From the beginning of creation, God had forbidden the fruit of the knowledge of good and evil, warning that anyone who ate it would face death. However, this warning was ignored when Eve, tempted by Satan's persuasion, chose to disobey God's command. This action led to sin, as it reflected a wrong decision and went against God's will. Originally, Adam and Eve lived in a state of holiness and freedom from sin. God Himself stated that humans were created in His image and likeness, meaning they possessed a purity and nobility that reflected His love. However, their decision to eat the forbidden fruit removed that purity. As a result, humans were separated from God's holiness and fell into sin. This is the basis for the teaching affirmed in Romans 3:23, which states that "all have sinned and fall short of the glory of God." This wrong choice had profound consequences, illustrating the importance of obedience to God's commands for maintaining purity and an intimate relationship with Him.
Orang tua memainkan peran penting dalam perkembangan anak, baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor. Tindakan bullying sering kali dialami oleh anak-anak di lingkungan sekolah, tidak terkecuali dengan peserta didik penghayat yang mengakibatkan kurangnya rasa percaya diri. Maka dari itu, peserta didik penghayat yang mendapatkan bullying sudah pasti membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat, yaitu orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran orang tua dalam meningkatkan kepercayaan diri peserta didik penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kabupaten Tegal melalui pendekatan kognitif. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari empat orang tua dan empat peserta didik penghayat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua memainkan peran penting sebagai pendidik, motivator, fasilitator, dan pembimbing dalam meningkatkan kepercayaan diri anak. Pendekatan kognitif yang diterapkan, seperti komunikasi terbuka, pembentukan pola pikir positif, dan pemberian pujian, terbukti efektif dalam meningkatkan rasa percaya diri anak. Namun, orang tua menghadapi kendala seperti stigma sosial, kurangnya pemahaman tentang pendekatan kognitif, dan keterbatasan pendidikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dukungan orang tua yang konsisten dan lingkungan yang inklusif sangat penting dalam meningkatkan kepercayaan diri peserta didik penghayat.
Anak dengan Down Syndrome (DS) menghadapi berbagai hambatan perkembangan, baik secara fisik, kognitif, sosial, maupun emosional, sehingga memerlukan layanan khusus. Salah satu masalah utama yang dialami adalah rendahnya keseimbangan akibat hipotonia, kelemahan otot, gangguan postural, serta keterbatasan sistem sensorimotor, yang berimplikasi pada risiko jatuh dan keterlambatan motorik. Selain itu, anak DS juga cenderung mengalami hambatan dalam sosialisasi yang berdampak pada rendahnya rasa percaya diri. Penelitian dan kegiatan pengabdian masyarakat di SLB D1 Surakarta ini dirancang untuk meningkatkan keseimbangan dan rasa percaya diri melalui intervensi menari di atas landasan dengan berbagai tekstur permukaan serta pemberian buku cerita interaktif. Metode yang digunakan meliputi baseline assessment, sosialisasi, latihan motorik, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test terhadap pengetahuan guru pendamping dan orang tua. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman orang tua dan guru mengenai pentingnya keseimbangan dan rasa percaya diri, dengan capaian pengetahuan baik meningkat dari 57,9% menjadi 89,5%. Selain itu, anak menunjukkan keterlibatan aktif dalam latihan yang menyenangkan, yang diyakini dapat memperbaiki kontrol postural sekaligus memupuk rasa percaya diri melalui pengalaman positif. Dengan demikian, kegiatan menari dan membaca buku cerita bergambar dapat menjadi strategi komplementer yang efektif untuk mendukung tumbuh kembang anak DS secara holistik.
In the calling of believers, the meaning of spiritual life refers to a strong relationship between a person and their faith, which influences their actions, values, and life goals. Spiritual life is not just about personal piety; it is also an essential part of a believer’s mission, ministry, and relationship with God. It is a journey of transformation that encourages believers to align their lives with divine will and to actively participate in the wider community of faith. This calling encourages believers to pursue their purpose, encouraging moral progress, spiritual maturity, and a sense of responsibility toward others. By living a spiritual life, a person can gain a better understanding of the believer’s place in this world and how they can live according to God’s design.
This study is motivated by the importance of prayer and fasting practices in the Christian tradition, which are increasingly marginalized in the midst of modern secularism and individualism. The purpose of this study is to analyze the concept of prayer and fasting based on the principles in the Book of Esther and to examine its implications for the formation of contemporary Christian spirituality. This research employs a literature review method by examining biblical texts and contemporary theological literature to identify the characteristics of prayer and fasting that are pleasing to God. The results of the study indicate that the practice of prayer and fasting in the Book of Esther is not merely ritualistic, but an expression of faith, self-denial, and communal solidarity that leads to personal transformation and strengthened social sensitivity. The implication of this study is that the principles of prayer and fasting in the Book of Esther can serve as a model for the spiritual formation of the modern church, fostering intimacy with God and a commitment to addressing surrounding social issues. These findings contribute to the development of practical theology and contemporary Christian spirituality studies.
KDRT atau domestic violence merupakan kekerasan berbasis gender yang terjadi di ranah personal. Kekerasan ini banyak terjadi dalam hubungan relasi personal, dimana pelaku adalah orang yang dikenal baik dan dekat oleh korban, misalnya tindak kekerasan yang dilakukan suami terhadap istri, ayah terhadap anak, paman terhadap keponakan, kakek terhadap cucu. Dampak bagi korban adalah mengalami sakit fisik, tekanan mental, menurunnya rasa percaya diri dan harga diri, merasa tidak berdaya, merasa ketergantungan pada suami meski telah disiksa, stres pascatrauma, depresi, bahkan keinginan untuk bunuh diri. Pengabdian Masyarakat ini berupa edukasi kepada warga terutama kader Kesehatan tentang KDRT dan dampaknya serta upaya pencegahan dan deteksi dini KDRT di lingkungan keluarga. Kader juga harus mengsosialisasikan upaya pemerintah dalam mengatasi kasus KDRT. Kegiatan edukasi ini membantu meningkatkan pengetahuan dan kesadaran bagi warga, dan keluarga dalam penangganan terhadap kasus KDRT serta dampaknya.
As a community of believers, the church plays an important role in shaping the faith and character of Christians. A healthy church is marked by the growth of its congregation and the spiritual vitality of its members. The purpose of this study is to identify the characteristics of a healthy church and evaluate how these traits impact the strengthening of believers' faith. Using a qualitative-descriptive approach and theological literature research, it was found that a healthy church possesses characteristics such as sound biblical teaching, genuine love for the congregation, servant leadership, active involvement of members according to the gifts of the Holy Spirit, and a strong commitment to prayer and fellowship. For believers, a healthy church fosters dynamic spiritual growth, harmonious community life, and active participation in ministry and evangelism. Such churches are not merely places of worship; they also act as agents of real social transformation. Therefore, a well-functioning church will produce resilient, loving Christians who serve as a light to others.
