Publication Search

71,387 articles from 644 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 91

Analytics

Lay, Sergius; Waruwu, Clara Cici Ceriawati; Sihite, Dominkus Wardoyo; Baeha, Widia; Waruwu, Elvin Paska Juang +2 more

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2026 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Penelitian ini mengkaji makna kematian dan kehidupan kekal dalam iman Katolik berdasarkan perspektif teologi eskatologi dan Kristologi sesuai dengan ajaran dogma Gereja Katolik. Tujuan penelitian adalah menjelaskan pemahaman kematian menurut ajaran resmi Gereja Katolik, sebagaimana tertuang dalam Katekismus Gereja Katolik, dokumen Konsili Vatikan II, dan ensiklik kepausan, serta relevansinya bagi kehidupan pastoral umat pada masa kini. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka yang bersifat teologis-normatif dengan sumber utama Kitab Suci, dokumen Magisterium, dan literatur teologi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam iman Katolik, kematian dipahami sebagai peralihan menuju kehidupan kekal bersama Allah, bukan akhir dari eksistensi manusia. Wafat dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi fondasi dogmatis harapan keselamatan umat beriman. Ajaran tentang pengadilan khusus, api penyucian, surga, dan neraka merupakan bagian integral dari iman Katolik yang memiliki implikasi pastoral yang kuat: memberikan penguatan iman, harapan, dan penghiburan bagi umat dalam menghadapi penderitaan dan kematian. Simpulan penelitian menegaskan bahwa pemahaman teologis yang benar tentang kematian dan kehidupan kekal perlu terus diwartakan agar umat mampu menghayati hidup dalam iman, harapan, dan kasih.

Ulina, Febriani; Setiawan, Yusak Agus

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dalam menerjemahkan konsep-konsep teologis yang abstrak agar sesuai dengan perkembangan kognitif peserta didik usia sekolah dasar. Latar belakang penelitian ini berangkat dari pentingnya penanaman iman sejak dini dalam keluarga sebagai ecclesia domestica, yang kemudian dilanjutkan secara sistematis dalam pendidikan formal. Namun, pada jenjang sekolah dasar, pembelajaran Pendidikan Agama Kristen menghadapi tantangan karena materi teologis yang bersifat abstrak tidak selalu selaras dengan kemampuan berpikir anak. Berdasarkan teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak usia 7–12 tahun berada pada tahap operasional konkret, sehingga membutuhkan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis pengalaman nyata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan hermeneutika-pedagogis untuk menganalisis strategi pengajaran Yesus dalam Injil Markus 4:1–33. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yesus menerapkan strategi pembelajaran yang efektif melalui pengelolaan ruang belajar (spasial), penggunaan perumpamaan sebagai media naratif, serta pendekatan dialogis-partisipatif. Strategi ini memungkinkan terjadinya jembatan antara konsep abstrak Kerajaan Allah dengan realitas konkret kehidupan pendengar. Dengan demikian, integrasi antara pemahaman teks Alkitab dan pendekatan pedagogis yang sesuai dengan perkembangan kognitif menjadi kunci dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang efektif. Penelitian ini menegaskan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen perlu mengembangkan strategi kreatif dan kontekstual agar nilai-nilai iman tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dihayati dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

Kristiawan, Ragil

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan menganalisis gema intertekstual antara Lukas 1:49 dan Kejadian 17:1, khususnya melalui penggunaan gelar ὁ δυνατός (ho dynatos) yang mengacu pada El-Shaddai. Kajian ini berargumen bahwa kemunculan kembali gelar ini bukanlah kebetulan, melainkan strategi teologis Lukas yang disengaja untuk menghubungkan kehamilan supranatural Maria dengan janji keturunan Abraham. Metode yang digunakan adalah analisis tekstual-kritikal, historis-semantik, dan intertekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gema ini beroperasi pada tiga tingkat: (1) menegaskan kontinuitas identitas Allah yang setia pada perjanjian-Nya; (2) membangun paralel naratif yang ketat antara kelahiran Ishak dan Yesus; serta (3) mentransformasikan makna Inkarnasi sebagai penggenapan definitif janji El-Shaddai. Implikasi teologisnya adalah bahwa Yesus dipahami sebagai keturunan yang dijanjikan, dan kelahiran-Nya menandai dimulainya era baru umat perjanjian yang universal. Dengan demikian, Lukas 1:49 berfungsi sebagai kunci hermeneutis yang menghubungkan misi Yesus secara tak terpisahkan dengan rencana keselamatan Allah sejak perjanjian dengan Abraham.

