This community service activity was carried out in Walay Village, Abuki District, Konawe Regency. The purpose of this service activity is to foster a new enthusiasm for entrepreneurship for business actors through digitalization to increase MSMEs. The delivery of the service material that we carry out is divided into three stages, namely preparation, counseling/training and discussion. In the preparation stage we collect data from MSME partners to study the situation and conditions of the partners. The results of the evaluation, MSME business participants in Walay Village were grouped based on the use of digital marketing in doing business, namely: As many as 61.90% or 13 participants in MSME digitization activities, did not really understand the use of digital technology in doing business. and there were 38.10% or 8 participants in the MSME digitization activities who had used marketing methods by accepting orders via digital, in this case social media, where social media is Facebook and WhatsApp
This community service activity aims to overcome the problems of UMKM in Wonokerto village, Bandar sub-district. The main problems faced by UMKM players are packaging, lack of business permits, and digital marketing of products. This is the background for community service activities carried out by a team of accounting lecturers at the Institute of Technology and Science Nahdlatul Ulama Pekalongan. The theme of this service is the UMKM Empowerment Workshop in Wonokerto Village in the 5.0 Era Using Digital Marketing Strategies. The aim of this community service is to educate UMKM players about the concept of making attractive packaging, how to obtain business permits and how to market products digitally. The methods used in community service activities are field observation, preparing activity plans, creating activity materials, implementing activities as well as monitoring and evaluation. This service can open the minds of UMKM in Wonokerto village, Bandar sub-district, so that they can develop themselves through digital marketing training which can later improve economic prosperity in the future.
Empowerment is an effort to awaken the strength and potential of the community which is based on the local community through a participatory approach and learning together. The purpose of empowerment is the condition to be achieved either from a social change which becomes a more empowered society, has the power as well as the knowledge and ability to be able to better fulfill their life needs. Economic empowerment is said to be important because this empowerment will create increased welfare for the community. The aim of this sweet potato processing innovation is to increase the community's skills in processing sweet potatoes which are a staple food that is usually baked and boiled into a product that has economic value. The counseling activity was carried out using the Cooking Demo method, the community seemed very enthusiastic about following the process of making Tarajju cakes, this can be seen from the many people who asked and wanted to get a complete explanation of the process of processing sweet potatoes into cakes.
Pregnancy exercise is a movement therapy therapy given to pregnant women to prepare themselves both physically and mentally for childbirth. Pregnancy exercise is needed by every pregnant woman, because it can make the body fit and healthy, and able to carry out daily activities, so that stress due to anxiety before giving birth can be minimized. However, many pregnant women do not do pregnancy exercise because they are unsure and afraid of their pregnancy if they do pregnancy exercise. Pregnancy exercise exercises that are carried out regularly both at the gym and at home in their spare time can lead pregnant women towards a physiological delivery as long as there are no pathological conditions accompanying the pregnancy. The purpose of Community Service in the Work Area of the Caile Health Center is to increase the ability of pregnant women and cadres to practice pregnancy exercises, so that they will increase the knowledge and health of pregnant women and prepare for childbirth. This community service activity begins with training for existing Posyandu cadres, providing supporting facilities and infrastructure in the form of leaflets and modules for pregnant women exercise, and doing pregnancy exercises in home care. The results of this Community Service activity are the formation of pregnancy exercise cadres, pregnant women can practice pregnancy exercise at home, as well as the provision of facilities and infrastructure in the form of leaflets and pregnancy exercise modules
Efforts to produce quality healthy and intelligent children are a priority for the national development program. In achieving this goal, of course, requires the involvement of many parties. The strategic thing is to empower families to be able to provide and carry out optimal and proper parenting for their children. So far, toddler development monitoring services have been carried out at Posyandu. The quality of services at Posyandu can be improved by involving families/parents in it, with the family empowerment movement. Purpose: Optimizing parental guidance for children in their growth period. To help emotional maturity and independence in facing life by applying proper parenting. Method: Mechanism of community service actifities (1) We introduces ourselves to the person in charge, cadre, parents of toddlers at the Posyandu, conveys information, explains the purpose and procedure of “Studying at My Children’s Home.” (2) Conduct a pre test to asses parental knowledge about family empowerment in child rearing efforts. (3) Carrying out educational/health counseling interventions regarding parental knowledge about family empowermwnt in children efforts, packaged with “Studying at My Children’s Home” activities. (4) Carrying out a post test after the intervention. (5) Analyzing data. Results: From 140 respondents, 93 people or 66.43% got good benefits. 37 people or 26.43% got sufficient benefits, and 10 people or 7.14% did not get significant benefits from “Studying at My Children’s Home” activity. Conclusion: The “Studying at My Children’s Home” activity gives a new situation to the counseling method in society or the community. With 3 (three) main activities (1) modeling/give examples (2) Repetition and (3) Reinforcement/strengthening for something good. At the end of this community service activity, it was generally found and increase in family understanding and empowerment in childcare.
Penelitian tentang manajemen inovasi ini dilaksanakan di Kampung Wisata Jodipan Malang yang awal berdirinya menjadi pusat perhatian masyarakat baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Kampung Wisata Jodipan menjadi salah satu wisata pemberdayaan masyarakat yang merubah kampung kumuh menjadi kampung yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Namun, dewasa ini menjadi salah satu destinasi pariwisata yang mengalami penurunan jumlah pengunjung. fasilitas wisata yang sudah mulai kusam dan rusak, kurangnya perhatian pemerintah dan warga untuk mengelola. Sehingga, kondisi yang dialami kini berdampak pada perekonomian masyarakat. Untuk itu, tujuan penelitian ini adalah dengan adanya kondisi sekarang ini perlu untuk dilakukan kajian manajemen inovasi yang menjadikan Kampung Wisata Jodipan lebih maju dari sebelumnya. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Temuan hasil penelitian menjelaskan bahwa belum adanya strategi khusus dalam meningkatkan jumlah pengunjung wisata. Maka, melalui analisis ilmu manajemen inovasi dapat dicari alternatif pemecahan masalah dengan menerapkan 4 fungsi tahapan manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Implikasi dari hasil penelitian jika dapat berjalan dengan baik maka dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui gambaran kinerja kerja, kerjasama tim dan kemampuan kerja; (2) menganalisis pengaruh kerjasama tim dan kemampuan kerja terhadap kinerja pegawai baik secara parsial maupun secara simultan. Populasi dalam penelitian ini adalah Pegawai Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Sikka, berjumlah 35 orang. Karena populasinya terbatas, maka penelitian ini dilakukan secara sensus atau sampling jenuh. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan metode deskriptif dan statistik inferensial yaitu regresi linier berganda. Pengujian hipotesis dilakukan melalui uji t dan uji F. Hasil analisis deskriptif menunjukan bahwa variabel kinerja pegawai, kerjasama tim dan kemampuan kerja dikategorikan baik. hasil statistik uji t menunjukkan bahwa secara parsial variabel kerjasama tim dan kemampuan kerja berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kinerja pegawai. Hasil statistik uji F menunjukkan bahwa secara simultan variabel kerjasama tim dan kemampuan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai. hasil analisis determinasi menujukan variabel kerjasama tim dan kemampuan kerja mampu menjelaskan terhadap variasi naik turunnya kinerja pegawai Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Sikka sebesar 19,4%.