This research examines God as the initiator of cross-cultural missions through a case study of mission transformation in the life of the Apostle Peter. Departing from the existing research gap, namely the need to reflect on the nature of God who loves other nations through a change in Peter's perspective, this study aims to show that God is the initiator of salvation for all mankind. The significance of this study is to encourage the church to see cross-cultural missions as an important approach in transmitting God's love to those who have not yet repented. Using a descriptive-analytical method, this study finds that Peter's encounter with Cornelius was a crucial turning point in early Christian missionary work. The experience radically changed Peter's narrow understanding of who was worthy of receiving the gospel, extending from just Jews to all nations. The descent of the Holy Spirit upon Cornelius and his family is clear evidence to Peter that God's grace is impartial and available to every believer. This event was not only a personal lesson for Peter, but also a revelation of God that opened the door for the gospel to reach the Gentile world, fundamentally changing the course of church history.
Penelitian ini mengkaji Allah sebagai penggagas misi lintas budaya melalui studi kasus transformasi misi dalam kehidupan Rasul Petrus. Berangkat dari kesenjangan penelitian yang ada, yaitu kebutuhan untuk merefleksikan sifat Allah yang mengasihi bangsa lain melalui perubahan cara pandang Petrus, studi ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa Allah adalah inisiator keselamatan bagi seluruh umat manusia. Signifikansi penelitian ini adalah untuk mendorong gereja agar melihat misi lintas budaya sebagai pendekatan penting dalam menularkan kasih Allah kepada mereka yang belum bertobat. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, penelitian ini menemukan bahwa perjumpaan Petrus dengan Kornelius merupakan titik balik krusial dalam karya misi Kekristenan awal. Pengalaman tersebut secara radikal mengubah pemahaman sempit Petrus mengenai siapa yang layak menerima Injil, meluas dari hanya orang Yahudi menjadi semua bangsa. Turunnya Roh Kudus kepada Kornelius dan keluarganya menjadi bukti nyata bagi Petrus bahwa kasih karunia Allah tidak memandang bulu dan tersedia bagi setiap orang yang percaya. Peristiwa ini tidak hanya menjadi pelajaran pribadi bagi Petrus, melainkan juga wahyu Allah yang membuka pintu bagi Injil untuk menjangkau dunia non-Yahudi, secara fundamental mengubah arah sejarah gereja.
Sola fide is the main Reformed teaching that salvation is only obtained through faith alone, not through charity or good deeds. in the 16th century the practice of indulgences and the Catholic church's emphasis on good works gave rise to doubts in the faith, which later gave rise to the Reform Movement. In response, the reformers restored the principle of sola fide to protect believers in the Lord Jesus from doubts about their Faith. The aim of this research is to analyze the role of sola fide in strengthening believers' faith before reform skepticism, through a literature review of the writings of reformer figures. The results show that emphasizing God's sovereign grace, the sufficiency of faith for forgiveness of sins and assurance of salvation, and sola fide can strengthen believers' faith against attacks of skepticism. This understanding provides important insight for believers today about how to strengthen their faith in the face of increasing skepticism. Overall, this research shows the central role of the principle of sola fide in the history of Christian thought.
This article discusses Jesus Christ's sacrifice on the cross as evidence of human atonement and its relevance to believers today. From the perspective of Christian faith, this event is considered a central point in the history of salvation, demonstrating divine grace and justice. Through a search of the meaning of Christ's sacrifice, this article provides a broad understanding of the meaning of Christ's suffering for man's atonement and explains how Christ's sacrifice is concrete evidence of unconditional love and the divine will to blot out human sin. Through the analysis of the meaning of redemption worked out by Jesus Christ, which will expand the theoretical basis of the purpose of Jesus' sacrifice on the cross. This article also provides a theory of the importance of understanding Christ's sacrifice on the cross, thus becoming a reference for believers in terms of faith and belief that through Christ's sacrifice brings redemption to believers. Meanwhile, the relevance of Christ's sacrifice on the cross will also affect several aspects of the believer's life, namely in terms of faith, confession, and holy living. In writing this article, a qualitative approach method is used with a literature study method. The search for the meaning of Christ's sacrifice can be studied from several perspectives, namely the theological perspective, the moral perspective and the psychologist's perspective. From a theological perspective, Christ's sacrifice is a form of God's love for man, so He sent His Son, Jesus Christ, as a sacrifice to redeem believers. So that the work of salvation done by Jesus Christ leads to a victory for believers because they have been redeemed and freed from the power of death, and also becomes a means of improving the relationship between man and God. From a moral perspective, it can be understood that Christ's sacrifice on the cross is an example of sacrifice and an example of love for believers. Thus, this article contributes to the understanding of Christ's sacrifice on the cross as a form of human atonement, and enriches the spiritual life of believers and strengthens faith, motivates spiritual life, and clarifies the moral principles underlying the Christian life.
The church tradition in Germany not only includes liturgical and theological aspects, but also serves as an important foundation for the cultural and moral identity of German society. The differences of views and clashes between church denominations and political forces have opened up space for a deeper understanding of the meaning of tolerance, reconciliation, and fidelity to the values of faith. On the other hand, the renewal of the German church reflects an effort to remain relevant in the face of the challenges of the times, such as secularism, religious pluralism, and moral crises, including through theological and liturgical reforms. This article aims to explore how the history of the church in Germany, with all its traditions, conflicts, and renewals, can be an inspiration for Christians today. The research was carried out using qualitative methods and historical approaches, using literature studies that include analysis of primary sources such as historical records, and writings of church figures, as well as secondary sources in the form of books, journals, and scientific articles. By understanding this historical journey, believers can learn about the importance of maintaining faith in the midst of changing times, strengthening unity in diversity, and reviving the spirit of spiritual renewal that is relevant to strengthen faith in today's life.
In the history of life, humans are creatures who always want to achieve something they want and when humans have it they feel it is happiness. Happiness is the main focus point of God creating humans but true happiness is focused on God's Love. God created humans to enjoy the love of God, that is true happiness, but as time goes by, after humans fall into sin, humans begin to drift away from true happiness and even live their lives in a hedonistic way. In this research the author used a descriptive research method of literature study by taking data from books and journals related to the discussion. So the author concludes that human happiness can only be received from God because it is eternal happiness.
