Publication Search

72,574 articles from 669 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 47

Analytics

Maghfira Arum Lestari; Dennis Farina Nury; Puji Rahayu; Amelia Naomi Agustina; Muhamad Iqbal Putra +5 more

Jurnal Agrifoodtech 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Karbohidrat dan protein merupakan nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Penelitian ini diarahkan untuk melakukan identifikasi kualitatif karbohidrat (gula pereduksi) dengan uji benedict dan uji fehling, serta melakukan identifikasi/konfirmasi protein dengan uji biuret pada berbagai sampel pangan, serta mendiskusikan interpretasi hasil uji. Pada uji biuret, perubahan warna menjadi ungu / violet menandakan adanya protein (ikatan peptida). Pada uji benedict, perubahan warna menjadi hijau berarti terdapat sedikit gula reduksi, kuning berarti sedang, oren berarti signifikan, dan terberntuk endapan merah bata berarti banyak terdapat gula reduksi. Pada uji fehing, hasil positif ditandai dengan berubahnya warna larutan biru menjadi hijau dan terdapat endapan merah bata. Pangan yang signifikan mengandung protein adalah tempe, ayam, nugget, sosis, dan telur mentah. Pangan yang mengandung protein tetapi tidak begitu siginifikan adalah roti tawar dan croissant. Bahan pangan yang tidak terdeteksi adanya kandungan protein pada uji biuret adalah mie dan jeruk nipis. Bahan pangan yang signifikan mengandung gula pereduksi adalah nasi, mie, croissant, dan roti tawar. Bahan pangan yang tidak begitu signifikan mengandung gula pereduksi adalah jeruk nipis, tempe, nugget, dan telur mentah. Bahan pangan yang tidak mengandung gula pereduksi pada penelitian ini adalah ayam dan sosis.

Sri Wahyuna Saragih; Muhammad Rafi; Harlan Mufrih; Aisha Rafa Rahma; Dwi Kartika +2 more

Jurnal Agrifoodtech 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Nanas merupakan unggulan kedua yang di ekspor Indonesia setelah buah manggis pada 22 tahun lalu, volume ekspor nanas pada tahun 2004 sebesar 2.431.263 kilogram atau mengalami peningkatan sebesar 6,4 % dari tahun -tahun sebelumnya, permintaan ekspor nanas yang cukup tinggi merupakan pendorong bagi produksi nanas dalam negeri yang mampu bersaing dengan nanas negara lain. Seperti halnya produk pertanian lainnya, karakteristik buah nanas adalah mudah rusak dan pemanfaatannya lebih banyak sebagai makanan penutup mulut karena rasanya yang segar. Potensi penganeka ragaman produk pangan dengan bahan baku sebenarnya cukup banyak namun sampai dengan saat ini masih belum berkembang. Oleh sebab itu pada penelitian ini dilakukan memanfaatkan ektrak buah nanas melalui fermentasi bakteri Acetobacter Xylinum untuk membentuk polisakarida akstraseluler (nata) sebagai hidangan non energi yang biasa kita kenal Nata de pina, penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ekstrak buah nanas untuk dijadikan hidangan Nata de pina. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nata de pina memiliki nilai pH sebesar 4,7 dan kadar air sebesar 98,08% sudah memenuhi syarat mutu berdasar SNI nata. Hasil uji organoleptik terhadap 30 panelis menunjukkan bahwa sebagian besar panelis menyukai rasa, warna, aroma, dan tekstur Nata de pina yang dihasilkan.

