SciRepID - Scientific Publication Search

Publication Search

50,562 articles from 425 journals · 1,447 citations tracked

Showing 61-80 of 108

Analytics

Adib Aushaf; Diyan Yusri; Abdullah Sani

Journal of Creative Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Sexual crimes against minors are increasingly prevalent and are even at an alarming stage, so that the Government deems it necessary to take a stand. This type of research is field research. Field research research. namely a research that is carried out systematically by raising existing data in the field. Methods of data collection by way of observation, interviews and documentation. The data obtained is then processed by reducing data, presenting data, and making conclusions. The results of the study show that chemical castration is a form of criminal punishment. This punishment is appropriate because Islamic law recognizes tadzir punishment. Current criminal law policies in efforts to protect children related to sexual crimes are contained in Law Number 17 of 2016 concerning ratification of Regulation in lieu of Law Number 1 of 2016 concerning the second amendment to Law Number 35 of 2014 concerning the first amendment to Law Number 23 of 2002 concerning Child Protection. Sexual crimes against children that occurred in North Binjai District, Binjai City are a form of crime that violates positive law. In the perspective of the Muslim community in North Binjai District, Binjai City stated that they agree to the application of chemical castration sanctions for perpetrators of sexual crimes against children.

Fajar Siddiq; Puji Isyanto; Dini Yani

Jurnal Manajemen dan Ekonomi Bisnis 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Kantor Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Karawang merupakan instansi pemerintahan yang memiliki peran penting dalam pengendalian jumlah penduduk yang ada di kabupaten karawang melalui program keluarga berencana (KB). Kerja Praktik dilaksanakan dengan cara magang kerja disuatu instansi atau perusahaan didaerah Karawang terkait dengan tujuan memberi wawasan kepada mahasiswa tentang dunia kerja yang sebenarnya. Laporan Kerja Praktik ini bertujuan untuk mengetahui Disiplin Kerja pada Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana. Salah satu indikasi rendahnya kualitas Pegawai Negeri Sipil Daerah tersebut adalah adanya pelanggaran disiplin yang banyak dilakukan oleh Pegawai Negeri Sipil Daerah. Metode dasar dalam memperoleh data yaitu dengan cara wawancara langsung, pengamatan, serta observasi langsung ke lapangan. Hasil laporan Kerja Praktik ini menunjukkan bahwa kondisi tingkat kedisiplinan pegawai pada Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Karawang sudah cukup baik, walaupun didapati beberapa pegawai yang masih belum menjalankan tugasnya sesuai dengan job desk, dan terdapat beberapa pegawai datang dan pulang tidak sesuai dengan jam dan waktu yang sudah ditentukan oleh Dinas. Kendala yang dihadapi oleh seorang Pegawai Negeri Sipil dalam Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil adalah Kurang tegasnya Sanksi yang diberikan oleh Pejabat yang berwenang serta lunturnya Kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil. Adapun penyelesaian permasalahan tersebut ialah dengan memberikan sanksi dan tindakan yang lebih tegas terhadap setiap pelanggaran agar setiap pegawai bisa lebih Disiplin lagi dalam segala hal dan dapat memberikan efek jera agar Pegawai yang lain tidak meniru atau melakukan pelanggaran serupa atau lebih berat lagi.

Rezha Zulfikar Abdillah; Muhamad Ridwan; Sumriyah Sumriyah

Jurnal Hukum dan Sosial Politik 2023 International Forum of Researchers and Lecturers

Jasa asuransi di Indonesia semakin lama semakin diminati oleh khalayak masyarakat umum di indonesia. Hampir setiap risiko transaksi menggunakan jasa asuransi telah menjadi kebutuhan hidup sebagaian masayarakat Indonesia, kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan asuransi tumbuh pesat dilihat dari jumlah premi yang berhasil dihimpun oleh perusahaan asuransi.oleh karena itu kepercayaan masyarakat terhadap asuransi harus didukung dengan perbaikan kinerja perusahaan asuransi. KUHP, KUHD dan UU No. 2 Tahun 1992 Tentang usaha perasuransian sebagaimana diperbaharui melalui UU No. 40 Tahun 2014 tentang Usaha Perasuransian memberikan perlindungan hukum terhadap konsumen pemegang polis asuransi. UU No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. UU Perlindungan Konsumen menetapkan tentang bagaimana perlindungan bagi perusahaan asuransi untuk memberikan perlindungan terhadap konsumen yang dilakukan oleh Perusahaan Jasa Asuransi. Sengketa yang dilakukan oleh perusahaan asuransi merupakan sebuah sengketa yang lazim untuk dialami oleh konsumen dikarenakan perusahaan jasa asuransi tidak mampu memberikan kewajiban yang menjadi sebuah hak oleh konsumen pemegang polis asuransi sehingga sudah seharusnya terdapat sanksi pidana bagi pelanggar UUPK termasuk bagi perusahaan asuransi.

