Publication Search

95,605 articles from 887 journals · 2,123 citations tracked

Showing 181-200 of 231

Analytics

Muhammad Hikam Ainul Atho’; Moch. Bachrurrosyady Amrullah; Ali Ahmad Yenuri

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Pendidikan Islam moderat (wasathiyah) merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan keseimbangan, toleransi, keadilan, dan sikap inklusif dalam memahami serta mengamalkan ajaran Islam. Dalam konteks Indonesia yang multikultural, penguatan pendidikan Islam moderat menjadi kebutuhan mendesak guna menjaga harmoni sosial dan mencegah berkembangnya paham keagamaan ekstrem. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama kepada santri. Artikel ini bertujuan mengkaji secara komprehensif implementasi pendidikan Islam moderat di pondok pesantren, meliputi aspek konseptual, kurikulum, metode pembelajaran, budaya pesantren, keteladanan kiai, serta implikasinya bagi santri dan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pesantren secara nyata telah mengimplementasikan pendidikan Islam moderat melalui pembelajaran kitab kuning berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah, metode dialogis, pembiasaan akhlak moderat, dan keterlibatan sosial. Pesantren dengan demikian berperan penting sebagai benteng moderasi beragama dan penjaga keutuhan bangsa.

Rozaq Shohibul Ichsan; M. Muizzuddin

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Moderasi Islam atau wasathiyyah merupakan sikap seimbang yang menghindari ekstremisme dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama, sehingga menjadi pondasi utama untuk membangun harmoni dalam masyarakat yang beragam. Kajian ini mengeksplorasi nilai-nilai moderasi dalam Al-Qur'an dan Hadis, baik secara konseptual maupun aplikatif, dengan tujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana prinsip-prinsip ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menggunakan pendekatan studi pustaka (library research) dan tafsir tematik, penelitian ini menemukan bahwa nilai-nilai utama seperti al-'adl, tasamuh, tawazun, dan amar ma'ruf nahi munkar menjadi fondasi moderasi yang kuat. Ayat-ayat Al-Qur'an seperti Q.S. Al-Baqarah: 143 yang menegaskan bahwa umat Islam sebagai ummah wasath dan hadis Nabi SAW yang melarang ekstremisme, seperti riwayat tentang agama yang lurus dan toleran, menekankan peran umat dalam menjadi saksi keadilan bagi manusia. Lebih lanjut, penelitian ini menganalisis bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diintegrasikan dalam konteks kontemporer, khususnya dalam pendidikan Islam, untuk membentuk generasi muda yang inklusif, anti radikal, dan mampu menghadapi tantangan pluralisme di Indonesia. Melalui sintesis dari pemikiran ulama seperti KH Ali Maksum dalam kitab Hujjah Ahlussunnah wal Jama'ah dan kajian Hadis tematik, kajian ini menyoroti pentingnya menghargai perbedaan tanpa mengkompromikan aqidah, menolak kekerasan, serta mendorong sikap kritis dan demokratis. Hasilnya menunjukkan bahwa moderasi bukan hanya konsep teoretis, melainkan praktik hidup yang relevan untuk mengatasi konflik berbasis agama, seperti intoleransi di kalangan pemuda yang semakin marak berdasarkan data survei terkini. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan pada penguatan moderasi di masyarakat multikultural Indonesia, di mana pemahaman teks suci yang sempit sering menjadi akar masalah, dan menawarkan rekomendasi untuk integrasi nilai-nilai ini dalam kurikulum pendidikan agama guna menciptakan generasi yang lebih toleran dan bijaksana.