Amelia, Erika; Nurhayati, Anis

Jurnal Agrifoodtech 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Tape ketan putih merupakan produk pangan fermentasi tradisional yang dibuat melalui proses fermentasi beras ketan menggunakan ragi tape. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis kemasan daun dan konsentrasi ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L.) terhadap karakteristik fisikokimia dan organoleptik tape ketan putih. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu jenis kemasan daun (K) (daun pisang, daun jati dan daun jambu air) dan konsentrasi ekstrak bunga telang (B) (0,5%; 1%; dan 1,5%) dengan tiga kali pengulangan. Parameter yang dianalisis meliputi kadar gula, pH, serta uji organoleptik warna, aroma, rasa dan tekstur. Data analisis menggunakan ANOVA pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis kemasan dan konsentrasi ekstrak bunga telang berpengaruh terhadap karakteristik tape ketan putih. Perlakuan terbaik diperoleh pada kemasan daun pisang dengan penambahan ekstrak bunga telang 0,5% yang menghasilkan pH dan kadar gula yang sesuai dan tingkat penerimaan panelis tertinggi.

Naomi Agustina, Amelia

Jurnal Agrifoodtech 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Pemurnian vitamin E dari berbagai sumber bahan alami dan limbah agroindustri terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan industri pangan, nutraseutikal, kosmetik, dan farmasi. Berbagai metode pemurnian telah diterapkan meliputi saponifikasi, ekstraksi menggunakan pelarut, dan distilasi molekuler. Studi ini mengkaji secara sistematis perkembangan metode pemurnian vitamin E dari berbagai sumber serta mengevaluasi keunggulan, keterbatasan, serta prospek penerapan teknologi yang lebih berkelanjutan. Penelusuran literatur dilakukan terhadap publikasi dalam 10 tahun terakhir yang diperoleh dari jurnal nasional dan internasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa sumber alami vitamin E banyak terdapat pada minyak nabati, sedangkan sumber dari limbah agroindustri dengan kandungan vitamin E tertinggi diperoleh pada Palm Fatty Acid Distillate (PFAD). Kandungan vitamin E yang bervariasi tergantung dari jenis bahan baku, kondisi proses, dan metode pemurnian yang digunakan. Studi komparatif terkait potensi kandungan vitamin E pada bahan alam dan limbah agroindustri lokal Indonesia masih terbatas, khususnya yang mempertimbangkan variasi varietas genetik. Dari aspek teknik pemurnian, metode ekstraksi konvensional memerlukan beberapa tahapan proses sehingga perlu ditinjau dari sisi efisiensi operasional dan keekonomian. Hasil kajian menunjukkan penggunaan green solvent seperti ekstraksi dengan scCO2 dan DES yang berpotensi meningkatkan keamanan proses dan keberlanjutan lingkungan. Pengembangan metode pemurnian yang efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan menjadi kunci dalam mendukung pemanfaatan berbagai sumber vitamin E secara berkelanjutan.

Muhammad Ahwan; Agus Suryanto; Tri Rahayuningsih; Sunarso Sunarso; Suyani Suyani +3 more

Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPPMI) 2026 Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Yappi Makassar

This community service program aims to enhance farmers’ literacy on independent fertilizer production and strengthen their understanding of farmers’ rights within national fertilizer governance as an effort to achieve food sovereignty. The program was implemented in Belang Village, Bungkal Sub-district, Ponorogo Regency, involving GAPOKTAN Baungan consisting of farmer groups from Tempel, Kepuh, Pakal, Kanigoro, and Klatakan hamlets. This initiative represents cross-university synergy involving lecturers from Universitas Merdeka Malang, Universitas Soerjo Ngawi, Universitas Muhammadiyah Ponorogo, and Akademi Kesejahteraan Sosial Ibu Kartini Semarang. The implementation adopted a participatory hybrid approach combining Zoom Meeting dissemination and offline field activities. Activities included literacy enhancement on independent fertilizer production, training on organic fertilizer processing, strengthening farmer group institutions, and legal literacy regarding farmers’ rights in accessing subsidized fertilizers, including RDKK mechanisms and national policies. Methods comprised participatory socialization, hands-on training, group discussions, field practice, and monitoring and evaluation. Results show improved understanding of independent fertilizer concepts, increased technical skills in organic fertilizer production, and greater awareness of farmers’ rights and obligations in the fertilizer distribution system. The program strengthened inter-university collaboration and farmer networks, supporting sustainability, farmer independence, reduced dependence on chemical fertilizers, and community-based food sovereignty.

