Publication Search

80,260 articles from 776 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 34

Analytics

Zala, Marcella Valeria; Suoth , Vanny N.

Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen 2026 Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa J

Kepemimpinan pelayan gereja merupakan aspek penting dalam membangun kehidupan iman jemaat, karena integritas seorang pemimpin menjadi cerminan nilai-nilai kekristenan yang dihidupi. Permasalahan yang ditemukan ialah adanya kesenjangan antara ajaran, sikap, dan perilaku pelayan gereja yang dapat memengaruhi kepercayaan serta pertumbuhan iman jemaat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integritas kepemimpinan pelayan gereja dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan iman jemaat di GMIM Moria Darunu berdasarkan teori kepemimpinan Peter G. Northouse. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka untuk memahami pengalaman serta pandangan jemaat dan pelayan khusus. Kebaruan penelitian ini terletak pada kajian integritas kepemimpinan gereja dalam konteks lokal sebagai faktor pembentuk kepercayaan dan kedewasaan spiritual jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas pemimpin yang terlihat melalui kesesuaian perkataan dan tindakan, karakter melayani, serta keteladanan iman berperan penting dalam memperkuat kepercayaan jemaat dan mendorong pertumbuhan iman yang lebih dewasa.

Vandariani Keisya; Anggita Happy Santoso; Yunita Andriani Rahayu

TAWAZUN: Journal of Islamic Finance and Digital Innovation 2026 Asosiasi Program Doktor Ekonomi Syariah Indonesia

Pendidikan Kristen memiliki peran yang signifikan dalam membentuk karakter individu berdasarkan nilai-nilai Alkitabiah. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan moral, spiritual, dan etika yang sesuai dengan prinsip-prinsip Kristen. Artikel ini membahas bagaimana pendidikan Kristen dapat menjadi sarana utama dalam menanamkan nilai-nilai seperti kasih, kejujuran, integritas, disiplin, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan holistik yang mencakup pengajaran, keteladanan, dan pembiasaan, pendidikan Kristen mampu membentuk individu yang memiliki karakter kuat dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Kajian ini juga menyoroti tantangan serta strategi dalam mengintegrasikan nilai-nilai Alkitabiah dalam sistem pendidikan modern.

Maria Nurwulan Yulliandari; sellina diah rifani; dwi fitri ukgraini

TAWAZUN: Journal of Islamic Finance and Digital Innovation 2026 Asosiasi Program Doktor Ekonomi Syariah Indonesia

Artikel ini membahas pentingnya teologi kasih dan pengampunan dalam pendidikan Kristen, dengan fokus pada penerapannya dalam pembelajaran holistik. Teologi kasih dan pengampunan, yang merupakan inti ajaran Kristus, menawarkan dasar yang kuat untuk membentuk karakter dan nilai-nilai dalam pendidikan. Melalui pendekatan pastoral, artikel ini mengkaji bagaimana nilai-nilai kasih dan pengampunan dapat membimbing proses pembelajaran yang tidak hanya mencakup aspek intelektual, tetapi juga moral, spiritual, dan emosional siswa. Penulis juga menyoroti pentingnya membangun hubungan yang penuh kasih antara pendidik dan peserta didik untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, penuh empati, dan mendukung perkembangan holistik individu. Artikel ini berargumen bahwa penerapan teologi kasih dan pengampunan dapat memperkuat pendidikan Kristen sebagai sarana untuk membentuk pribadi yang utuh dan berkarakter Kristus.

riya, Riyadian; war, Ummi Wardah

Al Madjid : jurnal Pendidikan Islam 2026 Prodi PAI Fakultas Tarbiyah STIT Sunan Giri Trenggalek