Herminiastuti Lestari

JURNAL HUKUM, POLITIK DAN ILMU SOSIAL 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

The public's reaction to the rousing welcome from the former convict of sexual crimes against children with the initials SJ got a lot of attention. Sexual crimes against children which are special crimes have special treatment, both as victims and perpetrators. Because of its specificity, there is a separate treatment starting from the investigation, trial, sanctions, sentencing, also post-trial.After sentencing, the perpetrators are not automatically able to move freely in public, so that when a former convict appears in public, there is a reaction from the public. Normically or socially there is a restriction for former convicts of sexual crimes. This is related to the ethics that apply in society where sexual crime is an immoral act against children that should be protected by all parties, be it society, institutions or the government. Because it is related to the morals of the immoral act, the burden borne by the victim psychologically will affect the future of the child, so that the perpetrator of the crime cannot be accepted immediately to appear in public, thus causing sanctions after completion of sentencing

Andi Ashar

JURNAL HUKUM, POLITIK DAN ILMU SOSIAL 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

The National Health Insurance Program is the Government's effort to provide guarantees so that health services are provided to Participants in the National Health Insurance Program. In its implementation, there is a risk in the form of fraud committed by unscrupulous persons. The consequence of fraud is the imposition of sanctions which are an important part of every law and regulation. One of the imposition of sanctions for perpetrators of fraud is administrative sanctions. Administrative sanctions that arise do not erase criminal sanctions in accordance with the provisions of the legislation. Administrative sanctions are considered to be far more effective in forcing people to comply with legal provisions governing business and industry and environmental protection than criminal sanctions. With the imposition of these sanctions it is expected to maintain the sustainability of the National Health Insurance Program

Anita Atma Negara

JURNAL HUKUM, POLITIK DAN ILMU SOSIAL 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Sanctions are an important closing part in administrative law. In a sociological context, sanctions are a form of law enforcement effort. Law enforcement is a process to make legal wishes come true. The sanctions themselves can be in the form of criminal sanctions, civil sanctions, and also administrative sanctions. The purpose of this study is to find out the prosecution of people who do not use masks according to governor regulations and to find out the criminal status of people who are subject to administrative fines including criminal acts according to the article regarding the application of discipline to health protocols in the new era of life. This research method uses normative legal research methods. The results of the study show that the application of sanctions for violations of health protocols during the Covid-19 pandemic in Indonesia is regulated in various Mayoral or Governor Regulations of each region by imposing written warning sanctions, administrative sanctions, social sanctions and criminal sanctions on violators.

Resaka Yudha

JURNAL HUKUM, POLITIK DAN ILMU SOSIAL 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

The pandemic has an impact on almost all sectors of life. The emerging of the covid virus made everyone have to adapt to the new world rules. The health protocol is one way to control the COVID-19 disease. In other ways such as vaccination. In case no need a lot of cost, health protocols are also effective in reducing the number of cases of COVID-19. The implementation of the health protocol in its implementation is accompanied by sanctions to make the community more obedient. However, the unclear rules, and the frequent changes in these rules make many people who violate health protocols and get sanctions for it. Not to mention the uneven socialization from the government that makes people less disciplined towards health protocols.

