Publication Search

69,914 articles from 605 journals · 1,760 citations tracked

Showing 281-294 of 294

Analytics

Hafizh Ahmad Fajar Rizal Hadi; Zulfatuz Zakiyah; Izatil Hidayah Sajidah

Jurnal Ilmu Sosial, Bahasa dan Pendidikan 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Artikel ini memuat sebuah analisis yang berasal dari penelitian dengan metode etnografi yaitu melalui wawancara dengan tokoh Reog Ponorogo dan juga observasi Reog Ponorogo di Jember. Reog Ponorogo merupakan kesenian asli Ponorogo, Jawa Timur yang tersohor di Indonesia bahkan juga beberapa wilayah di dunia. Sebagai kesenian tradisional, Reog Ponorogo erat dengan sesuatu yang bersifat mistis dalam praktik kebudayaannya, seperti yang terjadi dalam upacara ritual yang biasa dilakukan. Ritual-ritual yang biasa disajikan merupakan perwujudan dari penghormatan kepada harimau yang digunakan sebagai ikon dari Reog. Dengan keadaan tersebut menjadikan Reog dapat diidentifikasi sebagai kesenian yang didalamnya memuat prinsip totemisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana kesenian Reog Ponorogo memuat keadaan yang merupakan bagian dari prinsip totemisme yang sejalan dengan praktik dasar dalam dasar kehidupan agama sebagaimana yang dijelaskan oleh Emile Durkheim. 

Irma Juliana; Nindi Laili Safitri; Wulan Fadillah

JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL 2023 CV. ALIM'SPUBLISHING

Tradisi dan adat-istiadat yang ada di Indonesia sangatlah beragam, budaya yang ada di indonesia adalah salah satu peninggalan sejarah yang harus kita lestarikan saat ini karena kehidupan yang menjadi lebih modern sedikit demi sedikit mengikis keberadaan budaya lokal. Dalam Sejarahnya, Indonesia merupakan masyarakat dengan banyak suku dan budaya yang memiliki kearifan lokal yang dilestarikan oleh masyarakatnya. Petik Laut menjadi salah satu tradisi yang ada di indonesia yang saat ini masih dilakukan tepatnya berada di Kecamantan Puger Kabupaten Jember.  Masyarakat puger beranggapan bahwa hasil dari alam sekitarnya merupakan sumber daya dan kunci dari kesejahteraan hidupnya. Maka dari itu, hal ini membuat beberapa masyarakat yang tinggal di daerah pesisir memiliki tradisi yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih dikarenakan sumber daya alam yang mereka dapatkan dari laut dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Masyarakat pesisir biasanya menggunakan ritual yang sudah menjadi tradisi turun - temurun sebagai ungkapan rasa syukur tersebut. Selain itu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pesisir ini juga sebagai doa atau harapan supaya hasil tangkapan ikan berlimpah dan juga mendapatkan keselamatan. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat Muharram atau Suro. Tradisi petik laut ini merupakan penggabungan dari kearifan lokal dan agama. Dalam tradisi Petik Laut terdapat doa - doa dan pembacaan ayat suci Al -Quran sebelum pada akhirnya sesaji dilarungkan ke laut.

Irma Juliana; Nindi Laili Safitri; Wulan Fadillah

JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL 2023 CV. ALIM'SPUBLISHING

Tradisi dan adat-istiadat yang ada di Indonesia sangatlah beragam, budaya yang ada di indonesia adalah salah satu peninggalan sejarah yang harus kita lestarikan saat ini karena kehidupan yang menjadi lebih modern sedikit demi sedikit mengikis keberadaan budaya lokal. Dalam Sejarahnya, Indonesia merupakan masyarakat dengan banyak suku dan budaya yang memiliki kearifan lokal yang dilestarikan oleh masyarakatnya. Petik Laut menjadi salah satu tradisi yang ada di indonesia yang saat ini masih dilakukan tepatnya berada di Kecamantan Puger Kabupaten Jember.  Masyarakat puger beranggapan bahwa hasil dari alam sekitarnya merupakan sumber daya dan kunci dari kesejahteraan hidupnya. Maka dari itu, hal ini membuat beberapa masyarakat yang tinggal di daerah pesisir memiliki tradisi yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih dikarenakan sumber daya alam yang mereka dapatkan dari laut dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Masyarakat pesisir biasanya menggunakan ritual yang sudah menjadi tradisi turun - temurun sebagai ungkapan rasa syukur tersebut. Selain itu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pesisir ini juga sebagai doa atau harapan supaya hasil tangkapan ikan berlimpah dan juga mendapatkan keselamatan. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat Muharram atau Suro. Tradisi petik laut ini merupakan penggabungan dari kearifan lokal dan agama. Dalam tradisi Petik Laut terdapat doa - doa dan pembacaan ayat suci Al -Quran sebelum pada akhirnya sesaji dilarungkan ke laut.

