Publication Search

67,356 articles from 564 journals · 1,699 citations tracked

Showing 1-10 of 10

Analytics

Virginia Lauriana Keles; Felly Ferol Warouw; Freike E.Kawatu

Student Scientific Creativity Journal 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Culture is a determinant of the quality and even levels of human happiness. Culture is thought, reason and customs. However, the role of culture is so important, this culture still lacks attention from the government and surrounding communities. The Minahasa cultural museum in Tomohon City is a means of storing and providing information for the community and tourists to find out more about the culture in Minahasa, as a solution. The problem is that there is no Minahasa cultural museum in Tomohon City. With a Deconstruction Architecture approach by creating buildings that contrast with abstract and complicated shapes, so that they can attract tourists but can also attract local people to visit the museum.

Khottob Idris; Toga Hotdianto Damanik; Jantri Hotdi Sinaga; Sonia A. Butar-Butar; Eirin Kristin Girsang +2 more

Student Scientific Creativity Journal 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Museums play a central role in maintaining, preserving, and teaching cultural heritage to the public. This article discusses the important role of museums as cultural institutions that have the responsibility of preserving and presenting cultural heritage for future generations. Museums are not only repositories of historical artifacts, art, and knowledge, but also educational centers that provide in-depth insights into history, art, and culture.This article discusses two main aspects of the museum's role: preservation and education. First, museums function as custodians of cultural heritage by collecting, caring for and preserving historical artifacts and objects. Thus, museums become a bulwark against the loss of cultural and historical identity. Second, museums as educational institutions provide opportunities for the public to gain in-depth knowledge about various aspects of human life through exhibitions, educational programs, and interactive activities.

Putri Rahmadhani; San Ahdi

Jurnal Riset Rumpun Seni, Desain dan Media 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

The Matrilineal Museum is a management forum that supports efforts to preserve cultural values ​​related to the matrilineal system in Minangkabau, having its address at Jalan Raya Belimbing, Kuranji Padang. In this problem, museum tourist visits have decreased since 2019. Information about the Matrilineal Museum can be accessed by using posters, the web or simply via the address on Google maps as well as limited print media such as books. The purpose of this design is to increase public interest in visiting the Matrilineal Museum through virtual tour 360 media. At the design stage using the 4D method, Define, Design, Develop, and Disseminate. the analysis used is SWOT analysis. Video Virtual Tour 360 Matrilineal Museum, Center for Preservation of Cultural Values ​​of West Sumatra, will be implemented into supporting media

Dewi Puspasari; Achmad Nizar Hidayanto

The term smart museum has started to emerge in recent years along with the development of digital technology and smart concepts related to the application of technology in helping people in various sectors of life. The concept of a smart museum itself refers to the use of internet of things (IoT) technology such as sensors, wireless networks, digital applications, virtual reality, augmented reality, and smart systems to increase the interactivity, accessibility and involvement of visitors in the museum. Now more and more museums are adopting this smart solution as a way to attract visitors and optimize the visitor experience. In Indonesia, one of the museums that has transformed into a smart museum is the Museum Penerangan. In its efforts to become a smart museum, the Museum Penerangan has several supporting factors such as the number of human resources, technology support, program creativity, and support from top management. However, the main obstacle is funding because it requires a large investment to transform into a smart museum, besides that special human resources are needed to understand the technological needs that match the collection.