This study aims to find Jesus' perspective on the Law of Moses and apply Jesus' teachings contained in John 7:53-8:11 in the lives of believers. The scribes and Pharisees wanted to test Jesus by bringing a woman caught in adultery. They asked Jesus about the Law of Moses which regulates the punishment for adultery to blame Him. The method used in this study is a qualitative method with a library research approach. In this study, a Biblical study was conducted, especially the New Testament using exegetical steps. The results of the study show that Jesus did not reject the implementation of the Law of Moses. The death penalty was not carried out for the woman because of the wrong motivation of the scribes and Pharisees. They wanted to test Jesus by using the adulterous woman as a tool. Jesus fulfilled the Law of Moses by implementing love as the main thing in carrying out the punishment. Although the death penalty is no longer enforced, believers must be able to apply love in punishing people who commit adultery. Believers must emulate Jesus' attitude of forgiving with love and giving an opportunity to repent. Believers must also not tempt God, not exploit others for personal gain, and must introspect in every action.
This study explores the concepts of salvation and forgiveness in Christian theology, with a focus on contemporary implications and challenges in the digital age. Through theological analysis, the concept of salvation is understood as God's gift that changes character, while forgiveness becomes a call to practice love in social interactions. Contemporary challenges, including relevance in the digital age and the impact of controversial content, are driving the adaptation of these values. Believers are expected to be agents of change in building an inclusive and tolerant society. Implications for everyday life include character transformation and the role of believers in overcoming digital conflicts. In conclusion, the concepts of salvation and forgiveness are not only a theological basis, but also a source of inspiration for forming positive behavior in the dynamics of the contemporary world.
Tujuan penelitian ini untuk: 1) Untuk mengetahui pelaksanaan penanaman cinta tanah air di Sanggar Ngandhong Cinawi Desa Klodran Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar; 2) Untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan seni tari di Sanggar Ngandhong Cinawi Desa Klodran Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar; 3) Untuk mengetahui Penanaman cinta tanah air melalui seni tari di Sanggar Ngandhong Cinawi Desa Klodran Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar.
Bentuk penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Strategi penelitian ini menggunakan strategi studi kasus tunggal. Subjek dalam penelitian ini antara lain pemilik sanggar, pelatih sanggar, peserta tari, orang tua peserta tari. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Uji keabsahan dilakukan dengan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknis data kegiatan, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1) Pelaksanaan penanaman karakter cinta tanah air seni tari di Sanggar Ngandhong Cinawi melalui kegiatan menari dengan percaya diri dihadapan banyak orang, berdoa sebelum memulai kegiatan tari, mempelajari nilai-nilai budaya; 2) Pelaksanaan kegiatan seni tari di Sanggar Ngandhong Cinawi berupa latihan rutin yang diadakan setiap Sabtu pada pukul 16.00 dengan guru tari, materi tari yang sesuai, pelatihan dan evaluasi serta guru tari yang profesional. Kegiatan pembelajaran materi tari Anila Prahastha yang dipentaskan; 3) Penanaman cinta tanah air di Sanggar tari Ngandhong Cinawi melalui tari dapat menjadi sarana yang efektif dalam menanamkan rasa cinta tanah air pada peserta tari, penanaman cinta tanah air berhasil ditanamkan pada seni tari memerlukan penentuan parameter melalui kegiatan seni tari yang menumbuhkan sikap mandiri, menjadi percaya diri dan menjalin hubungan sesama peserta tari, serta peserta tari merasakan keterkaitannya dengan budaya dan seni tradisional Indonesia.
Kata Kunci: Membangun, Nilai Karakter, Cinta Tanah Air, Seni Tari
Â
The Lord Jesus taught His disciples during the sermon on the Mount, it was his teaching about being someone who would care about what they were struggling with at that time, based on the Gospel of Matthew 5-7. In Bible dictionaries, almsgiving is a source of material support for the poor and destitute whom almost no one knows. When giving alms, don't know what your left hand is doing with your right hand, because giving alms is everyone's duty. So, giving alms means doing justice, because alms is not a voluntary gift from the rich to the poor, but a religious obligation.
Penelitian ini dilakukan karena strategi pemasaran yang perlu dikembangkan dalam perusahaan yang akan membuat nasabah semakin percaya dengan PT BPR NBP 32 Karawang, tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan minat nasabah dalam menentukan jenis produk tabungan.penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang di lakukan oleh penulis saat sesudah menjalani kerja praktik , lokus penelitian ini di beberapa pasar yang penulis kunjungi bertemu dengan nasabah BPR NBP 32 Karawang,informan dari penelitian ini adalah 4 nasabah laki-laki yang berada di pasar rengasdengklok , dan 3 nasabah perempuan yang berada di pasar karawang (Tuparev), 3 orang perempuan yang berada di pasar Johar. Data dikumpulkan melalui wawancara dan survey lapangan. penulis mengamati bahwa yang mempengaruhi nasabah dalam mengambil keputusan jenis tabungan yaitu salah satunya adalah suku bunga jenis tabungan tersebut. Selain itu kepercayaan nasabah kepada perusahaan salah satu kunci nasabah untuk menyimpan uang nya dikarena kan legalitas perusahaan yang sudah di awasi OJK sehingga nasabah merasa aman dalam menabung.Oleh karena itu nasabah menyimpan uang untuk dipergunakan sebagai modal usaha tanpa harus melakukan proses yang rumit saat pencairan. selain tabungan takesra ada pula tabungan pundi yang mana dipilih oleh nasabah sebagai tabungan berhadiah. Karena tabungan pundi ini memiliki undian mobil dan motor disetiap per enam bulan sekali. Sudah banyak sekali nasabah BPR karawang yang memenangkan undian tersebut. Oleh karena itu nasabah percaya dan tertarik untuk memilih tabungan pundi.
STRATEGI DAKWAH BIL HAL BERBAGI SAYUR GRATIS OLEH
PERGURUAN SILAT PERSAUDARAAN SETIA HATI WINONGO
DI KABUPATEN MAGETAN JAWA TIMUR
Anggie Novita, Davita Dyah Ayu Puspitasari, Andhita Risko Faristiana
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah
Institut Agama Islam Negeri Ponorogo
Email : anggienovita8523@gmail.com, ayup1178@gmail.com, andhitarisko@iainponorogo.ac.id
ABSTRAK
Sesuai dengan pergeseran sosial selama periode reformasi saat ini, di mana pidato lisan kadang-kadang berjumlah sedikit lebih dari hiasan bibir lipstik karena tidak ada bukti nyata, Oleh karena itu, dakwah perlu dilakukan dengan contoh positif untuk mendukung proses reformasi. Dakwah bil Hal merupakan jalan yang baik karena dakwah bil-hal mencakup semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan manusia, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan material, fisik, dan ekonomi. Seperti kegiatan berbagi sayur gratis oleh perguruan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Winongo. Teknik pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, yang memungkinkan untuk produksi data deskriptif selanjutnya dalam bentuk kata-kata dan tulisan serta perilaku yang ditemukan melalui pengamatan subjek penelitian. Peneliti menggunakan strategi ini karena tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan penyebab di balik penyelenggaraan acara berbagi sayuran gratis. Menurut pemaparan pembahasan penelitian di atas dapat diperoleh kesimpulan dengan adanya kegiatan berbagi sayur gratis di Magetan Desa Duyung Takeran, adapun pelaksana dari kegiatan tersebut yaitu organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo di Desa Duyung. Tujuan diadakanya kegiatan tersebut adalah semata-mata karena munculnya rasa kepedulian kepada masyarakat di masa pandemi Covid-19 di tahun 2020 dengan membantu sedikit kebutungan ekonomi berupa bahan pangan yang berlanjut hingga tahun 2023.