Samosir, Triwira; Siregar, Tiara Anggrini; Clarissya Shatala Revi; Lubis, Nabila; Silaban, Putri Sari Margaret Julianty

Indonesia merupakan produsen padi terbesar di kawasan ASEAN dengan produksi mencapai 60,3 juta ton pada tahun 2025. Meskipun demikian, tingginya produksi tersebut belum mampu meningkatkan ekspor beras secara signifikan dan Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan secara berkelanjutan. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan output pertanian belum tentu mencerminkan efektivitas penggunaan faktor-faktor produksi yang mendukungnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh luas lahan sawah, jumlah petani, dan penyaluran pupuk bersubsidi terhadap produksi padi di Indonesia menggunakan pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data cross section pada 10 provinsi penghasil padi terbesar di Indonesia tahun 2025. Analisis dilakukan menggunakan regresi linier berganda setelah model memenuhi pengujian asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan sawah berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi padi dengan elastisitas sebesar 1,038743. Sebaliknya, jumlah petani berpengaruh negatif dan tidak signifikan, sedangkan penyaluran pupuk bersubsidi berpengaruh positif namun tidak signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan produksi padi lebih dipengaruhi oleh ketersediaan dan pemanfaatan lahan yang produktif dibandingkan penambahan tenaga kerja maupun subsidi input pertanian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan produksi padi memerlukan kebijakan yang berfokus pada efisiensi penggunaan sumber daya, perlindungan lahan pertanian produktif, serta penerapan teknologi pertanian yang mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

Wiwit Zuriati Uno; Rifka Anggraini Anggai; Lisa Efriani Puluhulawa; Amelia Regina Arsyad

Jurnal Suara Pengabdian 45 2026 LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Daun kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman lokal yang kaya protein, vitamin, dan mineral, serta berpotensi mendukung pemenuhan gizi anak apabila diolah dalam bentuk yang lebih diterima. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui inovasi pemanfaatan daun kelor (Moringa oleifera) berbasis data empiris masyarakat sebagai permen pendukung gizi anak. Kegiatan dilaksanakan di Desa Tinelo, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, dengan sasaran ibu yang memiliki anak usia 5–12 tahun. Tahap awal dilakukan pengumpulan data empiris melalui wawancara semi-terstruktur untuk mengidentifikasi pola pemanfaatan daun kelor dan tingkat penerimaan anak. Selanjutnya dilakukan kegiatan edukasi mengenai manfaat gizi daun kelor serta pendampingan pembuatan permen herbal kelor sebagai inovasi pengolahan pangan berbasis kearifan lokal. Evaluasi kegiatan dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan kondisi pra dan pasca kegiatan terhadap perubahan pengetahuan, sikap, dan penerimaan masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman ibu terhadap manfaat gizi daun kelor, dukungan terhadap inovasi pengolahan, penerimaan anak terhadap konsumsi kelor, partisipasi aktif masyarakat, serta minat untuk mengolah daun kelor secara mandiri. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan pemberdayaan berbasis data empiris dan inovasi pangan lokal efektif dalam meningkatkan pemanfaatan daun kelor sebagai pendukung gizi anak.

Susilawati Cicilia Laurentia; Appolinaris Didien Trimartinni; Kemmala Dewi; Aris Krisdiyanto; Pipit Skriptianata Putra Pranida +2 more

Jurnal Suara Pengabdian 45 2026 LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi petani di Desa Sawit, Kabupaten Magelang, seperti meningkatnya biaya produksi, kesulitan pengendalian hama, dan degradasi lingkungan akibat penggunaan bahan kimia sintetis yang berlebihan. Program ini memperkenalkan Biosaka, sebuah teknologi pertanian inovatif yang memanfaatkan rumput dan dedaunan lokal untuk menghasilkan larutan elisitor yang mampu meningkatkan ketahanan dan pertumbuhan tanaman. Melalui pelatihan partisipatif dan praktik langsung, para petani diajarkan prinsip, proses pembuatan, dan metode aplikasi Biosaka. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan petani, dengan 85% peserta berhasil memproduksi dan mengaplikasikan Biosaka secara mandiri. Inisiatif ini berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan pada input sintetis, menurunkan biaya produksi, mendorong keberlanjutan lingkungan, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam di kalangan petani.

