Publication Search

71,387 articles from 644 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 73

Analytics

Muhammad Arif Taufik; Prema Hapsari Hidayati; Dian Fahmi Utami; Mochammad Erwin Rachman; Muh. Jabal Nur

Jurnal Sains dan Kesehatan (JUSIKA) 2026 Universitas Muhamadiyah Manado

Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disease with an increasing prevalence and a risk of causing macrovascular complications such as stroke. This study aimed to describe the characteristics of Diabetes Mellitus patients with stroke complications based on CT-scan results at RSKD Dadi Makassar in 2024–2025. This was a descriptive observational study with a retrospective design using medical record data. Samples were taken using a total sampling technique, comprising 60 patients, and analyzed univariately using the Statistical Product and Service Solutions (SPSS) version 26. The results showed that the majority of respondents were in the late elderly group (>56 years) at 66.7%, female (51.7%), and from the Makassar ethnic group (63.3%). Most respondents experienced hyperglycemia in random blood glucose (66.7%) and had uncontrolled fasting blood glucose (68.3%) and HbA1c (76.7%) levels. CT-scan results were dominated by non-specific cerebral infarction (68.3%), with ischemic stroke as the most common type (93.3%), a length of stay of 5–10 days (53.3%), and right-sided hemiparesis as the most common clinical manifestation (45.0%). It was concluded that DM patients with stroke complications were generally elderly, female, had poor glycemic control, and were dominated by ischemic stroke with non-specific cerebral infarction. Abstrak. Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik dengan prevalensi yang terus meningkat dan berisiko menimbulkan komplikasi makrovaskular berupa stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien Diabetes Melitus yang mengalami komplikasi stroke berdasarkan hasil CT-scan di RSKD Dadi Makassar tahun 2024–2025. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan desain retrospektif menggunakan data rekam medis. Sampel diambil dengan teknik total sampling sebanyak 60 pasien dan dianalisis secara univariat menggunakan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 26. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia lansia akhir (>56 tahun) sebanyak 66,7%, berjenis kelamin perempuan (51,7%), dan berasal dari Suku Makassar (63,3%). Sebagian besar responden mengalami hiperglikemia pada GDS (66,7%) serta memiliki kadar GDP (68,3%) dan HbA1c (76,7%) yang tidak terkontrol. Hasil CT-scan didominasi oleh infark serebri tidak spesifik (68,3%) dengan jenis stroke terbanyak berupa stroke iskemik (93,3%), lama rawat inap terbanyak 5–10 hari (53,3%), dan manifestasi klinis tersering berupa hemiparese dextra (45,0%). Disimpulkan bahwa pasien DM dengan komplikasi stroke umumnya berusia lanjut, berjenis kelamin perempuan, memiliki kontrol glikemik yang buruk, dan didominasi oleh stroke iskemik dengan gambaran infark serebri tidak spesifik.

M. Azka Khoirin; Esti Nur Janah

Jurnal Praba : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum 2026 STIKES Columbia Asia Medan

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan gangguan saluran pencernaan di mana isi lambung berulang kali kembali ke kerongkongan, menyebabkan berbagai gejala dan komplikasi. Prevalensi GERD di Indonesia pada tahun 2023 dilaporkan sebesar 42,3% dengan 274.396 kasus. Data rekam medis RSUD Banyumas menunjukkan peningkatan kasus GERD dari 71 kasus (2023) menjadi 118 kasus (2024). Tujuan: Mendeskripsikan penerapan asuhan keperawatan pada pasien Nn. S dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) di Ruang Melati RSUD Banyumas. Metode: Studi kasus deskriptif dengan pendekatan proses asuhan keperawatan, dilakukan pada tanggal 27–28 Januari 2026 di Ruang Melati RSUD Banyumas melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi, dan studi literatur. Hasil: Diagnosis keperawatan yang muncul adalah nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (D.0077), nausea berhubungan dengan gangguan pada esofagus (D.0076), dan defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi (D.0111). Intervensi yang dilakukan meliputi manajemen nyeri, manajemen mual, dan edukasi kesehatan. Kesimpulan: Setelah dilakukan implementasi keperawatan selama 2 hari, diagnosis nyeri akut dan nausea teratasi sebagian, sedangkan diagnosis defisit pengetahuan teratasi penuh. Discharge planning dilakukan dengan menganjurkan teknik relaksasi napas dalam, aromaterapi minyak kayu putih, serta modifikasi pola hidup sehat.

