Julaiha Siregar; Ristika Julianty Singarimbun; Cahya Aisyah Daulay; Widia Astuti Tanjung
Abstract:
76,956 articles from 728 journals · 2,111 citations tracked
Showing 1-20 of 1,247
Julaiha Siregar; Ristika Julianty Singarimbun; Cahya Aisyah Daulay; Widia Astuti Tanjung
Abstract:
Fanni, Aulizza Abdul; Kusumawardhani, Hapsari Ayu; Adielyani, Dea; KUSUMAWARDHANI, HAPSARI
The fishermen's community in Tapak Village, Tugurejo Subdistrict, Semarang faces persistent economic vulnerability driven by fluctuating income, low financial literacy, and exposure to illegal online lending and digital financial fraud. This community service program aimed to strengthen the economic resilience of fishermen's families through participatory financial literacy education. Using a participatory-interactive approach involving coastal community members, the program delivered comprehensive financial literacy training tailored to the needs of coastal communities. Program effectiveness was measured through pre-test and post-test instruments. Results showed significant improvements in participants' understanding of cash flow recording, ability to differentiate needs from wants, household budget planning, and capacity to identify illegal online lending characteristics. This program confirms that context-based participatory education is effective in enhancing the financial capacity and resilience of coastal communities.
Sarah Azami; Abi Yazid Albustomi; Ananda Putra Syach Fadhilah; Muhammad Said Ramdan Hardiana; Hikmatullah Hikmatullah
Marriage at an early age remains widespread, especially among communities with limited education and financial resources. This study aims to analyze the impact of early marriage on harmony in household life. The research model we employed was a library research design. The approach used was descriptive qualitative through literature review, referring to scholarly sources and secondary data from reputable journals published in the last five years. Findings indicate that the mental unreadiness of both parties (husband and wife) who marry at an early age can lead to instability in household life and increase the risk of marital failure or reduced family harmony. Young couples commonly face challenges in maintaining healthy communication, making joint decisions, and coping with financial pressures, all of which contribute to domestic conflict. In addition, emotional immaturity and limited life experience are also primary causes of disharmony within the family. Therefore, there is a need to improve education and public awareness about the importance of age maturity and mental readiness before marriage in order to create stable and harmonious households. Thus, it is necessary to increase education and public awareness about the importance of age maturity and mental readiness before marriage, in order to create a stable and harmonious household.
Lestari, Mustika Ayu; Rosita; Herawati, Meitia
Perawatan tali pusat merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah infeksi pada bayi baru lahir. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai perawatan tali pusat yang benar dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi, omfalitis, bahkan tetanus neonatorum. Oleh karena itu, asuhan kebidanan komunitas berperan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga melalui edukasi dan pendampingan secara langsung. Memberikan asuhan kebidanan komunitas pada keluarga Tn. S dengan fokus pada perawatan tali pusat bayi usia 2 hari untuk meningkatkan pengetahuan ibu serta mencegah terjadinya infeksi tali pusat. Penulisan ini menggunakan metode studi kasus deskriptif dengan pendekatan manajemen kebidanan yang meliputi pengkajian, interpretasi data, diagnosis potensial, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, serta dokumentasi pada keluarga Tn. S di Dusun Pegading Luar, Desa Batunyala, Kecamatan Praya Tengah. Hasil pengkajian menunjukkan bayi laki-laki usia 2 hari dalam keadaan umum baik dengan tanda vital normal, namun tali pusat masih basah sehingga berisiko mengalami infeksi. Intervensi yang diberikan meliputi edukasi mengenai tujuan dan manfaat perawatan tali pusat, tanda-tanda infeksi, demonstrasi cara perawatan tali pusat yang benar menggunakan prinsip bersih dan kering, anjuran pemberian ASI eksklusif, serta kunjungan ulang. Pada evaluasi dan kunjungan lanjutan, ibu telah memahami cara perawatan tali pusat, mampu mengenali tanda bahaya, dan tali pusat bayi telah puput tanpa tanda infeksi. Asuhan kebidanan komunitas melalui edukasi dan pendampingan mengenai perawatan tali pusat mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam merawat tali pusat bayi baru lahir sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi serta mendukung tumbuh kembang bayi yang optimal. Edukasi berkelanjutan dan kunjungan neonatal perlu terus dilakukan untuk mempertahankan praktik perawatan tali pusat yang sesuai standar