Hardianta, Rbg Widhi Nugraha Agus Gembong; Wijaya, Michelle

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini mengkaji kisah perjumpaan Yesus dengan pemuda kaya dalam Injil Matius 19:16–30, Injil Markus 10:17–31, dan Injil Lukas 18:18–30 dalam perspektif teologi perdamaian dan keadilan sosial. Latar belakang penelitian ini bertolak dari realitas ketimpangan sosial-ekonomi yang semakin meningkat di era modern, yang ditandai oleh kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin serta kemiskinan struktural yang terus berlangsung. Dalam konteks tersebut, kisah Yesus dan pemuda kaya dipahami tidak hanya sebagai ajaran moral mengenai keterikatan terhadap harta, tetapi juga sebagai kritik profetis terhadap struktur sosial-ekonomi yang tidak adil. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) dan hermeneutika kontekstual. Data primer diperoleh dari teks Alkitab dalam ketiga Injil Sinoptik, sedangkan data sekunder berasal dari buku, jurnal ilmiah, dan literatur teologi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep shalom dalam teologi perdamaian mencakup keadilan relasional, kesejahteraan sosial, dan solidaritas terhadap kaum marginal. Perintah Yesus kepada pemuda kaya untuk menjual hartanya dan membagikannya kepada orang miskin menunjukkan bahwa iman Kristen tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Kekayaan dipahami sebagai stewardship yang harus digunakan demi kesejahteraan bersama. Penelitian ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi agen transformasi sosial melalui praksis keadilan, pemberdayaan ekonomi, pendidikan perdamaian, dan solidaritas sosial di tengah masyarakat Indonesia yang plural dan masih menghadapi ketimpangan sosial-ekonomi.

Fendi Fendi

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2026 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Modern urban churches, specifically Gereja Bethel Indonesia (GBI) PRJ Jakarta, face challenges in bridging the intergenerational gap in leadership regeneration. This research aims to reformulate the paradigm of church leadership towards the next generation by exploring the theological meaning of Jesus' act of washing His disciples' feet based on the text of John 13:12-17. Using a qualitative method through a library research approach as well as textual and contextual biblical analysis, this study deconstructs the concept of worldly elitist power into a servant leadership model. The results of the expository analysis show that Jesus validated His historical and political authority not through social status distance, but through incarnational ministry, relational proximity, and role modeling. As a practical implication for the quality of ministry at GBI PRJ Jakarta, these findings recommend a strategic transition from a one-way communication leadership style to relational mentoring, the empowerment of the younger generation through the delegation of authority, and the tangible modeling of integrity. In conclusion, the improvement of shared ministry quality highly depends on the willingness of church leaders to lay aside structural egos and disciple the younger generation through the example of humility centered on the work of the cross of Christ.

Manafe, Yunus

Jurnal Silih Asah 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Misi gereja tidak hanya terbatas pada penginjilan dan pelayanan sosial, tetapi juga mencakup pendidikan. Pendidikan Agama Kristen menjadi alat penting dalam mewujudkan misi tersebut. Tujuan dari Pendidikan Agama Kristen bukan sekadar menanamkan nilai keimanan, tetapi juga sebagai manifestasi nyata dari misi gereja di dunia. Artikel ini memahami misi gereja sebagai pemberitaan Injil, pemuridan, dan pelayanan kasih yang dapat direalisasikan melalui pendidikan, terutama melalui karakter dan spiritualitas peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memahami misi gereja dalam konteks pendidikan agama Kristen dengan metode studi pustaka dan analisis data deskriptif. Hasil studi pustaka menunjukkan bahwa makna misi gereja dalam konteks pendidikan agama Kristen dipengaruhi oleh peranan pendidikan agama Kristen dalam mendukung misi tersebut.