Muh.Khusnul Himam; Muhammad Farih

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk memahami akar historis prinsip Moderasi Islam (Wasatiyyah) dengan merekonstruksi konteks historis makro penurunan Al-Qur’an pada abad ke-6 Masehi. Analisis berfokus pada empat aspek kehidupan masyarakat Jahiliyah: Geografis, Sosiologis, Keberagamaan, dan Ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah memetakan ekstremitas pada keempat aspek tersebut dan menganalisis bagaimana konteks tersebut secara dialektis melahirkan dan menegaskan prinsip (Wasatiyyah) sebagai solusi. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan kajian pustaka (library research), mengandalkan teknik dokumentasi data dari sumber primer (kitab tafsir) dan sekunder (literatur sejarah dan jurnal nasional terakreditasi), yang kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif-kritis dan historis-komparatif. Temuan utama menunjukkan bahwa masyarakat pra-Islam ditandai oleh ekstremitas yang terintegrasi. Kondisi Geografis yang keras mendorong fanatisme Sosiologis (Ashabiyah), yang diperkuat oleh Keberagamaan Paganistik dan dilegitimasi oleh sistem Ekonomi yang eksploitatif. Al-Qur’an menghadirkan Wasatiyyah sebagai antitesis struktural yang menciptakan keseimbangan Tawazun; ekstremitas Ashabiyah dikoreksi menjadi Persaudaraan Universal (Ukhuwwah), politeisme dikoreksi menjadi Tauhid Murni dengan prinsip Toleransi (Tasāmuḥ), dan praktik riba dihilangkan melalui sistem Keadilan Distribusi (Zakat). Kesimpulan menegaskan bahwa Moderasi Islam berakar kuat pada upaya koreksi total terhadap ekstremitas Jahiliyah. Wasatiyyah bukan sekadar konsep, melainkan formula untuk menggerakkan masyarakat dari kekacauan menuju keadilan sosial dan keseimbangan. Penelitian ini merekomendasikan agar implementasi Moderasi Beragama kontemporer diperkuat dengan perspektif historis-kontekstual ini, menjadikannya alat yang efektif untuk melawan ekstremitas sosial, politik, dan ekonomi masa kini.

Muh.Khusnul Himam; Maftuh; Mohammad Rofiq

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk ketimpangan akses pendidikan agama yang termanifestasi dalam masyarakat Indonesia, menjelaskan fenomena tersebut melalui perspektif Teori Konflik, dan mengidentifikasi dampak spesifik ketimpangan ini terhadap mobilitas sosial individu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Data primer diperoleh dari sintesis dan analisis kritis terhadap berbagai jurnal nasional terakreditasi, buku-buku teoretis sosiologi pendidikan, dan dokumen kebijakan terkait pendidikan agama di Indonesia. Analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif-analitis untuk membangun kerangka konseptual yang menghubungkan fenomena empiris dengan proposisi teoretis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan akses pendidikan agama di Indonesia bukanlah kasus anomali, melainkan manifestasi struktural dari konflik kepentingan dan alokasi sumber daya. Ketimpangan ini terwujud dalam hierarki lembaga pendidikan (elit vs. marjinal) dan distribusi sumber daya (fasilitas dan guru) yang sangat tidak merata, diperparah oleh stratifikasi ekonomi dan geografi. Ditinjau dari Teori Konflik (Marx, Dahrendorf, dan Collins), sistem pendidikan agama berfungsi sebagai mekanisme reproduksi kelas sosial. Modal ekonomi menentukan akses kelembagaan, sementara otoritas pendidikan mempertahankan alokasi sumber daya yang timpang. Kredensial dari lembaga pendidikan agama elit bertindak sebagai modal status (kredensialisme) yang dimonopoli oleh kelas dominan, secara efektif membatasi mobilitas sosial vertikal bagi individu dari kelas bawah. Dengan demikian, pendidikan agama berpotensi menjadi penghalang daripada saluran untuk mencapai keadilan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya untuk mencapai kesetaraan dan keadilan sosial harus mencakup reformasi struktural dalam distribusi sumber daya dan otoritas dalam sistem pendidikan agama guna mengurangi peran institusi tersebut sebagai agen reproduksi ketidaksetaraan.

