Publication Search

65,449 articles from 545 journals · 1,699 citations tracked

Showing 1-5 of 5

Analytics

Dariyadi Dariyadi

Ta'rim: Jurnal Pendidikan dan Anak Usia Dini 2022 Sekolah Tinggi Agama Islam Yayasan Pendidikan Ilmu Qur'an Baubau

Penelitian ini bertujuan menemukan nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi masyarakat Buton. Tradisi tersebut adalah posuo yang diberlakukan bagi remaja perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam peneitian ini adalah observasi dan wawancara yang dilakukan secara bertahap. Setelah pengumpulan data, kemudian melakukan analisis menggunakan pendekatan Miles dan Haberman. Pendekatan tersebut meliputi pengumpulan data, pemilihan data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Simpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi posuo masyarakat Buton adalah nilai pendidikan i’tiqodiyah. Nilai i’tiqodiyah dalam ritual posuo perempuan Buton terlihat pada setiap prosesi yang dilakukan. Mengawali dan mengakhiri prosesi posuo dengan memohonkan doa kepada Allah SWT agar diberikan kelancaran, perlindungan, dan keselamatan terhadap para gadis yang di-suo; nilai amaliyah, dalam rtiual posuo, mengajarkan para gadis untuk taat beribadah kepada Allah SWT, mendidik mereka untuk menjadi perempuan yang mampu menjaga tingkah laku, ucapan, dan membekali mereka ilmu dalam berumah tangga; nilai khulukiyah, merupakan nilai yang mengajarkan etika yang baik bagi perempuan-perempuan dalam prosesi posuo. Pengetahuan tentang khulukiyah bertujuan untuk membersihkan diri para gadis dari perbuatan yang dinilai rendah, lalu menuntun mereka untuk menghiasi diri dengan akhlak baik; nilai duwaliyah, pada puncak acara posuo, pihak keluarga menyajikan aneka hidangan untuk dinikmati para undangan. Undangan yang hadir dari berbagai kalangan, keluarga, kerabat, dan masyarakat dari berbagai latar belakang sosial. Penyelenggara acara posuo akan berbagi rezeki dengan menajikan aneka hidangan makanan dan minuman kepada para tamu undangan yang hadir.  

Abdul Rahman; Mauliadi Ramli

Jurnal Ilmu Sosial, Bahasa dan Pendidikan 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

This study aims to determine the ritual process and the meaning and values ​​contained in the traditional mappadendang party. In this study using descriptive qualitative research methods, namely research that describes situations directly in the research place. Meanwhile, the data collection techniques used were observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that the process of the traditional mappadendang party ritual in Soppeng Regency is very structured and neatly arranged. Starting from determining the day of implementation and the duration or length of time for implementation. After the process of determining the time is complete, the family who will carry out the traditional party begins to arrange the arrangement of the mappadendang traditional party. For example, entertainment events and players who will pound the pestle on the mortar and the attributes used by players at the traditional party. The traditional party ended with a marked meal together by all the people who attended the traditional party. In the traditional mappadendang party there are meanings and values ​​contained in it, these meanings are applied in the form of actions such as gratitude to God and respecting and preserving the heritage of ancestors or ancestors. Likewise with the values ​​contained in the traditional mappadendang party, the values ​​of togetherness, kinship, entertainment, and religion are merged into one in a traditional party that continues to be preserved and becomes a way of life for the community.

Dani Manesah; Aji Purnomo

Jurnal Riset Rumpun Seni, Desain dan Media 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Judul penelitian ini adalah Analisis Model Budaya Pada Film Dokumenter Kampoeng Kunyit Sutradara Dwi Chita Suci. Film adalah suatu bentuk seni yang mengandung informasi dan hiburan Ini berisi representasi atau makna dari apa yang ditampilkan. Penelitian ini bertujuan untuk merepresentasikan atau memaknai budaya lokal Melayu yang terdapat pada film Kampoeng Kunyit melalui mise en scene yang menampilkan budaya Melayu. Jenis pendekatan penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif  dan menggunakan analisis isi berdasarkan model budaya Edgar H. Schein. Edgar H. Schein membagi model budaya ini menjadi dua kategori, seperti Budaya Benda dan budaya bukanlah benda. Sementara hasil penelitian ini menunjukkan adanya bahwa pada film documenter Kampong Kunyit Sutradara Dwi Chita Suci   ditemukan adanya representasi dua tanda kebudayaan antara lain: (a) budaya dan seni (b) bahasa (c) kekayaan budaya yang terdiri dari makanan Minuman lokal (papeda dan sopi) dan budaya tak berwujud, yaitu: (a)kepercayaan/ritual tradisional (b) hubungan pribadi.

