Publication Search

77,013 articles from 731 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 883

Analytics

Afriani Afriani; Irwansyah Irwansyah; Rizky Ramadhan

JURNAL RISET MANAJEMEN (JURMA) 2026 Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Semarang

Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk menganalisis penentuan harga pokok produksi (HPP) dan harga jual kompetitif kue tar menggunakan metode Full Costing pada Toko Kue Hum’aisyah Cake di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara langsung, sedangkan data sekunder bersumber dari laporan keuangan usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Full Costing menghasilkan perhitungan HPP yang lebih akurat dibandingkan metode sederhana yang diterapkan perusahaan selama ini. Total biaya produksi dengan metode sederhana tercatat sebesar Rp55.100.250 (Rp185.000/unit), sedangkan metode Full Costing menghasilkan Rp57.395.250 (Rp195.000/unit). Terdapat selisih sebesar Rp2.295.000 secara total atau Rp10.000 per unit. Selisih ini terjadi karena metode sederhana milik perusahaan belum memperhitungkan seluruh unsur biaya produksi, khususnya biaya overhead pabrik secara rinci.

Sri Wahyuna Saragih; Muhammad Rafi; Harlan Mufrih; Aisha Rafa Rahma; Dwi Kartika +2 more

Jurnal Agrifoodtech 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Nanas merupakan unggulan kedua yang di ekspor Indonesia setelah buah manggis pada 22 tahun lalu, volume ekspor nanas pada tahun 2004 sebesar 2.431.263 kilogram atau mengalami peningkatan sebesar 6,4 % dari tahun -tahun sebelumnya, permintaan ekspor nanas yang cukup tinggi merupakan pendorong bagi produksi nanas dalam negeri yang mampu bersaing dengan nanas negara lain. Seperti halnya produk pertanian lainnya, karakteristik buah nanas adalah mudah rusak dan pemanfaatannya lebih banyak sebagai makanan penutup mulut karena rasanya yang segar. Potensi penganeka ragaman produk pangan dengan bahan baku sebenarnya cukup banyak namun sampai dengan saat ini masih belum berkembang. Oleh sebab itu pada penelitian ini dilakukan memanfaatkan ektrak buah nanas melalui fermentasi bakteri Acetobacter Xylinum untuk membentuk polisakarida akstraseluler (nata) sebagai hidangan non energi yang biasa kita kenal Nata de pina, penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ekstrak buah nanas untuk dijadikan hidangan Nata de pina. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nata de pina memiliki nilai pH sebesar 4,7 dan kadar air sebesar 98,08% sudah memenuhi syarat mutu berdasar SNI nata. Hasil uji organoleptik terhadap 30 panelis menunjukkan bahwa sebagian besar panelis menyukai rasa, warna, aroma, dan tekstur Nata de pina yang dihasilkan.

