Publication Search

79,575 articles from 739 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 28

Analytics

Emilianus Rango; Leonardo Kristian Magung; Edwar Firmanto Meo Pau

JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA 2026 CV. ALIM'SPUBLISHING

The creation narrative in Genesis 1–2 serves as an essential theological foundation for understanding the origin of the world and the nature of humanity. This text not only describes God’s creative acts but also affirms the unique dignity of human beings. This study aims to examine the meaning of the creation narrative in Genesis 1–2 and its relevance to the concept of human dignity in the modern era. The method employed is a literature study using exegetical and theological approaches, through analysis of biblical texts and relevant scholarly sources. The findings indicate that Genesis 1 emphasizes order, the goodness of creation, and the creation of humans in the image and likeness of God (imago Dei), while Genesis 2 highlights the relational and existential dimensions of humanity, including relationships with God, others, and nature. The concept of imago Dei affirms that humans possess intrinsic value, freedom, reason, and moral responsibility. In a contemporary context, this narrative remains relevant as an ethical foundation to reject violations of human dignity such as discrimination, violence, and exploitation, while also encouraging ecological awareness and responsibility toward the environment. Therefore, the creation narrative holds not only theological significance but also contributes meaningfully to the development of humane, dignified, and sustainable values.

Guntara, Peter; Kurniastuti, Devi Fahwi; Wardoyo, Nanda Puspitasari

Synergy: Journal of Collaborative Sciences 2026 Yayasan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Pelecehan seksual kini menjadi fenomena yang meresahkan karena dapat terjadi di berbagai ruang publik, termasuk transportasi umum tempat yang seharusnya menjadi sarana aman dan nyaman bagi masyarakat. Ironisnya, ruang yang dirancang untuk mobilitas justru berubah menjadi ruang yang rawan bagi keselamatan dan martabat penumpang, terutama perempuan dan anak. Tingginya kasus pelecehan seksual di transportasi umum menunjukkan bahwa aspek keamanan dan perlindungan hukum masih belum optimal. Kondisi ini jelas menimbulkan kerentanan serius dan rasa aman dan keadilan bagi seluruh pengguna jasa transportasi. Upaya peningkatan keamanan, pengawasan, serta penegakan hukum dalam transportasi umum menjadi hal yang mendesak untuk menjamin rasa aman dan keadilan bagi seluruh pengguna jasa transportasi. Penelitian ini menggunakan penelitian hukum normatis yuridis, bertujuan untuk menganalisis bentuk perlindungan hukum terhadap korban kekerasan seksual di transportasi umum berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, Undang-undang nomor 13 tahun 2006 jo UU Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban, Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, sebagai bentuk ketentuan untuk mencegah tindak pidana kekerasan seksual. Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan UU TPKS telah memberikan dasar hukum yang kuat untuk melindungi korban, namun efektivitasnya bergantung pada sinergi antara aparat penegak hukum, penyedia layanan transportasi, dan partisipasi aktif masyarakat. Dengan penegakan hukum yang konsisten dan sosialisasi yang berkelanjutan, transportasi umum yang aman dan bebas dari kekerasan seksual dapat terwujud.

Rahel Maretha Nababan; Naia Fauzi; Surya Elia Subianto Manurung; Ricky Aditya Siregar; Hairul Amren

Penelitian ini membahas bagaimana mahasiswa memandang peran Pendidikan Pancasila dalam memperkuat pemahaman Hak Asasi Manusia (HAM) dan prinsip keadilan sosial dalam sistem pendidikan Indonesia. Melalui pendekatan deskriptif-kualitatif, studi ini menelusuri persepsi mahasiswa terhadap relevansi nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kedua dan kelima, dalam membentuk karakter, kesadaran kritis, serta sikap inklusif dalam lingkungan akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menilai Pendidikan Pancasila tidak hanya sebagai mata kuliah normatif, tetapi juga sebagai sarana pembentukan etika sosial, penghormatan terhadap martabat manusia, dan penguatan kepekaan terhadap ketidaksetaraan sosial. Namun demikian, mahasiswa juga melihat adanya tantangan berupa kurangnya metode pembelajaran yang kontekstual, sehingga nilai-nilai HAM dan keadilan sosial belum sepenuhnya diinternalisasi secara mendalam. Penelitian ini merekomendasikan penguatan model pembelajaran berbasis dialog, studi kasus, serta integrasi isu-isu sosial aktual agar Pendidikan Pancasila semakin relevan dan berdampak bagi generasi muda.

