Publication Search

62,428 articles from 498 journals · 1,579 citations tracked

Showing 181-200 of 220

Analytics

Siregar, Ilham Barita; Afrinaldi; Iswantir M; Supratman Zakir

JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA 2023 CV. ALIM'SPUBLISHING

Latar belakang peneliti membuat tulisan ini adalah pentingnya penenaman nilai-nilai pendidikan karakter di MTsN 6 Agam. Pembentukan dan penanaman karakter yang positif terhadap siswa sangat diperlukan, melalui implementasi pendidikan karakter di lembaga pendidikan, dan sekaligus sebagai upaya pembangunan manusia Indonesia yang berakhlak budi pekerti yang mulia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendidikan karakter di MTsN 6 Agam (1) disiplin, (2) mandiri, (3) bersahabat/komunikatif, (4) peduli sosial, (5) tanggung jawab di MTsN 6 Agam guna mendeskripsikan implementasi pendidikan karakter. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, artinya penulis akan melihat fenomena yang terjadi di lapangan. Peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara, dan didukung dengan dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter di MTsN 6 Agam dengan cara memasukkan pendidikan karakter ke dalam kurikulum sekolah. Pelaksanaan implementasi dengan mengintegrasikan karakter dalam mata pelajaran, kegiatan rutin, kegiatan spontan, keteladan. Dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di MTsN 6 agam para pendidik selalu berupaya untuk menanamkan nilai-niali karakter terhadap siswa/siswinya agar menjadi pribadi-pribadi yang berkarakter.

Hamu, Fransiskus Janu

NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 2023 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh prosocial engagement dalam pendidikan agama Katolik terhadap pembentukan karakter siswa melalui keteladanan guru. Melalui pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara dengan guru agama Katolik, dan survei siswa. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa prosocial engagement memainkan peran krusial dalam membentuk karakter siswa, seperti empati, toleransi, dan kepedulian sosial. Selain itu, keteladanan guru memiliki dampak yang signifikan dalam mendorong siswa untuk terlibat dalam perilaku sosial yang positif.  Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi pendidikan agama Katolik dalam memperkuat nilai-nilai kristiani dan menciptakan siswa yang bertanggung jawab dan peduli terhadap sesama. Implikasi praktis dari penelitian ini juga dibahas untuk membantu pengembangan pendekatan dan strategi yang lebih efektif dalam pendidikan agama Katolik.

Albertin Agit Arinta Ayu Lestari Kewa Bunga Kiloona; Dwi Retnani Srinarwati

SIMPATI: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Bahasa 2023 CV. Alim's Publishing

Pendidikan adalah salah satu sarana penting untuk menjadikan manusia lebih berkualitas. Manusia tidak mampu berkembang secara optimal tanpa adanya bantuan orang lain. Tujuan dari penelitian ini ialah mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler pramuka siswa SMA intensif taruna pembangunan Surabaya, mendeskripsikan pengembangan karakter disiplin siswa SMA intensif taruna pembangunan Surabaya dan mendeskripsikan dan menganalisis peran kegiatan ekstrakurikuler pramuka dalam pengembangan karakter disiplin siswa SMA intensif taruna pembangunan Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, peneliti berperan sebagai pengamat partisipan selama proses ekstrakurikuler pramuka data diambil melalui observasi,wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan ekstrakurikuler pramuka yang dilaksanakan selama satu kali dalam seminggu dengan beberapa kegiatanya seperti latihan rutin, jelajah alam, dan persami. Penanaman karakter disiplin terbukti dengan kurangnya disiplin pada siswa SMA intensif taruna pembangunan Surabaya.  