Annisa Mafazah Himatun Aliyyah; Siti Fina Rizka Utami; Rani Amelia; Sri Tanjung Rejeki

Jurnal Suara Pengabdian 45 2026 LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Anemia pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi dan berisiko terhadap kesehatan ibu dan janin. Rendahnya pengetahuan serta kepatuhan dalam mengonsumsi tablet Fe menjadi salah satu penyebab tingginya kasus anemia selama kehamilan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil tentang pentingnya konsumsi tablet Fe sebagai upaya pencegahan anemia. Metode yang digunakan berupa pemeriksaan kadar hb, penyuluhan melalui ceramah, diskusi. Kegiatan dilaksanakan pada 31 Januari 2026 di PMB Bidan Irma dengan peserta 13 ibu hamil. Hasil kegiatan menemukan 1 peserta ibu hamil yang terkena anemia, pentingnya peningkatan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil mengenai bahaya anemia dan pentingnya konsumsi tablet Fe secara rutin. Peserta memberikan respons positif dan berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan. Edukasi ini diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan konsumsi tablet Fe serta mencegah komplikasi selama kehamilan, persalinan, dan masa nifas.

Enggar Enggar; Srigita Dewiyana; Alya Mahira; Kiran Violeta Mamahit; Ghita Melati Putri +1 more

Faedah : Jurnal Hasil Kegiatan Pengabdian Masyarakat Indonesia 2026 FKIP, Universitas Palangka Raya

Pregnancy complications remain a leading cause of maternal morbidity and mortality in Indonesia. Pregnant women's limited knowledge of pregnancy danger signs and suboptimal participation in antenatal care (ANC) services can increase the risk of delayed detection and management of pregnancy complications. The Kinovaro Community Health Center (Puskesmas) in Sigi Regency is one of the areas requiring maternal health information and activities that can increase pregnant women's participation in health education activities. This community service activity aims to improve pregnant women's knowledge and preparedness in preventing pregnancy complications through mentoring based on Pregnant Women's Classes. The activity involved eight pregnant women in their second and third trimesters. The methods used included health education, interactive discussions, simple pregnancy check-ups, pregnancy exercise demonstrations, and evaluation using pre- and post-tests. The results showed that all participants actively participated in the activity and had a good level of knowledge after participating. The average knowledge score increased from 77.5 to 80.0, an increase of 3.2%. In addition, participants were able to identify pregnancy danger signs, understand the importance of standard ANC visits, and practice pregnancy exercise movements independently. This activity demonstrates that mentoring through the Pregnant Women's Class can strengthen maternal health literacy, increase pregnant women's preparedness in recognizing pregnancy complications, and support the strengthening of maternal health services at the community level.

Sonia Novita Sari; Sri Murtini; Nova Isabella Mariance Br Napitupulu; Leni Oktafianti; Kezia S.A. Rajagukguk +2 more

Ekspresi : Publikasi Kegiatan Pengabdian Indonesia 2026 Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

The Maternal Mortality Rate (MMR) is primarily caused by pregnancy complications that are actually preventable through early detection; however, maternal understanding of the Maternal and Child Health (MCH) Handbook remains very low. This community service aims to empower pregnant women at Sarfina Primary Clinic, Medan, by enhancing their MCH Handbook literacy. The implementation utilized a Community-Based Participatory Action (CBPA) approach conducted over four weeks, involving 30 pregnant women. The activity stages included a pre-test, interactive education, self-assessment simulations, and a post-test. Evaluation results indicated a significant surge in health literacy; pregnant women's knowledge in the "Good" category drastically increased from 13.3% to 86.7%, while the "Poor" knowledge category was successfully eliminated from 50% to 0%. In conclusion, this educational and simulation intervention proved highly effective in transforming pregnant women's behavior, making them proactive individuals in the early detection of pregnancy danger signs which is expected to reduce the risk of pregnancy complications and reduce maternal mortality rates.

