Publication Search

71,387 articles from 644 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 104

Analytics

Vandariani Keisya; Anggita Happy Santoso; Yunita Andriani Rahayu

TAWAZUN: Journal of Islamic Finance and Digital Innovation 2026 Asosiasi Program Doktor Ekonomi Syariah Indonesia

Pendidikan Kristen memiliki peran yang signifikan dalam membentuk karakter individu berdasarkan nilai-nilai Alkitabiah. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan moral, spiritual, dan etika yang sesuai dengan prinsip-prinsip Kristen. Artikel ini membahas bagaimana pendidikan Kristen dapat menjadi sarana utama dalam menanamkan nilai-nilai seperti kasih, kejujuran, integritas, disiplin, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan holistik yang mencakup pengajaran, keteladanan, dan pembiasaan, pendidikan Kristen mampu membentuk individu yang memiliki karakter kuat dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Kajian ini juga menyoroti tantangan serta strategi dalam mengintegrasikan nilai-nilai Alkitabiah dalam sistem pendidikan modern.

Timotius Ferry Setiawan; Petra Kania Patrecia Putri; Intan Anissa Fitri

TAWAZUN: Journal of Islamic Finance and Digital Innovation 2026 Asosiasi Program Doktor Ekonomi Syariah Indonesia

Artikel ini mengkaji konsep teologi pembelajaran dari perspektif Alkitabiah dalam upaya mengembangkan metode pengajaran yang relevan dan efektif di sekolah Kristen. Melalui penelaahan teks-teks Alkitab, artikel ini menyelidiki prinsip-prinsip dasar yang dapat diterapkan dalam pendidikan Kristen untuk menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya mendidik secara akademis, tetapi juga membentuk karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Kristiani. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu pendidik dalam merancang strategi pengajaran yang sejalan dengan ajaran iman dan membangun hubungan yang lebih erat antara pengajaran dan spiritualitas. Selain itu, artikel ini juga menyarankan berbagai model dan metode yang dapat digunakan dalam konteks sekolah Kristen untuk memaksimalkan pengalaman pembelajaran secara holistik.

Mey Pasampe; Esrawati Ka’bi Sumussang; Arya Salo Pongtinggi

Damai : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Filsafat 2026 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

The fleeting nature of human life constitutes a key theme in theological reflections within the Old Testament, particularly in the Book of Psalms in the Alkitab, which highlights human limitations and the inherent uncertainty of existence. Psalm 39:6–7 depicts human life as a transient shadow and emphasizes the futility of human efforts if they are not oriented toward God. This study seeks to explore the meaning of human transience in this passage and assess its theological significance for contemporary life. A qualitative approach with biblical hermeneutics is employed, considering historical, literary, and theological dimensions. The analysis indicates that the metaphor of the “shadow” illustrates human fragility, while the depiction of life’s futility critiques the human tendency to find purpose solely in worldly endeavors. Despite this, Psalm 39 ultimately directs readers toward hope in God, portraying Him as the ultimate source of true meaning. In a modern, materialistic context, this message continues to be relevant as a reminder of human dependency on God and the limitations of human life. Therefore, the transience of life does not signify the end of existential purpose but rather opens the way to deeper spiritual insight and the strengthening of faith.

Hardianta, Rbg Widhi Nugraha Agus Gembong; Wijaya, Michelle

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini mengkaji kisah perjumpaan Yesus dengan pemuda kaya dalam Injil Matius 19:16–30, Injil Markus 10:17–31, dan Injil Lukas 18:18–30 dalam perspektif teologi perdamaian dan keadilan sosial. Latar belakang penelitian ini bertolak dari realitas ketimpangan sosial-ekonomi yang semakin meningkat di era modern, yang ditandai oleh kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin serta kemiskinan struktural yang terus berlangsung. Dalam konteks tersebut, kisah Yesus dan pemuda kaya dipahami tidak hanya sebagai ajaran moral mengenai keterikatan terhadap harta, tetapi juga sebagai kritik profetis terhadap struktur sosial-ekonomi yang tidak adil. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) dan hermeneutika kontekstual. Data primer diperoleh dari teks Alkitab dalam ketiga Injil Sinoptik, sedangkan data sekunder berasal dari buku, jurnal ilmiah, dan literatur teologi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep shalom dalam teologi perdamaian mencakup keadilan relasional, kesejahteraan sosial, dan solidaritas terhadap kaum marginal. Perintah Yesus kepada pemuda kaya untuk menjual hartanya dan membagikannya kepada orang miskin menunjukkan bahwa iman Kristen tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Kekayaan dipahami sebagai stewardship yang harus digunakan demi kesejahteraan bersama. Penelitian ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi agen transformasi sosial melalui praksis keadilan, pemberdayaan ekonomi, pendidikan perdamaian, dan solidaritas sosial di tengah masyarakat Indonesia yang plural dan masih menghadapi ketimpangan sosial-ekonomi.