Sutikni Sutikni; Heru Sulistiyo

Jurnal Akuntan Publik 2023 International Forum of Researchers and Lecturers

This study was conducted to determine the factors that affect tax payer compliance in Semarang such as taxation awareness, taxpayer motivation, taxpayer's economic level and attitudes of tax payers on the implementation of sanctions and fines on UMKM in Semarang.The population in this study is Mandatory UMKM in South Semarang active as many as 74 UMKM consisting of 6 area data obtained from the Department of Cooperatives and UMKM in Semarang. The sampling method was conducted by census method, that is the amount of tax payer population of UMKM in South Semarang was all used as sample in this research. The results showed there was a significant and positive influence between the consciousness of taxpayers have a positive effect on taxpayer compliance. partially there is no significant and negative influence between tax payer motivation has a positive effect on tax payer compliance, partial there is a significant and negative influence between the tax payer's economic rate have a positive effect on tax payer compliance, partially there is no significant and negative influence between mandatory attitude the tax on fine sanction strengthens the influence of taxpayer's awareness of taxpayer compliance, partially there is no significant and positive influence between taxpayer's attitude on the implementation of fine sanction strengthens the influence of taxpayer motivation on taxpayer compliance, there is no significant and positive influence between attitude the taxpayer on the fine sanction strengthens the influence of the taxpayer's economic level on taxpayer compliance.

Sri Juwita Putri; Qristiana Qristiana; Nadila Khairunisa; Alief Anugrah; Herli Antoni

Jurnal Hukum dan Sosial Politik 2023 International Forum of Researchers and Lecturers

In Article 80 of the Law on Environmental Protection and Management, it has been regulated regarding government coercive administrative sanctions aimed at stopping violations and taking action to restore environmental functions.  According to Law no.  32 of 2009 regarding the protection and management of the environment which is already stated in Article 1 paragraph (14) which states that environmental pollution is the entry or inclusion of living things.  The data analysis method used is qualitative with research results based on certain statutory norms related to environmental protection and management.  In Indonesia there have been several cases that are quite detrimental and endanger the region itself.  To protect the area from these things, the government also issued an Environmental Protection and Management Act aimed at protecting and preventing the environment from environmental crimes from irresponsible actors as well as informing or guiding local communities and entrepreneurs to protect their environment.  Fine criminal sanctions are carried out to overcome and restore the environment, and pay compensation to the government as an environmental supervisor.  The principle of ultimum remedium is applied here, namely criminal sanctions that are given after administrative sanctions have been given once to the perpetrators of crimes in the form of imprisonment and also fines.  Imprisonment sanctions as an ultimatum remedium support the enforcement of norms and strengthen administrative sanctions if they are not implemented optimally.

Wan Darmayan Achmayu

Jurnal Hukum dan Sosial Politik 2023 International Forum of Researchers and Lecturers

Whereas the legal regulation governing the Criminal Sanctions for Money Laundering of Narcotics Crimes is Article 2 of Law Number 8 of 2010 Concerning the Prevention and Eradication of Money Laundering Crimes paragraph (1) point 3 concerning Narcotics. The implementation of the implementation of the Criminal Sanctions for Money Laundering from Narcotics Crime is still overlapping and separate or simultaneous. This occurs both at the placement stage, the distribution stage, and the collection stage, so that handling becomes increasingly difficult and requires systematic and continuous capacity building. Factors constraining Criminal Sanctions for Money Laundering from Narcotics Crime are the Globalization Factor, the Rapid Technological Advancement Factor, the Very Strict Bank Confidential Provisions Factor of the Country Concerned. Therefore, stricter legal arrangements are needed in enforcing criminal sanctions for money laundering of the proceeds of narcotics crimes and should pay more attention to the principles of simple, fast and low-cost criminal procedural law so that the next stage of the judicial process can be carried out immediately.  