Aluysius Hendra Wijaya; Laurentius Prasetyo

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2026 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Penelitian ini mengkaji simbol air dalam Injil Yohanes sebagai bahasa wahyu yang mengungkapkan identitas ilahi Yesus dalam kerangka pneumatologi. Latar belakang penelitian ini adalah adanya kecenderungan studi sebelumnya yang menafsirkan simbol air secara parsial, baik sebagai simbol sakramental maupun metafora spiritual, tanpa melihat keterkaitannya secara menyeluruh dalam struktur naratif Injil Yohanes dan tradisi Yahudi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa simbol air merupakan struktur teologis yang mengintegrasikan kristologi, dan pneumatologi  Yohanes. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan, melalui analisis teologis-intertekstual terhadap teks-teks Yohanes yang berkaitan dengan simbol air serta hubungannya dengan Perjanjian Lama dan tradisi Yahudi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol air berkembang secara progresif dari makna literal menuju simbol kehidupan ilahi dan Roh Kudus, serta mencapai klimaks dalam peristiwa penyaliban sebagai pencurahan Roh dan kelahiran Gereja. Dengan demikian, air berfungsi sebagai medium pewahyuan yang tidak hanya menjelaskan karya keselamatan, tetapi juga mengungkapkan identitas Yesus sebagai sumber kehidupan ilahi. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa pneumatologi Yohanes pada dasarnya merupakan ekspresi kristologi dalam bahasa simbolik.

Gimson Sitinjak; Yoshua Fordin Hasiolan; Menderita Lilis Purba; Selfius Dur; Lenny Lubis +2 more

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa 2025 Pusat riset dan Inovasi Nasional

This paper discusses the principles of Jesus’ teachings that are relevant for building effective and transformative learning within the context of contemporary education. Jesus is known as the Great Teacher who taught with authority, closeness, and methods capable of transforming the thinking, attitudes, and behavior of His listeners. Through biblical analysis and pedagogical examination, this study identifies several key principles, including the use of stories and parables to facilitate deep understanding, a dialogical approach that encourages active participation, contextualization of the message according to the listeners’ social background, modeling as a form of learning through example, and an emphasis on character transformation as the ultimate goal of education. The study concludes that the principles of Jesus’ teaching are not only effective in delivering content but also play a significant role in shaping the internal transformation of learners. By adapting these principles, modern educators can build learning processes that are more meaningful, holistic, and transformation-oriented.

Mega Intan Tambunan; Herdiana Boru Hombing; Enda Dwi; Megawati Manullang; Bernhardt Siburian

Pengharapan : Jurnal Pendidikan dan Pemuridan Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This study aims to determine Jesus' evangelistic mission based on Matthew 9:35–38 and its implementation for students of the Theology Study Program of IAKN Tarutung. The research method in writing this scientific paper is a combination of qualitative and quantitative methods. For the qualitative method using a library research approach while the quantitative method with 10 informants of the Theology Study Program of IAKN Tarutung. In this study will be explored the mission of Jesus' evangelism based on Matthew 9:35–38 and its implementation for students of the Theology Study Program of IAKN Tarutung. The results of the study of the exegesis of Matthew 9:35–38 Jesus' evangelistic mission is to travel, teach, preach the Gospel, heal the sick, Jesus' compassion. From this study also shows that students have understood the essence of Jesus' evangelistic mission theologically. This is influenced by the learning of the Contemporary Missiology course which reveals the basic principles of the mission based on the Gospel of Matthew. However, implementation in the field is still very limited. As many as 70% of the data obtained in this study indicate that students have not yet pursued mission as a calling, but rather as an academic task. Challenges faced in carrying out mission for students of the Theology Study Program at IAKN Tarutung include a lack of self-confidence, an inapplicable curriculum, and low spiritual awareness. This study emphasizes that theological understanding needs to be supported by a curriculum system, spiritual formation, and a contextual service community so that students are able to live out the mission of evangelism comprehensively as exemplified by Jesus Christ.

Abraham, Agustinus

Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi 2025 International Forum of Researchers and Lecturers

This research  examines the transfiguration of Jesus in the Synoptic Gospels, with particular emphasis on the theological distinctiveness of the Gospel of Mark. The study employs a qualitative method using a literature review approach, focusing on narrative analysis, textual comparison, and theological reflection. The analysis shows that although Matthew, Mark, and Luke present the transfiguration event, each Gospel offers distinctive features in wording, narrative structure, and theological emphasis. Mark presents the transfiguration in a concise form, portraying Jesus as the messianic Son of God and as a prophet like Moses, while highlighting the apocalyptic and symbolic aspects of this divine encounter. From Mark’s perspective, the transfiguration serves as a prefiguration of Jesus’ resurrection and a revelation of His messianic identity, which in the Greco-Roman context may be understood as apotheosis—the elevation of a human into divinity. This study affirms that the transfiguration in Mark is not only a historical event but also a theological event that encompasses eschatological and christological dimensions, as well as a reflection on divine hiddenness. In conclusion, the transfiguration is understood as a manifestation of Jesus’ hidden glory within suffering, confirming that the path to resurrection and glory must pass through the cross. This article contributes to biblical and theological studies by demonstrating how Mark articulates a unique christology, one that remains relevant for contemporary Christian faith and opens avenues for further exploration through apocalyptic theology and scriptural intertextuality.