ABSTRACT
In keeping with the social shifts during the current reform period, where oral speech sometimes amounted to little more than lipstick lipstick decoration because there was no concrete evidence, therefore, da'wah needs to be done with positive examples to support the reform process. Da'wah bil Hal is a good way because da'wah bil-hal covers all matters related to human needs, especially those related to material, physical, and economic needs. Such as free vegetable sharing activities by the Persaudaraan Setia Hati Winongo pencak silat college. The technique of qualitative approach is used in the study, which allows for the subsequent production of descriptive data in the form of words and writing as well as behaviors found through the observation of the research subject. Researchers used this strategy because the purpose of the study was to determine the cause behind organizing free vegetable sharing events. According to the presentation of the research discussion above, conclusions can be obtained with the free vegetable sharing activity in Magetan, Takeran Duyung Village, as for the implementer of the activity, namely the Persaudaraan Setia Hati Winongo organization in Duyung Village. The purpose of holding this activity is solely because of the emergence of a sense of concern for the community during the Covid-19 pandemic in 2020 by helping a little economic struggle in the form of food which continues until 2023.
PENDAHULUAN
Islam merupakan agama yang diturunkan Allah SWT kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai nabi dan rasul terakhir untuk dijadikan pedoman bagi seluruh manusia hingga akhir zaman (H. A.Kadir Sobur : 2013). Dimana agama Islam menugaskan umatnya untuk menyebarluaskan dan mensiarkan Islam kepada seluruh umat atau biasa disebut dengan agama dakwah. Islam tidak hanya menugaskan melainkan juga mengajak agar umatnya mampu menerima sekaligus melaksanakan ajaran-ajaran yang ada di dalam Islam, maka dari itu perlunya metode dakwah bil-hal yang tepat seperti tolong-menolong antar masyarakat dikarenakan manusia merupakan makhluk sosial yang artinya tidak bisa untuk hidup sendiri tanpa adanya bantuan orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ
(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah shalat, dan tunaikanlah zakat.” Akan tetapi, kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang. Al-Baqarah [2]:83
Strategi dakwah merupakan suatu proses yang mengatur, mengarahkan, serta menentukan cara dan upaya apa yang dapat menghadapi sasaran dakwah pada situasi ataupun kondisi tertentu agar bisa menjadi tujuan dan sasaran dakwah yang tercapai secara maksimal (Syamsul Munir Amin;2008:165). Bentuk nyata strategi dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat di Madinah yaitu dengan membangun masjid sebagai pusat kegiatan dakwah, melakukan perjanjian dengan kaum Yahudi Madinah yang mana berisikan tentang memperkuat posisi kaum muslimin dari gangguan penduduk asli, Yahudi maupun bangsa Arab.
Selanjutnya mempersaudarakan kaum Muhajirin dan anshor yang mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menganjurkan kepada kaum Muhajirin dan Anshar untuk saling bersaudara dan menentang keras akan adanya kesukuan, bentuk strategi dakwah yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang terakhir yakni membangun ekonomi rakyat dengan mendirikan pasar di mana pasar ini dijadikan untuk sarana berdakwah yang pada umumnya pasar adalah tempat ramai para masyarakat atau kaum berkumpul untuk mencari kebutuhan atau keperluan.
Dakwah adalah upaya untuk mengubah perspektif orang dari yang buruk ke yang baik. Dari kufur ke iman, dari kemiskinan ke kekayaan, dari perpecahan ke persatuan, dan dari kemaksiatan menuju ketaatan untuk menerima rahmat Tuhan (M.Qoddaruddin A. : 2019). Dakwah lebih menekankan pada inisiatif untuk meningkatkan motivasi daripada mempromosikan penghindaran tindakan yang dilarang oleh keyakinan agama. Perbuatan larangan suatu tindakan adalah tindakan hukum spasial. Dakwah dalam konteks sekarang bukan merupakan tindakan hukum, meskipun faktanya diakui bahwa dakwah dan hukum dapat hidup berdampingan.
Tujuan dakwah adalah untuk membuat Islam dikenal orang-orang pada tingkat individu dan sosial untuk membuat kasih sayang Islam dikenal oleh semua makhluk hidup sebagai "Rahmat Lil'alamen" (Pimay, 2005: 35-38). Agar kesinambungan ajaran Islam dan penganutnya dari generasi ke generasi tetap terjaga, dakwah dapat menjaga nilai-nilai Islam di kalangan umat Islam dari satu generasi ke generasi berikutnya. Fungsi dakwah lainnya adalah fungsi korektif, yang melibatkan meluruskan nilai-nilai yang bengkok, menghentikan kejahatan, dan menyelamatkan manusia dari kegelapan spiritual (Sayyid Quthub :1991).
Metode dalam menyampaikan dakwah Islam dapat dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu lisan, tulisan, dan perbuatan. Pendekatan bil lisan adalah dakwah yang berfokus pada kemapuan lisan. Pendekatan bil-risalah adalah dakwah melalui tulisan seperti buku, brosur, atau media elektronik. Selanjutnya dakwah dengan metode bil-hal yaitu dakwah yang berfokus pada aksi atau kreativitas perilaku da’i secara luas (perbuatan nyata).
Da'wah bil hal juga dikenal sebagai dakwah bil Qudwah, yang mengacu pada dakwah yang sebenarnya melalui penggunaan Akhlaq Karimah. Menurut Buya Hamka, yang menyatakan bahwa "Akhlaq adalah sebagai alat dakwah, yaitu etika pikiran yang dapat dilihat orang, bukan dalam ucapan tulisan yang manis dan menarik tetapi dengan etika yang baik. luhur," ini sesuai dengan pernyataan (Suisyanto : 2002)
Efek globalisasi di dunia dakwah adalah pengalaman yang sangat dirasakan karena kita memahami pentingnya. Semua Muslim memiliki tanggung jawab untuk melakukannya, terutama mereka yang memiliki pengetahuan tentang Islam. Sampai sekarang, lebih banyak dakwah telah dilakukan dengan menggunakan strategi lisan yang mencakup lebih banyak elemen kognitif.