Lestari, Mustika Ayu; Zulniati; Herawati, Meitia
Anemia pada ibu hamil merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih memiliki prevalensi tinggi di Indonesia dan berkontribusi terhadap meningkatnya risiko komplikasi pada ibu maupun janin. Penanganan anemia memerlukan asuhan kebidanan yang komprehensif melalui pendekatan keluarga dan komunitas untuk meningkatkan pengetahuan, kepatuhan konsumsi tablet tambah darah, serta perbaikan pola makan ibu hamil. Memberikan asuhan kebidanan komunitas pada keluarga Tn. S dengan kasus anemia ringan pada ibu hamil di Dusun Pegading Luar, Desa Batunyala, Kecamatan Praya Tengah melalui penerapan manajemen kebidanan sehingga masalah kesehatan dapat diidentifikasi, ditangani, dan dievaluasi secara komprehensif. Laporan ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan asuhan kebidanan komunitas. Proses asuhan meliputi pengkajian data subjektif dan objektif, identifikasi masalah, penetapan diagnosis, penyusunan rencana asuhan, pelaksanaan intervensi berupa edukasi gizi, anjuran konsumsi tablet tambah darah, pemantauan kondisi ibu, serta evaluasi hasil asuhan. Asuhan kebidanan komunitas menunjukkan bahwa ibu hamil dengan anemia ringan memerlukan edukasi berkelanjutan mengenai pemenuhan nutrisi kaya zat besi, kepatuhan mengonsumsi tablet Fe, serta dukungan keluarga dalam penerapan perilaku hidup sehat. Pendekatan berbasis keluarga dan komunitas membantu meningkatkan pemahaman ibu dan keluarga mengenai pencegahan komplikasi anemia selama kehamilan serta mendukung keberhasilan asuhan kebidanan. Penerapan asuhan kebidanan komunitas pada keluarga Tn. S dengan anemia ringan pada ibu hamil dapat dilaksanakan secara sistematis melalui manajemen kebidanan. Pendekatan promotif, preventif, edukatif, dan kolaboratif berperan penting dalam meningkatkan kesehatan ibu hamil, mencegah komplikasi kehamilan, serta mewujudkan keluarga yang lebih mandiri dalam menjaga kesehatan
Lestari, Mustika Ayu; Hidayati , Nurul; Herawati, Meitia
Masa balita merupakan periode emas (golden period) yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu upaya stimulasi yang dapat dilakukan untuk mendukung tumbuh kembang, meningkatkan kualitas tidur, nafsu makan, serta membantu peningkatan berat badan balita adalah pemberian pijat bayi/balita sehat. Asuhan kebidanan komunitas berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam memberikan stimulasi yang tepat kepada balita. Mendeskripsikan pelaksanaan asuhan kebidanan komunitas pada keluarga Tn. T, khususnya An. R usia 2 tahun, melalui pemberian pijat bayi/balita sehat sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan balita. Artikel ini menggunakan metode studi kasus deskriptif dengan pendekatan manajemen kebidanan yang meliputi pengkajian, identifikasi masalah, penetapan diagnosis, perencanaan, implementasi, evaluasi, dan tindak lanjut. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, serta dokumentasi selama pelaksanaan praktik kebidanan komunitas di Desa Batunyala. Hasil asuhan menunjukkan bahwa pemberian edukasi dan praktik pijat bayi/balita sehat dapat meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai manfaat pijat balita serta kemampuan keluarga dalam melakukan stimulasi secara mandiri. Balita tampak lebih rileks, tidur lebih nyenyak, dan orang tua memahami pentingnya stimulasi rutin sebagai bagian dari upaya mendukung pertumbuhan, perkembangan, serta pencegahan gangguan gizi dan stunting. Asuhan kebidanan komunitas melalui pemberian pijat bayi/balita sehat merupakan intervensi komplementer yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan keluarga dan mendukung optimalisasi tumbuh kembang balita. Keterlibatan aktif keluarga dalam melakukan pijat secara rutin di rumah menjadi salah satu strategi promotif dan preventif yang dapat meningkatkan kualitas kesehatan balita.