Hatmoko, Haru; Windarti, Maria Titik

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Profesi guru dalam perspektif pendidikan modern dipahami bukan sekadar sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai agen transformasi moral, etika, dan spiritual. Dalam konteks pendidikan Kristen, peran guru semakin signifikan karena dipanggil untuk menghadirkan teladan Kristus dalam seluruh aspek kehidupannya. Penelitian ini mengkaji relevansi keteladanan Yesus dalam Yohanes 13:13–16 dengan praktik pendidikan guru agama Kristen di sekolah. Teks ini menampilkan Yesus yang membasuh kaki murid-murid-Nya sebagai simbol kerendahan hati, kasih, dan pelayanan, yang menjadi dasar teologis bagi peran guru Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologis dan pendidikan, melalui studi pustaka dan wawancara dengan guru-guru di SMA PGRI 22 Serpong. Hasil penelitian menunjukkan lima temuan utama. Pertama, teladan guru Kristen berfungsi sebagai model nyata yang membentuk iman dan karakter siswa. Kedua, praktik mentoring dalam perspektif Alkitab menegaskan pentingnya relasi personal dalam pendidikan iman. Ketiga, keteladanan Yesus menampilkan dimensi servant leadership yang relevan bagi kepemimpinan guru Kristen. Keempat, integritas guru Kristen menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan karena konsistensi hidup lebih berpengaruh daripada sekadar instruksi verbal. Kelima, keteladanan Yesus tetap relevan di era modern karena mampu menuntun peserta didik menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi dengan iman yang tangguh. Dengan demikian, guru agama Kristen dipanggil untuk melayani dengan kasih, rendah hati, dan penuh integritas, sehingga mampu membentuk generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus matang secara spiritual.

Laia, Idaman; Madjan, Herman P

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini membahas relevansi integritas Kristus sebagaimana dicontohkan dalam Matius 4:1–11 sebagai dasar etika profesional dan spiritual bagi guru-guru Kristen. Dalam kisah pencobaan di padang gurun, Yesus menunjukkan keteguhan hati dan kesetiaan terhadap firman Tuhan, tanpa kompromi terhadap godaan kuasa, kekayaan, dan pengakuan. Sikap ini menjadi model sempurna integritas, yang tidak hanya bersifat moral tetapi juga spiritual. Guru Kristen sebagai pendidik dan pembentuk karakter generasi masa depan, diharapkan hidup selaras antara ucapan, prinsip, dan tindakan, sebagaimana Kristus meneladankan.Melalui pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka, penelitian ini menganalisis prinsip-prinsip integritas Kristus dan implikasinya dalam dunia pendidikan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas guru Kristen berdampak langsung terhadap efektivitas pendidikan karakter, kepercayaan peserta didik, dan kredibilitas lembaga pendidikan. Namun, tantangan besar juga diidentifikasi, seperti tekanan profesional, relativisme moral, dan godaan kompromi nilai.Strategi pembinaan integritas meliputi penguatan disiplin rohani, pelatihan etika Kristen, mentoring oleh figur teladan, serta dukungan institusional dari gereja dan sekolah. Guru Kristen dipanggil tidak hanya mengajar pengetahuan, tetapi juga menjadi pemimpin rohani yang mencerminkan kehidupan Kristus. Dengan menjadikan integritas sebagai inti dari pelayanan pendidikan, guru mampu menjadi terang dan garam bagi dunia pendidikan yang tengah menghadapi krisis moral. Oleh karena itu, implementasi integritas Kristus menjadi kebutuhan mendesak dalam membentuk guru Kristen yang profesional, beriman, dan berpengaruh secara transformatif.

