Publication Search

73,099 articles from 684 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-4 of 4

Analytics

Vincentius Simon Suyanto; Ar Rahiim Innash; Sudijono Sastroadmodjo

Notary Law Research 2026 Program Studi Kenotariatan Program Magister Fakultas Hukum UNTAG Semarang

Notaris sebagai pejabat umum pemegang kewenangan atributif negara dalam pembuatan akta otentik menghadapi kerentanan hukum serius akibat penggunaan dokumen palsu oleh penghadap beriktikad buruk. Asas kepercayaan (vertrouwen) menempatkan notaris pada posisi paradoks: wajib melayani masyarakat, namun berisiko dikriminalisasi atas kejahatan pihak yang dilayaninya. Penelitian ini mengkaji tiga permasalahan: pengaturan hukum tanggung jawab notaris atas akta berbasis dokumen palsu, ketidakmemadaian regulasi dalam melindungi notaris, serta model perlindungan hukum ideal bagi notaris menghadapi pemalsuan dokumen penghadap. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, berbasis data sekunder yang dianalisis melalui content analysis dan divalidasi melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, UUJN dan KUHPerdata membatasi tanggung jawab notaris pada kebenaran formal dan prosedural pembuatan akta, sedangkan kebenaran materiil dokumen merupakan tanggung jawab mutlak penghadap. Kedua, regulasi berlaku belum memadai karena UUJN tidak memuat klausul good faith immunity, mekanisme shifting of liability belum diatur secara rigid, kewenangan Majelis Kehormatan Notaris terbatas pada fungsi administratif tanpa daya ikat terhadap proses penyidikan, serta ketiadaan sistem verifikasi identitas digital terintegrasi. Ketiga, model perlindungan ideal adalah model tiga lapis: lapis preventif melalui verifikasi identitas digital real-time terintegrasi dengan Dukcapil dan BPN; lapis normatif melalui amandemen UUJN yang memuat klausul imunitas iktikad baik dan pengalihan tanggung jawab material kepada penghadap manipulatif; serta lapis represif melalui penetapan izin MKN sebagai syarat mutlak penetapan tersangka dan jaminan rehabilitasi bagi notaris yang dikriminalisasi secara tidak sah.

Salma Nur Hanifah; Sri Retno Widyorini

Notary Law Research 2026 Program Studi Kenotariatan Program Magister Fakultas Hukum UNTAG Semarang

Perkembangan teknologi digital telah merevolusi mekanisme transaksi ekonomi dengan mendorong penggunaan kontrak elektronik sebagai instrumen utama dalam aktivitas e-commerce. Kajian ini menyoroti dominasi klausula baku yang disusun sepihak oleh pelaku usaha, yang mengakibatkan ketimpangan posisi tawar serta berpotensi menimbulkan kerugian sistemik bagi konsumen. Secara empiris, rendahnya literasi hukum masyarakat, kompleksitas bahasa kontrak, serta mekanisme persetujuan instan memperkuat kondisi kerentanan konsumen dalam memahami hak dan kewajibannya. Meskipun kerangka regulasi nasional seperti UUPK dan UU ITE telah memberikan dasar perlindungan, implementasinya masih menghadapi hambatan serius, termasuk lemahnya pengawasan, kesenjangan antara norma dan praktik, serta tantangan yurisdiksi lintas negara dalam transaksi digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif-empiris untuk menganalisis efektivitas perlindungan hukum serta mengidentifikasi faktor penyebab ketidakseimbangan dalam kontrak elektronik. Hasil kajian menunjukkan perlunya rekonstruksi model perlindungan konsumen berbasis keadilan kontraktual yang menekankan transparansi, keseimbangan, dan akuntabilitas dalam penyusunan klausula. Selain itu, integrasi aspek teknologi, desain sistem digital, dan peningkatan literasi konsumen menjadi elemen krusial dalam menciptakan ekosistem transaksi yang adil. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan teori hukum digital sekaligus memberikan rekomendasi praktis bagi pembentukan regulasi adaptif guna memperkuat kepercayaan publik terhadap ekonomi digital.

Keisha Thalia Ardianto; Nur Isdah Idris

Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen 2026 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

This study examines the phenomenon of fatherlessness in Indonesia and its relevance to Human security. Rather than limiting the concept to the physical absence of a father, this research highlights functional fatherlessnes s, where the father is present but does not perform his roles in caregiving, emotional support, and economic responsibility. Using a qualitative approach through literature review and conceptual analysis, this study explores how disruptions in family roles can generate broader social vulnerabilities. The findings indicate that fatherlessness is closely linked to various dimensions of human security, particularly personal, economic, and community security. The absence or dysfunction of paternal roles weakens the family as the primary unit of protection, potentially affecting individual well-being, social stability, and the overall quality of human resources. Furthermore, this study finds that existing state responses tend to be reactive and have not fully addressed the issue of functional fatherlessness as a structural social concern. Therefore, this research argues that fatherlessness should be understood not merely as a private family issue, but as a non-traditional security challenge that requires comprehensive policy attention to strengthen human security in Indonesia.

Abudzar Algiffari

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Teknik 2026 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Coastal areas are highly dynamic and increasingly exposed to physical pressures such as coastal erosion, shoreline change, inundation, and sea-level rise. In Indonesia, most coastal vulnerability studies remain focused on physical mapping and have not been systematically integrated with spatial planning evaluation. This study aims to analyze physical coastal vulnerability using the Coastal Vulnerability Index (CVI) and integrate the results with the Regional Spatial Plan (RTRW) in the coastal areas of Mangarabombang and Laikang Sub-districts, Takalar Regency. A quantitative spatial approach was applied using eight parameters, which were reclassified into vulnerability scores, transformed into CVI values, and classified using quartile methods. The results show that high and very high vulnerability classes dominate the coastal area. Spatial integration reveals that several development zones intersect with high vulnerability levels, indicating potential spatial mismatch. This study confirms that CVI can be operationalized as a spatial evaluation tool to support adaptive and risk-based coastal planning.