SciRepID - Scientific Publication Search

Publication Search

54,413 articles from 425 journals · 1,456 citations tracked

Showing 1-3 of 3

Analytics

Garida Zuarisa; DetyMulyanti

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kedokteran 2023 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Tujuan ketiga dari Sustained Development Goals (SDG) yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO) adalah untuk mengakhiri kematian yang dapat dicegah pada neonatus dan balita pada tahun 2030 salah satunya sepsis neonatorum. Sepsis neonatorum biasa diartikan sebagai gejala sistematik infeksi oleh bakteri, virus, dan jamur pada periode neonatal dengan gejala awal yang bervariasi, dari hanya malas minum, hingga syok septik. Sepsis neonatorum masih menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas pada neonatus terutama di negara berkembang seperti Indonesia.  The risk factors of developing neonatal sepsis could be caused by maternal and neonatal risk factors. Faktor risiko ibu antara lain ketuban pecah dini membran (PROM) terutama lebih dari 18 jam, infeksi dan demam ibu selama persalinan, cairan ketuban meconial. Faktor risiko neonatal antaralain prematuritas, berat badan lahir rendah, asfiksia, resusitasi selama persalinan. Dengan mengetahui faktor-faktor resiko yang berperan dalam terjadinya sepsis neonatorum maka kejadian sepsis neonatorum diharapkan dapat dicegah dan dapat diberikan intervensi segera pada bayi yang mengalami sepsis sehingga mngurangi angka mortalitas dan morbiditas.

Dinda Ango; Harismayanti Harismayanti; Andi Nur Aina Sudirman

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan 2023 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram yang bisa menyebabkan Asfiksia Neonatorum. Bayi dengan BBLR memiliki banyak risiko mengalami permasalahan pada sisrtem tubuh, karena kondisi tubuh yang tidak stabil. Kematian perinatal pada bayi BBLR adalah 8 kali lebih besar dari bayi normal. Prognosis bayi dengan BBLR akan lebih buruk bila berat badan semakin rendah. Kematian sering disebabkan karena komplikasi neonatal seperti asfiksia. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan berat badan lahir rendah (BBLR) dengan kejadian asfiksia. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi rujukan dan yang lahir di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe pada tiga bulan terakhir sebanyak 54 bayi dengan tehnik sampling menggunakan purposive sampling. Sampel penelitian ini ada 30 orang. Hasil penelitian uji analisis chi-square didapatkan nilai p-value < α 0,05, maka dapat disimpulkan hubungan berat badan lahir rendah (BBLR) dengan kejadian asfiksia ini diharapkan dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan ibu dan janin selama kehamilan.          

Thania Sumanta; Hariamayanti Hariamayanti; Ani Retni

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir sehingga bayi tidak mampu memasukkan oksigen dan tidak mampu mengelurkan zat asam arang dari tubuhnya, sehingga dapat menurunkan O² (oksigen) . Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi Faktor Risiko Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSIA Kasih Fatimah Kotamobagu. Desain penelitian ini menggunakan kuantitatif pendekatan cross sectional dengan jumlah responden 52 orang. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan Uji Chi-square pada setiap variabel. Hasil penelitian ini didapatkan faktor Risiko Kejadian Asfiksia Pada Bayi Brau lahir antara lain usia ibu (p=0.001), usia kehamilan (p=0.002), berat badan lahir (p=0.000), air ketuban (p=0.002), lilitan tali pusa (p=0.001). Usia ibu (RR : 1.98), usia kehamilan (RR :1.80), berat badan lahir (RR :1.69), air ketuban (RR : 180), lilitan tali pusat (RR : 1.84). Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan usia ibu, usia kehamilan, berat badan lahir, air ketuban, lilitan tali pusat dengan Faktor Risiko Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir. Diharapkan terutama pada bu hamil agar melakukan antenatal care secara teratur agar mudah dideteksi adanya kelainan.