Publication Search

95,605 articles from 887 journals · 2,123 citations tracked

Showing 1-20 of 54

Analytics

Parluhutan, Teguh; Gultom, Antonius

Jurnal Silih Asah 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan merumuskan Model Tridarma Berbasis Panggilan Abraham sebagai paradigma transformasional bagi Perguruan Tinggi Teologi (PTT) di Indonesia. Latar belakang penelitian ini berangkat dari krisis identitas PTT yang sering terjebak dalam dikotomi antara tuntutan akademik dan panggilan gerejawi, sehingga Tridarma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat—kerap kehilangan orientasi teologis dan relevansi sosialnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka “Hermeneutika Filosofis-Kontekstual” yang mengintegrasikan studi filosofis dan critical case study pada STT Suwarnadwipa sebagai living prototype. Data penelitian diperoleh melalui analisis teks Kejadian 12:1–3, dokumen institusional, serta literatur teologis dan filsafat pendidikan. Analisis dilakukan melalui “Siklus Interpretasi Tiga Lapis” yang mencakup lapis eksplanatori, komparatif, dan konstruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panggilan Abraham mengandung tiga DNA utama, yaitu divine initiative, costly obedience, dan instrumental blessing, yang dapat menjadi fondasi filosofis-teologis bagi transformasi Tridarma PTT. Berdasarkan sintesis tersebut, penelitian ini menghasilkan tiga pilar utama model, yakni pendidikan sebagai Abrahamic Discipleship, penelitian sebagai Pro Deo et Ethne Inquiry, dan pengabdian masyarakat sebagai Shalom-Based Engagement. Implementasi model pada STT Suwarnadwipa menunjukkan bahwa paradigma Abrahamik mampu mengintegrasikan kesetiaan teologis dengan relevansi kontekstual secara operasional. Penelitian ini berkontribusi secara teoretis melalui pengembangan kerangka “Teologi Dwipa Nusantara,” secara metodologis melalui pendekatan “Hermeneutika Filosofis-Kontekstual,” dan secara praktis melalui penyediaan model operasional yang dapat diadaptasi oleh PTT lain di Indonesia.

Maudhy Satyadharma; Nur Yahni; Cahyaniza; Hado

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Mudik merupakan tradisi tahunan masyarakat Indonesia yang mencerminkan nilai sosial dan budaya, sekaligus memicu dinamika mobilitas tinggi pada sektor transportasi. Lonjakan pergerakan ini berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan seperti kemacetan, kecelakaan, dan keterbatasan akses layanan transportasi. Pemerintah merespons melalui program mudik gratis sebagai solusi strategis untuk meningkatkan keselamatan, kenyamanan, serta pemerataan akses transportasi, khususnya di wilayah kepulauan seperti Sulawesi Tenggara. Penelitian ini bertujuan menganalisis aktualisasi nilai-nilai bela negara dalam pelaksanaan program mudik tahun 2026 serta peran ASN dalam menginternalisasikannya dalam pelayanan publik. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai bela negara, seperti cinta tanah air, kesadaran berbangsa, kesetiaan pada Pancasila, rela berkorban, dan kemampuan awal bela negara, teraktualisasi dalam sikap profesional, pelayanan inklusif, serta dedikasi ASN. Integrasi nilai-nilai tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik dan penguatan karakter ASN sebagai pelayan masyarakat.

Sitinjak , Jeremia Sampe Tumpal; Munthe, Denyka

Imitatio Christo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2026 Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa Jayapura

