Publication Search

95,212 articles from 887 journals · 2,123 citations tracked

Showing 1-14 of 14

Analytics

Juliana; Syarifuddin Ondeng; Syahruddin Usman

Jurnal Psikososial dan Pendidikan (Psikosospen) 2026 Yayasan Mashlahatul Ummah Ilal Jannah

Pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta mampu menghadapi perkembangan zaman. Era modernisasi yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa berbagai peluang sekaligus tantangan bagi pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hakikat pendidikan Islam di era modernisasi, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta menjelaskan strategi pengembangannya. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui analisis berbagai sumber literatur yang relevan mengenai pendidikan Islam dan modernisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan identitas dasarnya. Tantangan yang dihadapi meliputi perkembangan teknologi informasi, globalisasi budaya, rendahnya kualitas sumber daya manusia, serta krisis moral generasi muda. Adapun strategi pengembangan pendidikan Islam dapat dilakukan melalui pengembangan kurikulum integratif, peningkatan kompetensi guru, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, penguatan pendidikan karakter, peningkatan kualitas manajemen pendidikan, serta penguatan spiritualitas peserta didik. Dengan strategi tersebut, pendidikan Islam diharapkan mampu menghasilkan generasi yang unggul, berdaya saing, dan berakhlak mulia di tengah arus modernisasi.

Amelia; Siti Halimah; Lilis Andria Ningsih; Intan Pramudya Agustina; Mihammad Doni Kusuma

Mudir: Jurnal Manajemen Pendidikan 2026 Islamic Education Management Study Program, Faculty of Tarbiyah, Sunan Drajat Islamic Boarding School Institute, Lamongan, East Java, Indonesia.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan dan solusi dalam implementasi manajemen pendidikan madrasah di era modern dengan fokus pada peningkatan mutu pembelajaran dan penguatan karakter peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka terhadap berbagai literatur yang relevan, baik berupa jurnal ilmiah maupun buku akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pendidikan madrasah memiliki peran sentral dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai-nilai Islam dan adaptasi terhadap kemajuan teknologi serta perubahan sosial. Tantangan utama yang dihadapi mencakup keterbatasan sumber daya manusia, kesenjangan teknologi, perubahan kebijakan, dan rendahnya kolaborasi dengan masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan strategi manajerial yang inovatif seperti pelatihan guru berkelanjutan, digitalisasi sistem pembelajaran, pengembangan kurikulum adaptif, dan penguatan kemitraan antar pemangku kepentingan. Dengan penerapan manajemen yang efektif, madrasah dapat menjadi lembaga pendidikan Islam yang unggul, relevan, serta mampu membentuk generasi yang berkarakter, berpengetahuan, dan berdaya saing global.

Choirudin Abdullah Nugroho Saputro; Hery Setiyatna

Mudir: Jurnal Manajemen Pendidikan 2026 Islamic Education Management Study Program, Faculty of Tarbiyah, Sunan Drajat Islamic Boarding School Institute, Lamongan, East Java, Indonesia.

Peningkatan mutu pendidikan menuntut sekolah untuk memiliki manajemen yang terarah dan berkelanjutan. SD Tahfidzul Quran Al-Abidin Surakarta sebagai sekolah berbasis Quran memiliki kekhasan dalam mengintegrasikan tahfidz, pendidikan karakter, dan kurikulum umum, sehingga relevan dikaji melalui pendekatan Total Quality Management. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan Total Quality Management berdasarkan delapan indikator, meliputi falsafah kualitas, kepemimpinan, perbaikan berkelanjutan, hubungan kerja, budaya organisasi, kualitas pendidik, pengelolaan kurikulum, dan orientasi pelanggan. Pendekatan kualitatif studi kasus digunakan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan melibatkan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, dan komite sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Total Quality Management berjalan efektif melalui kepemimpinan yang kuat, budaya mutu yang terbangun, serta evaluasi yang dilakukan secara berkala. Koordinasi harian dan komunikasi intensif dengan orang tua melalui forum sekolah menjadi temuan penting yang berpengaruh besar terhadap mutu layanan. Integrasi nilai Qurani dalam pembelajaran dan tahfidz juga terbukti memperkuat karakter dan kedisiplinan siswa. Penelitian ini menegaskan bahwa sinergi antara Total Quality Management dan nilai religius mampu menciptakan sistem penjaminan mutu yang holistik. Temuan ini memberi kontribusi penting bagi pengembangan manajemen mutu pada sekolah berbasis Quran dan dapat menjadi rujukan bagi lembaga pendidikan sejenis.

