Publication Search

95,605 articles from 887 journals · 2,123 citations tracked

Showing 1-20 of 27

Analytics

Jocky Parningotan Hutabarat; Gomgom Ruben Sianipar; Helena Turnip

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Artikel ini membahas tentang aspek spiritual dari karakter seorang guru  agama Kristen. Spiritualitas  sangat penting karena ajaran guru  agama Kristen  bertujuan untuk memperkuat spiritualitas siswa. Ia harus mempunyai kerohanian yang baik agar bisa menjadi teladan di kelas. Dalam artikel ini, penulis mencoba menjelaskan nilai-nilai esensial spiritualitas yang harus dimiliki  guru PAK dalam rangka mewujudkan misinya sebagai penikmat profesi  guru. Untuk mencapai tujuan tersebut, penulis mengembangkan nilai-nilai esensial spiritualitas melalui tinjauan pustaka dan analisis isi. Berdasarkan penelitian dari berbagai sumber seperti hakikat spiritualitas dalam perspektif Kristiani, penulis menjelaskan nilai-nilai spiritual esensial  yang harus dimiliki seorang guru PAK. Nilai-nilai esensial spiritualitas dapat dibagi menjadi dua dimensi: dimensi personal dan dimensi interpersonal. Kepribadian guru menjadi faktor yang penting, apakah peserta didik mendapatkan keberhasilan ataukah kegagalan bagi masa depan mendidiknya yang masih di sekolah dasar dan bagi mereka yang di kelas  menegah saat mengalami kegoncangan jiwa. Pemaparan dalam penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan memaparkan kompetensi kepirbadian yang perlu dimiliki oleh guru berdasarkan 2 Timotius 3:7-10. Dalam studi penelitian ini menggunakan penelitian studi literatur tentang teks-teks Alkitab dalam 2 Timotius 3: 10-17 yang mengandung tentang prinsip memuridkan dari Paulus kepada Timotius dalam pendekatan dengan menggunakan metode deskripsi analisis pada teks 2 Timotius 3:10-17. Sehingga didapati karakteristik tentang kepribadian guru Pendidikan Agama Kristen. Hasil yang ditemukan adalah kepribadian guru Pendidikan Agama Kristen adalah merupakan kepribadian guru yang rela berkorban, taat, dan tekun sehingga kepribadian tersebut secara tidak langsung dapat mempengaruhi dan membina peserta didik yang diajar dan didik oleh guru yang bersangkutan

Jessy Monica Ompusungggu; Dorlan Naibaho

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Metode kreatif dan efektif untuk mencapai tujuan pendidikan Kristen. Tujuan pembelajaran tidak hanya menguasai konsep-konsep pengetahuan dan terampil dalam keterampilan motorik, tetapi juga mengubah sikap. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan studi literatur yaitu Alkitab dan buku referensi. Hasilnya, baik siswa sekolah maupun non sekolah merasa puas dengan perubahan karakter yang terjadi pada diri siswa, sehingga metode yang digunakan sangat efektif. Metode tidak boleh menjadi hal yang utama dengan mengabaikan pengajaran. Metode digunakan untuk menunjang pengajaran agar tujuan pendidikan tercapai. Metode yang bervariasi akan membantu siswa dalam memahami materi ajar yang disampaikan. Proses belajar mengajar harus dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode. Guru harus mempunyai kemampuan mengajar baik secara kognitif, psikomorik maupun afektif untuk mencapai tujuan pendidikan agama Kristen. Pegang semua yang telah Anda dengar dari saya sebagai contoh doktrin yang sehat dan lakukan itu dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

Ria Agustina Surbakti; Sara Mariana Nasution; Turnip, Helena

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Pendidikan di Indonesia saat ini mengalami penurunan, hal ini menyebabkan turunnya prestasi generasi dari generasi. Dalam hal ini guru harus berperan aktif, tidak hanya itu, namun juga guru harus profesional dalam profesinya. Dalam penelitian ini membahas tentang kompetensi pedagogik guru sebagai salah satu faktor penting dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini mengidentifikasi strategi pengajaran, adaptasi kurikulum, dan interaksi guru terhadap siswa sebagai komponen penting kompetensi pedagogik. Hasil ini menyoroti pentingnya mengembangkan keterampilan penyampaian instruksional, memahami karakteristik siswa, dan menerapkan metode penilaian yang efektif. Implikasi dari penelitian ini dapat menjadi panduan bagi para pendidik, lembaga, dan kebijakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil  siswa.