Serliana Sasmita; Yeremia Hia

Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Agama 2023 Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Fransiskus Assisi

Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pembelajaran formal, non formal dan/atau informal. Pendidikan anak usia dini melalui pendidikan formal berlangsung di TK (Taman Kanak-kanak), rauadutul atfali dan bentuk lain yang sejenis. Sementara itu, Paud berlangsung melalui bentuk pendidikan informal yang disebut KB (kelompok bermain), (TPA) (Taman kanak-kanak dan bentuk lain yang serupa.[1] Dan PAUD Setia Baneara mencoba melakukannya melalui kedua jalur, yaitu formal dan informal, dalam arti tidak hanya menitikberatkan pada pendidikan tetapi juga mencakup permainan agar anak tidak bosan. Disini dibutuhkan peran seorang guru yang tidak hanya fokus pada dunia pendidikan anak, tetapi juga fokus pada karakteristik anak, seperti anak tidak hanya memiliki kepandaian yang besar, namun juga memiliki akhlak baik.   [1] Pengalaman Penulis,Masa Pelayanan Satu Tahun,(2022-2023).

Devi Yaniar Wi Hargina

JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA 2023 CV. ALIM'SPUBLISHING

This study aims to determine how the process of forming religious character for students with mental retardation at SPKH Negeri Karanganyar, Kebumen Regency. This research uses qualitative research methods, using interview and observation instruments. This research was conducted on 6 children with mental retardation in class X C at SPKH Negeri 1 Karanganyar. The results of the analysis include how the process of character building for students with mental retardation, the efforts made in the formation of religious characters for students, as well as the challenges of character formation faced from the pre-pandemic to post Covid-19 pandemic

Hendra Agung Saputra Samaloisa

Sinar Kasih: Jurnal Pendidikan Agama dan Filsafat 2023 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Tulisan ini mendeskripsikan mengenai signifikansi etika guru Pendidikan agama Kristen terhadap pertumbuhan karakter bagi peserta didik dengan menggunakan pendekatan literature. Pentingnya etika bagi guru pendidikan Agama Kristen bukan hanya sekedar mengajarkan tentang pengetahuan, keterampilan, terhadap peserta didik, melainkan mengajarkan tentang bagaimana peserta didik mempunyai karakter yang meonjol dengan iman  kepada sang Juruslamat yaitu Yesus Kristus. Maka dari pada itu untuk menghidupi dan mewujudkan karakter peserta didik guru Pendidikan Agama Kristen terlebih dahulu memahami tentang pengajaran yang hidup di dalam kekristenan yang sesungguhnya di dalam Tuhan.

Fadhilah Hafidz; Ida Farida; Putri Kiki Lestari; Ratna Sari Dewi

Jurnal Inovasi Ilmu Pendidikan 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Dibuatnya artikel ini memiliki tujuan agar kita bisa tahu bagaimana pentingnya pendidikan karakter dalam menciptakan sekolah berkarater. Dalam menjalankan roda pendidikan, seperti yang diketahui peranan penting, dan tentunya didukung dengan fasilitas guru yang berkompeten juga. Kendala pendidik dalam menciptakan sekolah berkarakter yaitu sekolahnya belum mampu memilih terkait nilai karakter didalam menyesuaikan terhadap visi serta tujuan untuk melakukan berbagai hal yang terbaik, indikator yang representatif, pengembangan atau pembentukan karakter jni penting dan perlu diyakini untuk menjadi pijakan dalam penyelenggaraan pendidikan kembangkan disekolah. Tentunya hambatan ini perlu diselesaikan satu persatu supaya apaa yang mejadi tantangan dan hambatan dalam menciptakan sekolah yang berkarakter ini kedepannya bisa diperbaiki sehingga generasi bangsa ini memiliki kualitas sumber daya manusia yang berkompeten dalam setiap masing masing bidangnya. Dalam penelitian kali ini menggunakan metode kualitatif, data sekunder, data yang diambil berdasarkan studi literatur yang meliputi buku - buku, jurnal - jurnal , makalah-makalah, serta studi literatur - literatur lain yang tentunya membahas mengenai pendidikan karakter. Proses-proses baik itu analisis data-data berupa reduksi data-data serta display data-data, pemverifikasi dan berbagai penarikan kesimpulan-kesimpulan yang tentunya sudah jelas kebenarannya. Berdasarakan data hasil dari penelitian yang telah kami lakukan dapat disimpulkan bahwasannya pentingnnya pendidikan karakter dalam mengembangkan sekolah berkarakter.

