Publication Search

95,605 articles from 887 journals · 2,123 citations tracked

Showing 1-20 of 2,098

Analytics

Ayu Retno Kinasih

Proceeding Konferensi Nasional 2026 Mianti Nurrizky Sutejo,S.Fis.,M.P.H

Latar Belakang: Forward Head Posture (FHP) merupakan gangguan postur yang sering terjadi akibat aktivitas statis berkepanjangan dan penggunaan perangkat digital yang berlebihan. Kondisi ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan otot, peningkatan beban pada tulang servikal, serta menimbulkan nyeri leher dan gangguan fungsi. Scapular Stabilization Exercise (SSE) dan Deep Cervical Flexor Strengthening Exercise (DCFSE) merupakan latihan yang bertujuan memperbaiki keseimbangan otot, mengurangi nyeri, dan memperbaiki postur leher. Tujuan: Mengetahui pengaruh kombinasi Scapular Stabilization Exercise dan Deep Cervical Flexor Strengthening Exercise terhadap penurunan nyeri leher dan perbaikan Forward Head Posture pada pasien di Puskesmas Bulu Kabupaten Sukoharjo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test design. Sampel penelitian berjumlah 30 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran nyeri dilakukan menggunakan Visual Analog Scale (VAS) dan pengukuran Forward Head Posture menggunakan Craniovertebral Angle (CVA). Intervensi berupa kombinasi Scapular Stabilization Exercise dan Deep Cervical Flexor Strengthening Exercise diberikan selama 4 minggu. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Hasil analisis menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan pemberian kombinasi Scapular Stabilization Exercise dan Deep Cervical Flexor Strengthening Exercise terhadap penurunan nyeri leher dan perbaikan Forward Head Posture dengan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara kondisi sebelum dan sesudah pemberian intervensi. Kesimpulan: Kombinasi Scapular Stabilization Exercise dan Deep Cervical Flexor Strengthening Exercise efektif dalam menurunkan nyeri leher dan memperbaiki Forward Head Posture pada pasien dengan gangguan postur kepala maju ke depan.

Arya Suryaka; Deasy Virka Sari; Laksmita Dewi Adzillina

Proceeding Konferensi Nasional 2026 Mianti Nurrizky Sutejo,S.Fis.,M.P.H

Latar Belakang: Non-spesific Low Back Pain merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang sering terjadi pada mahasiswa akibat aktivitas sedentari, posisi duduk statis yang berkepanjangan, serta penggunaan perangkat digital dengan postur yang kurang ergonomis. Penatalaksanaan non-spesific Low Back Pain dapat dilakukan melalui kombinasi intervensi non-farmakologis seperti McGill exercise dan kompres daun kubis (Brassica oleracea var. capitata) yang memiliki efek antiinflamasi dan penurunan nyeri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi kompres daun kubis (Brassica oleracea var. capitata) dan McGill exercise terhadap penurunan nyeri pada kasus non-spesific Low Back Pain. Metode: Penelitian ini menggunakan desain experimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test design. Sampel penelitian merupakan mahasiswa yang mengalami non-spesific Low Back Pain. Pengukuran tingkat nyeri dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah pemberian intervensi kombinasi kompres daun kubis dan McGill exercise. Data dianalisis menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistics. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan Hasil uji pengaruh Wilxocon menunjukkan nilai p-value (<0.001) yang berarti terdapat pengaruh signifikan kombinasi kompres daun kubis dan McGill exercise terhadap penurunan nyeri pada mahasiswa dengan non-spesific Low Back Pain. Nilai rata-rata nyeri mengalami penurunan dari 2,38 sebelum intervensi menjadi 2,05 setelah intervensi, yang menunjukkan adanya pengaruh terhadap penurunan nyeri pada kasus non-spesific Low Back Pain. Kesimpulan: Kombinasi kompres daun kubis (Brassica oleracea var. capitata) dan McGill exercise berpengaruh terhadap penurunan nyeri pada kasus non-spesific Low Back Pain pada mahasiswa.