Aturida, Novia

DINAMIKA HUKUM 2023 Universitas Stikubank

In the juvenile justice process, there is a principle that states that the best interests of the child must be seen as of paramount importance (obtaining the highest level of priority) in every decision relating to children so that the safety and health of children can be realized. A child who abuses narcotics can be categorized as a victimless crime because his act of abusing narcotics harms his own person, so the child can also be said to be a victim of his own crime. That way, children who abuse narcotics have the right to be able to get rehabilitation and make imprisonment a last resort in the judicial process in accordance with the mandate of the Law on the Juvenile Criminal Justice System. However, in the decision of Decision Number 19/Pid.Sus-Anak/2020/PN Sgm, the panel of judges did not consider the position of children as legal subjects by not including the Law on the Juvenile Criminal Justice System and the Law on Child Protection in their considerations, so that they continued to sanction imprisonment without rehabilitation for children who use drugs. Thus, the purpose of this research is to find out the basis for judges' considerations not to impose rehabilitation on children who abuse narcotics in Decision Number 19/Pid.Sus-Anak/2020/PN Sgm and to analyze the sentencing contained in Decision Number 19/Pid.Sus-Anak/2020/PN Sgm when reviewed based on the Law on the Juvenile Criminal Justice System and the Child Protection Law. This research was conducted using a normative juridical method with a case approach. Sources of data in this study used secondary and primary data collected with library research data collection techniques, which were then analyzed descriptively and analytically with a qualitative approach. The results of the study concluded that the judge's consideration of not imposing rehabilitation on children who abuse narcotics in Decision Number 19/Pid.Sus-Anak/2020/PN Sgm because the child's qualifications as narcotics abusers do not meet one of the qualifications contained in SEMA Number 4 of 2010, namely that the weight of methamphetamine found was still under 1 (one) gram. In addition, the judge was not careful in imposing a sentence of 3 (three) months in prison without rehabilitation for a child as a narcotics abuser for himself because this did not comply with the provisions of Article 54 of the Narcotics Law, Article 81 Paragraph (1) and Paragraph (5) of the Law on the Juvenile Criminal Justice System, as well as Article 67 of the Child Protection Act.

Febrianti R.S Hubulo; Rona Febriyona; Dewi Modjo

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Dampak gadget pada anak yaitu anak menjadi seorang individualis selain itu adegan kekerasan yang anak lihat dalam game dan film serta pornografi memberikan efek negatif baik perilaku atapun kemampuan anak. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh bahaya gadget terhadap interaksi sosial pada siswa. Desain penelitian cross sectional dengan uji chi square. Jumlah populasi sebanyak 107 siswa dengan jumlah sampel sebanyak 38 siswa. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 15 siswa mengalami bahaya gadget dampak tinggi dengan interaksi sosial cukup sebanyak 9 siswa, hasil analisis chi square menunjukan nilai p=0,000<0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh bahaya gadget terhadap interaksi sosial pada siswa di SDN 12 Bongomeme. Saran diharapkan agar orangtua memberikan perhatian yang lebih pada anak dalam penggunaan gadget untuk mengurangi resiko kecanduan pada anak dan pihak sekolah membantu orangtua dalam memberikan pengawasan penggunaan gadget pada anak dengan cara memberikan sanksi apabila anak ditemukan membawa gadget disekolah.  

Sapwan Sapwan

Jurnal Hukum dan Sosial Politik 2023 International Forum of Researchers and Lecturers

Pelaku unjuk rasa anarkis dapat dimintai pertanggungjawaban pidana terhadap terjadinya kerusakan maupun korban baik korban luka apalagi korban jiwa. Penelitian ini tentang Analisis Yuridis Pertanggungjawaban Pidana Bagi Pelaku Anarkis dalam Unjuk Rasa dengan permasalahan apakah faktor-faktor penyebab terjadinya unjuk rasa anarkis dan bagaimanakah analisis yuridis pertanggungjawaban pidana bagi pelaku anarkis dalam unjuk rasa? Pendekatan penelitian ini yakni yuridis normatif  yang berdasarkan data sekunder yakni teori-teori hukum pakar dari literatur, buku-buku, rujukan internet. Faktor-faktor penyebab terjadinya unjuk rasa anarkis yakni  rasa kecewa pengunjuk rasa terhadap tuntutan, tidak dipatuhinya aturan hukum unjuk rasa, kurangnya antisipasi aparat keamanan, tindakan represif aparat keamanan, adanya provokator,  penggunaan alkohol dan obat terlarang, keinginan orang-orang tertentu untuk disebut pahlawan, keterlibatan orang-orang yang tidak memahami aturan pelaksanaan unjuk rasa,  keterlibatan orang-orang yang hanya sekedar ikut-ikutan, keterlibatan anak di bawah umur, adanya orang yang membawa senjata tajam, kurangnya antisipasi penanggung jawab unjuk rasa dan lemahnya pengamanan. Pertanggungjawaban pidana bagi pelaku anarkis dalam unjuk rasa dapat merujuk Pasal 16 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 bahwa pelaku atau peserta pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum yang melakukan perbuatan melanggar hukum, dapat dikenakan sanksi hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dimaksud antara lain Pasal 170 KUHP Pasal 406 dan Pasal  407 KUHP atau Pasal 212 dan Pasal 214 KUHP. Pertanggungjawaban pidana dapat diterapkan terhadap pelaku, yang menyuruhlakukan, turut serta melakukan dan pembantuan tindak pidana dalam unjuk rasa anarkis