Yatafati Zebua

Sukacita : Jurnal Pendidikan Iman Kristen 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This article discusses the implementation of exorcism by Jesus Christ according to Mark 9:14-29 and its relevance to occult ministry at LPPS Palu. Through exegetical study, it is found that the power and authority of Jesus in casting out evil spirits emphasize the importance of faith and prayer as the main keys in similar ministries. The inability of Jesus’ disciples to cast out the evil spirit in this pericope serves as a reflection for contemporary ministry, which often also experiences failure due to a lack of faith and dependence on God. This article highlights the need for a proper understanding of the distinction between medical disorders and manifestations of dark powers, and affirms that exorcism should be carried out with authority in the name of Jesus. The practical implication of this research is the importance of strong spiritual preparation, faith, and a consistent prayer life in occult ministry within the church environment.

Agatha Lilis Pratiwi; Anselmus Joko Prayitno; Gregorius Daru Wijoyoko

As a multicultural country, Indonesia grows and develops with various cultural structures, ethnicities, religions and races. The diversity that occurs for a long time makes it possible for marriages with different religions to occur. Interfaith marriage in the Catholic Church is not allowed, but there is a dispensation so there are people who do it. As happened at the Sacred Heart of Jesus Simo Church, Boyolali, from the data for 2018-2023, there were 41 marriages and 9 of them were married to different religions (Cult Disparity). This phenomenon occurs due to several things including a lack of appreciation of faith, not enough socializing in the Church, pregnancy outside of marriage, a high sense of tolerance, many public schools in the village, places of worship that are close enough to allow the existence of many followers of other religions. The purpose of this research is to find out the nature of marriage of interfaith marriage couples, the application of children's faith education and the development of parents' faith from interfaith marriages. This research uses a descriptive qualitative method with interviews with informants. The results showed that the impact of interfaith marriage on the faith education of children under five is positive because since infancy they have been baptized in accordance with the nature of Catholic marriage. Based on the results of the study, each partner respects and supports the other's beliefs in the midst of differences. In educating children's faith in the golden age period, they can be baptized.    

Agatha Lilis Pratiwi; Anselmus Joko Prayitno; Gregorius Daru Wijoyoko

As a multicultural country, Indonesia grows and develops with various cultural structures, ethnicities, religions and races. The diversity that occurs for a long time makes it possible for marriages with different religions to occur. Interfaith marriage in the Catholic Church is not allowed, but there is a dispensation so there are people who do it. As happened at the Sacred Heart of Jesus Simo Church, Boyolali, from the data for 2018-2023, there were 41 marriages and 9 of them were married to different religions (Cult Disparity). This phenomenon occurs due to several things including a lack of appreciation of faith, not enough socializing in the Church, pregnancy outside of marriage, a high sense of tolerance, many public schools in the village, places of worship that are close enough to allow the existence of many followers of other religions. The purpose of this research is to find out the nature of marriage of interfaith marriage couples, the application of children's faith education and the development of parents' faith from interfaith marriages. This research uses a descriptive qualitative method with interviews with informants. The results showed that the impact of interfaith marriage on the faith education of children under five is positive because since infancy they have been baptized in accordance with the nature of Catholic marriage. Based on the results of the study, each partner respects and supports the other's beliefs in the midst of differences. In educating children's faith in the golden age period, they can be baptized.    

Jeni Murni Gulo; Aprianus Ledrik Moimau

Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi 2025 International Forum of Researchers and Lecturers

Paul's educating on the moment coming of Jesus Christ plays a imperative part in forming Christian religious philosophy and morals. In his epistles, Paul emphasizes that the return of Christ isn't simply a promise for long haul; it may be a living reality of confidence that provides trust and changes the way devotees live. The call to heavenly living within the present is integrated with the guarantee of salvation that will be satisfied at Christ's return. Agreeing to Paul, confidence in Christ must be illustrated through a life filled with love, truth, and sacredness. This is often since the hope of the Lord's coming is an fundamental portion of the moral obligation of each devotee. The understanding of Christ's return, in Paul's point of view, isn't only eschatological but too profoundly associated to the practical viewpoints of the believer's way of life. Within the setting of the early church—marked by abuse, doctrinal disarray, and ethical crisis—Paul demands that the trust of Christ's return ought to result in a life that's satisfying and commendable some time recently God. The long run. coming of Christ includes not as it were judgment or eminence, but too every day reliability. The point of this ponder is to investigate how Paul gets it the moment coming of Jesus in connection to the guarantee of salvation and from the values of the Kingdom of God.