Aisyah Sekar Tri Wardani; Anisa Tulhalizah; Ratna Sari Dewi

Journal of Creative Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Pendidikan karakter sangat signifikan dan mendapat banyak perhatian oleh kalangan masyarakat. Pendidikan karakter dianggap sangat penting, apalagi mengingat saat ini sering terjadi kejadian-kejadian negatif yang tidak mencerminkan karakter yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pendekatan terbaik yang dapat digunakan guru saat membuat pelajaran pembentukan karakter. Dengan menyelidiki objek penelitian dan melakukan wawancara, penelitian lapangan digunakan sebagai metodologi penelitian. wawancara tatap muka digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang diperlukan dari pendidik SMAN 1 Kota Tangerang dengan mengajukan serangkaian pertanyaan terlebih dahulu. Hasil penelitian yang telah diperoleh bahwa pendidik melaksanakan strategi penerapan ruang kelas berkarakter sudah berjalan dengan baik dan semestinya di SMAN 1 Kota Tangerang melalui penerapan dengan adanya program Pelaksanaan tata tertib di SMAN 1 Kota Tangerang cukup baik, karena adanya Penegak Disiplin Sekolah (PDS) terdiri dari Wakasek sebagai ketuanya dan guru-guru yang memiliki kepedulian terhadap disiplin. Untuk memenuhi visi dan tujuan sekolah, aturan tata tertib yang berlaku di sekolah harus ditegakkan dengan baik, serta aturan yang mengatur tingkah laku siswa dalam hal perilaku, penampilan, dan seragam.

Rani Olivia; Salmi Wati; Arman Husni; Zulfani Sesmiarni

Jurnal Inovasi Ilmu Pendidikan 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi penguatan pendidikan karakter religius dalam pembelajaran PAI di kelas XI IPS SMA Negeri 1 Kabupaten Mungka dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi penguatan pendidikan karakter religius dalam pembelajaran PAI di kelas. XI IPS di SMA Negeri 1 Kabupaten Mungka. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Informan penelitian ini adalah guru PAI sebagai informan kunci dan informan pendukung yaitu kepala sekolah, perwakilan kurikulum, dan siswa kelas XI IPS. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data adalah reduksi data, penyajian data, dan inferensi data. Kemudian teknik keabsahan data penulis menggunakan triangulasi teknis dan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor pendukung penguatan pendidikan karakter religius dalam pembelajaran PAI di kelas XI IPS adalah dukungan pemerintah kabupaten sebagai pembuat kebijakan terkait pendidikan agama di sekolah dukungan masyarakat, dukungan orang tua yang merupakan pendidikan pertama di pembentukan karakter religius anak, lingkungan di sekolah, dukungan teman sebaya yang membawa pengaruh baik. Sedangkan faktor penghambat penguatan pendidikan karakter religius dalam pembelajaran PAI kelas XI IPS adalah lingkungan di sekolah yang memberikan pengaruh buruk, kurangnya kemauan dan motivasi dari siswa itu sendiri untuk melaksanakan karakter religius dalam kehidupan.

Mohammad Rudiyanto; Ria Kasanova

Student Scientific Creativity Journal 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Karakter dan akhlak mahasiswa harus dikembangkan secara maksimal agar tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga berkembang di bidang non-akademik untuk mempertahankan rasa identitas diri mereka dalam menghadapi globalisasi. Oleh karena itu, penanaman budi pekerti luhur pada mahasiswa Indonesia merupakan hal yang paling mendesak yang perlu segera mendapat perhatian. Melalui investigasi ini, diyakini akan ditemukan taktik atau konsep untuk meningkatkan akhlak mulia di kalangan pelajar Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tinjauan literatur, yang memerlukan pengumpulan dan penilaian sumber dan fakta dari karya-karya yang diterbitkan seperti buku, jurnal, makalah, dan tesis. Teknik membaca semantik dan simbolik digunakan untuk memperoleh data. Berdasarkan temuan penelitian, pendidikan karakter harus terus dilaksanakan di lingkungan pendidikan tinggi guna meningkatkan dan menanamkan akhlak mulia pada mahasiswa. Guru besar bertanggung jawab untuk membina moralitas dan karakter mahasiswa. Melalui keteladanan yang diberikan oleh dosen dalam lingkungan akademik, mahasiswa akan melakukan peniruan dan cenderung memandang akademisi sebagai role model.