Dewi Sumiyarsih Syam; Fetmawati; Irsyad; Sufyarma Marsidin

Mudir: Jurnal Manajemen Pendidikan 2026 Islamic Education Management Study Program, Faculty of Tarbiyah, Sunan Drajat Islamic Boarding School Institute, Lamongan, East Java, Indonesia.

Era digitalisasi menuntut sekolah untuk mampu menghadapi tantangan teknologi dan perubahan cepat dalam pendidikan. Kepala sekolah sebagai pemimpin strategis memiliki peran penting dalam membangun resiliensi pendidikan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendekatan strategis kepala sekolah dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan resiliensi pendidikan di era digital. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menelaah literatur terkait kepemimpinan digital, pengambilan keputusan berbasis data, supervisi dan kolaborasi digital, manajemen risiko, pengembangan kompetensi guru, serta strategi partisipatif dan inklusif. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepala sekolah yang menerapkan kepemimpinan digital dengan karakter problem-solving, kolaboratif, kreatif, dan literasi digital yang memadai mampu menghadapi perubahan cepat, mendorong inovasi, memperkuat daya tahan sekolah, serta mengoptimalkan sumber daya dan kualitas pembelajaran. Penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas resiliensi pendidikan sangat bergantung pada strategi kepemimpinan kepala sekolah yang visioner, adaptif, berbasis bukti, dan partisipatif.

Mohammad Syifaur Rifki Jauhari; Muhamad Khoirur Roziqin; Muhammad Fodhil

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi model pembelajaran deep learning pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMAN Bandarkedungmulyo Jombang, serta mengidentifikasi faktor pendukung, penghambat, dan dampaknya terhadap proses serta hasil belajar peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan guru PAI, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, peserta didik, serta analisis dokumen pendukung. Teknik triangulasi digunakan untuk memastikan keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi deep learning diterapkan melalui pembelajaran adaptif, diskusi analitis, studi kasus, proyek keagamaan, serta refleksi nilai yang mendorong peserta didik memahami materi PAI secara mendalam dan kontekstual. Kurikulum Merdeka berperan signifikan dalam memberikan fleksibilitas perencanaan pembelajaran serta penyediaan asesmen autentik. Faktor pendukung utama meliputi dukungan sekolah, pelatihan guru, ketersediaan media pembelajaran digital (LCD, Smart TV, Google Classroom), serta kolaborasi antarpendidik. Adapun hambatan yang muncul mencakup keterbatasan waktu, variasi kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis, kurangnya fasilitas bagi sebagian kelas, serta kebutuhan guru untuk beradaptasi dengan perencanaan pembelajaran yang lebih kompleks. Penerapan model deep learning berdampak positif terhadap motivasi, partisipasi aktif, kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman keagamaan peserta didik. Selain itu, model ini mendorong internalisasi nilai-nilai Islam secara lebih efektif melalui kegiatan pembelajaran berbasis konteks kehidupan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa deep learning berpotensi menjadi model pembelajaran yang mampu meningkatkan kualitas pembelajaran PAI dan pembentukan karakter religius peserta didik apabila didukung oleh pelatihan berkelanjutan, manajemen sekolah yang adaptif, serta sarana pembelajaran yang memadai.

