Publication Search

79,575 articles from 739 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 480

Analytics

Risti Puspita Sari Hunowu; Hunowu, Risti Puspita Sari; Siska Udilawaty; Hinta, Mohammad Rizki Putra

JURNAL ILMIAH KOMPUTER GRAFIS 2026 UNIVERSITAS STEKOM

Studi ini menganalisis elemen desain dan semiotika visual konten Instagram pada akun @disparekrafpora_gorontaloprov milik Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Gorontalo sebagai media komunikasi visual dalam membangun identitas pariwisata daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode semiotika Roland Barthes pada tiga tingkat makna: denotasi, konotasi, dan mitos. Objek penelitian adalah konten visual pada akun Instagram dengan 1.989 unggahan dan 5.643 pengikut per Mei 2026, yang dipilih secara purposif berdasarkan kategori foto destinasi alam, infografis promosi, dan konten budaya/agama. Analisis berfokus pada elemen desain termasuk tipografi, warna, tata letak, dan fotografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten secara konsisten menggunakan palet warna hijau-putih yang mewakili alam Gorontalo, tipografi sans-serif yang berani yang memproyeksikan modernitas, dan fotografi destinasi (pantai, air terjun, hiu paus, Masjid Baiturrahim) yang membentuk narasi mitologis Gorontalo sebagai surga tersembunyi dan 'Serambi Madinah' Sulawesi. Elemen-elemen desain ini bekerja secara sinergis untuk membangun identitas pariwisata Gorontalo di ruang digital.

Arisyana, Dwi Jaya

JURNAL ILMIAH KOMPUTER GRAFIS 2026 UNIVERSITAS STEKOM

Perkembangan komik digital di Indonesia telah mendorong transformasi mitologi Indonesia ke dalam bentuk visual kontemporer. Salah satu representasi tersebut adalah karakter Roro Kidul dalam komik digital Nusantara Droid War, yang menampilkan tokoh mitologi Jawa dalam setting futuristik. Studi ini bertujuan untuk menganalisis representasi visual Roro Kidul menggunakan Teori Bahasa Visual. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, menggunakan teknik observasi visual, dokumentasi panel komik, dan tinjauan pustaka. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi isi wimba (komik tradisional Indonesia), metode wimba (komik tradisional Indonesia), dan bentuk ekspresi internal dan eksternal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter Roro Kidul direpresentasikan melalui elemen visual seperti pakaian yang didominasi warna hijau, ornamen emas, gerak tubuh yang tenang, dan manifestasi naga putih dan hitam sebagai simbol kekuatan ganda. Penerapan skala, perspektif, dan komposisi panel memperkuat hierarki visual dan posisi karakter sebagai tokoh utama. Bentuk ekspresi internal dan eksternal membangun kesinambungan makna dan menekankan otoritas simbolik karakter. Studi ini menunjukkan bahwa komik digital dapat menjadi media komunikasi budaya yang efektif dalam mentransformasikan mitologi Indonesia tanpa menghilangkan struktur makna budayanya, dan menekankan relevansi Teori Bahasa Visual dalam analisis visual media populer.