Wahid Hasyim; Maftuh

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Pembelajaran Al-Qur’an tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif berupa kemampuan membaca dan memahami teks, tetapi juga menyentuh dimensi afektif dan spiritual peserta didik. Spiritualitas menjadi pengalaman batin yang lahir dari interaksi subjek dengan Al-Qur’an sebagai kalam ilahi. Artikel ini bertujuan mengkaji makna spiritualitas dalam pengalaman belajar Al-Qur’an melalui pendekatan teori fenomenologi. Pendekatan fenomenologi digunakan untuk memahami pengalaman subjektif peserta didik secara mendalam, sebagaimana dialami dan dimaknai oleh individu itu sendiri. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka (library research) dengan menganalisis literatur terkait fenomenologi, spiritualitas, dan pembelajaran Al-Qur’an. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengalaman belajar Al-Qur’an melahirkan makna spiritual berupa ketenangan batin, kedekatan dengan Allah, kesadaran moral, serta transformasi sikap dan perilaku religius. Teori fenomenologi relevan digunakan untuk mengungkap dimensi terdalam dari pengalaman spiritual tersebut karena menempatkan kesadaran subjek sebagai pusat analisis. Artikel ini diharapkan dapat menjadi landasan teoretis bagi pengembangan pembelajaran Al-Qur’an yang lebih humanis dan bermakna.

Wahid Hasyim; Hani’atul Khoiroh; Muhammad Syihabuddin

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Pemikiran pendidikan Islam kontemporer menuntut adanya integrasi antara nilai-nilai keislaman dan tuntutan modernitas. Hasan Langgulung merupakan salah satu tokoh pendidikan Islam yang menawarkan konsep pengembangan sistem pendidikan Islam yang holistik dan integral. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep pengembangan sistem pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung serta relevansinya dalam konteks pendidikan Islam kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap karya-karya Hasan Langgulung dan literatur pendukung. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung berlandaskan pada pandangan Islam tentang manusia sebagai makhluk berpotensi (fitrah) yang harus dikembangkan secara seimbang antara aspek spiritual, intelektual, emosional, dan sosial. Konsep ini relevan untuk dijadikan kerangka pengembangan pendidikan Islam di era modern.

Wahid Hasyim; Muhammad Farih

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam metode pembelajaran Study Al-Qur’an serta penerapannya dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) moderat berbasis turāṯ. Dalam konteks pendidikan Islam kontemporer, penguatan moderasi beragama menjadi kebutuhan yang mendesak seiring dengan munculnya tantangan radikalisme, eksklusivisme, dan kecenderungan dekontekstualisasi ajaran agama dalam proses pembelajaran. Metode Study Al-Qur’an berbasis turāṯ menekankan pada pemahaman Al-Qur’an secara komprehensif dengan merujuk pada khazanah keilmuan klasik, seperti kitab-kitab tafsir, ulūmul Qur’an, dan karya ulama muktabar, yang kemudian dipadukan dengan pendekatan kontekstual sesuai realitas sosial dan perkembangan zaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) terhadap berbagai sumber primer dan sekunder yang relevan dengan kajian Al-Qur’an, moderasi beragama, dan pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Study Al-Qur’an berbasis turāṯ dalam pembelajaran PAI mampu membangun pemahaman keagamaan yang moderat, menumbuhkan sikap toleran, seimbang (tawassuṭ), adil (i‘tidāl), serta inklusif pada peserta didik. Selain itu, metode ini berkontribusi dalam mengembangkan pola berpikir kritis dan kontekstual dalam memahami ajaran Islam. Dengan demikian, metode Study Al-Qur’an berbasis turāṯ dinilai relevan dan strategis untuk memperkuat moderasi beragama serta membentuk karakter keagamaan peserta didik dalam sistem pendidikan Islam.