Pendidikan berbasis akhlak merupakan salah satu pilar utama dalam tradisi keilmuan Islam yang menempatkan pembentukan karakter sebagai tujuan esensial dari proses pendidikan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran para tokoh Islam klasik dan modern terkait konsep pendidikan berbasis akhlak serta mengevaluasi relevansinya dalam konteks pendidikan masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, melalui analisis terhadap karya-karya Al-Ghazali, Ibn Miskawaih, Ibnu Sina, dan Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang dikenal sebagai pemikir penting dalam perkembangan gagasan pendidikan akhlak. Hasil kajian menunjukkan adanya keselarasan pandangan di antara keempat tokoh tersebut mengenai pentingnya sinergi antara aspek spiritual, intelektual, dan moral sebagai inti dalam pembentukan karakter peserta didik. Al-Ghazali menitikberatkan pada proses tazkiyatun nafs sebagai landasan pengembangan akhlak, sementara Ibn Miskawaih menyumbang gagasan melalui teori keseimbangan jiwa. Ibnu Sina menyoroti peranan lingkungan dan keteladanan pendidik dalam membangun karakter anak didik, sedangkan al-Attas menggarisbawahi pentingnya konsep adab sebagai elemen fundamental dalam struktur pendidikan Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep pendidikan berbasis akhlak yang digagas para pemikir tersebut tetap memiliki daya relevansi untuk menghadapi tantangan pendidikan modern, khususnya dalam upaya memperkuat pendidikan karakter, mencegah kemerosotan moral, dan membangun pendekatan pembelajaran yang holistik. Temuan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan kurikulum dan strategi pengajaran yang menjadikan akhlak sebagai pusat dari proses pendidikan secara menyeluruh.

Malelak, Wilsye; Rissi, Marci

Jurnal Silih Asah 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Artikel ini bertujuan untuk memberikan suatu pemahaman tentang bagaimana peran dan tanggung jawab seorang guru dalam mempersiapkan peserta didik menjadi individu-individu yang sesuai dengan kehendak Allah. Peran guru juga sangat penting dalam membentuk karakter spiritual dan perkembangan peserta didik. Dalam konteks pendidikan Agama Kristen, tugas guru tidak hanya terbatas hanya pada aspek akademik, akan tetapi juga mencakup pembentukan moral dan spiritual peserta didik Yang  Berdasarkan Roma 12:2, yang mendorong umat untuk tidak hidup dengan pola dunia ini, tetapi mengalami pembaruan pikiran yang  dapat berkeadaan sesuai dengan kehendak Allah, guru memiliki tanggung jawab dalam mempersiapkan peserta didik agar mampu menghadapi tantangan dunia dengan nilai-nilai Kristiani melalui pembaharuan pikiran. Tanggung jawab guru ini dapat meliputi pendampingan dalam pengembangan pribadi, serta pembentukan karakter yang sesuai dengan ajaran agama kristen.  Dengan demikian, guru tidak hanya  sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual yang menuntun peserta didik untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip moral yang benar yang sesuai dengan pengajaran Alkitab.

Nur Fila, Faricha; Hima, Faiqotul; Nur Hajijah, Dea Siti; Fikriyyah, Nazhifatul; Dian Efendi, Mutiara Karunia Safitri +2 more

Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam 2026 Asosiasi Riset Ekonomi dan Akuntansi Indonesia

Etos kerja dan kewirausahaan ialah aspek penting dalam membangun kesejahteraan individu dan masyarakat, namun dalam praktiknya belum sepenuhnya berlandaskan nilai-nilai keislaman. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai konsep kerja dan kewirausahaan yang bersumber dari ajaran Islam. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep etos kerja dan kewirausahaan berdasarkan tafsir al-Qur’an dan hadits Nabi sebagai landasan moral dan spiritual dalam aktivitas ekonomi. Studi ini memakai metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan melalui penelaahan berbagai literatur berupa buku tafsir, kitab hadits, serta artikel jurnal ilmiah yang relevan dengan tema penelitian. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dan tematik untuk menemukan nilai-nilai utama yang terkandung dalam ajaran Islam terkait aktivitas kerja dan usaha. Hasil kajian memperlihatkan bahwa Islam menekankan nilai kerja keras, kejujuran, tanggung jawab, kemandirian, disiplin, serta orientasi keberkahan sebagai prinsip utama dalam bekerja dan berwirausaha. Kesimpulannya, etos kerja dan kewirausahaan dalam perspektif Islam tidak hanya berorientasi pada pencapaian materi, melainkan juga pada pembentukan akhlak mulia sekaligus kepatuhan kepada Allah sebagai tujuan utama kehidupan.

