak usia dini sangat penting karena membentuk sikap, nilai, dan perilaku mereka di masa depan. Studi kepustakaan ini menelaah berbagai teori dan penelitian relevan untuk menganalisis bagaimana pola asuh otoriter, yang menekankan kontrol ketat dan kepatuhan, memengaruhi perkembangan anak. Hasil kajian menunjukkan bahwa pola asuh otoriter dapat menghambat perkembangan regulasi emosi anak, meningkatkan risiko kecemasan dan depresi, serta memicu reaksi defensif yang mengarah pada perilaku eksternalisasi seperti agresi atau internalisasi seperti isolasi sosial. Dampak gender juga terlihat, di mana anak perempuan cenderung memendam emosi menjadi apatis atau cemas, sementara anak laki-laki lebih mengeksternalisasi menjadi ledakan emosi. Selain itu, faktor budaya seperti nilai kolektivisme di Indonesia dapat memperburuk dampak negatif pola asuh ini. Dampak jangka panjang dari pola asuh otoriter meliputi masalah akademik dan sosial di sekolah dasar, serta peningkatan risiko gangguan mental di masa dewasa. Penelitian ini menekankan pentingnya intervensi untuk mencegah anak-anak yang diasuh secara otoriter mengulangi pola tersebut di generasi berikutnya.

Siska udilawaty; Udilawaty, Siska

JURNAL ILMIAH KOMPUTER GRAFIS 2025 UNIVERSITAS STEKOM

Penelitian ini mengkaji identitas visual merek Pia Saronde—salah satu produk kuliner khas Gorontalo—dengan menggunakan pendekatan semiotika yang berlandaskan teori Roland Barthes. Sebagai salah satu UMKM yang bergerak di sektor pangan, merek ini sangat bergantung pada peran logo untuk membentuk persepsi konsumen, memperkuat posisi merek, serta membedakannya dari produk lain dalam persaingan pasar. Penelitian ini bertujuan menelaah struktur visual yang membentuk logo, menginterpretasikan makna denotatif dan konotatif yang muncul, serta menilai sejauh mana logo tersebut mampu merepresentasikan nilai-nilai budaya lokal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan memadukan pengamatan visual terhadap logo dan kajian pustaka yang relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi warna kuning dan coklat pada logo mampu menimbulkan kesan hangat, manis, dan menggugah selera, sedangkan bentuk tipografi yang melengkung menghadirkan citra tradisional, akrab, dan bernuansa rumahan. Selain itu, penggunaan nama “Saronde” menciptakan hubungan simbolis dengan Pulau Saronde yang terkenal, sehingga memperkuat keterikatan merek terhadap identitas daerah. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa logo tersebut berhasil mengomunikasikan keterkaitan budaya dan citra kuliner yang diusung produk. Meskipun demikian, penelitian ini merekomendasikan adanya pengembangan pada beberapa elemen simbolik dan peningkatan adaptasi visual untuk kebutuhan media digital guna memperkuat daya saing merek.

Maharani Dwi Nurhalizah Rahmah; Inayah Thohiroh; Muhammad Luthfi Ramdhani; Muhammad Ary Sukmo Wibowo; Abdul Azis

Jurnal Budi Pekerti Agama Islam 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses pemanfaatan teknologi dalam budaya islam menurut perspektif buya hamka, dengan teknologi yang semakin berkembang dan modern membuat budaya islam lebih dikenal secara luas dan mudah, melalui perspektif buya hamka ini islam tidak melarang umat islam untuk ketingglan zaman, asalkan setiap budaya yang dihasilkan dan disebar luskan bisa sesuai syariat islam , sehingga jauh dari kata maksiat dan menyesatkan serta tidak melanggar syariat islam. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengeksplorasi kontribusi teknologi dalam penyebaran budaya Islam menurut pandangan Buya Hamka. Proses pengumpulan data dilakukan melalui  sistem observasi, wawancara, dan analisis dokumen, yang kemudian dianalisis dengan cara deskriptif merujuk pada teori-teori keislaman dari Buya Hamka. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Buya Hamka melihat teknologi sebagai sarana yang dapat memperkuat nilai iman dan moral, serta menyebarluaskan ajaran Islam secara inovatif dan interaktif. Pandangannya menekankan pentingnya menemukan keseimbangan antara perkembangan teknologi dan kemajuan spiritual agar teknologi dapat digunakan secara efektif dalam kegiatan dakwah dan pendidikan Islam. Penelitian ini juga menunjukkan relevansi pemikiran Buya Hamka dalam era digital saat ini, di mana media digital memiliki peranan yang signifikan dalam menjangkau masyarakat luas dengan cara yang humanis dan dialogis, sejalan dengan nilai-nilai moral dan budaya Islam.