Permasalahan kesehatan di masyarakat sangat kompleks. Salah satunya adalah hipertensi. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang angka kejadian dan komplikasi yang diakibatkannya terus meningkat dari waktu ke waktu. Kondisi tenaga kesehatan yang terbatas membutuhkan keterlibatan Kader kesehatan sebagai pemberdayaan masyarakat agar masyarakat paham tentang Hipertensi. Selain itu, masyarakat tidak rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah. Kegiatan pengabdian ini dilakukan bertujuan untuk mengimplementasikan program berbasis masyarakat yang memfasilitasi masyarakat dalam membentuk kelompok masyarakat peduli Hipertensi dan menambah ilmu, serta perilaku yang baik tentang penatalaksanaan Hipertensi di Kec.Takeran Kabupaten Magetan. Metodologi kegiatan pengabdian ini adalah one group pre post design dengan pelatihan kelompok peduli hipertensi pada penderita hipertensi dan ibu-ibu PKK yang diukur pengetahuan sebelum dan seseudah pelatihan. Instrumen yang digunakan adalah kuisioner pengetahuan dan pengukuran tekanan darah. Hasil yang dicapai setelah melakukan penyuluhan yaitu mitra dalam hal ini PKK Kelurahan Takeran, Kabupaten Magetan yang mengikuti penyuluhan, memiliki Kader Antihipertensi, serta Pengetahuan mitra dalam hal ini peserta penyuluhan tentang cara pencegahan dan pengendalian hipertensi meningkat sebesar 44,62 % dari 48,88 % menjadi 93,5% setelah mengikuti penyuluhan.
Kreativitas sangat diperlukan dalam pengembangan bisnis UMKM saat ini guna membantu proses pengembangan UMKM kreatif agar lebih bersemangat dalam menciptakan inovasi di masa pandemi ini sehingga akan membantu pertumbuhan ekonomi agar UMKM dapat bertahan. Inovasi bisa berupa menghasilkan produk berkualitas dengan biaya rendah dan teknik penjualan sederhana namun efektif. UMKM merupakan salah satu pilar penting perekonomian Provinsi Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Banyumas. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk memfasilitasi UMKM dengan berbagai macam cara promosi yang kreatif dan inovatif untuk mempertahankan keberlangsungan usaha. Salah satu cara promosi tersebut adalah lewat partisipasi dalam pameran UMKM. Banyaknya bangunan bersejarah menjadikan Kecamatan Banyumas lokasi yang cocok untuk pelaksanaan pameran UMKM sebagai ruang insan kreatif untuk mengeksplorasi ide, berkarya dan berjejaring. Maka dari itu, sesuai dengan IKU kelima dimana hasil kerja dosen digunakan oleh masyarakat, hasil riset yang dilakukan sebaiknya memberikan manfaat besar bagi masyarakat sekitar. Target luaran PKMS ini adalah seminar nasional pengabdian masyarakat, jurnal nasional pengabdian masyarakat, media massa, video kegiatan, HKI, dan peningkatan pemberdayaan mitra. PKMS ini diharapkan bisa menghasilkan inovasi dan kreasi yang dapat meningkatkan omset para pelaku usaha UMKM secara kontinu dan tetap menjadi solusi bagi mitra UMKM di tahun – tahun akan datang..
The purpose of this study is to determine the effectiveness and constraints of Village Assistant in increasing empowerment through village-owned enterprises in the Village of pengudang. This research uses a qualitative descriptive type approach using 3 indicators of effectiveness, according to Duncan in Dewi Nurmalasari et al (2021), which are Goal Achievement, Integration and Adaptation. The results of research of achieving goals carried out by village assistants have been running according to their goals targeting people who are still lacking in understanding Bumdes, Integration, it is necessary to increase the training socialization process for each member/administrator, Adaptation, village assistants have approached and adjusted to the community especially the Bumdes management and bringing about changes in the field of administrative reporting. Then the obstacle or inhibiting factor is the lack of community participation and commitment, and changes in regulations which are obstacles in the mentoring process. The conclusion in this study is that the presence of village assistants in assisting the government in Pengudang village to increase empowerment through BUMDES can be said to have been effective according to the directions and mandate given by the central government. In the future, socialization is needed.
The background of this research is that some micro business actors have been out of business due to the pandemic, and only a small number of micro business actors have been empowered by the Pekanbaru City Cooperatives (diskop) and UMKM Office. This study aims to: (1) find out how the empowerment of micro-enterprises by Diskop and UMKM in Pekanbaru City; and (2) knowing the factors that influence the empowerment of micro business actors by Pekanbaru's Diskop and UMKM. This type of research is qualitative research. There were six informants in this study, and one key informant. The results of this study are: (1) the empowerment of micro-entrepreneurs by the Diskop and UMKM in Pekanbaru City has fulfilled the aspects of good empowerment, because there are already aspects of enabling, empowering, and protecting. The enabling aspect is known from the efforts to collect data on the potential of micro-entrepreneurs. Then the empowering aspect is known from the activities of forming business partnerships, empowering business institutions, coordinating and synchronizing micro business actors with regional stakeholders. Meanwhile, the aspect of protecting is protecting micro-enterprises from adverse events resulting from medium and large business actors through legal protection and advocacy assistance; (2) the empowerment of micro business actors by the Diskop and UMKM in Pekanbaru City is known from two factors, namely internal factors and external factors. Internal factors are factors originating from the Pekanbaru City Diskop and UMKM, such as the limited budget for empowering micro-entrepreneurs. External factors are related to micro business actors, such as the desire to be empowered but not empowered by the Office. In addition, there are some micro business actors who do not support empowerment activities carried out by the office, because they are considered to be less needed by micro business actors. The research suggestions are: (1) micro-entrepreneurs should be given socialization regarding the importance of participating in various empowerment programs by the Pekanbaru City Diskop and UMKM; (2) the importance of increasing the implementation budget for various micro business empowerment activities so that many micro business units can be empowered.
Gideon S. Budiwitjaksono, dkk. (2022). Pelatihan Kerajinan Batik Dalam Rangka Mewujudkan Kampung Batik sebagai Ikon Khas Kelurahan Pakal. Literasi : Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, Volume 2, Nomor 2. Hal. 675-683.
