Publication Search

63,163 articles from 507 journals · 1,579 citations tracked

Showing 1-6 of 6

Analytics

Budiafosma, Savira Nanda; Budiafosma, Savira Nanda; Daniar, Aninditya; Masnuna, Masnuna

JURNAL ILMIAH KOMPUTER GRAFIS 2025 UNIVERSITAS STEKOM

Tingginya konsumsi makanan instan di kalangan anak-anak sekolah dasar telah menjadi perhatian penting karena potensi risiko kesehatan jangka panjangnya. Penelitian ini bertujuan untuk merancang karakter buku cerita bergambar interaktif sebagai media edukasi bagi anak-anak usia 9–12 tahun untuk memahami bahaya makanan instan dan mengembangkan kebiasaan makan yang sehat. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran yang dikombinasikan dengan metodologi desain, termasuk tinjauan pustaka, wawancara dengan guru, ahli gizi, dan ilustrator, dan kuesioner yang disebarkan kepada 114 responden untuk mengidentifikasi kebutuhan pendidikan anak-anak dan preferensi visual. Proses desain melibatkan identifikasi masalah, pengembangan konsep, pembuatan prototipe, dan validasi melalui jajak pendapat audiens. Desain ini menampilkan karakter utama Lala, Lita, Ibu, dan Maskot Perut, dengan ilustrasi kartun digital berwarna cerah. Hasil validasi menunjukkan bahwa karakter dan desain visual selaras dengan minat dan kebutuhan audiens target, menjadikan media ini efektif dalam menyampaikan pesan edukasi dengan cara yang menarik sekaligus memotivasi anak-anak untuk memahami risiko makanan instan.

Cantikawanti, Aninda Putri; Widanti, Yannie Asrie; Suhartatik, Nanik

Agrobioteknologi 2025 Fakultas Teknologi dan Industri Pangan Unisri Surakarta

Nutritional problems during the growth phase of adolescent are mostly caused by consumption patterns. The most commonly used eating patterns during adolescent are foods that are high in calories, fat, sugar and salt. The habits of an unhealthy eating pattern can affect nutritional status. The foods most consumed by adolescent are often junk food and caffeinated beverages. All kinds of food and drinks are easily found around campuses surrounded by student. The purpose of this study was to determine the relationship between junk food consumption and caffeinated beverages to the nutritional status of students of the Faculty of Technology and Food Industry at Slamet Riyadi University, Surakarta. The respondents involved were students aged 18-24 years. Data was collected using a questionnaire and interview to the student. Data were analyzed using Chi-Square test. The results showed that factor affecting the nutritional status of student was mother’s education (p=0,000) and father’s education (p=0.000). Factors that do not affect nutritional status were energy intake (p=0.545), protein (p=0.085), fat (p=0.204) and carbohydrate (p=0.112), the amount of pocket money (p=0.310), the consumption level of junk food (p=0.671) and caffeinated drinks (p=0.535). The results showed that there was no significant relationship between the consumption patterns of junk food and caffeinated drinks on the nutritional status of students of the Faculty of Food Technology and Industry at Slamet Riyadi University, Surakarta. Permasalahan gizi yang terjadi saat pertumbuhan fase remaja lebih banyak disebabkan karena pola konsumsi.  Pola makan yang sering diterapkan pada masa remaja adalah makanan tinggi kalori, lemak, gula, dan garam. Pola makan yang tidak sehat dapat mempengaruhi status gizi seseorang. Makanan yang paling banyak dikonsumsi oleh kalangan remaja masuk dalam kategori junk food dan juga minuman berkafein. Makanan dan minuman kategori ini mudah ditemukan di sekitar kampus yang dikelilingi mahasiswa. Tujuan pada penelitian ini ialah menentukan hubungan pola konsumsi junk food dan minuman berkafein terhadap status gizi mahasiswa Fakultas Teknologi dan Industri Pangan di Universitas Slamet Riyadi, Surakarta. Responden yang terlibat ialah mahasiswa berusia 18-24 tahun. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara kepada mahasiswa. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi status gizi mahasiswa adalah pendidikan ibu (p=0.000) dan pendidikan ayah (p=0.000). faktor yang tidak mempengaruhi status gizi ialah asupan energi (p=0.545), protein (p=0.085), lemak (p=0.204) and karbohidrat (p=0.112), jumlah uang saku (p=0.310), tingkat konsumsi junk food (p=0.671) dan minuman berkafein (p=0.535). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pola konsumsi junk food dan minuman berkafein terhadap status gizi mahasiswa Fakultas Teknologi dan Industri Pangan Universitas Slamet Riyadi, Surakarta.