Sesuai dengan pergeseran sosial selama periode reformasi saat ini, di mana pidato lisan kadang-kadang berjumlah sedikit lebih dari hiasan bibir lipstik karena tidak ada bukti nyata, Oleh karena itu, dakwah perlu dilakukan dengan contoh positif untuk mendukung proses reformasi. Sangat penting bagi dakwah untuk memainkan peran positif menyiratkan bahwa fokus pada sikap perilaku afektif ditempatkan pada amal nyata serta aspek lisan, lebih tulus, dan kurang mendalam. Ini menunjukkan bahwa seruan hadir. Dakwah lisan juga diimbangi dengan sedekah konkret yang dapat diamati secara empiris dan dapat digunakan untuk memobilisasi kesadaran tujuan dakwah. Untuk melakukan itu, seseorang harus mempertimbangkan bagaimana gaya dakwah bil-hal dapat mengatasi masalah ini.
Menurut Manual Dakwah (Harun, 10-14), dakwah bil-hal mencakup semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan manusia, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan material, fisik, dan ekonomi. Ini menempatkan fokus yang lebih besar pada pertumbuhan pribadi dan kesejahteraan masyarakat untuk meningkatkan standar hidup Anda sesuai dengan doktrin Islam.
Pengembangan kegiatan dakwah dapat berupa: 1) kegiatan transmigrasi, 2) pelaksanaan pendidikan masyarakat, 3) kegiatan koperasi, 4) perbaikan gizi masyarakat, 5) pelaksanaan usaha kesehatan masyarakat, seperti rumah sakit, 6) penciptaan lapangan kerja, 7) pelaksanaan panti asuhan, dan 8) peningkatan pemanfaatan media komunikasi dan seni budaya. Untuk mencapai hasil yang diinginkan, Nabi Muhammad (saw) menggunakan dakwah bil hal di bidang amal.
Dakwah menunjukan akan adanya organisasi dakwah untuk menjalankan fardhu kifayah disebut dakwah dan juga pelaksanaan dakwah perorangan terhadap hubungan dan juga kriteria disebut tabligh. Perlunya memiliki sikap berbagi antar sesama merupakan salah satu perilaku yang sangat baik diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang mana dapat membangun kesadaran pada masyarakat untuk berbagi pada sesama untuk bisa membantu walaupun hal tersebut tidak mudah untuk dijalankan, dilihat dari masih sedikit yang memiliki kesadaran untuk berbagi pada sesama manusia.
Dalam hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi organisasi yang ada di Indonesia yang mana perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya berbagi dengan sesama, salah satu organisasi yang berperan dalam konsentrasi berbagi yaitu perguruan Persaudaraan Setia Hati Winongo dalam program berbagi sayur gratis. Kegiatan berbagi sayur gratis ini berawal dari mewabahnya virus Covid-19. Organisai PSHW di Desa Duyung ini termotivasi untuk mengadakan kegiatan berbagi sayur gratis karena melihat kondisi masyarakat yang terkena dampak dari virus Covid-19 dengan maksud membantu sedikit kebutuhan pangan masyarakat.
Berdasarkan latar belakang di atas maka akan muncul masalah di mana peran perguruan Persaudaraan Setia Hati Winongo di kabupaten Magetan dalam menerapkan nilai-nilai dakwah bil hal melalui program berbagi sayur gratis. Dalam hal ini penulis melakukan penelitian lebih lanjut terhadap program berbagi sayur gratis dengan judul: “Strategi Dakwah Bil Hal berbagi sayur gratis oleh perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Winongo di Kabupaten Magetan Jawa Timur”.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Duyung Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur Indonesia. Alasan memilih tempat ini dengan pertimbangan bahwa peneliti tertarik dengan program kegiatan berbagi sayur gratis oleh organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo. Waktu penelitian dilaksanakan pada 28 Mei 2023.
Teknik pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, yang memungkinkan untuk produksi data deskriptif selanjutnya dalam bentuk kata-kata dan tulisan serta perilaku yang ditemukan melalui pengamatan subjek penelitian (Sugiyono, 2017). Peneliti menggunakan strategi ini karena tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan penyebab di balik penyelenggaraan acara berbagi sayuran gratis.
Berbeda dengan penelitian kuantitatif, temuan penelitian kualitatif dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara, dokumentasi, studi kasus, dan metode lain daripada dengan prosedur statistik atau jenis perhitungan lainnya. penelitian kualitatif semacam ini disebut fenomenologi kualitatif, sebuah atau metode yang menekankan filsafat untuk menyelidiki pengalaman peserta penelitian. Fenomenologi diartikan sebagai cara berpikir yang menggunakan tahapan-tahapan yang dilakukan secara rasional, kritis, dan tidak didasarkan pada spekulasi bias belaka untuk menghasilkan informasi baru atau mengembangkan pengetahuan yang ada.
Data dapat dikumpulkan dengan dua cara: melalui metode pengumpulan data primer, dan melalui data sekunder. Data primer merupakan sumber data penelitian yang diterima langsung dari sumber asal, tanpa menggunakan perantara, menurut Nur Indrianto dan Bambang Supomo (2013: 142). Organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo, yang menawarkan acara berbagi sayuran gratis, dihubungi untuk penelitian pengumpulan data utama proyek menggunakan metodologi wawancara langsung.
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diterima peneliti secara tidak langsung melalui perantara (diperoleh dan didokumentasikan oleh pihak lain), menurut Nur Indrianto dan Bambang Supomo (2013-143). Untuk memeriksa laporan, tujuan penelitian ini adalah untuk meninjau literatur. Literatur dan buku domuken yang relevan dengan penelitian ini dan dapat mendukung penelitian ini merupakan contoh sumber data sekunder yang memiliki sifat pendukung bagi proses penelitian dan memenuhi kebutuhan data primer.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Apa Itu Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW)?