Willi Holis; Ida Wahyuni; Ahmad Zaini Arif
Stigma toward people with mental disorders affects not only individuals living with mental illness but also the psychological well-being of family members who serve as their primary caregivers. Families often experience social rejection, discrimination, and negative stereotypes, which increase emotional and psychological burdens while reducing the quality of care they provide. This study aimed to explore the impact of stigma on the psychological well-being of families caring for people with mental disorders in Pamekasan Regency. A qualitative study using a phenomenological approach was conducted involving 11 participants selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using thematic analysis to identify participants' lived experiences. The findings revealed one overarching theme, namely the negative impact of stigma, which consisted of three categories: effects on family members, family relationships, and patients. Stigma generated feelings of sadness, anxiety, psychological distress, sleep disturbances, social withdrawal, family conflicts, and changes in family interactions with patients. These experiences negatively influenced caregivers’ emotional well-being and their ability to provide optimal support for family members with mental disorders. The study concludes that stigma has a substantial adverse impact on the psychological well-being of family caregivers and the quality of care provided to people with mental disorders. Therefore, comprehensive interventions focusing on stigma reduction, community education, and strengthening psychosocial support systems are essential to improve family resilience and promote better mental health outcomes.
Anesta, Resqy Nongri; Effendy, Devi Savitri; Bahar, Hartati
ASI eksklusif merupakan pemberian Air Susu Ibu (ASI) tanpa tambahan makanan maupun minuman lain sejak bayi lahir hingga usia 6 bulan, kecuali obat dan vitamin. Setelah usia 6 bulan, pemberian ASI dilanjutkan bersama makanan pendamping ASI (MP-ASI) hingga usia 2 tahun. Penelitian ini bertujuan mengetahui pemberian ASI eksklusif dan ASI lanjutan sampai usia 2 tahun di wilayah kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan terdiri dari 6 ibu menyusui berusia 6-24 bulan, 1 bidan,1 kader dan 3 suami yang dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Antecedent, ibu memiliki pengetahuan mengenai ASI eksklusif dan ASI lanjutan hingga usia 2 tahun. Faktor pekerjaan memengaruhi praktik pemberian ASI, terutama pada ibu bekerja yang harus memerah dan menyimpan ASI. Dukungan keluarga, khususnya suami menjadi faktor penting dalam memberikan bantuan selama proses menyusui. Selain itu, dukungan petugas kesehatan melalui edukasi mengenai pemberian ASI ekslusif dan ASI lanjutan. Behavior, ibu memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan melanjutkan ASI bersama MP-ASI. Proses menyusui dilakukan sesuai kebutuhan bayi dengan frekuensi sekitar 8–10 kali per hari dan durasi sekitar 10–15 menit setiap sesi. Namun, beberapa ibu mengalami produksi ASI yang tidak keluar sehingga beralih menggunakan susu formula. Consequence, pemberian ASI memberikan dampak positif peningkatan daya tahan tubuh bayi, serta menghemat ekonomi keluarga. Namun, ibu juga mengalami dampak negatif seperti kelelahan, puting lecet dan payudara bengkak.
Khariri; Lina Farikha
Background: Non-communicable diseases (NCDs) are diseases caused by changes in human organs or degenerative diseases (age factor). Rheumatoid arthritis is a chronic autoimmune disease that occurs when the body's immune system mistakenly attacks joint tissues. According to WHO 2025, rheumatoid arthritis sufferers reach 355 million people worldwide. Method: This scientific paper uses a descriptive narrative method, namely by providing an overview of family nursing care to patients through a nursing process approach. The general objective of this paper is to understand and apply family nursing care to patients with Musculoskeletal System Disorders: Rheumatoid Arthritis. Results: Nursing diagnoses that appear in patients with Musculoskeletal System Disorders: Rheumatoid Arthritis include chronic pain and knowledge deficit. Conclusion: After nursing implementation for 2 days, the chronic pain diagnosis was partially resolved and the knowledge deficit was resolved, so the author performed routine discharge planning by doing warm compresses using ginger.