Nuri Alfitriyani; Zaura Izzati Siagian; Khairina Habib Rangkuti; Elvira Zahratunnisa; Ramadan Lubis

Jurnal Inovasi Pendidikan 2026 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

This study aims to analyze the development of elementary school students (ages 8–9) in terms of physical, cognitive, emotional, social, moral, and spiritual aspects. The research subjects were two third-grade students named Dinul Mumtaz (8 years old) and Alfatir Ramadhan Hendri (9 years old). This study used a qualitative approach, with observation and interviews as the main data collection techniques. The results indicate that both students show physical development appropriate for their age, with well-developed fine and gross motor skills. In the cognitive aspect, both have reached the concrete operational stage, characterized by logical thinking, understanding of cause-and-effect relationships, and the ability to solve tasks using concrete objects. In terms of emotional and social development, Dinul and Alfatir demonstrate the ability to recognize and manage emotions, as well as build positive social relationships with peers and teachers. Moral development shows that both students are in the heteronomous and early conventional stages, where they obey rules due to authority and a desire to gain social approval. Meanwhile, in the spiritual aspect, both students demonstrate good religious habits and an understanding of spiritual values reflected in their daily behavior. Therefore, it can be concluded that the development of both students is in a good category and in accordance with child development theories, supported by positive influences from family and school environments.

Wotur, Angel; Tulangouw, Maria

Jurnal Ilmu Pendidikan Keagamaan Kristen 2025 Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenawa J

Penelitian ini berlatarbelakangi gereja sering terjebak dalam pemisahan antara aspek spiritual (liturgi) dan tindakan sosial (diakonia). Di satu sisi, liturgi sering kali dianggap sebagai seremonial formal yang hanya berlangsung di ruang ibadah, sementara di sisi yang lain, diakonia sering kali diterapkan sebagai tindakan amal yang kurang memiliki dasar teologis yang kuat. Fenomena kemiskinan yang terstruktur dan ketidakadilan sosial mendesak gereja untuk merevisi pemahaman identitasnya. Pemikiran Ronald J. Sider memberikan sudut pandang “belas kasih” yang tidak hanya emosional tetapi juga bersifat struktural dan menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep belas kasih dalam pandangan teologi Ronald J. Sider. Mengembangkan konsep belas kasih tersebut sebagai jembatan teologis yang menghubungkan liturgi dan diakonia. Merumuskan penerapan praktis bagi gereja dalam menjalankan misi yang komprehensif di tengah tantangan sosial dan ekonomi. Metode penelitian ini memanfaatkan pendekatan kualitatif melalui studi literatur. Analisis dilakukan pada karya-karya utama Ronald J. Sider, khususnya yang berkaitan dengan keadilan sosial dan gaya hidup sebagai orang Kristen. Data dianalisis secara deskriptif dan analitis serta diinterpretasikan melalui sudut pandang teologi praktis untuk menemukan relevansinya dengan praktik liturgi dan diakonia saat ini. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada pengintegrasian pemikiran etika sosial Sider ke dalam konteks liturgis. Sementara pemikiran Sider umumnya dibahas dalam konteks sosiologi agama atau etika ekonomi, penelitian ini secara khusus menjadikan “belas kasih” sebagai fondasi liturgi. Ini mengubah cara pandang liturgi dari hanya “ibadah vertikal” menjadi “perayaan keadilan” yang mendorong tindakan diakonia yang transformatif. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa belas kasih menurut Ronald J. Sider adalah bentuk ketaatan yang radikal kepada Kristus yang perlu termanifestasi dalam dua arah: Dalam Liturgi: Belas kasih berfungsi sebagai jiwa yang menghidupkan sakramen dan pemberitaan firman, sehingga ibadah bukanlah penghindaran dari dunia, melainkan pengutusan untuk menjangkau dunia. Dalam Diakonia: Belas kasih mengangkat diakonia dari sekadar bantuan sementara menjadi perjuangan untuk keadilan bagi orang-orang miskin. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa liturgi yang sejati harus menghasilkan diakonia, dan diakonia yang hakiki merupakan wujud dari liturgi yang hidup. Keduanya dihubungkan oleh satu.