Pada tahun 1903 Ki Ngabehi Soerodwirdjo mendirikan perguruan pencak silat yang diberi nama Sedulur Tunggal Kecer atau STK yang bertempat diDesa Tambak Gringsing, Kota Surabaya. setelah itu pada tahun 1966 berdirilah Perguruan Setia Hati Winongo yang didirikan oleh Bapak Raden Djimat Hendro Soewarno yang merupakan murid kesayangan dari Ki Ngabehi Soerodwirdjo. Persaudaraan Setia Hati Winongo berada di Desa Duyung, Kecamatan Mangunharjo, Kota Madiun, nama persaudaraan pencak silat tersebuut diambil dari nama Desa letak didirikannya. Awal berdiri perguruan pencak silat ini diajarkan pelajaran pencak silat yang berasal dari para pendekar terkenal pada zaman Ki Ngabehi Soerodwordjo, Sasaran utama perguruan ini pada saat itu merupakan generasi-generasi muda. Dalam mencari generasi baru pada saat itu Persaudaraan Setia Hati Winongo menamai dengan “Tunas Muda”, yang memiliki arti “Setia hati yang akan bersinar Kembali” dimana Gerakan tunas muda tersebut pertama kali populer dan digunakan pada berdirinya Persaudaraan Setia Hati Winongo, yang mana diharapkan generasi muda dapat menjadi penerus yang berguna bagi kepentingan bangsa dan negara.
Pada saat penerimaan anggota baru Tunas Muda Winongo harus diadakannya pengesahan terlebih dahulu dengan adanya pengesahan maka akan resmi menjadi warga atau anggota baru. Tidak hanya itu ilmu-ilmu setia hati hanya boleh diketahui oleh warga yang telah diresmikan dan dilarang bagi warganya untuk mengajarkan kepada selain warga. Adanya pelajaran tingkat lanjut mau diikuti atau tidak itu tergantung kesadaran dari warga dari Setia Hati winongo tersebut, karena dalam mengikuti peruguruan ini tidak ada unsur paksaan. Persaudaraan Setia Hati Winongo selain berada di Madiun, tidak pernah membuka cabang perguruan pencak silat dimanapun, kalaupun ada kemungkinan itu hanya dijadikan tempat berlatih ataupun juga kunjungan silaturahmi. Seseorang yang ingin bergabung pada perguruan ini baik dari luar madiun atau bahkan mancanegara tetap saja saat pengesahan dilakukan dimadiun, karena sebagai pusat awal berdirinya perguruan setia hati winongo. Hal tersebuut dilakukan agar tetap menjaga kemurnian aliran setia hati winongo dan karena hal ini juga yang mana menjadikan ikatan persaudaraan dalam perguruan ini sangat kuat antara satu warga dengan yang lain.
Ajaran dasar mengeai kesetia hatian yang sangat erat dalam Persaudaraan Setia Hati Winongo, anggota yang baru masuk harus segera disahkan sebagai Warga agar ikatan emosional dan fisik yang bersangkutan dengan perguruan tidak terlepas, dari adanya ini menjadikan momen-momen yang mengikat solidaritas atau dapat menumbuhkan rasa kekompakan dengan seiring berjalannya proses pengesahan sehari semalam yang mana dapat membentuk kuatnya ikatan persaudaraan dan kesetiaan. Persaudaraan setia hati yang mana memiliki arti “satu rasa, satu jiwa, untuk saudara”, maka selain mengamalkan seni bela diri menggabungkan antara bela diri dengan peragakan seni tarinya, dalam Persaudaraan Setia Hati Winongo.
Para peneliti telah menemukan bahwa mayoritas penganut Winongo Setia Hati mengikuti Persaudaraan Pencak Silat, lebih menyukai kekerabatan antara penganut Winongo Setia Hati daripada praktik seni bela diri, dengan tujuan menjalin ikatan persahabatan yang kuat untuk mencapai tingkat fanatisme yang sangat tinggi antara penganutnya dan Persaudaraan Hati Setia Winongo itu sendiri, serta membangun harga diri untuk selalu dihormati dan disegani dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan Berbagi Sayur Gratis Perguruan Setia Hati Winongo di Kabupaten Magetan Jawa Timur
Pada saat adanya pandemic Covid-19 banyaknya masyarakat yang kesulitan sebab tidak diperbolehkannya keluar untuk beraktivitas yang mengakibatkan kondisi ekonomi mereka terpuruk. Pentingnya memiliki rasa peduli terhadap sesama untuk bisa saling membantu satu dengan yang lain. Menurut Hurlock (1980) Seseorang yang tindakannya bermanfaat bagi orang lain akan merasa sangat berarti di lingkungan mereka dan memiliki konsep diri yang positif atau ke atas. Namun, konsep diri seseorang akan condong negatif atau turun jika mereka percaya bahwa apa yang mereka kontribusikan kepada lingkungan mereka tidak ada artinya. Ketika orang terhubung dengan cara yang bermanfaat satu sama lain, mereka dapat memperoleh pengalaman yang mengubah cara mereka memandang diri mereka sendiri.
Adanya pandemic Covid-19 yang mana dapat menumbuhkan rasa keperdulian antar sesama karena mengupayakan agar dampak yang terjadi tidak parah. Sepertinya halnya yang dilakukan oleh Persaudaraan Setia Hati Winongo dikabupaten Magetan Jawa Timur. Yang mana tercetuskannya ide ini karena atas kesadaran sikap tolong menolong pada diri mereka masing-masing, dan mereka juga melihat pada daerah-daerah sekitar yang menerapkan hal ini lalu dimusyawarahkan dan dapat terealisasikan pada tahun 2020 yang mana masih berjalan hingga tahun 2023. Dalam kegiatan ini tidak adanya maksud ataupun tujuan lain selain ingin membantu masyarakat sekitar karena dampak dari pandemic covid-19 ini. Sebelum adanya pandemic Covid-19 Persaudaraan Setia Hati Winongo ini juga memiliki kegiatan-kegiatan lain seperti membersikan masjid yang ada dilingkungan sekitar, memotong rumput yang mana dapat bermanfaat juga untuk lingkungan sekitar.
Untuk anggota dari kegiatan ini yang kebanyakan dari anak sekolah yang lama kelamaan mulai berkurang karena berjalannya waktu anak sekolah mulai mengikuti KBM. Awal dimulainya kegiatan ini menggunakan uang kas dari Persaudaraan Setia Hati Winongo dan juga keikhlasan dari setiap anggota, lalu seiring berjalannya waktu jalan untuk mencari donator, setelah itu banyak donator yang tau dan ikut berpartisipasi mulai dari sayuran atau bahan pangan dan ada juga yang menitipkan uang untuk dibelanjakan sayur, tidak sampai disitu saja jika ada kekurangan itu akan ada sumbangan seikhlasnya bagi para anggota. Untuk sayur yang dibagikan sendiri berupa bahan mentah yang awalnya hanya dibudget lima ribu rupiah perkantong lama kelamaan bisa bertambah karena banyaknya donator yang datang. Pada umumnya setiap kegiatan memang ada struktur kepanitiaan, akan tetapi untuk kegiatan ini karena berniat ikhlas dari hati ntuk menolong sesame jadi semua bertanggung jawab mengetuai diri sendiri dalam kegiatan ini.
