Publication Search

71,387 articles from 644 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 31

Analytics

Siska Si'ki; Veronika Resta; Desmiati Pea; Jheane La'bi; Desrima Natalia Belopadang

Jurnal Pendidikan Dirgantara 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Indonesia

Modern students face high academic, social, and personal pressures, but Christian Religious Education has not yet maximized the potential of religious-based resilience. This study aims to: (1) analyze how the biblical values of faith, hope, and love can strengthen the components of students' psychological resilience in the cognitive, emotional, and spiritual dimensions; and (2) identify the integration mechanism between biblical teachings and psychological strategies in Christian Religious Education learning that can increase students' resilience in facing academic and personal stress. The method used is descriptive qualitative with a literature study approach to various journals, articles, and related academic sources. The results of the study show that the biblical values of faith, hope, and love are fundamental pillars that strengthen students' psychological resilience as a whole. Faith provides a foundation of self-confidence and personal competence, hope activates optimism and sustained motivation, while love builds healthy social relationships and essential emotional support. These three values work synergistically to strengthen students' emotional regulation, problem analysis, empathy, and self-efficacy. The deep integration of biblical teachings and psychology in PAK learning through biblical narratives, secure parenting relationships, supportive communities, and reflective feedback has proven effective in holistically improving student resilience. In conclusion, PAK learning that explicitly integrates biblical values with psychological resilience strategies is a transformative instrument for shaping students into individuals who not only perform well academically but are also spiritually strong, psychologically resilient, and ready to face complex life situations in accordance with the principles of 1 Corinthians 13:13 regarding faith, hope, and love

Rizal Rizal; Susi Yerni; Yonita Lestari Ndun

Tri Tunggal: Jurnal Pendidikan Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

The church, as the body of Christ, carries a vital responsibility in shaping the congregation’s understanding of biblical doctrine as the foundation of a sound life of faith. However, in practice, there remains a gap between the theological instruction provided and the congregation’s actual comprehension in daily life. This study aims to analyze the level of understanding among local congregations regarding biblical doctrine, identify the factors influencing this understanding, and examine the discrepancies between teaching and its application in everyday life. This research employs a qualitative approach using a library research method, focusing on the examination of biblical texts, theological works, and relevant academic literature. The findings indicate that the congregation’s level of understanding of biblical doctrine varies and is influenced by internal factors such as spiritual motivation and faith experience, as well as external factors such as the quality of teaching and ecclesiastical leadership. The gap between teaching and understanding is attributed to the lack of contextual and interactive learning methods. This study underscores the importance of continuous and dialogical theological formation within local churches so that congregants may not only comprehend doctrine cognitively but also embody it practically in faith and action. These findings are expected to enrich the field of practical theology and serve as a reference for developing faith education within the church.

Novianti, Delpi

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Relativisme sebagai pandangan filsafat modern menolak adanya kebenaran yang absolut, termasuk dalam ranah keagamaan dan moralitas. Dalam konteks pendidikan Kristen, pemikiran ini menjadi tantangan serius karena menggoyahkan dasar epistemologis iman yang menegaskan bahwa Allah adalah sumber kebenaran sejati. Relativisme menempatkan manusia sebagai ukuran kebenaran, sehingga setiap pandangan dianggap sah menurut keyakinan pribadi, budaya, atau pengalaman masing-masing. Akibatnya, nilai-nilai objektif yang bersumber dari wahyu ilahi semakin kabur di tengah sistem pendidikan yang cenderung menekankan kebebasan berpikir tanpa batas moral. Tantangan ini meliputi tiga dimensi utama: penolakan terhadap kebenaran absolut, pandangan bahwa semua agama sama, dan keyakinan bahwa kebenaran bersandar pada pengalaman subjektif. Ketiganya menyebabkan peserta didik kehilangan arah moral dan spiritual yang jelas. Pendidikan Kristen dituntut untuk merespons dengan menegaskan kembali kebenaran yang bersumber dari firman Tuhan, memperkuat kemampuan berpikir kritis berbasis iman, serta mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai Alkitabiah dalam seluruh bidang ilmu. Guru Kristen memiliki peran strategis dalam menanamkan keyakinan bahwa Kristus adalah kebenaran yang hidup dan tidak berubah di tengah dunia yang terus bergeser secara ideologis. Dengan demikian, pendidikan Kristen bukan hanya berfungsi mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan cara pandang dunia yang berakar pada kebenaran Allah yang kekal, sebagai jawaban terhadap arus relativisme yang mengaburkan makna sejati dari kebenaran.

