SciRepID - Scientific Publication Search

Publication Search

50,562 articles from 425 journals · 1,447 citations tracked

Showing 1-9 of 9

Analytics

Cut Bidara Panita Umar; Anatje J Pattipeilohy; Wa Yatmi Wali

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kedokteran 2023 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Rumput laut merah (Eucheuma spinosum) merupakan salah satu jenis tumbuhan obat tradisional oleh masyarakat di Indonesia. Rumput laut merah (Eucheuma spinosum)  mengandung flavonoid, alkaloid,dan saponin. Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri gram negatif. Bakteri ini merupakan spesies dengan habitat alami dalam saluran percernaan manusia maupun hewan, dimana bakteri ini membentuk spora dan motil dengan flagella peritrikus disebut juga bakteri gram negatif. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui uji aktivitas ekstrak etanol rumput  laut  merah (Eucheuma spinosum) dapat  menghambat pertumbuhan antibakteri Escherichia  coli  dengan  menggunakan  metode difusi sumuran.  Metodologi Penelitian ini menggunakan metode eksperimental .Metode difusi sumuran dimana dibuat sumuran pada media  agar  yang  telah  ditanami  dengan  mikroorganisme  kemudian  diinkubasi  dan  diberi  agen antimikroba yang akan di uji. Hasil penelitian Pada Pengujian  aktivitas antibakteri dapat dilihat bahwa zona hambat yang dihasilkan dari berbagai konsentrasi rumput laut merah (Eucheuma spinosum) yaitu konsentrasi 60%,70,80, dan 90% terhadap bakteri Escherichia coli, memiliki zona hambat konsentrasi berbeda-beda. Pada konsentrasi 60% zona hambat sebesar 16 mm (kuat), konsentrasi 70% dengan zona hambat sebesar 19 mm, (kuat), konsentrasi 80% dengan zona hambat sebesar 21 mm (sangat kuat), konsentrasi  90% dengan zona hambat sebesar 30 mm (sangat kuat). Kesimpulan bahwa ekstrak rumput laut merah (Eucheuma  spinosum) mengandung antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli

Micie Sariwating; Cut Bidara Panita Umar; Walfa Syafidya Buamona

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan 2023 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Daun Binahong (Anredera cordifolia) merupakan tumbuhan fungsional karena sebagian besar dapat dimanfaatkan sebagai obat. Daun binahong memiliki kandungan metabolis sekunder yaitu alkaloid flavonoid tanin dan saponin yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Metode yang di gunakan yaitu metode sumuran. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui kandungan kimia yang ada di dalam daun binahong dan daya hambat ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia) sebagai antibakteri terhadap biakan bakteri Propionibacterium acnes, subjek pada penelitian ini adalah ekstrak etanol daun binahong. Objek pada penelitian ini adalah daya hambat antibakteri ekstrak etanol daun binahong. Sebagai kontrol positif yang di gunakan adalah kloramfenikol. Ekstrak diperoleh dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Ekstrak etanol daun binahong yang diperoleh dibuat dalam 3 seri konsentrasi 5%, 10% dan 15% kemudian diujikan pada bakteri propionibacterium acnes, nilai KHM pada bakteri propionibacterium acnes yang diperoleh pada konsentrasi 5% tidak memiliki zona hambat 0 mm untuk konsentrasi 10% dengan luas zona hambat yang terbentuk sebesar 13 mm dan konsentrasi 15% dengan luas zona hambat yang terbentuk sebesar 20 mm. Berdasarkan hasil penelitian ekstrak etanol daun binahong memiliki daya hambat terhadap bateri Propionibacterium acnes.