Dorlan Naibaho; Dimas Giraldo Purba

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Guru merupakan suatu profesi yang menuntut kemampuan dan keahlian khusus yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan tertentu di bidangnya. Profesi baru dapat dikatakan apabila guru telah memenuhi syarat sebagai suatu profesi, maka guru dapat digolongkan sebagai suatu profesi. Guru mempunyai tanggung jawab yang sangat besar dan mempunyai pengaruh langsung terhadap tercapainya tujuan pendidikan. Menjadi guru yang profesional tidaklah mudah. Seorang guru harus memiliki dan memberikan dedikasi terhadap pekerjaan ini. Jika tidak, maka tujuan pendidikan yang erat kaitannya dengan pembentukan kualitas sumber daya manusia tidak akan tercapai. Profesi guru dituntut untuk mampu bekerja maksimal dalam mendidik peserta didiknya agar pendidikan tidak gagal. Profesionalisme guru dapat meningkatkan pendidikan akademik dan karakter siswa. Guru yang profesional adalah guru yang mau mengedepankan mutu dan kualitas jasa dan produknya, pelayanan guru harus memenuhi standar seperti kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi pengawasan, dan kompetensi sosial. Serta memaksimalkan kemampuan peserta didik berdasarkan potensi dan keterampilan yang dimiliki setiap individu menjadi lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji: 1) strategi pengembangan profesional guru 2) peran pendidik profesional dalam pengembangan akademik dan karakter siswa 3) kinerja pendidik profesional.

Sweet Tri Sonya Cicilia Hutajulu; Dorlan Naibaho

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Pendidikan mempunyai rencana untuk pembangunan manusia. Selama pengembangan Maraknya teknologi baru dan  semakin canggih  mempengaruhi perilaku manusia. Saat ini, banyak orang lebih sibuk menggunakan ponsel dibandingkan secara langsung. Terhubung dengan orang-orang di sekitarnya. Tentu saja dari sudut pandang psikologis ya. Kesalahpahaman mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain. Karena itu membuat koneksi atau percakapan, Rasa itu penting.  Keberhasilan pendidikan suatu sekolah adalah keberhasilan perkembangan siswa. Bukan hanya keberhasilan guru saja, tetapi juga sikapnya yang penting dalam membentuk karakter siswa. rakyat pendidikan Ketidaktahuan di lembaga mana pun, terutama di keluarga, tidak akan berjalan dengan baik. Karena adanya keluarga Merupakan lingkungan tumbuh kembang anak sejak bayi hingga dewasa. Melalui pendidikan keluarga, Anak-anak dikonfirmasi. Komunikasi antara pihak sekolah (kepala sekolah) dan orang tua/wali menjadi salah satu aspeknya. Pelaksanaan tanggung jawab sekolah. Guru sekolah  sudah menerimanya Kesempatan untuk berinteraksi dan memberi dampak pada kehidupan Para siswa kembali ke dada mereka orang tua Beberapa contoh komunikasi antara guru dan orang tua  adalah:  Memanfaatkan pertemuan guru-orang tua, memanfaatkan kemajuan teknologi, dan menyediakan Website sekolah, pembentukan komite sekolah.