Dea Amanda

Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen 2026 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Climate change is a global issue that not only impacts the environment but also threatens a country's food security. Indonesia, as a country that relies heavily on the agriculture, fisheries, and livestock sectors, faces high vulnerability to climate change. This study aims to analyze the impact of climate change on the agriculture, livestock, and fisheries sectors. This study used a qualitative method with a literature study approach through data analysis derived from scientific journals, books, and institutional reports. The results of the study indicate that climate change has a significant impact on these three sectors through changes in weather, rainfall patterns, and extreme weather. The El Niño phenomenon can reduce agricultural production, reduce livestock productivity, and disrupt fishermen's catches. These conditions can disrupt national food availability and stability and can increase social and economic vulnerability of the community. Therefore, climate change can be seen as a non-traditional threat to Indonesia's food security, requiring sustainable adaptation efforts to maintain food security in the future.

Dwi Nurul Qomariah; Dea Amanda Caressa; Elita Endah Mawarni

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2026 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Health issues among the elderly are often related to declining bodily functions, digestive disorders, and specific nutritional needs for easily digestible foods. The 60-and-older age group is at high risk for gastrointestinal disorders due to low fiber intake. Therefore, alternative foods are needed that are soft in texture, neutral in taste, safe, and nutritious. One potential solution is the development of food products based on tempeh gembus with the addition of banana hearts, which are rich in fiber, soft in texture, and readily available. This study employed an experimental method using a Completely Randomized Design (CRD) to test three formulation variations (F1, F2, F3). The nutritional content of formulation F1 includes energy 111.575 kcal, carbohydrates 20.185 g, protein 6.91 g, fat 0.355 g, and fiber 6.67 g. Formula F2 contains 88.225 kcal of energy, 14.095 g of carbohydrates, 7.72 g of protein, 0.205 g of fat, 7.3 g of fiber, and 0.0015% flavonoids. Formula F3 has 107.015 kcal of energy, 7.995 g of protein, 0.295 g of fat, 6.88 g of fiber, and 0.0021% flavonoids. In conclusion, the best tempeh with added banana hearts is Formula F2, with its nutritional content, fiber, flavonoids, and BAL >10⁸ CFU/g, which has the potential to serve as a functional food and probiotic source to help improve digestive health in the elderly. Further testing is recommended directly on elderly groups, along with product shelf-life testing.

Bachtiar Wijaya; Diana Dwi Kusumasari; Titisari Ambarwati; Sudarmiatin Sudarmiatin; Ruly Wiliandri

Faedah : Jurnal Hasil Kegiatan Pengabdian Masyarakat Indonesia 2026 FKIP, Universitas Palangka Raya

This community service activity aims to increase the business capacity of the wood ear mushroom food MSME through integrated mentoring on business legality and access to financing. The subject of the activity was the Brother Farm MSME in Kediri Regency, which initially ran its business informally without adequate legality and had limited access to formal financing. The method used was a participatory approach with activity stages including: initial observation and problem identification, mentoring in creating a Business Identification Number (NIB), mentoring in understanding halal certification, mentoring in processing Fresh Food of Plant Origin (PSAT) permits, and education on access to financing through the People's Business Credit (KUR) scheme. Data collection techniques were carried out through observation, interviews and documentation, while data analysis used a qualitative descriptive approach by comparing conditions before and after mentoring. The results of the activity showed that the MSME successfully obtained business legality in the form of a Business Identification Number and Fresh Food of Plant Origin permits and experienced an increase in understanding regarding halal product guarantees and access to formal financing. This integrated mentoring had a positive impact on increasing consumer confidence, expanding market opportunities, and business readiness in accessing capital. Thus, this activity is able to encourage business transformation towards a more formal, structured and sustainable condition (SDG 8 and SDG 12) thereby contributing to increasing the competitiveness of food MSMEs.