Juwa, Ferdinandus; Ewaldus E. Ndora,; Fransiskus Sales Lega, S.Fil, M.Th

REDOMINATE : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani 2025 Sekolah Tinggi Teologia Kerusso Indonesia

Masa remaja merupakan tahap perkembangan krusial dalam pembentukan jati diri dan kepribadian. Dalam konteks iman Kristiani, manusia dipahami sebagai imago\ Dei (Citra Allah) sehingga setiap remaja memiliki martabat luhur yang harus dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Artikel ini bertujuan menjelaskan makna martabat manusia sebagai Citra Allah, menganalisis tantangan remaja di era modern, serta menawarkan panduan praktis untuk mengaktualisasikan nilai-nilai ilahi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk memahami fenomena secara mendalam terhadap perilaku remaja dalam konteks keluarga, sekolah, dan masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa remaja menghadapi tantangan signifikan dari media sosial, konsumerisme, dan krisis spiritual, tetapi tetap memiliki peluang untuk menghidupi martabatnya melalui penguatan kesadaran identitas, kejujuran, solidaritas, tanggung jawab, dan keterlibatan rohani.  

Four Dofi Sidabutar; Sony Junaedi

NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 2025 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Penelitian ini menganalisis implementasi pendidikan karakter oleh Penyuluh dalam mata pelajaran Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Budi Pekerti di SMP Negeri 2 Sumowono. Fokus penelitian meliputi strategi pengajaran, metode penyampaian nilai karakter, tantangan, serta faktor pendukung dan penghambat. Metode kualitatif digunakan dengan wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil menunjukkan pendidikan karakter diterapkan melalui lima elemen utama yaitu Sejarah, Keagungan Tuhan, Budi Pekerti, Martabat Spiritual, Larangan dan Kewajiban dengan metode interaktif seperti diskusi kelompok, ceramah inspiratif, dan praktik langsung (role-play) untuk menanamkan nilai-nilai karakter dan keteladanan Penyuluh. Faktor pendukung berupa kepemimpinan kepala sekolah, keterlibatan orang tua, dan lingkungan sekolah yang kondusif, sedangkan penghambat meliputi keterbatasan sarana, waktu, dan pengaruh negatif pergaulan. Dampak positif terlihat pada peningkatan kejujuran, kedisiplinan, kesantunan, dan toleransi siswa. Kesimpulannya, pendidikan karakter berhasil membentuk peserta didik penghayat kepercayaan berakhlak mulia, namun perlu upaya berkelanjutan untuk mengatasi hambatan dan memperkuat kolaborasi sekolah, orang tua, dan masyarakat.

Ridwan Tonny Hasiholan Pane; Pether Sobian; Frans Aliadi

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2025 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

This study is motivated by the increasing complexity of ethical challenges in public healthcare services in the modern era, characterized by rapid technological advancement, professional pressures, and shifting moral values. Within this context, Christian healthcare professionals face significant dilemmas in maintaining their faith-based ethical principles amid pragmatic service demands. This research aims to construct a Christian ethical framework on human dignity as a normative foundation for public healthcare practice. The study employs a descriptive qualitative method using a literature review approach, analyzing theological, philosophical, and social sources related to ethics, human dignity, and public service. The findings reveal that Christian ethics is rooted in the concept of Imago Dei, affirming that every human being possesses intrinsic dignity as created in the image of God. The principles of love (agape), justice, and moral responsibility serve as the core foundation for ethical healthcare practice. The implications of this study emphasize that healthcare services should not be merely technical but must also embody spiritual and humanistic values. Therefore, Christian healthcare professionals are called to act as moral agents who promote compassionate, dignified, and holistic care within the public healthcare system.