Ardia Ayuning Safitri; Setiyowati
Perkara tentang pengesahan asal usul anak dari hasil perkawinan siri terdapat pada Penetapan Pengadilan Agama Nomor 61/Pdt.P/2023/PA.PBUN tanggal 23 Juni 2023 yang menyatakan bahwa anak telah disahkan sebagai anak sah pasangan suami istri yang sebelumnya melakukan perkawinan siri. Penelitian ini bertujuan mengkaji: (1) perlindungan hukum bagi anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan siri; (2) pertimbangan hukum hakim terkait asal usul anak dari hasil perkawinan siri dalam penetapan tersebut; dan (3) akibat hukum penetapan asal usul anak dari hasil perkawinan siri. Metode penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi deskriptif-analitis dan analisis kualitatif terhadap data sekunder, yang meliputi bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum terhadap anak hasil perkawinan siri merupakan refleksi perkembangan hukum keluarga Indonesia yang semakin berorientasi pada perlindungan hak anak. Majelis Hakim dalam Penetapan Nomor 61/Pdt.P/2023/PA.PBUN menilai bahwa anak yang lahir dari perkawinan siri dapat ditetapkan sebagai anak sah sepanjang terbukti adanya hubungan perkawinan dan hubungan biologis antara ayah dan ibu kandungnya, dengan mendasarkan pada alat bukti autentik, keterangan saksi, serta dalil fikhiyah dan ketentuan perundang-undangan. Penetapan asal usul anak menimbulkan akibat hukum yang signifikan, meliputi pengakuan status keperdataan anak, timbulnya hubungan keperdataan dengan ayah biologis, kewajiban nafkah dan pemeliharaan, perlindungan hak ekonomi anak, serta pemenuhan hak administrasi kependudukan
Rahmidini, Annisa; Hartiningrum, Chanty Yunie
Indonesia masih menghadapi tantangan demografi berupa jumlah penduduk yang besar dengan laju pertumbuhan yang terus meningkat. Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 257 juta jiwa. Di sisi lain, penggunaan smartphone telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, ditandai dengan peningkatan pengguna yang terus terjadi setiap tahun. Data dari Statista menunjukkan bahwa pada Oktober 2017, sekitar 75% pengguna smartphone di Indonesia menggunakan perangkat berbasis Android. Berdasarkan data integrasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dengan KTP elektronik Kabupaten Tasikmalaya per Juni 2019, Kecamatan Cigalontang merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar kedua setelah Karangnunggal, yaitu sebanyak 74.140 jiwa atau 4,14% dari total penduduk Kabupaten Tasikmalaya yang berjumlah 1.791.881 jiwa. Jumlah tersebut terdiri atas 37.998 laki-laki (4,17%) dan 36.142 perempuan (4,10%). Dalam program Keluarga Berencana (KB), metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah suntik 300 PUS sebesar 41,10% dan suntik 150 PUS sebesar 20,55%, dengan jumlah peserta aktif mencapai 506 akseptor atau sekitar 69% dari total 730 akseptor KB. Hasil Focus Group Discussion (FGD) bersama bidan dan akseptor KB menunjukkan masih sering terjadi keterlambatan maupun kelalaian dalam konsumsi pil KB serta jadwal kunjungan ulang suntik, sehingga diperlukan media atau sistem pengingat yang dapat membantu meningkatkan kepatuhan akseptor. Penelitian ini dilakukan untuk menilai efektivitas aplikasi mobile “e-KABE” sebagai sarana pendukung pelayanan Keluarga Berencana di Desa Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, pada tahun 2021.