Kartini S; Eka Fadillah Bagenda

Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan 2026 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Pregnancy complications remain a major health problem contributing to high maternal morbidity and mortality rates in Indonesia. Factors influencing the occurrence of pregnancy complications include the level of maternal knowledge and advanced maternal age. Advanced age increases the risk of pregnancy disorders due to decreased reproductive function, while low knowledge limits a mother’s ability to recognize danger signs and take appropriate preventive measures. This study aimed to determine the relationship between knowledge level and advanced maternal age and the occurrence of pregnancy complications in the working area of Bonebobakal Public Health Center, Banggai Regency. This study employed a quantitative analytic design with a cross-sectional approach involving 41 pregnant women selected through total sampling. Data were collected using questionnaires and interviews and analyzed using the Chi-Square test. The results showed a significant relationship between maternal knowledge level and maternal age with the occurrence of pregnancy complications. Health education and regular pregnancy monitoring are necessary to reduce the risk of complications and improve maternal and fetal safety..

Mukarromah, Lailatul; Fitra Wardhana Sayoeti, Muhammad; Yuliyanda Pardilawati, Citra

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu masalah kesehatan global dengan beban ekonomi dan klinis yang sangat tinggi. Beragam pilihan terapi antidiabetes telah tersedia, mulai dari obat konvensional seperti metformin dan sulfonilurea hingga obat generasi baru seperti inhibitor dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4i), agonis reseptor glucagon-like peptide-1 (GLP-1 RA), dan inhibitor sodium-glucose co-transporter 2 (SGLT2i). Perbedaan harga dan efektivitas terapi menuntut adanya kajian farmakoekonomi, khususnya cost-effectiveness analysis (CEA), untuk mendukung pengambilan keputusan klinis dan kebijakan kesehatan. Literature review ini bertujuan untuk merangkum bukti CEA pada berbagai obat antidiabetes yang dipublikasikan dalam lima tahun terakhir, baik di Indonesia maupun internasional. Hasil telaah menunjukkan bahwa obat generasi baru umumnya memberikan manfaat klinis yang lebih baik, terutama dalam pencegahan komplikasi kardiorenal, namun biaya yang lebih tinggi sering menjadi kendala dalam penilaian efektivitas biaya. Sementara itu, obat konvensional tetap menjadi terapi yang relatif cost-effective pada banyak konteks, terutama di negara berpendapatan menengah. Perbedaan hasil antarstudi sangat dipengaruhi oleh harga obat, perspektif analisis, serta asumsi manfaat jangka panjang. Kajian ini menegaskan pentingnya evaluasi farmakoekonomi dalam menentukan pilihan terapi yang rasional dan efisien untuk pasien DMT2.

erny, Herniati; Indrawati, Sara; Nurjannah, Misbah; Alfizar, Faris; Sitorus, Rozesky Ronald Octavian +6 more

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Latar belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan masalah kesehatan kronis yang ditandai hiperglikemia persisten dan berisiko menimbulkan komplikasi jangka panjang. Aktivitas fisik merupakan salah satu intervensi non-farmakologis yang berperan penting dalam membantu pengendalian kadar glukosa darah pada penyandang diabetes melitus. Tujuan: Literatur review ini menganalisis pengaruh berbagai bentuk aktivitas fisik—termasuk senam kaki, senam diabetes, jalan kaki, senam Prolanis, serta aktivitas fisik harian intensitas sedang—terhadap penurunan kadar glukosa darah pada pasien DM tipe 2. Metode: Kajian dilakukan terhadap 16 artikel penelitian terbitan 2021–2025 yang diperoleh melalui Google Scholar dan PubMed. Hasil: Seluruh penelitian menunjukkan hasil yang konsisten bahwa aktivitas fisik mampu meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki metabolisme glukosa, dan menurunkan kadar glukosa darah puasa maupun sewaktu. Intervensi senam kaki dan senam diabetes menunjukkan penurunan signifikan rata-rata 29–160 mg/dL. Aktivitas jalan kaki terstruktur juga memberikan penurunan glukosa yang konsisten. Beberapa penelitian melaporkan bahwa kombinasi aktivitas fisik dan edukasi kesehatan meningkatkan kepatuhan pasien dalam pengelolaan penyakit. Kesimpulan: Aktivitas fisik merupakan pilar penting dalam manajemen DM tipe 2, memberikan manfaat fisiologis, perilaku, dan kualitas hidup yang melengkapi terapi farmakologis. Diperlukan penelitian lanjutan dengan durasi intervensi lebih panjang untuk mengevaluasi dampak jangka panjang terhadap HbA1c dan komplikasi diabetes.