Kharista Hany Frikana Purba; Dorlan Naibaho

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Guru merupakan seorang pengajar yang menjagar di sekolah negeri atau swasta yang mempunyai latar belakang pendidikan formal sekurang-kurangnya sarjana dan mempunyai status hukum sebagai guru berdasarkan Undang-Undang tentang Guru dan Dosen. Kepribadian adalah kemampuan pribadi yang mencerminkan kepribadian yang kuat tentang seorang Guru,Guru adalah tombak utama dalam dunia pendidikan untuk membentuk anak anak bangsa,Menjadi seorang guru harus memiliki suatu keterampilan dalam dirinya agar data membentuk eserta didik menjadi generasi bangsa, Keterampilan berkomunikasi sangat diperlukan seorang Guru dalam dunia pendidikan, Keterampilan komunikasi guru sangat penting untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini menunjukkan bahwa guru merupakan landasan terpenting dalam pengembangan komunikasi dalam proses pembelajaran. Ini merupakan keterampilan yang diperlukan guru untuk mengembangkan karakter siswa

Dorlan Naibaho; Giovani Jandriano Lubis

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Kompetensi sosial merupakan aspek penting bagi guru dalam mengefektifkan pembelajaran. Bisa Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif yang dapat meningkatkan diri Pertunjukan. Didukung dengan komunikasi yang baik maka guru akan lebih mudah menyampaikan. Berbagai informasi dalam pelajaran tertentu yang akan diajarkan kepada siswa. Komunikasi adalah kunci terpenting untuk menunjukkan keterampilan sosial. Diharapkan bahwa berbagai prinsip komunikasi akan diterapkan untuk mengoptimalkan praktik. Prinsip ini adalah: Komunikasi harus dilandaskan pada prinsip hormat, empati, berbicara dengan jelas (intelligibility), mampu memahami apa yang dibicarakan (clarity), dan kesopanan (humility). Kompetensi sosial merupakan salah satu dari empat kompetensi wajib yang harus dimiliki guru.Pada dasarnya kompetensi ini merupakan salah satu hal yang sangat menunjang dalam pembelajaran, baik didalamnya Dan di luar kelas. Kompetensi sosial guru merupakan keterampilan komunikasi yang efektif untuk Siswa, teman sebaya, staf sekolah, dan lingkungan tempat guru tinggal. Keberhasilan pendidikan karakter di sekolah adalah keberhasilan siswa dalam membangun pribadinya Melalui komunikasi Komunikasi Yang baik akan menumbuhkan sikap saling percaya Terhadap Siswa. Adanya sikap saling Mempercayai, saling membantu dalam membimbing  dan berkomunikasi dengan guru, Akan membuat siswa merasa memiliki kebebasan berkreativitas guna pengembangan potensi dirinya, Sehingga bisa meningkatkan kreativitas dan mencapai keberhasilan dalam belajar.

Dwi Nor Wardiani; Siti Azizah

JURNAL RISET RUMPUN ILMU HEWANI 2023 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Teat dipping is the activity of dipping a dairy cow’s teat into an antiseptic solution was prevent mastitis. Every dairy farmer has different knowledge, attitude and skills. This research to determine the correlation between characteristics, knowledge, and attitude with skills of dairy farmers in teat dipping practices using correlation with SPPS 26. The method used in this research is a descriptive quantitative survey. The study was conducted at KUD Tulus Bakti, Pagu, Kediri from 7 June to 5 September 2021. Respondents in this study were 30 members KUD Tulus Bakti and dairy farmer. The result show that the knowledge and the attitudes of the dairy farmer in this study were categorized as good, and the skills of the dairy farmer in the study were categorized as moderate. Characteristics based on age, education level, number of livestock and farming experience are related to the farmer's skill in teat dipping practice. There is a significant correlation between knowledge and skills of dairy farmer in the practice of teat dipping of KUD Tulus Bakti members, and the level of the correlation is moderate. There is a significant correlation between attitudes and skills of dairy farmer in the practice of teat dipping members of KUD Tulus Bakti, and the level of correlation moderate.

Amelia Risnauli br. Lumbangaol; Hamidah Hamidah

Perspektif: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Bahasa 2023 STAI YPIQ BAUBAU, SULAWESI TENGGARA

Education in Indonesia now does not only emphasize students' academic grades. But it also emphasizes student skills, builds student character, and also increases learning motivation. This aims to ensure that education in Indonesia is not only based on numbers. Since ancient times, people have judged that smart students are students who get high grades. However, in the current era, education does not only look at high scores. Smart and outstanding students are considered to be able to apply the knowledge they gain while at school. So, students really understand how to apply the knowledge they gain in everyday life. That way, the knowledge he gets will be more useful.