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah kritik profetis nabi Yeremia terhadap kepemimpinan korup dalam Yeremia 23:1–6 serta menggali implikasinya bagi teologi kepemimpinan Kristen masa kini. Permasalahan utama yang dikaji adalah bagaimana teks ini merefleksikan bentuk penyimpangan kepemimpinan di Yehuda dan bagaimana pesan profetis Yeremia tetap relevan bagi gereja modern yang menghadapi krisis integritas pemimpin rohani. Penelitian ini menggunakan metode analisis eksegetis dan teologi biblika dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui studi literatur terhadap teks Alkitab, tafsiran akademik, serta tulisan-tulisan teologi kepemimpinan kontemporer. Temuan utama penelitian ini terletak pada penekanan bahwa kritik profetis Yeremia tidak hanya bersifat destruktif (menghukum penyimpangan), tetapi juga konstruktif, yaitu menghadirkan harapan eskatologis melalui figur “Tunas Adil” yang menggenap dalam diri Kristus sebagai model kepemimpinan yang adil, setia, dan penuh belas kasih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesan Yeremia 23:1–6 menegaskan panggilan kepemimpinan yang berakar pada keadilan, kesetiaan, dan tanggung jawab moral di hadapan Allah. Dengan demikian, teks ini memberikan koreksi teologis sekaligus arah pembaruan bagi gereja dalam membangun kepemimpinan yang profetis, etis, dan Kristosentris.

Ahmad Ainul Yaqin; Fajrin Dwi Ariani; Dedi Muhammad Siddiq; Dedi Muhammad Siddiq

JURNAL ILMIAH EKONOMI DAN BISNIS 2025 LPPM Universitas Sains dan Teknologi Komputer

Hubungan antara budaya organisasi, kepuasan kerja dan kompensasi finansial terhadap kinerja karyawan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 3 Cirebon adalah subjek penelitian ini. Pendekatan kuantitatif diterapkan dalam penelitian ini, dengan menggunakan analisis regresi berganda yang diolah melalui perangkat lunak SPSS versi 26. Penelitian ini melibatkan sampel sebanyak 111 orang yang terpilih secara acak dari 153 orang populasi dalam penelitian. Budaya organisasi dan kepuasan kerja memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Budaya organisasi yang kuat juga kepuasan kerja yang tinggi dapat menciptakan lingkungan kerja menjadi menyenangkan, menambah motivasi, kesetiaan, dan produktivitas karyawan. Kompensasi finansial, di sisi lain, memiliki dampak yang tidak signifikan dan bahkan mungkin berkorelasi negatif dengan kinerja karyawan. Ini menunjukkan bahwa ketidaksesuaian antara kompensasi yang diharapkan dan apa yang sebenarnya terjadi dapat mengurangi keinginan untuk bekerja. Oleh karena itu, meningkatkan kinerja karyawan hanya dapat dicapai dengan meningkatkan budaya organisasi dan memastikan bahwa karyawan tetap puas dengan pekerjaan mereka daripada hanya mengandalkan kompensasi.

Yakub Fransisko; Devi Lestary; Sarmauli Sarmauli

Sabar : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This research begins with the complexity of challenges faced by Christian families in the modern era, such as issues of communication, loyalty, and role imbalance. The aim is to examine the theological meaning of marriage as a divine institution in Christianity, focusing on the core values ​​of love, loyalty, and responsibility. Furthermore, this research formulates implementative strategies to create a harmonious and strong Christian family. This research uses a descriptive qualitative approach with a literature study method, analyzing various biblical sources, books, and journals on Christian marriage. Data were analyzed by selecting, grouping, and summarizing the contents of the readings using a theological relational model, where love and loyalty are the foundation that gives rise to responsibility. The results show that Christian marriage is the embodiment of God's plan, a reflection of Christ's love, and the foundation for a harmonious family. Implementative strategies in modern life include: building communication based on love, maintaining loyalty in the digital age, implementing servant leadership and equal partnerships, making the family a community of faith, and managing conflict with forgiveness. This research is expected to strengthen Christian family life in the modern era through a deeper understanding of the theological meaning of marriage and the application of relevant practical strategies. Academically, this research contributes to the development of practical theology.