Ratih Rismayanti; I’ien Noer’aini

Proceeding Konferensi Nasional 2026 Mianti Nurrizky Sutejo,S.Fis.,M.P.H

Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat resistensi insulin atau gangguan sekresi insulin. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk membantu mengontrol kadar glukosa darah adalah senam kaki diabetik. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui penerapan senam kaki diabetik terhadap penurunan kadar glukosa darah pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif pada satu pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan masalah keperawatan hiperglikemia. Intervensi senam kaki diabetik diberikan selama 5 hari sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi rekam medis. Hasil studi menunjukkan adanya penurunan kadar glukosa darah setelah dilakukan senam kaki diabetik secara teratur. Pasien juga menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai pentingnya aktivitas fisik dalam pengendalian kadar gula darah. Senam kaki diabetik bekerja dengan meningkatkan aktivitas otot, memperbaiki sirkulasi darah, serta meningkatkan sensitivitas insulin sehingga membantu pemanfaatan glukosa oleh sel tubuh menjadi lebih optimal. Kesimpulan dari studi kasus ini adalah senam kaki diabetik dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang efektif untuk membantu menurunkan kadar glukosa darah pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2

Difany Nur Safiyanto; Deasy Virka Sari; Laksmita Dewi Adzillina

Proceeding Konferensi Nasional 2026 Mianti Nurrizky Sutejo,S.Fis.,M.P.H

Latar Belakang: De Quervain Syndrome merupakan gangguan tendon ibu jari akibat gerakan repetitif yang sering dialami gamer sehingga menimbulkan nyeri dan keterbatasan Range of Motion (ROM). Tujuan: Mengetahui pengaruh kombinasi kinesiology taping dan terapi latihan terhadap penurunan nyeri dan peningkatan ROM pada kasus De Quervain Syndrome di komunitas gamer. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi experimental dengan rancangan one group pre-test and post-test. Sampel berjumlah 30 responden dengan teknik purposive sampling. Pengukuran nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dan ROM menggunakan goniometer. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) pada variabel NRS sebesar p<0,001, fleksi p<0,001 dan abduksi p<0,001. Hasil tersebut menunjukkan adanya pengaruh signifikan kombinasi kinesiology taping dan terapi latihan terhadap penurunan nyeri dan peningkatan ROM. Kesimpulan: Ada pengaruh Kombinasi kinesiology taping dan terapi latihan terhadap penurunan nyeri dan peningkatan ROM pada kasus De Quervain Syndrome di komunitas gamer.

Icha Zunia Rohmah; Dayat Trihadi; Sherly Arwinda

Proceeding Konferensi Nasional 2026 Mianti Nurrizky Sutejo,S.Fis.,M.P.H

Body image dan self-esteem merupakan aspek psikologis yang berperan penting dalam proses perkembangan individu, terutama pada mahasiswa keperawatan yang sedang menjalani masa awal praktik klinik. Tuntutan akademik, adaptasi terhadap lingkungan klinik, serta interaksi dengan pasien dan tenaga kesehatan dapat memengaruhi persepsi mahasiswa terhadap dirinya, termasuk citra tubuh dan harga diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image dan self-esteem pada mahasiswa S-1 Keperawatan Universitas Telogorejo Semarang pada masa awal praktik klinik. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan korelasional dan rancangan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Universitas Telogorejo Semarang pada bulan Oktober 2025 hingga Mei 2026 dengan jumlah sampel sebanyak 117 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire-Appearance Scale (MBSRQ-AS) dan kuesioner self-esteem, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki body image kategori sedang sebanyak 106 mahasiswa (90,6%), kategori rendah 8 mahasiswa (6,8%), dan kategori tinggi 3 mahasiswa (2,6%). Pada variabel self-esteem, sebagian besar responden berada pada kategori sedang sebanyak 106 mahasiswa (90,6%), kategori rendah 8 mahasiswa (6,8%), dan kategori tinggi 3 mahasiswa (2,6%). Hasil uji Spearman Rank menunjukkan nilai r = 0,650 dengan p-value < 0,001, yang berarti terdapat hubungan positif yang kuat dan signifikan antara body image dan self-esteem. Disarankan agar institusi pendidikan memberikan dukungan psikologis dan program pengembangan diri untuk meningkatkan body image dan self-esteem mahasiswa selama menjalani praktik klinik.