Kore Mega, Cindy; Adi Saingo, Yakobus

Sinar Kasih: Jurnal Pendidikan Agama dan Filsafat 2025 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Artikel ini bertujuan membahas tentang pentingnya model pengajaran dalam mencapai tujuan pendidikan melalui analisis terhadap model pengajaran yang digunakan oleh Yesus Kristus dengan pola perumpamaan. Model pengajaran merupakan konsep yang digunakan dalam merancang proses pembelajaran, dan memainkan peran kunci dalam membangun dan meningkatkan kemanusiaan. Penting bagi seorang guru untuk memilih metode pengajaran yang tepat guna mencapai tujuan pembelajaran yang rancangkan, termasuk menggunakan pola perumpamaan dalam mengajar seperti yang dicontohkan Tuhan Yesus Kristus dalam pengajaran-Nya untuk menyampaikan kebenaran Firman bagi banyak orang. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka yang ketika dianalisis secara reduktif mengungkapkan hasil bahwa perumpamaan sebagai cerita pendek yang mengandung makna dalam dan digunakan oleh Yesus untuk menjelaskan prinsip-prinsip spiritual secara tidak langsung bagi pengikut-Nya. Pola perumpamaan juga dapat digunakan oleh guru Kristen ketika menjelaskan materi di dalam kelas. Pembahasan juga menganalisis tentang jenis-jenis perumpamaan yang digunakan oleh Yesus, dan relevansinya dalam pengajaran modern, selain itu model pengajaran dengan pola perumpamaan telah menjadi inspirasi bagi guru-guru Kristen dalam mengembangkan strategi pengajaran yang efektif untuk mencapai tujuan pendidikan.

Irwansyah Putra Hondro

Sukacita : Jurnal Pendidikan Iman Kristen 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Jesus Christ as a role model for PAK teachers so that the role and competence of Christian Religious Education (PAK) teachers. Jesus, as the Great Teacher, provides a learning model centered on love, patience, wisdom, and real-life examples. By understanding and applying the principles of Jesus' leadership and teaching, PAK teachers can be more effective in guiding students, both in spiritual and moral aspects. This research uses a qualitative method with a descriptive-analytical approach. Data were collected through literature study of theological literature, Christian education, and analysis of Jesus' teachings and actions in the Bible. The results showed that the example of Jesus has a significant impact in shaping the character of PAK teachers, especially in the aspects of integrity, servant leadership, and the ability to educate with love and wisdom. The conclusion of this study confirms that PAK teachers who imitate Jesus can be agents of transformation in the world of education, forming a generation that is not only intellectually intelligent, but also has a strong Christian character.

Jesica Carolina; Septania Adut; Helena Regalia Ujabi; Sarmauli Sarmauli

Sukacita : Jurnal Pendidikan Iman Kristen 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

The Protestant Reformation had a significant impact on the development of Christian theology, especially in the field of Christology. This study aims to examine the thoughts of Martin Luther and John Calvin regarding the role of Christ in the process of human salvation. The method used is a qualitative approach with a literature study technique, which examines the theological works of the two Reformers. The results of the study show that Luther emphasized the personal relationship between humans and Christ as savings, as well as the real presence of Christ in the sacrament as a form of God's grace that can be experienced personally. Meanwhile, Calvin developed the concept of three placements of Christ as prophet, priest, and king which emphasized the overall role of Christ in salvation, and viewed the sacrament as a spiritual means to strengthen the faith of believers. Through this study, it can be concluded that Christology in the Reformation tradition provides a strong, systematic, and relevant theological basis for the development of contemporary Protestant teachings, both in doctrinal aspects and the practice of life of faith.

Lisdayanti Tinambunan; Jhon Rafael; Rike Yulianingsih; Sarmauli Sarmauli

Tri Tunggal: Jurnal Pendidikan Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Christology studies have various aspects, including historical, theological, social and cultural aspects in understanding the person and work of Jesus Christ. Christology does not only focus on Church doctrine, but also studies the meaning of Jesus in a broader context, including relationships with other religions, social struggles, and liberation. This research is a qualitative research using a literature study method. Research as an effort to examine comprehensively through Christology in various contexts that penetrate social, cultural and religious interactions, as well as through traditional dogmatic understanding.