Halim, L., & Yunita, I. (2019). Strategi Pelatihan Hidroponik Sebagai Pemberdayaan Masyarakat Yang Bernilai Ekonomis. Jurnal Patria, 1(2).
Roidah, I. S. (2015). PEMANFAATAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM HIDROPONIK. Jurnal BONOROWO, 1(2), 43-49–49.
Sulistyawati, M. Maulana, F. Tentama, S. Asti, dan T.W. Sukesi. 2019. Pendampingan Pembuatan Sistem Hidroponik dan Pengolahan Sampah Organik. Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat. Vol. 3. No. 1. Hal: 77-82.
Wibowo, S., & S, A. A. (2013). Aplikasi Hidroponik NFT pada Budidaya Pakcoy (Brassica rapa chinensis). Jurnal Penelitian Pertanian Terapan, 13(3), Article 3. https://doi.org/10.25181/jppt.v13i3.180
The development and progress of tourist attractions, in this case a tourist village, are largely determined by the readiness of their human resources, especially tour guides, especially from a technical point of view. Guides, from a technical and communication point of view, are increasingly able to captivate visitors, making them feel at home more and more. In addition, tourism product marketing that has not been maximized, especially the promotion of tourism products through digital media, has slightly hampered the introduction of tourism village products where the role of digital marketing is so important, especially those based on the web and social media. Recognizing such a mindset, the solution offered is to hold education and training (training) along with mentoring for tourism HR in the Tunjungan Tourism Village. Provision and capacity building according to the Indonesian National Work Competency Standards (SKKNI) absolutely must be provided, covering knowledge, skills, and attitude. As well as being given knowledge about the basics of excellent service and tour guides.
Tunjungan Tourism Village Community Empowerment Through Technical Guidance Capacity building and Capability of Tourism human resources, which has been implemented, has resulted in the participation of participants (the target
audience) who expressed satisfaction and enthusiasm. Participants (the target audience) also hope that in the following year there will be ongoing activities to increase knowledge, skills, and attitudes for tourism HR in the Tunjungan Tourism Village.
Teori ini menjelaskan tentang adanya tingkat pengangguran dalam terhadap relevansi tingkat tengan kerja yang mengalami sebuah wacana dalam pemberdayaan masyarakat yang menimbulkan jumlah penduduk miskin terbanyak dalam mengatasi adanya pemberataskan kemiskinan dalam relevasi tenaga kerja ini sebagai tingkat pertumbuhan dalam membangun manusia dalam makro ekonomi yang cukup kuat selama lebih dari satu dekade ini secara berlahan telah mampu menurunkan angka pengangguran di Indonesia. Namun, dengan kira-kira dua juta penduduk Indonesia yang tiap tahunnya terjun ke dunia kerja, adalah tantangan yang sangat besar buat pemerintah Indonesia untuk menstimulasi penciptaan lahan kerja baru supaya pasar kerja dapat menyerap para pencari kerja yang tiap tahunnya terus bertambah; pengangguran muda (kebanyakan adalah mereka yang baru lulus kuliah) adalah salah satu kekhawatiran utama dan butuh adanya tindakan yang cepat. Dengan jumlah total penduduk di Indonesia dalam terjadinya permasalahan perekonomian menjadi salah satu permasalahan yang sensitif dalam kehidupan masyarakat, karena dengan adanya gangguan dalam perekonomian secara otomatis masyarakat merasakan kesulitan dalam menjalankan kehidupan serta akan berdampak atau memicu permasalahan lainnya, seperti kesehatan, sosial dan lain sebagainya. Dengan demikian, masyarakat memprioritaskan memenuhi kebutuhan primer kemudian kebutuhan sekunder dengan menggunakan prinsip berbasis ilmu ekonomi. Isu-isu penting (yang merupakan tanggung jawab pemerintah) adalah penguatan sumber daya manusia Indonesia (sumber daya manusia mengacu pada pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan seorang karyawan). Ini berarti bahwa investor lebih suka berinvestasi di negara lain (di mana kualitas pekerja lebih tinggi), sehingga menyebabkan hilangnya peluang dalam hal penciptaan lapangan kerja di Indonesia.
STRATEGI DAKWAH BIL HAL BERBAGI SAYUR GRATIS OLEH
PERGURUAN SILAT PERSAUDARAAN SETIA HATI WINONGO
DI KABUPATEN MAGETAN JAWA TIMUR
Anggie Novita, Davita Dyah Ayu Puspitasari, Andhita Risko Faristiana
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah
Institut Agama Islam Negeri Ponorogo
Email : anggienovita8523@gmail.com, ayup1178@gmail.com, andhitarisko@iainponorogo.ac.id
ABSTRAK
Sesuai dengan pergeseran sosial selama periode reformasi saat ini, di mana pidato lisan kadang-kadang berjumlah sedikit lebih dari hiasan bibir lipstik karena tidak ada bukti nyata, Oleh karena itu, dakwah perlu dilakukan dengan contoh positif untuk mendukung proses reformasi. Dakwah bil Hal merupakan jalan yang baik karena dakwah bil-hal mencakup semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan manusia, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan material, fisik, dan ekonomi. Seperti kegiatan berbagi sayur gratis oleh perguruan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Winongo. Teknik pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, yang memungkinkan untuk produksi data deskriptif selanjutnya dalam bentuk kata-kata dan tulisan serta perilaku yang ditemukan melalui pengamatan subjek penelitian. Peneliti menggunakan strategi ini karena tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan penyebab di balik penyelenggaraan acara berbagi sayuran gratis. Menurut pemaparan pembahasan penelitian di atas dapat diperoleh kesimpulan dengan adanya kegiatan berbagi sayur gratis di Magetan Desa Duyung Takeran, adapun pelaksana dari kegiatan tersebut yaitu organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo di Desa Duyung. Tujuan diadakanya kegiatan tersebut adalah semata-mata karena munculnya rasa kepedulian kepada masyarakat di masa pandemi Covid-19 di tahun 2020 dengan membantu sedikit kebutungan ekonomi berupa bahan pangan yang berlanjut hingga tahun 2023.