Ragil Adi Wicaksono; Wuriningsih

Perigel: Jurnal Penyuluhan Masyarakat Indonesia 2023 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Museum Misi OSF (Ordo St. Fransiskus) bertindak sebagai sebuah fasilitas pendidikan yang bertujuan untuk membina calon guru agama Katolik dalam aspek karakter dan spiritualitas. Museum ini didedikasikan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang ajaran dan nilai-nilai Katolik kepada calon guru, agar mereka dapat menjadi pengajar yang berkualitas dan mampu membimbing siswa dalam pengembangan karakter dan kehidupan rohani.   Museum Misi OSF menyediakan berbagai sumber daya yang beragam, termasuk seni religius, artefak bersejarah, literatur teologis, dan materi pembelajaran yang relevan. Para calon guru dapat menjelajahi koleksi ini melalui tur interaktif, pameran, dan kegiatan pembelajaran lainnya. Museum ini juga menyelenggarakan program pendidikan khusus yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang ajaran Katolik, sejarah Gereja, dan praktik spiritual.  Melalui pengalaman  Museum Misi OSF, calon guru iman Katolik dapat mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang hidup dalam ajaran Katolik dengan karakter dan spiritualitas. Mereka  belajar tentang nilai-nilai seperti cinta, kerendahan hati, pengampunan, dan pelayanan kepada orang lain yang menjadi dasar kehidupan yang layak untuk beriman.   Selain itu, Museum Misi OSF juga menawarkan ruang bagi calon guru untuk berefleksi dan berefleksi. Mereka dapat menggunakan fasilitas  museum ini untuk beribadah, bermeditasi atau melakukan praktik spiritual lainnya yang membantu pertumbuhan pribadi dan spiritual mereka. Ini memungkinkan mereka untuk menjadi panutan bagi siswa mereka dan membimbing mereka dalam kehidupan spiritual mereka. Dengan demikian, Museum Misi OSF menjadi sarana penting dalam penyiapan para guru agama Katolik masa depan yang menambah pengetahuan, pemahaman dan pengalaman ajaran Katolik, hidup berkarakter dan mengembangkan spiritualitas. Melalui pemanfaatan sumber daya yang beragam dan program pendidikan yang terstruktur, museum ini berperan dalam mendidik generasi guru  Katolik yang kompeten, jujur, dan mampu menginspirasi serta membimbing siswa untuk hidup beriman dan bertujuan.

Nurul Aisha Umayra; Rahmat Nofriyandri; Haris Dofest; Dwi Pratiwi Wulandari

Jurnal Manajemen Pariwisata dan Perhotelan 2023 International Forum of Researchers and Lecturers

Museum Adityawarman  merupakan museum yang berada di Padang, Sumatera Barat. Museum ini merupakan salah satu museum di Indonesia yang  memamerkan artefak dan benda-benda seni budaya Minangkabau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh museum experience terhadap minat berkunjung kembali wisatawan di Museum Adityawarman. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian yang bersifat asosiatif kausal dengan menggunakan metode survei dengan data kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh wisatawan yang pernah  berkunjung ke Museum Adityawarman dengan sampel sebanyak 100 responden menggunakan teknik insidental sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner(angket) yang disusun berdasarkan skala likert. Data dianalisis dengan menggunakan SPSS versi 26.00 dan hasil analisis tersebut disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian adalah museum experience pada Museum Adityawarman dalam kategori sangat baik dengan persentase 75%. Minat Berkunjung Kembali wisatawan di Museum Adityawarman dalam kategori sangat baik dengan persentase 70%. Hasil uji T menunjukkan bahwa terdapat pengaruh museum experience terhadap minat berkunjung kembali wisatawan di Museum Adityawarman. Nilai Adj. R square sebesar 0,514 artinya variabel museum experience berpengaruh sebesar 51,4% terhadap minat berkunjung kembali di Museum Adityawarman dan 48,6% dipengaruhi oleh variabel lainnya.  

Heri Kristanto; Yustina Denik R; Dyah Palupiningtyas

Gemawisata: Jurnal Ilmiah Pariwisata 2023 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Indonesia

Radya Pustaka Museum is said to be the oldest museum in Indonesia. Radya Pustaka Museum is currently experiencing a setback in terms of tourist visits. This is due to two things, namely; 1. Pull factors or from the museum side, (collection, arrangement, promotion, interior design, interpretation, digitization). 2. Driving factors or from the visitor's side, (motivation drops, shifts in interest, lack of references). This study aims to determine the potential of the Radya Pustaka Museum as a tourist destination, along with efforts to develop the area into an integrated tourist destination. This research was conducted using a qualitative method in the Sriwedari Park area in general and the Radya Pustaka museum in particular. Data collection techniques were carried out by observations, interviews and document studies. Based on the results of data collection, it can be concluded that: (1) the Radya Pustaka Museum has the potential to be used as a cultural tourism destination, (2) a tourism attraction and tourist attraction development strategy is needed, (3) a tourism and regional development strategy is needed as well as good marketing support.