Putri Mira Relidja; Khalil Saddam; Syamsiah Syamsiah

Jurnal Politik Hukum 2023 LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Islam peradaban melayu apapun bentuknya menjadi (manifestasi) iman dan amal saleh manusia dalam pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Islam peradaban dalam menegakkan tidak hanya memandang satu sisi kehidupan dunia saja dengan budaya yang kaya untuk memajukan pencapaian peradaban, tapi juga memperhatikan prinsip mengejar kebahagiaan, oleh memberikan cara pengajaran moral dan kehidupan sipil yang dalam pandangan keanekaragaman dunia. Dalam pembentukan dan pengembangan, Islam peradaban melayu tidak dapat dipisahkan dari dasar-dasar keislaman petunjuk peradaban, yaitu: pertama, Al-Qur'an dan As-Sunnah, kedua, ummat Islam dan ketiga, Pembuka jalan menuju peradaban melayu. Selain itu, peradaban Islam memiliki ciri-ciri tertentu, sifat dan karakteristik yang berbeda dengan peradaban lain. Karakteristik ini, yaitu universalitas, tauhid, seimbang dan moderat, dan sentuhan karakter. Dengan karakteristik Islami tersebut islam peradaban melayu dapat diterima di berbagai belahan dunia. Artikel ini akan menjelaskan proses masuk dan menyebarnya peradaban Islam ke Dunia Melayu, yaitu melalui proses perdagangan, perkawinan, politik dan lain-lain. Kedatangan Islam kepada hakikat dan peran Islam peradaban akan memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan dan kemajuan dunia Melayu baik dalam bidang Aqidah, Hukum, pemerintahan, ekonomi, bahasa dan sastra, seni dan arsitektur.    

Habib Maulana

Journal of Creative Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisa kebutuhan awal peran parenting dalam pendidikan karakter sekolah dasar sebagai upaya strategi pembelajaran yang dapat membentuk karakter peserta didik melalui pembelajaran dikelas. Sasaran pada penelitian ini adalah guru SD Gugus Kamboja Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes. Metode yang digunakan pada kegiatan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan intrumen penelitian berupa angket dan wawancara. Penggunaan teknik analisis data meliputi tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Berdasarkan analisa dari instrumen dihasilkan data bahwa penerapan parenting pendidikan karakter dalam pembelajaran disekolah dasar tinggi. Keseluruhan guru sasaran penelitian berjumlah 18 orang. Selain menjalankan proses pembelajaran juga menerapakan parenting pendidikan karakter pada peserta didik dalam proses pembelajaran yang disusun dengan pembelajaran menarik dan menggunakan metode yang membuat peserta didik merasakan mudah menerima pembelajarannya selain itu, menerapakan parenting pendidikan karakter pada peserta didik dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter peserta didik. Adapun guru yang belum menerapakan parenting pendidikan karakter dalam pembelajaran disekolah dasar dan yang belum pernah mengikuti pelatihan atau seminar penerapan parenting pendidikan karakter dalam pembelajaran disekolah dasar. Hasil penelitian ini berguna sebagai analisa awal peran parenting dalam pendidikan karakter disekolah dasar. Agar Guru dapat menerapkan parenting pendidikan karakter dalam pembelajaran yang disusun dengan pembelajaran menarik dan menggunakan metode, teknik, prosedur, serta perangkat yang diperkirakan cocok untuk mencapai tujuan dalam menerapakan parenting pendidikan karakter pada pembelajaran. Dengan mengupayakan pengembangan kompetensi guru untuk mengelola sebuah kegiatan yang menarik dan mudah dalam kaitannya dengan proses pembentukan karakter peserta didik. Guru juga agar melibatkan peran orang tua dalam pelaksanaannpendidikan karakter karena keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam memberikan pendidikan karakter pada peserta didik