ABSTRACT
In keeping with the social shifts during the current reform period, where oral speech sometimes amounted to little more than lipstick lipstick decoration because there was no concrete evidence, therefore, da'wah needs to be done with positive examples to support the reform process. Da'wah bil Hal is a good way because da'wah bil-hal covers all matters related to human needs, especially those related to material, physical, and economic needs. Such as free vegetable sharing activities by the Persaudaraan Setia Hati Winongo pencak silat college. The technique of qualitative approach is used in the study, which allows for the subsequent production of descriptive data in the form of words and writing as well as behaviors found through the observation of the research subject. Researchers used this strategy because the purpose of the study was to determine the cause behind organizing free vegetable sharing events. According to the presentation of the research discussion above, conclusions can be obtained with the free vegetable sharing activity in Magetan, Takeran Duyung Village, as for the implementer of the activity, namely the Persaudaraan Setia Hati Winongo organization in Duyung Village. The purpose of holding this activity is solely because of the emergence of a sense of concern for the community during the Covid-19 pandemic in 2020 by helping a little economic struggle in the form of food which continues until 2023.
PENDAHULUAN
Islam merupakan agama yang diturunkan Allah SWT kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai nabi dan rasul terakhir untuk dijadikan pedoman bagi seluruh manusia hingga akhir zaman (H. A.Kadir Sobur : 2013). Dimana agama Islam menugaskan umatnya untuk menyebarluaskan dan mensiarkan Islam kepada seluruh umat atau biasa disebut dengan agama dakwah. Islam tidak hanya menugaskan melainkan juga mengajak agar umatnya mampu menerima sekaligus melaksanakan ajaran-ajaran yang ada di dalam Islam, maka dari itu perlunya metode dakwah bil-hal yang tepat seperti tolong-menolong antar masyarakat dikarenakan manusia merupakan makhluk sosial yang artinya tidak bisa untuk hidup sendiri tanpa adanya bantuan orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ
(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah shalat, dan tunaikanlah zakat.” Akan tetapi, kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang. Al-Baqarah [2]:83
Strategi dakwah merupakan suatu proses yang mengatur, mengarahkan, serta menentukan cara dan upaya apa yang dapat menghadapi sasaran dakwah pada situasi ataupun kondisi tertentu agar bisa menjadi tujuan dan sasaran dakwah yang tercapai secara maksimal (Syamsul Munir Amin;2008:165). Bentuk nyata strategi dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat di Madinah yaitu dengan membangun masjid sebagai pusat kegiatan dakwah, melakukan perjanjian dengan kaum Yahudi Madinah yang mana berisikan tentang memperkuat posisi kaum muslimin dari gangguan penduduk asli, Yahudi maupun bangsa Arab.
Selanjutnya mempersaudarakan kaum Muhajirin dan anshor yang mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menganjurkan kepada kaum Muhajirin dan Anshar untuk saling bersaudara dan menentang keras akan adanya kesukuan, bentuk strategi dakwah yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang terakhir yakni membangun ekonomi rakyat dengan mendirikan pasar di mana pasar ini dijadikan untuk sarana berdakwah yang pada umumnya pasar adalah tempat ramai para masyarakat atau kaum berkumpul untuk mencari kebutuhan atau keperluan.
Dakwah adalah upaya untuk mengubah perspektif orang dari yang buruk ke yang baik. Dari kufur ke iman, dari kemiskinan ke kekayaan, dari perpecahan ke persatuan, dan dari kemaksiatan menuju ketaatan untuk menerima rahmat Tuhan (M.Qoddaruddin A. : 2019). Dakwah lebih menekankan pada inisiatif untuk meningkatkan motivasi daripada mempromosikan penghindaran tindakan yang dilarang oleh keyakinan agama. Perbuatan larangan suatu tindakan adalah tindakan hukum spasial. Dakwah dalam konteks sekarang bukan merupakan tindakan hukum, meskipun faktanya diakui bahwa dakwah dan hukum dapat hidup berdampingan.
Tujuan dakwah adalah untuk membuat Islam dikenal orang-orang pada tingkat individu dan sosial untuk membuat kasih sayang Islam dikenal oleh semua makhluk hidup sebagai "Rahmat Lil'alamen" (Pimay, 2005: 35-38). Agar kesinambungan ajaran Islam dan penganutnya dari generasi ke generasi tetap terjaga, dakwah dapat menjaga nilai-nilai Islam di kalangan umat Islam dari satu generasi ke generasi berikutnya. Fungsi dakwah lainnya adalah fungsi korektif, yang melibatkan meluruskan nilai-nilai yang bengkok, menghentikan kejahatan, dan menyelamatkan manusia dari kegelapan spiritual (Sayyid Quthub :1991).
Metode dalam menyampaikan dakwah Islam dapat dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu lisan, tulisan, dan perbuatan. Pendekatan bil lisan adalah dakwah yang berfokus pada kemapuan lisan. Pendekatan bil-risalah adalah dakwah melalui tulisan seperti buku, brosur, atau media elektronik. Selanjutnya dakwah dengan metode bil-hal yaitu dakwah yang berfokus pada aksi atau kreativitas perilaku da’i secara luas (perbuatan nyata).
Da'wah bil hal juga dikenal sebagai dakwah bil Qudwah, yang mengacu pada dakwah yang sebenarnya melalui penggunaan Akhlaq Karimah. Menurut Buya Hamka, yang menyatakan bahwa "Akhlaq adalah sebagai alat dakwah, yaitu etika pikiran yang dapat dilihat orang, bukan dalam ucapan tulisan yang manis dan menarik tetapi dengan etika yang baik. luhur," ini sesuai dengan pernyataan (Suisyanto : 2002)
Efek globalisasi di dunia dakwah adalah pengalaman yang sangat dirasakan karena kita memahami pentingnya. Semua Muslim memiliki tanggung jawab untuk melakukannya, terutama mereka yang memiliki pengetahuan tentang Islam. Sampai sekarang, lebih banyak dakwah telah dilakukan dengan menggunakan strategi lisan yang mencakup lebih banyak elemen kognitif.
Sesuai dengan pergeseran sosial selama periode reformasi saat ini, di mana pidato lisan kadang-kadang berjumlah sedikit lebih dari hiasan bibir lipstik karena tidak ada bukti nyata, Oleh karena itu, dakwah perlu dilakukan dengan contoh positif untuk mendukung proses reformasi. Sangat penting bagi dakwah untuk memainkan peran positif menyiratkan bahwa fokus pada sikap perilaku afektif ditempatkan pada amal nyata serta aspek lisan, lebih tulus, dan kurang mendalam. Ini menunjukkan bahwa seruan hadir. Dakwah lisan juga diimbangi dengan sedekah konkret yang dapat diamati secara empiris dan dapat digunakan untuk memobilisasi kesadaran tujuan dakwah. Untuk melakukan itu, seseorang harus mempertimbangkan bagaimana gaya dakwah bil-hal dapat mengatasi masalah ini.
Menurut Manual Dakwah (Harun, 10-14), dakwah bil-hal mencakup semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan manusia, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan material, fisik, dan ekonomi. Ini menempatkan fokus yang lebih besar pada pertumbuhan pribadi dan kesejahteraan masyarakat untuk meningkatkan standar hidup Anda sesuai dengan doktrin Islam.