Ulina, Febriani; Setiawan, Yusak Agus

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dalam menerjemahkan konsep-konsep teologis yang abstrak agar sesuai dengan perkembangan kognitif peserta didik usia sekolah dasar. Latar belakang penelitian ini berangkat dari pentingnya penanaman iman sejak dini dalam keluarga sebagai ecclesia domestica, yang kemudian dilanjutkan secara sistematis dalam pendidikan formal. Namun, pada jenjang sekolah dasar, pembelajaran Pendidikan Agama Kristen menghadapi tantangan karena materi teologis yang bersifat abstrak tidak selalu selaras dengan kemampuan berpikir anak. Berdasarkan teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak usia 7–12 tahun berada pada tahap operasional konkret, sehingga membutuhkan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis pengalaman nyata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan hermeneutika-pedagogis untuk menganalisis strategi pengajaran Yesus dalam Injil Markus 4:1–33. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yesus menerapkan strategi pembelajaran yang efektif melalui pengelolaan ruang belajar (spasial), penggunaan perumpamaan sebagai media naratif, serta pendekatan dialogis-partisipatif. Strategi ini memungkinkan terjadinya jembatan antara konsep abstrak Kerajaan Allah dengan realitas konkret kehidupan pendengar. Dengan demikian, integrasi antara pemahaman teks Alkitab dan pendekatan pedagogis yang sesuai dengan perkembangan kognitif menjadi kunci dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang efektif. Penelitian ini menegaskan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen perlu mengembangkan strategi kreatif dan kontekstual agar nilai-nilai iman tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dihayati dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

Dyulius Thomas Bilo; Sinta Peni

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2026 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Teaching biblical principles to elementary school children plays a significant role in shaping their faith and character, as childhood represents a formative stage for spiritual, intellectual, and moral development. This study aims to examine developmentally appropriate Bible teaching tactics and emphasize the role of Christian Religious Education teachers in the faith-learning process. The approach used is a literature review that combines theological insights, developmental psychology, and Christian didactics. The findings of this analysis indicate that effective teaching methods include the use of storytelling, visual and creative aids, interactive activities, spiritual music, and the teacher's life example. These methods enhance children’s understanding of biblical teachings in a concrete and contextually relevant manner. This research confirms that Bible teaching should not be seen simply as conveying information, but rather as a holistic process of faith formation. The results of this study provide both theoretical and practical benefits, especially for Christian Religious Education teachers, Christian schools, churches, and families in supporting children's holistic faith development.

Malelak, Wilsye; Rissi, Marci

Jurnal Silih Asah 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Artikel ini bertujuan untuk memberikan suatu pemahaman tentang bagaimana peran dan tanggung jawab seorang guru dalam mempersiapkan peserta didik menjadi individu-individu yang sesuai dengan kehendak Allah. Peran guru juga sangat penting dalam membentuk karakter spiritual dan perkembangan peserta didik. Dalam konteks pendidikan Agama Kristen, tugas guru tidak hanya terbatas hanya pada aspek akademik, akan tetapi juga mencakup pembentukan moral dan spiritual peserta didik Yang  Berdasarkan Roma 12:2, yang mendorong umat untuk tidak hidup dengan pola dunia ini, tetapi mengalami pembaruan pikiran yang  dapat berkeadaan sesuai dengan kehendak Allah, guru memiliki tanggung jawab dalam mempersiapkan peserta didik agar mampu menghadapi tantangan dunia dengan nilai-nilai Kristiani melalui pembaharuan pikiran. Tanggung jawab guru ini dapat meliputi pendampingan dalam pengembangan pribadi, serta pembentukan karakter yang sesuai dengan ajaran agama kristen.  Dengan demikian, guru tidak hanya  sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual yang menuntun peserta didik untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip moral yang benar yang sesuai dengan pengajaran Alkitab.

