Publication Search

76,969 articles from 728 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 250

Analytics

Laras Eka Nur Hasanah; Fadean Stefany; Dwi Intan Pakuwita AR

Jurnal Sains dan Kesehatan (JUSIKA) 2026 Universitas Muhamadiyah Manado

This study aimed to examine the association between physical activity and nutritional status as risk factors for noncommunicable diseases among women of reproductive age. A descriptive quantitative study with a cross-sectional approach was conducted in Kranggan Village involving 35 respondents selected through purposive sampling. Data on physical activity were collected using questionnaires, while nutritional status was assessed based on Body Mass Index (BMI). The findings showed that most respondents had moderate physical activity levels (51.4%), followed by low physical activity levels (42.8%). Regarding nutritional status, the majority of respondents were classified as overweight (51.4%) and obese (28.6%). Statistical analysis demonstrated a significant relationship between physical activity and nutritional status (p = 0.003). The results indicate that inadequate physical activity is associated with increased nutritional status problems, particularly overweight conditions. Therefore, low physical activity and excessive body weight represent interconnected risk factors contributing to the development of noncommunicable diseases among women of reproductive age. This study highlights the importance of promoting regular physical activity and maintaining balanced nutritional status as preventive strategies to reduce the risk of noncommunicable illnesses.

Arifqi, Hasmil; Lanita, usi; Kasyani; Sari, Puspita

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan status gizi anak sekolah dasar melalui penyediaan makanan sehat dan bergizi. Namun, keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan makanan, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku konsumsi siswa. Perilaku konsumsi makanan pada anak sekolah dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengetahuan gizi, pengaruh teman sebaya, peran guru, rasa makanan, dan kebiasaan makan di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada siswa Sekolah Dasar Negeri 66 Kota Jambi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas IV dan V SDN 66 Kota Jambi sebanyak 231 siswa. Sampel penelitian berjumlah 96 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki pengetahuan gizi yang baik. Analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi (p=0,868) dan pengaruh teman sebaya (p=0,229) dengan perilaku konsumsi MBG. Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara peran guru (p=0,005), rasa makanan (p=0,045), dan kebiasaan makan di rumah (p=0,005) dengan perilaku konsumsi MBG. Faktor yang paling memengaruhi perilaku konsumsi siswa adalah rasa makanan dan dukungan lingkungan sekitar

Mahardany, Beauty Octavia; Supriadi, Rizky Febriyanti; Amin, Erna

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Pertumbuhan anak usia 24–59 bulan merupakan periode penting yang dipengaruhi oleh kecukupan asupan zat gizi, salah satunya protein. Kekurangan protein dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan linier berupa stunting yang berdampak terhadap kualitas tumbuh kembang anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan protein dengan status pertumbuhan anak usia 24–59 bulan. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Bambu Kabupaten Mamuju. Sampel penelitian berjumlah 30 anak usia 24–59 bulan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data asupan protein diperoleh melalui food record, sedangkan status pertumbuhan diukur menggunakan indikator antropometri berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Analisis data menggunakan uji Spearman’s Rho dan Fisher’s Exact dengan tingkat kemaknaan ?=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70% anak mengalami stunting berdasarkan indikator TB/U, terdiri dari kategori stunted sebesar 50% dan severely stunted sebesar 20%. Terdapat hubungan antara asupan protein dengan BB/U (p=0,05; r=0,593) dan TB/U (p=0,000; r=0,601), sedangkan tidak terdapat hubungan antara asupan protein dengan BB/TB (p=1,000; r=0,023). Kesimpulan penelitian ini adalah asupan protein berhubungan dengan status pertumbuhan anak terutama pada indikator TB/U. Pemenuhan protein yang cukup dan berkualitas, terutama protein hewani, perlu menjadi perhatian dalam upaya mendukung pertumbuhan dan mencegah gangguan pertumbuhan pada balita