Lisa Potti; Amelia Niwele; Misdar Al Umar

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan 2023 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Secara farmakologi daun singkong mempunyai aktivitas sebagai antiinflamasi, antibakteri, antioksidan. Kandungan yang terdapat dalam daun singkong yaitu air, fosfor, karbohidrat, kalsium, vitamin c, protein, lemak, vitamin B1, zat besi, flavanoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Daun singkong dipercaya memiliki berbagai manfaat untuk pengobatan penyakit seperti dapat mengobati rematik, asam urat, anemia, konstipasi, serta untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan dapat pula mengatasi masalah diare. Berdasarkan penelitian sebelumya oleh (Mutia dkk,.2017) mengemukakan bahwa daun singkong (Manihot esculenta Cranz) memiliki kandungan flavonoid,saponin dan tanin yang digunakan sebagai antibakteri. Salah satunya bakteri penyebab diare yaitu Escherisia Coli.Adanya efek anti bakteri pada daun ubi kayu dikarenakan mengandung mengandung senyawa antibakteri yaitu saponin, tannin dan flavonoid. Bakteri Escherisia Coli merupakan mikroorganisme patogen yang sering menginfeksi manusia. Bakteri ini merupakan salah satu yang menyebabkan terjadinya infeksi saluran kemih, meningitis, pneumonia,diare dan infeksi lainnya. Penyebaran bakteri Escherchia Colli dapat melalui kegiatan tangan ke mulut atau dengan cara pemindahan pasif melalui perantara makanan maupun minuman. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak daun ubi kayu dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan gram negatif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efek antibakteri ekstrak daun ubi kayu terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Ekstrak ubi kayu dibuat dalam tiga konsentrasi (20%, 40%, 60%) yang diuji daya hambatnya. Penelitian ini menggunakan bakteri Escherichia coli yang dibiakkan dengan media EMBA (Eosin Meythelen Blue Agar) dengan metode paper disk. Didapatkan adanya zona bening disekitar paperdisk yang mengandung ektrak daun ubi kayu. Simpulan penelitian ini adalah ekstrak ubi kayu (Manihot esculenta Crans) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Eschericia coli. Konsentrasi paling efektif dalam menghambat bakteri adalah 60%.    

Risman Tunny; Aulia Debby Pelu; Sultina Syari

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kedokteran 2022 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Rumput laut atau alga (euceuma cottanii) telah dimanfaatkan penduduk pantai di Indonesia untuk bahan pangan dan obat-obatan. Negara kepulauan, Indonesia dapat memanfaatkan sumber daya perairan dengan maksimal untuk di jadi suatu produk farmasi. ,mengandung senyawa biokimia sebagai metabolik sekunder salah satunya sebagai aktivitas antibakti, Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol pada Eucheuma Cottonii dapat menghambat bakteri Staphylococcus Aureus. Metode yang di gunakan yaitu difusi sumuran dan metode in nova. Pada penelitian ini dilakukan uji skrining fitokimia dan uji aktivitas antibakteri ekstrak rumput laut hijau (euceuma cottanii) dengan menggunakan pelarut etanol 70%. Ekstraksi rumput laut hijau (euceuma cottanii) dilakukan dengan menggunakan metode maserasi untuk mendapatkan ekstrak. Hasil uji skrining fitokimia ekstrak etanol 70% rumput laut hijau (euceuma cottanii) memiliki kandungan metabolit sekunder seperti : flavonoid dan steroid. Ekstrak rumput laut hijau (euceuma cottanii) mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri staphylococus aureus dengan diameter zona hambat terbesar yaitu pada kosentrasi 30% sebesar 19 mm, dan diameter yang terkecil pada kosentrasi 10% sebesar 15 mm. Maka dapat di Simpulkan bahwa Hasil uji skrining fitokimia ekstrak etanol 70% rumput laut hijau (euceuma cottanii) memiliki kandungan metabolit sekunder seperti : flavonoid dan steroid. Ekstrak rumput laut hijau (euceuma cottanii) mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri staphylococus aureus dengan diameter zona hambat terbesar yaitu pada kosentrasi 30% sebesar 19 mm, dan diameter yang terkecil pada kosentrasi 10% sebesar 15 mm.