I Made Raditya Mahardika

JURNAL HUKUM, POLITIK DAN ILMU SOSIAL 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

. Hukum pidana adalah salah satu alternatif dalam menyelesaiakn masyarakat dalam menghadapi permasalahan yang menyangkut hak asasi manusia. Hukuman pidana itu sendiri harus adanya pembuktian baru bisa menentukan hukum pidana. Pembuktian adalah bagian yang sangat  terpenting guna untuk menetapkan apakah seseorang yang disangkakan melakukan suatu tindak pidana bersalah dalam hal penganiayaan. Visum Et Repertum adalah suatu keterangan dokter yang memuat kesimpulan suatu pemeriksaan yang telah dilakukan misalnya atas penganiayaan seseorang untuk menentukan sebab penganiayaan dan lain sebagainya, keterangan mana diperlukan oleh hakim dalam suatu perkara. Tujuan Penelitian ini untuk menganalisis keberadaan Visum Et Repertum dalam proses pengadilan kasus penganiayaan. Metode penelitian menggunakan jenis  penelitian yuridis normative, maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Pendekatan perundang-undangan (statue approach) dan Pendekatan konseptual (conceptual approach).Data penelitian akan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian Proses pengadilan Hakim lebih mengutamakan keterangan Saksi-saksi dan Terdakwa, kemudian hakim membutuhkan alat bukti. Alat bukti yang dimaksud bukan hanya Visum et repertum bisa bukti yang lain dalam kasus ini pisau. Visum et repertum dalam proses pengadilan sebagai pendukung jadi bukan alat bukti utama, karena tanpa Visum et repertum, pengadilan tetap berjalan. Hal tersebut Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan kesalahan yang didakwakan kepadanya, prinsip batas minimum pembuktian, pasal 183 KUHAP, harus disertai alat bukti lain pasal 189 ayat (4) KUHAP. Pasal 189 ayat (1) KUHAP menyatakan bahwa yang menjadi alat bukti yang sah adalah keterangan terdakwa dalam sidang pengadilan. Pemyataan terdakwa diluar sidang pengadilan dapat dipergunakan untuk menemukan bukti disidang pengadilan (pasal 189 ayat (2) KUHAP), asalkan keterangan diluar sidang tersebut didukung oleh alat bukti yang lain yang sah dan mengenai hal yang didakwakan kepadanya. Kesimpulannya keberadaan Visum et repertum dalam proses pengadilan sebagai alat bukti pendukung untuk menilai kebenaran yang dihubungakan dengan keterangan terdakwa dan saksi. Pengadilan lebih diutamakan bukti dari keterangan terdakwa dan sanksi.    

Hilwatun Nazwah; Nera Marinda Machdar

Journal of Creative Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dan bertujuan untuk: (1) Menguji kesadaran wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak; (2) Menguji sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak; (3) Menguji pelayanan fiskus terhadap kepatuhan wajib pajak; (4) Menguji religiusitas dapat memoderasi pengaruh antara kesadaran wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak; (5) Menguji religiusitas dapat memoderasi pengaruh antara sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak; (6) Menguji religiusitas dapat memoderasi pengaruh antara pelayanan fiskus terhadap kepatuhan wajib pajak. Hasil penelitian menunjukkan : (1) Kesadaran wajib pajak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak; (2) Sanksi pajak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak; (3) Pelayanan fiskus berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak; (4) Religiusitas memperkuat pengaruh kesadaran wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak; (5) Religiusitas memperkuat pengaruh sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak; (6) Religiusitas memperkuat pengaruh pelayanan fiskus terhadap kepatuhan wajib pajak.