Sari, Kezya Wandha Wulan; Sari, Dwi Novita

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas pemanfaatan lagu sebagai alat bantu dalam menghafal cerita Alkitab pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) di kelas IV SD Kristen 03 Wonosobo. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya daya ingat siswa terhadap isi cerita Alkitab yang disampaikan secara konvensional melalui metode ceramah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian tindakan kelas (action research), yang dilaksanakan dalam dua siklus tindakan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode lagu dapat meningkatkan daya ingat siswa terhadap isi cerita Alkitab. Siswa menjadi lebih antusias, aktif, serta mampu menceritakan kembali isi cerita dengan lebih runtut dan lengkap. Penerapan lagu terbukti membantu siswa memahami isi cerita Alkitab secara lebih menyenangkan dan bermakna. Selain itu, metode ini juga memperkuat keterlibatan emosional dan sosial siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, lagu dapat dijadikan sebagai alternatif metode pembelajaran yang efektif dan kreatif dalam pengajaran PAK, khususnya untuk materi berbentuk naratif seperti cerita Alkitab.

Darmaka, Benediktus James Widya; Sutopo, Yohanes Eddie; Purwanto, Philipus

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Air memiliki peran penting dalam banyak narasi di dalam Perjanjian Lama, berfungsi sebagai simbol yang kuat dari penciptaan, pemurnian, dan pembebasan. Penelitian ini mengkaji simbolisme air yang multifaset, menjelajahi implikasi spiritual, sosial, dan ekologisnya dari kisah penciptaan hingga pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Dengan menggunakan analisis kualitatif terhadap teks-teks alkitabiah dan interpretasi ilmiah yang relevan, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna yang lebih dalam dari air dalam narasi-narasi ini dan bagaimana makna tersebut beresonansi dengan isu-isu kontemporer terkait keberlanjutan dan pengelolaan sumber daya. Temuan menunjukkan bahwa simbolisme air melampaui konteks alkitabiah, menawarkan wawasan tentang tantangan modern terkait dengan kelangkaan air dan pengelolaan lingkungan.

Adi Suhenra Sigiro; Fitri Lyli Septiani Sitompul; Andhika Sinaga; Pirianus Mom

Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Transformational leadership is an approach that emphasizes inspiration, empowerment, and individual development in order to achieve organizational goals holistically. This study aims to examine the concept of transformational leadership theoretically, while reviewing its application in the context of general organizations and churches, and its relevance according to the biblical perspective. Using the literature study method, this study collected data from various scientific literature and theological sources to build a solid conceptual framework. The results of the study indicate that transformational leadership has significant benefits, such as increasing employee engagement, innovation, and performance. On the other hand, this approach also has limitations, especially in the context of organizations that are bureaucratic or still in the early stages of formation. From a biblical perspective, transformational leadership is in line with the examples of Deborah and Jesus Christ, who led through service, example, and personal transformation. Thus, transformational leadership is not only relevant to the development of modern organizations, but also has a strong spiritual basis in Christian teachings.

Simanjuntak, Erwin Andayani; Sutrisna, Ayu

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Pendidik memiliki tanggung jawab yang besar dalam membentuk generasi penerus bangsa. Di Indonesia, tantangan dunia pendidikan masih sangat kompleks, mulai dari rendahnya kualitas lulusan, lemahnya karakter, hingga maraknya kasus kekerasan dalam pendidikan. Amsal 22:6 memberikan dasar teologis bahwa pendidikan adalah usaha membimbing anak sesuai jalan yang benar agar tetap bertahan hingga dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran pendidik dalam mengoptimalkan potensi peserta didik di SMP Nasional Plus BPK Penabur Bogor dengan perspektif Alkitabiah. Penelitian menggunakan metode kualitatif studi kasus melalui wawancara daring dengan siswa, guru, dan orang tua, serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab pendidik bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, mengembangkan bakat, dan menciptakan suasana belajar yang kondusif. Optimalisasi dilakukan melalui kurikulum berbasis Kristiani, kegiatan ekstrakurikuler, serta pembiasaan karakter. Penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara pendidik, orang tua, dan sekolah dalam membentuk generasi yang berkarakter, beriman, dan berkompetensi.