Amalia Akita; Gunawan, Roni; Daryana, Aditiya Pratama; Herkules Herkules; Pratama, Muchti Yuda

Journal of Educational Innovation and Public Health 2026 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Homemade food is increasingly dominating the choices of consumers who are oriented towards a healthy lifestyle. However, the belief that self-cooking is synonymous with food safety is not always supported by scientific evidence. This Narrative Review aims to build an in-depth thematic synthesis of the various dimensions of food safety risks that arise in the process of preparing healthy homemade food, ranging from biological and chemical contamination, to human behavioral factors as the main agents of contamination. The study was conducted against seven reputable sources of scientific literature published between 2010–2025, including observational, experimental, cross-sectional, and review studies. Four main themes were identified: (1) risky behaviors in the household kitchen as the dominant factor; (2) unexpected cross-contamination pathways including table salt as a vector; (3) chemical and biological contaminants hidden in "healthy" materials; and (4) evidence-based interventions that have been proven to be effective. This review confirms that homemade food safety is a behavioral issue, not just a technical one, so the intervention approach must be multidimensional and sustainable.

Nur Indriyani, Nastiti; Rinaldi, Elma Ertian; Rahma, Dila

jurnal ABDIMAS Indonesia 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Keamanan makanan dan minuman remaja sangat penting untuk kesehatan mereka, terutama mengingat peningkatan konsumsi makanan siap saji dan minuman berpemanis. Ketidaktahuan tentang kandungan gula dan keasaman minuman dapat meningkatkan risiko penyakit apabila dikonsumsi secara berlebihan. Melalui praktikum dan penyuluhan dasar literasi sains, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa tentang makanan dan minuman yang aman untuk dikonsumsi. Di SMK Ma'arif NU 2 Ajibarang, kegiatan dilakukan melalui metode penyuluhan interaktif, demonstrasi, dan praktikum untuk mengidentifikasi gula menggunakan reaksi Fehling dan Benedict serta pengujian pH minuman. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa memahami konsep dasar keamanan pangan; mereka tahu bahwa minuman mengandung gula yang lebih sedikit; dan mereka tahu tingkat keasaman beberapa sampel minuman yang diuji. Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, dan SDG 12 tentang konsumsi yang bertanggung jawab, akan dilaksanakan melalui kegiatan ini. Selain itu, inisiatif ini sejalan dengan program Asta Cita yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan kesehatan dan sains terapan. Kegiatan ini diharapkan akan membantu siswa menjadi lebih cerdas dalam memilih makanan dan minuman yang sehat dan aman untuk dikonsumsi setiap hari.

Sabrina Destiasyavitrie Legawa; Salma Shafrina Aulia

Antigen : Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi 2026 LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Cognitive decline is a common health issue experienced by pre-elderly individuals and can be influenced by dietary patterns and social engagement. This study aims to analyze the relationship between dietary diversity and social engagement with cognitive function in pre-elderly individuals aged 45–59 years in Driyorejo District, Gresik. A cross sectional design was used with a total sample of 70 pre-elderly participants selected through purposive sampling. Data were collected using the Individual Dietary Diversity Score (IDDS) questionnaire for dietary intake, the Index of Social Engagement (ISE) for social involvement, and the Mini Mental State Examination (MMSE) for cognitive function. The results showed that 54,3% of respondents had low dietary diversity, 38,6% had low levels of social engagement, and 35.7% experienced cognitive impairment. The study shows a significant relationship between the diversity of food consumption and social engagement with cognitive function (p <0.05). The more diverse food consumption and the better social involvement, the better the pre -elderly cognitive function.