Magdalena Ayang Tura; Hagar Magdalena Oujaha; Malik Bambangan

jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat 2025 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

This article explores the theme of faithfulness amid suffering through a narrative and theological analysis of Job 1:1–22, while also examining its relevance for the Christian faith today. Job is chosen as the central figure due to his portrayal in the Bible as a man who endured extreme suffering yet maintained his spiritual integrity. This research uses a qualitative approach with a library research method, analyzing biblical texts and relevant theological literature. The study focuses on understanding suffering as a test of faith allowed by God, rather than as punishment for sin. The analysis reveals that Job is portrayed as a righteous, upright, God-fearing man who shunned evil. In Job 1:1–22, he loses all his wealth and children in a very short time, yet continues to submit to God’s will. His well-known declaration, “The Lord gave, and the Lord has taken away; blessed be the name of the Lord,” affirms the depth of his faith and obedience. Job’s faithfulness is not transactional, but emerges from a pure spiritual relationship with God. Job’s story remains highly relevant for contemporary Christians. In today’s world filled with adversity, Job teaches that suffering is not necessarily a sign of wrongdoing or lack of faith, but can be a means for spiritual growth and character formation. This article affirms that true faith will remain steadfast even when tested by suffering. Thus, Job stands as an enduring example of unwavering faithfulness to God in the face of deep crisis.

Molu, Serlina Baba; Sukarna, Timotius; Windarti, Maria Titik

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran gembala dalam menumbuhkan iman jemaat berdasarkan Mazmur 23:1–6. Gembala dalam konteks Alkitab dipahami sebagai figur yang menuntun, melindungi, dan memelihara umat Allah, yang dalam pelayanan gereja diterjemahkan melalui pengajaran, konseling, teladan hidup, dan strategi pastoral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, di mana data diperoleh melalui studi literatur, observasi, wawancara, dan dokumentasi di lingkungan Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) Sanggabuana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gembala memiliki peran penting sebagai teladan rohani, pembimbing iman, serta fasilitator transformasi jemaat melalui strategi penggembalaan yang efektif. Peran ini berdampak pada meningkatnya kesetiaan, kerendahan hati, serta keteguhan iman jemaat dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pertumbuhan iman jemaat sangat ditentukan oleh kualitas penggembalaan yang dijalankan oleh gembala sidang secara konsisten dan kontekstual.

Saadah, Anis Fathu; Lulu Ratika Yuniar; Zahra Jelita; Adita Widara Putra

NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 2025 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur intrinsik naskah drama “Kecoa Tengah Malam” karya Bode Riswandi dengan menggunakan pendekatan strukturalisme. Pendekatan strukturalisme merupakan teori yang memfokuskan karya sastra sebagai sebuah struktur yang utuh berdasarkan unsur intrinsik yang terdapat dalam karya sastra. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik studi pustaka dan teknik analisis teks terhadap unsur intrinsik seperti tema, alur, tokoh dan penokohan, latar, gaya bahasa, sudut pandang, dan amanat. Hasil analisis cerpen ini mengangkat tema pengkhianatan dalam rumah tangga serta kehancuran harga diri seorang suami yang lumpuh, dikemas melalui simbolisme satire dan sindiran tajam terhadap norma sosial. Alur yang digunakan adalah alur maju (linier). Tokoh-tokohnya, yaitu Dr. Marus, Cicilia, Kristian, dan Atun, memiliki karakter yang memperkuat konflik moral dan emosional. Latar tempat utama berpusat pada sebuah rumah mewah milik Dr. Marus. Latar waktu berlangsung antara malam hingga pagi, mempertegas intensitas perubahan psikologis tokoh-tokohnya, sementara latar suasana ditampilkan dalam nuansa ketegangan dan ketidaknyamanan. Gaya bahasa bersifat simbolik dan tragis, memperdalam pesan yang disampaikan. Sudut pandang yang digunakan adalah orang ketiga. Amanat dalam naskah ini menekankan pentingnya menjaga moralitas, kesetiaan, dan empati dalam kehidupan pernikahan.