Susanti, Susan; Badi’ah, Atik; Dedi, Blacius

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Latar Belakang: Kekurangan Energi KRONIS (KEK) pada ibu hamil masih menjadi masalah gizi yang berdampak terhadap kesehatan ibu dan janin. KEK meningkatkan risiko terjadinya komplikasi kehamilan, persalinan, serta bayi berat lahir rendah. Data di wilayah kerja Puskesmas Bojonggambir menunjukkan masih tingginya jumlah ibu hamil dengan KEK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian KEK pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh ibu hamil yang tercatat di wilayah kerja Puskesmas Bojonggambir, dengan sampel sebanyak 82 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Variabel independen meliputi usia, pendidikan, pengetahuan, paritas, dan pola konsumsi, sedangkan variabel dependen adalah kejadian KEK yang diukur menggunakan Lingkar Lengan Atas (LILA). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara usia, pendidikan, pengetahuan, paritas, dan pola konsumsi dengan kejadian KEK pada ibu hamil. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan KEK adalah pola konsumsi. Ibu hamil dengan pola konsumsi yang kurang baik memiliki risiko lebih tinggi mengalami KEK dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola konsumsi baik. Simpulan: Penelitian ini adalah kejadian KEK pada ibu hamil dipengaruhi oleh faktor usia, pendidikan, pengetahuan, paritas, dan pola konsumsi, dengan pola konsumsi sebagai faktor dominan. Diperlukan upaya promotif dan preventif melalui edukasi gizi dan pemantauan status gizi secara rutin untuk menurunkan kejadian KEK.

Kaka, Erniyanti; Soelistiyoningsih, Dwi; Rufaindah, Ervin

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Gangguan menstruasi teridentifikasi sebagai salah satu permasalahan kesehatan utama yang dihadapi oleh populasi remaja di Indonesia. Pada skala global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa 75% remaja putri mengalami gangguan menstruasi, dengan sekitar 80% di antaranya mengalami ketidakteraturan siklus haid pada tahun pertama pasca menarche. Untuk mengetahui hubungan status gizi dengan siklus mentruasi pada mahasiswi STIKES Widyagama Husada Malang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik korelasional melalui pendekatan cross sectional .Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Rule of Thumb menurut Suharsimi Arikunto dengan pengambilan 15% dari populasi sehingga diperoleh sebanyak 41 responden. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square (?²) dengan tingkat kepercayaan 95% (? = 0,05).  Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai Chi-Square dengan nilai signifikansi (p-value) = 0,001 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan siklus menstruasi pada mahasiswi STIKES Widyagama Husada Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswi dengan status gizi tidak normal, baik gizi kurang maupun gizi lebih, cenderung mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur dibandingkan dengan mahasiswi yang memiliki status gizi normal. Sebagian besar mahasiswi STIKES Widyagama Husada Malang memiliki status gizi normal, namun masih ditemukan mahasiswi dengan status gizi kurang dan lebih yang cenderung mengalami gangguan siklus menstruasi, terutama oligomenore

Tetelepta, Josi Petrosina; Mulyanti; Ester

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Stunting dan malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang banyak ditemukan pada wilayah endemis, termasuk Kabupaten Nabire, Papua. Kondisi lingkungan tempat tinggal yang kurang memadai diduga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko infeksi malaria dan gangguan pertumbuhan pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor lingkungan rumah dengan kejadian stunting pada balita yang memiliki riwayat malaria di wilayah kerja Puskesmas Kimi. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case-control. Kelompok kasus terdiri atas balita stunting yang memiliki riwayat malaria dalam satu tahun terakhir, sedangkan kelompok kontrol merupakan balita dengan status gizi normal dan tanpa riwayat malaria. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi kondisi lingkungan rumah, serta penelusuran data kesehatan. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa karakteristik lingkungan fisik rumah berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting pada balita yang memiliki riwayat malaria (p<0,05). Faktor yang terbukti berasosiasi meliputi tipe bangunan rumah, jenis lantai, penggunaan kawat kasa pada ventilasi, kondisi lingkungan di dalam rumah, serta kondisi lingkungan sekitar rumah yang mendukung perkembangbiakan nyamuk. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas lingkungan tempat tinggal memiliki peran penting dalam meningkatkan paparan terhadap malaria yang selanjutnya dapat memengaruhi status kesehatan dan pertumbuhan anak. Dapat disimpulkan bahwa lingkungan rumah yang tidak memenuhi standar kesehatan berpotensi meningkatkan risiko stunting melalui peningkatan kejadian malaria dan penyakit infeksi lainnya. Oleh karena itu, upaya penanggulangan stunting di daerah endemis malaria perlu diintegrasikan dengan perbaikan kualitas perumahan, peningkatan sanitasi lingkungan, pengendalian vektor, serta edukasi kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Siti Kayla Rulina Sausan; Dea Amanda Caressa; Agus Putra Murdani

