Publication Search

71,387 articles from 644 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-9 of 9

Analytics

Widya Nuryana; Dian Ayu Ainun Nafies; Lilia Faridatul Fauziah; Miftahul Munir

Inovasi Kesehatan Global 2026 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Food waste is an important indicator in evaluating the effectiveness of food service management, especially in institutional settings such as Islamic boarding schools. High levels of food waste can be influenced by several factors, including food taste and satisfaction with food service. This study aimed to analyze the relationship between food taste and food service satisfaction with food waste among students at Al-Hasyimi Islamic Boarding School Sukolilo Bancar. This research used a quantitative method with a cross-sectional design. The population consisted of 127 female students, with 98 respondents selected using stratified random sampling. Data were collected using the Comstock form to measure food waste and questionnaires to assess food taste and food service satisfaction. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analysis with the Spearman Correlation test. The results showed a significant relationship between food taste and food waste (p=0.000), as well as between food service satisfaction and food waste (p=0.000).

Melani Putria Yudismara; Amalia Rahma

Antigen : Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi 2025 LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease with a high prevalence in Indonesia that requires appropriate dietary management to prevent complications. Nutrition education plays a crucial role not only in improving patient knowledge but also in influencing eating behavior and dietary compliance. This study aims to analyze the effectiveness of nutrition education on dietary compliance and food waste among hospitalized DM patients at Muhammadiyah Hospital Gresik. This pre-experimental research used a one-group pretest–posttest design involving 20 respondents selected through purposive sampling. The independent variable was nutrition education in the form of counseling, leaflets, and direct guidance, while the dependent variables were dietary compliance and food waste, measured using observation and the food weighing method with a scoring system of 0–25–50–75–100%. The results showed a significant increase in dietary compliance from 30% to 75% and a decrease in food waste from 65% to 20% after education (p < 0.05). Thus, nutrition education effectively improves dietary adherence and reduces food waste among DM patients.

Komang Sugiantari

Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan 2025 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Soft food served in hospitals is a simple indicator that can be used to evaluate the success of hospital nutrition services. The aim of this study was to determine the perception of oral surgery patients regarding soft food waste at Surya Husadha Hospital Denpasar. This research uses a quantitative descriptive survey method. The total population was 30 people, the number of research samples was 20 people... data collection was carried out by measuring perceptions of taste and food waste using a questionnaire for the 20 samples studied. Data was obtained from filling out a questionnaire about perceptions of soft food and a form for the amount of food waste. The data was analyzed using SPSS version 21 statistical analysis. The results of this study showed that there were porridge food waste in 40-49% (45%) of the sample, 50-59% (40%) of the sample, 60-69% (15%) of the sample. Leftover animal side dishes (0%). Vegetable side dishes (10%). Leftover vegetables (10%) And for juice (0%). It can be concluded that the perception of soft food at Surya Husadha Hospital from this research shows that as many as 40-49% (45%) are not satisfied with the rest of the soft food (porridge).  

Muhammad Sulthon Abdillah; Farel Atalla Muhammad Dafa; Ina Sholihah Widiati

Router : Jurnal Teknik Informatika dan Terapan 2024 Asosiasi Profesi Telekomunikasi dan Informatika Indonesia

In the rapid development of the food and beverage industry, overproduction and unsold food have led to a high amount of food waste, making Indonesia one of the largest food waste producers in the world. Data from the Central Bureau of Statistics (BPS) in 2021 shows that Indonesia produces 23-40 million tons of food waste annually, which negatively impacts the environment, natural resources, and the economy. This research aims to create a website that serves as a platform for selling leftover food to reduce food waste issues in Indonesia. The method used in designing this website is the Design Thinking method, which consists of five stages: Empathize, Define, Ideate, Prototype, and Test. Data for this method is collected through surveys and interviews with respondents. By creating this website, it is hoped to connect food business operators, such as restaurants, cafes, and bakeries, with consumers, allowing them to interact and providing an effective solution to reduce food waste in Indonesia. Additionally, it is expected that this website can minimize the waste of still-edible food for everyone. By ordering through this online platform, customers can get food at half the normal price.