Reika Eugenia Astriani

Federalisme : Jurnal Kajian Hukum dan Ilmu Komunikasi 2025 Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

This study aims to uncover the meaning of loyalty and sacrifice in the lyrics of the song "Sumpah dan Cinta Matiku" by Nidji through Roland Barthes' semiotic approach. The analysis is conducted at three levels of meaning, namely denotative, connotative, and myth, to understand how song lyrics form emotional messages as well as ideologies in Indonesian popular culture. At the denotative level, a literal meaning is found regarding the pledge of loyalty and commitment of love between two people who are emotionally bound to each other. The connotative level displays emotional and cultural meanings in the form of a willingness to sacrifice and steadfastness in maintaining love, which is often depicted as a heroic and struggle-filled act. Meanwhile, at the mythical level, this song brings up the ideology of romantic love that is absolute, eternal, and demands unconditional sacrifice, as often found in love narratives in other popular media. Lyrics such as "Sumpah mati hanya kau yang kucinta" and "Meski badanku has become one with the ground, cintaku tetap hidup bagi bagi" reflect the cultural construction that true love must be proven by suffering, extreme loyalty, and even sacrifice of life. This meaning emphasizes that love is not merely an emotional connection, but a form of total devotion that cannot be shaken by any circumstances. This song indirectly instills the idea that love means being willing to lose everything, including one's life, to maintain that love. The results of this study indicate that these songs not only convey personal messages of love but also play a role in shaping and perpetuating the myth of love in society. This finding is reinforced by various previous studies that state that popular music plays a role as a medium for reproducing cultural values, particularly regarding idealized, sacrificial, and irrational love.

Laia, Idaman; Madjan, Herman P

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini membahas relevansi integritas Kristus sebagaimana dicontohkan dalam Matius 4:1–11 sebagai dasar etika profesional dan spiritual bagi guru-guru Kristen. Dalam kisah pencobaan di padang gurun, Yesus menunjukkan keteguhan hati dan kesetiaan terhadap firman Tuhan, tanpa kompromi terhadap godaan kuasa, kekayaan, dan pengakuan. Sikap ini menjadi model sempurna integritas, yang tidak hanya bersifat moral tetapi juga spiritual. Guru Kristen sebagai pendidik dan pembentuk karakter generasi masa depan, diharapkan hidup selaras antara ucapan, prinsip, dan tindakan, sebagaimana Kristus meneladankan.Melalui pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka, penelitian ini menganalisis prinsip-prinsip integritas Kristus dan implikasinya dalam dunia pendidikan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas guru Kristen berdampak langsung terhadap efektivitas pendidikan karakter, kepercayaan peserta didik, dan kredibilitas lembaga pendidikan. Namun, tantangan besar juga diidentifikasi, seperti tekanan profesional, relativisme moral, dan godaan kompromi nilai.Strategi pembinaan integritas meliputi penguatan disiplin rohani, pelatihan etika Kristen, mentoring oleh figur teladan, serta dukungan institusional dari gereja dan sekolah. Guru Kristen dipanggil tidak hanya mengajar pengetahuan, tetapi juga menjadi pemimpin rohani yang mencerminkan kehidupan Kristus. Dengan menjadikan integritas sebagai inti dari pelayanan pendidikan, guru mampu menjadi terang dan garam bagi dunia pendidikan yang tengah menghadapi krisis moral. Oleh karena itu, implementasi integritas Kristus menjadi kebutuhan mendesak dalam membentuk guru Kristen yang profesional, beriman, dan berpengaruh secara transformatif.

Hotdina Veronika Siregar; Neli Febriyanti Adang; Malik Bambangan

jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat 2025 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

This article explores the theme of faithfullness in the book of Hosea throught a theological lens and examines its relevanse for the contemporary church. The book of the Hosea presents a powerfull potrayal of God’s unwafering faithfullnes toward his people despite their reapeted unfaithfullnes. Using the metaphor of Hosea’s marriage to Gomer, God communicates a message off steadfast love, forgiveness, and restoration. This study highlights the theological significance of divine faithfullness and its role as the foundation for relational  etichs within the community of faith. The implication for the church today include a calling to live faithfully before God, to embody restorative love in community life, and to strengh then commitmen to the covenant of faith. Faithfullnes is presented not merely as a moral virtue but as a spiritual identity to be lived out in ecclesial practice. Through exegetical analysis and contextual reflection, this articel invites the church the respond to the call of faithfullness mid the chalanges of the modern era.