Nisrina Shani Aziza; Dewi Suprihatin; Slamet Triyadi

Bhinneka: Jurnal Bintang Pendidikan dan Bahasa 2026 Universitas Palan

This study aims to describe the types of meaning contained in the short story collection Ihwal Nama Majid Pucuk through a semantic study and to produce a recommendation for handout teaching material in learning short story texts for grade XI of senior high school. This research employs a qualitative approach with a descriptive method and a text-analysis model, while the data consist of word, phrase, and sentence quotations collected through documentation techniques. The main theory used is Abdul Chaer's theory of meaning, supported by Geoffrey Leech's theory of associative meaning, with data analysis following the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that the three analyzed short stories contain eight types of meaning, namely lexical and grammatical meaning, referential and nonreferential meaning, denotative and connotative meaning, word and term meaning, conceptual and associative meaning, idiomatic meaning, figurative meaning, as well as locutionary, illocutionary, and perlocutionary meaning. Lexical and grammatical meanings dominate the findings, while proverbial meaning is not found in the data source. The diversity of these meanings confirms that this short story collection is suitable to be used as handout teaching material for short story texts in grade XI of senior high school. Abstrak. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis-jenis makna yang terkandung dalam kumpulan cerita pendek Ihwal Nama Majid Pucuk melalui kajian semantik sekaligus menghasilkan rekomendasi bahan ajar handout pada pembelajaran teks cerpen kelas XI SMA. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan model analisis teks, sedangkan data berupa kutipan kata, frasa, dan kalimat yang dikumpulkan melalui teknik dokumentasi. Teori utama yang digunakan adalah teori makna Abdul Chaer dan teori pendukung makna asosiatif Geoffrey Leech, dengan analisis data mengikuti tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam ketiga cerpen yang dianalisis ditemukan delapan jenis makna, yaitu makna leksikal dan gramatikal, makna referensial dan nonreferensial, makna denotatif dan konotatif, makna kata dan istilah, makna konseptual dan asosiatif, makna idiomatikal, makna kias, serta makna lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Makna leksikal dan gramatikal mendominasi temuan, sementara makna peribahasa tidak ditemukan dalam sumber data. Keberagaman makna tersebut menegaskan bahwa kumpulan cerpen ini layak dijadikan bahan ajar handout teks cerpen kelas XI SMA.

Afifah Indriastuti; Eka Yuli Astuti; Widodo Widodo

JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA 2026 CV. ALIM'SPUBLISHING

  Abstract.. The development of modernization in corn farming in Kalibareng Village, Patean District, Kendal Regency has the potential to cause the loss of traditional terms used by the farming community. This study aims to describe and analyze the lexicon of corn farming in Kalibareng Village, Patean District, Kendal Regency, and to reveal the lexical and contextual meaning contained therein. This study uses a descriptive qualitative approach with  field research and semantic studies as the main approach. Data were obtained through participatory observation, in-depth interviews, and documentation of corn farmers in Kalibareng Village. The results show that there are 44 lexicons divided into three categories, namely cultivation processes, agricultural tools, and agricultural materials. The lexical meaning in the lexicon refers to the basic meaning according to its referent, while the contextual meaning is influenced by the situation of use in agricultural activities. The contextual meanings found include process context, time context, and function context. This study shows that the corn farming lexicon not only functions as a communication tool, but also represents local knowledge, culture, and farming experiences of the Kalibareng Village community that have been passed down from generation to generation.

Rizqi Akbar Kurniawan; Heru Kuswanto; Tahegga Primananda Alfath

Jurnal Akta Notaris 2026 Program Studi Kenotariatan Program Magister

Jaminan sendiri memiliki makna yaitu menjamin agar dipenuhinya kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul akibat adanya perikatan hukum. Hukum jaminan berkaitan erat dalam hubungannya dengan hukum benda-benda. Dalam Pasal 87 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 122 tahun 2023 disebutkan bahwa “lembaga jasa keuangan sebagai kreditor dapat membeli agunanya dalam pelaksanaan lelang sepanjang diatur dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan”. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif dengan pendekatan konseptual, Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa seyogyanya setiap orang atau badan hukum selain Lembaga Jasa Keuangan bisa melakukan pembelian jaminanya yang diterimanya karena semua orang mempunyai hak dan kedudukan yang sama dimata hukum, sehingga peserta lelang tidak hanya Lembaga jasa keuangan tetapi bisa semua orang yang dapat melakukan pembelian jaminan terhadap jaminan yang dijadikan objek dalam perjanjian dan dinyatakan jelas dalam perjanjian accessoir merupakan perjanjian tambahan terhadap perjanjian pokoknya yang dapat dilaksanakan dengan mekanisme lelang dimuka umum melalui pejabat lelang.