Nur Latifa Isnaini Putri

Journal of Management and Social Sciences (JIMAS) 2023 Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Yappi Makassar

Value that exists in a cultural customary ritual entity in a community environment, will not become a potential if its essence has not been determined. Essential marketing strategy is a marketing strategy that focuses on the core or basis of marketing. This study aims to find a marketing strategy to develop Sumenep based on culture that has been upheld by the people so far. This research is a qualitative research and uses a purposive method in selecting informants. Informants in this study were Pinggirpapas village community leaders, Pinggirpapas village community, and Pini Sepuh as traditional ritual leaders. The results of this study are a form of marketing essential values in Nyadar traditional rituals including; The Sanctity of Traditional Ritual Processions, Transformation of customary values between generations that bind as resilience to the psychological aspects of the residents, and the residents belief in the uniqueness of the ritual. While the economic strategy built by the residents is the inherent religious, cultural and economic values as well as the empowerment of economic values for processional products and a variety of local traditional and village culinary offerings. Furthermore, this research can become the basis for the government in developing the concept of city branding in Sumenep as an effort to increase the number of tourists visiting.

Robingun Suyud El Syam; M. Yusuf Amin Nugroho; Siti Lailiyah; Muhammad Saefullah

jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Artikel ini bertujuan untuk merefleksi satu abad nahdhatul ulama: dialektika capaian dan tantangan. Dengan menggunakan setting teoretik, penelitian menyimpulkan: bahwa Nahdhatul Ulama dalam satu abad, setidaknya memperoleh lima capaian: 1) sebagai organisasi pelestari tradisi, NU sukses mempertahankan diri sebagai organisasi dengan pengikut terbesar di Indonesia, bahkan dunia, 2) berhasil memainkan peran elok dalam percaturan politik Indonesia, dari pra-kemerdekaan, kemerdekaan, pasca kemerdekaan hingga saat ini, 3) dalam konteks pendidikan, berhasil mengintegrasikan sistem pendidikan modern dengan tetap mempertahankan identitas pesantren, 4) pada dimensi budaya, menjadi garda depan sebagai aktor pelestari kebudayaan berbasisi lokal, menjadi media dakwah 5) menjadi penyokong utama beragam agenda pemerintah, terkait isu radikalisme beragama di Indonesia, dan secara gemilang berhasil menjadi representasi Islam rahmatan lil alamin bagi dunia luar.  Adapun tantangan kedepan meliputi: 1) memiliki kelemahan di bidang ekonomi maupun SDM terutama terkait riset dan teknologi, 2) meski selalu berperan penting dalam setiap peristiwa politik Tanah Air, namun kerap ditinggal ketika berbicara sharing kekuasaan, 3) pesantren berhasil eksis hingga saat ini, namun masih kental asumsi hanya melahirkan ulama yang menguasai kitab kuning dan memimpin ritual keagamaan, perlu kurikulum yang berorientasi pada penguasaan teknologi informasi, 4) Secara ekonomi, masih basis massa berada di kelas menengah ke bawah sehingga pekerjaan besar ke depan menciptakan para saudagar baru di NU dengan memobilisasi etos pemberdayaan ekonomi.    

Budi Rahman Hakim; Fajrur Rahman

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

This study examines the genealogical transformation of the Neosufi order in Indonesia, focusing on the shift from a private-ritual institution to an active and open social movement in the public space. Through a qualitative approach based on literature study and hermeneutic analysis, this paper highlights how the Qadiriyah Naqsyabandiyah Order (TQN) Suryalaya represents a new form of Sufism that combines spiritual depth with collective social action. This transformation is seen in various fields, ranging from drug rehabilitation, Islamic boarding school education, to spirituality-based economic empowerment. The order is no longer just a space for contemplation, but also plays a role in the process of social reconciliation, moral advocacy, and expansion into the public space through digital media. However, this dynamic also raises genealogical problems in the form of spiritual symbolization by the state, co-optation of power, and ambiguity in the interpretation of modernity. Indonesian Neosufism is a contextual response to spiritual and social crises, as well as a field of negotiation between the legacy of tradition, the demands of modernity, and the structure of state power. This study is a development of the author's dissertation and academic book manuscript that is being prepared for publication, thus presenting theoretical and practical contributions to the study of Sufism and social development.  