Muhammad Taufiqur Rohman; Muhammad Farih

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Penelitian ini bertujuan menganalisis urgensi teori Dalalah makna Al-Qur'an (kaidah penafsiran makna) dalam membentuk pemahaman moderasi beragama (wasatiyyah). Teks Al-Qur'an yang kaya interpretasi memerlukan metodologi yang tepat agar tidak disalahpahami secara ekstremis. Kajian ini berfokus pada tiga kaidah utama (Al-'Āmm wa al-Khāsh, Al-Muthlaq wa al-Muqayyad, Al-Manthūq wa al-Mafhūm) dan meninjau teori kisah Al-Qur'an serta relevansinya dalam pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kaidah-kaidah Dalalah berfungsi sebagai instrumen untuk mencapai pemahaman yang komprehensif, luwes, dan kontekstual, mencegah sikap tekstualis yang kaku. Sementara itu, kisah Al-Qur'an menyediakan narasi moral yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, keadilan, dan keseimbangan dalam ranah pendidikan. Penguasaan metodologi Dalalah dan pemanfaatan kisah Al-Qur'an secara tepat adalah kunci untuk mengimplementasikan moderasi beragama dalam praktik keberagamaan kontemporer.

Muhammad Taufiqur Rohman; Maftuh; Mohammad Rofiq

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Teori elit kekuasaan menegaskan bahwa kebijakan publik sering kali dipengaruhi oleh kelompok elit yang memiliki otoritas, sumber daya, dan legitimasi sosial. Dalam konteks masyarakat religius seperti Indonesia, elit pendidikan agama menempati posisi strategis sebagai aktor sosial yang mampu memengaruhi arah kebijakan sosial-keagamaan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh elit pendidikan agama terhadap kebijakan sosial-keagamaan dengan menggunakan pendekatan teori elit kekuasaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka (library research) dengan menganalisis literatur ilmu sosial, pendidikan, dan kajian keagamaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa elit pendidikan agama berperan signifikan dalam membentuk wacana publik, legitimasi kebijakan, serta arah moderasi beragama melalui otoritas keilmuan dan simbolik yang dimilikinya. Namun, dominasi elit ini juga berpotensi menimbulkan eksklusivisme jika tidak diimbangi dengan prinsip inklusivitas dan partisipasi sosial.

Fatimatuz Zahro; Mumtazul Imamah; Muhammad Farih

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Penelitian ini mengkaji moderasi beragama dari perspektif historis melalui analisis dua kerangka penting dalam studi Al-Qur’an, yaitu klasifikasi wahyu Makki–Madani dan konsep naskh–mansûkh. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analitis, penelitian ini menunjukkan bahwa proses pewahyuan Al-Qur’an berlangsung secara bertahap sebagai respons terhadap dinamika konteks sosial-keagamaan masyarakat Muslim awal, sehingga membentuk model moderasi yang adaptif dan seimbang. Ayat-ayat Makki menekankan fondasi teologis, etika universal, serta prinsip-prinsip toleransi, sementara ayat-ayat Madani berfokus pada pengaturan sosial, norma hukum, dan tata kehidupan komunitas. Konsep naskh–mansûkh dipahami sebagai mekanisme internal dalam proses pewahyuan yang berfungsi menyesuaikan ketentuan hukum dengan kebutuhan masyarakat dan tahapan perkembangannya. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa moderasi bukanlah konstruksi modern, melainkan merupakan karakter inheren dalam proses historis pewahyuan, yang berakar pada prinsip keseimbangan, kebijaksanaan, dan kemaslahatan umum.

Yusuf Suffandi; Hani’atul Khoiroh; Muhammad Syihabuddin

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Pendidikan Islam tidak dapat dilepaskan dari pemahaman mendasar tentang hakikat manusia. Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai salah satu pemikir pendidikan Islam kontemporer menempatkan konsep manusia sebagai makhluk beradab (insān adabī) yang memiliki dimensi jasmani, akal, dan ruhani secara integral. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang hakikat manusia dalam pendidikan Islam serta konsep pengembangan potensi manusia yang ditawarkannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap karya-karya utama al-Attas. Hasil kajian menunjukkan bahwa menurut al-Attas, pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia yang beradab melalui proses penanaman adab, integrasi ilmu, dan pembinaan potensi intelektual serta spiritual secara seimbang.