Farah Destyana Nurainy; Easter Kaniada Kristanti; Danang Apriyanto; Afriska Mila Puspita; Farendi Ahmad Sofyansyah +5 more

Proceeding Konferensi Nasional 2026 Mianti Nurrizky Sutejo,S.Fis.,M.P.H

Tanaman Obat Keluarga (TOGA) merupakan sumber daya lokal yang berpotensi mendukung kesehatan masyarakat, tetapi pemanfaatannya masih belum optimal karena pengetahuan masyarakat mengenai manfaat dan pengolahannya masih terbatas. Permasalahan ini ditemukan pada masyarakat RW 01 RT 06 dan RT 07 Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, khususnya dalam pemanfaatan lidah buaya (Aloe vera) sebagai bahan pembuatan hand sanitizer dan pemahaman mengenai penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pemanfaatan TOGA melalui edukasi dan pelatihan pembuatan hand sanitizer berbahan lidah buaya. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2026 dengan subjek warga RW 01 RT 06 dan RT 07 Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, demonstrasi, praktik langsung, serta evaluasi melalui pretest dan posttest. Hasil analisis data menunjukkan bahwa edukasi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat. Hal ini terlihat dari peningkatan rata-rata jawaban benar dari 62,8% pada pretest menjadi 86,1% pada posttest, serta hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test yang menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Oleh karena itu, kegiatan edukasi dan pelatihan serupa disarankan untuk dilakukan secara berkelanjutan guna mengoptimalkan pemanfaatan TOGA dan mendukung perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat.

Wayan putra; Mianti Nurrizky Sutejo; Laksmita Dewi Adzillina; Laksmita Dewi Adzillina

Proceeding Konferensi Nasional 2026 Mianti Nurrizky Sutejo,S.Fis.,M.P.H

Latar Belakang: Cedera ankle adalah permasalahan dalam yang sering terjadi pada kalangan umum khususnya pada kelompok atlet. Pada kondisi ceder aini sering kali tidak ditangani dengan baik sehingga dapat menyebabkan gejala lanjutan, seperti nyeri,ketidakstabilan,kelemahan, dan cedera berulang. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah terdapat Pengaruh kombinasi pemberian strengthening exercise dan heel kicking exercise terhadap tingkat keseimbangan pada cedera ankle. Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan rancangan penelitian one group pre test -post test design. Sampel dalam penelitian ini adalah atlet di Jaguar Basketball Club yang berjumlah 38 orang. Dengan memberikan perlakukan strengthening exercise dan Heel kicking exercise. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Tingkat keseimbangan di ukur menggunakan Y – Balance Test. Penelitian ini dilakuakn selama 4 minggu di Jaguar Basketball Club. Hasil: Berdasarkan hasil uji pengaruh menggunakan paired sample test, Pada kelompok I diperoleh 0,001 yang memiliki arti p < 0,005 sehingga dapat dikatakan terdapat pengaruh nilai Y – Balance Test yang bermakna sebelum dan sesudah diberikan intervensi strengthening exercise dan heel kicking exercise. Kesimpulan: Terdapat pengaruh pemberian strengthening exercise dan heel kicking exercise terhadap tingkat keseimbangan ankle pada atlet basket. 

Indra Nur Azizah; Arlies Zenitha Victoria; Riris Risca Megawati

Proceeding Konferensi Nasional 2026 Mianti Nurrizky Sutejo,S.Fis.,M.P.H

Congestive heart failure (CHF) merupakan kondisi ketidakmampuan jantung memompa darah secara adekuat yang dapat menyebabkan kongesti paru dan meningkatkan risiko bronkopneumonia. Bronkopneumonia meningkatkan produksi sekret sehingga menimbulkan masalah keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diberikan adalah kombinasi postural drainage dan chest physiotherapy. Karya ilmiah ini bertujuan menganalisis penerapan postural drainage dan chest physiotherapy terhadap peningkatan bersihan jalan napas pada pasien CHF dengan bronkopneumonia di RS Mardi Rahayu Kudus. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan proses asuhan keperawatan pada satu pasien selama lima hari. Intervensi meliputi observasi status respirasi, manajemen jalan napas, terapi oksigen, postural drainage, dan chest physiotherapy. Hasil menunjukkan perbaikan kondisi respirasi yang ditandai dengan penurunan sesak napas, frekuensi napas dari 28 menjadi 21 kali/menit, peningkatan saturasi oksigen dari 96% menjadi 99%, penurunan ronki, serta berkurangnya jumlah dan kekentalan sputum. Disimpulkan bahwa postural drainage dan chest physiotherapy efektif membantu meningkatkan bersihan jalan napas pada pasien CHF dengan bronkopneumonia. Intervensi ini dapat dipertimbangkan sebagai terapi pendukung dalam asuhan keperawatan pasien dengan bersihan jalan napas tidak efektif.