Juhari, Ahmad; Indriyani, Davina; Lisnawati, Lissa

Jurnal Abdi Masyarakat Multidisiplin (JAMMU) 2025 Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Market Day merupakan salah satu metode pembelajaran kontekstual yang diterapkan di sekolah dasar untuk menanamkan nilai-nilai kewirausahaan sejak dini. Melalui program Bakti Desa, Market Day tidak hanya menjadi sarana edukasi ekonomi sederhana, tetapi juga menjadi media pengembangan karakter dan keterampilan siswa dalam berorganisasi, mengambil keputusan, dan bekerja sama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi kegiatan Market Day di sekolah dasar yang difasilitasi oleh mahasiswa Bakti Desa serta menganalisis keterkaitannya dengan prinsip-prinsip dasar manajemen sumber daya manusia (MSDM). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung selama kegiatan, wawancara dengan guru dan siswa, serta dokumentasi kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Market Day mampu melatih siswa dalam keterampilan kewirausahaan dasar, seperti perencanaan produksi, penghitungan modal, promosi, dan penjualan. Selain itu, kegiatan ini secara tidak langsung menanamkan prinsip-prinsip MSDM seperti pembagian tugas yang adil, kerja sama tim, kemampuan komunikasi interpersonal, dan tanggung jawab individu terhadap peran masing-masing dalam kelompok. Kegiatan ini juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan soft skills seperti kreativitas, inovasi, dan kepemimpinan. Dengan demikian, Market Day tidak hanya menjadi media pembelajaran kewirausahaan, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pembinaan sumber daya manusia secara dini melalui pendekatan manajemen sederhana yang kontekstual. Artikel ini merekomendasikan agar kegiatan serupa diintegrasikan secara berkelanjutan dalam program pendidikan dasar.

M Faris Kamil; Angga Aprinaldi; Ade Irma

Edusola : Journal Education, Sociology and Law 2025 Yayasan Mashlahatul Ummah Ilal Jannah

Manajemen kelas memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sekaligus menjadi sarana efektif dalam penanaman nilai-nilai karakter pada peserta didik. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep dan implementasi manajemen kelas berbasis pendidikan karakter dalam proses pembelajaran. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah berbagai sumber berupa buku, jurnal ilmiah, dan dokumen kebijakan pendidikan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa manajemen kelas berbasis pendidikan karakter dapat diimplementasikan melalui pengelolaan lingkungan fisik kelas, pengaturan interaksi sosial, penegakan aturan kelas yang konsisten, serta keteladanan guru dalam sikap dan perilaku. Integrasi nilai-nilai karakter seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan kejujuran dalam manajemen kelas terbukti mampu meningkatkan iklim belajar yang positif dan mendukung perkembangan karakter peserta didik secara berkelanjutan. Dengan demikian, penerapan manajemen kelas berbasis pendidikan karakter tidak hanya berkontribusi pada efektivitas pembelajaran, tetapi juga berperan penting dalam pembentukan kepribadian dan moral peserta didik. Kata kunci: Manajemen Kelas, Pendidikan Karakter, Lingkungan Belajar, Peran Guru  

Najwa Aleyda Defieni; Rosila; Salamah; Riska Amaliah; Aslamiah +1 more

Jurnal Psikososial dan Pendidikan (Psikosospen) 2025 Yayasan Mashlahatul Ummah Ilal Jannah

Pendidikan adalah proses rencana yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengetahuan, keterampilan dan karakter seseorang agar dapat mendukung kehidupannya sebagai individu maupun masyarakat. Kepemimpinan dalam lembaga pendidikan sangat diperlukan untuk manajemen lembaga tersebut, apalagi dalam lembaga pendidikan di sekolah memerlukan kepemimpinan atau lebih tepatnya kepala sekolah untuk manajemen sekolah dengan baik. Kepala sekolah memiliki peran penting untuk para staf dan guru dalam memotivasi, supaya guru dan staf dapat melakukan pekerjaan yang sesuai dan benar. Pendidikan di Indonesia memiliki tujuan utama yaitu mengembangkan peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, pendidikan juga bertujuan membentuk karakter siswa agar memiliki akhlak mulia, kesehatan yang baik, pengetahuan yang luas, kemampuan yang mumpuni, kreativitas, kemandirian, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Tantangan yang muncul akibat lingkungan eksternal di organisasi pendidikan sangatlah dinamis dan dapat berupa hal-hal struktural maupun non-struktural. Strategi ini mencakup pengembangan kemampuan guru dalam proses pembelajaran, yang bertujuan untuk memastikan guru memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai.Tantangan non-struktural bagi organisasi pendidikan mencakup kemajuan teknologi yang pesat, ketidakstabilan politik dan ekonomi, isu-isu hak asasi manusia, peluang bisnis global, serta peranan teknologi informasi dan pengetahuan.