Molu, Serlina Baba; Sukarna, Timotius; Windarti, Maria Titik

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran gembala dalam menumbuhkan iman jemaat berdasarkan Mazmur 23:1–6. Gembala dalam konteks Alkitab dipahami sebagai figur yang menuntun, melindungi, dan memelihara umat Allah, yang dalam pelayanan gereja diterjemahkan melalui pengajaran, konseling, teladan hidup, dan strategi pastoral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, di mana data diperoleh melalui studi literatur, observasi, wawancara, dan dokumentasi di lingkungan Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) Sanggabuana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gembala memiliki peran penting sebagai teladan rohani, pembimbing iman, serta fasilitator transformasi jemaat melalui strategi penggembalaan yang efektif. Peran ini berdampak pada meningkatnya kesetiaan, kerendahan hati, serta keteguhan iman jemaat dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pertumbuhan iman jemaat sangat ditentukan oleh kualitas penggembalaan yang dijalankan oleh gembala sidang secara konsisten dan kontekstual.

Hatmoko, Haru; Windarti, Maria Titik

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Profesi guru dalam perspektif pendidikan modern dipahami bukan sekadar sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai agen transformasi moral, etika, dan spiritual. Dalam konteks pendidikan Kristen, peran guru semakin signifikan karena dipanggil untuk menghadirkan teladan Kristus dalam seluruh aspek kehidupannya. Penelitian ini mengkaji relevansi keteladanan Yesus dalam Yohanes 13:13–16 dengan praktik pendidikan guru agama Kristen di sekolah. Teks ini menampilkan Yesus yang membasuh kaki murid-murid-Nya sebagai simbol kerendahan hati, kasih, dan pelayanan, yang menjadi dasar teologis bagi peran guru Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologis dan pendidikan, melalui studi pustaka dan wawancara dengan guru-guru di SMA PGRI 22 Serpong. Hasil penelitian menunjukkan lima temuan utama. Pertama, teladan guru Kristen berfungsi sebagai model nyata yang membentuk iman dan karakter siswa. Kedua, praktik mentoring dalam perspektif Alkitab menegaskan pentingnya relasi personal dalam pendidikan iman. Ketiga, keteladanan Yesus menampilkan dimensi servant leadership yang relevan bagi kepemimpinan guru Kristen. Keempat, integritas guru Kristen menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan karena konsistensi hidup lebih berpengaruh daripada sekadar instruksi verbal. Kelima, keteladanan Yesus tetap relevan di era modern karena mampu menuntun peserta didik menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi dengan iman yang tangguh. Dengan demikian, guru agama Kristen dipanggil untuk melayani dengan kasih, rendah hati, dan penuh integritas, sehingga mampu membentuk generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus matang secara spiritual.

Turege, Lini Widia Astrid; Zasa, Elia Umbu; Rezeki, Sri

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Project Based Learning (PjBL) merupakan model pembelajaran inovatif yang menekankan keterlibatan aktif peserta didik melalui pengerjaan proyek nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Model ini diyakini mampu memadukan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna sekaligus meningkatkan keterampilan kolaboratif siswa. Sejumlah penelitian terdahulu menegaskan efektivitas PjBL, antara lain dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis, serta motivasi belajar siswa. Dalam konteks pendidikan Kristen, nilai-nilai kerja sama, kerendahan hati, dan kebersamaan yang diajarkan Rasul Paulus dalam Filipi 2:1–11 memiliki relevansi kuat dengan prinsip PjBL. Nilai sehati sepikir, rendah hati, dan menanggung bersama menjadi fondasi penting dalam membangun kerja sama kelompok yang sehat.Namun, realitas di SMA Bhakti Insani menunjukkan bahwa implementasi PjBL belum optimal. Siswa masih menunjukkan sikap pasif, kurang fokus, serta minim kerja sama baik dengan guru maupun teman sebaya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji lebih jauh implementasi PjBL yang diintegrasikan dengan nilai-nilai Alkitabiah dalam meningkatkan kerja sama siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik observasi, kuesioner, dan wawancara terhadap 80 responden. Hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh signifikan PjBL terhadap peningkatan kerja sama siswa, dengan korelasi sebesar 0,940 dan kontribusi pengaruh mencapai 94%.Temuan ini menegaskan bahwa PjBL dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kerja sama siswa apabila dijalankan sejalan dengan nilai-nilai Kristiani. Dengan demikian, PjBL tidak hanya melatih keterampilan akademik dan kolaborasi, tetapi juga membentuk karakter siswa yang berlandaskan kasih, kerendahan hati, dan kebersamaan