Riska Anisa Indriyani; Wahyu Lestari; Farid Setiawan

Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Pendidikan menempati urutan terpenting dalam kehidupan. Sekolah adalah tempat anak-anak untuk mengenyam pendidikan. Pendidikan yang bersifat pengetahuan umum dan pendidikan keagamaan pasti dipelajari di sekolah. Keberhasilan pendidikan di sekolah juga mengacu kepada manajemen kegiatan pembelajaran sebagai barometernya. Rumusan masalah yang dikaji dalam artikel ini ialah mengenai pentingnya manajemen pendidikan terhadap pembentukan karakter siswa. Dalam hal pendidikan karakter tentu kita tidak bisa lepas dari pembelajaran agama, yaitu adab dan akhlak. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui seberapa penting manajemen organisasi dalam pendidikan ini untuk mencetak peserta didik yang berkarakter atau memiliki karakter yang baik. Metode penelitian menggunakan studi kepustakaan, yang diambil dari jurnal, makalah, artikel, buku dan skripsi mahasiswa akhir.  

Kustiana Dewi

Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Ilmu Pendidikan 2023 Universitas Maritim AMNI Semarang

Urgensi dari proses pendidikan adalah terbentuknya manusia yang berkarakter. Pembentukan karakter tersebut dimulai sedini mungkin. Dalam menanamkan nilai karakter pada anak merupakan sarana paling penting dalam pilar pendidikan terhadap upaya pembinaan dedikasi positif bagi anak dalam menghormati tatanan hidup seperti etika dan tingkah laku. Implementasi pendidikan karakter terhadap anak usia dini dapat dilakukan dengan 9 pilar karakter melalui pembiasaan dan keteladanan yang difokuskan pada karakter pilar dua yaitu karakter kemandirian. Sebagaimana kita ketahui bahwa pada pendidikan anak usia dini sering kita jumpai beberapa anak yang belum mandiri misalnya, anak makan masih disuapi, enggan mengambil minum sendiri, sekolah minta ditunggui memakai dan melepas sepatu dengan bantuan guru/orang tua dan membiarkan peralatan belajarnya tergeletak disembarang tempat. Guru perlu menerapkan pendidikan karakter kemandirian pada peserta didik melalui kegiatan pembiasaan dan keteladanan yang tertuang dalam RPPH (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian). Guru membiasakan perilaku kemandirian pada peserta didik melalui aktivitas rutin dan berulang-ulang. Perubahan yang nampak pada peserta didik setelah menerapkan pilar dua melalui pembiasaan yakni peserta didik menjadi lebih mandiri seperti makan dan minum sendiri, berani bersekolah sendiri tanpa ditunggui, bisa memakai dan melepas sepatu sendiri serta mampu merapikan peralatan belajarnya secara mandiri.

Durratus Sa’diyah

Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Ilmu Pendidikan 2023 Universitas Maritim AMNI Semarang

Lingkungan sekolah memiliki peranan penting dalam pembentukan moral pelajar terlebih lagi pada masa sekarang di mana kemajuan teknologi dan arus globalisasi memicu degradasi moral penerus bangsa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pendidikan moral melalui permainan tradisional. Kajian ini bertujuan untuk menemukenali nilai-nilai dalam permainan tradisional yang dapat mengembangkan moral anak. Hasil kajian mengungkap dalam permainan tradisional terkandung nilai-nilai karakter yang teramat strategis bagi penanaman, pembentukan, atau penguatan jati diri anak. Maka dari itu, perkembangan moral diharapkan dapat lebih optimal melalui permainan tradisional yang dipantau oleh guru.