Yohanes Kefi; Syawal Gultom; Saut Purba

Jurnal Riset sosial humaniora, dan Pendidikan (Soshumdik) 2025 LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

The orientation of educational institutions is busy with exam scores, and academic grades are the main prerequisites for graduation. As a result, the product produced by students is how high the report card score is and discredits the values of character, life and morality. This causes students to lose focus on character education. For this reason, teachers as the main milestone in learning in the classroom are required to create a learning atmosphere with character based on DOOR (Diversity, Optimism, Option for The Poor, Respect). This is because the character based on DOOR is a guideline in the ministry at the Bethlehem Bandar Baru Foundation. The objectives of the study are: (1) To describe the management model of character education training based on DOOR; (2) Determine the feasibility of the character education training management model based on DOOR; and (3) Determine the effectiveness of the implementation of character education training management based on DOOR at the Bethlehem Bandar Baru Foundation. The research uses a research and development approach to develop a model to improve teacher performance at the Betlehem Bandar Baru Foundation. The research sample is 59 teachers at the Bethlehem Bandar Baru Foundation. The results of the study show: (1) The training model developed is feasible to be used in an effort to improve the performance of teachers of the Bethlehem Bandar Baru Foundation, through the following stages: planning, organizing, moving, and supervising; (2) The training model is effectively used to improve the performance of teachers of the Betlehem Bandar Baru Foundation. There was an increase in teacher performance in the following aspects: learning planning by 42.05%; the implementation of learning is 29.74%; and assessed learning outcomes by 59.49%; and (3) a character training model developed practically for improving teacher performance at the Bethlehem Bandar Baru Foundation, obtained N-Gain Score g = 0.76 > 0.7 (small group trial) and g = 0.79 > 0.7 (limited wide trial); The resulting products were 76.40% (small group trials) and 79.08% (limited wide trials) with the effective category. Based on the results of the study, it is suggested that the improvement of teacher performance at the Bethlehem Bandar Baru Foundation must be carried out with integrated planning, organization, implementation and supervision between the Archdiocesan Foundation, the Foundation's internal supervisors, principals, and teachers.  

Nilam Cahaya; Sukatin; Nadia Febitami; Diky Afrizal; Wahyu Hidayat

Jurnal Ilmiah multidisiplin 2024 Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Seorang guru atau pendidik dapat digambarkan sebagai pemimpin dalam tindakan (Journey), Seseorang yang memiliki keterampilan dan keahlian yang bertanggung jawab atas kelancaran proses pembelajaran. Perjalanan adalah suatu proses belajar mengajar yang berlangsung di dalam atau di luar kelas dan mencakup seluruh aktivitas kehidupan. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan karakter siswa. Guru juga diharapkan memiliki karakter yang kuat dan positif untuk membentuk karakter siswa atau anak didiknya dengan baik. Oleh karena itu, peran guru dalam membentuk karakter siswa sangat strategis dan penting dalam proses pendidikan.