Harmawati Rustan

Jurnal ilmu Kesehatan Umum 2026 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

The third trimester of pregnancy is a challenging period since pregnant women experience various physical and psychological changes that can affect their readiness for childbirth. High anxiety levels and the presence of pregnancy complications are known to reduce maternal preparedness for labor. This study aims to determine the relationship between anxiety levels and pregnancy complications with the readiness of third trimester pregnant women in facing childbirth in the working area of Benteng Community Health Center, Selayar Islands Regency. This research used a quantitative approach with a correlational design and a cross-sectional method. The population consisted of all third trimester pregnant women, with a total sample of 86 respondents selected using purposive sampling. The research instruments included an anxiety questionnaire using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), a pregnancy complication checklist, and a childbirth readiness questionnaire. Data were analyzed using the Chi-Square test and multiple logistic regression at a significance level of α = 0.05. The results of the study showed no significant relationship between anxiety and readiness for childbirth (p < 0.550) or between pregnancy complications and readiness for childbirth (p < 0.690). Therefore, it can be concluded that anxiety and pregnancy complications are not significantly related to the readiness of pregnant women in the third trimester for childbirth. This indicates that maternal readiness is influenced by factors other than the variables studied, such as knowledge, family support, and previous childbirth experiences.

Fikria Nur Ramadani; Shanti Ariandini; Nadhita Denia Putri; Putri Rinjani M

Jurnal Pengabdian dan Keberlanjutan Masyarakat 2026 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Maternal Mortality Rate (MMR) is one of the indicators of the quality of maternal and child health services in a country. Based on data from the 2024 SDKI (Indonesia Demographic and Health Survey), the maternal mortality rate decreased compared to the previous year, from 4,482 cases in 2023 to 4,150 deaths in 2024, but this figure is still far from the 2030 SDG target. In an effort to reduce maternal mortality, the government's program is the Program for Birth Planning and Complication Prevention (BPCR or P4K in bahasa), which emphasizes community empowerment in monitoring pregnant, delivering, and postpartum mothers. In its implementation, P4K still faces obstacles, one of which is the lack of knowledge among mothers and the community regarding P4K. This also occurs in RW17, Cilendek Barat Village, where many people are still unaware of P4K. Health education interventions about the importance of P4K are one of the activities carried out to increase the knowledge of mothers and the community. Participants are pregnant women, community health workers, and neighborhood association leaders. The success of the activity is measured by assessing participants' knowledge before and after the education is conducted. After education was provided, there was an 84% improvement in participants' knowledge. This activity involved community leaders, so it is hoped that it can increase knowledge and understanding of the importance of P4K.

Nusantara, Ana Fitria; Achmad Kusyairi

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2025 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Diabetes mellitus adalah penyakit gangguan metabolisme yang disebabkan oleh defisiensi sekresi insulin, kerusakan sel Beta pankreas, atau resistensi insulin sebagai akibat insulin yang tidak digunakan. DM secara progresif menyebabkan terjadinya komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler, dan neuropatik kronis yang mengancam jiwa. Selain berdampak pada masalah kesehatan, DM juga memiliki konsekuensi ekonomi yang besar. Biaya pengobatan meningkat khususnya apabila terjadi komplikasi jangka panjang dan pilihan pengobatan modern. Perubahan gaya hidup dapat meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup sehingga penderita tidak mengalami komplikasi. Modifikasi gaya hidup dilakukan dengan mengurangi asupan energi, meningkatkan aktivitas fisik sebagai terapi utama untuk pasien DM yang obesitas. Penurunan berat badan dikombinasikan dengan peningkatan aktivitas dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan kontrol glikemik serta mencegah perkembangan DM tipe 2 terhadap risiko tinggi gangguan toleransi glukosa. Target pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan, dan kemampuan penderita diabetes mellitus tipe 2 dalam melakukan modifikasi gaya hidup guna mencegah komplikasi diabetes. Kegiatan  ini dilakukan di layanan kesehatan praktik mandiri bidan (LKPMB) dengan melibatkan mitra dari lahan yaitu bidan dan tim kesehatan terkait dalam bentuk pemberian edukasi dan pelatihan keterampilan mengenai cara melakukan menejemen gaya hidup. Hasil evaluasi menunjukkan pemahaman peserta menjadi lebih baik tentang modifikasi gaya hidup dan memiliki motivasi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