DSS, Thermanto; Triyanto, Yoel

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk menafsir ulang makna iman anak berkebutuhan khusus melalui sudut pandang teologi disabilitas dalam konteks budaya serta pelayanan gerejawi di Indonesia. Anak berkebutuhan khusus, seperti autisme, sindrom down, hiperaktif, cerebral palsy, dan hambatan intelektual lainnya, acapkali dilihat dari sudut pandang medis atau psikologis saja. Sedangkan melalui sudut pandang spiritual mereka seringkali diabaikan atau dianggap tidak penting. Umumnya dalam banyak gereja, konsep iman masih sangat idealis, bergantung pada kapasitas intelektual dan kemampuan lisan. Hal ini mengakibatkan anak berkebutuhan khusus acapkali tidak bisa mengekspresikan iman yang "benar" sehingga seringkali dianggap kurang memiliki iman. Studi ini memakai metode penelitian literatur dengan mengkaji berbagai macam teori dan pendekatan dalam teologi disabilitas modern, seperti yang dikembangkan oleh tokoh seperti Amos Yong, John Swinton, maupun Thomas Reynolds. Studi ini juga mengaitkannya dalam konteks sosial-budaya dan konteks gerejawi di Indonesia. Artikel ini menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki kapasitas spiritual yang asli, meskipun melalui cara pemahaman dan mengekspresikan iman yang berbeda dari anak reguler. Mereka dapat juga berperan aktif dalam lingkup liturgi dan aktivitas gerejawi. Dalam wilayah negara Indonesia, norma atau etika lokal seperti gotong royong, empati kolektif, serta penghargaan terhadap perbedaan dapat menjadi landasan berpikir teologis untuk membangun gereja yang lebih ramah anak berkebutuhan khusus. Kesimpulannya, penelitian ini mengundang gereja serta komunitas Kristen di Indonesia untuk memandang anak berkebutuhan khusus bukan hanya sebagai pihak yang menjadi sasaran pelayanan saja, namun juga sebagai subjek yang memiliki iman yang utuh, yang berharga, yang memiliki kontribusi spiritual yang dapat ikut serta membangun tubuh Kristus dalam kebhinekaan.

Andadari, Tri Susetyo

SARGA: Journal of Architecture and Urbanism 2025 Universitas 17 Agustus 1945

Kampung Naga merupakan permukiman masyarakat tradisional yang masih memegang praktek dan budaya lokal dalam memaknai dan menciptakan tatanan ruang. Kemampuannya mempertahankan ke’ruang’an ditengah gempuran teknologi saat ini menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis wujud makna ruang di Kampung Naga melalui pendekatan filosofis yang mendalam. Metode yang digunakan ialah observasi langsung, wawancara mendalam dengan tokoh adat, dan partisipasi dalam aktivitas masyarakat. Hasilnya menunjukkan bahwa ditemukan 11 makna ruang berdasarkan filosofis, paradigma, teori dan order. Makna tersebut meliputi makna ruang berdasarkan support system, otentifikasi pengguna, kebersihan aktifitas, simbolisasi kontur, hukum adat, gender, komunikasi vertikal, fungsi koloni, fungsi sosial, hajat hidup dasar dan jalur sirkulasi. Setiap wujud ruang, berpijak pada tiga prinsip utama yaitu kesakralan, keseimbangan, dan keberlanjutan.