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2026 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Increased caffeine intake is commonly used by students to cope with academic demands, especially during examinations and the completion of final projects. Excessive caffeine consumption may affected sleep quality and potentially influence nutritional status. This study aimed to determine the correlation between caffeine intake, sleep disturbances, and nutritional status among final – year unsergarduated students at Dr. Soekardjo University. This study used quantitative approach with an observational analytic and cross-sectinal design. A total of 108 students participated in the study. Data were collected using questionnaires and analyzed using the Spearman Rank correlations test. The findings indicated that the most of respondents with low caffeine intake experienced mild sleep disturbances, totaling 56 respondents (80%). Meanwhile, respondents with moderate and high caffeine intake mostly experienced moderated sleep disturbances, with 13 respondents (61.9%) and 9 respondents (52.9%), respectively. The results showed a significant correlation between caffeine intake and sleep disturbances (p-value=0.000). In all categories of caffeine intake, most respondents had normal nutritional status. However, no significant relationship was found between caffeine intake and nutritional status (p-value=0.351). In conclusion, caffeine intake was associated with sleep disturbances but not with nutritional status among final-year undergraduate students.

Sustiyani, Elly; Asya, Lia Ilam; Faizah, Nurul

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil merupakan salah satu masalah gizi yang dapat meningkatkan risiko komplikasi pada ibu dan janin. Kurangnya pengetahuan ibu dan keluarga mengenai gizi selama kehamilan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya KEK. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan asuhan kebidanan komunitas pada keluarga Tn. “S”, khususnya Ny. “B” dengan masalah KEK di Desa Pemenang Timur, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan asuhan kebidanan yang meliputi pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, evaluasi, dan catatan perkembangan. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa Ny. “B” usia kehamilan 28–29 minggu mengalami KEK dengan Lingkar Lengan Atas (LILA) 21 cm, berat badan 49 kg, serta kurangnya pengetahuan tentang gizi ibu hamil. Intervensi yang diberikan berupa edukasi mengenai KEK, gizi seimbang, konsumsi makanan tambahan, tablet tambah darah, dan istirahat yang cukup. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu dan keluarga serta perbaikan status gizi ibu yang ditandai dengan peningkatan berat badan menjadi 53 kg dan LILA menjadi 24 cm. Asuhan kebidanan komunitas yang diberikan efektif dalam meningkatkan pemahaman keluarga dan membantu perbaikan status gizi ibu hamil dengan KEK.

Khofifah Dewi; Amalia Ruhana

Antigen : Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi 2026 LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Picky eating behavior is a common feeding problem among preschool-aged children. Children who exhibit picky eating tendencies often reject various types of food, especially new or unfamiliar ones, placing them at risk of an imbalanced intake of macronutrients such as energy, protein, fat, and carbohydrates. Inadequate nutritional intake over the long term may negatively impact a child's nutritional status and growth. This study aims to examine the relationship between picky eating behavior and the adequacy of macronutrient intake including energy, protein, fat, and carbohydrates and nutritional status among preschool children at Lab School 1 Kindergarten, State University of Surabaya. This research utilized a quantitative design with a cross-sectional approach. The study population consisted of 60 preschool children aged 4–6 years (48–73 months), selected using total sampling. After applying inclusion and exclusion criteria, a total of 37 respondents were included. Data were collected using the Child Eating Behavior Questionnaire (CEBQ) to assess picky eating behavior, interviews with the Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) to evaluate macronutrient intake, and anthropometric measurements to determine nutritional status. Data analysis was conducted using the Spearman Rank correlation test. The results showed a significant relationship between picky eating behavior and energy intake (p=0.002; r=0.495), fat intake (p=0.002; r=0.502), carbohydrate intake (p=0.006; r=0.443), and nutritional status (p=0.002; r=-0.493) among preschool children at Lab School 1 Unesa. However, no significant relationship was found between picky eating behavior and protein intake (p=0.064; r=0.307).