Dariyadi Dariyadi

Ta'rim: Jurnal Pendidikan dan Anak Usia Dini 2022 Sekolah Tinggi Agama Islam Yayasan Pendidikan Ilmu Qur'an Baubau

Penelitian ini bertujuan menemukan nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi masyarakat Buton. Tradisi tersebut adalah posuo yang diberlakukan bagi remaja perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam peneitian ini adalah observasi dan wawancara yang dilakukan secara bertahap. Setelah pengumpulan data, kemudian melakukan analisis menggunakan pendekatan Miles dan Haberman. Pendekatan tersebut meliputi pengumpulan data, pemilihan data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Simpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi posuo masyarakat Buton adalah nilai pendidikan i’tiqodiyah. Nilai i’tiqodiyah dalam ritual posuo perempuan Buton terlihat pada setiap prosesi yang dilakukan. Mengawali dan mengakhiri prosesi posuo dengan memohonkan doa kepada Allah SWT agar diberikan kelancaran, perlindungan, dan keselamatan terhadap para gadis yang di-suo; nilai amaliyah, dalam rtiual posuo, mengajarkan para gadis untuk taat beribadah kepada Allah SWT, mendidik mereka untuk menjadi perempuan yang mampu menjaga tingkah laku, ucapan, dan membekali mereka ilmu dalam berumah tangga; nilai khulukiyah, merupakan nilai yang mengajarkan etika yang baik bagi perempuan-perempuan dalam prosesi posuo. Pengetahuan tentang khulukiyah bertujuan untuk membersihkan diri para gadis dari perbuatan yang dinilai rendah, lalu menuntun mereka untuk menghiasi diri dengan akhlak baik; nilai duwaliyah, pada puncak acara posuo, pihak keluarga menyajikan aneka hidangan untuk dinikmati para undangan. Undangan yang hadir dari berbagai kalangan, keluarga, kerabat, dan masyarakat dari berbagai latar belakang sosial. Penyelenggara acara posuo akan berbagi rezeki dengan menajikan aneka hidangan makanan dan minuman kepada para tamu undangan yang hadir.  

Abdul Rahman; Mauliadi Ramli

Jurnal Ilmu Sosial, Bahasa dan Pendidikan 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

This study aims to determine the ritual process and the meaning and values ​​contained in the traditional mappadendang party. In this study using descriptive qualitative research methods, namely research that describes situations directly in the research place. Meanwhile, the data collection techniques used were observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that the process of the traditional mappadendang party ritual in Soppeng Regency is very structured and neatly arranged. Starting from determining the day of implementation and the duration or length of time for implementation. After the process of determining the time is complete, the family who will carry out the traditional party begins to arrange the arrangement of the mappadendang traditional party. For example, entertainment events and players who will pound the pestle on the mortar and the attributes used by players at the traditional party. The traditional party ended with a marked meal together by all the people who attended the traditional party. In the traditional mappadendang party there are meanings and values ​​contained in it, these meanings are applied in the form of actions such as gratitude to God and respecting and preserving the heritage of ancestors or ancestors. Likewise with the values ​​contained in the traditional mappadendang party, the values ​​of togetherness, kinship, entertainment, and religion are merged into one in a traditional party that continues to be preserved and becomes a way of life for the community.

Dani Manesah; Aji Purnomo

Jurnal Riset Rumpun Seni, Desain dan Media 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Judul penelitian ini adalah Analisis Model Budaya Pada Film Dokumenter Kampoeng Kunyit Sutradara Dwi Chita Suci. Film adalah suatu bentuk seni yang mengandung informasi dan hiburan Ini berisi representasi atau makna dari apa yang ditampilkan. Penelitian ini bertujuan untuk merepresentasikan atau memaknai budaya lokal Melayu yang terdapat pada film Kampoeng Kunyit melalui mise en scene yang menampilkan budaya Melayu. Jenis pendekatan penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif  dan menggunakan analisis isi berdasarkan model budaya Edgar H. Schein. Edgar H. Schein membagi model budaya ini menjadi dua kategori, seperti Budaya Benda dan budaya bukanlah benda. Sementara hasil penelitian ini menunjukkan adanya bahwa pada film documenter Kampong Kunyit Sutradara Dwi Chita Suci   ditemukan adanya representasi dua tanda kebudayaan antara lain: (a) budaya dan seni (b) bahasa (c) kekayaan budaya yang terdiri dari makanan Minuman lokal (papeda dan sopi) dan budaya tak berwujud, yaitu: (a)kepercayaan/ritual tradisional (b) hubungan pribadi.