Yulianto, Yulianto; Wahyudi Santoso

Jurnal Universal Technic (UNITECH) 2022 Fakultas Teknik Universitas Maritim AMNI Semarang

MT. MPMT XV merupakan kapal tanker yang dalam kegiatan bongkar muat mengangkut mutan cair, sehingga rawan akan terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan pencemaran laut yang disebabkan oleh tumpahan minyak. Selama kurang dari 5 tahun terakhir ini banyak kejadian yang menyebakan terjadinya tumpahan minyak di wilayah Indonesia sehingga mengakibatkan pencemaran laut dengan kerugian yang tidak sedikit. Pencegahan terjadinya pencemaran laut harus dapat dilakukan oleh awak kapal MT. MPMT XV dengan melalui berbagai proses dan langkah-langkah yang harus satu tujuan antara perusaahaan dengan kapal, sehingga sanksi atau denda yang akan ditanggung oleh perusahaan bila terjadi pencemaran dapat dihindari. Tujuan penilitian ini untuk mengetahui cara pencegahan terjadinya pencemaran laut yang disebabkan oleh tumpahan minyak dan sanksi yang akan di tanggung oleh perusahaan bila terjadi pencemaran laut. Metode yang digunakan dalam penelitian dengan melakukan observasi, wawancara, kajian-kajian di lapangan dianalisis secara ilmiah, dan leterasi pustaka yang berasal dari berbagai sumber. Hasil dai penelitian ini meningkatkan keterampilan dan keilmuan awak kapal MT. MPMT XV sehingga tidak melakukan kesalahan dalam kegiatan bongkar muat yang dapat mengakibatkan pencemaran laut.

Ivan Aji Santoso

Jurnal Akta Notaris 2022 Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum UNTAG Semarang

Pasal 84 dan Pasal 85 Undang-Undang No. 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris mengatur bahwa ketika Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya terbukti melakukan pelanggaran, maka notaris dapat dikenai atau dijatuhi sanksi, berupa sanksi perdata, administrasi, dan kode etik jabatan Notaris, dan sanksi-sanksi tersebut telah diatur sedemikian rupa, baik sebelumnya dalam Peraturan Jabatan Notaris, dan sekarang dalam UUJN dan Kode Etik Jabatan Notaris, dan tidak mengatur adanya sanksi pidana terhadap Notaris. Dalam penerapannya berdasarkan Putusan Mahkamah Agung No. 1014 K/Pid/2013 bahwa terdakwa Notaris terbukti melakukan tindak pidana pemalsuan Akta Otentik, sehingga dijatuhi pidana penjara selama 8 (delapan) bulan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1) Bagaimana pengaturan hukum terkait pemalsuan akta yang dilakukan oleh Notaris; 2) Bagaimana pertanggungjawaban hukum oleh Notaris dalam pemalsuan akta; 3) Bagimana akibat hukum berita acara rapat yang dibuat tidak berdasarkan fakta oleh Notaris terhadap akta yang dibuatnya. Penelitian ini adalah penelitian Yuridis normatif dengan pendekatan yang dilakukan berdasarkan bahan hukum utama dengan cara menelaah teori-teori, konsep-konsep, asas-asas hukum serta peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penelitian. Hasil analisis disajikan secara Kualitatif. Data di lapangan diambil melalui wawancara dengan Notaris Senior di kota Semarang. Hasil Penelitian ini adalah peran Notaris dalam peralihan aset tersebut adalah Pengaturan hukum terkait tindak pidana pemalsuan diatur dalam Pasal 263 KUHP, 264 KUHP dan 266 KUHP. Indikator sehingga Notaris dapat dibebani pertanggungjawaban terhadap isi Akta Autentik yang dibuatnya adalah adanya kesengajaan maupun kelalaian notaris dalam pembuatan akta autentik. Lebih lanjut, bentuk pertanggungjawaban yang dapat dijatuhkan kepada Notaris terhadap isi Akta Autentik yang tidak sesuai dengan fakta, antara lain yaitu pertanggungjawaban Perdata, Pidana, dan Administrasi/Kode Etik. akta yang dibuat oleh Notaris tersebut batal demi hukum dikarenakan adanya unsur pemalsuan surat.