Victor Verry Kalare

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2026 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

This article aims to explain the theological meaning and implications of the word "worship" (προσκυνέω/proskuneō) in Matthew 2:2 in the context of the birth of Jesus Christ, and its relevance to the worship practices of the church today. This study uses a qualitative method with a contextual-historical analysis approach to the biblical text, supported by a review of theological literature related to worship in the Christian tradition. The results of the study indicate that proskuneō does not only refer to an act of reverence, but also contains the meaning of acknowledgment of divine authority, an attitude of humility, and a deep spiritual commitment. In the context of Matthew 2:2, the actions of the Magi represent theological, relational, and transformative worship. These findings confirm that true worship involves acknowledging God's sovereignty, a readiness for sacrifice, and an openness to renewal of life. The practical implication for the church today is the need to enrich the understanding and practice of worship that goes beyond the liturgy, but is manifested in personal intimacy with God, acts of social benevolence, and service that reflects a God-fearing life. This article contributes to a biblical understanding of worship and its application in the context of the believer's spiritual life.

Defnaldi; Siti Marfu’ah

Ulumul Quran merupakan salah satu cabang ilmu dalam studi Islam yang membahas segala sesuatu tentang Al-Qur’an, mulai dari proses turunnya wahyu, penulisan, pembacaan, penafsiran, hingga kandungan hukum yang terdapat di dalamnya. Kajian Ulumul Quran sangat penting karena membantu umat Islam memahami Al-Qur’an secara benar dan mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengertian Ulumul Quran, ruang lingkup kajiannya, serta peranannya dalam memahami kandungan Al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi pustaka dengan mengkaji berbagai sumber literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ulumul Quran memiliki kontribusi besar dalam membantu umat Islam memahami makna dan tujuan ayat-ayat Al-Qur’an secara tepat sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

pegi idha amarela; Sri astutik; timotius budi irawan

TAWAZUN: Journal of Islamic Finance and Digital Innovation 2026 Asosiasi Program Doktor Ekonomi Syariah Indonesia

Artikel ini membahas filsafat eksistensialisme dalam konteks dunia modern, dengan fokus pada tantangan yang dihadapi oleh individu dalam pencarian makna hidup di tengah kemajuan teknologi, perubahan sosial, dan kompleksitas kehidupan kontemporer. Filsafat eksistensialisme, yang berakar pada pemikiran tokoh seperti Søren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre, menekankan pentingnya kebebasan, tanggung jawab pribadi, dan pencarian makna yang autentik. Dalam artikel ini, eksistensialisme dianalisis dalam kaitannya dengan dinamika sosial dan budaya modern, serta relevansinya dalam membantu individu mengatasi masalah seperti kecemasan eksistensial, alienasi, dan pencarian identitas dalam masyarakat yang cepat berubah. Diharapkan bahwa pemahaman yang lebih dalam tentang eksistensialisme dapat memberikan wawasan tentang cara-cara individu dapat menemukan makna dalam kehidupan mereka di dunia yang serba cepat dan serba digital.

Djaga, Chrisnasius

REDOMINATE : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani 2026 Sekolah Tinggi Teologia Kerusso Indonesia

Abstrak. Khotbah merupakan praktik yang sangat penting dalam kehidupan liturgis gereja karena memiliki peran strategis dalam menyampaikan berita keselamatan kepada jemaat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bahwa penyampaian firman Tuhan tidak hanya berfungsi sebagai bentuk komunikasi religius, tetapi juga sebagai proses konstruksi pengetahuan yang melibatkan interaksi antara teks Alkitab, pengkhotbah sebagai penafsir, dan jemaat sebagai penerima sekaligus penafsir makna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada analisis konseptual khotbah dalam perspektif filosofis dan epistemologis, sehingga data diperoleh melalui kajian terhadap berbagai sumber literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa khotbah tidak dapat dipahami semata-mata sebagai praktik liturgis atau penyampaian pesan keagamaan. Khotbah pada dasarnya merupakan sebuah diskursus filosofis yang memuat dimensi epistemologis, di mana proses pewartaan firman Tuhan sekaligus menjadi proses pembentukan, pengolahan, dan transmisi pengetahuan iman.