Hayuti Windha Pagiu; Suharnita Wijaya; Hermin Neli

JURNAL KABAR MASYARAKAT 2026 Institut Teknologi dan Bisnis Semarang

The problem of malnutrition in pregnant women is a health issue that risks causing serious complications, both for the mother and the fetus, such as anemia, premature birth, and low birth weight. Anemia in pregnancy has a negative impact on fetal development, including the risk of miscarriage, premature babies, and suboptimal growth. Globally, anemia is considered a major public health problem in more than 80% of countries, with prevalence in pregnancy reaching more than 20%. This service activity aims to increase pregnant women's knowledge about the importance of nutrition in preventing anemia and other complications during pregnancy. The method used is in the form of health education with a promotive-preventive approach, through interactive counseling and group discussions. The material provided includes the nutritional needs of pregnant women, signs and symptoms of anemia, as well as prevention strategies through the consumption of balanced nutritious foods and adherence to iron supplementation. The results of the activity showed an increase in pregnant women's understanding of the risk of anemia and the importance of maintaining nutritional status during pregnancy. Thus, this activity is expected to support the achievement of a healthy pregnancy, reduce the risk of complications, and ensure the welfare of mothers and babies.

Janice Fiona Putri; Dini Ririn Andrias

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan 2026 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Adolescents are considered a vulnerable group to nutritional problems because they experience rapid physical growth accompanied by lifestyle changes and unhealthy eating habits. The increasing prevalence of overweight and obesity among teenagers has become a major public health concern that requires serious attention. This study was conducted to examine the relationship between peer influence, the frequency of eating out, and fast-food consumption habits with the incidence of overweight among students at SMAN 1 Surabaya. The research applied a quantitative approach using an analytical observational design with a cross-sectional method. A total of 81 students participated in the study and were selected through proportional random sampling. Data were collected using questionnaires, SQ-FFQ forms, and anthropometric measurements, then analyzed using the Chi-Square statistical test. The findings revealed significant associations between peer influence, eating out frequency, and fast-food consumption habits with the occurrence of overweight among adolescents. Students who more frequently consumed meals outside the home and regularly ate fast food showed a greater tendency to experience overweight and obesity. These results indicate that social environments and modern dietary patterns contribute to the increasing prevalence of overweight among adolescents. Therefore, nutrition education and healthy lifestyle promotion should be strengthened through the involvement of schools, families, and peer groups.

Ussy Nastiti; Triska Susila Nindya

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan 2026 Pusat riset dan Inovasi Nasional

This study was conducted in response to the increasingly complex nutritional issues among adolescents, reflected in the coexistence of undernutrition and overnutrition within the same population, which are closely associated with dietary consumption patterns. The research aimed to investigate the relationship between diet quality and the nutritional status of students at SMAN 9 Surabaya. A quantitative approach with a cross-sectional design was employed, involving 85 participants selected based on the estimated sample requirement for correlation analysis. Dietary intake data were collected using two non-consecutive 24-hour food recalls and subsequently assessed using the Diet Quality Index for Adolescents (DQI-A). Nutritional status was determined through BMI-for-age calculations in accordance with the World Health Organization standards. Data analysis was performed using correlational testing and Chi-Square analysis to identify differences in proportions. The findings revealed that the respondents’ diet quality remained suboptimal, while most students were categorized as having normal nutritional status, although cases of undernutrition and overnutrition were still identified. A significant association was found between diet quality and nutritional status (p = 0.001), indicating that better diet quality tended to be linked with normal nutritional status. Based on the DQI-A components, dietary quality demonstrated a significant relationship with nutritional status (p = 0.007), whereas dietary diversity (p = 0.597) and dietary equilibrium (p = 0.507) showed no significant associations. These findings highlight that diet quality, particularly food selection patterns, plays an important role in determining adolescent nutritional status. Therefore, improving nutritional conditions requires more intensive nutrition education interventions focusing on healthy food choices, increased fruit and vegetable consumption, and controlled intake of sugar, salt, and fat, supported consistently by both individuals and the school environment.