Dielasy Budiarti; Yandi Saputra

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora 2025 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

The practice of surrogacy in Indonesia is growing despite the absence of clear legal regulations, creating uncertainty in the protection of surrogates, children, and those who use surrogacy services. Although several countries have regulations governing this practice, Indonesia still faces a legal vacuum that leaves many parties vulnerable to exploitation. This study aims to analyze aspects of legal protection, reproductive rights, children's interests, and women's dignity in the context of surrogacy in Indonesia, with the aim of formulating a more adaptive and equitable regulatory framework. The method used in this study is a normative juridical approach, with analysis using AMOS-based Structural Equation Modeling (SEM) of relevant legal documents and existing scientific literature. This research involves an analysis of existing regulations, cases related to surrogacy, and the opinions of legal experts and the public. The results show significant differences in legal protection between surrogates and children involved in surrogacy practices. Furthermore, there is uncertainty regarding the status of children born through surrogacy practices, which impacts their rights, particularly in terms of legal recognition and access to their human rights. This study also emphasizes that protecting women's reproductive rights and maintaining their dignity must be an integral part of surrogacy regulations. Clear and comprehensive regulations have been shown to improve protection for surrogates, children, and other related parties, as well as prevent potential exploitation. The implications of this study are the importance of establishing legislation specifically governing surrogacy practices in Indonesia, where such policies must focus on justice, child rights protection, and gender equality.

Antonius Bambang Doso Susanto; Honorata Ratnawati Dwi Putranti

NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 2025 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Artikel ini mengeksplorasi hubungan antara kecerdasan buatan (AI) dan konsep teologis penciptaan manusia 'Imago Dei' sebagaimana digambarkan dalam Kitab Kejadian 1 (satu). Penciptaan manusia menjadi mahkota kisah penciptaan, manusia diciptakan dengan martabat tertinggi sedangkan AI hadir seolah melebihi manusia. Dengan mempertimbangkan bahwa AI hanya alat yang mewakili bentuk kreativitas manusia yang baru dan maju. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjembatani gap pengetahuan antara pengembangan AI dan pemahaman teologis tradisional tentang peran manusia sebagai co-creator. Artikel ini memberikan wawasan sejauh mana AI dapat dipandang sebagai ekstensi atau penyimpangan dari mandat kreatif manusia dan menilai implikasi etis yang terkait. Melalui analisis literatur interdisipliner, studi ini membahas pertanyaan tentang identitas manusia dalam era teknologi dan bagaimana inovasi AI dapat diintegrasikan ke dalam kerangka kerja kepercayaan agama. Penelitian ini tidak hanya mengungkapkan tantangan teologis yang disajikan oleh AI tetapi juga menawarkan perspektif baru pada tanggung jawab dan batasan manusia dalam penciptaan teknologi. 

Jawa, yuliana; Theresia Noiman Derung

Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi 2024 International Forum of Researchers and Lecturers

The digital age has brought significant changes to human life, from the way we communicate to work patterns and access to information. However, these technological advances also pose major challenges to human dignity, including the threat of dehumanization, exploitation of personal data, and unequal access to technology.  This article uses a qualitative method with a descriptive-analytical approach through literature review and case study analysis. The article finds that the digital age has an ambivalent impact: on the one hand, it presents opportunities such as wider access to information, economic empowerment, and strengthening intercultural dialogue; on the other hand, it also exacerbates dehumanization, privacy violations, and the digital divide. Through the Redemptor Hominis framework, this article asserts the importance of placing human beings at the center of technological innovation, with the principles of solidarity and justice as ethical foundations.

Antonius P Sipahutar; Alexius Poto Obe; Alexsander Halawa

Jurnal Magistra 2024 STP Dian Mandala Gunungsitoli Nias Keuskupan Sibolga

This paper is based on the author's concern over the increasingly rampant events of human dignity decline. More of people are less aware of the nobility of their dignity as Imago Dei. The purpose of this writing is to make each individual aware himself as an individual who is able to respect and fight for their own dignity and the others, while also stopping damaging their own dignity and the dignity of others. The method used is a literature review. The author collects, reads, and understands various relevant sources and compiles them into a scientific paper. The results of this research illustrate that humans have a very noble dignity based on their identity as Imago Dei. Humans are bestowed by God with various privileges, such as mind, consciousness, and free will. Therefore, God entrusts humans as His co-workers in the work of creation, and God even gives them the mandate to maintain and guard other creations. Based on their existence, humans live in a trilogy of relationships, namely relationships with God, others, and the universe. Because humans, by their nature, humans are social beings and are the pinnacle of all of God's creations, everyone must respect their own dignity and that of other humans. Humans should live in an atmosphere of universal brotherhood, tolerance, dialogue and peace with each other and the universe.