Andrianto, Rival; Puspanantasari Putri, Erni

JURNAL ILMIAH TEKNIK INDUSTRI DAN INOVASI 2026 CV. ALIM'SPUBLISHING

Abstract. PT XYZ, a wooden furniture manufacturing company, served as the research site for this study which applied the Theory of Constraints (TOC) method to analyze production performance and identify bottlenecks. The company faces capacity imbalances between workstations, resulting in production targets that have not been achieved optimally. Data collection involved direct observation and interviews with related parties in the production area. The analysis was conducted by comparing the required capacity with the available capacity at each production workstation. The findings reveal that solid processing, machining, sanding, assembling, painting, and packing have sufficient available capacities to meet production requirements, thus categorized as non-bottleneck processes. In contrast, the panel processing station is identified as the main bottleneck due to its highest workload among all processes. By implementing the Theory of Constraints, the company can identify major constraints and establish improvement priorities to enhance production flow smoothness. It is expected that improvements in bottleneck processes will increase production efficiency, balance capacity among workstations, and support more optimal achievement of production targets. Keywords: bottleneck; capacity; manufacturing; production performance; theory of constraints   Abstrak. PT XYZ sebuah perusahaan manufaktur furnitur kayu, menjadi lokasi penelitian ini yang menggunakan metode Theory of Constraints (TOC) untuk menganalisis kinerja produksi dan mengidentifikasi bottleneck. Perusahaan menghadapi ketidakseimbangan kapasitas antar stasiun kerja yang menyebabkan target produksi belum terdengar secara optimal. Pengumpulan data meliputi observasi langsung dan wawancara dengan pihak terkait di area produksi. Analisis dilaksanakan dengan membandingkan kapasitas yang dibutuhkan terhadap kapasitas yang tersedia pada setiap stasiun kerja produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembahanan solid, machining, sanding, assembling, painting, dan packing memiliki kapasitas yang tersedia yang masih mampu memenuhi kebutuhan produksi, sehingga termasuk kategori non-bottleneck. Sebaliknya, stasiun kerja pembahanan panel diidentifikasi sebagai bottleneck utama karena memiliki tingkat beban kerja tertinggi di antara seluruh proses. Dengan penerapan Theory of Constraints, perusahaan dapat mengidentifikasi kendala utama dan menentukan prioritas perbaikan untuk meningkatkan kelancaran aliran produksi. Diharapkan perbaikan pada proses bottleneck dapat meningkatkan efisiensi produksi, menyeimbangkan kapasitas antar stasiun kerja, serta mendukung pencapaian target output perusahaan secara lebih optimal. Kata kunci: bottleneck; kapasitas; kinerja produksi; manufaktur; theory of constraints

Ivander, Davin Danny; Khiroh, Siti Muhimatul

JURNAL ILMIAH TEKNIK INDUSTRI DAN INOVASI 2026 CV. ALIM'SPUBLISHING

Ketidaksesuaian kualitas pada proses assembly sepatu kulit kerap memicu siklus rework berulang yang menguras sumber daya waktu maupun biaya produksi secara signifikan. Penelitian ini mengkaji mekanisme pengendalian cacat yang diterapkan pada Product D-01 di Lini C PT XYZ, dengan menggunakan DMAIC sebagai kerangka perbaikan utama serta Pareto, P-Chart, Fishbone Diagram, 5 Whys, Failure Mode and Effects Analysis (FMEA), dan Cost of Quality (COQ) sebagai alat pendukung. Data primer bersumber dari catatan produksi internal perusahaan, pengamatan lapangan, dan wawancara terstruktur bersama pengawas produksi dan staf quality control. Pengukuran baseline menunjukkan bahwa Lini C menyumbang volume cacat paling tinggi di antara seluruh lini yang ada, dengan Product D-01 mencatat 10.487 pair cacat dari total output 80.387 pair, sehingga menghasilkan defect rate sebesar 13,05%. Distribusi Pareto mengidentifikasi wrinkle, incorrect colour, dan not straight sebagai tiga kategori cacat paling kritis. Penilaian FMEA menetapkan Risk Priority Number tertinggi sebesar 245 pada perilaku operator yang terburu-buru selama proses lasting dan brushing. Tindakan korektif mencakup pemasangan SOP visual, implementasi checklist QC pra-shift, verifikasi kondisi mesin secara rutin, dan penyediaan sampel referensi warna serta bentuk yang terstandar. Pemantauan selama dua periode berikutnya mengkonfirmasi penurunan defect rate secara bertahap menjadi 12,80% dan kemudian 11,65%, disertai penurunan estimasi biaya kegagalan internal dari Rp 2,36 juta menjadi Rp 1,86 juta per periode.