Gifani, Eyricha; Yuspratiwi, Grace

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Budaya dan gereja merupakan dua hal penting yang tidak dapat terpisahkan. Terdapat tradisi, kebiasaan dan prinsip-prinsip sosial yang berlaku dalam masyarakat pada setiap kebudayaan yang bersesuaian dengan ajaran gereja menjadi dorongan oleh penulis untuk menyusun penelitian ini. Melalui karya ilmiah ini, diharapkan dapat menggali, menemukan, selanjutnya menyajikan nilai dari prinsip sosial masyarakat Mamasa yakni sitayuk, sikamase, sirande maya-maya sebagai sebuah kearifan local salah satu budaya yang memiliki makna teologis sebagaimana menurut hipotesa penulis bersesuaian dengan prinsip-prinsip persekutuan bergereja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif hasil observatif dan studi literatur. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat membawa gereja yang ada dalam masyarakat atau wilayah Mamasa untuk dapat menilai prinsip sosial ini sebagai prinsip yang Alkitabiah sehingga senantiasa dapat melestarikannya dalam menjalani kehidupan baik bermasyarakat maupun bergereja.

Suy, Ina Naomi; Mujiono, John Gershom; Setiawan, Yusak Agus

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peranan guru menurut perspektif Alkitab, khususnya Amsal 23:19–29, dalam mengatasi kenakalan peserta didik di SMP Bhakti Insani Bogor. Fenomena kenakalan remaja di sekolah menjadi tantangan serius yang memerlukan pendekatan holistik, baik dari aspek pendidikan formal maupun nilai-nilai iman. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan guru dalam perspektif Amsal mencakup tiga dimensi utama. Pertama, guru berperan sebagai pengarah jalan yang benar, yakni memberikan bimbingan moral, spiritual, dan sosial agar peserta didik menghindari perilaku yang merugikan diri dan lingkungan. Kedua, guru berperan sebagai pendidik dengan dedikasi, yang diwujudkan melalui perhatian, pengajaran yang membangun karakter, dan keteladanan hidup. Ketiga, guru berperan sebagai penasihat yang mendorong peserta didik menghindari pertengkaran, melatih pengendalian diri, serta membangun relasi yang sehat dengan sesama. Temuan ini menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Amsal 23:19–29 relevan untuk diterapkan dalam konteks pendidikan modern, khususnya dalam pembinaan perilaku siswa. Dengan demikian, penerapan prinsip-prinsip biblis dalam peranan guru dapat menjadi strategi efektif dalam mencegah dan mengatasi kenakalan peserta didik, serta membentuk karakter yang takut akan Tuhan, bertanggung jawab, dan mampu hidup harmonis di tengah masyarakat.