iswanto, dais

Jurnal Tifa Medika 2026 Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih Jayapura

Household food security and nutrition are crucial determinants of public health, especially in regions with limited access to high-quality animal protein. This study aims to analyze the impact of organic chicken farming and maggot utilization on household food security and family nutrition in Jayapura, Papua. An exploratory case study with a mixed-method approach was used, involving observation, in-depth interviews, and documentation. The findings revealed that maggot-based feed significantly improved chicken growth, health, and egg production while reducing feed costs. Families experienced improved protein intake, reduced food expenditure, and additional income from the sale of eggs, maggots, and compost. Furthermore, the integration of maggot farming into organic poultry systems supported waste management and environmental sustainability through a circular economy model. This research implies that maggot-based organic farming can be replicated as a sustainable community food security strategy in similar regions across Papua and Indonesia.

Herni Purwantari

Jurnal Teknologi Pangan dan Ilmu Pertanian 2026 International Forum of Researchers and Lecturers

Pumpkin seeds (Cucurbita spp.) are a byproduct of pumpkin that has great potential to be developed as a functional food ingredient due to their high nutritional content and bioactive compounds. This article aims to examine the valorization (utilization) of pumpkin seeds in various food products and their potential as a functional food. The method used was a narrative literature review through a search of the Google Scholar, ScienceDirect, PubMed, and MDPI databases for the period 2016–2026. The results of the study indicate that pumpkin seeds have been applied in various food products such as cookies, crackers, bread, biscuits, cakes, muffins, and snack bars. The addition of pumpkin seeds generally increases the content of protein, fiber, unsaturated fatty acids, minerals, and bioactive compounds that contribute to antioxidant activity. However, increasing the proportion of pumpkin seeds also affects the physical and sensory characteristics of the product, such as darker color, decreased volume, and changes in texture due to reduced gluten content in the dough. Therefore, formulation optimization is needed to achieve a balance between increasing nutritional value and consumer acceptance. Overall, pumpkin seeds have the potential to be used as an ingredient in the development of functional foods.

Derta Nur Anita; Ni Kadek Intan Rospita Yanti; Nanda Putri Aminati; Fatimah Azzahra; Ade Liya Retno Wulandari +21 more

Jurnal Hasil Kegiatan Bersama Masyarakat 2026 Asosiasi Riset Ekonomi dan Akuntansi Indonesia

The high dependence of national food on imported commodities, especially wheat, creates vulnerabilities in the aspect of National Food Security. This study examines the position and role of Modified Cassava Flour (Mocaf) Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in Padi Village as a pillar of local food diversification and its implications from the perspective of Constitutional Law (HTN) on the internal sector (community, MSMEs, and Village Government). Mocaf, as a gluten-free cassava derivative product, has the potential to be a substitute for wheat flour. The research method used is Empirical Normative Law with a conceptual and legislative approach, reinforced by primary data regarding the operational model of MSMEs in Padi Village. The results of the study indicate that Mocaf MSMEs at the village level act as strategic legal subjects in realizing Article 33 paragraph (3) of the 1945 Constitution (UUD 1945) and Law Number 18 of 2012 concerning Food. The implications of HTN are seen in the need for regulatory harmonization and strengthening village autonomy through budget policies and assistance that ensure the sustainability of production and marketing. The position of MSMEs demands stronger recognition of the internal role of villages in the national food governance structure.