Alice Luhulima; Amelia Niwele; Sartika Sari Kadimas

Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Anggur laut (Caulerpa racemosa) merupakan salah satu jenis tumbuhan yang bermanfaat untuk pengobatan terapi, anggur laut (Caulerpa racemosa) mengandung senyawa kimia yang berfungsi sebagai antibakteri seperti alkaloid, flavanoid, tanin, saponin dan steroid. Antibakteri adalah zat yang menghambat dan membunuh. Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang menyebabkan infeksi bernanah pada kulit manusia. Penelitian ini merupakan penelitian experimental laboratorium. Penelitian menggunakan ekstrak kental etanol 70% anggur laut (Caulerpa racemosa), variasi konsentrasi ekstrak yaitu 20%, 40%, 60%, dan 80%, untuk kontrol negatif menggunakan aquades dan untuk kontrol positif menggunakan cloramphenicol. Pada pengujian antibakteri ekstrak etanol 70% anggur laut (Caulerpa racemosa) terhadap bakteri Staphylococcus aureus menunjukan bahwa pada konsentrasi 80% dan 60% sensitif untuk menghambat pertumbuhan bakteri dengan diameter zona hambat sebesar 32 mm dan 29 mm, sedangkan konsentrasi 20% dan 40% intermedian menghambat pertumbuhan bakteri dengan diameter zona hambat 24 mm dan 26 mm. Kontrol negatif tidak terjadi aktifitas antibakteri dan tidak memiliki diameter zona hambat, kontrol positif mempunyai diameter zona hambat yaitu sebesar 30 mm. Dari hasil tersebut maka anggur laut (Caulerpa racemosa)berfungsi sebagai antibakteri.

Risman Tunny; Cut Bidara Panita Umar; Sari Siompu

Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Pelepah pisang ambon (Musa paradisiaca var. sapientum) seringkali hanya di buang, padahal pelepah pisang ambon memiliki antibakteri yang tinggi. Staphylococus aureus adalah salah satu gram positif berbentuk kokus dan merupakan bakteri patogen bagi manusia. Staphylococus aureus termasud bakteri yang banyak resistensi terhadap antibiotik. Tujuan.  Untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder Tanin, Saponin, Flavanoid, Fenol, dan Alkaloid pada pelepah pisang ambon (Musa paradisiaca var. sapientum). Untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak pelepah pisang ambon terhadap pertumbuhan Staphylococus aureus. Untuk mengetahui konsentrasi 20%, 40%, 60% dan 100% ekstrak etanol pelepah pisang ambon yang efektif dalam menghambat pertumbuhan Staphylococus aureus. Metodologi. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan menggunakan metode difusi sumuran dengan empat varian konsentrasi 20%, 40%, 60% dan 100% . Kontrol positif yang digunakan  adalah Ciprofloxacin dan kontrol negatif yang digunakan adalah Aquades. Skrining fitokimia dilakukan dengan metode tabung. Hasil penelitian. Skrining fitokimia menunjukan ekstrak pelepah pisang ambon mengandung tanin, saponin, flavonoid, alkaloid dan fenol. Pengaruh pemberian ekstrak etanol 70% pelepah pisang ambon terhadap Staphylococus aureus di tandai dengan terbentuknya zona hambat pada  konsentrasi 20% zona hambat 13 mm, konsentrasi 40% zona hambat 16 mm, konsentrasi 60% zona hambat 18 mm dan konsentrasi 100% zona hambat 20 mm. Kesimpulan. Pelepah pisang ambon memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococus aureus dengan konsentrasi yang efektif yaitu 100% degan zona hambat 20 mm dengan kategori sangat kuat.