Disca Amalia Prastika; Putri, Ria Julia; Gusti, Kamilia Insani; Maulidya, Aulia; Cantika +2 more

Kajian ini membahas aspek-aspek nilai dalam Islam yang berkaitan dengan pengembangan serta penerapan ilmu pengetahuan, dengan penekanan pada pentingnya maqashid al-syariah sebagai dasar etika dalam ilmu. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bahwa ilmu dalam konteks Islam tidak netral dari nilai-nilai, melainkan selalu diarahkan untuk kebaikan bersama, keadilan, dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengeksplorasi konsep dasar nilai dalam ilmu Islam seperti ibadah, amanah, kerahmatan, dan tanggung jawab etis, serta bagaimana prinsip-prinsip maqasid yang mencakup hifz al-dīn, hifz al-nafs, hifz al-‘aql, hifz al-nasl, dan hifz al-māl diterapkan dalam praktik ilmiah masa kini. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa penerapan etika ilmu yang didasarkan pada maqasid dapat menyelaraskan kebebasan berpikir dengan tanggung jawab spiritual, sehingga ilmu dapat menjadi media untuk ibadah dan kebaikan yang universal. Penelitian ini menekankan bahwa mengintegrasikan nilai-nilai dalam Islam ke dalam ilmu pengetahuan merupakan kunci untuk membangun budaya ilmiah yang etis, adil, dan sesuai dengan tantangan era modern.

Nikmatul Khoiriyah; Muhammad Sholih Hafidhuddin; Muh Fatahillah Suparman

AL-MUSTAQBAL: Jurnal Agama Islam 2025 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keseimbangan antara akal dan hati yang mencakup aspek emosional dan spiritual dalam Pendidikan nislam pada siswa MBS Jatinom Klaten. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi langsung terhadap kehidupan siswa di asrama, masjid, dan sekolah. Subjek penelitian terdiri dari sekitar -+ 200 siswa yang setara jenjang SMP dan SMA. Hasil penelitian menunjukan semangat dan fokus belajar siswa cenderung mengalami naik turun. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi emosi, metode pembelajaran guru, dan interaksi sosial antar siswa. Kegiatan spiritual seperti sholat jama’ah, dzikir, halaqoh Qur’an, dan ta’lim berperan dalam pembentukan ketenangan batin dan membantu menstabilkan emosi siswa, sehingga akan berdampak positif terhadap sikap dan konsentrasi belajar. Penelitian ini menegaskan bahwa Pendidikan islam yang ideal perlu mengintegrasikan antara akal, emosi, dan spiritual secara seimbang untuk membentuk siswa yang cerdas, berakhlak dan memiliki kesadaran diri yang baik

Izzatunnisa, Ilma; agus wahyudi, Sigit; Zainuri, Ahmad; Fatimah Zahra, Frika

AL-MUSTAQBAL: Jurnal Agama Islam 2025 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana karakter pendidikan yang mengedepankan penghargaan terhadap keberagaman, pemanfaatan media digital, dan penerapan Kurikulum Berbasis Cinta Kasih dapat saling menguatkan dalam upaya meningkatkan kualitas proses pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah. Dengan menerapkan metode tinjauan pustaka, penelitian ini mengumpulkan berbagai sumber akademik yang membahas tentang nilai toleransi, pendidikan multikultural, inovasi teknologi dalam pembelajaran, serta pendekatan pedagogi berbasis kasih sayang dan empati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang menitikberatkan pada keberagaman dapat membangun rasa saling menghormati antar siswa. Di sisi lain, media digital berperan penting dalam memberikan proses pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan sejalan dengan perkembangan teknologi saat ini. Lebih lanjut, Kurikulum Berbasis Cinta memperkaya pendidikan dengan memperkuat aspek spiritual, emosional, dan moral, sehingga pembelajaran tidak hanya sebatas hasil akademik saja. Penggabungan ketiga pendekatan tersebut dinilai efektif untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, bersahabat, dan sesuai dengan tahap perkembangan siswa. Pada akhirnya, madrasah mempunyai peluang untuk melahirkan generasi yang religius, toleran, dan berkarakter kuat dalam menghadapi perubahan sosial budaya saat ini.