Andika Dwi Eranggani; Dewi Mentari

The development of artificial intelligence (AI) has fundamentally transformed digital marketing communication, while emerging as a strategic instrument in public relations practices of global corporations. This study aims to examine the construction of meaning around artificial intelligence as a financial solution within the cultural context of Lebaran, while analyzing the PR communication strategy employed by Google Indonesia in building persuasive messages for its public on digital platforms. The research object is a video advertisement posted on the official Instagram account @googleindonesia on March 7, 2025, promoting the Gemini Canvas feature for managing Tunjangan Hari Raya (THR) budgets. This study employs a descriptive qualitative approach with an interpretive paradigm, integrating two complementary analytical perspectives: first, Roland Barthes three-level semiotic analysis — denotation, connotation, and myth — to deconstruct meaning constructed through visual, verbal, and auditory signs in the advertisement; second, the PR communication strategy framework from Smith (2021) to identify how the choices of mascot, emotional message, and cultural appeal represent strategically planned communication decisions by Google Indonesia. The findings reveal that Google Indonesia constructs Gemini Canvas as an empathetic and culturally aware entity through three key elements: anthropomorphic symbolism in the form of a bespectacled cat functioning as brand mascot, local cultural markers of ketupat and THR, and Arabic-nuanced music that aurally reinforces the Lebaran atmosphere — all representing deliberate strategic PR decisions. From Smith’s (2021) perspective, the advertisement applies a proactive communication strategy combining negative emotional appeal — financial anxiety ahead of THR — immediately followed by positive emotional appeal as a concrete solution through Gemini Canvas, representing a structured form of public perception shaping. At the myth level, the advertisement normalizes reliance on digital platforms through systematic cultural localization. This study contributes to understanding AI-based digital marketing communication strategies and the shaping of public perception on AI technology by global corporations in the Indonesian market.  

Misye Waliana; Elka Anakotta

Culture and traditions in Southwest Maluku contain a wealth of local wisdom that serves as a social glue, one of which is reflected in the use of the greeting Kalwedo. This greeting is not just a mere pleasantry, but has a very strong meaning in presenting the values ​​of brotherhood and local wisdom of the people of Southwest Maluku. This study shows several things, including, this study aims to interpret the antagonistic meaning of the greeting Kalwedo as a symbol of brotherhood by using the hermeneutic approach of Hans-Georg Gadamer. The research method used is qualitative descriptive-analysis. Data analysis was carried out through three hermeneutic movements, namely phenomenology, reconstruction, and dialogue. The results of the study show that Kalwedo contains the meaning of "we are together" or "we are one" which means emphasizing the unity of existence between the greeter and the greeted. Based on Gadamer's perspective, this meaning is formed from the fusion of horizons, namely between the past and the present, where the tradition will remain alive and meaningful in the contemporary context. The Kalwedo greeting serves as a medium for erasing barriers of difference, strengthening bonds of brotherhood, and building awareness of an inclusive collective identity. In conclusion, Kalwedo is a manifestation of wirkungsgeschichte (influential history) that continuously shapes and maintains social harmony amidst the dynamics of community life in Southwest Maluku.