Frendi Sofyan Zebua; Puspita Widia Sari Zebua; Bezeni Waruwu; Martinus Hia

Sabar : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 2026 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This study aims to analyze the application of design learning in planning discipleship materials as an effort to improve the Bible knowledge of church youth. This study uses a qualitative approach with an action research method, which is implemented through the stages of planning, action, observation, and reflection. The research subjects were 40 church youth who were actively involved in the discipleship program. Data collection techniques included observation, interviews, questionnaires, and participant reflections before and after the implementation of design learning. The results show that the application of design learning makes a significant contribution to improving the Bible knowledge of youth, which includes cognitive, affective, and psychomotor aspects. Youth not only experienced an increased understanding of the Bible's content, but also showed growth in faith attitudes, spiritual motivation, active participation in learning, and involvement in church services. The design learning approach helps create planned, contextual, and learner-centered discipleship learning. Thus, design learning is proven to be effective and relevant as a youth discipleship strategy in facing the challenges of faith formation in the digital era.

Agnes Monika Sinaga; Ririn Octaviana Ginting; Sheren Indah Nathania Pardede; Melina Sipahutar

jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat 2026 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

The process of Christian Religious Education for early childhood must be aligned with children’s cognitive, emotional, social, and spiritual development. One of the main challenges in this learning process is interpreting biblical stories accurately while maintaining simplicity and relevance for young learners. This study aims to examine the role of hermeneutics in understanding and interpreting biblical narratives used in Christian Religious Education for early childhood. The research employs a qualitative approach through a literature review of hermeneutical studies, biblical texts, and scholarly works on early childhood Christian education. The findings indicate that narrative hermeneutics enables educators to interpret biblical texts contextually while translating theological messages into pedagogically appropriate stories for children. Through a hermeneutical approach, learning becomes more meaningful, reflective, and transformative, fostering deeper spiritual understanding in early learners. Furthermore, hermeneutics helps educators bridge the gap between the theological content of the Bible and the everyday experiences of Christian children. In conclusion, hermeneutics functions as a strategic tool in delivering biblical messages in ways that are developmentally appropriate, spiritually enriching, and relevant to the lives of early childhood learners within Christian education contexts.

Hasudungan Simatupang

Nubuat : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 2026 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This study aims to examine the biblical foundation in the learning of Bible-based preschool children with a contextual learning approach. The research method used is topical research, which focuses on developing education and learning that is relevant to daily life so that children more easily absorb material according to learning goals. The learning process starts from simple things to more complex things, according to the stage of early childhood development. The results of the study show that Bible-based preschool learning includes various activities, including: educating children with a biblical foundation, introducing the Bible through number ordering, arranging the biblical alphabet, combining letters into words, arranging words into biblical phrases, reading Bible texts, memorizing short golden verses, and learning activities such as coloring and listening to Bible stories. These findings confirm that Bible-based learning with a contextual approach can be an effective strategy in shaping the spiritual, cognitive, and character foundations of preschoolers, while instilling faith values from an early age.

Siska Si'ki; Veronika Resta; Desmiati Pea; Jheane La'bi; Desrima Natalia Belopadang

Jurnal Pendidikan Dirgantara 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Indonesia