Pengembangan kegiatan dakwah dapat berupa: 1) kegiatan transmigrasi, 2) pelaksanaan pendidikan masyarakat, 3) kegiatan koperasi, 4) perbaikan gizi masyarakat, 5) pelaksanaan usaha kesehatan masyarakat, seperti rumah sakit, 6) penciptaan lapangan kerja, 7) pelaksanaan panti asuhan, dan 8) peningkatan pemanfaatan media komunikasi dan seni budaya. Untuk mencapai hasil yang diinginkan, Nabi Muhammad (saw) menggunakan dakwah bil hal di bidang amal.
Dakwah menunjukan akan adanya organisasi dakwah untuk menjalankan fardhu kifayah disebut dakwah dan juga pelaksanaan dakwah perorangan terhadap hubungan dan juga kriteria disebut tabligh. Perlunya memiliki sikap berbagi antar sesama merupakan salah satu perilaku yang sangat baik diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang mana dapat membangun kesadaran pada masyarakat untuk berbagi pada sesama untuk bisa membantu walaupun hal tersebut tidak mudah untuk dijalankan, dilihat dari masih sedikit yang memiliki kesadaran untuk berbagi pada sesama manusia.
Dalam hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi organisasi yang ada di Indonesia yang mana perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya berbagi dengan sesama, salah satu organisasi yang berperan dalam konsentrasi berbagi yaitu perguruan Persaudaraan Setia Hati Winongo dalam program berbagi sayur gratis. Kegiatan berbagi sayur gratis ini berawal dari mewabahnya virus Covid-19. Organisai PSHW di Desa Duyung ini termotivasi untuk mengadakan kegiatan berbagi sayur gratis karena melihat kondisi masyarakat yang terkena dampak dari virus Covid-19 dengan maksud membantu sedikit kebutuhan pangan masyarakat.
Berdasarkan latar belakang di atas maka akan muncul masalah di mana peran perguruan Persaudaraan Setia Hati Winongo di kabupaten Magetan dalam menerapkan nilai-nilai dakwah bil hal melalui program berbagi sayur gratis. Dalam hal ini penulis melakukan penelitian lebih lanjut terhadap program berbagi sayur gratis dengan judul: “Strategi Dakwah Bil Hal berbagi sayur gratis oleh perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Winongo di Kabupaten Magetan Jawa Timur”.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Duyung Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur Indonesia. Alasan memilih tempat ini dengan pertimbangan bahwa peneliti tertarik dengan program kegiatan berbagi sayur gratis oleh organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo. Waktu penelitian dilaksanakan pada 28 Mei 2023.
Teknik pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, yang memungkinkan untuk produksi data deskriptif selanjutnya dalam bentuk kata-kata dan tulisan serta perilaku yang ditemukan melalui pengamatan subjek penelitian (Sugiyono, 2017). Peneliti menggunakan strategi ini karena tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan penyebab di balik penyelenggaraan acara berbagi sayuran gratis.
Berbeda dengan penelitian kuantitatif, temuan penelitian kualitatif dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara, dokumentasi, studi kasus, dan metode lain daripada dengan prosedur statistik atau jenis perhitungan lainnya. penelitian kualitatif semacam ini disebut fenomenologi kualitatif, sebuah atau metode yang menekankan filsafat untuk menyelidiki pengalaman peserta penelitian. Fenomenologi diartikan sebagai cara berpikir yang menggunakan tahapan-tahapan yang dilakukan secara rasional, kritis, dan tidak didasarkan pada spekulasi bias belaka untuk menghasilkan informasi baru atau mengembangkan pengetahuan yang ada.
Data dapat dikumpulkan dengan dua cara: melalui metode pengumpulan data primer, dan melalui data sekunder. Data primer merupakan sumber data penelitian yang diterima langsung dari sumber asal, tanpa menggunakan perantara, menurut Nur Indrianto dan Bambang Supomo (2013: 142). Organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo, yang menawarkan acara berbagi sayuran gratis, dihubungi untuk penelitian pengumpulan data utama proyek menggunakan metodologi wawancara langsung.
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diterima peneliti secara tidak langsung melalui perantara (diperoleh dan didokumentasikan oleh pihak lain), menurut Nur Indrianto dan Bambang Supomo (2013-143). Untuk memeriksa laporan, tujuan penelitian ini adalah untuk meninjau literatur. Literatur dan buku domuken yang relevan dengan penelitian ini dan dapat mendukung penelitian ini merupakan contoh sumber data sekunder yang memiliki sifat pendukung bagi proses penelitian dan memenuhi kebutuhan data primer.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Apa Itu Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW)?
Pada tahun 1903 Ki Ngabehi Soerodwirdjo mendirikan perguruan pencak silat yang diberi nama Sedulur Tunggal Kecer atau STK yang bertempat diDesa Tambak Gringsing, Kota Surabaya. setelah itu pada tahun 1966 berdirilah Perguruan Setia Hati Winongo yang didirikan oleh Bapak Raden Djimat Hendro Soewarno yang merupakan murid kesayangan dari Ki Ngabehi Soerodwirdjo. Persaudaraan Setia Hati Winongo berada di Desa Duyung, Kecamatan Mangunharjo, Kota Madiun, nama persaudaraan pencak silat tersebuut diambil dari nama Desa letak didirikannya. Awal berdiri perguruan pencak silat ini diajarkan pelajaran pencak silat yang berasal dari para pendekar terkenal pada zaman Ki Ngabehi Soerodwordjo, Sasaran utama perguruan ini pada saat itu merupakan generasi-generasi muda. Dalam mencari generasi baru pada saat itu Persaudaraan Setia Hati Winongo menamai dengan “Tunas Muda”, yang memiliki arti “Setia hati yang akan bersinar Kembali” dimana Gerakan tunas muda tersebut pertama kali populer dan digunakan pada berdirinya Persaudaraan Setia Hati Winongo, yang mana diharapkan generasi muda dapat menjadi penerus yang berguna bagi kepentingan bangsa dan negara.