Aris Munandar Siburian; Dorlan Naibaho

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Jika kita tarik dari sejarah, bahwa pendidikan agama Kristen itu diawali dengan kitab Matius dimana Tuhan’ Yesus pada saat itu mengajarkan bahwa, tentang hal menabur dimana makna perumpamaan hal menabur merupakan hal yang dimana jika kita menabur di bebatuan kita matahari panas terik maka hanguslah biji tersebut serta jika di lihat oleh burung maka biji tersebut dimakan oleh burung tersebut, artinya perumpamaan hal menabur sama juga hal nya mengajarkan serta membimbing mengapa hal demikian karena jika guru agama yang baik mampu membawa anak didik nya. Kejalan yang benar di hadapan Tuhan serta Tuhan ‘Yesus juga didalam perumpamaan tersebut mengajarkan ke pada murid muridnya bahwa apa yang kita tabur merupakan itu yang akan di tua pendidikan agama Kristen menurut para ahli pendapat E.G.Homrighausen & Enklar bahwa beliau berpendapat bahwa pendidikan agama Kristen itu merupakan pelajaran yang dimana dikatakan serempak dan antusias untuk membimbing serta mengarahkan peserta didik ke jalannya yang benar yang sesuai yang diajarkan Tuhan ‘Yesus kepada murid muridnya[1].Serta menurut yudo Wibowo Iyah merangkum bahwa pendidikan agama kristen merupakan didalam pengajaran nya bersumber dari pada nya alkitabiah Karna mencakup karakter Yesus sebagai guru serta sebagian acuan guru pendidikan agama kristen untuk mengambil bagian pelayanan di sekolah mau pun di gereja tentunya[2].Serta guru yang profesional yang baik itu tentunya tidak lepas dari namanya konsisten didalam hidup dan tetap di pendiriannya didalam hal mengajari serta membina hubungan antara Tuhan dan orang tua murid supaya tercipta lah suasana pembelajaran yang baik tentunya.   [1] Dr.E.G.Homrighaousen dan Dr.I.H.Enklaar, Pendidikan Agama Kristen (jakarta:PT BPK Gunung Mulia,2013),hal.38 [2] Drs.JR.Gultom,Bahan Penataran Tingkat sekolah lanjutan Menengah pertama dan atas tahun 87-88

Milhaq, M.; Qosim, Ahmad; Ismail, Syarof Nursyah

Jurnal Faidatuna 2023 STAI Denpasar Bali

Dalam setiap lembaga pendidikan, diperlukan sebuah manajemen yang memprioritaskan pendidikan karakter siswa, manajemen tersebut bisa dilakukan di luar jam sekolah. Sebagaimana di SMK Bina Madina Denpasar, mempraktekkan manajemen ekstrakurikuler seni Islami yang bertujuan untuk menguatkan nilai-nilai karakter siswa. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) Pelaksanaan penguatan nilai-nilai karakter siswa melalui manajemen ekstrakurikuler seni Islami di SMK Bina Madina Denpasar Tahun Pelajaran 2019/2020, 2) Apa faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan penguatan nilai-nilai karakter siswa melalui manajemen ekstrakurikuler seni Islami di SMK Bina Madina Denpasar tahun pelajaran 2019/2020. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Narasumber dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, waka kurikulum, waka kesiswaan, guru agama, dan peserta didik. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif yaitu mulai dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ditemukan: 1) Pelaksanaan penguatan nilai-nilai karakter siswa dilakukan dengan praktik pengajian, diskusi sesama anggota, wejangan/nasehat. Terkonsep dalam tiga pilar; Moral Knowing, Moral Loving, dan Moral Doing. 2) Faktor pendukung pelaksanaan penguatan nilai-nilai karakter siswa adalah, peran aktif para pendidik dan didukung oleh kepala sekolah, serta sarana prasarana yang memadai. 2) faktor penghambatnya adalah, siswa tidak istikamah dalam menerapkan akhlak mulia, kemampuan siswa terbatas, waktu yang kurang tepat, dan jarak sekolah dengan rumah siswa terbilang jauh.