Luthfi Muzaki; Muhammad Zaky Fahmi; Wafiq Azizah Ashari

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2025 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pergeseran bentuk dan makna dalam penerjemahan syair Al-I’tiraf karya Abu Nawas dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Kajian ini berfokus pada penggunaan metode komunikatif dan teknik modulasi sebagai pendekatan utama dalam proses penerjemahan sastra religius. Mengingat syair ini memuat ungkapan tobat, harap, dan pengakuan dosa yang kental dengan nilai spiritual, proses penerjemahan tidak hanya membutuhkan ketepatan bahasa, tetapi juga kepekaan terhadap emosi dan nuansa keagamaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan analisis tekstual. Data utama berupa teks asli dalam bahasa Arab dan hasil terjemahannya dalam bahasa Indonesia dianalisis untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk pergeseran dan strategi yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerjemah melakukan berbagai bentuk pergeseran baik pada tataran struktur kalimat, pemilihan diksi, maupun gaya penyampaian makna. Teknik modulasi digunakan untuk menyesuaikan makna dari perspektif budaya sasaran, sedangkan metode komunikatif menjaga agar pesan spiritual tetap tersampaikan dengan jelas. Kesimpulannya, penerjemahan syair religius seperti Al-I’tiraf memerlukan strategi yang tidak sekadar literal, melainkan komunikatif dan reflektif. Pergeseran bentuk dan makna menjadi bagian penting dalam menjaga kesetiaan terhadap makna dan keterterimaan dalam bahasa sasaran.

Dedi Dedi

SAFARI :Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia 2025 BADAN PENERBIT STIEPARI PRESS

This Community Service Program (PkM) aims to foster congregational spirituality to enhance worship commitment at GKSI Jemaat Kristus Jambuh Balai. The background of the activity arises from the declining participation in worship, where worship is often perceived merely as a routine. The implementation method applied a participatory approach through biblical teaching, communal prayer, and reflective discussions involving active congregation engagement. The results indicate a paradigm shift: worship is now understood as a spiritual encounter deepening the relationship with God rather than a mere obligation. Congregational motivation also increased, demonstrated by more consistent attendance and greater openness to service. The evaluation revealed challenges in time allocation and program continuity; however, overall, the spiritual formation proved effective. This program recommends the continuity of spiritual formation as a structured church agenda, involving families and leaders as models of faith to sustain worship commitment.

Lazarus Satya Priyambada; Agnes Dwi Rahayu

Sabar : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 2024 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This study examines the effects of TikTok app use on marital fidelity, highlighting the challenges couples face in the digital age. The method used is qualitative research with a literature review approach, which aims to collect and analyze various relevant sources regarding the impact of social media, particularly TikTok, on marital relationships. The results show that the use of TikTok can reduce interaction between couples, exacerbate tensions, and neglect family responsibilities, potentially leading to relationship dissatisfaction and even divorce. TikTok, as an engaging entertainment platform, can exacerbate communication problems in marriage, increase the temptation to have an affair, and negatively affect self and spousal perceptions. In addition, the study also examined the views of the biblical teachings and Canon Law of the Catholic Church on marital fidelity, which emphasize how important it is to maintain commitment in the conjugal bond as part of the Christian vocation. Based on these results, the study provides practical recommendations for couples to maintain marital harmony, including improving open communication, setting firm boundaries in the use of social media, and strengthening relationships based on faith values. The results of this study show that with a thoughtful approach, the use of social media can help couples maintain marital harmony.  