Yusup Suffandi; Muhammad Farih

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Tafsir bi al-riwāyah, tafsir bi al-ra’yi, dan tafsir isyārī dalam kerangka moderasi beragama. Ketiga metode tersebut telah digunakan sejak masa para ulama klasik hingga era kontemporer, namun perbedaan pendekatan di antara mereka kerap menimbulkan perdebatan metodologis. Penelitian ini berupaya menguraikan ciri khas, landasan, serta peran masing-masing metode dalam membangun pemahaman keagamaan yang moderat, proporsional, dan sejalan dengan maqāṣid al-syarī‘ah.Melalui analisis literatur terhadap karya-karya mufasir otoritatif, penelitian ini menemukan bahwa ketiga pendekatan tersebut dapat menjadi fondasi kuat bagi pengembangan tafsir yang moderat apabila diterapkan dengan disiplin keilmuan yang tepat. Temuan ini menegaskan bahwa perpaduan antara sumber riwayat, penggunaan nalar, serta dimensi spiritual mampu melahirkan interpretasi Al-Qur’an yang lebih holistik, inklusif, dan kontekstual bagi kebutuhan masyarakat masa kini.

Elisa Nafilatun Naja; M Muizzuddin

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Umat Islam dalam Al-Qur’an disebut sebagai ummatan wasathan. Namun, dalam praktik kehidupan sosial-keagamaan, nilai-nilai ummatan wasathan belum sepenuhnya terwujud. Artikel ini mengkaji konsep ummatan wasathan menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah serta relevansinya dengan nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan teknik dokumentasi. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitis dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Quraish Shihab, ummatan wasathan adalah umat yang bersikap moderat, tidak condong pada sikap ekstrem, sehingga melahirkan keadilan dan keseimbangan dalam kehidupan. Selain itu, ummatan wasathan dipahami sebagai umat yang berfungsi sebagai saksi sekaligus teladan bagi umat lain. Quraish Shihab mengemukakan delapan karakteristik ummatan wasathan, yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya, keteguhan, kebijaksanaan, persatuan dan persaudaraan, keadilan, keteladanan, keseimbangan, serta sikap inklusif. Penafsiran Quraish Shihab tentang ummatan wasathan memiliki relevansi dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya prinsip keadilan, keseimbangan, dan toleransi. Konsep wasathiyah menegaskan sikap pertengahan dalam memandang Tuhan dan dunia, yang sejalan dengan semangat kebangsaan dan kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.‎

Mohammad Ainun Najib; Muhammad Farih

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Penelitian ini mengkaji penerapan tafsir adabi ijtimā‘ī dalam pemikiran M. Quraish Shihab dan relevansinya terhadap moderasi beragama di Indonesia. Tafsir adabi ijtimā‘ī yang menggabungkan keindahan bahasa dengan orientasi sosial dikembangkan Shihab melalui karya seperti Tafsir al-Mishbah dengan memadukan analisis linguistik, nilai etika, dan kontekstualisasi terhadap realitas masyarakat majemuk. Ia menafsirkan ayat-ayat sosial, seperti QS. al-Baqarah: 143 dan 256, sebagai dasar teologis moderasi: menolak ekstremisme, menjamin kebebasan beragama, dan mendorong dialog antarumat. Moderasi menurut Shihab bukan kompromi akidah, melainkan sikap proporsional yang selaras dengan prinsip keadilan dan jaminan konstitusional Indonesia. Meski kurang menyoroti ketimpangan struktural, pendekatannya efektif dalam membangun toleransi dan etika publik. Dengan karakter humanis, moderat, dan berbasis konteks Nusantara, tafsir Shihab menjadi representasi kuat Islam yang damai dan relevan bagi kehidupan berbangsa. Penelitian ini menegaskan posisi tafsir adabi ijtimā‘ī sebagai model penafsiran kontemporer yang menjawab tantangan sosial keagamaan di Indonesia.