Modern students face high academic, social, and personal pressures, but Christian Religious Education has not yet maximized the potential of religious-based resilience. This study aims to: (1) analyze how the biblical values of faith, hope, and love can strengthen the components of students' psychological resilience in the cognitive, emotional, and spiritual dimensions; and (2) identify the integration mechanism between biblical teachings and psychological strategies in Christian Religious Education learning that can increase students' resilience in facing academic and personal stress. The method used is descriptive qualitative with a literature study approach to various journals, articles, and related academic sources. The results of the study show that the biblical values of faith, hope, and love are fundamental pillars that strengthen students' psychological resilience as a whole. Faith provides a foundation of self-confidence and personal competence, hope activates optimism and sustained motivation, while love builds healthy social relationships and essential emotional support. These three values work synergistically to strengthen students' emotional regulation, problem analysis, empathy, and self-efficacy. The deep integration of biblical teachings and psychology in PAK learning through biblical narratives, secure parenting relationships, supportive communities, and reflective feedback has proven effective in holistically improving student resilience. In conclusion, PAK learning that explicitly integrates biblical values with psychological resilience strategies is a transformative instrument for shaping students into individuals who not only perform well academically but are also spiritually strong, psychologically resilient, and ready to face complex life situations in accordance with the principles of 1 Corinthians 13:13 regarding faith, hope, and love

Rizal Rizal; Susi Yerni; Yonita Lestari Ndun

Tri Tunggal: Jurnal Pendidikan Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

The church, as the body of Christ, carries a vital responsibility in shaping the congregation’s understanding of biblical doctrine as the foundation of a sound life of faith. However, in practice, there remains a gap between the theological instruction provided and the congregation’s actual comprehension in daily life. This study aims to analyze the level of understanding among local congregations regarding biblical doctrine, identify the factors influencing this understanding, and examine the discrepancies between teaching and its application in everyday life. This research employs a qualitative approach using a library research method, focusing on the examination of biblical texts, theological works, and relevant academic literature. The findings indicate that the congregation’s level of understanding of biblical doctrine varies and is influenced by internal factors such as spiritual motivation and faith experience, as well as external factors such as the quality of teaching and ecclesiastical leadership. The gap between teaching and understanding is attributed to the lack of contextual and interactive learning methods. This study underscores the importance of continuous and dialogical theological formation within local churches so that congregants may not only comprehend doctrine cognitively but also embody it practically in faith and action. These findings are expected to enrich the field of practical theology and serve as a reference for developing faith education within the church.

Sari, Kezya Wandha Wulan; Sari, Dwi Novita

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas pemanfaatan lagu sebagai alat bantu dalam menghafal cerita Alkitab pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) di kelas IV SD Kristen 03 Wonosobo. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya daya ingat siswa terhadap isi cerita Alkitab yang disampaikan secara konvensional melalui metode ceramah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian tindakan kelas (action research), yang dilaksanakan dalam dua siklus tindakan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode lagu dapat meningkatkan daya ingat siswa terhadap isi cerita Alkitab. Siswa menjadi lebih antusias, aktif, serta mampu menceritakan kembali isi cerita dengan lebih runtut dan lengkap. Penerapan lagu terbukti membantu siswa memahami isi cerita Alkitab secara lebih menyenangkan dan bermakna. Selain itu, metode ini juga memperkuat keterlibatan emosional dan sosial siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, lagu dapat dijadikan sebagai alternatif metode pembelajaran yang efektif dan kreatif dalam pengajaran PAK, khususnya untuk materi berbentuk naratif seperti cerita Alkitab.

Novianti, Delpi

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Relativisme sebagai pandangan filsafat modern menolak adanya kebenaran yang absolut, termasuk dalam ranah keagamaan dan moralitas. Dalam konteks pendidikan Kristen, pemikiran ini menjadi tantangan serius karena menggoyahkan dasar epistemologis iman yang menegaskan bahwa Allah adalah sumber kebenaran sejati. Relativisme menempatkan manusia sebagai ukuran kebenaran, sehingga setiap pandangan dianggap sah menurut keyakinan pribadi, budaya, atau pengalaman masing-masing. Akibatnya, nilai-nilai objektif yang bersumber dari wahyu ilahi semakin kabur di tengah sistem pendidikan yang cenderung menekankan kebebasan berpikir tanpa batas moral. Tantangan ini meliputi tiga dimensi utama: penolakan terhadap kebenaran absolut, pandangan bahwa semua agama sama, dan keyakinan bahwa kebenaran bersandar pada pengalaman subjektif. Ketiganya menyebabkan peserta didik kehilangan arah moral dan spiritual yang jelas. Pendidikan Kristen dituntut untuk merespons dengan menegaskan kembali kebenaran yang bersumber dari firman Tuhan, memperkuat kemampuan berpikir kritis berbasis iman, serta mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai Alkitabiah dalam seluruh bidang ilmu. Guru Kristen memiliki peran strategis dalam menanamkan keyakinan bahwa Kristus adalah kebenaran yang hidup dan tidak berubah di tengah dunia yang terus bergeser secara ideologis. Dengan demikian, pendidikan Kristen bukan hanya berfungsi mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan cara pandang dunia yang berakar pada kebenaran Allah yang kekal, sebagai jawaban terhadap arus relativisme yang mengaburkan makna sejati dari kebenaran.