Moch Nizar Dava Ramadhan S; Puspanantasari Putri, Erni

JURNAL ILMIAH TEKNIK INDUSTRI DAN INOVASI 2026 CV. ALIM'SPUBLISHING

Abstract. This research aims to analyze the effectiveness and reliability of production machines in the process of making public street lighting poles (PJU) at PT. XYZ The main problem faced by the company is high machine downtime so that production targets are not achieved. Therefore, a method is needed that is able to measure machine effectiveness as a whole and identify the main causes of production losses. The method applied includes Overall Equipment Effectiveness (OEE) to measure machine effectiveness based on three components, namely availability, performance and quality. The Total Productive Maintenance (TPM) approach is used to identify factors causing low effectiveness through Six Big Losses analysis. Apart from that, Mean Time To Repair (MTTR) and Mean Time Between Failure (MTBF) are calculated to determine the level of machine reliability. The data used includes machine working hours, downtime, operating time, production quantities, defective products, as well as machine damage and repair data. The analysis results are expected to show the level of machine effectiveness and identify the dominant factors causing downtime. Based on these results, improvement proposals are prepared to reduce downtime, increase machine reliability and improve production productivity Keywords: Overall Equipment Effectiveness (OEE), Total Productive Maintenance (TPM), Six Big Losses, Downtime, Efektivitas   Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas dan keandalan mesin produksi pada proses pembuatan tiang penerangan jalan umum (PJU) di PT. XYZ Permasalahan utama yang dihadapi perusahaan adalah downtime mesin yang tinggi sehingga target produksi tidak tercapai. Oleh karena itu, diperlukan metode yang mampu mengukur efektivitas mesin secara menyeluruh dan mengidentifikasi penyebab utama kerugian produksi. Metode yang diterapkan meliputi Overall Equipment Effectiveness (OEE) untuk mengukur efektivitas mesin berdasarkan tiga komponen, yaitu availability, performance, dan quality. Pendekatan Total Productive Maintenance (TPM) digunakan untuk mengidentifikasi faktor penyebab rendahnya efektivitas melalui analisis Six Big Losses. Selain itu, dilakukan perhitungan Mean Time To Repair (MTTR) dan Mean Time Between Failure (MTBF) untuk mengetahui tingkat keandalan mesin. Data yang digunakan mencakup jam kerja mesin, downtime, waktu operasi, jumlah produksi, produk cacat, serta data kerusakan dan perbaikan mesin. Hasil analisis diharapkan dapat menunjukkan tingkat efektivitas mesin dan mengidentifikasi faktor dominan penyebab downtime. Berdasarkan hasil tersebut, disusun usulan perbaikan untuk mengurangi downtime, meningkatkan keandalan mesin, dan memperbaiki produktivitas produksi Kata kunci: Overall Equipment Effectiveness (OEE), Total Productive Maintenance (TPM), Six Big Losses, Downtime Mesin, Efektivitas Mesin

Rismatul Hasanah; Syamsul Hadi; Gilang Febriyan Mahendra; Muhammad Ilham Sujatmiko; Ahmad Jibril Muqorrobin +1 more

Mars: Jurnal Teknik Mesin, Industri, Elektro Dan Ilmu Komputer 2026 Asosiasi Riset Teknik Elektro dan Informatika Indonesia

The frequent breakage of saw blades and the use of blades that are not suitable for beginner saw operators present a significant problem in metal sawing activities. This study aims to produce a double-sided sharp steel saw blade with dimensions of 310×30×0.8 mm. The production process consists of several stages, namely designing the double-sided sharp saw blade, cutting high-carbon steel material to size, drilling 4 mm diameter holes at both ends with a 310 mm distance between holes, forming sharp edges on both sides of the blade, hardening only the two cutting edges, followed by labeling, packaging, and quality and dimensional standard inspection. The production output is a double-sided sharp steel saw blade measuring 310×30×0.8 mm made from medium carbon steel. The manufacturing cost is Rp. 3,500 per unit with a processing time of 3 minutes per unit. These results indicate that the saw blade can be mounted on a general saw handle and has improved resistance to breakage, making it more suitable for beginner users whose sawing motion is not consistently aligned on a single flat plane.