Sylviana Stefanie

Jurnal Bahasa, Sastra, Budaya, dan Pengajarannya 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Mengingat pendidikan karakter akan berjalan dengan baik jika sistem pendidikan nasional mendapat dukungan yang baik, maka nilai-nilai dalam pendidikan karakter dapat dilaksanakan secara berbeda berdasarkan metode pengajaran guru. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi guru bahasa Inggris SMP dan SMA dalam menyampaikan nilai-nilai karakter dalam pembelajarannya di sebuah sekolah swasta di wilayah Bandung. Dengan menggunakan desain penelitian kualitatif melalui kuesioner, wawancara dalam pengumpulan data, penelitian ini menghasilkan bahwa sebagian besar guru di sekolah menengah telah menerapkan pembentukan nilai karakter dalam cara mereka mengajar, dalam berbagai kegiatan di kelas. Kesimpulannya, meskipun implementasi dari implementasi character building bisa berbeda-beda untuk setiap guru bahasa Inggris, dan kemajuannya tidak dapat diketahui secara instan, upaya tersebut telah dilakukan secara efektif. Oleh karena itu, guru harus terus-menerus mengubah cara mengajarnya agar siswa tidak benar-benar “sadar” bahwa karakter mereka dibangun secara singkat, dan mengabaikannya sebagai pendidikan nilai yang diacu.

SUHARTONO SUHARTONO

Observing the news of crime committed by minors today certainly raises concerns and unrest in social life. The disturbing behavior of children, such as the behavior of children away from religious teachings, disrespecting their parents, dressing inappropriately, saying dirty words, smoking, and the most troubling thing is that children are now involved in criminal acts. This issue has become a hot topic that is often reported on television, such as news about crimes committed by students, violence against friends, brawls, rape, and even murder. Responding to the negative behaviors of children that often appear in the news of child crimes need special attention. Therefore, as a form of attention, it is necessary to first understand the condition of the child himself and his relationship with the surrounding environment, both parents and family as well as the school as the smallest unit in society that has the responsibility to help children grow and develop optimally. Parents are the first people to be known by children, the first people to give life understanding to children, so parents play an important role in the formation of children's character. However, ironically, the family becomes a source of threat and unrest for children, because of the wrong treatment given by parents to children. Basically, the relationship between children and their parents is an emotional and cognitive source for children. These relationships provide opportunities for children to explore the environment, including school and social life, and children's early relationships can serve as models for later relationships. This initial relationship begins when the child is born into the world, in fact it has started since the fetus was in the womb (Sutcliffe, 2002: 15).1. Furthermore, the role of Christian Religious Education is an effort made by educators continuously to equip students with sources of faith. Character formation is very important in the educational process which is a process of internalizing the values ​​of the Christian faith through education. So that the personality or noble character of students is formed through habituation that is constantly practiced, without stopping.

SUHARTONO SUHARTONO

Observing the news of crime committed by minors today certainly raises concerns and unrest in social life. The disturbing behavior of children, such as the behavior of children away from religious teachings, disrespecting their parents, dressing inappropriately, saying dirty words, smoking, and the most troubling thing is that children are now involved in criminal acts. This issue has become a hot topic that is often reported on television, such as news about crimes committed by students, violence against friends, brawls, rape, and even murder. Responding to the negative behaviors of children that often appear in the news of child crimes need special attention. Therefore, as a form of attention, it is necessary to first understand the condition of the child himself and his relationship with the surrounding environment, both parents and family as well as the school as the smallest unit in society that has the responsibility to help children grow and develop optimally. Parents are the first people to be known by children, the first people to give life understanding to children, so parents play an important role in the formation of children's character. However, ironically, the family becomes a source of threat and unrest for children, because of the wrong treatment given by parents to children. Basically, the relationship between children and their parents is an emotional and cognitive source for children. These relationships provide opportunities for children to explore the environment, including school and social life, and children's early relationships can serve as models for later relationships. This initial relationship begins when the child is born into the world, in fact it has started since the fetus was in the womb (Sutcliffe, 2002: 15).1. Furthermore, the role of Christian Religious Education is an effort made by educators continuously to equip students with sources of faith. Character formation is very important in the educational process which is a process of internalizing the values ​​of the Christian faith through education. So that the personality or noble character of students is formed through habituation that is constantly practiced, without stopping.