Khusniyati, Nia; Yunisman Roni; Wardatul Uyuni; Wiwiek Delvira

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2025 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyakit kronis yang prevalensinya tinggi pada kelompok lanjut usia serta berperan signifikan dalam timbulnya komplikasi kardiovaskular. Salah satu faktor risiko yang dapat dimodifikasi dalam penatalaksanaan hipertensi adalah rendahnya tingkat aktivitas fisik. Tujuan: untuk memberdayakan lansia dalam melakukan aktivitas fisik dalam menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Metode: pelaksanaan pengabdian masyarakat berupa pembelian Latihan fisik pada lansia dengan tujuan menurunkan tekanan darah yang terdiri dari tahap I: sharing materi perihal pentingnya aktivitas fisik terhadap tekanan darah sebanyak 1 kali pertemuan dan tahap II berupa kegiatan pelatihan aktivitas fisik berupa senam lansia 1 hari seklai dilakukan selama 3 kali seminggu dan diukur tekanan darah sebelum dan sesudah kegiatan senam lansia. Hasil: kegiatan ini menghasilkan meningkatnya pengetahuan lansia perihal pentingnya aktivitas fisik berupa senam lansia terhadpa tekanan darah dan menurunnya tekanan darah pada lansia yang menderita hipertensi. Kesimpulan: lansia dengan hipertensi sudah mampu melakukan aktivitas fisik untuk menurunkan tekanan darah dan mempraktekkan senam lansia secara mandiri ataupun golongan (secara bersama-sama dengan lansia yang lain).

Gani, Nurul Fadhilah; Hasnah, Hasnah; Nurhidayah, Nurhidayah; Sumarmi, Sumarmi

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2025 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi, salah satunya dipicu oleh komplikasi kehamilan akibat kekurangan gizi. Rendahnya literasi nutrisi pada ibu hamil berkontribusi terhadap meningkatnya risiko preeklamsia, anemia, dan bayi berat lahir rendah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi nutrisi ibu hamil melalui pendampingan berbasis media kalender makanan sebagai alat bantu edukasi sederhana dan aplikatif. Pengabdian dilaksanakan di Kantor Desa Bungaejaya, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dengan melibatkan 10 orang ibu hamil. Kegiatan ini juga dihadiri oleh kepala desa, bidan desa, kader kesehatan, dan mitra Dompet Dhuafa. Metode kegiatan mencakup penyuluhan nutrisi kehamilan, pelatihan penggunaan kalender makanan. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman ibu hamil mengenai kebutuhan gizi selama kehamilan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi visual berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan kesadaran nutrisi pada ibu hamil serta meningkatkan kemampuan ibu dalam mengidentifikasi nutrisi tepat sehari-hari selama hamil.

Asyima Asyima; Noviyani Hartuti

Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan 2025 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Anemia during pregnancy is a significant maternal health issue with serious impacts on maternal and perinatal outcomes, including complications such as severe preeclampsia, postpartum hemorrhage, and low birth weight (LBW), all of which contribute to increased morbidity and mortality rates. This literature review aims to analyze the clinical impacts of pregnancy anemia, related complications, and effective management strategies based on the latest scientific evidence (2020-2024). The study examines the relationship between anemia and preeclampsia, LBW, and postpartum hemorrhage, as well as the importance of nutritional fulfillment in prevention and management. Five research articles from indexed journals were collected from the Scopus database, with inclusion criteria of studies with clear designs, focusing on pregnancy anemia, and published in Indonesian or English. The analysis results show that pregnancy anemia is a predisposing factor for preeclampsia through mechanisms such as placental hypoxia and oxidative stress. Anemia is also closely related to an increased incidence of LBW and postpartum hemorrhage, particularly due to lower hemoglobin reserves and uterine contractility issues. Adequate nutritional fulfillment is influenced by socioeconomic barriers, supplementation side effects, and lack of family support. Anemia management requires a comprehensive approach, including routine screening, prophylactic supplementation, nutritional education, and effective referral systems for complex cases. Prevention through early detection and timely intervention is crucial in reducing maternal and perinatal morbidity.