Putri Yani; Khaira Rizki; Nurul Amna

Jurnal Ilmu Kesehatan Umum, Psikolog, Keperawatan dan Kebidanan 2026 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

. Malnutrition rates among children remain quite high, according to 2024 national statistics, which indicate that good eating habits in accordance with balanced nutritional needs are not yet ideal. Children's eating habits, dietary diversity, and parental understanding all impact their nutritional status. To promote optimal growth and development in children, it is crucial to monitor and establish appropriate eating habits from an early age. The aim of this study was to determine the relationship between eating habits and nutritional status of preschool-aged children. This study used a cross-sectional analytical design and quantitative methodology. Purposeful sampling was used to select a sample of 33 children from the 50 children in the study population. The study was conducted between September 22 and October 1, 2025. A Food Frequency Questionnaire (FFQ) was used to examine dietary patterns, while nutritional status was measured through weighing using a digital scale. Based on the findings, 22 children (66.7%) had a healthy diet, while 11 children (33.3%) had a poor diet. The Chi-Square statistical test showed a p value of 0.008 (p < 0.05), indicating a relationship between eating habits and nutritional status in preschool children at Taman Annisa Miruek Kindergarten, Aceh Besar Regency. According to balanced nutrition guidelines, parents should regularly assess their children's growth and focus more on the diversity and balance of their food intake. To improve children's nutritional status as much as possible, schools are required to collaborate with health workers to educate parents and children about nutrition.

Aditya Hanif Permana; Yuniarti Dewi R; Rifatul Masrikhiyah; Diah Ratnasari

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2026 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Iron deficiency anemia remains a major public health problem among pregnant women in Indonesia, with a national prevalence of 37.1% and higher rates in regions such as Brebes Regency. Adequate nutritional knowledge and sufficient iron intake are expected to prevent decreases in hemoglobin (Hb) levels during the third trimester. This study aimed to analyze the relationship between nutritional knowledge, iron intake adequacy, and Hb levels among third-trimester pregnant women at Puskesmas Brebes. An analytic observational study with a cross-sectional design was conducted on 62 respondents using total sampling. Data were collected through a nutritional knowledge questionnaire, a Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) to assess iron intake based on the Recommended Dietary Allowance of 27 mg/day, and Hb measurement using a digital device. The prevalence of anemia was 32.3%, with a mean Hb level of 11.25 ± 1.74 g/dL. Most respondents had high nutritional knowledge (72.6%), but 79.0% had inadequate iron intake. Chi-Square analysis showed no significant relationship between nutritional knowledge and Hb levels (p=0.109) or between iron intake adequacy and Hb levels (p=0.426). Other factors, including iron absorption inhibitors, compliance with iron supplementation, nutritional status, and limited sample size, may have influenced the results.

Fiqi Nurbaya; Dewi Puspito Sari; Nine Elissa Maharani; Nur Aini

JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL 2026 CV. ALIM'SPUBLISHING

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi prioritas di Indonesia dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor lingkungan. Pengelolaan sampah rumah tangga yang tidak aman berpotensi meningkatkan risiko penyakit infeksi yang dapat mengganggu pertumbuhan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengelolaan sampah rumah tangga dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case control. Sampel penelitian berjumlah 72 balita yang terdiri dari 36 kasus (stunting) dan 36 kontrol (tidak stunting) dengan perbandingan 1:1. Data dikumpulkan melalui pengukuran status gizi berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur serta wawancara menggunakan kuesioner untuk menilai praktik pengelolaan sampah rumah tangga. Analisis data dilakukan secara bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel paparan dan kejadian stunting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga belum menerapkan pengelolaan sampah yang aman, dan terdapat hubungan antara pengelolaan sampah rumah tangga dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik pengelolaan sampah rumah tangga merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpotensi berkontribusi terhadap kejadian stunting. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berbasis lingkungan untuk mendukung upaya percepatan penurunan stunting di tingkat desa.