Maria Sudri Yanti Dhiu; Teresia Noiman Derung

Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi 2024 International Forum of Researchers and Lecturers

The modern world of work often prioritizes productivity and ignores the human dimension of workers. This article examines the concept of human dignity in the world of work based on Pope John Paul II's encyclical Laborem Exercens. The encyclical asserts that work is not merely a means to fulfill economic needs, but also an expression of human dignity and participation in the work of creation. Work has a subjective value that transcends material value, so human beings should always be the center of attention in work activities. In addition, Laborem Exercens highlights the importance of justice in employment relations, respect for workers' rights, solidarity and balance between material and spiritual aspects. This article aims to explore the application of these principles in today's world of work in order to create a more humane, just and sustainable work environment. By basing on the values contained in the encyclical Laborem Exercens, the world of work can become a means of building an inclusive and dignified community, where human well-being takes precedence over mere economic efficiency. This analysis is relevant as a reflection for modern society in realizing a world of work that respects the dignity of every individual.

Sudarsono, Sudarsono; Abad, Hulud

pendidikan non formal memiliki sejarah panjang di Indonesia, pertama kali muncul pada masa kolonialoisme dan terus berkembang pada saat ini. Di era ini, perkembangan pendidikan non formal sangatlah membantu pengembangan diri dan meningkatkan kualitas warga belajar(peserta didik) serta dapat meningkatkan kualitas martabat dan mutu dalam kehidupan. Pendidikan non formal tertera dalam UU RI no2 tahun 2003 tentang SISDIKNAS pada pasal 26: ayat (3, 4, dan 6) yang berbunyi : ayat ( 3) Pendidikan non formal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.”, ayat (4) “Satuan pendidikan non formal terdiri atas lembaga ku rsus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim serta satuan pendidikan yang sejenis.:,  dan ayat (6) “Hasil pendidikan non formal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional penilaian.”. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui karakteristik peserta didik non formal yang ada Indonesia.

Satria Satria; Bernard Subang Hayong; Antonio Camnahas

Akhlak : Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat 2024 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This study aims to explain the concept of ecological repentance according to the encyclical Laudato Si in responding to violations of nature that occur in Nunukan Regency, North Kalimantan. This study also aims to understand the call of the encyclical Laudato Si that it is important to protect and preserve nature as part of human life. This study is a development of philosophical reflection on dynamic and metaphorical nature by FX. Eko Armada Riyanto, in his book entitled Menjadi-Mencintai: Berphilsafat Theologis Sehari-hari and also as a reflection on the call of the encyclical Laudato Si that the universe is a common home that must be maintained for the sake of creating universal fellowship in God. Departing from Armada Riyanto's philosophical reflection, the author is moved to provide further reflection on the destruction of nature that is occurring in the world today, specifically nature in Nunukan Regency, North Kalimantan. Ecological problems such as forest destruction that occurs in Nunukan Regency are the destruction of nature which is a common home as a place of fellowship of all creation. Therefore, the Church through this encyclical loudly voices ecological conversion for all believers so that with it humans can once again knit harmony with the created nature. In this paper, the author presents a philosophical study that describes nature as an entity that has great value and dignity, so that the existence of nature is not only seen as a reality of entertainment or a tool to satisfy human needs, but also as part of human life. In addition, the author also provides an understanding of the importance of ecological conversion that must begin with the awareness that created nature is God's creation that must be guarded, maintained and protected with concrete communal actions to maintain the integrity of nature in Nunukan Regency. The methodology used in this study is a qualitative method by conducting a literature study related to the theme discussed. In addition, the methodology used is a literature study of several previous studies that are also related to the theme discussed in this paper.