Kapti Rahayu K, Merkuria Karyantina &

Adi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat 2024 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Warga perumnas Mojosongo terdiri dari 26% usia sangat produktif (25-40 tahun) yaitu masih mampu untuk melakukan banyak hal yang dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. Kelompok usia produktif tersebut ternyata kurang produktif, sebagian besar berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Ibu-ibu rumah tangga di wilayah perumnas Mojosongo yang dipilih menjadi mitra dalam kegiatan ini sehingga diharapkan memiliki tambahan ketrampilan yang dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. Salah satu usaha yang berkembang di sekitar wilayah Perumnas Mojosongo adalah usaha pembuatan tahu. Usaha pembuatan tahu ini cukup prospektif, karena merupakan makanan favorit masyarakat. Permasalahan yang timbul adalah limbah dari usaha tahu, yaitu limbah sisa air perasan tahu dan ampas tahu, yang menimbulkan bau yang kurang sedap. Ampas tahu sering diolah menjadi tempe gembus, namun tidak semuanya yang terolah, sehingga masih ada limbah yang belum dimanfaatkan. Manfaat Pelatihan Pembuatan aneka olahan ampas tahu bagi warga adalah diharapkan mampu meningkatkan keterampilan para anggota dalam bidang pengolahan pangan, terutama dalam hal pembuatan olahan ampas tahu, sehingga mampu memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga. Ampas tahu masih mengandung protein yang cukup tinggi, sehingga berpotensi diolah menjadi produk pangan yang bergizi. Olahan ampas tahu adalah stik, kerupuk, rengginan, kue kering dan lain-lain. Bahan dan cara pembuatan olahan ampas tahu mudah diperoleh dan dipraktekkan.Kata Kunci : ampas tahu, pengolahan, produk pangan, perumnas Mojosongo

Afifatul Faizah; Maulida Alfu Chusniyyah; Shaila Insyirah Medina; Denny oktavina radianto

Journal of Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Limbah organik dari sisa makanan dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat pupuk organik cair (POC). Secara umum pupuk organik cair mengandung unsur hara seperti Nitrogen, Fosfor, Kalium serta C-Organik yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari pupuk organik cair dari limbah organik berupa sisa makanan terhadap pertumbuhan awal tanaman kangkumg darat dan konsentrasi POC yang memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan awal dari tanaman kangkung darat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deksriptif kuantitatif dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan memberikan 3 perlakuan berdasarkan konsentrasi pupuk organik cair (POC) yang berbeda, yaitu P1= 50%, P2= 75%, P3= 100%. Penelitian dilakukan selama 1-2 bulan. Hasil penelitian pada perbandingan kosentrasi pupuk organik cair (POC) memperlihatkan terdapat beda signifikan terhadap pertumbuhan kangkung darat, yaitu pada tinggi batang, lebar daun dan panjang daun yang diberi perlakuan tidak sama. Perlakuan paling tepat yaitu perlakuan P1 dengan jumlah konsentrasi pupuk organik cair (POC) sebesar 50% (9,52 ml POC + 191,48 ml air) dengan hasil pengukuran tinggi batang 17,5 cm, lebar daun 1,1 cm, dan panjang daun 3,4 cm.

Dyah Rosiana Puspitasari; Landia Natalie Ayu Pawestri; Fernandoz Jevon Laka; Dominikus Degede Kola Pati; Wahid Bintang Saputra +6 more

Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Sejahtera 2022 STAI YPIQ BAUBAU, SULAWESI TENGGARA

Pengabdian masyarakat sebagai kegiatan ini merupakan salah satu kewajiban dari Tri Darma perguruan tinggi dimana hal inilah yang menjadi pedoman dan menjadi dasar, Universitas Janabdara Yogyakarta dalam hal ini mahasiswa hadir sebagai bentuk implementasi pengabdian terhadap masyarakat dalam mewujudkan tujuan untuk memberikan pengajaran kepada masyarakat dan membantu masyarakat dalam memanfaatkan serta mengembangkan potensi dari limbah sampah rumah tangga dan mengedukasi masyarakat dalam memahami pentingnya pengelolaan sampah, karena sampah di masyarakat Padukuhan Kretek tidak terlebih dahulu dipilah dari sampah plastik (an organik) maupun sampah sisa makanan (organik) dan lain-lain namun hanya terbuang begitu saja ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Akibat dari hal tersebut tentu akan berdampak buruk dalam jangka Panjang baik dalam segi Kesehatan, sosial, dan tata kelola lingkungan hidup yang baik. Sampah dapat dijadikan bahan- bahan kreatif dan inovatif apabila pengelolaannya dilakukan secara benar. Pada dasarnya tingkat kesadaran masyarakat akan pemahaman pengelolaan sampah sangat penting yang pada prinsipnya manusia adalah makhluk yang menghasilkan sampah, dan pengelolaan sampah harus dibangun mulai dari lingkungan yang paling kecil yaitu keluarga. Metode kegiatan ini adalah sosialisasi dan seminar yang dianggap langkah awal untuk menumbuhkan kesadaran terhadap sampah. Terlepas dari itu penyajian materi dan mempraktekannya secara langsung tentang pengelolaan dan pemilahan sampah, adapun juga sesi tanya-jawab untuk menambah pemahaman kepada orang tua, pemuda/pemudi dan anak-anak, serta dapat membangan paradigma baru dalam melihat sampah. Dampak dari kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat memberikan peningkatan pengetahuan dan pemahaman kepada orang tua, pemuda/pemudi dan anak-anak di Padukuhan Kretek, Kelurahan Jambidan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, tentang pengelolaan dan pemilhan sampah, sehingga masyarakat dapat mempraktekan dan mengelola sampah di lingkungan rumah masing-masing. Secara substansial kegiatan pengabdian ini dapat disimpukan sebagai upaya membangun manusia dengan menekankan pada kesadaran diri masing-masing individu maupun kelompok masyarakat sehingga masyarakat benar-benar memanfaatkan sampah yang terdapat di lingkungannya secara khusus maupun lingkungan diluarnya secara umum dengan semaksimal mungkin.    