Fiqi Nurbaya; Dewi Puspito Sari; Nine Elissa Maharani; Nur Aini

JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL 2026 CV. ALIM'SPUBLISHING

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi prioritas di Indonesia dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor lingkungan. Pengelolaan sampah rumah tangga yang tidak aman berpotensi meningkatkan risiko penyakit infeksi yang dapat mengganggu pertumbuhan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengelolaan sampah rumah tangga dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case control. Sampel penelitian berjumlah 72 balita yang terdiri dari 36 kasus (stunting) dan 36 kontrol (tidak stunting) dengan perbandingan 1:1. Data dikumpulkan melalui pengukuran status gizi berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur serta wawancara menggunakan kuesioner untuk menilai praktik pengelolaan sampah rumah tangga. Analisis data dilakukan secara bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel paparan dan kejadian stunting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga belum menerapkan pengelolaan sampah yang aman, dan terdapat hubungan antara pengelolaan sampah rumah tangga dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik pengelolaan sampah rumah tangga merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpotensi berkontribusi terhadap kejadian stunting. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berbasis lingkungan untuk mendukung upaya percepatan penurunan stunting di tingkat desa.

Rahmawati; Samsudi; Rasma

Jurnal Praba : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum 2026 STIKES Columbia Asia Medan

Data on malnutrition in toddlers at the Amondo Health Center in 2023 were 47 toddlers, then in 2024 from early January to November, malnutrition data increased by 64 toddlers. This study aims to determine the Risk Factors for Malnutrition in Toddlers in the Working Area of ​​the Amondo Health Center, South Palangga District, South Konawe Regency in 2025. The design of this study is quantitative with a cross-sectional approach. The population of this study was all toddlers registered in the working area of ​​the Amondo Health Center, South Palangga District, South Konawe Regency in 2024 with a total of 966 people. The sampling used was Accidental Sampling. To obtain a representative sample, the selection of subjects from each stratum or certain region was determined in a balanced or comparable manner in each matched region. The sample size used was 91 respondents. The data were analyzed using the SPSS application with the Odds Ratio test. The OR test results obtained knowledge values ​​(OR = 1.08), eating habits (OR = 0.70), family income (OR = 1.10), carbohydrate intake (OR = 2.47), protein intake (OR = 0.91) and fat intake (OR = 1.30). The conclusion that maternal knowledge, children's eating habits, family income, and nutrient intake (carbohydrates, proteins and fats) in the past are risk factors for malnutrition. It is recommended that health workers always provide information about malnutrition to the community, carry out vegetable planting movements in the community, do not carelessly give food to toddlers, always consume and provide nutritious food for the family

Yunus, Fajar; Supriatna, Agus; Jhony; Dewi, Ratnasari

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering terjadi pada anak, terutama pada gigi sulung yang memiliki struktur enamel lebih tipis dan rentan terhadap demineralisasi. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada rasa nyeri atau ketidaknyamanan, tetapi juga dapat mengganggu fungsi pengunyahan, proses pencernaan, serta status gizi anak secara keseluruhan. Pada kasus yang berlangsung kronis, gangguan nutrisi akibat karies gigi dapat berkontribusi terhadap hambatan pertumbuhan yang pada akhirnya memunculkan kondisi anak berkebutuhan khusus. Situasi ini menjadi penting untuk diperhatikan mengingat kelompok anak berkebutuhan khusus memiliki risiko lebih tinggi terhadap masalah kesehatan gigi akibat keterbatasan motorik, kognitif, maupun perilaku dalam menjaga kebersihan rongga mulut. Penelitian ini bertujuan mengetahui karies gigi sulung pada anak berkebutuhan khusus sebagai bagian dari upaya pemetaan masalah kesehatan gigi pada kelompok rentan di wilayah perkotaan. Penelitian deskriptif ini dilaksanakan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Makassar pada April - Oktober 2025 dengan pemeriksaan klinis yang mencakup observasi visual, penilaian kondisi gigi sulung, dan identifikasi tanda-tanda demineralisasi sesuai standar diagnostik karies. Pengumpulan data juga mempertimbangkan faktor pendukung seperti parameter saliva dan kondisi kebersihan mulut untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai lingkungan intraoral anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak berkebutuhan khusus memiliki tingkat kerentanan karies yang masih cukup tinggi, ditandai dengan ditemukannya lesi aktif, permukaan gigi yang mengalami demineralisasi, serta kebersihan mulut yang kurang optimal. Variasi tingkat keparahan karies terlihat antarindividu, mencerminkan perbedaan pola makan, kebiasaan menyikat gigi, dan kemampuan perawatan diri. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi promotif dan preventif yang lebih terarah, termasuk edukasi kepada pengasuh dan pendamping. Penelitian ini diharapkan menjadi data awal untuk penelitian lanjutan terkait kondisi kesehatan gigi anak berkebutuhan khusus di wilayah perkotaan.