Ana Musta'ana; Septi Wulandari; Selma Riski Nur Laili; Vita Nugrah Septiana

Jurnal Suara Pengabdian 45 2025 LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Pengabdian masyarakat Universitas Bojonegoro di Desa Mojoagung menunjukkan bahwa pendekatan pendidikan berbasis feminisme, diskusi interaktif, dan distribusi tablet penambah darah (TTD) yang didukung oleh penyuluhan pola makan sehat dapat membantu meningkatkan kesadaran akan gender dan gizi perempuan.kesehatan. Program ini mampu menurunkan prevalensi anemia hingga 30%, memberdayakan perempuan secara sosial, dan meningkatkan kesadaran akan hak-haknya. Selain itu, keberlanjutan dan pertumbuhan program bergantung pada kerja sama dengan fasilitas medis dan organisasi masyarakat non-pemerintah. Menurut hasil dari beberapa penelitian terkait, pemberdayaan perempuan melalui kesadaran gender yang lebih besar dan akses ke perawatan kesehatan inklusif dapat membantu meningkatkan kesehatan dan status gizi perempuan sekaligus mendorong perubahan sosial yang tahan lama. Strategi berbasis komunitas yang melibatkan keluarga dan komunitas sangat penting untuk mencapai tujuan ini, terutama dalam hal mencegah anemia, meningkatkan kesehatan anak-anak, dan memajukan hak-hak perempuan di masyarakat.

Hasnia Hasnia; Hajar Hajar; Inez Vravty Lestari; Herawaty Herawaty; Sumarni Sumarni +1 more

Jurnal Ilmu Kesehatan Umum, Psikolog, Keperawatan dan Kebidanan 2025 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Pregnancy anemia is a medical condition that occurs when a pregnant woman experiences a lack of red blood cells or hemoglobin in her blood during pregnancy. Hemoglobin is a protein in red blood cells that is responsible for transporting oxygen from the lungs to the rest of the body and returning carbon dioxide to the lungs to be released. This study aims to determine the relationship between knowledge, age, education and nutritional status with the incidence of anemia in pregnant women in Soppeng district in 2024. The study design used Cross Sectional. Pregnant women at La Temmamala Hospital were 50 people. Based on the results of the Chi-square statistical test, the p Value = 0.273> α = 0.05 was obtained, so H0 was accepted and Ha was rejected, thus it can be concluded that there is no relationship between knowledge and the incidence of anemia in pregnant women at La Temmamala Hospital, Soppeng Regency. Based on the results of the Fisher's Exact Test statistical test, the p Value = 1,000 > α = 0.05 was obtained, so H0 was accepted and Ha was rejected, thus it can be concluded that there is no relationship between age and the incidence of anemia in pregnant women at La Temmamala Hospital, Soppeng Regency. Based on the results of the Fisher's Exact Test statistical test, the p Value = 1,000 > α = 0.05 was obtained, so H0 was accepted and Ha was rejected, thus it can be concluded that there is no relationship between age and the incidence of anemia in pregnant women at La Temmamala Hospital, Soppeng Regency.m Based on the results of the Chi-square statistical test, the p Value = 0.000 <α = 0.05 was obtained, so H0 was rejected and Ha was accepted. Thus, it can be concluded that there is a relationship between nutritional status and the incidence of anemia in pregnant women at La Temmamala Hospital, Soppeng Regency. For the author as information on the importance of mother's knowledge about For the author as information on the importance of mother's knowledge about the importance of ANC examination. For the government in general to optimize the dissemination of information about the importance of conducting pregnancy examinations