Widya Kristianti; Agus Nurudin

Jurnal Akta Notaris 2022 Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum UNTAG Semarang

Peraturan PPAT diatur dalam PP No. 37 Tahun 1998 Pasal 1, Pejabat Pembuat Akta Tanah, selanjutnya disebut PPAT adalah pejabat umum yang diberi kewenangan untuk membuat akta-akta otentik mengenai perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun. PPAT dalam menjalankan tugas jabatannya haruslah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dalam kode etik. Apabila produk yang dibuat itu cacat, maka dapat membuat PPAT tersebut dituntut oleh pihak terkait yang merasa dilanggar haknya ataupun dirugikan, selain itu PPAT tersebut dapat menjadi sebagai pelaku, turut tergugat atau tergugat dalam suatu peradilan dan apabila dalam membuat akta terdapat unsur-unsur tindak pidana maka PPAT dapat menjadi tersangka, bahwa PPAT tersebut dengan sengaja melakukan pemalsuan akta otentik. Permasalah bagaimana akibat hukum terhadap akta PPAT yang dibuat, sanksi apa yang harus diterima oleh PPAT setelah menyalahgunakan wewenangnya terhadap akta yang dibuat. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis empiris, sumber data yaitu data primer dan data sekunder, Spesifikasi penelitian bersifat deskriptif analitis, Analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif. Hasil penelitian menyatakan akta ppat yang cacat hukum dan mengandung unsur perbuatan melawan hukum dapat dibatalkan karena tidak dilakukan secara terang dan tunai. PPAT dinyatakan telah terbukti secara sah dan bersalah melakukan tindak pidana “memalsukan surat berupa akta otentik”maka Sanksi yang diterima PPAT yaitu sanksi administrasi dan dijatuhi pidana mengingat Pasal 264 ayat (1) Ke-1 KUHP.

Nurreka Sekar Arum; Meydika Wahista Putri

Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Ilmu Pendidikan 2022 Universitas Maritim AMNI Semarang

Penelitian ini memiliki tujuan studi guna meninjau pelanggaran yang dilakukan oleh ASN/PNS terhadap aturan asas netralitas yang telah diberlakukan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS yang telah dijelaskan bahwa para ASN dinyatakan secara tegas agar menghindari permasalahan kepentingan pribadi ataupun kelompok (golongan). Oleh sebab itu ASN/PNS tidak diperbolehkan melakukan perbuatan yang sebagaimana hal tersebut mengarah pada suatu perilaku yang membuktikan adanya partisipasi dalam politik. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melaksanakan penelitian kepustakaan dari bermacam-macam sumber yang relevan. Hasil studi menunjukkan bahwa bagi para ASN yang telah melakukan pelanggaran akan mendapatkan sanksi hukum berupa diberhentikan dengan paksa secara tidak hormat. Sebagaimana yang telah ditetapkan bahwa larangan PNS menjadi bagian daripada parpol juga diatur dalam PP Nomor 37 Tahun 2004. Hal ini untuk memastikan bahwa ASN tidak terlibat dalam politik dan tidak dipengaruhi oleh kelompok manapun sehingga dalam penyelenggaraan pelayanan publik tidak ada diskriminasi dan pengangkatan pejabat publik dilakukan saat ini independen, sehingga tidak relevan dengan konteks politik yang ada. Dengan demikian, berdasarkan penjelasan tersebut, asas netralitas khas ASN/PNS tetap dipertahankan dan tercermin dalam pelaksanaan tugas serta tanggung jawab sebagai aparatur Negara.

Achmad Basuki; Jaeni

KOMPAK : Jurnal Ilmiah Komputerisasi Akuntansi 2022 Universitas Sains dan Teknologi Komputer

The purpose of this study was to determine whether knowledge of taxation, firmness of sanctions, service quality of tax officers and the application of E-filling had a significant effect on individual taxpayer compliance at MSME Pratama South Semarang. The sample in this study were 100 respondents at KPP Pratama South Semarang. Methods of data collection using a questionnaire. Sampling method used is simple random sampling and the data analysis model used is multiple linear regression analysis. The results showed that knowledge of taxation, firmness of sanctions, service quality of tax officers, and the application of e-filling had an effect on MSME taxpayer compliance. Simultaneously, the variable knowledge of taxation, firmness of sanctions, service quality of tax officers and the application of e-filling affect the compliance of MSME taxpayers.