Melania Putri Devitasari; Arlies Zenitha Victoria; Riris Risca Megawati

Proceeding Konferensi Nasional 2026 Mianti Nurrizky Sutejo,S.Fis.,M.P.H

Stroke non hemoragik merupakan gangguan neurologis akibat terhambatnya aliran darah ke otak sehingga menyebabkan penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak. Kondisi ini dapat menimbulkan penurunan kesadaran, gangguan fungsi pernapasan, serta penumpukan sekret pada jalan napas yang berisiko menyebabkan gagal napas. Pasien dengan stroke non hemoragik disertai hipertensi dan gagal napas memerlukan penanganan intensif, terutama untuk mengatasi masalah bersihan jalan napas tidak efektif akibat penumpukan sekret. Tujuan dari studi kasus ini yaitu mampu menganalisa penerapan clapping, vibrasi, dan suction dalam meningkatkan bersihan jalan napas pada pasien stroke non hemoragik disertai hipertensi dan gagal napas di ruang ICU Mardi Rahayu Kudus. Metodologi yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan penerapan studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Hasil studi kasus didapatkan diagnosa utama bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi jalan napas, intervensi yang diberikan monitor pola napas (RR dan saturasi), suara tambahan (wheezing, ronchi), sputum (jumlah, warna, aroma), berikan clapping, vibrasi dan suction (EBN), atur posisi semi fowler. Evaluasi yang didapatkan pada hari ke 3 masalah belum teratasi karena belum menunjukkan hasil evaluasi yang sesuai dengan kriteria hasil yang ditetapkan oleh penulis. Saran selanjutnya diharapkan perawat dapat memberikan pelayanan secara maksimal dalam meningkatkan kesehatan pasien serta menjadikan tambahan referensi dalam pendidikan kesehatan. 

Amanda Ramadhan; Ragil Aidil Fitriasari Addini; Mianti Nurrizky Sutejo

Proceeding Konferensi Nasional 2026 Mianti Nurrizky Sutejo,S.Fis.,M.P.H

  Latar Belakang: Low back pain myogenic merupakan gangguan muskuloskeletal yang sering dialami lansia dan dapat menyebabkan penurunan aktivitas fungsional. Salah satu intervensi fisioterapi yang dapat diberikan yaitu core stability exercise dan hip improve exercise. Penelitan mengenai efektivitas pemberian intervensi sudah banyak dilakukan, namun penelitian yang meneliti dengan alat ukur aktivitas fungsional masih terbatas. Tujuan Penelitian: mengetahui efektivitas pemberian hip improve exercise terhadap aktivitas fungsional lansia dengan low back pain myogenic. Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan desain pretest dan posttest yang dilakukan di daycare lansia Banyumanik tanggal 31 Maret – 24 April 2026. Sampel penelitian berjumlah 28 lansia. Pengukuran aktivitas fungsional menggunakan kuisioner Oswestry Disability Index (ODI). Penelitian dilakukan selama 4 minggu dengan frekuensi latihan 2 kali dalam seminggu. Hasil: Penelitian ini menunjukkan intervensi hip improve exercise memperoleh nilai signifikansi 0,000 (p<0,05) dengan mean rank 14,00 menggunakan uji wilcoxon. Kesimpulan: Pemberian hip improve exercise efektif dalam meningkatkan aktivitas fungsional lansia dengan low back pain myogenic.