Kundharu Saddhono; Budhi Setiawan; Muhammad Rohmadi; Ani Rakhmawati; Raheni Suhita +1 more

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Dalam rangka mewujudkan perlindungan terhadap masyarakat pedesaan terhadap paham radikalisme maka pendidikan dan penguatan wawasan kebangsaan untuk masyarakat pedesaan diperlukan sebagai bentuk kepedulian dari setiap pihak, baik pemerintah, masyarakat, dan keluarga. Pendidikan dan penguatan wawasan kebangsaan untuk masyarakat pedesaan akan terbentuk jika semua pihak memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan nilai kebangsaan dimulai semenjak dini. Masyarakat saat ini sangat rentan disusupi oleh paham dan gerakan radikalisme. Hal ini dikarenakan belum ada satu pun kebijakan spesifik untuk melindungi atau memproteksi masyarakat dari penetrasi paham dan gerakan radikalisme. Untuk itu, perlu adanya langkah konkret dalam hal mencegah radikalisasi dan penanaman nilai-nilai kebangsaan. Pendidikan nilai kebangsaan pada masyarakat inilah yang menjadi dasar pembentukan awal karena meluruskan sebatang ranting jauh lebih mudah daripada meluruskan sebatang pohon, maka dari itu pendidikan nilai kebangsaan yang paling efektif adalah pendidikan pada masyarakat, terutama di pedesaan Pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa di masyarakat harus dilakukan dengan tepat. Pengembangan nilai moral untuk masyarakat bisa dilakukan di dalam tiga tri pusat yang ada, yaitu, keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Dalam pengembangan nilai moral untuk masyarakat perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Hal ini dikarenakan masyarakat adalah tempat berbagai macam karakter yang heterogen. Maka dari itu, tim pengabdi mengajukan kegiatan pengabdian berkaitan dengan penanaman nilai-nilai kebangsaan terhadap masyarakat pedesaan yang bertujuan untuk mengatasi perpecahbelahan masyarakat Indonesia ini dan mencegah radikalisme di masyarakat, mengingat banyaknya kelompok separatis lahir di Indonesia ini maka salah satu cara untuk memutuskan rantai gejolak yang bertujuan menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jadi, kegiatan pengabdian ini tidak hanya memberikan pembekalan tentang internalisasi nilai-nilai kebangsaan pada masyarakat tetapi juga akan diintegrasikan dengan aktivitas masyarakat dalam keseharian yang akan dibimbing secara komprehensif dengan mengambil tema penguatan wawasan kebangsaan Indonesia dan nasionalisme bagi masyarakat sebagai pilar bangsa.  

Bustanul Arifin; Ali Imron; Achmad Supriyanto; Imron Arifin

Jurnal Ilmu Sosial, Bahasa dan Pendidikan 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pendidikan karakter santri pondok pesantren Nurul Hakim Kediri Lobar yang bertumpu pada budaya pondok pesantren, nilai karakter yang ditanamkan melalui budaya di pondok pesantren, dan pendekatan yang digunakan Tuan Guru dalam menanamkan karakter santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengambilan data dengan teknik wawancara mendalam, obsevasi non partisipan, dan studi dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan pendekatan analisis induktif. Keabsahan data dilakukan melalui kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, konfirmabilitas, dan diskusi teman sejawat. (lengkapi sampai dengan analisis data). Hasil penelitian ini menunjukkan pembentukan karakter dilakukan secara simultan antara Santri, Tuan Guru, Ustaz, Lingkungan, dan budaya pondok pesantren yang diterapkan di setiap waktu. Ada lima karakter yang ditanamkan kepada para santri yang termuat dalam Panca Jiwa Pesantren yaitu keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan terbatas. Karakter santri tercermin dalam sikap setiap hari di lingkungan dan di luar pondok pesantren.