Adi Suhenra Sigiro; Fitri Lyli Septiani Sitompul; Andhika Sinaga; Pirianus Mom

Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Transformational leadership is an approach that emphasizes inspiration, empowerment, and individual development in order to achieve organizational goals holistically. This study aims to examine the concept of transformational leadership theoretically, while reviewing its application in the context of general organizations and churches, and its relevance according to the biblical perspective. Using the literature study method, this study collected data from various scientific literature and theological sources to build a solid conceptual framework. The results of the study indicate that transformational leadership has significant benefits, such as increasing employee engagement, innovation, and performance. On the other hand, this approach also has limitations, especially in the context of organizations that are bureaucratic or still in the early stages of formation. From a biblical perspective, transformational leadership is in line with the examples of Deborah and Jesus Christ, who led through service, example, and personal transformation. Thus, transformational leadership is not only relevant to the development of modern organizations, but also has a strong spiritual basis in Christian teachings.

Darmaka, Benediktus James Widya; Sutopo, Yohanes Eddie; Purwanto, Philipus

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Air memiliki peran penting dalam banyak narasi di dalam Perjanjian Lama, berfungsi sebagai simbol yang kuat dari penciptaan, pemurnian, dan pembebasan. Penelitian ini mengkaji simbolisme air yang multifaset, menjelajahi implikasi spiritual, sosial, dan ekologisnya dari kisah penciptaan hingga pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Dengan menggunakan analisis kualitatif terhadap teks-teks alkitabiah dan interpretasi ilmiah yang relevan, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna yang lebih dalam dari air dalam narasi-narasi ini dan bagaimana makna tersebut beresonansi dengan isu-isu kontemporer terkait keberlanjutan dan pengelolaan sumber daya. Temuan menunjukkan bahwa simbolisme air melampaui konteks alkitabiah, menawarkan wawasan tentang tantangan modern terkait dengan kelangkaan air dan pengelolaan lingkungan.

Simanjuntak, Erwin Andayani; Sutrisna, Ayu

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Pendidik memiliki tanggung jawab yang besar dalam membentuk generasi penerus bangsa. Di Indonesia, tantangan dunia pendidikan masih sangat kompleks, mulai dari rendahnya kualitas lulusan, lemahnya karakter, hingga maraknya kasus kekerasan dalam pendidikan. Amsal 22:6 memberikan dasar teologis bahwa pendidikan adalah usaha membimbing anak sesuai jalan yang benar agar tetap bertahan hingga dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran pendidik dalam mengoptimalkan potensi peserta didik di SMP Nasional Plus BPK Penabur Bogor dengan perspektif Alkitabiah. Penelitian menggunakan metode kualitatif studi kasus melalui wawancara daring dengan siswa, guru, dan orang tua, serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab pendidik bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, mengembangkan bakat, dan menciptakan suasana belajar yang kondusif. Optimalisasi dilakukan melalui kurikulum berbasis Kristiani, kegiatan ekstrakurikuler, serta pembiasaan karakter. Penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara pendidik, orang tua, dan sekolah dalam membentuk generasi yang berkarakter, beriman, dan berkompetensi.