Lathiffah Khoirunnisa; Muh Fatahillah Suparman

AL-MUSTAQBAL: Jurnal Agama Islam 2025 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Perkembangan anak merupakan aspek fundamental dalam pendidikan Islam yang memandang anak sebagai makhluk biologis, psikologis, dan spiritual yang membawa fitrah sejak lahir. Fitrah dipahami sebagai potensi bawaan yang mengarah pada tauhid dan nilai-nilai kebaikan, sehingga pemahaman terhadap fitrah dan tahapan perkembangan anak menjadi dasar penting dalam perancangan pembelajaran yang efektif dan bermakna. Penelitian ini bertujuan mengkaji konsep fitrah anak serta relevansinya dengan proses perkembangan dan pembelajaran dalam perspektif Islam, sekaligus mengidentifikasi pandangan psikologi pendidikan Islam terhadap tahapan perkembangan anak. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah buku ilmiah dan artikel jurnal akademik dari basis data terpercaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa fitrah anak menjadi landasan utama perkembangan dan pembelajaran yang mencakup dimensi spiritual, moral, intelektual, emosional, dan sosial. Psikologi pendidikan Islam memandang perkembangan anak sebagai proses bertahap dan holistik melalui integrasi aspek jasmani, akal, dan rohani dengan prinsip tarbiyah yang gradual dan kontekstual. Pembelajaran menempatkan anak sebagai subjek aktif, berorientasi pada pembentukan karakter dan kesadaran spiritual selain capaian kognitif. Dengan demikian, psikologi pendidikan Islam menawarkan paradigma pendidikan holistik yang relevan dalam mengembangkan potensi anak menuju insan kamil.

Soumilena, Selfiana

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kode etik guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan keteladanan teologis dalam praktik pendidikan di sekolah menengah. Guru PAK tidak hanya dipandang sebagai penyampai pengetahuan kognitif, tetapi juga sebagai teladan hidup yang menghadirkan nilai-nilai Kristiani melalui sikap, perkataan, dan tindakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka terhadap berbagai literatur terkini yang membahas etika profesi guru, teologi pendidikan, serta praktik pendidikan agama Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman guru PAK terhadap kode etik masih bervariasi, mulai dari yang melihatnya sekadar aturan administratif hingga yang menafsirkannya sebagai panggilan iman dan tanggung jawab moral. Keteladanan teologis terbukti menjadi aspek penting dalam implementasi kode etik karena guru PAK dituntut untuk menunjukkan konsistensi antara ajaran iman dan perilaku nyata. Implementasi kode etik dalam praktik pendidikan terlihat dalam pengajaran, relasi interpersonal, dan kerja sama kelembagaan, meski menghadapi tantangan etis seperti dilema nilai, tekanan eksternal, serta pengaruh media digital. Temuan juga menegaskan bahwa kode etik dan keteladanan teologis guru PAK berperan signifikan dalam pendidikan karakter siswa, membentuk integritas, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Kesimpulannya, integrasi antara kode etik profesional dan keteladanan teologis memungkinkan guru PAK menjadi agen transformasi moral dan spiritual yang relevan di tengah kompleksitas pendidikan modern. Penelitian ini menekankan perlunya pembinaan berkelanjutan bagi guru PAK agar mampu menghidupi kode etik dan menghadirkan teladan Kristiani dalam proses pendidikan.

Hatmoko, Haru; Windarti, Maria Titik

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Profesi guru dalam perspektif pendidikan modern dipahami bukan sekadar sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai agen transformasi moral, etika, dan spiritual. Dalam konteks pendidikan Kristen, peran guru semakin signifikan karena dipanggil untuk menghadirkan teladan Kristus dalam seluruh aspek kehidupannya. Penelitian ini mengkaji relevansi keteladanan Yesus dalam Yohanes 13:13–16 dengan praktik pendidikan guru agama Kristen di sekolah. Teks ini menampilkan Yesus yang membasuh kaki murid-murid-Nya sebagai simbol kerendahan hati, kasih, dan pelayanan, yang menjadi dasar teologis bagi peran guru Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologis dan pendidikan, melalui studi pustaka dan wawancara dengan guru-guru di SMA PGRI 22 Serpong. Hasil penelitian menunjukkan lima temuan utama. Pertama, teladan guru Kristen berfungsi sebagai model nyata yang membentuk iman dan karakter siswa. Kedua, praktik mentoring dalam perspektif Alkitab menegaskan pentingnya relasi personal dalam pendidikan iman. Ketiga, keteladanan Yesus menampilkan dimensi servant leadership yang relevan bagi kepemimpinan guru Kristen. Keempat, integritas guru Kristen menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan karena konsistensi hidup lebih berpengaruh daripada sekadar instruksi verbal. Kelima, keteladanan Yesus tetap relevan di era modern karena mampu menuntun peserta didik menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi dengan iman yang tangguh. Dengan demikian, guru agama Kristen dipanggil untuk melayani dengan kasih, rendah hati, dan penuh integritas, sehingga mampu membentuk generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus matang secara spiritual.