Mohammad Ainun Najib; Muhammad Arif Syihabbudin; Hani’atul Khoiroh

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Penelitian ini bertujuan menganalisis pandangan filsafat pendidikan Islam mengenai relasi Tuhan, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan ontologis. Kajian ini menekankan pentingnya integrasi konsep tauhid sebagai dasar filosofis untuk menjawab tantangan pendidikan Islam kontemporer serta membangun harmoni antara ketiga unsur tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka. Data diperoleh dari sumber primer berupa karya tokoh pemikir Islam, seperti Mukti Ali, Quraish Shihab, dan Asghar Ali Engineer, serta sumber sekunder berupa literatur pendukung filsafat pendidikan Islam. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan mengkaji konsep-konsep utama secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat pendidikan Islam menempatkan Tuhan, manusia, dan alam sebagai objek kajian makro. Tuhan dipahami sebagai Hakikat Pertama dan sumber nilai serta pengetahuan, sehingga tauhid menjadi fondasi utama pendidikan. Manusia berperan sebagai subjek sekaligus khalifah yang bertugas memahami wahyu dan mengelola alam secara seimbang. Ketidakseimbangan dalam relasi tersebut dipandang sebagai bentuk penyimpangan terhadap amanah ilahiah. Alam berfungsi sebagai media edukatif yang saling terkait dengan peran manusia. Oleh karena itu, pendidikan Islam diarahkan pada pembentukan insan beriman, berilmu, dan berakhlak melalui pemahaman wahyu (ayat qur’aniyah) dan alam semesta (ayat kauniyah).

Elisa Rahmah; Muhammad Arif Syihabbudin

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Ibn Miskawaih, whose full name is Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Ya’kub bin Miskawaih, is a well-known historian and philosopher who also studied chemistry extensively. He studied philosophy under Ibn Khamar, a renowned commentator on Aristotle's writings, and studied history under Abu Bakr Ahmad bin Kamil al-Qadi in 350 H. The most significant aspect of Ibn Miskawaih's ethics. Rationality, courage, and desire are the three types of qualities that make up the nature of the spirit. Additionally, the spirit possesses three interconnected virtues: simplicity, courage, and knowledge. Ibn Miskawaih contends that in terms of human nature, the existence of humans depends on God's will, while human merit is up to each individual and is determined by their own free choice. There are three categories of human traits: courage (in between the two others), lust (the lowest), and reason (the greatest). In terms of ethics, Ibn Miskawaih contends that everything that becomes the aim is good, and that anything that is helpful in reaching that goal is also good. The need of moral education for human development was highlighted by Ibn Miskawaih. This psychological component is where attitudes and behaviors that are influenced by one's inner movers emerge.soul, which is why Ibn Miskawaih favors Islamic education that emphasizes morality.

Moh Fatkur Rozaq; Ali Ahmad Yenuri; Moch. Bachrurrosyadi Amrullah

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Pesantren memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai Islam moderat di tengah masyarakat multikultural Indonesia. Melalui sistem pendidikan yang berakar pada tradisi keilmuan Islam dan bimbingan kyai, pesantren berupaya menanamkan toleransi, keseimbangan, dan cinta tanah air. Artikel ini mengkaji penerapan Islam moderat di pesantren dengan fokus pada sistem pendidikan, tantangan, dan prospeknya. Hasil kajian menunjukkan bahwa pesantren telah mengintegrasikan nilai-nilai moderasi dalam kurikulum dan kegiatan santri, namun masih menghadapi tantangan berupa resistensi terhadap modernisasi, keterbatasan sumber daya, serta pengaruh ideologi ekstrem. Meski demikian, prospeknya tetap positif dengan dukungan pemerintah, digitalisasi pendidikan, dan peran santri sebagai agen perdamaian.