Naomi Shinta Marito Panjaitan; Dorlan Naibaho

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Perkembangan teknologi sekarang yang tak bisa dibendung semakin hari terus mengalami perkembangan tanpa memperhatikan nilai-nilai kristiani etika, karakter serta moral dari manusia, maka sangat dibutuhkan perhatian dari berbagai pihak terkususnya Guru agama Kristen sebagi duta mengembangkan nilai kristiani. Dan siswa dapat mengenal dunia pendidikan dari yang tidak tahu menjadi tahu, terlebih untuk mengenal kebenaran Allah. Tanggung jawab guru adalah membantu peserta didik agar dapat mengembangkan nilai-nilai kristiani  yang dimilikinya secara maksimal. Potensi peserta didik yang harus dikembangkan bukan hanya menyangkut masalah kecerdasan dan keterampilan, melainkan menyangkut seluruh aspek kepribadian seperti nilai-nilai kristiani. Guru tidak hanya dituntut untuk memiliki pemahaman atau kemampuan dalam bidang belajar dan pembelajaran tetapi juga dalam memotivasi peserta didik. Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) berperan dalam mengajarkan nilai-nilai kristiani dan memotivasi peserta didiknya. Guru PAK harus memahami konsep-konsep motivasi sehingga mampu berfungsi sebagai duta mengembangkan  peserta didik, baik yang menyangkut aspek intelektual, emosional, sosial, maupun nilai-nilai kristiani.

Syawal Muslianti; Yulia Rahman; Khairuddin Khairuddin; Bambang Trisno

Jurnal Ilmu Sosial, Bahasa dan Pendidikan 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

This research is motivated by the fact that there are still OSIS members who are engrossed in social media, there are still OSIS members who are not able to communicate well when asked to appear, there are still OSIS members who lack the courage to express their opinions in front of the forum, there are still OSIS members who are not lacking in courage, appreciate, for example, whwn friends have on opinion, there are still OSIS members who don’t care, for example when a friend is in trouble, there are still OSIS  members who are negligent in their duties, there are still OSIS members who are less active in, for example, asking questions and it is difficult for OSIS members to apply a friendly charakter. and communicative, and so on. The purpose of this research is to find out the OSIS activities, find out the friendly and communicative character education contailed in the OSIS activities and to find out the impact of OSIS activities on friendly and communicative charakter. The type of research used is descriptive qualitative. Data collection techniques using observation, interviews and documentation. The data analysis techniques used are data reducation, data display, and data verification. Result of research at MAN 3 Agam: OSIS routine gate picket activities, cleaning prayer rooms, scheduling calls to prayer and prayers, muhadharah and meetings. Non-routine activities MAN Competition, Classmeeting, LDK, class XII farewell, HBN, HBI. LDK OSIS activitie, muhadharah, meetings, MAN Competition, Classmeeting, teacher’s day, class XII farewell can educate friendly and communicative charakter. The impact of this OSIS activitiy is that OSIS administrators can communicate politely, be good listeners, be attentive, cooperate, be respectful and be active.

Chairunnisa Chairunnisa; Defany Dwi Rahmadhani; Nabila Ratri Widya Astuti; Syifaun Nafisah

Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

This study aims to find out how extracurricular activities carried out at SDN 244 Guruminda and SD Plus Al Ghifari can help develop students' character and skills. The research used a descriptive analysis method with the research subjects being the deputy head of the school in the field of curriculum and students. Data collection techniques by conducting interviews and observing extracurricular activities at school. As a result, extracurricular activities at school are able to have a good impact on students in the form of developing students' character and skills. Extracurricular activities carried out outside the classroom provide a variety of learning that is not only fixed in the classroom. Extracurricular activities provide learning experiences outside the classroom for students to become independent human beings, able to work together, able to solve problems, be creative, and always behave well. Therefore, schools as educational units should always carry out extracurricular development activities in order to create students who have good character as a provision to more easily survive life in the future.