Suy, Ina Naomi; Mujiono, John Gershom; Setiawan, Yusak Agus

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peranan guru menurut perspektif Alkitab, khususnya Amsal 23:19–29, dalam mengatasi kenakalan peserta didik di SMP Bhakti Insani Bogor. Fenomena kenakalan remaja di sekolah menjadi tantangan serius yang memerlukan pendekatan holistik, baik dari aspek pendidikan formal maupun nilai-nilai iman. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan guru dalam perspektif Amsal mencakup tiga dimensi utama. Pertama, guru berperan sebagai pengarah jalan yang benar, yakni memberikan bimbingan moral, spiritual, dan sosial agar peserta didik menghindari perilaku yang merugikan diri dan lingkungan. Kedua, guru berperan sebagai pendidik dengan dedikasi, yang diwujudkan melalui perhatian, pengajaran yang membangun karakter, dan keteladanan hidup. Ketiga, guru berperan sebagai penasihat yang mendorong peserta didik menghindari pertengkaran, melatih pengendalian diri, serta membangun relasi yang sehat dengan sesama. Temuan ini menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Amsal 23:19–29 relevan untuk diterapkan dalam konteks pendidikan modern, khususnya dalam pembinaan perilaku siswa. Dengan demikian, penerapan prinsip-prinsip biblis dalam peranan guru dapat menjadi strategi efektif dalam mencegah dan mengatasi kenakalan peserta didik, serta membentuk karakter yang takut akan Tuhan, bertanggung jawab, dan mampu hidup harmonis di tengah masyarakat.

Febrian, Febrian Arif Pratama

Nexus: Journal of Cross-Disciplinary Insights 2025 Yayasan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia yang sering kali diabaikan, meskipun dampaknya besar terhadap kualitas hidup. Artikel ini merupakan kajian literatur yang membahas zikir sebagai terapi psiko-spiritual dalam pengelolaan kesehatan mental umat Muslim dengan pendekatan holistik, yang mengintegrasikan dimensi spiritual dan psikologis. Zikir, sebagai praktik pengingat Allah, diyakini tidak hanya memberikan manfaat spiritual tetapi juga terapeutik, meredakan kecemasan, stres, dan meningkatkan keseimbangan emosional. Kajian ini mengulas berbagai literatur yang menunjukkan bahwa zikir dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dan fisik, dengan meningkatkan variabilitas detak jantung dan meredakan gangguan mental. Pendekatan holistik ini memandang individu sebagai kesatuan tubuh, pikiran, dan jiwa yang saling terhubung. Selain itu, praktik zikir berjamaah juga terbukti memberikan dampak positif dalam memperkuat hubungan sosial antar individu, yang berkontribusi pada kesehatan mental. Zikir berjamaah tidak hanya memperdalam kedekatan spiritual dengan Tuhan, tetapi juga meningkatkan solidaritas sosial yang penting dalam pengelolaan stres dan gangguan mental. Dengan demikian, zikir sebagai terapi psiko-spiritual menawarkan solusi yang komprehensif dalam pengelolaan kesehatan mental umat Muslim, mengintegrasikan dimensi spiritual, emosional, dan sosial

Hidayati, Risky Nur; Bian Avrilibel, Yolanya; Aisyah Siswandi, Alfina; Warda Fauzia, Aisya