Linda Kurniawati, Lisa Rosalia, Akhmad Mustofa &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Masyarakat Indonesia lebih suka mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung antioksidan karena dapat melindungi sel dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas. Tanaman sumber antioksidan salah satunya bunga rosela. Pigmen antosianin dalam rosela juga dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami dalam makanan dan minuman. Salah satu usaha yang akan dilakukan adalah mengolah bunga rosela menjadi nata. Penelitian ini bertujuan menghasilkan formulasi nata de rosela yang memiliki aktivitas antioksidan maksimal, berkualitas, dan disukai konsumen, serta mengetahui karakteristik kimia, fisika, dan sensori nata de rosela dengan variasi lama ekstraksi dan berat bunga rosela. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu lama ekstraksi (5, 10, 15, dan 20 menit) dan berat bunga rosela (5, 10, dan 15 gram). Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan berat bunga rosela 15 gram dengan lama ekstraksi 5 menit menghasilkan nata de rosela yang mempunyai aktivitas antioksidan paling tinggi. Karakteristik nata de rosala tersebut adalah sebagai berikut: kadar air 87,94%; kadar abu 0,03%; kadar serat 2,06%; kadar gula yang dimanfaatkan dalam proses fermentasi 91,61%; aktivitas antioksidan 23,88%; ketebalan nata 0,96 cm, berat nata 1075 gram, tekstur 28,95 mm/g, cairan sisa fermentasi 30 ml, dan warna nata de rosela yaitu berwarna merah muda (2,27). Kata Kunci: nata de rosela, bunga rosela, berat bunga rosela, lama ekstraksi ABSTRACTIndonesian people were more likely to consume foods that contain antioxidants because

Linda Kurniawati, Suratmiyati, Akhmad Mustofa &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Nata merupakan makanan yang banyak digemari masyarakat, yang selama ini dibuat dari air kelapa.Tetapi air kelapa semakin lama semakin sulit untuk didapatkan. Selama ini setiap keluarga menghasilkan limbah leri yang dihasilkan dari pencucian beras yang akan dikonsumsi setiap harinya. Tetapi limbah leri oleh masyarakat hanya dibuang karena dinilai tidak mempunyai nilai ekonomis. Dalam air limbah leri masih mengandung karbohidrat jenis pati sebanyak 85-90%. Jenis karbohidrat dalam beras berupa pati dapat terbuang bersama air ketika proses pencucian. Kandungan karbohidrat ini memenuhi syarat pertumbuhan bakteri Acetobacter sp. dalam pembuatan Nata. Bakteri akan mensintesis selulosa dari karbohidrat yang terkandung dalam air cucian beras sehingga dihasilkan Nata de Leri.Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama yaitu jenis beras hitam, merah, dan putih. Faktor kedua yaitu lama fermentasi 8, 10, 12, 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan jenis beras merah dengan lama fermentasi 14 hari adalah yang terbaik yang memiliki kadar air 97,48%; kadar abu 0,048%; kadar serat 2,57%, dan kadar gula yang dimanfaatkan dalam proses fermentasi 5,64%; ketebalan nata 0,61 cm; berat nata 521 gram; tekstur 28,85 mm/g; cairan sisa fermentasi 100 ml serta warna nata de leri coklat muda.Kata Kunci : Leri, Nata de leri, jenis beras, lama fermentasi