Pada saat penerimaan anggota baru Tunas Muda Winongo harus diadakannya pengesahan terlebih dahulu dengan adanya pengesahan maka akan resmi menjadi warga atau anggota baru. Tidak hanya itu ilmu-ilmu setia hati hanya boleh diketahui oleh warga yang telah diresmikan dan dilarang bagi warganya untuk mengajarkan kepada selain warga. Adanya pelajaran tingkat lanjut mau diikuti atau tidak itu tergantung kesadaran dari warga dari Setia Hati winongo tersebut, karena dalam mengikuti peruguruan ini tidak ada unsur paksaan. Persaudaraan Setia Hati Winongo selain berada di Madiun, tidak pernah membuka cabang perguruan pencak silat dimanapun, kalaupun ada kemungkinan itu hanya dijadikan tempat berlatih ataupun juga kunjungan silaturahmi. Seseorang yang ingin bergabung pada perguruan ini baik dari luar madiun atau bahkan mancanegara tetap saja saat pengesahan dilakukan dimadiun, karena sebagai pusat awal berdirinya perguruan setia hati winongo. Hal tersebuut dilakukan agar tetap menjaga kemurnian aliran setia hati winongo dan karena hal ini juga yang mana menjadikan ikatan persaudaraan dalam perguruan ini sangat kuat antara satu warga dengan yang lain.
Ajaran dasar mengeai kesetia hatian yang sangat erat dalam Persaudaraan Setia Hati Winongo, anggota yang baru masuk harus segera disahkan sebagai Warga agar ikatan emosional dan fisik yang bersangkutan dengan perguruan tidak terlepas, dari adanya ini menjadikan momen-momen yang mengikat solidaritas atau dapat menumbuhkan rasa kekompakan dengan seiring berjalannya proses pengesahan sehari semalam yang mana dapat membentuk kuatnya ikatan persaudaraan dan kesetiaan. Persaudaraan setia hati yang mana memiliki arti “satu rasa, satu jiwa, untuk saudara”, maka selain mengamalkan seni bela diri menggabungkan antara bela diri dengan peragakan seni tarinya, dalam Persaudaraan Setia Hati Winongo.
Para peneliti telah menemukan bahwa mayoritas penganut Winongo Setia Hati mengikuti Persaudaraan Pencak Silat, lebih menyukai kekerabatan antara penganut Winongo Setia Hati daripada praktik seni bela diri, dengan tujuan menjalin ikatan persahabatan yang kuat untuk mencapai tingkat fanatisme yang sangat tinggi antara penganutnya dan Persaudaraan Hati Setia Winongo itu sendiri, serta membangun harga diri untuk selalu dihormati dan disegani dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan Berbagi Sayur Gratis Perguruan Setia Hati Winongo di Kabupaten Magetan Jawa Timur
Pada saat adanya pandemic Covid-19 banyaknya masyarakat yang kesulitan sebab tidak diperbolehkannya keluar untuk beraktivitas yang mengakibatkan kondisi ekonomi mereka terpuruk. Pentingnya memiliki rasa peduli terhadap sesama untuk bisa saling membantu satu dengan yang lain. Menurut Hurlock (1980) Seseorang yang tindakannya bermanfaat bagi orang lain akan merasa sangat berarti di lingkungan mereka dan memiliki konsep diri yang positif atau ke atas. Namun, konsep diri seseorang akan condong negatif atau turun jika mereka percaya bahwa apa yang mereka kontribusikan kepada lingkungan mereka tidak ada artinya. Ketika orang terhubung dengan cara yang bermanfaat satu sama lain, mereka dapat memperoleh pengalaman yang mengubah cara mereka memandang diri mereka sendiri.
Adanya pandemic Covid-19 yang mana dapat menumbuhkan rasa keperdulian antar sesama karena mengupayakan agar dampak yang terjadi tidak parah. Sepertinya halnya yang dilakukan oleh Persaudaraan Setia Hati Winongo dikabupaten Magetan Jawa Timur. Yang mana tercetuskannya ide ini karena atas kesadaran sikap tolong menolong pada diri mereka masing-masing, dan mereka juga melihat pada daerah-daerah sekitar yang menerapkan hal ini lalu dimusyawarahkan dan dapat terealisasikan pada tahun 2020 yang mana masih berjalan hingga tahun 2023. Dalam kegiatan ini tidak adanya maksud ataupun tujuan lain selain ingin membantu masyarakat sekitar karena dampak dari pandemic covid-19 ini. Sebelum adanya pandemic Covid-19 Persaudaraan Setia Hati Winongo ini juga memiliki kegiatan-kegiatan lain seperti membersikan masjid yang ada dilingkungan sekitar, memotong rumput yang mana dapat bermanfaat juga untuk lingkungan sekitar.
Untuk anggota dari kegiatan ini yang kebanyakan dari anak sekolah yang lama kelamaan mulai berkurang karena berjalannya waktu anak sekolah mulai mengikuti KBM. Awal dimulainya kegiatan ini menggunakan uang kas dari Persaudaraan Setia Hati Winongo dan juga keikhlasan dari setiap anggota, lalu seiring berjalannya waktu jalan untuk mencari donator, setelah itu banyak donator yang tau dan ikut berpartisipasi mulai dari sayuran atau bahan pangan dan ada juga yang menitipkan uang untuk dibelanjakan sayur, tidak sampai disitu saja jika ada kekurangan itu akan ada sumbangan seikhlasnya bagi para anggota. Untuk sayur yang dibagikan sendiri berupa bahan mentah yang awalnya hanya dibudget lima ribu rupiah perkantong lama kelamaan bisa bertambah karena banyaknya donator yang datang. Pada umumnya setiap kegiatan memang ada struktur kepanitiaan, akan tetapi untuk kegiatan ini karena berniat ikhlas dari hati ntuk menolong sesame jadi semua bertanggung jawab mengetuai diri sendiri dalam kegiatan ini.
Beradasarkan wawancara yang penulis lakukan bahwa peminat dari sayur gratis ini hanya warga sekitar yang jumlahnya juga sudah lumayan banyak, misalkan ada pengendara yang melitas jika memang minat memang dipersilahkan walaupn bukan warga sekitar. Dikarenakan kegiatan ini memang dengan tujuan membantu sesama, tidak ada pengecualian untuk penerima dipersilahkan. Para anggota pun tidak hanya meletakkan satuyuran lalu pergi tetapi juga menawarkan agar semua bisa habis dan tidak mubazir. Kegiatan ini dilakukan pada jum’at pagi, yang mana tidak ada waktu pasti kapan jam pelaksanaan karena jika semua sudah selesai disiapkan maka para warga pun sudah antri.
Sumber : foto dari panitia
Sumber: foto dari panitia
Respon Masyarakat Terhadap Kegiatan Berbagi Sayur Gratis
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan kepada masyarakat Desa Duyung Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan Jawa Timur, banyak respon dari masyarakat. Disini penulis akan menyebutkan beberapa narasumber. Pertama, yaitu wawancara kepada ibu Yuli salah satu warga penerima sayur gratis. Menurut penuturan beliau dengan adanya kegiatan berbagi sayur gratis tersebut sangat membantu keadaan ekonomi keluarga beliau dalam hal pangan. (Wawancara, 5 Juni 2023).