Anggriana Manalu; Apiek Gandamana

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui muatan kompetensi kewarganegaraan dalam kurikulum 2013 dengan kurikulum merdeka pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada tingkat sekolah dasar. Jenis penelitian ini yaitu peneltian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian 3 guru sekolah dasar kurikulum 2013, 3 guru sekolah dasar kurikulum merdeka dan 1 dosen ahli Pendidikan Kewarganegaraan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan disertai dengan dokumentasi. Hasil penelitian  pertama menunjukkan bahwa muatan setiap ranah kompetensi kewarganegaraan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dalam kurikulum 2013 dengan kurikulum merdeka disekolah dasar mengandung muatan kompetensi kewarganegaraan secara utuh yang terdiri dari pengetahuan kewarganegaraan, keterampilan kewarganegaraan, dan sikap kewarganegaraan. Kedua dicermati dari kata kerja operasional (KKO), kurikulum 2013 mengandung 25 % komponen pengetahuan kewarganegaraan, 25 % komponen keterampilan kewarganegaraan, 50 %  komponen sikap/karakter. Sedangkan pada kurikulum merdeka mengandung 31,37 % komponen pengetahuan kewarganegaraan, 41,18 % komponen keterampilan kewarganegaraan, dan 27,45% komponen sikap/karakter kewarganegaraan kemudian ditambah 20 % penguatan profil pelajar Pancasila. Kedua kurikulum sama-sama mendominasi komponen sikap/karakater kewarganegaraan dan memiliki perbedaan pada komponen pengetahuan dan keterampilan. Ketiga kompetensi kewarganegaraan akan memberikan nampak pada pembentukan pribadi peserta didik yang memiliki karakter kepribadian yang baik dan benar mencerminkan nilai-nilai yang termuat dalam pengamalan Pancasila dan UUD 1945.

Olivia, Natalia; Ap, Inseri

Jurnal Manajemen Pendidikan Kristen 2023 Institut Agama Kristen Negeri Manado

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis penerapan pendidikan karakter pada kegiatan di luar pelajaran panahan di SMAK Peter dan Paul di Tomohon. Penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif digunakan sebagai metode penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara dan analisis dokumen yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lewat kegiatan ekstrakulikuler panahan siswa mendapatkan pendidikan karakter yang mana dalam penerapannya memberikan nilai-nilai karakter seperti ketepatan waktu, disiplin, fokus, tekad, tanggung jawab dan sportivitas diterapkan dalam latihan, kompetisi dan interaksi antar siswa. Pemanah diajarkan untuk menghormati peraturan, bekerja sebagai tim dan menghadapi tantangan dengan sikap  positif. Dalam pelaksanaannya, kegiatan di luar panahan  memberikan dampak positif bagi siswa. Mereka menunjukkan peningkatan dalam pengembangan karakter, keterampilan teknis, kehadiran di sekolah, dan identitas serta  kepercayaan diri. Selain itu, siswa  memberikan respons bahwa memanah membantu mereka mengembangkan sikap positif terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan di sekitar mereka.  Penelitian ini menemukan bahwa penerapan pendidikan karakter pada kegiatan ekstrakurikuler panahan di SMAK Peter dan Paul di Tomohon dapat membantu siswa  membangun karakter yang kuat, meningkatkan keterampilan, dan meningkatkan partisipasi sekolah.

Sofania Magdalena Siadari; Julita Herawati P

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Artikel ini membahas tentang melatih kemampuan berpikir dan kreatif anak usia dini melalui bermain sambil belajar sains.Dalam  berpikir kreatif,anak menggunakan imajinasinya dalam bermain peran, membentuk, menggambar, atau membangun dan akhirnya memperoleh hasil.Tujuan penulisan ini agar anak  usia 4-6 tahun dapat diajar berpikir kritis dan kreatif dalam pembelajaran sains .Teori Konstruktivistik, Pengalaman mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan dan mengkomunikasikan dengan bimbingan guru melalui kegiatan bermain merupakan karakteristik bimbingan guru melalui kegiatan bermain dan belajar merupakan karakteristik kurikulum 2013 yang salah satunya adalah menerapkan metode saintifik, Absruscato (dalam Amalia, 2018: 2).Bermain dan belajar sains dapat mengembangkan keterampilan berpikir dan memproses pengetahuan yang sudah didapatkan.Kegiatan sains anak belajar dan bermain secara langsung dengan percobaan-percobaan yang mudah terjadi dalam kehidupan sehari-hari.Sehungga dapat bermanfaat bagi anak untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menanggapi secara kritis pembelajaran sains.