Fa’ahakhododo Halawa; Malik Bambangan

Jurnal Magistra 2024 STP Dian Mandala Gunungsitoli Nias Keuskupan Sibolga

This research aims to examine servant leadership and faithfulness in ministry in the postmodern era based on 2 Timothy 4:1-8. Using a qualitative method, it explores some of the scriptural texts and identifies the principles of leadership and faithfulness in ministry taught in Paul's letter to Timothy. Through this analysis, this study found that a servant of God's faithfulness in ministry must be based on the unchanging teaching of God's Word, even though the world around him continues to evolve in plurality and relativism. The main challenge for spiritual leaders is to maintain the truth of the Bible as the only authority in the face of various views that prioritize subjective and contextual truth. In the midst of postmodern trends that tend to relativize truth, spiritual leaders need to focus on the integrity of biblical teachings that are not influenced by culture or external pressures. In addition, this study emphasizes the importance of spiritual leaders' strategies in discerning sound teachings from heresies, emphasizing the need to understand the signs of heresies, such as rejection of biblical authority or interpretations that do not fit the historical and cultural context of the Bible. Spiritual leaders also need to remind congregants of their identity as citizens of the eternal Kingdom of God, by ensuring that they remain firmly grounded in the unshakeable truth of the Bible. The results of this study provide insights for spiritual leaders in facing the challenges of ministry in the postmodern era and provide guidelines for congregants to remain faithful to the teachings of the Bible amidst the development of a changing worldview as well as directing them to remain firm on the unshakeable foundation of biblical truth to maintain faithfulness to the true teachings of the Bible.

Az-Zahra, Aisyah Hilwa; Supriyono , Supriyono; Afghani, Shalma Herwinadira Afghani; Ajmi Niamala; Ferawati , Rizki +1 more

Jurnal Global Citizen : Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan Kewarganegaraan 2024 Prodi PPKn Universitas Slamet Riyadi

Rasa nasionalisme adalah sebuah rasa dimana kesetiaan  seseorang diberikan atau diabdikan langsung kepada bangsa dan negara. Dari rasa nasionalisme, seseorang akan memiliki rasa solidaritas, semangat gotong royong dan rela berkorban. Mengenal tokoh Soekarno merupakan salah satu cara menghargai seorang pahlawan, dalam penelitian ini penulis menggunaakan metode kuantitatif menggunakan skala guttman untuk mengetahui apakah dengan mengenal perjuangan seseorang dalam membela dan mempertahankan bangsa dan negaranya dapat meningkatkan rasa nasionalisme seseorang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, yaitu sebanyak 20 orang siswa sebagai sampel dari 69 siswa kelas 3 MMI penulis mendapatkan hasil bahwa 74,5% siswa menyatakan bahwa rasa nasionalisme mereka meningkat setelah mengenal tokoh Ir Soekarno sebagai pejuang kemerdekaan bangsa dan negaranya.

Mareta, Adhis; Kurniawan, Martha Mulyani

Jurnal Silih Asah 2024 LPPM - STT Kadesi Bogor

Tulisan ini membahas tentang konsep kelahiran baru dan kedewasaan rohani dalam pandangan pendidikan agama Kristen, dengan fokus pada ayat-ayat Alkitab seperti 1 Yohanes 3:9 dan 1 Timotius 4:12-14. Kelahiran baru dalam Kristus menandai transformasi spiritual yang mendalam, yang menciptakan identitas baru sebagai anak-anak Allah. Konsep ini memiliki implikasi signifikan dalam pendidikan agama Kristen, di mana transformasi ini harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari seorang Kristen, termasuk dalam cara mereka bertindak dan berbicara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegesis untuk memahami makna mendalam dari ayat-ayat Alkitab terkait. Analisis eksegetis menunjukkan bahwa kelahiran baru menuntut perubahan etis dan hidup yang mencerminkan sifat Allah yang kudus. Selain itu, kedewasaan rohani diartikan sebagai kemampuan untuk menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian, seperti yang diajarkan Paulus kepada Timotius. Hasil dari penelitian ini menegaskan pentingnya pendidikan agama Kristen dalam membentuk individu yang tidak hanya memahami doktrin, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Pendidikan ini diharapkan dapat menghasilkan generasi muda Kristen yang dewasa secara rohani, mampu menghadapi tantangan dunia dengan dasar iman yang kuat, dan berperan aktif dalam transformasi spiritual komunitas mereka.