Muhamad Sahli

JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL 2025 CV. ALIM'SPUBLISHING

Stunting adalah kondisi di mana balita memiliki tinggi atau panjang badan yang kurang dibandingkan dengan anak seusianya. Masalah gizi kronis menjadi faktor utama penyebab stunting, yang dipengaruhi oleh berbagai aspek, termasuk status sosial ekonomi, gizi ibu selama kehamilan, kesehatan bayi, dan kurangnya asupan gizi yang memadai. Akibatnya, di masa depan, anak-anak yang mengalami stunting berisiko mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal.Berbagai masalah kesehatan pada ibu yang memiliki balita dapat dicegah melalui upaya promosi kesehatan. Promosi kesehatan dirancang untuk memfasilitasi perubahan perilaku individu serta menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan. Metode promosi kesehatan merupakan salah satu sarana dalam pendidikan kesehatan, yang perlu dipertimbangkan dengan cermat, memperhatikan materi, kondisi sasaran (termasuk aspek sosial budaya), serta faktor-faktor lain yang berkaitan dengan lingkungan komunikasi, seperti ruang dan waktu.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keefektivitasan metode promosi kesehatan dalam penanganan stunting. Studi ini menggunakan metode literatur tinjauan data yang diperoleh dari sumber data sekunder. Referensi yang dikumpulkan dari database elektronik, yaitu Google Cendekia untuk periode 2021-2024. Dari artikel yang telah dikumpulkan, setiap metode promosi Kesehatan memiliki focus yang berbeda-beda seperti metode ceramah, demonstrasi, peer education, Simulation Game dan health education. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa efektivitas metode promosi Kesehatan dalam penanganan stunting dapat  meningkatkan pengetahuan pengetahuan ibu yang memiliki Balita.

Muhamad Sahli

JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL 2025 CV. ALIM'SPUBLISHING

Stunting adalah kondisi di mana balita memiliki tinggi atau panjang badan yang kurang dibandingkan dengan anak seusianya. Masalah gizi kronis menjadi faktor utama penyebab stunting, yang dipengaruhi oleh berbagai aspek, termasuk status sosial ekonomi, gizi ibu selama kehamilan, kesehatan bayi, dan kurangnya asupan gizi yang memadai. Akibatnya, di masa depan, anak-anak yang mengalami stunting berisiko mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal.Berbagai masalah kesehatan pada ibu yang memiliki balita dapat dicegah melalui upaya promosi kesehatan. Promosi kesehatan dirancang untuk memfasilitasi perubahan perilaku individu serta menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan. Metode promosi kesehatan merupakan salah satu sarana dalam pendidikan kesehatan, yang perlu dipertimbangkan dengan cermat, memperhatikan materi, kondisi sasaran (termasuk aspek sosial budaya), serta faktor-faktor lain yang berkaitan dengan lingkungan komunikasi, seperti ruang dan waktu.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keefektivitasan metode promosi kesehatan dalam penanganan stunting. Studi ini menggunakan metode literatur tinjauan data yang diperoleh dari sumber data sekunder. Referensi yang dikumpulkan dari database elektronik, yaitu Google Cendekia untuk periode 2021-2024. Dari artikel yang telah dikumpulkan, setiap metode promosi Kesehatan memiliki focus yang berbeda-beda seperti metode ceramah, demonstrasi, peer education, Simulation Game dan health education. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa efektivitas metode promosi Kesehatan dalam penanganan stunting dapat  meningkatkan pengetahuan pengetahuan ibu yang memiliki Balita.