Molu, Serlina Baba; Sukarna, Timotius; Windarti, Maria Titik

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran gembala dalam menumbuhkan iman jemaat berdasarkan Mazmur 23:1–6. Gembala dalam konteks Alkitab dipahami sebagai figur yang menuntun, melindungi, dan memelihara umat Allah, yang dalam pelayanan gereja diterjemahkan melalui pengajaran, konseling, teladan hidup, dan strategi pastoral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, di mana data diperoleh melalui studi literatur, observasi, wawancara, dan dokumentasi di lingkungan Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) Sanggabuana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gembala memiliki peran penting sebagai teladan rohani, pembimbing iman, serta fasilitator transformasi jemaat melalui strategi penggembalaan yang efektif. Peran ini berdampak pada meningkatnya kesetiaan, kerendahan hati, serta keteguhan iman jemaat dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pertumbuhan iman jemaat sangat ditentukan oleh kualitas penggembalaan yang dijalankan oleh gembala sidang secara konsisten dan kontekstual.

Hatmoko, Haru; Windarti, Maria Titik

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Profesi guru dalam perspektif pendidikan modern dipahami bukan sekadar sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai agen transformasi moral, etika, dan spiritual. Dalam konteks pendidikan Kristen, peran guru semakin signifikan karena dipanggil untuk menghadirkan teladan Kristus dalam seluruh aspek kehidupannya. Penelitian ini mengkaji relevansi keteladanan Yesus dalam Yohanes 13:13–16 dengan praktik pendidikan guru agama Kristen di sekolah. Teks ini menampilkan Yesus yang membasuh kaki murid-murid-Nya sebagai simbol kerendahan hati, kasih, dan pelayanan, yang menjadi dasar teologis bagi peran guru Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologis dan pendidikan, melalui studi pustaka dan wawancara dengan guru-guru di SMA PGRI 22 Serpong. Hasil penelitian menunjukkan lima temuan utama. Pertama, teladan guru Kristen berfungsi sebagai model nyata yang membentuk iman dan karakter siswa. Kedua, praktik mentoring dalam perspektif Alkitab menegaskan pentingnya relasi personal dalam pendidikan iman. Ketiga, keteladanan Yesus menampilkan dimensi servant leadership yang relevan bagi kepemimpinan guru Kristen. Keempat, integritas guru Kristen menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan karena konsistensi hidup lebih berpengaruh daripada sekadar instruksi verbal. Kelima, keteladanan Yesus tetap relevan di era modern karena mampu menuntun peserta didik menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi dengan iman yang tangguh. Dengan demikian, guru agama Kristen dipanggil untuk melayani dengan kasih, rendah hati, dan penuh integritas, sehingga mampu membentuk generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus matang secara spiritual.

Turege, Lini Widia Astrid; Zasa, Elia Umbu; Rezeki, Sri

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Project Based Learning (PjBL) merupakan model pembelajaran inovatif yang menekankan keterlibatan aktif peserta didik melalui pengerjaan proyek nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Model ini diyakini mampu memadukan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna sekaligus meningkatkan keterampilan kolaboratif siswa. Sejumlah penelitian terdahulu menegaskan efektivitas PjBL, antara lain dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis, serta motivasi belajar siswa. Dalam konteks pendidikan Kristen, nilai-nilai kerja sama, kerendahan hati, dan kebersamaan yang diajarkan Rasul Paulus dalam Filipi 2:1–11 memiliki relevansi kuat dengan prinsip PjBL. Nilai sehati sepikir, rendah hati, dan menanggung bersama menjadi fondasi penting dalam membangun kerja sama kelompok yang sehat.Namun, realitas di SMA Bhakti Insani menunjukkan bahwa implementasi PjBL belum optimal. Siswa masih menunjukkan sikap pasif, kurang fokus, serta minim kerja sama baik dengan guru maupun teman sebaya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji lebih jauh implementasi PjBL yang diintegrasikan dengan nilai-nilai Alkitabiah dalam meningkatkan kerja sama siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik observasi, kuesioner, dan wawancara terhadap 80 responden. Hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh signifikan PjBL terhadap peningkatan kerja sama siswa, dengan korelasi sebesar 0,940 dan kontribusi pengaruh mencapai 94%.Temuan ini menegaskan bahwa PjBL dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kerja sama siswa apabila dijalankan sejalan dengan nilai-nilai Kristiani. Dengan demikian, PjBL tidak hanya melatih keterampilan akademik dan kolaborasi, tetapi juga membentuk karakter siswa yang berlandaskan kasih, kerendahan hati, dan kebersamaan