Zakat fitrah adalah salah satu kewajiban utama dalam ajaran Islam yang memiliki aspek spiritual dan sosial. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis zakat fitrah dari sudut pandang fiqih Islam, dengan menitikberatkan pada tiga pokok bahasan: kewajiban, waktu pelaksanaan, dan mekanisme penyalurannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui metode studi pustaka, yang merujuk pada literatur klasik (kutub al-turats) maupun kontemporer dalam fiqih Islam dari berbagai mazhab. Temuan menunjukkan bahwa zakat fitrah merupakan kewajiban individu (fardhu ‘ain) yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang mampu, sebagai bentuk pembersihan diri serta solidaritas sosial. Waktu pelaksanaannya telah ditentukan secara khusus, dimulai sejak awal bulan Ramadhan hingga sebelum salat Idulfitri, dengan waktu terbaiknya adalah malam hingga pagi hari sebelum salat dilaksanakan. Dalam distribusinya, mayoritas ulama berpendapat bahwa zakat fitrah harus disalurkan kepada pihak yang berhak (mustahik), terutama fakir dan miskin, dalam bentuk bahan makanan pokok sesuai kebiasaan masyarakat setempat, meskipun sebagian ulama memperbolehkan dalam bentuk uang. Studi ini menekankan pentingnya pemahaman fiqih yang mendalam agar zakat fitrah dapat berfungsi secara optimal sebagai sarana keadilan sosial dan penyucian jiwa dalam kehidupan masyarakat.

Natalia Natalia

jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat 2025 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

This study explores the development of a holistic Christian Religious Education (PAK) curriculum by integrating affective and psychomotor domains into the learning process. The topic is significant because the current PAK curriculum predominantly emphasizes cognitive and doctrinal aspects, resulting in Christian values being taught theoretically without practical application in students’ daily lives. A qualitative descriptive approach was employed to investigate and develop a balanced curriculum model that integrates theory, spiritual internalization, and practical skills. The findings reveal that a holistic curriculum enhances faith internalization and character formation in students, making the learning process more relevant and transformative. Implementation of this curriculum model promotes Christian education as an integrative process encompassing knowledge, attitudes, and practical competencies in real-life contexts.  

Muchlis, Nur Azizah; Reggina Chaerunnisa; Wahyu Nur Eliza

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memegang peranan penting tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga sebagai aspek sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Artikel ini membahas tentang pengertian, dasar hukum, jenis, syarat, perhitungan, dan pengelolaan zakat berdasarkan hukum Islam serta praktiknya di Indonesia. Di dalamnya ditegaskan pentingnya pemahaman konsep nisab dan haul, serta penyaluran zakat kepada delapan golongan penerima sebagaimana tercantum dalam QS. At-Taubah ayat 60. Selain manfaat spiritual, zakat juga memberikan dampak besar dalam mengurangi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi. Namun, pelaksanaan zakat di Indonesia masih menghadapi tantangan berupa rendahnya literasi masyarakat, lemahnya transparansi lembaga zakat, dan kendala hukum. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pendidikan, reformasi kebijakan, dan penguatan kelembagaan agar zakat dapat menjadi sarana efektif dalam membangun masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan.

Nurun Nisa

Jurnal Miftahul Ilmi: Jurnal Pendidikan Agama Islam 2025 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Krisis moral yang melanda dunia pendidikan modern menuntut pendekatan pendidikan karakter yang lebih mendalam dan integral. Meskipun kebijakan seperti Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) telah digulirkan, implementasinya seringkali hanya bersifat simbolis dan tidak menyentuh akar pembinaan jiwa peserta didik. Studi ini mengkaji konsep pendidikan karakter dalam pandangan Ibnu Miskawaih, seorang filsuf Muslim abad ke-10, yang menekankan pentingnya penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs), pembiasaan amal saleh, dan peran akal dalam membentuk perilaku moral. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui telaah kritis terhadap karya utama Ibnu Miskawaih, Tahdzib al-Akhlak, serta sumber sekunder yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep karakter menurut Ibnu Miskawaih tidak hanya menekankan aspek lahiriah, tetapi juga pembentukan moral batiniah melalui integrasi spiritual, intelektual, dan etis. Pendekatannya yang menyeimbangkan akal dan nafsu menjadi sangat relevan dalam merespon degradasi moral, krisis integritas, dan pragmatisme pendidikan saat ini. Studi ini menyimpulkan bahwa pemikiran Ibnu Miskawaih dapat dijadikan fondasi bagi pengembangan kurikulum karakter yang tidak hanya mencerdaskan secara kognitif, tetapi juga membentuk manusia berakhlak dan bermartabat. Studi ini juga merekomendasikan integrasi nilai-nilai klasik Islam ke dalam sistem pendidikan nasional sebagai langkah strategis menuju pendidikan yang transformatif dan berakar pada nilai spiritual.