Ika Ima Nissa; Widyawati Widyawati

JURNAL PENELITIAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN SAINS (JPTIS) 2026 Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Semarang

One of the most significant foods for the people of Indonesia, tempeh is made mostly from soybeans. Soybean quality selection is still mostly done by hand, relying on eye inspection and the expertise of business actors. This may cause subjective evaluations, lengthy decision-making processes, and uneven outcomes. With the TOPSIS technique as its foundation, this project intends to construct a Decision Support System (DSS) for selecting high-quality soybeans. Color, texture, price, scent, and flavor are some of the evaluation criteria. Observations and interviews were conducted in Rumah Tempe A-Zaki Padang to gather data for the research. Ranking the options according to how close they were to the positive ideal solution and how far away from the negative ideal solution was done using the TOPSIS approach. In terms of preference values, the Green Soybean option came out on top with 0.9692, followed by Black Soybeans with 0.2335, Yellow Soybeans with 0.1516, and Brown Soybeans with 0.1181. Based on these outcomes, it seems that TOPSIS can indeed provide objective suggestions for soybean selection according to a number of different standards. Business players in the tempeh industry may benefit from this decision support system by using it to choose high-quality soybean raw materials more efficiently and accurately.

Anesta, Resqy Nongri; Effendy, Devi Savitri; Bahar, Hartati

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

ASI eksklusif merupakan pemberian Air Susu Ibu (ASI) tanpa tambahan makanan maupun minuman lain sejak bayi lahir hingga usia 6 bulan, kecuali obat dan vitamin. Setelah usia 6 bulan, pemberian ASI dilanjutkan bersama makanan pendamping ASI (MP-ASI) hingga usia 2 tahun. Penelitian ini bertujuan mengetahui  pemberian ASI eksklusif dan ASI lanjutan sampai usia 2 tahun di wilayah kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan terdiri dari 6 ibu menyusui berusia 6-24 bulan, 1 bidan,1 kader dan 3 suami yang dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Antecedent, ibu memiliki pengetahuan mengenai ASI eksklusif dan ASI lanjutan hingga usia 2 tahun. Faktor pekerjaan memengaruhi praktik pemberian ASI, terutama pada ibu bekerja yang harus memerah dan menyimpan ASI. Dukungan keluarga, khususnya suami menjadi faktor penting dalam memberikan bantuan selama proses menyusui. Selain itu, dukungan petugas kesehatan melalui edukasi mengenai pemberian ASI ekslusif dan ASI lanjutan. Behavior, ibu memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan melanjutkan ASI bersama MP-ASI. Proses menyusui dilakukan sesuai kebutuhan bayi dengan frekuensi sekitar 8–10 kali per hari dan durasi sekitar 10–15 menit setiap sesi. Namun, beberapa ibu mengalami produksi ASI yang tidak keluar sehingga beralih menggunakan susu formula. Consequence, pemberian ASI memberikan dampak positif peningkatan daya tahan tubuh bayi, serta menghemat ekonomi keluarga. Namun, ibu juga mengalami dampak negatif seperti kelelahan, puting lecet dan payudara bengkak.

Perdian Syah; Agus Suwarno; Annisa Syahliantina

JURNAL ILMIAH TEKNIK INDUSTRI DAN INOVASI 2026 CV. ALIM'SPUBLISHING

The physical work environment in the Aerosol Production Department of PT XYZ experienced problems related to excessive room temperatures reaching 37.3°C and chemical odor pollution caused by vapor recirculation from the coating oven process. These conditions potentially reduced operator comfort and concentration. This study aimed to analyze the effectiveness of the Kaizen approach through the Plan-Do-Check-Act (PDCA) cycle in controlling production room temperature and improving air quality. A quantitative descriptive method with an Action Research approach was employed. Problem identification and root cause analysis were conducted using the 7 QC Tools, particularly the Pareto Diagram and Fishbone Diagram. Improvement actions included the installation of turbine ventilators, aluminum foil roof insulation, and a 3-meter vertical exhaust ducting system. The results showed that the average room temperature decreased from 34.6°C to 27.4°C, representing a reduction of 7.2°C, while the peak daytime temperature decreased by 8.7°C and met the established threshold limit value. In addition, chemical odor pollution was completely eliminated. Therefore, the Kaizen-PDCA approach proved effective in improving the physical work environment sustainably.