Esya Fairuz Nurfadillah; Jason Derian Richardo

Jurnal Mahasiswa Kreatif 2023 International Forum of Researchers and Lecturers

Lawang Sewu is a historic building owned by PT KAI in Operational Area 4 Semarang, Central Java. Lawang Sewu is a relic from the Dutch Colonial period. Now Lawang Sewu has become a cultural heritage building that is included in the building protection law. In this museum we can find the legacy of the old PT KAI. Lawang Sewu is also one of the leading tourist attractions in the city of Semarang and witnessed the 5-day battle in Semarang which took place from 14 to 19 August 1949 and is marked by the location of the Tugu Muda Monument which is on the west side of Lawang Sewu or more precisely at the Jalan Pandanaran roundabout. As an architectural and tourist object, Lawang Sewu has the value needed in the definition of a monument and monumental nature. These values include aspects of history, technology, architecture, and culture. Currently the Lawang Sewu building houses a collection of trains in Indonesia from time to time. Collections such as Alkmaar, Edmonson machines, calculating machines, typewriters, replica steam locomotives, securities, and several other collections. This place is also often used for community activities such as exhibitions, festivals, art performances, shooting, wedding parties and photo shoots.    

Nia Afrilla Wijaya; Yusra Dewi Siregar; Franindya Purwaningtyas

Journal of Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Penelitian ini ini dilakukan di Museum Uang Sumatera yang bertujuan untuk mengetahui metode pelestarian dokumen numismatik, serta apa saja kendala yang dihadapi pengelola Museum Uang Sumatera dalam upaya pelestarian dokumen numismatik. Jenis metode yang dipakai pada penelitian adalah kualitatif deskriptif melalui pembuatan gambar terhadap data yang telah diperoleh sesuai keadaan yang sesungguhnya. Untuk menentukan orang yang  akan menjadi sumber informasi maka memanfaatkan metode purposive sampling. Pada penelitian yang dilaksanakan, maka yang menjadi informan yaitu dua staf pegawai yang bekerja sebagai pengelola Museum Uang Sumatera. Data dikumpulkan melalui kegiatan  observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa, metode pelestarian yang dilakukan oleh Museum Uang Sumatera menggunakan dua metode yaitu metode Laminasi merupakan metode yang dilakukan untuk penjilidan, menambal, atau menyambung pada uang kertas yang sudah rusak, sedangkan metode Enkapsulasi merupakan metode yang dilakukan pada uang koin kuno yang telah mengalami korosi atau perkaratan. Adapun kendala yang dihadapi pengelola Museum Uang Sumatera dalam melakukan pelestarian terhadap dokumen numismatik (uang kuno) yaitu kurangnya SDM, anggaran dana, dan alat-alat untuk melakukan pelestarian terhadap dokumen numismatik (uang kuno) di Museum Uang Sumatera.

Mega Yulita Nancy Ponggo; Astari Wulandari; Djudjun Rusmiatmoko

SARGA: Journal of Architecture and Urbanism 2023 Universitas 17 Agustus 1945

Bangunan Museum Wayang di Kawasan Kota Tua Jakarta ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya karena memiliki nilai penting dalam sejarah perkembangan kota dan bangsa. Maka dari itu, diperlukan upaya konservasi untuk mempertahankan keberadaannya sehingga nilai-nilai tersebut tidak hilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji upaya konservasi yang dilakukan terhadap bangunan Museum Wayang serta keseuiannya terhadap prinsip konservasi arsitektur. Penelitian dilakukan dengan menjabarkan upaya konservasi secara deskriptif-kualitatif melalui observasi dan studi pustaka. Secara keseluruhan, Museum Wayang telah menerapkan upaya konservasi yang tepat dengan mempertahankan signifikansi budaya dan tidak melakukan intervensi besar pada kondisi asli bangunan. Bentuk adaptive reuse pada Museum Wayang yang melibatkan kegiatan restorasi  atau rehabilitasi menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mempertahankan bagunan bernilai sejarah ditengah – tengah pesatnya perkembangan lingkungan perkotaan yang dinamis.