Bunga Ramadhani; Esti Nur Janah
Stroke is a neurological condition caused by disruption of blood flow to the brain due to blockage or rupture of blood vessels, leading to nerve cell death. WHO (2022) recorded more than 12 million new stroke cases annually, with a prevalence in Brebes Regency reaching 27.83 per mil. The high incidence of stroke accompanied by physical mobility impairment and the family's lack of knowledge about its management highlights the importance of comprehensive family nursing care. This study aims to apply a complete nursing care process including assessment, diagnosis, intervention, implementation, and evaluation to the family of Mr. K with a stroke case. The method used is descriptive with a case study approach through family nursing care. Assessment findings revealed that the patient had experienced stroke for approximately 7 years with a history of hypertension, weakness of the right extremities, decreased muscle strength, blood pressure of 160/90 mmHg, and the family did not understand how to care for stroke at home. Two nursing diagnoses were established: ineffective health maintenance in the family and impaired physical mobility. Interventions included health education about stroke, Range of Motion (ROM) exercises, and rubber ball grip therapy involving the family as caregivers. After 2 days of implementation, both nursing diagnoses were resolved: ineffective health maintenance in the family was resolved and impaired physical mobility was resolved.
Luviana Nur Maulida Ardati; Tati Karyawati
Hypertension is a condition in which systolic blood pressure exceeds 140 mmHg and diastolic blood pressure is above 90 mmHg. Hypertension is the leading chronic non-communicable disease among adults in Indonesia, with a prevalence of 26.5%, and tends to increase with age. Family nursing care plays an important role in helping patients manage hypertension through education, pharmacological and non-pharmacological interventions, and ongoing monitoring. This case study aimed to describe comprehensive nursing care for Ny. K, a 66-year-old patient from the family of Tn. I, diagnosed with hypertension in Desa Tonjong RT 02 RW 04, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes. Nursing care was conducted from December 27 to 29, 2025, using interview, physical examination, observation, and documentation methods. Two nursing diagnoses were identified: (1) Risk of ineffective cerebral tissue perfusion, and (2) Knowledge deficit related to hypertension. Nursing interventions included vital sign monitoring, oral medication administration (Amlodipine 10 mg), health education on hypertension, and non-pharmacological therapy using bay leaf (Syzygium polyanthum) decoction. Evaluation results showed that the knowledge deficit was resolved after one session of health education, while the risk of ineffective cerebral tissue perfusion was partially resolved, with blood pressure decreasing from 180/100 mmHg to 165/90 mmHg over three home visits. It is recommended that families continue the bay leaf decoction therapy for one week and maintain regular blood pressure monitoring at the nearest health facility.
Merimbi Gita Yunia; Siti Fatimah
Introduction: Hypertension is an increase in systolic blood pressure ≥140 mmHg and/or diastolic ≥90 mmHg that has the potential to cause serious complications. The prevalence of hypertension in Indonesia is 34.11% (Riskesdas, 2018), in Central Java 37.57%, and in Tonjong Village 15,951 patients aged ≥15 years were recorded (Tonjong Health Center, 2025). Purpose: To provide direct and comprehensive family nursing care to Ny. T, the family of Tn. D, with hypertension in Tonjong Village, Dukuh Kauman RT 03 RW 04, Tonjong District, Brebes Regency. Method: Case study with a nursing process approach. Data were collected through interviews, observation, physical examination, and documentation, conducted on December 26–29, 2025. Results: Assessment revealed that Ny. T complained of dizziness, neck pain, difficulty sleeping, and soreness in both legs with blood pressure of 167/100 mmHg. The family had no knowledge about hypertension. Two diagnoses were established: Acute Pain (D.0077) and Knowledge Deficit (D.0111). Interventions included complementary foot massage therapy to address acute pain and health education on hypertension. After three visits, the Acute Pain diagnosis was partially resolved with a decrease in pain scale from 3 to 2 and blood pressure from 167/100 mmHg to 150/95 mmHg, while the Knowledge Deficit diagnosis was fully resolved. Conclusion: Family Nursing Care with the SDKI, SLKI, and SIKI approach had a positive impact on improving the condition of Ny. T. It is recommended that the client continue foot massage independently, implement the five family health tasks, and routinely utilize health facilities.