Kedua, wawancara kepada Ibu Siti selaku pemasok tahu pada kegiatan berbagi sayur gratis tersebut. Menurut penuturan beliau kegiatan tersebut membantu beliau dalam menyalurkan sedekah kepada masyarakat dalam bentuk uang maupun bahan pangan. Sedekah bukan di nilai seberapa banyak tetapi ke ikhlasan hati untuk membantu sesama. (Wawancara, 5 Juni 2023).
Ketiga, wawancara kepada Bapak Agus selaku salah satu panitia yang mengadakan kegiatan berbagi sayur gratis. Menurut penuturan beliau, kegiatan tersebut pada dasarnya adalah membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan ekonomi dalam bidang pangan. Uang yang digunakan untuk menjalankan kegiatan ini awalnya dari kas organisasi, namu seiring berjalanya waktu bagi siapapun yang ingin berbagi dengan ikhlas bisa ikut bersedekah. (Wawancara, 28 Mei 2023)
Metode Dakwah Bil Hal
Kata "dakwah" dikatakan berasal dari bahasa Arab "( )" (Shodiqin, 2011; Asror, 2018; Enjang, et al., 2009), yang berarti mengundang, memanggil, melayani, dan memanggil. Istilah "dakwah" juga digunakan dalam sumber-sumber lain untuk merujuk pada berbagai hal, termasuk: 1) propaganda dan penyiaran; 2) panggilan untuk merangkul, mengkaji, dan mengikuti ajaran Islam; dan 3) tumbuhnya agama di masyarakat. Irawan dan Suriadi (2019) menegaskan bahwa kata-kata lain, seperti tabligh, tabsyir indzhar, amar ma'ruf dan nahi munkar, mauidzoh hasanah, tarbiyah, ta'lim, wasyiyah, dan khotbah, juga dapat digunakan untuk memahami kata "dakwah".
Tujuan dakwah, di sisi lain, adalah untuk meningkatkan status umat di semua bidang kehidupan dengan mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan pribadi, keluarga, dan komunitas seseorang (Mulkan, 1993). Apabila terdapat interaksi antara berbagai faktor yang saling mempengaruhi seperti yang ditunjukkan pada pembahasan sebelumnya, antara lain: pesan dakwah, mad'u, lingkungan, lingkungan, dan sarana/media dakwah, maka tujuan dakwah dapat terwujud dengan tepat (Attabik, 2014; Maghfiroh, 2016).
Fungsi dakwah sebagai media pembinaan dan pengembangan, menurut Asmuni Syukir dalam Asror (2018), dapat terwujudkan secara optimal jika semua unsur terpenuhi. Pembinaan dalam dakwah berarti mempertahankan dan menyempurnakan suatu hal yang telah ada sebelumnya, sedangkan pengembangan berarti mengadakan atau membaharui suatu hal yang belum ada sebelumnya.
Secara harfiah, dakwah bil-hal mengacu pada penyebaran prinsip-prinsip Islam melalui perbuatan. Definisi dakwah bil-hal yang diberikan oleh Rasyid et al. dalam Sagir (2015) adalah upaya untuk mendorong orang dan kelompok untuk mengembangkan diri dan masyarakat dalam rangka mewujudkan tatanan dan kebutuhan sosial ekonomi yang lebih baik sesuai dengan tuntunan Islam tentang isu-isu sosial seperti kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan.
Strategi dakwah bil-hal adalah cara untuk menyebarkan nilai-nilai agama melalui tindakan suri tauladan. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa si penerima dakwah tidak akan mengikuti jejak si da'i sebagai juru dakwah. Dengan demikian, tidak hanya penyebaran pengetahuan tetapi juga penyebaran nilai-nilai, yang dimaksudkan untuk menjadi dakwah efektif dan efisien bagi mereka yang menerimanya (Zakiyyah & Haqq, 2018).
Strategi dakwah bil-hal adalah cara untuk menyebarkan nilai-nilai agama melalui tindakan suri tauladan. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa si penerima dakwah tidak akan mengikuti jejak si da'i sebagai juru dakwah. Dengan demikian, tidak hanya penyebaran pengetahuan tetapi juga penyebaran nilai-nilai, yang dimaksudkan untuk menjadi dakwah efektif dan efisien bagi mereka yang menerimanya (Zakiyyah & Haqq, 2018).
Metode dakwah bil hal ini berkaitan dengan penelitian ini. Kegiatan berbagi sayur gratis di hari jumat yang diselenggarakan oleh organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo di Desa Duyung Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan Jawa Timur. Kegiatan tersebut merupakan suatu bentuk dari merealisasikan metode dakwah bil hal dalam bidang ekonomi. Berdasarkan penjelasan di atas bahwa awal mula kegiatan ini diadakan yaitu marak nya virus Covid-19 yang berdampak pada masyarakat salah satu nya ekonomi yang menurun. Berawal dari rasa peduli organisasi ini terhadap kondisi masyarakat yang tidak bisa bekerja maka kegiatan ini akhirnya didirikan dan berjalan hingga tahun 2023 dengan maksud bersedekah membantu masyarakat dalam hal kebutuhan pangan. Hal ini merupakan suatu bentuk terealisasikanya metode dakwah bil hal.
Kesimpulan
Menurut pemaparan pembahasan penelitian di atas dapat diperoleh kesimpulan dengan adanya kegiatan berbagi sayur gratis di Magetan Desa Duyung Takeran, adapun pelaksana dari kegiatan tersebut yaitu organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo di Desa Duyung. Tujuan diadakanya kegiatan tersebut adalah semata-mata karena munculnya rasa kepedulian kepada masyarakat di masa pandemi Covid-19 di tahun 2020 dengan membantu sedikit kebutungan ekonomi berupa bahan pangan yang berlanjut hingga tahun 2023.
Adapun uang untuk mengadakan kegiatan ini awalnya diambilkan dari uang kas anggota organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo. Namun, seiiring berjalanya waktu bagi siapapun yang berkenan untuk sedekah dipersilahkan. Kegiatan ini juga sudah mendaptkan beberapa sponsor/pemasok berupa sayuran, tahu, bahkan uang yang nantinya akan dibelikan sayur untuk dibagikan. Pelaksanaan berbagi sayur gratis ini yaitu satu minggu satu kali pada hari jumat. Dimulai kisaran pukul 6 sampai pukul 7 biasanya sudah habis. Dalam sehari sayur yang dibagikan yaitu 50 sampai 100 kantong. Setiap satu kantong sayur di budget 5000 rupiah.
Kaitanya dalam hal berdakwah yaitu kegiatan tersebut masuk dalam kategori strategi dakwah bil hal atau dakwah dengan aksi langsung kepada masyarakat dalam bentuk membantu kebutuhan pangan. Hal ini bisa dijadikan suatu motivasi kepada kita semua, bahwa dalam berdakwah tidak hanya pemantapan dalam hal keimanan saja namun juga dalam bentuk dakwah bil hal yaitu dengan aksi terdahap kondisi masyarakat yang masih belum sejahtera di bidang ekonomi maupun di bidang pendidikan.