Silvi Chairani; Najwa Rihadotul Aisy; Arrohmi Absus; Siti Asari; Xing Binti Samsurizal +1 more

Jurnal Hukum dan Sosial Politik 2024 International Forum of Researchers and Lecturers

Kekerasan seksual merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan tindak pidana yang merusak harkat dan martabat manusia, serta merupakan bentuk diskriminasi yang harus diberantas. Undang-Undang Tahun 2022 No. 12 (Undang-Undang TPKS) mendefinisikan tindak pidana kekerasan seksual dalam Pasal 1 Ayat 1 sebagai perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang diatur dalam undang-undang tersebut, serta tindak kekerasan seksual lainnya sepanjang tidak ditentukan dalam undang-undang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk meminimalisir dan mencegah kasus TPKS, menciptakan keadilan bagi korban, serta mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila di lingkungan perguruan tinggi dan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif dengan memanfaatkan bahan pustaka atau data sekunder. Dua faktor utama yang menyebabkan terjadinya kasus kekerasan seksual adalah faktor internal, yakni kedekatan emosional antara pelaku dan korban, serta faktor eksternal yang meliputi kondisi atau lingkungan sekitar korban. Penelitian ini difokuskan pada kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan di Indonesia saat ini dan upaya-upaya pencegahannya. Dukungan khusus sangat diperlukan untuk korban yang umumnya berasal dari lingkungan dengan perkembangan mental yang belum sempurna.

Endang Yuliana S, Tri Wahyu Widiastuti &

Adi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat 2024 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Dalam kehidupan rumah tangga sering terjadi pertentangan dan perbedaan pendapat yang sering berujung pada tindak kekerasan fisik maupun psikis yang dilakukan suami terhadap isteri atau sebaliknya. Untuk mencegah, melindungi korban dan menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, negara dan masyarakat wajib melaksanakan pencegahan, perlindungan dan penindakan terhadap pelaku sesuai falsafah Pancasila dan UUD 1945. Negara berpandangan bahwa segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga adalah pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi. Oleh karenanya perlu diadakan pencegahan dan penindakan terhadap pelaku dengan menggunakan perundang-undangan yang berlaku.Kata kunci : pencegahan, kekerasan dalam rumah tangga.

Ikmal Abdallah Syakur; Rifdah Wafda Esa; Nia Suryani; Septiana Dwi Damayanti; Rahmadhani Istiqomah +1 more

JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA 2023 CV. ALIM'SPUBLISHING

Latar belakang penelitian ini yaitu tokoh pahlawan pendidikan yang bernama Dewi Sartika yang mencakup profil Dewi Sartika, Sekolah Kautamaan Istri dan pengaruh pemikiran Dewi Sartika. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana rekam jejak pahlawan pendidikan dari kaum perempuan yang berjuang untuk mencerdaskan bangsa. Metode untuk mendapatkan data yang valid yaitu metode yang di gunakan adalah metode Sejarah yang mana memiliki beberapa teknik langkah-langkahnya yaitu; (1) pemilihan sumber, (2) pengumpulan sumber, (3) verifikasi, (4) interpretasi dan analisis, (5) menyajikan dengan bentuk tulisan. Hasil dari penelitian ini bahwa Dewi Sartika yang merupakan tokoh pahlawan perjuangan yang memberikan sebuah gagasan dan pemikiran. Profil Tokoh Raden Dewi Sartika serta Perjuangan mendirikan sebuah lembaga pendidikan Sakola Kautamaan Isteri. Beliau Dengan Sekolah yang didirikannya dapat mendidik anak-anak perempuan dari kalangan manapun, untuk memajukan harkat dan martabat kaum perempuan. perjuangan yang panjang yang dilakukan oleh Dewi Sartika berdampak positif atau pengaruh pada zamannya beliau dari tahun 1904-1947 M yang mana pengaruh tersebut dapat dirasakan pada masa itu.

Della Latifah Amanda; Nanda Ayuningtias

jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Knowledge is something that is very urgent in human life, in human life everyone needs knowledge. Islam is a perfect religion based on Quran and hadith. Islam places great emphasis on the obligation to seek knowledge, even the first verse that comes out is a verse about education. Because of the urgency of knowledge for humans, knowledgeable people are distinguished from people who are not knowledgeable. Knowledge is the key to happiness in this world and in the hereafter, if humans want to please Allah, humans must worship, carry out His commands and stay away from His prohibitions, must also use knowledge. Islam orders people to seek knowledge not only at school, but Islam teaches lifelong learning. The purpose of this writing is to discuss studying knowledge to achieve noble dignity. This research method uses a qualitative type through literature study and content analysis. The results and discussion of this study include an explanation of studying in Qs. Abasa (80):1-10 and Qs. Al-Mujadilah (58): 11 and the concept of knowledge in Islam. This study concludes that seeking knowledge is one of the most important parts of human life, without knowledge humans cannot develop. The search for knowledge is also considered as the starting point in attitude awareness. Seeking knowledge is obligatory for every Muslim man and woman. When Allah has sent down a mandatory order for something, then we must obey it.