Gabriel Eric Arievigo Nugraha; Deasy Virka Sari; Alifa Dinda Nurrina

Proceeding Konferensi Nasional 2026 Mianti Nurrizky Sutejo,S.Fis.,M.P.H

Latar Belakang cedera hamstring merupakan salah satu cedera yang sering terjadi pada pemain sepak bola akibat aktivitas berintensitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh isotonic hamstring exercise dan isometric hamstring exercise terhadap penurunan risiko cedera hamstring pada pemain sepak bola di Elite Pro Academy Persijap Jepara. Penelitian menggunakan metode quasi experimental dengan desain pre-test and post-test two group design. Sampel penelitian berjumlah 40 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok isotonic hamstring exercise dan kelompok isometric hamstring exercise. Intervensi dilakukan selama 4 minggu dengan frekuensi 2 kali seminggu untuk Isotonic Hamstring Exercise dan 3 Kali seminggu untuk Isometric Hamstring Exercise. Pengukuran menggunakan Hamstring Outcome Score (HaOS). Analisis data menggunakan uji Shapiro-Wilk dengan P Value <0,05 maka dari itu dilakukan Uji Nonparametrik Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann-Whitney Test. Hasil penelitian menunjukkan kedua intervensi berpengaruh signifikan terhadap penurunan risiko cedera hamstring, masing-masing : Isotonic Hamstring Exercise: Kaki kanan: p = 0,008 (<0,05), Kaki kiri: p = 0,046 (<0,05) dan Isometric Hamstring Exercise: Kaki kanan: p = 0,007 (0,05), Kaki kiri: p = 0,020 (<0,05). Isometric Hamstring Exercise menunjukkan pengaruh lebih besar dibandingkan Isotonic Hamstring Exercise walaupun perbedaan tersebut belum dapat dikatakan signifikan yang masing-masing Kaki kanan: p = 0,381 (>0,05) dan Kaki kiri: p = 0,683 (>0,05). Kesimpulan Tidak ada perbedaan pengaruh yang signifikan pada kedua Isotonic Hamstring Exercise dan Isometric Hamstring Exercise pada cedera hamstring pemain sepak bola.

Rendy Murdiyanto Langkamuda; Hardianti Hardianti; Nurdiana Nurdiana; Ni Ketut Kariani

Vitamin : Jurnal ilmu Kesehatan Umum 2026 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Nutrition is crucial for children's growth and development. Protein Energy Deficiency (PEM) is a common nutritional problem among elementary school-aged children and can impact their health, growth, and cognitive development. The prevalence of PEM among toddlers in Indonesia reached 17.9% in 2013. Palm Mushrooms, which are rich in macronutrients, can be a solution to this problem. Therefore, efforts are needed to address PEM through the consumption of nutritious foods, such as tortilla chips supplemented with palm mushroom flour. The purpose of this study was to analyze the acceptability and nutritional content of tortilla chips supplemented with palm mushroom flour (Volvariella volvacea) as an alternative snack for school-aged children. This study used an experimental design with a Completely Randomized Design (CRD) method, involving three treatments and two replications. The results of the organoleptic test showed that formulation 2, namely tortilla chips supplemented with palm mushroom flour, received a significant value (p<0.05) for color, aroma, taste, and texture, indicating a significant effect of the addition of palm mushroom flour on tortilla chips. Laboratory and organoleptic tests showed significant values ​​(p<0.05) for moisture, ash, carbohydrate, and protein content, indicating a significant effect of the addition of palm mushroom flour. Future researchers are expected to test the shelf life of tortilla chips made from palm mushroom flour.

Situmorang, Friza; Rista, Henny; Sari, Dessy Ratna; Nadeak, Yasrida; Sinaga, Eva Dona +1 more

https://journal.admi.or.id/index.php/JUKEKE/article/view/2397 2026 Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Anemia during pregnancy remains a major public health problem in Indonesia. One of the contributing factors is inadequate maternal knowledge regarding iron (Fe) tablets, which may affect adherence to supplementation and increase the risk of anemia. Objective: This study aimed to analyze the relationship between pregnant women's knowledge of iron (Fe) tablets and the incidence of anemia at PMB Shinta, Medan Polonia District, North Sumatera Province, in 2025. Methods: This quantitative study employed a cross-sectional design. The study involved all 30 pregnant women attending antenatal care at PMB Shinta, selected through total sampling. Data were collected using a structured questionnaire and hemoglobin examination. The data were analyzed using descriptive statistics and the Chi-Square test. Findings: The results showed that 56.7% of respondents had poor knowledge and 60.0% experienced anemia. A significant relationship was found between maternal knowledge and the incidence of anemia, with a p-value of 0.013. Pregnant women with poor knowledge had a 10.5-times higher likelihood of experiencing anemia than those with good knowledge (OR = 10.5; 95% CI: 1.889–58.359). Implications: The findings indicate the need to strengthen health education during antenatal care, particularly regarding the benefits, dosage, timing, and proper consumption of iron tablets. Improved maternal knowledge is expected to support adherence to iron supplementation and reduce the incidence of anemia during pregnancy. Originality: This study provides recent empirical evidence from a primary midwifery practice in Medan Polonia by directly examining the relationship between maternal knowledge of iron tablets and anemia incidence. The findings offer practical value for developing targeted, community-based maternal health education strategies.