Aliyaturofi’ah; Tati Karyawati
Gout arthritis is joint inflammation that occurs suddenly due to the accumulation of excess uric acid levels in the body (hyperuricemia). In Indonesia, based on the 2018 Basic Health Research, the prevalence of gout diagnosed by health workers ranges from 11.9% to 24.7%, with the highest rates in the elderly age group. This scientific paper aims to provide family nursing care for Mr. T and family with musculoskeletal system disorder: gout arthritis in Tonjong Village, Karanganyar Hamlet, RT 03 RW 04, Tonjong District, Brebes Regency. The method used is narrative descriptive, focusing on nursing care given to patients according to the stages of the nursing process. The method of data collection includes observation, interview, and documentation. The nursing diagnoses that emerged were impaired physical mobility and knowledge deficit. Nursing interventions included ambulation support, oral medication administration, massage therapy, and health education. After 2 days of nursing implementation, the evaluation results showed that both nursing diagnoses of impaired physical mobility and knowledge deficit were resolved.
Putri Anggraeni; Ahmad Zakiudin
Background: Gout arthritis is a metabolic disease caused by excessive uric acid levels in the blood (hyperuricemia), which leads to monosodium urate crystal deposition in the joints. Globally, the prevalence of gout arthritis ranges from 1–4% of the general population. In Indonesia, the national prevalence reaches approximately 7.3% based on medical diagnosis, and in Brebes Regency, cases reach 62.4%. At the Tonjong Health Center service area, the prevalence of gout arthritis in Karanganyar Hamlet, Tonjong Village, reaches 2.04%. Gout arthritis requires comprehensive nursing care including pain management and health education to prevent recurrence. Objective: To implement nursing care for Ny. S, family of Tn. S, with musculoskeletal system disorder: gout arthritis in Karanganyar Hamlet, Tonjong Village, Tonjong District, Brebes Regency. Method: This study used a case study design with a single patient/family subject. Data collection was conducted through interview, observation, physical examination, and study documentation on December 26–27, 2025 at the patient's home. Results: Assessment revealed Ny. S (72 years) experienced acute pain in the right knee joint with a pain scale of 3/10 and uric acid level of 7.3 mg/dL, along with knowledge deficit regarding gout arthritis. Two nursing diagnoses were established: acute pain and knowledge deficit. Nursing interventions included pain management education, non-pharmacological therapy (turmeric decoction), pharmacological therapy (allopurinol), and health education. Implementation was conducted over two visits. Evaluation results showed that acute pain was partially resolved (pain scale reduced to 2/10, uric acid 7.2 mg/dL) and knowledge deficit was resolved. Conclusion: Nursing care for patients with gout arthritis through pain management and health education can reduce pain intensity and improve family knowledge about the disease. Non-pharmacological intervention with turmeric decoction contributed to decreasing uric acid levels and pain. Keywords: gout arthritis, acute pain, knowledge deficit, family nursing care, non-pharmacological therapy
Bintang Nur Izzah; Tati Karyawati
Diabetes mellitus (DM) is a chronic metabolic disease characterized by elevated blood glucose levels due to insufficient insulin production or ineffective insulin utilization. The prevalence of DM in Indonesia reached 11.7% in the 2023 National Health Survey, with Brebes Regency recording 568 DM cases in 2025 and increasing to 157 cases in Tonjong Village in January 2026. This case study aims to describe comprehensive nursing care for Ny. M, a 52-year-old patient diagnosed with endocrine system disorder (diabetes mellitus), in the family of Tn. I at Karang Anyar Village, Tonjong District, Brebes Regency. The method used was a case study with data collection through interview, observation, physical examination, blood glucose measurement, and literature review conducted on December 26–28, 2025. The assessment found subjective data: the patient frequently felt fatigue, tingling in both legs, excessive thirst, and increased urination frequency. Objective data: pale and fatigued face, blood pressure 150/100 mmHg, pulse 95x/min, respiration 22x/min, temperature 36.7°C, and random blood glucose (RBG) 155 mg/dl. Two nursing diagnoses were established: blood glucose instability and readiness for enhanced knowledge. Interventions implemented included hyperglycemia management (monitoring blood glucose, dietary education, complementary herbal therapy with ginger and honey), and health education regarding DM complications. Evaluation results showed that after 2 days of nursing visits, fatigue decreased, blood glucose improved (RBG 130 mg/dl), and the patient's knowledge about DM complications was resolved.