Monika Hediana Tanga; Katharina Woli Namang

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pesan moral yang terdapat dalam film Dua Garis Biru menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Film ini mengisahkan tentang permasalahan yang dihadapi oleh sepasang remaja yang hamil di luar nikah, yang memunculkan konflik antara harapan, tanggung jawab, dan dampak sosial. Dengan menggunakan teori semiotika Barthes, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana tanda-tanda dalam film, baik verbal maupun visual, membentuk makna yang lebih dalam terkait dengan moralitas, norma sosial, dan tekanan budaya. Melalui dua tahap semiotika Barthes, yaitu denotasi dan konotasi, penelitian ini mengidentifikasi makna langsung dari elemen-elemen film serta interpretasi yang lebih kompleks yang mencerminkan nilai-nilai moral dalam masyarakat. Hasil analisis menunjukkan bahwa film ini menyampaikan pesan moral tentang pentingnya tanggung jawab pribadi dan sosial dalam menghadapi konsekuensi dari tindakan, serta bagaimana masyarakat memberikan penilaian terhadap pilihan hidup individu. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana media film dapat menjadi sarana penyampaian pesan moral yang kuat melalui penggunaan tanda-tanda yang sarat makna.

Yohanes Ari Kuncoroyakti; Prasetyo Bonifasius; Hardjito Hardjito; Norma S Rainu

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif yang memungkinkan adanya pemahaman mendalam terhadap pengalaman individu melalui wawancara mendalam. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap sejumlah mahasiswa Timur yang mengalami culture shock selama proses adaptasinya di Jabodetabek. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi akomodasi yang menjelaskan bagaimana individu mengubah cara berkomunikasinya untuk mengakomodasi. diri mereka dengan budaya baru atau lingkungan sosial yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelajar Timur mengalami berbagai bentuk kejutan budaya, seperti ketidakpastian dalam komunikasi verbal dan nonverbal, perbedaan gaya hidup serta perbedaan norma sosial. Para mahasiswa juga menggunakan strategi penanggulangan komunikasi yang berbeda, seperti menyesuaikan bahasa, gaya bicara, dan sikap untuk menjembatani kesenjangan budaya. Proses adaptasi ini memerlukan waktu, namun bertahap, mereka mampu mengurangi ketegangan budaya dan meningkatkan keterampilan komunikasi antar budaya.

Aisyah Kusuma Wardan; Asti Nur Cahyani; Siti Lutfiah; Wanda Agustina Sasmita Ningrum

Dalam konteks pidato “The Transformative power of education”, penerjemahan menjadi sangat penting karena pidato ini bertujuan untuk menginspirasi dan memberdayakan audiens dengan gagasan transformasi melalui pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teknik dan strategi penerjemahan yang digunakan dalam teks linguistik. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pidato dari Prof. Neil Mercer yang diterjemahkan oleh Siti Ismiati. Dalam artikel ini, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk memahami dan menjelaskan teknik interpreting berdasarkan teori-teori terkemuka dalam bidang linguistik dan penerjemahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji teknik penerjemahan yang digunakan dalam pidato “The Transformative power of education”. Dengan mengacu pada teori-teori terkemuka dalam penerjemahan interpreting, penelitian ini menganalisis penerapan teknik seperti teknik cutting dan omission. Setiap teknik dievaluasi berdasarkan efektivitasnya dalam mempertahankan makna, struktur, dan relevansi budaya.

Ivana Grace Sofia Radja; Leo Riski Sunjaya

WISSEN : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora 2024 Asosiasi Peneliti Dan Pengajar Ilmu Sosial Indonesia

This article aims to analyze the representation of Jember culture in the Jember Fashion Carnival (JFC) using Stuart Hall's representation theory approach.  The main concepts applied in this analysis are change and resistance, which are used to understand how cultural symbols are represented and interpreted in JFC.  The data collection process was carried out through literature study.  Where the data obtained comes from the results of research and scientific work of other people which is studied and then developed.  Data analysis was carried out by combining the concepts of Stuart Hall's representation theory with the findings found in the JFC event.  The results of the literature study analysis show that JFC is an important forum for representing Jember's cultural identity through costume modifications, dance, music and other performances.  In addition, the media plays an important role in the spread and influence of these cultural representations.  In the context of Stuart Hall's representation theory, change refers to the transformation of cultural symbols in the JFC, while resistance describes the process of building cultural representations through interactions and agreements between JFC actors, the government and society.  Through this process, Jember's cultural identity is represented and interpreted in JFC events.  The implication of the results of this research is the need for continuous support in developing and promoting Jember culture through collaborative efforts between the government, cultural actors and the community.  In this case, JFC can be an effective means of strengthening and expanding understanding and appreciation of Jember's cultural identity.