Reni Ester Berutu; Julita Herawati P

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Belajar seorang anak tidak tergantung pada kecerdasan atau kemampuan kognitif, tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lain, seperti aspek perkembangan emosi dan sosial. Sisi emosional dan sosial ini sangat mempengaruhi perilaku anak terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Pada anak usia dini, aspek sosial-emosional dapat dikembangkan melalui pembelajaran sosial-emosional. Dimana pembelajaran sosial emosional merupakan proses pengembangan keterampilan, sikap dan nilai yang diperlukan untuk memperoleh kompetensi sosial dan emosional sebagai modal anak dalam berinteraksi dengan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya. Pembelajaran sosial emosional ini dapat menjadi titik tolak dan dasar pembentukan karakter anak usia dini. Ada empat kompetensi perkembangan penting dalam aspek sosial emosional anak; kesadaran diri, kesadaran sosial, manajemen diri, pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dan manajemen hubungan. Karena perkembangan keempat aspek sosial emosional anak berpengaruh terhadap pengenalan sifat-sifat/karakter baik anak dalam dunia sosial.  Metode yang cocok untuk mengembangkan keempat keterampilan tersebut, seperti bermain, berakting, bercerita, modeling dan lain-lain.

Siti Rahmawati Kahar

Journal of Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Penelitian ini menekankan pada penggunaan edmodo sebagai salah satu bentuk aktifitas pembelajaran bahasa berbasis komputer (CALL activity), menginvestigasi pengaruhnya terhadap keinginan berkomunikasi (willingness to communicate/WTC dalam belajar bahasa inggris. Tujuan penelitian ini ada dua, satu sisi penelitian ini mencoba untuk menguji pengaruh edmodo terhadap keinginan siswa berkomunikasi (students’WTC) dan disisi lain penelitian ini mencoba untuk menemukan aktifitas-aktifitas pembelajaran yang terbaik yang dapat mempengarui keinginan siswa berkomunikasi (students’ WTC). Jumlah total partispan meliputi 27 siswa SMKN 4 Kendari. Dalam pengambilan sample, peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Instrument pengumpulan data terdiri atas close dan open ended kuesioner. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode campuran. Data kuantitatif berasal dari close ended kuesioner, sementara open ended kuesioner digunakan sebagai data kualitatif. Paired sample t - test digunakan untuk mencari pengaruh edmodo terhadap keinginan siswa berkomunikasi (students'WTC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan edmodo terhadap  keinginan siswa berkomunikasi (students'WTC sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan. Hal ini berbeda dengan hasil open ended kuesioner yang menunjukkan bahwa edmodo dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap keinginan mereka berkomunikasi. Perbedaan hasil ini dipengaruh oleh beberapa faktor yaitu persepsi siswa terhadap edmodo, teknologi, karakteristik keterampilan bahasa dan rancangan kegiatan pembelajaran. 

Ronaldes Gokpindo Situmeang; Monica Silitonga; Meysa Nababan; Moses Sirait; Dorlan Naibaho