Waldatul Hamidah; Hardisman, Hardisman

Jurnal Siti Rufaidah 2025 PPNI UNIMMAN

Background: Maternal Mortality Rate (MMR) in Indonesia remains a significant health challenge, with the majority of deaths related to preventable pregnancy complications. Empowering pregnant women through increased knowledge and skills in early detection is a key strategy to encourage timely care seeking. Objective: To review and analyze policies and implementation of programs empowering pregnant women in early detection of complications in Indonesia over the past five years (2020–2025), including policy frameworks, implementation models, research findings related to impacts and barriers, and policy recommendations. Methods: A scoping review using the Population-Concept-Context (PCC) approach was conducted. The literature search included scientific publications, national policy documents, and program reports published between 2020–2025. Relevant works included quasi-experimental studies, program reports, and policy documents. Main results: Maternal empowerment programs are driven by national policies to improve maternal health literacy and reduce MMR. Implementation is often integrated into Pregnant Women's Classes (KIH) or through digital media. Educational interventions have shown significant improvements in maternal knowledge of danger signs, but challenges include the low quality and availability of educational materials, as well as issues with outreach to mothers in remote areas. Conclusion: Empowering pregnant women in early detection is an important policy initiative to reduce maternal mortality. However, standardization of the curriculum, strengthening the role of cadres, and increased digital support are needed to ensure equitable reach and effectiveness.

Pocut Zairiana Finzia; Fazya Ananda

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2025 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui Prosedur pemeriksaan panoramic Mandibula Pasca Pemasangan Pen di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Kota Banda Aceh. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini bertujuan menilai posisi, kestabilan, dan kondisi implan serta jaringan tulang di sekitarnya. Hasil pemeriksaan ini membantu dokter dalam memastikan bahwa pemasangan pen berjalan sesuai rencana tanpa adanya komplikasi seperti pergeseran implan, infeksi, atau gangguan penyembuhan tulang. Pemeriksaan ini juga penting untuk pemantauan pasca-operasi guna menentukan tindakan medis lanjutan yang diperlukan.  

Setiawati, Estriana Murni; Kirana, Lakshita Nindya

JURNAL KEPERAWATAN SISTHANA 2025 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KESDAM IV DIPONEGORO

Prevelensi penderita DM sebanyak 10.3 juta jiwa dari 90% total tersebut merupakan diabates tipe 2. Kadar glukosa tidak terkendali memicu komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Kunci keberhasilan pengendalian diabates melitus adalah self-management, agar mencapai perilaku self -management yang baik dukungan keluarga sangat berperan penting pada manajemen penatalaksanaan DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Dukungan Keluarga dengan self-management pada Pasien Diabetes melitus Tipe 2 di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, dengan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 93 penderita DM tipe 2. Analisis data menggunakan uji statistik Kendal Tau. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga dengan kategori sedang yaitu 57 orang (61.3%). Self mnagement dengan  kategori sedang sebanyak 62 orang (66.7%). Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan self-management p= 0,000 (nilai p<0,05). Simpulan dan Saran: Terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan self-management pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Hasil tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga memiliki peran penting dalam mendukung pelaksanaan manajemen mandiri diabetes melitus. Oleh karena itu, melibatkan keluarga dalam setiap aspek penatalaksanaan dan perawatan diabetes melitus sangat penting untuk meningkatkan hasil pengobatan dan memastikan kepatuhan jangka panjang terhadap rencana terapi.

Erika Apriliani

JURNAL KEPERAWATAN SISTHANA 2025 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KESDAM IV DIPONEGORO

Hipertensi merupakan salah satu kondisi medis yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, seperti penyakit jantung koroner, stroke, dan gagal ginjal . Manajemen perawatan diri (self-care management) menjadi faktor penting dalam mengontrol tekanan darah pada penderita hipertensi . Self-care management mencakup regulasi diri, kepatuhan terhadap pengobatan, pemantauan tekanan darah, serta interaksi dengan tenaga medis . Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan metode cross-sectional . Sampel penelitian berjumlah 159 pasien hipertensi yang berobat di RS Islam Sultan Agung Semarang. Dari analisis univariat, mayoritas responden berada dalam rentang usia 45-59 tahun, berpendidikan terakhir SD, bekerja sebagai wiraswasta, serta memiliki tekanan darah tinggi selama rata-rata 3 tahun. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara self-care management dan tekanan darah sistolik (p = 0,035) serta tekanan darah diastolik (p = 0,041) . Kesimpulannya terdapat hubungan antara self-care management dengan tekanan darah pada pasien hipertensi . Dengan meningkatkan self-care management, pasien dapat mengelola tekanan darah secara lebih efektif.