Mohamamd Makbul; Awan Dharmawan; Muhaimin

Journal of Law and Administrative Science (JLAS) 2026 Universitas Teknologi Surabaya

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam upaya pemenuhan gizi masyarakat yang dilaksanakan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penyedia layanan pangan. Dalam implementasinya, setiap SPPG diwajibkan memiliki sejumlah legalitas keamanan pangan, seperti Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), dan Sertifikat Halal guna menjamin mutu serta keamanan produk makanan yang didistribusikan kepada penerima manfaat. Namun demikian, masih ditemukan SPPG yang belum memenuhi persyaratan sertifikasi tersebut tetapi telah beroperasi dan ditetapkan sebagai penyedia layanan dalam Program MBG. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk inkonsistensi regulasi dalam sertifikasi keamanan pangan pada SPPG serta mengkaji dampaknya terhadap implementasi Program MBG. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka. Data penelitian diperoleh melalui studi dokumentasi terkait implementasi sertifikasi keamanan pangan pada SPPG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inkonsistensi regulasi terjadi akibat disharmoni kebijakan antar institusi, perbedaan standar operasional sertifikasi, lemahnya mekanisme validasi dan audit oleh Badan Gizi Nasional (BGN), serta seringnya pelanggaran administratif dan rendahnya penerapan sanksi. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya jaminan kualitas dan keamanan pangan, ketidakpastian standar kandungan gizi produk makanan, serta potensi kerugian bagi penerima manfaat, khususnya siswa, ibu menyusui, dan lansia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa harmonisasi regulasi, standardisasi mekanisme sertifikasi, serta penguatan koordinasi dan konsistensi penerapan sanksi merupakan faktor penting dalam meningkatkan efektivitas sertifikasi keamanan pangan pada SPPG guna mendukung keberhasilan implementasi Program MBG secara berkelanjutan.

Nur’Aini, Latifah; Nugroho, Sigit Sapto; Pradhana, Angga Pramodya

DINAMIKA HUKUM 2026 Universitas Stikubank

This study aims to analyze the implementation of the Sustainable Food Crop Land (LP2B) management policy in Madiun Regency based on Regional Regulation Number 3 of 2020 and identify factors inhibiting its implementation, as well as formulate alternative solutions to strengthen the policy in supporting agricultural land sustainability and regional food security. This study uses an empirical legal method (empirical juridical) with a qualitative descriptive approach. Primary data were obtained through in-depth interviews with the Department of Agriculture, and farmers, as well as field observations, while secondary data were obtained through a study of laws and regulations and policy documents. The analysis was conducted by examining aspects of communication, resources, disposition, and bureaucratic structure in policy implementation, using triangulation techniques to ensure data validity. The results show that LP2B implementation is not optimal. The main obstacles include farmers' low understanding of legal provisions, limited human resources and budget, weak cross-sectoral coordination, and economic pressures and high land sales prices. In addition, the national target of fulfilling 87% of Raw Paddy Land adds to the complexity of implementation at the regional level. Strengthening implementation requires improving legal communication, strengthening institutional capacity, synchronizing policies with spatial planning, and a participatory approach that actively involves farmers.

Hilizza Awalina Zulfa; Ekawati Rini Wulansari; Luluk Hermawati; Nur Bebi Ulfah Irawati

Jurnal Pengabdian dan Pembangunan Lokal 2026 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Abstract. Nutritional problems and low levels of healthy food literacy remain significant challenges in rural communities. The utilization of functional foods derived from locally available ingredients represents a strategic approach to improving community health quality. This community engagement program aimed to enhance the knowledge and skills of residents—particularly housewives and adolescents—through education and hands-on training in the production of banana–sappan wood yogurt as a nutrient-dense functional food alternative. The program was conducted on January 10, 2026, in Pabuaran Village, Serang Regency, using an educational and participatory approach. Activities included the delivery of educational materials on functional foods and the health benefits of probiotics, as well as a practical demonstration of yogurt preparation. Program evaluation was carried out through observation of participant engagement and interactive discussions. The results indicated that participants were able to successfully follow all stages of yogurt production and demonstrated high enthusiasm for the use of local ingredients as healthy food alternatives. The resulting product exhibited acceptable sensory characteristics and an appealing appearance. This activity contributed to improved nutritional literacy and food processing skills and demonstrated potential to support household-level food self-reliance.