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Pendidik adalah motivator bagi peserta didik. Tidak sedikit guru yang mengalami kesulitan mengajar ketika berhadapan dengan siswa yang kurang semangat belajar. Bahkan ada beberapa guru agama Kristen yang mengeluh dan tidak mau mengajar karena melihat siswanya tidak tanggap terhadap pembelajaran. Padahal, peran guru tidak hanya membekali siswa dengan pengetahuan tentang mata pelajaran, tetapi guru juga menjadi motivator bagi siswa untuk mengorientasikan diri dalam pembelajarannya Tanggung jawab pendidik adalah untuk membantu siswa mencapai potensi penuh mereka. Potensi yang perlu dikembangkan dalam diri siswa bukan hanya tentang kecerdasan dan kemampuan, tetapi tentang semua aspek kepribadian. Dalam konteks ini, guru dituntut tidak hanya memiliki pemahaman atau keterampilan dalam bidang pembelajaran dan pembelajaran, tetapi juga memberikan dorongan untuk mencapai tujuan. Apalagi bagi mereka yang mengalami patah semangat, putus asa atau gagal, misalnya, peran seorang motivator sangat dibutuhkan untuk membantu mereka bangkit kembali. Cocok bagi siswa untuk belajar giat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Itulah sebabnya guru Kristen adalah guru yang memiliki otoritas dalam kelas. Guru Agama Kristen adalah gembala bagi murid-muridnya. Pendidik juga harus sebagai orang tua bagi siswa. Salah satu permasalahan serius yang sering dijumpai di kalangan siswa adalah kenakalan yang tidak bisa dikendalikan sehingga menimbulkan perpecahan dalam masyarakat yang berkepanjangan. Oleh karena itu, para pendidik Kristen memiliki peran penting untuk menjadi orang tua/konselor bagi siswa. Sekalipun tugas ini adalah tugas para guru Bimbingan Konseling, namun bukan berarti guru-guru lain tidak berkesempatan menolong setiap murid yang sedang ber-masalah, termasuk pendidik Kristen. Pendidik sebagai konselor akan menolong setiap murid yang sedang bermasalah, bukan saja memposisikan dirinya sebagai konselor tetapi lebih dari itu, yakni sebagai orang tua.  Matius 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.

Cristi Giovanny Sitompul; Debora Paulina Ritonga; Dorlan Naibaho

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Dalam dunia pendidikan, terutama yang diperuntukkan bagi guru, kompetensi pedagogik adalah keterampilan atau kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam melihat karakteristik siswa dari berbagai aspek kehidupan, baik itu moral, emosional,maupun intelektual. Kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh seorang guru dapat dikatakan berhasil jika seorang guru mampu memotivasi siswa dalam proses pembelajaran, karena guru memegang peran yang penting dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di sekolah. Memotivasi siswa merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan semangat belajar. Proses belajar akan berhasil jika siswa memiliki motivasi dalam belajar. Oleh karena itu, guru perlu menumbuhkan motivasi siswa yang optimal. Dalam kaitan ini terkhusus untuk Guru Pendidikan Agama Kristen dituntut memiliki kemampuan dalam membangkitkan semangat belajar siswa .

Geovando Siahaan; Meletios Pakpahan; Ibelala Gea

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Membangun jiwa kepemimpinan Kristen sejak remaja merupakan suatu hal yang penting dalam pembentukan karakter individu yang berakar pada nilai-nilai kekristenan. Kepemimpinan yang baik tidak hanya ditandai dengan kemampuan memimpin orang lain, tetapi juga kemampuan untuk memimpin diri sendiri dengan baik. Artikel ini membahas tentang pentingnya membangun jiwa kepemimpinan Kristen sejak remaja, melalui pendekatan yang holistik dan terintegrasi antara pengembangan rohani, mental, dan sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur yang mengkaji sejumlah literatur yang berkaitan dengan pembangunan jiwa kepemimpinan Kristen sejak remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan jiwa kepemimpinan Kristen sejak remaja dapat dilakukan melalui sejumlah cara, antara lain melalui pembinaan rohani melalui doa, ibadah, bacaan Alkitab, serta pelayanan di gereja atau masyarakat. Selain itu, pengembangan kemampuan sosial dan keterampilan komunikasi juga menjadi penting dalam membangun jiwa kepemimpinan Kristen, seperti belajar bekerja sama dalam kelompok, menghargai perbedaan, dan membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Dalam kesimpulannya, membangun jiwa kepemimpinan Kristen sejak remaja dapat membantu individu untuk menjadi pemimpin yang lebih baik di masa depan, dengan karakter yang kokoh dan berakar pada nilai-nilai kekristenan. Oleh karena itu, para pemimpin gereja, keluarga, dan masyarakat perlu memberikan perhatian yang lebih pada pembangunan jiwa kepemimpinan Kristen sejak remaja, sehingga dapat membentuk generasi yang lebih baik dan berdampak positif bagi lingkungan sekitar.