Lay, Sergius; Waruwu, Clara Cici Ceriawati; Sihite, Dominkus Wardoyo; Baeha, Widia; Waruwu, Elvin Paska Juang +2 more

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2026 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Penelitian ini mengkaji makna kematian dan kehidupan kekal dalam iman Katolik berdasarkan perspektif teologi eskatologi dan Kristologi sesuai dengan ajaran dogma Gereja Katolik. Tujuan penelitian adalah menjelaskan pemahaman kematian menurut ajaran resmi Gereja Katolik, sebagaimana tertuang dalam Katekismus Gereja Katolik, dokumen Konsili Vatikan II, dan ensiklik kepausan, serta relevansinya bagi kehidupan pastoral umat pada masa kini. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka yang bersifat teologis-normatif dengan sumber utama Kitab Suci, dokumen Magisterium, dan literatur teologi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam iman Katolik, kematian dipahami sebagai peralihan menuju kehidupan kekal bersama Allah, bukan akhir dari eksistensi manusia. Wafat dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi fondasi dogmatis harapan keselamatan umat beriman. Ajaran tentang pengadilan khusus, api penyucian, surga, dan neraka merupakan bagian integral dari iman Katolik yang memiliki implikasi pastoral yang kuat: memberikan penguatan iman, harapan, dan penghiburan bagi umat dalam menghadapi penderitaan dan kematian. Simpulan penelitian menegaskan bahwa pemahaman teologis yang benar tentang kematian dan kehidupan kekal perlu terus diwartakan agar umat mampu menghayati hidup dalam iman, harapan, dan kasih.

Arfa Aulia Parinduri; Florentina Verena; Nadya Putri Ramadhani; Yupita Aswaliyah; Ida Basaria

Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Budaya 2026 Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

This study examines the cultural meanings contained in student protest slogans during the October 2025 demonstrations using an anthropolinguistic approach. Language in protest slogans functions not only as a communication tool but also as a cultural representation reflecting social values, ideology, collective identity, and social practices. The purpose of this study is to reveal the cultural meanings embedded in student protest slogans and explain how these meanings are constructed through linguistic choices. This research employs a descriptive qualitative method with observation, note-taking, documentation, and brief interviews with participants as data collection techniques. The data were analyzed using distributional methods by identifying linguistic elements such as metaphors, irony, lexical choices, and sentence structures, then relating them to socio-cultural contexts. The findings show that protest slogans represent values of social solidarity, nationalism, social justice, transparency, criticism of power, gender equality, and resistance to state repression. In addition, slogans construct collective identities between citizens, government, and authorities, while carrying strong socio-political ideologies. These findings confirm that protest slogans are complex cultural practices and reflect students’ collective awareness in responding to social dynamics.

Mey Pasampe; Esrawati Ka’bi Sumussang; Arya Salo Pongtinggi

Damai : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Filsafat 2026 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

The fleeting nature of human life constitutes a key theme in theological reflections within the Old Testament, particularly in the Book of Psalms in the Alkitab, which highlights human limitations and the inherent uncertainty of existence. Psalm 39:6–7 depicts human life as a transient shadow and emphasizes the futility of human efforts if they are not oriented toward God. This study seeks to explore the meaning of human transience in this passage and assess its theological significance for contemporary life. A qualitative approach with biblical hermeneutics is employed, considering historical, literary, and theological dimensions. The analysis indicates that the metaphor of the “shadow” illustrates human fragility, while the depiction of life’s futility critiques the human tendency to find purpose solely in worldly endeavors. Despite this, Psalm 39 ultimately directs readers toward hope in God, portraying Him as the ultimate source of true meaning. In a modern, materialistic context, this message continues to be relevant as a reminder of human dependency on God and the limitations of human life. Therefore, the transience of life does not signify the end of existential purpose but rather opens the way to deeper spiritual insight and the strengthening of faith.

Lingga Wulandari

Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Budaya 2026 Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

This study examines the lexical and grammatical meanings of news headlines from the November 2025 edition of detik.com, posted on Instagram. The shift from a news site to a social media platform often necessitates adjustments to headlines, which can lead to shifts in meaning. To collect relevant headlines, this study employed a qualitative descriptive method with a listening and note-taking technique. The analysis shows that lexical meaning in headlines is evident through the use of words with basic dictionary meanings, such as names of people, places, objects, and actions. Grammatical meaning is discovered through affixation and reduplication, which can change or add to the meaning of basic words according to the context. These two types of meaning play a crucial role in creating concise, clear headlines that are appropriate for the way news is presented on Instagram. This study concludes that the formation of meaning in headlines on detik.com is influenced by a combination of lexical and grammatical meanings tailored to the communication needs of social media platforms.