Beradasarkan wawancara yang penulis lakukan bahwa peminat dari sayur gratis ini hanya warga sekitar yang jumlahnya juga sudah lumayan banyak, misalkan ada pengendara yang melitas jika memang minat memang dipersilahkan walaupn bukan warga sekitar. Dikarenakan kegiatan ini memang dengan tujuan membantu sesama, tidak ada pengecualian untuk penerima dipersilahkan. Para anggota pun tidak hanya meletakkan satuyuran lalu pergi tetapi juga menawarkan agar semua bisa habis dan tidak mubazir. Kegiatan ini dilakukan pada jum’at pagi, yang mana tidak ada waktu pasti kapan jam pelaksanaan karena jika semua sudah selesai disiapkan maka para warga pun sudah antri.
Sumber : foto dari panitia
Sumber: foto dari panitia
Respon Masyarakat Terhadap Kegiatan Berbagi Sayur Gratis
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan kepada masyarakat Desa Duyung Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan Jawa Timur, banyak respon dari masyarakat. Disini penulis akan menyebutkan beberapa narasumber. Pertama, yaitu wawancara kepada ibu Yuli salah satu warga penerima sayur gratis. Menurut penuturan beliau dengan adanya kegiatan berbagi sayur gratis tersebut sangat membantu keadaan ekonomi keluarga beliau dalam hal pangan. (Wawancara, 5 Juni 2023).
Kedua, wawancara kepada Ibu Siti selaku pemasok tahu pada kegiatan berbagi sayur gratis tersebut. Menurut penuturan beliau kegiatan tersebut membantu beliau dalam menyalurkan sedekah kepada masyarakat dalam bentuk uang maupun bahan pangan. Sedekah bukan di nilai seberapa banyak tetapi ke ikhlasan hati untuk membantu sesama. (Wawancara, 5 Juni 2023).
Ketiga, wawancara kepada Bapak Agus selaku salah satu panitia yang mengadakan kegiatan berbagi sayur gratis. Menurut penuturan beliau, kegiatan tersebut pada dasarnya adalah membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan ekonomi dalam bidang pangan. Uang yang digunakan untuk menjalankan kegiatan ini awalnya dari kas organisasi, namu seiring berjalanya waktu bagi siapapun yang ingin berbagi dengan ikhlas bisa ikut bersedekah. (Wawancara, 28 Mei 2023)
Metode Dakwah Bil Hal
Kata "dakwah" dikatakan berasal dari bahasa Arab "( )" (Shodiqin, 2011; Asror, 2018; Enjang, et al., 2009), yang berarti mengundang, memanggil, melayani, dan memanggil. Istilah "dakwah" juga digunakan dalam sumber-sumber lain untuk merujuk pada berbagai hal, termasuk: 1) propaganda dan penyiaran; 2) panggilan untuk merangkul, mengkaji, dan mengikuti ajaran Islam; dan 3) tumbuhnya agama di masyarakat. Irawan dan Suriadi (2019) menegaskan bahwa kata-kata lain, seperti tabligh, tabsyir indzhar, amar ma'ruf dan nahi munkar, mauidzoh hasanah, tarbiyah, ta'lim, wasyiyah, dan khotbah, juga dapat digunakan untuk memahami kata "dakwah".
Tujuan dakwah, di sisi lain, adalah untuk meningkatkan status umat di semua bidang kehidupan dengan mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan pribadi, keluarga, dan komunitas seseorang (Mulkan, 1993). Apabila terdapat interaksi antara berbagai faktor yang saling mempengaruhi seperti yang ditunjukkan pada pembahasan sebelumnya, antara lain: pesan dakwah, mad'u, lingkungan, lingkungan, dan sarana/media dakwah, maka tujuan dakwah dapat terwujud dengan tepat (Attabik, 2014; Maghfiroh, 2016).
Fungsi dakwah sebagai media pembinaan dan pengembangan, menurut Asmuni Syukir dalam Asror (2018), dapat terwujudkan secara optimal jika semua unsur terpenuhi. Pembinaan dalam dakwah berarti mempertahankan dan menyempurnakan suatu hal yang telah ada sebelumnya, sedangkan pengembangan berarti mengadakan atau membaharui suatu hal yang belum ada sebelumnya.
Secara harfiah, dakwah bil-hal mengacu pada penyebaran prinsip-prinsip Islam melalui perbuatan. Definisi dakwah bil-hal yang diberikan oleh Rasyid et al. dalam Sagir (2015) adalah upaya untuk mendorong orang dan kelompok untuk mengembangkan diri dan masyarakat dalam rangka mewujudkan tatanan dan kebutuhan sosial ekonomi yang lebih baik sesuai dengan tuntunan Islam tentang isu-isu sosial seperti kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan.
Strategi dakwah bil-hal adalah cara untuk menyebarkan nilai-nilai agama melalui tindakan suri tauladan. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa si penerima dakwah tidak akan mengikuti jejak si da'i sebagai juru dakwah. Dengan demikian, tidak hanya penyebaran pengetahuan tetapi juga penyebaran nilai-nilai, yang dimaksudkan untuk menjadi dakwah efektif dan efisien bagi mereka yang menerimanya (Zakiyyah & Haqq, 2018).
Strategi dakwah bil-hal adalah cara untuk menyebarkan nilai-nilai agama melalui tindakan suri tauladan. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa si penerima dakwah tidak akan mengikuti jejak si da'i sebagai juru dakwah. Dengan demikian, tidak hanya penyebaran pengetahuan tetapi juga penyebaran nilai-nilai, yang dimaksudkan untuk menjadi dakwah efektif dan efisien bagi mereka yang menerimanya (Zakiyyah & Haqq, 2018).
Metode dakwah bil hal ini berkaitan dengan penelitian ini. Kegiatan berbagi sayur gratis di hari jumat yang diselenggarakan oleh organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo di Desa Duyung Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan Jawa Timur. Kegiatan tersebut merupakan suatu bentuk dari merealisasikan metode dakwah bil hal dalam bidang ekonomi. Berdasarkan penjelasan di atas bahwa awal mula kegiatan ini diadakan yaitu marak nya virus Covid-19 yang berdampak pada masyarakat salah satu nya ekonomi yang menurun. Berawal dari rasa peduli organisasi ini terhadap kondisi masyarakat yang tidak bisa bekerja maka kegiatan ini akhirnya didirikan dan berjalan hingga tahun 2023 dengan maksud bersedekah membantu masyarakat dalam hal kebutuhan pangan. Hal ini merupakan suatu bentuk terealisasikanya metode dakwah bil hal.