Sari, Ratna Nurindah; Pramana, Cipta; Maimunah, Siti

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Produksi ASI yang kurang mengakibatkan ASI eksklusif tidak tercapai dan ASI tidak diberikan kepada bayi. Peningkatan produksi ASI dapat dilakukan secara metode tunggal atau dapat dilakukan dengan kombinasi. Pijat dan essential oil merupakan salah satu metode kombinasi seperti pijat oksitosin dengan fennel essential oil dan clary sage essential oil. Jenis penelitian ini quasy experiment dengan rancangan pretest-posttest with group design. Populasi penelitian ibu postpartum normal pada bulan September-November 2025 di Wilayah Kerja Puskesmas Krobokan sebanyak 40 orang. Teknik purposive sampling dengan sampel sebanyak 42 orang yang terdiri dari 14 orang kelompok intervensi 1, 14 orang kelompok intervensi 2 dan 14 orang kelompok kontrol. Analisis data meliputi univariat berupa distribusi frekuensi, analisis bivariat melalui uji paired T-test dan analisis multivariat menggunakan uji MANOVA. Ada pengaruh pijat oksitosin dengan fennel essential oil terhadap produksi ASI ibu postpartum normal (p-value 0,000), dimana pretest produksi ASI sebesar 29,64 ml dan posttest ebesar 96,07 ml, sehingga diperoleh peningkatan rata-rata produksi ASI sebesar 66,43 ml. Ada pengaruh pijat oksitosin dengan Clary sage essential oil terhadap produksi ASI ibu postpartum normal (p-value 0,000), dimana pretest produksi ASI sebesar 30,0 ml dan posttest ebesar 81,79 ml, sehingga diperoleh peningkatan rata-rata produksi ASI sebesar 51,79 ml.  Pijat oksitosin dengan fennel essential oil lebih efektif meningkatkan produksi ASI dibandingkan pijat oksitosin dengan clary sage essential oil maupun pijat oksitosin saja

Andi Patimang

ISAINTEK: Jurnal Informasi, Sains dan Teknologi 2026 Politeknik Negeri FakFak

LAMPUKITA merupakan salah satu UMKM VCO di Kabupaten Fakfak. Hasil dari pembuatan VCO usaha tersebut,  menghasilkan blondo yang selanjutnya diolah menjadi minyak goreng.  Berdasarkan aspek pemasaran,VCO LAMPUKITA memiliki prospek yang baik. Namun, ketersediaan bahan baku kelapa yang memenuhi syarat pembuatan produk utama, jumlahnya terkadang tidak tersedia.  Penelitian sebelumnya fokus pada teknik ekstraksi VCO, masih sedikit membahas strategi bisnis spesifik untuk minyak goreng hasil blondo ditingkat UMKM dengan kendala bahan baku.  Tanpa strategi pengembangan yang tepat, LAMPUKITA akan sulit bertahan secara finansial meskipun produknya memiliki nilai gizi lebih unggul. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman,  menentukan faktor internal, eksternal strategi terbaik dan model pengembangan bisnis baru yang dapat diterapkan LAMPUKITA. Penentuan lokasi secara purposive. Jenis data yaitu data primer dan data sekunder.  Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi.  Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif (analisis SWOT dan BMC) dan kuantitatif (metode IFAS, EFAS dan QSPM).  Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa kekuatan utama usaha LAMPUKITA terletak pada keunggulan produk alami, pemanfaatan blondo VCO, serta cita rasa khas kelapa Fakfak. Kelemahan utamanya adalah keterbatasan ketersediaan kelapa yang memenuhi standar VCO, kapasitas produksi masih kecil, dan keterbatasan modal. Analisis IFAS dan EFAS menunjukkan LAMPUKITA berada pada kondisi cukup mendukung untuk dikembangkan secara internal dan eksternal. Keberlanjutan usaha ditentukan oleh manajemen rantai pasok  kelapa. Strategi paling tepat dikembangkan adalah strategi kemitraan dengan petani kelapa berbasis standar VCO.  LAMPUKITA dapat menerapkan berbagai model bisnis baru untuk menanggulangi keterbatasan bahan baku.