Tjang, Yanto Sandy; Laurentius Prasetyo

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2026 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

The expression “I am” (egō eimi) constitutes one of the most distinctive and theologically significant elements in the Gospel of John and plays a central role in the revelation of Jesus’ identity. Far from functioning merely as a linguistic marker of self-identification, this expression serves as a medium of self-revelation through which Jesus discloses His relationship with God and the salvific meaning of His mission for humanity. This study aims to examine the theological significance of the “I am” sayings in the Gospel of John by exploring their biblical context, their roots in Old Testament tradition, and their christological and soteriological implications. Employing a qualitative approach through library research, this study applies an exegetical–theological method to the Johannine text, supported by relevant biblical-theological and exegetical literature. The findings indicate that the “I am” sayings with predicates portray Jesus’ role in the work of salvation through symbolic and relational language, while the absolute (without predicate) “I am” sayings explicitly affirm Jesus’ divine identity by echoing the revelation of the divine name in the Old Testament tradition. Consequently, the Gospel of John presents a high-level Christology that situates Jesus as the center of divine revelation and the source of salvation. This study affirms that the “I am” sayings carry not only doctrinal significance but also existential implications, inviting a response of faith and a lived relationship with Christ in the contemporary life of believers.

Fikri, Humaidi; Muchlis, Muchlis; Fikri, Humaidi; Muchlis, Muchlis

JUISI : Jurnal Ilmiah Sistem Informasi 2026 LPPM Universitas Sains dan Teknologi Komputer

Pengembangan dashboard kesehatan berbasis digital semakin banyak dikembangkan sebagai sarana untuk mendukung gaya hidup sehat melalui pemanfaatan data dan teknologi Artificial Intelligence (AI). Namun, sebagian besar dashboard yang ada terlalu berfokus pada grafik visualisasi dan tidak memberikan insight kepada pengguna, sehingga pengguna sering kali kesulitan memahami makna dari grafik visualisasi yang ada di dashboard serta pengguna tidak tahu langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dashboard kesehatan berbasis AI untuk pengambilan sebuah keputusan dengan mengintegrasikan hasil prediksi model Machine Learning (ML) dan kemampuan interpretasi Large Language Model (LLM). Data sintetis digunakan untuk merepresetasikan data kesehatan harian seorang pengguna, seperti tren indeks massa tubuh, asupan kalori, asupan nutrisi, durasi tidur dan tingkat stres. Model regresi dipilih untuk mengidentifikasi pola, tren, dan kondisi kesehatan pengguna berdasarkan data tersebut. Hasil prediksi dari model ML bisa menjadi sebuah sinyal awal untuk pengguna, namun dalam penelitian ini model ML diintegrasikan ke dalam model LLM untuk dilakukan interpretasi berbasis konteks. Model LLM kemudian mengeluarkan penjelasan dan insight kesehatan yang bersifat deskriptif dan preskriptif sehingga lebih mudah dipahami dan ditindaklanjuti oleh pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi model ML dan model LLM mampu meningkatkan fungsi dashboard dari sekadar alat visualisasi grafik menjadi sistem pengambilan keputusan. Meskipun penelitian ini masih menggunakan data sintetis, metode yang digunakan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut dengan menggunakan data kesehatan yang nyata.

