SciRepID - Scientific Publication Search

Publication Search

52,151 articles from 425 journals · 1,456 citations tracked

Showing 1-4 of 4

Analytics

Ikhwani; Hery Prambudi; Misika Alam; Vivi Alviansyah

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2024 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Fish that have died rot very quickly compared to beef, fruit, or vegetables. This decay can be prevented by salting or what is commonly called salted fish. Aims to reduce the water content contained in fish meat, so that bacteria do not develop. In the processing of salted fish some producers add food ingredients. Like Borax and formalin which aims to preserve salted fish. Salted fish has many types, one of which is petek fish. This study aims to determine the presence of borax and formalin in the physicochemical properties of salted petek fish sold in Celancang market. The method in this study is descriptive qualitative with the method of examination using the flame test and curcumin paper on borax and using distillation with the addition of chromatopic acid on formalin. The samples in this study were salted petek fish sold in Celancang market as many as thirty samples. Based on the results of the research on the presence of borax test, there is no borax content in the salted petek fish sample and in formalin, as many as ten salted petek fish are positive for formalin sold in the Celancang market. From the organoleptic test results salted petek fish containing formalin is pure white in color different from the usual petek fish with a pungent aroma and hard texture but the taste remains the same salty.

Khairun Nisa; Hayati Solin; Nur Hikmah; Eni Lestari; Rendi Ardiansyah +1 more

JURNAL RISET RUMPUN ILMU HEWANI 2022 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Berdasarkan survei keamanan pangan yang dilakukan oleh Badan POM RI (2009) pada 1.504 industri rumah tangga pangan di 18 provinsi menyebutkan bahwa terdapat penyalahgunaan bahan tambahan pangan berbahaya seperti boraks (8,80%)  Zat ini mengandung 99% sodium tetraborat decyhydrate yang cukup berbahaya jika terkonsumsi manusia karena akan membahayakan kesehatan khususnya pada hematokrit. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi ilmiah tentang  pemberian ekstrak Andaliman terhadap nilai hemaktokrit, MCV, MCH dan MCHC pada tikus putih yang di induksi  boraks. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimental dengan dengan tahapan yatitu pembuatan ekstrak andaliman, perlakuan hewan coba, induksi boraks, pemberian ekstrak, pengambilan darah, dan analisis data.  Hasil dari penelitian ini yaitu hasil ujia one way anova hematotokrit taraf signifikan p=0,049, MCV p=0,54, MCH p=0,25, dan MCHC p=0,01 , pada tikus yang terinduksi boraks dengan dosis 40mg/kg BB memberikan pengaruh nyata keadaan nornal terhadap jumlah Hematokrit dan MCHC yang dapat menangkal radikal bebas atau zat toksik yang terkandung dalam boraks, dan mengalami penurunan terhadap jumlah MCV dan MCH sehingga Andaliman tidak memberikan pengaruh nyata.  

Cut Bidara Panita Umar; Mylene Latumahina

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kedokteran 2022 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Tahu adalah makanan yang dibuat dari kacang kedelai yang difermentasikan dan diambil sarinya. Penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) dalam proses produksi pangan perlu diwaspadai. Boraks dilarang digunakan dalam BTP karena dapat menyebabkan gangguan otak, hati dan ginjal, penggunaan boraks dalam jangka panjang dapat menyebabkan kematian. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan ada tidaknya kadar boraks dalam tahu yang diproduksi diberbagai tempat dikota Ambon. Sampel tahu yang diteliti adalah sampel A (Pabrik tahu sumber rezeki) dan Sampel B (Pabrik tahu A sukarti), kemudian kadar boraks diamati menggunakan metode uji nyala, metode uji kertas tumerik dan metode spektrofotometri UV-Vis. Pada uji nyala, sampel di katakan  mengandung boraks jika memberi nyala api berwarna hijau. Untuk uji warna kertas tumerik, sampel di katakan mengandung boraks jika kertas tumerik berubah warna menjadi merah kecoklatan. Metode spektrofotometri di lakukan dengan penentuan panjang gelombang, pembuatan kurva standar boraks dan penetapan kadar boraks dalam sampel. Hasil penelitian percobaan identifikasi boraks dalam sampel tahu dengan uji nyala dan uji warna kertas tumerik diketahui bahwa kedua sampel yang diuji tidak mengandung bahan pengawet berbahaya yaitu boraks. Hasil analisis boraks menggunakan spektrofotometer UV-Vis menunjukkan bahwa kadar boraks pada sampel A (Pabrik tahu sumber rezeki) adalah 0,07% dan sampel B (Pabrik tahu A sukarti) adalah 0,09 %

Linda Kurniawati, Eucharistea Patrina Nugraha, Merkuria Karyantina &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Kerupuk gendar atau karak dibuat dari campuran beras (Oryza sativa Linn) dan bleng padat. Bleng padat merupakan bahan tambahan pangan yang dilarang digunakan oleh Departemen Kesehatan karena mengandung boraks. Pemerintah menganjurkan STPP (Sodium Tripolyphosphate) sebagai bahan tambahan pangan yang aman untuk digunakan. Untuk menambah nilai gizi dari karak maka digunakan jenis beras yang lain seperti beras merah dan beras hitam. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), menggunakan dua faktor pembanding, yaitu konsentrasi penambahan STPP (0; 0,15; 0,30; dan 0,45%) dan variasi jenis beras (beras putih, beras merah, dan beras hitam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karak yang terbaik adalah pada kombinasi perlakuan konsentrasi STPP 0,15% dengan jenis beras putih. Hasil karak yang terbaik mengandung kadar air 12,81%; kadar abu 3,36%; kadar pati 71,63%; kadar amilosa 20,03%; volume pengembangan 68,01%; warna disukai panelis (3,06); rasa berbeda dengan karak kontrol (3,06); sangat renyah (3,86); dan disukai panelis (3,13).Kata kunci: Beras putih, beras merah, beras hitam, karak, STPP