Kezia Sri Ulina Br Ginting; Neli Gultom; Hottua Sihotang; Grecetinovitria Merliana Butar-butar

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2024 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Tafsiran Kitab Amos 3:3-5 menyajikan pesan yang mendalam tentang pentingnya kesetiaan dalam hubungan manusia dengan Allah. Amos menggunakan gambaran yang kuat untuk menegaskan bahwa hubungan yang erat dan harmonis dengan Allah memerlukan kesetiaan dan ketaatan yang harus disepakati oleh Bersama . Dalam konteks sosial dan politik pada masa Amos, di mana ketidakadilan dan penyembahan berhala merajalela, pesan Amos menjadi relevan karena menyoroti konsekuensi dari ketidaksetiaan terhadap Allah. Kesetiaan dalam hubungan dengan Allah bukan hanya aspek spiritual, tetapi juga memengaruhi hubungan horizontal antar sesama manusia. Dengan memahami dan mematuhi prinsip kesetiaan ini, umat dapat merasakan berkat dan perlindungan Allah dalam kehidupan mereka.

Sundari Sinaga; Alda Safitri Manalu; Pirmando Mendrofa; Stevania Yolanda Si Manullang

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2024 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam meningkatkan ketaqwaan beribadah siswa IX. Kunjungi sekolah menengah pertama. Masa remaja merupakan masa kritis dalam pembentukan jati diri dan nilai-nilai spiritual, dan ketaatan beribadah pada masa ini seringkali menghadapi berbagai tantangan dan pengaruh lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metodologi studi kasus untuk memahami secara mendalam pengalaman dan cara pandang guru PAK dan remaja pelajar mengenai upaya membangun loyalitas beribadah. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara mendalam terhadap guru  dan siswa PAK, serta analisis dokumen terkait. Temuan penelitian mengungkapkan beberapa peran penting guru PAK dalam meningkatkan kesetiaan beribadah di kalangan remaja: (1) membangun hubungan yang positif dan saling percaya dengan siswa; ) mengintegrasikan nilai-nilai iman Kristen ke dalam proses pembelajaran, (3) ) mengamalkan secara aktif dan pendekatan pembelajaran terletak, dan  (4) memberikan dukungan dan bimbingan spiritual kepada individu. Temuan ini menyoroti pentingnya peran guru PAK sebagai panutan, pembimbing, dan pembimbing spiritual bagi generasi muda dalam menumbuhkan komitmen beribadah yang kuat dan bermakna.

Adi Rahmat Sihombing; Ayu Nopita Sigalingging

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2024 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Abstrak Pacaran adalah hubungan khusus antara dua orang yang bertujuan untuk saling mengenal lebih dalam. Namun, pacaran di era modern sering kali menghadapi tantangan seperti pengaruh negatif dari teknologi, gaya hidup bebas, dan tekanan sosial yang tinggi. Masalah seperti kehamilan remaja, penyakit menular seksual, dan hubungan yang tidak sehat kerap muncul akibat kurangnya pemahaman dan penerapan nilai-nilai moral yang kuat.Pacaran yang sehat harus berlandaskan firman Allah dan mematuhi perintah-Nya, menghindari perilaku yang melanggar norma kesusilaan dan agama. Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki peran penting dalam membimbing pemuda untuk menjalani pacaran yang sesuai dengan prinsip-prinsip iman Kristen. PAK memberikan dasar moral dan spiritual yang kuat, membantu pemuda mengatasi pengaruh negatif dari perkembangan teknologi dan gaya hidup modern. PAK juga berfungsi untuk membentuk karakter dan iman yang teguh, sehingga hubungan pacaran dapat dijalani dengan integritas dan komitmen yang tinggi. Pacaran yang benar harus berorientasi pada kasih kepada Allah, menghormati tubuh sebagai bait Roh Kudus, dan menjunjung tinggi kesucian. PAK membimbing pemuda dalam menerapkan nilai-nilai Kristiani seperti kasih, kesetiaan, dan penghormatan dalam hubungan pacaran, sehingga tercipta hubungan yang sehat, berkelanjutan, dan memuliakan Allah.