Kristiawan, Ragil

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan menganalisis gema intertekstual antara Lukas 1:49 dan Kejadian 17:1, khususnya melalui penggunaan gelar ὁ δυνατός (ho dynatos) yang mengacu pada El-Shaddai. Kajian ini berargumen bahwa kemunculan kembali gelar ini bukanlah kebetulan, melainkan strategi teologis Lukas yang disengaja untuk menghubungkan kehamilan supranatural Maria dengan janji keturunan Abraham. Metode yang digunakan adalah analisis tekstual-kritikal, historis-semantik, dan intertekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gema ini beroperasi pada tiga tingkat: (1) menegaskan kontinuitas identitas Allah yang setia pada perjanjian-Nya; (2) membangun paralel naratif yang ketat antara kelahiran Ishak dan Yesus; serta (3) mentransformasikan makna Inkarnasi sebagai penggenapan definitif janji El-Shaddai. Implikasi teologisnya adalah bahwa Yesus dipahami sebagai keturunan yang dijanjikan, dan kelahiran-Nya menandai dimulainya era baru umat perjanjian yang universal. Dengan demikian, Lukas 1:49 berfungsi sebagai kunci hermeneutis yang menghubungkan misi Yesus secara tak terpisahkan dengan rencana keselamatan Allah sejak perjanjian dengan Abraham.

Maulana, Habibi; Fitriyanti, Hilda; Indriyany, Ika Arinia

Synergy: Journal of Collaborative Sciences 2026 Yayasan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana iklan kosmetik mereproduksi makna kecantikan melalui praktik hegemoni yang menempatkan kulit putih sebagai standar kecantikan ideal. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus menurut John W. Creswell untuk memahami fenomena representasi kecantikan dalam konten iklan kosmetik whitening di TikTok. Data dikumpulkan melalui kajian literatur dari jurnal, buku, artikel ilmiah, dan dokumen yang relevan, kemudian diklasifikasikan berdasarkan prinsip bukti multisumber, dokumen studi kasus, dan rantai bukti. Analisis dilakukan melalui tahap analisis, deskripsi, dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan kosmetik whitening secara konsisten menampilkan perempuan berkulit cerah, wajah bersih, dan tampilan glowing sebagai citra kecantikan ideal. Narasi promosi seperti “kulit lebih cerah” dan “lebih percaya diri” memperkuat hubungan antara warna kulit dan nilai sosial perempuan. Pengulangan visual tersebut diperkuat algoritma media sosial sehingga menormalisasi standar kecantikan tertentu. Respons audiens dalam kolom komentar menunjukkan internalisasi makna tersebut melalui keinginan memiliki kulit putih, rasa iri, dan kecenderungan membandingkan diri dengan figur dalam konten. Dengan demikian, iklan kosmetik berfungsi bukan hanya sebagai strategi pemasaran, tetapi juga sebagai sarana reproduksi makna kecantikan secara hegemonik.

Michelle Angelika S; Wijaya, Hanna; Gosal, Darren; Afladhanti, Putri Mahirah; Kartika, Ronald Winardi +2 more

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora 2026 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Emergency medical care constitutes a fundamental patient right and an institutional obligation of hospitals that must be provided without temporal discrimination. However, in practice and public discourse, the meaning of “physician presence” is often narrowly reduced to physical presence alone, giving rise to allegations of medical negligence, particularly during weekends or outside regular working hours. This distorted understanding risks generating legal injustice, undermining the dignity of the medical profession, and encouraging defensive medical practice. This article aims to analyze the meaning of physician presence from a health law perspective through theoretical, normative, and systemic approaches, by distinguishing models of physician presence as on-site, on-call, and home-call/teleconsultation in emergency care services. This study employs a normative legal research method using statutory, conceptual, and limited comparative approaches. The analysis examines Law Number 17 of 2023 on Health, Government Regulation Number 28 of 2024, as well as health law literature and emergency care practices. The analysis demonstrates that, in legal terms, physician presence is not synonymous with physical presence, but rather should be understood as process-based professional responsibility, provided that care is delivered in accordance with professional standards, service standards, and an adequate triage system. Physician presence must be reconstructed as the presence of professional responsibility within an integrated emergency care system. Legal assessment in health law should be grounded in process and system integrity, rather than solely on clinical outcomes or public perception.