Wasilah Wasilah; Siminto Siminto

Jurnal Inovasi Ilmu Pendidikan 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Pendidikan karakter semakin mendapatkan prioritas dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah no 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter yang merupakan gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab sekolah untuk memperkuat karakter siswa (Pasal 1 PP no.87/2017). Penyelenggaraan Penguatan Pendidikan Karakter dilaksanakan dengan prinsip manajemen berbasis sekolah yang merupakan tanggung jawab kepala sekolah dan guru, sebagai pemenuhan beban kerja guru dan kepala sekolah (Pasal 6 ayat 3,4,5 PP 87/2017). Sesuai arahan presiden Joko Widodo bahwa pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan pendidikan yang mengajarkan pengetahuan, untuk Sekolah Dasar sebesar 70 persen sedangkan untuk Sekolah Menengah Pertama sebesar 60 persen. Ketertarikan peneliti untuk mengkaji pendidikan karakter didasari oleh adanya penurunan karakter siswa kelas tinggi dibanding karakter siswa kelas rendah. Fokus kajian utama penelitian ini adalah manajemen penguatan pendidikan karakter di Sekolah Dasar yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Kajian dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan.  Hasil penelitiannya bahwa pertama, Perencanaan Penguatan Pendidikan Karakter Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP IT Al-Manar Bun Kobar telah dilaksanakan dengan baik melalui penyusunan tujuan, strategi dan pemetaan kebijakan serta pemetaan prosedur dan penyempurnaan program menggunanakan rancangan RPP dan silabus; kedua, pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP IT Al-Manar Bun Kobar berjalan dengan baik melalui kegiatan kegiatan bersifat religius, penanaman nasionalisme, peduli sosial dan kepedulian terhadap lingkungan; ketiga, evaluasi Perencanaan Penguatan Pendidikan Karakter Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP IT Al-Manar Bun Kobar  melalui kegiatan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan dengan melaksanakan refleksi, analisis dan rencana tindak lanjut berbasis pendidikan kewarganegaraan.

Hikmatul Fitriya; Muh. Hasyim Rosyid

Mudir: Jurnal Manajemen Pendidikan 2020 Islamic Education Management Study Program, Faculty of Tarbiyah, Sunan Drajat Islamic Boarding School Institute, Lamongan, East Java, Indonesia.

Manajemen kepala sekolah dalam menumbuhkan budaya religius peserta didik di SDN Banjarwati dikarenakan banyak sekolah saat ini dipenuhi oleh generasi milenial, begitupun di SDN Banjarwati. Generasi milenial saat ini sangat minin pengetahuan agama islam, untuk itu pihak sekolah berusaha tidak hanya mengajarkan materi agama islam tetapi juga praktek kegiatan religius sebagai bentuk implementasi dari materi tersebut. Kegiatan-kegiatan religius pasti ada struktur manajerialnya, untuk itu kepala sekolah hendaknya memiliki kompetensi manajerial yang baik. Guna mengetahui permasalahan dan mendapatkan data yang akurat, peneliti menggunakan metode observasi, wawancara serta dokumentasi. Dan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Dari penelitian ini dapat dikatakan bahwa Manajemen kepala sekolah dalam menumbuhkan budaya religius peserta didik di SDN Banjarwati adalah suatu bentuk usaha yang dilakukan oleh kepala sekolah dengan cara mengadakan berbagai program yang dapat membentuk karakter religius peserta didik sehingga nantinya dapat menjadi suatu kebiasaan berperilaku dan bertindak yang baik bagi peserta didik serta dapat menjadikan peserta didik yang berakhlakul karimah. Sementara itu, Upaya-upaya yang dilakukan kepala sekolah untuk menumbuhkan budaya religius peserta didik yakni dengan cara mengadakan dan menerapkan kegiatan-kegiatan yang bersifat islami. Adapun kegiatan-kegiatan religius yang diadakan SDN Banjarwati yakni: a) Apel Pagi atau Do’a Bersama Sebelum Memasuki Ruang Kelas, b) Sholat Dhuha, c) Sholat Dhuhur Berjama’ah, d) Membaca Al-Qur’an, Juz Amma dan Asma’ul Khusnah. Adapun faktor pendukung kepala sekolah dalam menumbuhkan budaya religius peserta didik yakni: a) Guru yang kompeten dalam bidangnya dan sangat memperhatikan kondisi pendidikan, b) Tersedianya fasilitas musholah, c) Semangat kepala sekolah dan dewan guru, d) Antusiasme peserta didik dalam mengikuti kegiatan religius, e) Ketersediaan buku/kitab pegangan siswa. Sedangkan faktor penghambat kepala sekolah dalam menumbuhkan budaya religius peserta didik yakni: a) Dana sebagai faktor pengahambat paling utama, b) Jumlah guru yang terbatas, c) Guru yang lebih mementingkan kepentingan pribadinya, d) Peserta didik yang membandel tidak mengikuti kegiatan-kegiatan religius.