Widiyanti Widiyanti; Ratna Tunjungsari; Agung Budiartono; Agus Prasetyo
Digital transformation has driven significant changes in society's economic patterns and increased the need for stronger family economic independence. In this context, the Family Welfare Movement (PKK) plays a strategic role in empowering families through strengthening digital literacy, entrepreneurship training, capacity building, and the utilization of digital media to support productive economic activities. This study aims to analyze the strategic role of the PKK in digital-based family economic empowerment, identify the forms of empowerment programs implemented, and examine the challenges and strategies needed to increase program effectiveness in the digital era. The study employed a qualitative approach with purposive sampling techniques. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation, and subsequently analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that the use of digital technology can expand marketing access, improve family economic skills, strengthen entrepreneurial capacity, increase community participation, and promote sustainable economic independence. However, limitations in digital literacy, unequal access to technology, limited infrastructure, and business sustainability remain major obstacles, highlighting the need for continuous mentoring, training, and collaborative support from various stakeholders.
Putri Selvi Febriyana; Siti Fatimah
Background: Community nursing is a service process that is a combination of nursing and public health. Family nursing care is health services focused on the family where the entire process from assessment, diagnosis, planning, implementation to evaluation involves all family members both in healthy and sick conditions. The elderly are individuals in the age range of 60 years and above. Stroke is a disorder of brain function that appears suddenly accompanied by clinical signs both local and global in nature that last more than 24 hours caused by disruption of blood flow to the brain. Objective: To provide family nursing care to Tn. W with Neurological System Disorders: Stroke in Karangjati Village RT 02 RW 05 Tonjong District, Brebes Regency. Methods: This scientific paper is compiled using a descriptive narrative study approach following the stages of the nursing process including assessment, diagnosis, intervention, implementation, and evaluation. Data collection techniques include interviews, observation, physical examination, and documentation studies. Results: Nursing diagnoses that emerged were physical mobility impairment and knowledge deficit. Nursing interventions for physical mobility impairment included recognizing health problems and understanding stroke management, particularly related to mobilization through passive and active range of motion (ROM) exercises. For knowledge deficit, interventions included health education about stroke using educational media. Conclusion: After implementation over three days (December 27–29, 2025), the physical mobility impairment problem was partially resolved and knowledge deficit was resolved. It is expected that patients can increase their knowledge about health, particularly stroke disease.
OKSAVINA, MONICA BELINDA
Perceraian dalam masyarakat adat Batak Toba merupakan suatu fenomena hukum yang tidak dapat dilepaskan dari sistem kekerabatan dan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat. Meskipun perceraian pada dasarnya dihindari, dalam praktiknya perceraian tetap dimungkinkan melalui mekanisme adat yang menitikberatkan pada musyawarah dan kesepakatan keluarga besar. Permasalahan muncul ketika perceraian yang dilakukan secara adat tersebut dihadapkan pada ketentuan hukum positif di Indonesia, khususnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mensyaratkan perceraian harus dilakukan melalui putusan pengadilan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme perceraian menurut adat Batak Toba serta mengkaji keabsahannya ditinjau dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, serta menggunakan data sekunder berupa bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme perceraian adat Batak Toba dilakukan melalui tahapan musyawarah keluarga dengan melibatkan unsur dalihan na tolu, dan memiliki kekuatan mengikat secara sosial dalam masyarakat adat. Namun, secara yuridis formal, perceraian tersebut tidak memiliki keabsahan hukum apabila tidak dilakukan melalui putusan pengadilan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Oleh karena itu, perceraian adat hanya sah secara sosiologis, tetapi belum sah secara hukum negara. Diperlukan harmonisasi antara hukum adat dan hukum nasional agar tercipta kepastian hukum tanpa mengabaikan nilai-nilai kearifan lokal.
Processing...