Telaumbanua, Frendling Juliaman; Olis, Olis

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Revolusi Industri 4.0 mendorong lahirnya Pendidikan 4.0 yang terintegrasi dengan teknologi digital. Perubahan ini berdampak signifikan pada seluruh sistem pendidikan, termasuk Pendidikan Agama Kristen (PAK). PAK memiliki mandat unik, yaitu membentuk manusia seutuhnya berdasarkan nilai-nilai Alkitab, sehingga harus responsif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan integritas teologisnya. Tantangan utama terletak pada keterbatasan kompetensi guru dalam mengintegrasikan teknologi dengan pendekatan pembelajaran yang relevan. Dalam konteks ini, pembelajaran adaptif muncul sebagai strategi pedagogis yang menyesuaikan metode, materi, dan tempo dengan karakteristik peserta didik. Melalui pembelajaran adaptif, guru PAK dapat memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pengalaman belajar yang kontekstual, personal, dan bermakna.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka, mengkaji literatur terkini terkait PAK, pembelajaran adaptif, dan teknologi pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran adaptif dan teknologi dalam PAK mampu menjawab tantangan Pendidikan 4.0 dengan memfasilitasi diferensiasi pengajaran, penilaian formatif, dan kolaborasi lintas pihak. Teknologi berperan sebagai medium strategis untuk menyampaikan nilai iman dengan cara yang kreatif dan relevan, sementara pembelajaran adaptif memastikan relevansi materi sesuai kebutuhan peserta didik yang beragam.Kesimpulannya, PAK adaptif berbasis teknologi bukan hanya alternatif metodologis, tetapi strategi strategis yang harus dikembangkan secara berkelanjutan. Dengan dukungan kompetensi guru, infrastruktur teknologi, serta sinergi antara sekolah, gereja, dan keluarga, PAK dapat menjadi sarana pembentukan generasi Kristen yang matang secara intelektual, spiritual, dan moral di tengah dinamika global abad ke-21.

Adel N.Tafuli; Irma Ninu; Sakti N.U.Saingu; Aplonia S.Liu; Christofel Saetban

Sukacita : Jurnal Pendidikan Iman Kristen 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Penelitian ini mengkaji implementasi pendidikan karakter Kristen dalam keluarga di era kontemporer yang menghadapi berbagai tantangan globalisasi. Menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis, penelitian ini menganalisis landasan teologis, konsep teoretis, dan strategi implementasi pendidikan karakter Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter Kristen memiliki fondasi yang kuat dalam konsep Imago Dei dan mandat Alkitabiah, khususnya Ulangan 6:6-7 dan Efesus 6:4. Keluarga berfungsi sebagai ecclesia domestica yang menjalankan fungsi kerygma, koinonia, leiturgia, dan diakonia dalam pembentukan karakter anak. Nilai-nilai fundamental seperti buah Roh (Galatia 5:22-23) menjadi karakteristik utama yang perlu ditanamkan melalui metodologi keteladanan, pendekatan naratif, disiplin redemptif, dan ritual keluarga. Namun, tantangan kontemporer seperti sekularisasi, relativisme moral, teknologi digital, perubahan struktur keluarga modern, dan pluralisme agama memerlukan strategi adaptif. Penelitian ini memperkenalkan Teori Transformasi Karakter Holistik (TKTH) yang mengintegrasikan dimensi teologis-antropologis, psiko-sosial, pedagogis-metodologis, dan komunal-ekosistemik. Revitalisasi pendidikan karakter Kristen dalam keluarga menjadi kebutuhan mendesak untuk membentuk generasi dengan fondasi moral dan spiritual yang kuat di tengah dinamika perubahan sosial yang cepat.

Putri, Regina Dian Larasati; Masnuna; Sri Wulandari

JURNAL ILMIAH KOMPUTER GRAFIS 2025 UNIVERSITAS STEKOM

Children's Storybook "What's Around Ami?" is designed as an educational medium incorporating Biblical values for children aged 4-7 years. Utilizing an anthropomorphic approach and lamb symbolism as its main character, this study aims to create easily understandable character designs. The design methodology includes market observation, interviews with child psychologists and teachers, literature studies on anthropomorphism, and questionnaires to validate character designs. According to child psychologist interviews, children show greater preference for animal characters. This book simplifies complex spiritual concepts while serving as an interactive and engaging solution for parents and educators to teach Christian morals and faith.