Nugroho, Sigit Sapto; Haryani, Anik Tri; Purnama, Taufiq Yuli

DINAMIKA HUKUM 2024 Universitas Stikubank

This study aims to determine the Madiun Mayor's policy in developing pencak silat as cultural tourism and at the same time to determine the effectiveness of the Madiun City government's policy in developing cultural tourism based on the silat industry in the perspective of Lawrence M. Friedman's legal system theory. The author uses normative legal research methods. Based on the results of the research, it is known that the Madiun City government develops the potential of pencak silat based on smart city through a smart branding roadmap which includes two programmes, namely the pencak silat experience tourism development programme and the pencak silat friend programme. In addition, the City Government through Disbudparpora also manages pencak silat through art performances and intercollegiate competitions. The effectiveness of the Madiun City Government's policy in developing cultural tourism based on the silat industry in the perspective of Lawrence M. Friedman's legal system theory states that legal effectiveness is influenced by three elements of the legal system, namely the structure of law, the substance of the law and legal culture. Based on this theory, the concept of developing Madiun City Pendekar cultural tourism based on the martial arts industry can be directed through the development of tourism policies based on pencak silat culture, synergy between the Madiun City Government and the implementing apparatus and building public awareness.

Heri Isnaini; Sifa Khaerunnisa; Kalyska Khusnul Khotimah

Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya 2023 Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

This study aims to explore an in-depth understanding of Kim Ji Young's personality in the film "Kim Ji Young, Born 1982" in the context of patriarchal culture using Sigmund Freud's psychoanalytic theory. The research method used is a qualitative method using note-taking technique. We used Sigmund Freud's theory, specifically concepts such as id, ego, and superego, to help us understand the inner conflict experienced by the main character. We also analyzed various events in the film that depict Kim Ji Young's experience as a woman in a society dominated by patriarchal values. The results of this study show that Kim Ji Young experiences complex internal conflicts while performing her role as a woman in a patriarchal culture. Freud's theory helps us understand how these conflicts arise and affect her personality. In addition, this study also emphasizes the important role of family environment, society, and childhood experiences in shaping Kim Ji Young's personality. This research has important implications in understanding the role of women in a patriarchal society and how psychoanalytic theory can be used to analyze characters in works of art such as films.

Heri Isnaini; Sifa Khaerunnisa; Kalyska Khusnul Khotimah

Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya 2023 Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

This study aims to explore an in-depth understanding of Kim Ji Young's personality in the film "Kim Ji Young, Born 1982" in the context of patriarchal culture using Sigmund Freud's psychoanalytic theory. The research method used is a qualitative method using note-taking technique. We used Sigmund Freud's theory, specifically concepts such as id, ego, and superego, to help us understand the inner conflict experienced by the main character. We also analyzed various events in the film that depict Kim Ji Young's experience as a woman in a society dominated by patriarchal values. The results of this study show that Kim Ji Young experiences complex internal conflicts while performing her role as a woman in a patriarchal culture. Freud's theory helps us understand how these conflicts arise and affect her personality. In addition, this study also emphasizes the important role of family environment, society, and childhood experiences in shaping Kim Ji Young's personality. This research has important implications in understanding the role of women in a patriarchal society and how psychoanalytic theory can be used to analyze characters in works of art such as films.

Muhammad Maksum; Hestina Indriyani Putri; Alfiyan Moh. Zaim

Jurnal Riset dan Inovasi Manajemen 2023 International Forum of Researchers and Lecturers

Materi ini membahas tentang penelitian yang menggambarkan budaya, dimensinya, dan dampak budaya pada proses kepemimpinan. Adapun metode penulisan kajian pustaka atau studi kepustakaan yaitu berisi teori teori yang relevan dengan masalah–masalah penelitian. Pada bagian ini dilakukan pengkajian mengenai konsep dan teori yang digunakan berdasarkan literatur yang tersedia, terutama dari artikel-artikel yang dipublikasikan dalam berbagai jurnal ilmiah. Temuan dari GLOBE bernilai karena mereka muncul dari desain penelitian kuantitatif yang dikembangkan dengan baik. Kesimpulan dari proyek ini membuat pernyataan utama tentang bagaimana budaya di seluruh dunia melihat kepemimpinan. Kekuatan lain adalah desain penelitian kuantitatifnya, suatu klasifikasi dimensi budaya yang diperluas, daftar dari karakter kepemimpinan yang diterima secara universal, dan kontribusi yang dibuat dari hal itu untuk pemahaman yang lebih kaya akan proses kepemimpinan. Di sisi negatif, kajian GLOBE tidak memberikan temuan yang membentuk teori tunggal tentang bagaimana budaya terkait dengan kepemimpinan.