Zainudin Hasan; Nathaniel Benecia Simanjuntak; M. Al Barade Umaru Jaya

Jurnal Hukum dan Sosial Politik 2023 International Forum of Researchers and Lecturers

Perlindungan anak yaitu segala aktivitas dalam melindungi dan menjamin anak dan hak-haknya untuk bisa berpartisipasi, berkembang, tumbuh, dan hidup dengan maksimal berdasarkan martabat dan harkat kemanusiaan, dan memperoleh perlindungan dari diskriminasi dan kekerasan. Kekerasan pada anak adalah wujud penganiayaan yang disertai dengan tindakan kekerasan baik secara emosional atau fisik yang berakibat buruk kepada tumbuh kembang anak. Dari hal tersebut, sehingga permasalahan yang diangkat pada penelitian ini yaitu bagaimana upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dibawah umur di Kota Bandar Lampung. Dalam pelaksanaan kegiatan perlindungan anak, kepastian hukum harus dilakukan untuk mencegah tindakan yang tidak diharapkan. Dibutuhkan sistem perlindungan  terpadu sebagai wujud pencegahan kekerasan pada anak. Upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dibawah umur di Kota Bandar Lampung dilakukan dengan cara melakukan penyuluhan dan sosialiasi mengenai undang-undang perlindungan anak dan hak-hak anak, serta dampak kekerasan kepada pembentukan karakter dan kesehatan anak, melaksanakan pelatihan Kader Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di beberapa lokasi di Bandar Lampung, melakukan audiensi ke sekolah-sekolah, membentuk program sekolah ramah anak, membangun puskesmas ramah anak dan ruang kreativitas, serta melakukan konseling terkait kekerasan pada anak dibawah umur

Hanifah Miftahul Jannah; Hatta Utwun Billah; Indah Damayanti; Kelsya Rukhiyah Nadila; Siti Hamidah

Jurnal Insan Pendidikan dan Sosial Humaniora 2023 International Forum of Researchers and Lecturers

Cultivate a attitude to appreciate the reality of life of disabled people and understand that seeking is not always the desired choice to be the background in this research.The purpose of this study is so that people with disabilities do not be seen by society on their own eyes of the people with disabilities who are using their shortcomings to attract sympathy.The systematic method of literature review became the method used in this research.The study of the theory, The fact is that economic empowerment is one way to lift the dignity of disabled people.The conclusion, appreciating the reality of life of disabled people must be a fundamental attitude in society, Government should be more responsive in addressing this phenomenon because disabled people are also citizens whose rights must be fulfilled.

Wibisono, Wawan

Jurnal Riset sosial humaniora, dan Pendidikan (Soshumdik) 2023 LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Tari Jathilan, sebuah seni tradisional Jawa yang memiliki makna budaya dan digunakan dalam upacara adat, telah mengalami transformasi yang signifikan di era modern. Pengaruh modernisasi dan perubahan ekonomi telah mengubah tari Jathilan menjadi ajang mencari uang di perempatan lampu merah. Fenomena ini mendorong perdebatan tentang dampaknya terhadap martabat budaya dan nilai-nilai tradisional. Beberapa mengkhawatirkan penurunan martabat budaya dan perubahan persepsi masyarakat terhadap tari Jathilan, sementara yang lain melihat potensi pemberdayaan budaya melalui transformasi ini. Dalam konteks sosial, ekonomi, dan budaya yang terus berubah, pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang mendorong transformasi ini dan dampaknya terhadap budaya lokal menjadi penting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor pendorong transformasi tari Jathilan menjadi ajang mencari uang serta mengkaji implikasi sosial, budaya, dan ekonomi dari transformasi ini. Dengan menggali pemahaman tentang transformasi tari Jathilan, penelitian ini berkontribusi dalam pelestarian budaya dan pemberdayaan seni tradisional di masa depan.