Geovani Haryo Saputra; Darius Andana Haris; Meirista Wulandari

JURNAL PENELITIAN SISTEM INFORMASI 2026 Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Semarang

This study aims to analyze horror film production data using a Business Intelligence approach to generate information that can support the evaluation and planning of film production processes. The data used in this study were obtained from horror treatment documents and shot lists of a feature-length horror film, containing various information related to the filming process, such as scene numbers, shot numbers, scene descriptions, involved characters, shooting locations, and cinematographic techniques employed during production. The collected data were processed and visualized using Microsoft Power BI to develop an interactive dashboard capable of presenting important information in a visual format. The dashboard was designed to provide insights into scene distribution, shot type composition, character involvement in each scene, and shooting patterns throughout the film production process. Through data visualization in the form of an interactive dashboard, directors and production teams are expected to gain a clearer understanding of the film’s visual structure and production complexity. The resulting insights can support production evaluation and facilitate more informed decision-making for future film projects.  

Samosir, Triwira; Siregar, Tiara Anggrini; Clarissya Shatala Revi; Lubis, Nabila; Silaban, Putri Sari Margaret Julianty

Indonesia merupakan produsen padi terbesar di kawasan ASEAN dengan produksi mencapai 60,3 juta ton pada tahun 2025. Meskipun demikian, tingginya produksi tersebut belum mampu meningkatkan ekspor beras secara signifikan dan Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan secara berkelanjutan. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan output pertanian belum tentu mencerminkan efektivitas penggunaan faktor-faktor produksi yang mendukungnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh luas lahan sawah, jumlah petani, dan penyaluran pupuk bersubsidi terhadap produksi padi di Indonesia menggunakan pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data cross section pada 10 provinsi penghasil padi terbesar di Indonesia tahun 2025. Analisis dilakukan menggunakan regresi linier berganda setelah model memenuhi pengujian asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan sawah berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi padi dengan elastisitas sebesar 1,038743. Sebaliknya, jumlah petani berpengaruh negatif dan tidak signifikan, sedangkan penyaluran pupuk bersubsidi berpengaruh positif namun tidak signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan produksi padi lebih dipengaruhi oleh ketersediaan dan pemanfaatan lahan yang produktif dibandingkan penambahan tenaga kerja maupun subsidi input pertanian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan produksi padi memerlukan kebijakan yang berfokus pada efisiensi penggunaan sumber daya, perlindungan lahan pertanian produktif, serta penerapan teknologi pertanian yang mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

Kevin William; Yanti Yanti

JURNAL RISET EKONOMI DAN AKUNTANSI (JREA) 2026 Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Semarang

This study aims to analyze the application of standard costing and variance analysis in identifying production cost inefficiencies at UMKM Sari Kedelai Bu Ade, a soybean milk manufacturing business in Yogyakarta. The research used a descriptive quantitative approach with a case study method based on the company’s operational data. Standard costs were prepared using historical production data from the second semester of 2024, while actual production costs were calculated using operational realization data from the first semester of 2025. The analysis focused on direct material variance, direct labor variance, and factory overhead variance to identify the dominant sources of production cost inefficiency. The results show that direct labor variance became the largest unfavorable variance due to the use of actual working hours exceeding the established standards. Fixed overhead variance also indicated the existence of idle capacity because actual production had not reached the company’s normal production capacity. On the other hand, direct material variance and variable overhead variance still showed favorable conditions, indicating that the company was still capable of controlling material usage and several operational costs. This study concludes that the implementation of standard costing and variance analysis can help MSMEs identify production cost inefficiencies that were previously undetected through simple bookkeeping practices.

Rabbani Gadhah Kun Atha; Putri Salwa Zanjambila; Tiara Levana; Ahmad Fauzi Inu Kertopati; Nisrina Hamidah +10 more

Jurnal Teknologi Pangan dan Ilmu Pertanian 2026 International Forum of Researchers and Lecturers

Chili pepper (Capsicum annuum L.) is recognized as one of the horticultural commodities with significant economic value and an important contribution to food security in Indonesia. However, conventional cultivation practices still face various challenges, including limited land availability, climate uncertainty, and disturbances from plant pests and diseases. These conditions highlight the need for the implementation of innovative technologies to improve production efficiency while maintaining yield stability. One approach that has been increasingly developed is the hydroponic system, a cultivation technique that does not rely on soil as a growing medium but instead utilizes nutrient solutions as the primary source of essential elements. This article aims to examine various aspects of hydroponic chili cultivation, including the roles and benefits of the plant, different types of hydroponic systems, abiotic and biotic stress factors, and cultivation management strategies. Based on the review conducted, hydroponic systems, when supported by optimal nutrient management and environmental conditions, are capable of enhancing both the yield and quality of chili plants. Therefore, the development of hydroponic-based chili cultivation is considered to have promising prospects as a solution to support sustainable agriculture in the future.