Ketut Lidia Wati; Aniska Indah Fari; Bangun Dwi Hardika

Vitamin : Jurnal ilmu Kesehatan Umum 2026 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Edema is an excessive accumulation of fluid between the cells of body tissues. In patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis, the kidneys are unable to excrete metabolic waste products and toxins, which leads to edema. One non-pharmacological intervention that can be provided is a combination therapy of Ankle Pump Exercise and 30° leg elevation to reduce the degree of edema.This final nursing scientific paper used a case study design. The intervention was carried out on June 5th, June 9th, and June 12th, 2026, at the Hemodialysis Room of Bhayangkara Mohamad Hasan Hospital Palembang. After the Ankle Pump Exercise and 30° leg elevation therapy, the results of edema assessment were: Mr. Z had grade II edema with a depth of 3 mm and a duration of 10 seconds, Mr. G had grade I edema with a depth of 2 mm and a duration of 3 seconds, and Mr. D had grade II edema with a depth of 3 mm and a duration of 10 seconds. The application of EBP through Ankle Pump Exercise and 30° leg elevation therapy was effective in reducing the degree of edema in hemodialysis patients.

Tommy Kuncara; Poso Nugroho; Fera Riske Anggita

International Journal Multidisciplinary Science (IJML) 2026 Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Audit quality has become an increasingly critical issue in maintaining public trust in financial reporting, especially in Public Accounting Firms in Indonesia. Several audit failure cases in corporate financial statements indicate that auditors do not always succeed in detecting material misstatements effectively. This condition raises concerns regarding the role of auditor independence, competence, and professional ethics in ensuring reliable audit outcomes. Therefore, this study aims to analyze the effect of auditor independence, competence, and professional ethics on audit quality in Public Accounting Firms in Indonesia. This study employs a quantitative research approach using a survey method. Primary data were collected through questionnaires distributed to auditors working in Public Accounting Firms. The data were analyzed using multiple linear regression analysis to examine the relationship between independent variables and audit quality. The results show that auditor independence, competence, and professional ethics have a positive and significant effect on audit quality. Among these variables, professional ethics is found to be the most dominant factor influencing audit quality. This indicates that ethical behavior plays a crucial role in ensuring audit integrity and reliability, beyond technical competence and independence. The implications of this study suggest that Public Accounting Firms should strengthen ethical standards, improve auditor competence through continuous professional training, and maintain auditor independence to enhance audit quality. These efforts are essential to improve public trust in audited financial statements and strengthen the credibility of the auditing profession. The originality of this study lies in the integrated analysis of auditor independence, competence, and professional ethics within a single empirical model in the context of Public Accounting Firms in Indonesia. This study contributes to auditing literature by providing comprehensive evidence that audit quality is shaped not only by technical factors but also by ethical and behavioral dimensions of auditors.

hendratno, hendratno

Innovation, Theory & Practice Management Journal 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

This study aims to analyze the influence of competence and work discipline on the performance of village officials, with democratic leadership as an intervening variable in Pemalang Regency. The research is motivated by inconsistencies in prior empirical findings and the persistent phenomenon of administrative reporting delays despite a noted increase in the number of self-sufficient villages. The theoretical framework employed is Vroom's Expectancy Theory, which posits that performance is shaped by expectancy, instrumentality, and valence. The research population comprised all village officials in Pemalang Regency, with the sample determined using the Slovin formula through stratified proportional random sampling. Data were collected via a Likert-scale questionnaire and analyzed using Partial Least Square (PLS) with SmartPLS software. The findings reveal that competence and work discipline each exert a positive and significant effect on both performance and democratic leadership. Democratic leadership is likewise proven to have a positive and significant effect on performance, while simultaneously mediating the influence of competence and work discipline on performance. Collectively, competence and work discipline account for a substantial proportion of the variance in both democratic leadership and village official performance. This study contributes to the development of a democratic leadership mediation model within the context of village governance and offers practical recommendations, including the enhancement of digital competencies, the strengthening of reward-punishment systems, the optimization of village deliberation forums, and improvements in the delegation of authority and information transparency.