Echi Amianu; Agnes Angi Dian Winei; Fransiskus Janu Hamu

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2022 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Kalimantan merupakan wilayah multikultur dengan integrasi alam, sehingga selalu berkoneksi dengan kosmos secara natural. Dengan naluri sebagai homo-religio , masyarakat Kalimantan menjadikan alam sebagai mediasi untuk menghadirkan suatu transenden secara khusus pada unsur metakosmis lokal yang secara peyoratif disebut Animisme. Salah satu Sample dari animisme ini ialah Keramat Abeh Desa Dayu dalam ritual miwit Abeh, dimana masyarakat dayak ma’anyan orisinal desa Dayu meyakini adikuasa dari leluhur ini secara historik maupun empirik. Namun kehadiran soteria kristiani juga menjamah Penduduk , sehingga banyak generasi yang lahir dengan budaya dan dibesarkan oleh agama. Kerap kali generasi baru yang masih memiliki perspektif yang picik dan tendensius ,mengangap bahwa ritual animisme merupakan hal yang tabu, begitu pula sebaliknya mereka yang dibesarkan oleh budaya juga mengangap kristiani hanya sarana yang sama tampa keistimewaan. Dari sini terjadilah ambivalensi dan kebimbangan dalam memandang Tradisi budaya dan tidak jarang terjadi ketimpangan dalam porsi kehidupan berbudaya dan beragama karena sempitnya wawasan lokal. Penelitian ini ditujukan untuk melihat (1) Bagaimana pandangan kristianitas terhadap ritual animisme lokal dan pandangan budaya ritual animisme terhadap agama kristianitas ,(2)  Bagaimana enkulturasi Gereja dalam memahami dan membawa diri secara tepat dalam ritual animisme tampa pergesekan. Data diperoleh melalui wawancara , observasi dan studi literatur. Hasil penilitian (1) perspektif  kristiani dan kultural menunjukan tidak ada deviasi antara kedua aspek ini mereka memiliki kesamaan rupa meskipun tersusun oleh perbedaan konseptis, ( 2 ) Jalan untuk saling memahami dan belajar ialah melalui kompleksitas dialektik yang ekstensif diiringi dengan implikasi moralitas dalam tindakan itulah kemasan dalam  Enkulturasi Iman terhadap animisme.

Misnawati Misnawati; Petrus Poerwadi; Alifiah Nurachmana; Alifiah Nurachmana; Syarah Veniaty +6 more

International Journal of Education and Literature 2022 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

This study aims to: (1) describe the sense of ekopuitika theory; (2) describe the working mechanism of ekopuitika theory; and (3) describe the application of the ekopuitika theory in the oral literature. The theory used in this research is  ekopuitika theory, ecology theory, and poetics theory. The data collecting technique or data collection process utilized in this research are as follows: (1) recording technique, either audio or audiovisual, (2) notes, (3) rooted interview, (4) literature study and documentation analysis. The finding of the research is (1) the meaning ekopuitika theory is literary theory/knowledge of poetry which is associated with the environment. (2) the working mechanism is started from analyzing the poetics theory which consists of: 1. Sound that includes: a) rima; (b) assonance; (c) alliteration; (d) anaphora; (e) efoni; (f) kakafoni; and (g) onomatopoeic. 2. Rime (metrum and rhythm) 3. Word includes: (a) vocabulary; (b) diction; (c) figurative language; (d) imagery; and (e) linguistic factors. 4. Phrase that includes: (a) nominal phrases; (b) verbal phrase; (c) the numeral phrase; (d) the adverb phrase; and (e) the prepositional phrase. 5. Sentence/array includes: (a) declarative sentences; (b) interrogative sentences; (c) the imperative sentence; and (d) the exclamatory sentence. 6. The discourse that includes: (a) cohesion and (b) coherence. The next how it works, is further analyzed once more with the ecology theory that includes: (a) the representation of nature: plant, animal, mountain, water, sea, land, air, sun, and sky; (b) the manifestation of the representation of behavior: traditional event (ritual), religion, knowledge, cosmology, language, myth, art, moral, and housing. After the ekopuitika theory applied in the oral literature there was a result that evidently for the representation of nature related to the plant and animal, while for the representation of the behavior associated with the traditional event (ritual) and language.