Nugroho, Farhan; Alkena Sae Hafizah; Adzra Andriana; Anggun Mustika Anggraeni; Alfian Fadillah +1 more

JURNAL RISET EKONOMI DAN AKUNTANSI (JREA) 2026 Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Semarang

This study aims to analyze changes in Indonesia’s economic cycle patterns in the post-pandemic period, as reflected in inflation, interest rates, and the industrial production index over the 2018–2025 period. The study adopts a quantitative approach employing a multiple linear regression model. The data utilized consist of secondary time-series data obtained from Bank Indonesia and the Central Statistics Agency (Badan Pusat Statistik). The empirical results indicate that, simultaneously, the explanatory variables exert a statistically significant effect on economic growth. Partially, interest rates and the industrial production index demonstrate a positive and statistically significant influence. In contrast, inflation does not exhibit a statistically significant effect at the 10% significance level. The coefficient of determination (R-Squared) of 0.9327 suggests that the model possesses substantial explanatory power in accounting for variations in Indonesia’s economic growth. The descriptive analysis indicates that Indonesia’s economy experienced a contraction of -2,07% in 2020 due to the COVID-19 pandemic, followed by a gradual recovery throughout the 2021–2025 period. These findings imply that post-pandemic shifts in Indonesia’s economic cycle patterns are more prominently driven by interest rate policy measures and real sector recovery relative to the role of inflation.  

Susilawati Cicilia Laurentia; Appolinaris Didien Trimartinni; Kemmala Dewi; Aris Krisdiyanto; Pipit Skriptianata Putra Pranida +2 more

Jurnal Suara Pengabdian 45 2026 LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi petani di Desa Sawit, Kabupaten Magelang, seperti meningkatnya biaya produksi, kesulitan pengendalian hama, dan degradasi lingkungan akibat penggunaan bahan kimia sintetis yang berlebihan. Program ini memperkenalkan Biosaka, sebuah teknologi pertanian inovatif yang memanfaatkan rumput dan dedaunan lokal untuk menghasilkan larutan elisitor yang mampu meningkatkan ketahanan dan pertumbuhan tanaman. Melalui pelatihan partisipatif dan praktik langsung, para petani diajarkan prinsip, proses pembuatan, dan metode aplikasi Biosaka. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan petani, dengan 85% peserta berhasil memproduksi dan mengaplikasikan Biosaka secara mandiri. Inisiatif ini berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan pada input sintetis, menurunkan biaya produksi, mendorong keberlanjutan lingkungan, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam di kalangan petani.

Ernawati, Sri; Yaningsyah, Yaningsyah; Anisah, Nur; Hairunisa, Hairunisa; Wiwin, Wiwin

Komunitas: Hasil Kegiatan Pengabdian Masyarakat Indonesia 2026 Asosiasi Riset Ilmu Tanaman Dan Hewani Indonesia

Logo merupakan identitas visual yang memiliki peran penting dalam membangun citra dan meningkatkan daya saing suatu usaha, termasuk pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, masih banyak pelaku UMKM yang belum memiliki logo yang menarik dan representatif, seperti yang terjadi pada UMKM Maira Produksi di Kota Bima. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan pelaku UMKM dalam merancang logo usaha sebagai bagian dari strategi branding dan pemasaran produk. Metode pelaksanaan yang digunakan adalah pelatihan dengan pendekatan partisipatif melalui penyampaian materi dan praktik langsung pembuatan desain logo. Pelatihan dilaksanakan selama dua hari di rumah pelaku usaha. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mampu memahami konsep dasar desain logo serta berhasil membuat logo yang sesuai dengan karakteristik produk masing-masing. Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan kreativitas dan inovasi pelaku usaha dalam mengembangkan identitas produk. Dengan demikian, pelatihan pembuatan logo ini memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kualitas branding, daya tarik produk, dan daya saing UMKM di pasar.