Mohammad Ainun Najib

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Dalam tradisi pesantren, literatur keagamaan kitab kuning tidak saja menjadi pusat orientasi studi, tetapi juga sistem nilai yang membentuk dan mewarnai paham dan praktik keagamaan komunitas pesantren dan masyarakat muslim sekitarnya. Dalam konteks kekinian, tradisi intelektualisme pesantren dapat dijadikan acuan untuk menjaga nilai-nilai pemahaman keislaman yang moderat dan toleran tersebut. Kitab kuning sebagai inti tradisi intelektulisme pesantren, menjadi sumber pemahaman dinamis dan pesantren yang terbukti mampu menampilkan wajah Islam yang ramah tanpa amarah, serta toleran tanpa kebencian. Sehingga pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dapat menjadi figur utama dalam memberikan pembelajaran Islam yang moderat. Pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren telah berkontribusi besar dalam menanamkan sikap moderat sekaligus mewujudkan moderasi Islam di lingkungan pondok pesantren. Hal ini dapat dilihat dari nilai-nilai kajian kitab kuning yang digunakan di pondok pesantren. Beberapa konteks ajaran yang mengarah pada penanaman sikap moderat dapat ditemukan dalam kitab Tījān ad-Darāri karya al-Bājūri, Al-Jawāhir al-Kalāmiyah fī Iḍāhi al-Aqīdah al-Islāmiyyah karya al-Jazairi, Fath al-Qarīb al-Mujīb ’Ala al-Taqrīb karya Ibn Qāsim al-Gazi dan Tafsir Jalālain karya al-Mahalli dan al-Suyūṭi.

Mohammad Ainun Najib; Maftuh

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis motivasi generasi milenial dalam mengikuti kegiatan keagamaan dengan menggunakan kerangka Teori Tindakan Sosial Max Weber. Generasi milenial hidup dalam konteks sosial yang ditandai oleh perkembangan teknologi digital yang pesat, yang tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga memunculkan berbagai tantangan sosial dan psikologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, menganalisis berbagai literatur ilmiah yang berkaitan dengan religiusitas generasi milenial, motivasi keagamaan, dan teori aksi Max Weber. Hasil kajian menunjukkan bahwa keterlibatan generasi milenial dalam kegiatan keagamaan dipengaruhi oleh tiga bentuk motivasi utama, yaitu motivasi spiritual, motivasi sosial, dan motivasi psikologis. Dalam perspektif Weberian, perilaku keagamaan generasi milenial dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe tindakan sosial, yakni tindakan rasional instrumental, tindakan rasional nilai, tindakan afektif, dan tindakan tradisional. Temuan penelitian menunjukkan adanya pergeseran pola religiusitas generasi milenial dari praktik keagamaan yang bersifat tradisional menuju tindakan sosial yang lebih rasional, reflektif, dan kontekstual, tanpa sepenuhnya meninggalkan dimensi emosional dan nilai-nilai keagamaan. Dengan demikian, praktik keagamaan generasi milenial merupakan hasil interaksi kompleks antara rasionalitas, motivasi internal, pengalaman emosional, serta pengaruh lingkungan sosial dan teknologi digital. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis bagi pengembangan strategi pendidikan dan pembinaan keagamaan yang relevan dengan karakteristik generasi milenial di era modern.

Muhammad Akhwan Rosyadi; Muhamad Khoirul Adzmi; Nasrudin Latif; Agus Suprayogi

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Penelitian ini mengkaji legitimasi pengetahuan dan nilai dalam pendidikan kaligrafi bersanad melalui studi kasus Pesantren Kaligrafi SAKAL Jombang. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana “pengetahuan kaligrafi” dipahami (ontologi), bagaimana pengetahuan tersebut dianggap sah melalui mekanisme pembelajaran (epistemologi), serta nilai apa yang menyertai dan mengarahkan proses pendidikan (aksiologi). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui observasi pembelajaran, wawancara semi-terstruktur dengan dua pengajar (U1, U2) dan dua santri (S1, S2), serta dokumentasi berupa lembar latihan bertanda tashih dan aturan/adab pembelajaran. Analisis dilakukan secara tematik dengan pengodean ONT/EPI/AKS dan triangulasi teknik-sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan kaligrafi dipahami sebagai gabungan keterampilan teknis dan kaidah normatif yang dibingkai oleh makna religius. Legitimasi epistemik dibentuk melalui rangkaian taqlidi–latihan berulang–tashih–pengesahan, dengan peran otoritas guru dan tradisi sanad sebagai penguat validitas. Pada sisi aksiologis, pendidikan kaligrafi bersanad menanamkan nilai adab, disiplin, kesabaran, dan ketelitian, sehingga nilai menjadi bagian yang mengarahkan proses sekaligus standar keberhasilan pembelajaran