Dewi Chintya

JURNAL KEPERAWATAN SISTHANA 2025 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KESDAM IV DIPONEGORO

Latar belakang: Hemodialisa merupakan suatu teknologi canggih yang digunakan sebagai alternatif pengganti fungsi ginjal untuk menyaring produk-produk limbah metabolik atau racun tertentu dari darah, seperti air, natrium, kalium, hidrogen, urea, dan zat lainnya dengan memanfaatkan membran semipermeabel. Salah satu faktor yang mempengaruhi hemodialisa ialah akses vaskuler, akses vaskuler yang berfungsi dengan baik dapat digunakan untuk jangka Panjang yang adekuat dapat menghasilkan aliran darah yang lancar serta meminimalkan komplikasi. Tujuan: dilakukan penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan dan perawatan akses vaskuler pada pasien hemodialisa. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Sebanyak 90 pasien hemodialisa terlibat sebagai responden yang dipilih melalui teknik pengambilan sampel total. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang mengukur pengetahuan dan perawatan akses vaskuler. Dalam menganalisis data, digunakan uji distribusi frekuensi. Hasil: penelitian ini menjelaskan bahwasannya mayoritas responden mempunyai tingkat pengetahuan akses vaskuler kategori baik sebanyak 71 (78,9%), sedangkan sebagian besar memiliki Tingkat perawatan akses vaskuler kategori baik sebanyak 69 (76,7%). Adanya Gambaran pengetahuan dan perawatan akses vaskuler yang baik pada pasien hemodialisa sehingga, penelitian ini dapat digunakan perawat dalam intervensi keperawatan untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan perawatan akses vaskuler pasien dalam hemodialisa.

Solehudin; Nur Eni Lestari; Irma Herliana

Jurnal Pengabdian dan Solidaritas Masyarakat 2025 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Penyakit asam urat (gout) adalah gangguan metabolik yang sering dialami oleh lansia, yang dapat menyebabkan rasa sakit yang hebat, keterbatasan gerakan, serta penurunan kualitas hidup. Penyakit ini terjadi akibat penumpukan kristal asam urat di persendian, yang dapat menyebabkan peradangan dan nyeri yang parah. Faktor risiko utama termasuk pola makan yang kaya purin, obesitas, gangguan ginjal, serta penggunaan obat-obatan tertentu. Namun, banyak lansia yang kurang memahami penyebab, gejala, dan penanganan penyakit ini dengan baik, sehingga kondisi mereka seringkali memburuk. Untuk itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lansia dalam merawat penyakit asam urat secara mandiri. Program ini diselenggarakan melalui penyuluhan kesehatan yang interaktif, dengan materi yang mencakup etiologi penyakit asam urat, manifestasi klinis, komplikasi yang dapat ditimbulkan, serta berbagai strategi pengelolaan yang efektif. Salah satu aspek penting yang dibahas adalah modifikasi gaya hidup, yang meliputi diet rendah purin, hidrasi yang cukup, serta pentingnya aktivitas fisik. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya kepatuhan terhadap terapi medis yang direkomendasikan oleh tenaga kesehatan. Metode pelaksanaan kegiatan ini meliputi ceramah yang interaktif, sesi tanya jawab, dan distribusi leaflet informatif untuk memperkuat pemahaman peserta. Kegiatan ini dilaksanakan di wilayah RW 05 Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang diikuti oleh sejumlah lansia yang aktif berpartisipasi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta tentang penyakit asam urat dan bagaimana cara merawatnya. Lansia menunjukkan antusiasme yang tinggi dan mampu mengidentifikasi langkah-langkah praktis yang dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengelola kondisi mereka. Melalui kegiatan ini, diharapkan lansia dapat lebih mandiri dalam mengelola asam urat, mengurangi frekuensi serangan, dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.