Anita; Ningsih, Hasrun; Arsanah, Eli

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi karena mengandung zat gizi lengkap yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal. Meskipun demikian, cakupan pemberian ASI eksklusif di Desa Rarang masih relatif rendah, yaitu sebesar 72,5%. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut adalah ketidaklancaran produksi ASI pada masa awal menyusui, sehingga kebutuhan ASI bayi belum dapat terpenuhi secara optimal. Pijat oksitosin merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk merangsang pelepasan hormon oksitosin sehingga membantu meningkatkan produksi dan pengeluaran ASI. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pijat oksitosin terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui bayi usia 2–6 minggu di Desa Rarang. Penelitian menggunakan desain quasi experimental dengan rancangan two group pre-test and post-test design. Sampel penelitian berjumlah 36 ibu menyusui yang dipilih menggunakan teknik total sampling dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan sebanyak 18 responden dan kelompok kontrol sebanyak 18 responden. Kelompok perlakuan diberikan intervensi pijat oksitosin, sedangkan kelompok kontrol tidak menerima intervensi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon untuk menilai perubahan sebelum dan sesudah intervensi serta uji Mann–Whitney untuk membandingkan hasil antara kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata volume ASI pada kelompok perlakuan meningkat secara signifikan dari 106,67 ml menjadi 132,67 ml (p<0,001). Pada kelompok kontrol, peningkatan volume ASI terjadi dari 105,83 ml menjadi 111,67 ml. Hasil uji Mann–Whitney menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada nilai post-test antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (p<0,001). Disimpulkan bahwa pijat oksitosin berpengaruh signifikan dalam meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui dan lebih efektif dibandingkan tanpa intervensi.

Adhar Putra Setiawan; Tining Haryanti; Rieska Maharani; Marista Oktaviani; Dicky Hikam

JURNAL KABAR MASYARAKAT 2026 Institut Teknologi dan Bisnis Semarang

Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) play an important role in improving the community’s economy. However, many MSME actors still face difficulties in managing business finances. These problems were also experienced by the Samiler Crackers MSME in Betro Hamlet, Wonosunyo Village, Gempol District, Pasuruan Regency, particularly in preparing the Cost of Goods Manufactured (COGM), determining selling prices, and managing simple financial reports. This community service activity aimed to improve the understanding and skills of MSME actors in financial management. The implementation method used a Participatory Action Research (PAR) approach through observation, socialization, training, mentoring, and evaluation stages. The results of the activity showed that MSME actors were able to prepare a more detailed Cost of Goods Manufactured by classifying production costs, understand selling price determination based on raw material costs and product quality, and conduct simple financial recording of cash inflows and cash outflows. In addition, simple financial reports helped MSME actors identify income levels and business conditions. This mentoring activity had a positive impact on improving MSME financial management capabilities and is expected to support the sustainability and development of the Samiler Crackers business in Wonosunyo Village.Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) play an important role in improving the community’s economy. However, many MSME actors still face difficulties in managing business finances. These problems were also experienced by the Samiler Crackers MSME in Betro Hamlet, Wonosunyo Village, Gempol District, Pasuruan Regency, particularly in preparing the Cost of Goods Manufactured (COGM), determining selling prices, and managing simple financial reports. This community service activity aimed to improve the understanding and skills of MSME actors in financial management. The implementation method used a Participatory Action Research (PAR) approach through observation, socialization, training, mentoring, and evaluation stages. The results of the activity showed that MSME actors were able to prepare a more detailed Cost of Goods Manufactured by classifying production costs, understand selling price determination based on raw material costs and product quality, and conduct simple financial recording of cash inflows and cash outflows. In addition, simple financial reports helped MSME actors identify income levels and business conditions. This mentoring activity had a positive impact on improving MSME financial management capabilities and is expected to support the sustainability and development of the Samiler Crackers business in Wonosunyo Village