Daftar Pustaka
Abdullah, Muhammad Qadaruddin. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta: Qiara Media, 2019.
Chosinawarotin, C., & Sudrajat, H. (2021, October). Sayur Berkah di Masa Pandemi. In Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat Universitas Ma Chung (Vol. 1, pp. 75-81).
Fadilah, A. (2011). Pengaruh penggunaan alat komunikasi handphone (hp) terhadap aktivitas belajar siswa SMP negeri 66 Jakarta Selatan.
A.Kadir Sobur, Tauhid Teologis, (Jakarta: Gaung Persada Press Group 2013), hlm. 5
Khaerunnisa, N. (2021, December). Efektivitas Dakwah Bil-Hal Melalui Gerakan Infaq Beras Bengkayang di Kecamatan Bengkayang. In Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication (Vol. 1, No. 1, pp. 28-31).
Kholis, N., Mudhofi, M., Hamid, N., & Aroyandin, E. N. (2021). Dakwah Bil-Hal Kiai sebagai Upaya Pemberdayaan Santri (Action Da'wah by the Kiai as an Effort to Empower Students). Jurnal Dakwah Risalah, 32(1), 112-129.
Mahanani, S. (2019). Efektivitas Kegiatan Jimpitan dalam Meningkatkan Kepedulian Sosial Masyarakat di Desa Karanglo Kidul Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo (Doctoral dissertation, IAIN PONOROGO).
Martanti, D. E., Hartono, N. R., & Sunarsasi, S. (2021). FENOMENOLOGI “SAYUR GANTUNG” MASYARAKAT BLITAR SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN DAMPAK EKONOMI DI TENGAH COVID-19. AKUNTABILITAS: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Ekonomi, 14(1), 40-41.
Mulkan, AM, 1993; “Paradigma Intelektual Muslim”, Yogyakarta, Si Press
Putra, I. D. G. U., & Rustika, I. M. (2015). Hubungan antara perilaku menolong dengan konsep diri pada remaja akhir yang menjadi anggota tim bantuan medis janar duta fakultas kedokteran universitas udayana. Jurnal Psikologi Udayana, 2(2), 198-205.
Shodiqin, Asep. (2011) Membingkai “Episteme” Ilmu Dakwah, Jurnal Ilmu Dakwah Vol.5 No 2
Sugiyono, F. X. (2017), Neraca pembayaran: Konsep, Metodologi dan Penerapan (Vol. 4). Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia.
Community empowerment programs play an important role in improving community welfare and economic empowerment. One form of this program is the collaboration between LMI and YBM PLN to develop a tempeh chips business in Keniten Village. The purpose of this research is to analyze the results and impact of community empowerment programs. This research was conducted using field research methods or field research. The results of the research show that this community empowerment program has succeeded in providing significant social and economic impacts for the people of Keniten Village. The community experienced an increase in income and economic welfare from the tempeh chips business. As a result, recommendations are made to expand market access, improve technicalities- develop more effective marketing strategies. In conclusion, the collaboration between LMI and YBM PLN in the community empowerment program in Keniten Village has had a positive impact on the development of the tempeh chips business and economic community empowerment.
Pemberdayaan adalah jalan menuju partisipasi, dan partisipasi menentukan dampak ocial dan ekonomi dari program pengembangan masyarakat. Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan dalam pelaksanaan program CSR Lembaga Keuangan Mikro Panas Bumi dan dampaknya terhadap kondisi ocial ekonomi masyarakat. Program keuangan mikro di Kabupaten Kabandungan bekerja sama dengan LKMS Kartin. Subyek penelitian ini adalah masyarakat Desa Cihamerang yang meliputi pemerintah daerah dan masyarakat setempat, serta karyawan perusahaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari penelitian kuantitatif dan kualitatif. Sebanyak 45 responden yang mewakili masyarakat Desa Cihamerang dan ocialn informan diwawancarai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap pemangku kepentingan memiliki jenis dan tingkat keterlibatan yang berbeda. Semakin tinggi keterlibatan anggota dewan keuangan mikro dalam setiap tahapan pelaksanaan program, semakin besar pula dampak ocial dan ekonominya..
Corporate Social Responsibility (CSR) program, namely a company program whose implementation has influence or benefits, social and environmental responsibility for the community around the company to stakeholders. Research on community service aims to identify optimization of one of PT Petrokimia Gresik's Corporate Social Responsibility (CSR) Community Development unit programs, namely, the distribution of donations to mosques, prayer rooms, Islamic boarding schools, and orphanages to empower the community around the company. Assistance was provided in Gresik, Kebomas and Manyar sub-districts. The total funding assistance for 134 houses of worship and social institutions reached IDR 632,500,000. By using a qualitative descriptive method, because the research focus is to describe and provide an overview of the information on the object being studied. The research that has been done has shown that the Corporate Social Responsibility (CSR) program, namely, the distribution of donations to mosques, prayer rooms, Islamic boarding schools and orphanages has been running effectively. Because the beneficiary community feels helped and useful for their needs. This program is also aligned with Sustainable Development Goal 9, namely Industry, Innovation and Infrastructure.
This study aims to determine the strategies for empowering rural communities by developing village-owned enterprises through health services. This research uses descriptive qualitative research. Namely research conducted using a natural setting with the intention of interpreting a phenomenon that occurs and is carried out by involving various existing methods. Data collection techniques used through literature study or review of various sources or literature related to the problem under study. An independent village as part of the ideals of national development is hampered by various problems that arise in its realization. One of the most dominant things, namely in the economic sector and social sector. One effort that can alleviate health problems and empower rural communities is the establishment of a business institution called the Village-Owned Usha Agency (BUMDes). However, in the business activities carried out by BUMDes, various problems have arisen, namely (a) lack of community participation in BUMDes management; (b) the village government does not maximally empower the community to develop.
The construction in a country essentially to give the welfare live of society. The current growth in Indonesia has been achieved by one of the batik industrialization sectors. Batik becomes an industrial potential that can be developed as an form of creative economic growth and thus become a village development community empowerment activity. This inscription to know how effectively empowering societies are in rural development, especially in development at Kampoeng Batik Jetis. This study uses qualitative descriptive analysis method. The result indicated that the empowerment of communities taken are as follows 1) Skill, encompass education and training; 2) Market access, accessibility acquire raw materials and other supporting materials in improving the production processes, implicate UMKM exhibition to expand market access, and facilitate intellectual property rights; 3) Capital access, comprise capital facilitate.