dicky, aloysius

Innovation, Theory & Practice Management Journal 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran fleksibilitas kerja dan pelatihan kerja baik baik secara langsung maupun tidak langsung melalui dapatasi teknologi terhadap kinerja pekerja ekonomi GIG pada diver logistik daring di Kota Semarang. Populasi penelitian ini dilakukan pada pekerja logistik daring (delivery driver) yang bekerja melalui platform Shopee Express di Kota Semarang sebanyak 100 orang. Jumlah sampel yang direncanakan 150–200 responden mengacu pada ketentuan metodologis, namun penggunaan 128 responden tetap dinilai memadai karena SEM-PLS bersifat fleksibel, memenuhi statistical power, dan mampu menghasilkan estimasi yang stabil serta dapat diandalkan. Sumber data yang digunakan data primer, dengan metode pengumpulan data kuesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah Partial Least Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fleksibiltas kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pekerja ekonomi gig, pelatihan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pekerja ekonomi gig. Fleksibiltas kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap adaptasi teknologi, pelatihan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap adaptasi teknologi. Adaptasi teknologi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pekerja ekonomi gig. Adaptasi teknologi dapat memediasi pengaruh fleksibiltas kerja terhadap kinerja pekerja ekonomi gig. Adaptasi teknologi dapat memediasi pengaruh pelatihan kerja terhadap kinerja pekerja ekonomi gig.

indra, sonny

Innovation, Theory & Practice Management Journal 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh budaya kolaboratif dan gaya kepemimpinan transformasional, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui kepuasan kerja, terhadap kinerja pegawai ASN Kecamatan Pemalang. Populasi penelitian berjumlah 83 pegawai ASN dengan teknik sampling jenuh. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Partial Least Square (PLS) dengan SmartPLS 4.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya kolaboratif berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai (t=1,965; p=0,040), sementara gaya kepemimpinan transformasional tidak berpengaruh langsung terhadap kinerja pegawai (t=1,097; p=0,136). Kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai (t=2,822; p=0,002). Gaya kepemimpinan transformasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja (t=6,007; p=0,000). Kepuasan kerja memediasi penuh hubungan antara gaya kepemimpinan transformasional dan kinerja pegawai (t=2,923; p=0,002), namun tidak memediasi hubungan antara budaya kolaboratif dan kinerja pegawai (t=0,932; p=0,176). Nilai R-Square menunjukkan model mampu menjelaskan 94,6%  variansi kepuasan kerja dan 92,7% variansi kinerja pegawai.

viviorini, viviorini; suparjo, suparjo; mardiyono, aris

Innovation, Theory & Practice Management Journal 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Digital Competence dan Organizational Agility terhadap Public Service Performance dengan Innovation Capability sebagai variabel mediasi pada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kecamatan Gayamsari Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory research dan teknik sampel jenuh sebanyak 86 responden. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dengan skala Likert dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda berbantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Organizational Agility dan Innovation Capability berpengaruh positif dan signifikan terhadap Public Service Performance. Digital Competence tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap kinerja pelayanan publik, namun berpengaruh secara tidak langsung melalui Innovation Capability. Temuan ini menunjukkan bahwa kompetensi digital perlu dikonversi menjadi inovasi agar mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan teori dynamic capability dalam konteks sektor publik serta implikasi praktis bagi peningkatan kinerja pelayanan berbasis digital.

marissa, marissa

Innovation, Theory & Practice Management Journal 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Di tengah tuntutan digitalisasi dan ekspektasi publik yang terus meningkat, kualitas pelayanan publik tidak hanya ditentukan oleh sistem teknologi, tetapi oleh kapasitas psikologis dan motivasional pegawai. Penelitian ini mengkaji bagaimana Psychological Empowerment, Public Service Motivation, dan Adaptive Citizenship Engagement memengaruhi Public Service Quality dengan Proactive Service Innovation sebagai variabel mediator. Menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatif dengan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui SmartPLS 3.2.9, penelitian ini melibatkan 109 Aparatur Sipil Negara di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Semarang. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Psychological Empowerment berpengaruh positif signifikan terhadap Proactive Service Innovation (β = 0,529; T = 3,633; p = 0,000), Public Service Motivation berpengaruh positif signifikan terhadap Proactive Service Innovation (β = 0,278; T = 2,049; p = 0,041), sementara Adaptive Citizenship Engagement tidak terbukti berpengaruh langsung terhadap PSI (β = 0,040; T = 0,257; p = 0,797). PSI selanjutnya terbukti berpengaruh sangat kuat terhadap PSQ (β = 0,730; T = 15,175; p = 0,000). Model penelitian menjelaskan 63,6% variasi Proactive Service Innovation dan 53,2% variasi Public Service Quality. Temuan ini menegaskan bahwa inovasi layanan proaktif merupakan jembatan kritis antara kondisi psikologis-motivasional pegawai dan kualitas pelayanan publik yang dirasakan masyarakat.