Anton Sitorus; Rencan C. Marbun

Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi 2025 International Forum of Researchers and Lecturers

This article aims to explore how the relationship between God and humans (Creator and creation) in relation to their responsibilities as humans to try to keep the earth free from damage that will certainly harm humans themselves. Humans as God's partners on earth are also given a mandate to keep the earth good as in the creation narrative that everything created by God is truly very good. It turns out that the narrative was ignored and turned bad. Humans who were given reason by God, turned out not to use their reason well. Humans who were given a mandate to protect nature well, instead exploited nature arbitrarily. So, nature cannot be friendly with humans, so that lately we have felt the very high heat of the sun and it stings the skin sharply. It is very clear that the heat of the sun that shines is not like the heat that was some time ago not as hot as recently. Perhaps this is the cause of global warming. The world is getting hotter because the ozone layer can no longer withstand the hot and dangerous ultraviolet rays (sun). There is no doubt, global warming will be a universal disaster that will slowly but surely destroy this "very good" world. But whether we realize it or not, this is the result of human actions: deforestation and illegal logging, the greenhouse effect, the use of air conditioning are the causes. Will the world return to chaos because of human activities? In fact, God created this world which was originally chaotic to be good, even very good, in accordance with His purpose to proclaim His glory. Therefore, let's be colleagues with Allah who has been given the mandate in this world to maintain the goodness of this world.

Melda Greace; Ronauly Marbun

Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi 2025 International Forum of Researchers and Lecturers

The resurrection of the body is a key foundation of the Christian faith, as it demonstrates the power of Jesus to overcome death and sin, and provides hope for life after death for His followers. This teaching is clearly presented in the Bible. Many people wonder about the condition of the soul after death. Whether the resurrection of the body is in accordance with the teachings of the Bible, how the resurrection process takes place, whether there is a difference between the resurrection for believers and unbelievers. This article therefore aims to provide an in-depth insight into the concept of bodily resurrection in the Bible, including key verses. The glorious resurrection of the body is the essence of Christian hope and a promise that changes the way believers view life and death. By understanding the Bible's teaching on resurrection, Christians can find comfort, motivation, and purpose in their lives, as well as confidence in a future filled with promise and glory. This article is expected to be a source of reflection and a deeper understanding of the resurrection of the body in the context of Christian faith.” This writing is done using a descriptive qualitative method, which is using literature from books or journal articles that have been made. The Bible teaches that death is not the end of everything, but rather a transition to the promised resurrection. This concept is rooted in the resurrection of Jesus.

Selviana Ina Kii; Riste Tioma Silean

Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi 2025 International Forum of Researchers and Lecturers

Social changes due to technological advancements have transformed the way people relate and associate with one another. Relationships can now be developed more easily, more affordably, and more quickly. As a community, the church is "forced" to re-evaluate whether the methods of learning and faith formation that have been applied so far still meet the needs of today’s congregation. Using a qualitative method with a literature-based approach, the researcher investigates the biblical perspective on this issue and finds that close relationships among members are a key indicator in learning and faith formation, as exemplified by the early church. Bringing the church back to its original design as the family of God (oikos), while utilizing current technological advancements, will make the church a constructive place for learning and nurturing the faith of its members.

Adi Suhenra Sigiro; Debora Retinawati Nababan; Desy Mariana Siringoringo; Bernard Urarasaru

Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi 2025 International Forum of Researchers and Lecturers

This article examines theoretically about visionary leadership starting from the definition, benefits, weaknesses, and biblical views on visionary leadership. This research uses a library research approach. Visionary leaders are able to formulate a vision of the future, inspire commitment, and lead innovative change. The benefits include encouraging innovation and adaptive culture, but there is a risk of dependence and lack of attention to short-term needs. From a Christian perspective, visionary leadership stems from a relationship with God, where vision is divine revelation manifested through prayer and obedience. Biblical figures such as Nehemiah, Joshua, and Moses are examples of visionary leaders who combine faith and strategy. In conclusion, effective visionary leadership must balance strategic and spiritual vision for the success of the organization and community.

Adi Suhenra Sigiro; Putri Yulia Citra Br. Berutu; Berlina Simatupang; Fritcen Vanny M Pardede

Tri Tunggal: Jurnal Pendidikan Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Leadership plays a crucial role in organizational effectiveness, especially in creating work synergy, building motivation, and facing the challenges of change. This article discusses in depth the type of charismatic leadership that has a strong personal appeal and influence on followers. Through the method of literature study and descriptive approach, this article explores the basic concept of charismatic leadership, its benefits, advantages, and disadvantages. Charismatic leaders are able to build strong emotional relationships, increase loyalty, and create an innovative work environment. However, this leadership style also carries risks, such as excessive dependence on the leader and the potential for a cult of personality. Charismatic leadership is biblical leadership.