Wahyuni, Putri; Pratiwi, Arum Dian; Akib, Nurhijrianti

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Musculoskeletas disorders (MSDs) adalah kumpulan gejala atau kondisi yang berkaitan dengan jaringan otot, tulang rawan, tendon, sistem saraf, ligamen, struktur tulang, dan pembuluh darah. Pengrajin tenun sering terpaksa berada dalam posisi tubuh sama dalam waktu lama atau melakukan gerakan berulang, sehingga meningkatkan risiko MSDs. Faktor risiko keluhan MSDs meliputi faktor pekerjaan, individu, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan musculoskeletas disorders (MSDs) pada pengrajin tenun Desa Masalili Kecamatan Kontunaga Kabupaten Muna tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif yang bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional study. Jumlah sampel sebanyak 73 pengrajin tenun yang diperoleh menggunakan accidental sampling. Penelitian ini menggunakan teknik pengolahan data melalui analisis univariat dan bivariat dengan uji chi-square, pengumpulan data dilakukan dengan mengombinasikan data primer dan sekunder. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa ada hubungan postur kerja (Pvalue = 0,000) < (? = 0,05),  beban kerja (Pvalue = 0,000) < (? = 0,05), lama kerja (Pvalue = 0,000) < (? = 0,05), status gizi (Pvalue = 0,000) < (? = 0,05) dengan keluhan MSDs. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara postur kerja, beban kerja, lama kerja dan status gizi dengan keluhan Musculoskeletas Disorders (MSDs).

Sunarto; Lestari, Retno Sri; Ibrahim, Ismail; Abdullah, Tajuddin; Rowa, Saharia +1 more

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara frekuensi konsumsi makanan cepat saji dan indeks massa tubuh (BMI) di kalangan siswa SMP Negeri 26 Makassar. Metode kuantitatif dengan desain cross-sectional digunakan. Penelitian ini melibatkan 30 siswa kelas satu yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi adalah siswa berusia 12–15 tahun yang setuju untuk berpartisipasi, sedangkan kriteria eksklusi meliputi mereka yang memiliki kondisi medis yang memengaruhi berat badan, seperti gangguan endokrin. Data konsumsi makanan cepat saji dikumpulkan menggunakan kuesioner, sedangkan tinggi dan berat badan diukur dengan stadiometer dan timbangan digital untuk menghitung BMI. Analisis statistik dilakukan untuk menguji korelasi antara frekuensi konsumsi makanan cepat saji dan kategori BMI (kurang berat badan, normal, kelebihan berat badan, obesitas). Hasil menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara frekuensi konsumsi makanan cepat saji dan BMI (p = 0,795, p > 0,05), menunjukkan bahwa konsumsi makanan cepat saji tidak berhubungan langsung dengan status BMI. Meskipun demikian, faktor lain seperti aktivitas fisik, kebiasaan makan secara keseluruhan, genetika, dan gaya hidup dapat memengaruhi variasi BMI. Meskipun tidak ada korelasi langsung, konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan tetap menjadi perhatian karena kandungan kalori, lemak, gula, dan natriumnya yang tinggi dikombinasikan dengan kadar serat yang rendah, yang berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi jika dikombinasikan dengan perilaku tidak sehat. Studi ini menekankan pentingnya pencegahan obesitas dini pada remaja untuk mengurangi risiko penyakit kronis di masa depan seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan gangguan kardiovaskular.