Kesimpulan
Menurut pemaparan pembahasan penelitian di atas dapat diperoleh kesimpulan dengan adanya kegiatan berbagi sayur gratis di Magetan Desa Duyung Takeran, adapun pelaksana dari kegiatan tersebut yaitu organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo di Desa Duyung. Tujuan diadakanya kegiatan tersebut adalah semata-mata karena munculnya rasa kepedulian kepada masyarakat di masa pandemi Covid-19 di tahun 2020 dengan membantu sedikit kebutungan ekonomi berupa bahan pangan yang berlanjut hingga tahun 2023.
Adapun uang untuk mengadakan kegiatan ini awalnya diambilkan dari uang kas anggota organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo. Namun, seiiring berjalanya waktu bagi siapapun yang berkenan untuk sedekah dipersilahkan. Kegiatan ini juga sudah mendaptkan beberapa sponsor/pemasok berupa sayuran, tahu, bahkan uang yang nantinya akan dibelikan sayur untuk dibagikan. Pelaksanaan berbagi sayur gratis ini yaitu satu minggu satu kali pada hari jumat. Dimulai kisaran pukul 6 sampai pukul 7 biasanya sudah habis. Dalam sehari sayur yang dibagikan yaitu 50 sampai 100 kantong. Setiap satu kantong sayur di budget 5000 rupiah.
Kaitanya dalam hal berdakwah yaitu kegiatan tersebut masuk dalam kategori strategi dakwah bil hal atau dakwah dengan aksi langsung kepada masyarakat dalam bentuk membantu kebutuhan pangan. Hal ini bisa dijadikan suatu motivasi kepada kita semua, bahwa dalam berdakwah tidak hanya pemantapan dalam hal keimanan saja namun juga dalam bentuk dakwah bil hal yaitu dengan aksi terdahap kondisi masyarakat yang masih belum sejahtera di bidang ekonomi maupun di bidang pendidikan.
Daftar Pustaka
Abdullah, Muhammad Qadaruddin. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta: Qiara Media, 2019.
Chosinawarotin, C., & Sudrajat, H. (2021, October). Sayur Berkah di Masa Pandemi. In Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat Universitas Ma Chung (Vol. 1, pp. 75-81).
Fadilah, A. (2011). Pengaruh penggunaan alat komunikasi handphone (hp) terhadap aktivitas belajar siswa SMP negeri 66 Jakarta Selatan.
A.Kadir Sobur, Tauhid Teologis, (Jakarta: Gaung Persada Press Group 2013), hlm. 5
Khaerunnisa, N. (2021, December). Efektivitas Dakwah Bil-Hal Melalui Gerakan Infaq Beras Bengkayang di Kecamatan Bengkayang. In Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication (Vol. 1, No. 1, pp. 28-31).
Kholis, N., Mudhofi, M., Hamid, N., & Aroyandin, E. N. (2021). Dakwah Bil-Hal Kiai sebagai Upaya Pemberdayaan Santri (Action Da'wah by the Kiai as an Effort to Empower Students). Jurnal Dakwah Risalah, 32(1), 112-129.
Mahanani, S. (2019). Efektivitas Kegiatan Jimpitan dalam Meningkatkan Kepedulian Sosial Masyarakat di Desa Karanglo Kidul Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo (Doctoral dissertation, IAIN PONOROGO).
Martanti, D. E., Hartono, N. R., & Sunarsasi, S. (2021). FENOMENOLOGI “SAYUR GANTUNG” MASYARAKAT BLITAR SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN DAMPAK EKONOMI DI TENGAH COVID-19. AKUNTABILITAS: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Ekonomi, 14(1), 40-41.
Mulkan, AM, 1993; “Paradigma Intelektual Muslim”, Yogyakarta, Si Press
Putra, I. D. G. U., & Rustika, I. M. (2015). Hubungan antara perilaku menolong dengan konsep diri pada remaja akhir yang menjadi anggota tim bantuan medis janar duta fakultas kedokteran universitas udayana. Jurnal Psikologi Udayana, 2(2), 198-205.
Shodiqin, Asep. (2011) Membingkai “Episteme” Ilmu Dakwah, Jurnal Ilmu Dakwah Vol.5 No 2
Sugiyono, F. X. (2017), Neraca pembayaran: Konsep, Metodologi dan Penerapan (Vol. 4). Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia.
Di Indonesia, sebagian orang lebih percaya untuk menggunakan obat herbal, disamping harga yang relatif murah, obat herbal dianggap bersifat alami, sehingga bebas dari efek samping yang tidak diinginkan. Tanaman salam secara ilmiah mempunyai nama Latin Eugenia polyantha Wight dan memiliki nama ilmiah lain, yaitu Syzygium polyantha Wight. dan Eugenia lucidula Miq. Tanaman ini termasuk suku Myrtaceae. Tanaman salam merupakan salah satu contoh obat herbal yang dianggap efektif dalam pengobatan berbagai macam penyakit. Khasiat yang terkandung dalam daun salam mempunyai senyawa-senyawa seperti minyak atsiri, tanin, dan flavonoid. Dalam pengobatan, daun salam digunakan untuk pengobatan kolesterol tinggi, kencing manis (diabetes mellitus), tekanan darah tinggi (hipertensi), sakit maag (gastritis), diare dan kandungan kimianya mempunyai aktivitas sebagai obat asam urat. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui pengaruh rebusan daun salam dalam pengobatan berbagai macam penyakit, terkhusus hipertensi, dan asam urat. Dengan tulisan ini diharapkan daun salam bisa menjadi alternatif pengobatan dalam menurunkan kadar hiperteensi dan asam urat. Penelitian ini menggunakan Metode Literature Review dengan pencarian artikel dengan menggunakan search engine Google Scholar. Pencarian tersebut menghasilkan 23 makalah yang sesuai dengan judul penelitian, namun hanya 6 publikasi yang memenuhi persyaratan inklusi penelitian ini. Dari hasil penelitian diketahui bahwa ada pengaruh pemberian rebusan danu salam terhadap penderita hipertensi dan asam urat.
This article discusses the teachings of the Lord Jesus about worry according to the Gospel of Matthew 6:25-34 and its reflections for believers in overcoming worry. Worry is a person,s implicit denial of the power and promises of God. The results of the research show that to overcome worry, believers must realize these three things, namely: One, that worry is useless. Two, worry only makes the situation worse for those who eperience it. Third, keep believing in God’s care for his people by proritizing God in everything. The research method used in writing this article is a qualitative method with an expository approach. The final conclusion of the author is The writer's final conclusion is that the teachings of Jesus in Matthew 6:25-34 are very useful in helping believers overcome anxiety.