Lisa Potti; Amelia Niwele; Arni Mardiana Soulisa

Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Tanaman obat merupakan tanaman yang sangat popular yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional dan jamu, yang bila dikonsumsi akan meningkatkan kekebalan tubuh (immune system). Salah satu jenis tanaman yang berkhasiat obat adalah tanaman pepaya, mulai dari daun, buah hingga bijinya. Salah satu bagian dari pepaya yang ternyata juga memiliki khasiat sebagai bahan obat adalah kulit dari buah pepaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder yang ada di dalam kulit buah pepaya (carica papaya L.) Serta mengetahui aktivitas antibakteri ekstral etanol kulit buah pepaya (carica papaya L.) Terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan metode maserasi selama 3 hari dan remaserasi selama 1 hari dengan pelarut etanol 96%. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium. Metode difusi agar sumuran digunakan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol kulit buah pepaya (carica papaya L.) Larutan dibuat dengan variasi konsentrasi yaitu 50% 100% dan 150% dalam b/v dengan kontrol positif kloramfenikol dan kontrol negatif aquadest. Pengamatan yang dilakukan untuk uji skrining fitokimia ekstrak etanol kulit buah pepaya asal Desa Negeri Lima mengandung senyawa tanin, alkaloid dan saponin. Hasil uji antibakteri ekstrak etanol kulit buah pepaya memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus pada konsentrasi 50% sampai dengan 150% dengan rata-rata diameter zona hambat 16,00 mm sampai dengan 21,50 mm dengan kategori kuat hingga sangat kuat. Hal ini menunjukan bahwa ekstrak kulit buah pepaya (carica papaya L.) Mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.

Risman Tunny; Wiwi Rumaolat; Mitha Soumena

Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan 2021 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Batang gaharu (Aquilaria malaccensis L.) merupakan salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri yang diperlukan tubuh untuk melawan bakteri patogen. Potensi antibakteri yang dimiliki batang gaharu disebabkan adanya kandungan senyawa kimia didalamnya.  Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa kimia batang gaharu (Aquilaria malaccensis L.) serta mengetahui zona hambat dari antibakteri ekstrak etanol batang gaharu (Aquilaria malaccensis L.) yang dilakukan dengan menggunakan metode difusi sumuran. Pada penelitian ini dilakukan uji skrining fitokimia menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstraksi batang gaharu dilakukan dengan menggunakan metode maserasi. Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol batang gaharu (Aquilaria malaccensis L.) menunjukan adanya senyawa flavonoid, alkaloid, dan terpenoid. Hasil uji efektifitas antibakteri ekstrak etanol batang gaharu  (Aquilaria malaccensis L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus diperoleh konsentrasi 15% dengan diameter zona hambat 11 mm, konsentrasi 30% dengan diameter 13 mm, dan konsentrasi 60% dengan diameter 14 mm.

Toria Sangadji; Ira P. Ely; Wasni Husain

Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan 2021 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Rimpang lengkuas (Alphinia purpurata k.schum) adalah jenis tanaman anggota familia zingiberaceae. Alkaloid, flavonoid, fenol dan terpenoid merupakan kandungan senyawa aktif yang terdapat di dalam rimpang lengkuas (Alphinia purpurata k.schum). Senyawa fenol yang berfungsi sebagai antiseptik, antijamur, dan antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya daya hambat ekstrak rimpang lengkuas (Alphinia purpurata k. schum) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Metode ekstraksi yaitu tercapai keseimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan. Metode difusi sumuran dimana dibuat sumuran pada media agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme kemudian diinkubasi dan diberi agen antimikroba yang akan di uji. Hasil penelitian: Uji aktivitas antibakteri dapat dilihat bahwa zona hambat yang dihasilkan dari berbagai konsentrasi rimpang lengkuas (Alphinia purpurata k. schum) yaitu 70%, 80%, 90%, & 100% terhadap bakteri Escherichia coli. Memiliki diameter yang berbeda-beda dan memiliki kekuatan yang berbeda pula. Pada konsentrasi 70% dengan diameter zona hambat sebesar 16 mm (intermediet), konsentrasi 80% diameter zona hambat sebesar 19 mm (sensitif), konsentrasi 90% diameter zona hambat sebesar 21 mm (sensitif), dan konsentrasi 100% dengan diameter zona hambat sebesar 25 mm (sensitif). Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak rimpang lengkuas pada konsentrasi 80%, 90% & 100% mengandung antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Kesimpulan: Ekstrak rimpang lengkuas (Alphinia purpurata k.schum) memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan semakin besar konsentrasi yang diberikan, maka semakin luas zona hambat yang terbentuk.