Misnawati Misnawati; Petrus Poerwadi; Alifiah Nurachmana; Alifiah Nurachmana; Syarah Veniaty +6 more

International Journal of Education and Literature 2022 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

This study aims to: (1) describe the sense of ekopuitika theory; (2) describe the working mechanism of ekopuitika theory; and (3) describe the application of the ekopuitika theory in the oral literature. The theory used in this research is  ekopuitika theory, ecology theory, and poetics theory. The data collecting technique or data collection process utilized in this research are as follows: (1) recording technique, either audio or audiovisual, (2) notes, (3) rooted interview, (4) literature study and documentation analysis. The finding of the research is (1) the meaning ekopuitika theory is literary theory/knowledge of poetry which is associated with the environment. (2) the working mechanism is started from analyzing the poetics theory which consists of: 1. Sound that includes: a) rima; (b) assonance; (c) alliteration; (d) anaphora; (e) efoni; (f) kakafoni; and (g) onomatopoeic. 2. Rime (metrum and rhythm) 3. Word includes: (a) vocabulary; (b) diction; (c) figurative language; (d) imagery; and (e) linguistic factors. 4. Phrase that includes: (a) nominal phrases; (b) verbal phrase; (c) the numeral phrase; (d) the adverb phrase; and (e) the prepositional phrase. 5. Sentence/array includes: (a) declarative sentences; (b) interrogative sentences; (c) the imperative sentence; and (d) the exclamatory sentence. 6. The discourse that includes: (a) cohesion and (b) coherence. The next how it works, is further analyzed once more with the ecology theory that includes: (a) the representation of nature: plant, animal, mountain, water, sea, land, air, sun, and sky; (b) the manifestation of the representation of behavior: traditional event (ritual), religion, knowledge, cosmology, language, myth, art, moral, and housing. After the ekopuitika theory applied in the oral literature there was a result that evidently for the representation of nature related to the plant and animal, while for the representation of the behavior associated with the traditional event (ritual) and language.

Akhmad Mulyadi; Teguh Imam Rahayu

Public Service And Governance Journal 2022 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Isu desa dengan segala sumber daya yang dimiliknya sudah bergulir sejak lama, untuk menjawab itu semua maka, pemerintah mengeluarkan  UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa dengan segala optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang ada sehingga menjadi solusi terhadap permasalahan desa, Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan  serta menganalisa Pengembangan  Potensi Desa Menuju Desa Wisata Di Desa Bermi kecamatan Mijen Kabupaten Demak dengan metode kualitatif yang menghasilkan data deskriptif, dengan mengacu pada teori dan analisis SWOT (Strength, Weaknesess, Opportunity, dan Threath).   Pengembangan potensi desa sebagai upaya meningkatkan pendapatan asli desa, tumbuh dan berkembangnya desa wisata bukan semata-mata peran dari satu stakeholder saja, namun perlu adanya partisipasi aktif dari masyarakat. Keinginan Pemerintah Desa Bermi bersama masyarakat dalam pengembangan potensi desa menuju desa wisata belum dapat terwujud. Hal ini dikarenakan pemerintah desa belum membuat aturan baik berupa Peraturan Desa ataupun Peraturan Kepala Desa tentang desa wisata. Potensi yang dapat dikembangkan sejak lama ada adalah Sumur Gandeng, ini bisa menjadi modal utama sebagai maskot, icon, dan jargon Desa Bermi, “ke Sumur Gandeng, Pasti ke Bermi”, Inovasi  desa menuju desa wisata belum tertata, hanya penambahan bangunan pintu gerbang masuk ke halaman Sumur Gandeng. Pengunjung   yang datang ke Sumur Gandeng hanya orang yang memiliki kepentingan khusus (ritual) bukan menjadi pengunjung yang menikmati keindahan lokasi wisata. Partisipasi masyarakat Desa Bermi masih dipengaruhi oleh sesepuh desa dan masih bersifat partisipatif pasif atau “sendiko dawuh”. Pengelolaan desa wisata dilakukan oleh Pemerintah Desa, hanya dibantu beberapa orang dari masyarakat yang tugasnya hanya bersifat menjaga kondisi lingkungan di sekitar Sumur Gandeng.