Ersa Mayang Sari; Syifa Pramudita Faddila

Jurnal Manajemen dan Ekonomi Bisnis 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Budaya kerja merupakan seperangkat perilaku yang melekat pada setiap individu di seluruh organisasi. Membangun budaya juga berarti memupuk dan memelihara aspek-aspek positif dan berusaha membiasakan perilaku tertentu untuk menciptakan bentuk baru yang lebih baik. Penelitian ini dengan berlandaskan teori Takashi Osada (1994) tentang Budaya Kerja berkonsep 5S diantaranya Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Seitsuke. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Metode penelitian pada penelitian kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah ethnography. Adapun pembahasan yang didapat beserta kesimpulan nya adalah penerapan budaya kerja 5S di PT. XYZ Otomotif Karawang masih dilakukan secara parsial dan bersifat personal pada semua tahapan proses produksi, pihak yang terlibat dalam penerapan budaya kerja 5S adalah bersifat personal hanya karyawan tertentu yang ada di tiap tahapan proses produksi.

Mohamad Rijal Izzul Haq; Rangga Bayu Satriya; Jason Marcelino Nugroho

Journal of Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Kompleksitas kerapuhan atau ketidakpastian yang dialami oleh masyarakat modern ini menjadikan adanya suatu situasi maupun kondisi yang mana masyarakat dapat mengalami sebuah kerentanan, atau suatu kondisi-kondisi yang menyebabkan dan berdampak pada munculnya masyarakat berisiko. Masyarakat berisiko ini merupakan suatu kondisi dimana masyarakat menghadapi suatu ancaman dan ketidakpastian hidup yang semakin lama semakin besar. Ketidakpastian inilah yang membuat suatu masyarakat tidak dapat lagi memprediksi apa yang akan terjadi pada masa depan. Dalam arti lain, masyarakat berisiko ini adalah suatu kondisi dimana masyarakat menghadapi ancaman dan ketidakpastian hidup yang semakin besar, sehingga setiap individu dalam masyarakat berjuang untuk meminimalisirkan hingga mendapatkan suatu kepastian itu sendiri. Adapun dalam artikel ini akan membahas mengenai kompleksitas kerapuhan atau ketidakpastian yang dialami oleh masyarakat modern menurut pandangan Douglas, Beck, dan Giddens.

Suyud El Syam, Robingun; Yusuf Amin Nugroho, Muhamad; Guefara, Rahmat Lutfi

Jurnal Faidatuna 2023 STAI Denpasar Bali

Tradisi agama Islam di masyarakat sering disalah pehami, akibat dangkalnya pemahaman esensi simbol budaya, maka diperlukan pemahaman atas sebuah tradisi yang berkembang di masyarakat. Artikel ini bertujuan mengungkap elokuensi lebaran dalam filosofi masyarakat Jawa, dengan mengkaji lebih jauh dari sudut pandang filosofis. Tulisan ini merupakan temuan penelitian kepustakaan kualitatif dengan menghimpun data litere, mengambil teori filsafat Jawa kemudian dianalisis induktif. Hasil penelitaian menunjukkan: Lebaran dalam filosofi Jawa disimbolisasikan dengan kupat terbuat dari beras yang dibungkus janur kemudian dimasak, menunjukkan manusia memiliki nafsu yang mesti dikendalikan dengan hati nurani. Kupat mengindikasikan laku papat, bahwa pasca menjalani puasa Ramadhan manusia mesti mau mengakui kesalahan, memohon maaf dan memberi maaf, berbagi kepada sesama, menjalani hidup dengan sikap sabar dan tenang, serta senantiasa menjaga kebersihan lahir dan batin. Implikasi penelitan, pengalaman spiritual melalui pendekatan esensi budaya dikedepankan. Penelitian berkontribusi bagi pendidikan Islam yang menyejukkan.