Akhmad Mulyadi; Teguh Imam Rahayu

Public Service And Governance Journal 2022 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Isu desa dengan segala sumber daya yang dimiliknya sudah bergulir sejak lama, untuk menjawab itu semua maka, pemerintah mengeluarkan  UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa dengan segala optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang ada sehingga menjadi solusi terhadap permasalahan desa, Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan  serta menganalisa Pengembangan  Potensi Desa Menuju Desa Wisata Di Desa Bermi kecamatan Mijen Kabupaten Demak dengan metode kualitatif yang menghasilkan data deskriptif, dengan mengacu pada teori dan analisis SWOT (Strength, Weaknesess, Opportunity, dan Threath).   Pengembangan potensi desa sebagai upaya meningkatkan pendapatan asli desa, tumbuh dan berkembangnya desa wisata bukan semata-mata peran dari satu stakeholder saja, namun perlu adanya partisipasi aktif dari masyarakat. Keinginan Pemerintah Desa Bermi bersama masyarakat dalam pengembangan potensi desa menuju desa wisata belum dapat terwujud. Hal ini dikarenakan pemerintah desa belum membuat aturan baik berupa Peraturan Desa ataupun Peraturan Kepala Desa tentang desa wisata. Potensi yang dapat dikembangkan sejak lama ada adalah Sumur Gandeng, ini bisa menjadi modal utama sebagai maskot, icon, dan jargon Desa Bermi, “ke Sumur Gandeng, Pasti ke Bermi”, Inovasi  desa menuju desa wisata belum tertata, hanya penambahan bangunan pintu gerbang masuk ke halaman Sumur Gandeng. Pengunjung   yang datang ke Sumur Gandeng hanya orang yang memiliki kepentingan khusus (ritual) bukan menjadi pengunjung yang menikmati keindahan lokasi wisata. Partisipasi masyarakat Desa Bermi masih dipengaruhi oleh sesepuh desa dan masih bersifat partisipatif pasif atau “sendiko dawuh”. Pengelolaan desa wisata dilakukan oleh Pemerintah Desa, hanya dibantu beberapa orang dari masyarakat yang tugasnya hanya bersifat menjaga kondisi lingkungan di sekitar Sumur Gandeng.

Umar Faruq

Tabsyir: Jurnal Dakwah dan Sosial Humaniora 2020 STAI YPIQ BAUBAU, SULAWESI TENGGARA

Marriage is one of the many religious rituals carried out with the aim of creating a family. In rural communities that are full of traditional values, marriage is not only carried out according to procedures or regulations in accordance with religious regulations. In this case it is the Islamic religion. One of the most important things in organizing a marriage is the presence of a dowry. The dowry is identical to the binding of the groom to the bride who becomes his wife. Islamic law does not set a limit on the amount of the dowry, because the most important thing is the wife's acceptance of her husband's gift. Karduluk village, which was the location of this research, gave dowries in the form of household items ranging from cupboards, cots/beds, chairs and tables, decorative cupboards, and so on. These items are brought to the bride's house during the wedding and are considered part of the dowry.

Krisdiana Krisdiana; Timotius Tote Jelahu; Paulina Maria

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2019 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan umat Katolikdalam Budaya Dayak Ngaju tentang Ritual Sangiang, bagaimana penghayatan dari masyarakat Dayak Ngaju beragama Katolik  terhadap sakramen pengurapan orang sakit, dan bagaimana perbandingan pelaksanaan sakramen pengurapan orang sakit dan ritual sangiang dalam budaya Dayak Ngaju. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif.  Data diperoleh dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh  dianalisis menggunakanMiles dan Huberman langkah-langkah yang digunakan melalui,  reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umat bersuku Dayak Ngaju mengetahui tentang ritual sangiang sebagai ritual penyembuhan yang ada dalam budaya. Dan umat mengetahui tentang sakramen pengurapan orang sakit yang ada dalam Gereja Katolik sebagai salah satu sakramen yang memohon agar orang yang sedang mengalami sakit dikuatkan agar mampu melewati segala penyakitnya berkat pertolongan Tuhan. Kesimpulan  ini adalah ritual sangiang memiliki dimensi sosial yang mengarahkan, dan  membawa orang untuk menyadari bahwa hidup bersama sangat diperlukan rasa kepedulian anatara satu dengan yang lain. Nilai yang terdapat dalam ritual sangiang adalah nilai kebersamaan dan persaudaraan. Kehadiran Gereja dalam budaya tersebut merupakan pintu masuk untuk mewartakan tentang kerajaan Allah terutama memberikan katekse berkaitan dengan sakramen pengurapan orang sakit karena Allah sendirilah yang bekerja yang menyembuhkan terutama dalam ritual sangiang tersebut.