Publication Search

73,319 articles from 712 journals · 2,111 citations tracked

Showing 61-80 of 2,643

Analytics

Nelsa Citrayani Silaban; Arip Surpi Sitompul; Jusni Lumbantobing; Sondang Naibaho; Ringhot Simorangkir

jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat 2026 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

This study aims to examine how schools foster togetherness amid religious diversity through a dialogical approach. This research employed a qualitative method and was conducted at SMA Negeri 1 Sumbul. Data were collected through observation, interviews, and documentation, while the analysis used the interactive model of Miles and Huberman, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that three main religions Islam, Catholicism, and Protestantism coexist harmoniously within the school due to strong practices of tolerance. This is reflected in the implementation of religious worship conducted simultaneously at the same time but in different places according to each belief, as well as mutual respect during religious celebrations such as Ramadan and Eid al-Fitr, Easter, and Christmas. In addition, social interactions among students occur in an open, communicative, and non-discriminatory manner. These findings indicate that schools play a significant role in promoting unity through multicultural education, religious moderation, and dialogical approaches. Therefore, schools can serve as effective spaces for shaping students’ tolerant character and their ability to live harmoniously in a diverse society.

Lumbantobing, Minar Trisnawati; Barus, Maria; Marasi Siagian, Yosua; Lamriana Hutagalung, Salome

Komunitas: Hasil Kegiatan Pengabdian Masyarakat Indonesia 2026 Asosiasi Riset Ilmu Tanaman Dan Hewani Indonesia

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan suatu program pendidikan yang bertujuan untuk mengajarkan prinsip-prinsip pragmatis dan prosedural yang berusaha untuk mengembangkan sifat kemanusiaan, budaya, serta memberikan kekuatan kepada individu, hususnya siswa, agar mereka dapat menjadi warga negara yang baik sesuai dengan tuntutan yang diakui secara moral dan konstitusional oleh  negara. Pada pembelajaran kewarganegaraan ada tiga yang menjadi dasar dalam pembelajaran yang salah satunya adalah mengembangkan kecerdasan warga negara, membina tanggung jawab warga negara, serta mendorong partisipasi warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Permasalahan Prioritas yang dihadapi adalah di SD Negeri 095207 Sorba Tonduhan, yaitu keterbatasan pembelajaran berbasisi proyek, tidak tersedianya fasilitas pendukung seperti computer yang ada di lingkungan sekolah tersebut. Kompetensi Guru dalam Pengelolaan Pembelajaran kurang Kreatif: Kompetensi pedagogik guru dalam merancang pembelajaran yang interaktif dan berbasis konteks lokal masih terbatas. Penggunaan metode pembelajaran tradisional cenderung mendominasi, sehingga kurang menarik bagi siswa. Solusi yang diberikan adalah berupa pembelajaran proyek penerapan model pembelajaran berbasis proyek, Dimana pembelajaran berbasis proyek melibatkan antara guru dengan siswa. Guru berperan aktif dalam memotivasi siswa dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru mempunyai masukan dan kreativitas yang besar serta dapat meningkatkan motivasi belajar untuk membantu siswa mencapai hasil belajar yang baik, (Magdalena et al., 2024). Menurut (Norhikmah et al., 2022), Model pembelajaran berbasis proyek menuntut siswa untuk membuat proyek yang berkaitan dengan mata pelajaran terkait. Proyek pada pembelajaran ini dibangun berdasar ide-ide para siswa yang berasal dari keresahan permasalahan riil, sehingga peserta didik terjun secara langsung dalam memecahkan masalah.

Arip Surpi Sitompul; Norton Situngkir; Korri Elvi Purba; Amos Derebi; Edwart Charles Browsoon Sihite

jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat 2026 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Religious radicalism in the school environment has become an increasingly important issue due to its potential to influence students’ mindsets, attitudes, and behaviors. This study aims to examine anticipatory efforts to prevent the development of radical religious ideologies and behaviors within schools. The research employs a qualitative approach with a descriptive design, utilizing data collection techniques such as interviews, observations, and document analysis. The findings indicate that anticipatory efforts can be implemented through strengthening character education, integrating values of religious moderation into the curriculum, enhancing the role of teachers as agents of guidance, and fostering active involvement of parents and the community. Furthermore, creating an inclusive, tolerant, and dialogical school environment is a crucial factor in countering radicalism. In conclusion, preventing religious radicalism in schools requires a holistic approach involving all elements of education in a sustainable manner. This study is expected to serve as a reference for educational institutions in formulating effective preventive strategies against religious radicalism.

Resti Yulastri; Putri Ramadhon; Annisa Annisa; Dwi Herliani; Siti Saroh Hasibuan

Karakter : Jurnal Riset Ilmu Pendidikan Islam 2026 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

The rapid transformation of education driven by globalization and technological advancement demands adaptive learning approaches that align with the characteristics of Generation Z learners. This generation is known for its curiosity, independence in thinking, and openness to diverse perspectives, yet it is also vulnerable to misinformation and negative online influences. Within the context of Islamic education, learning is not solely oriented toward cognitive development but also emphasizes the cultivation of moral values, particularly tolerance. This study aims to explore how contextual teaching methods can contribute to fostering tolerant attitudes among Generation Z students in Islamic educational settings. The research employs a qualitative approach through library research, utilizing a descriptive-analytical framework. Data were collected from various sources, including academic journals, books, and previous studies related to contextual learning, multicultural education, and Generation Z characteristics. The data collection technique involved document analysis, followed by content analysis procedures such as data reduction, categorization, and conclusion drawing. The findings indicate that contextual learning effectively promotes tolerance by engaging students in discussion, problem-solving, reflection, and real-life experiences. The integration of multicultural values and the role of teachers as facilitators and role models further strengthen this process. However, challenges remain, including limited teacher understanding, the persistence of conventional methods, inadequate supporting facilities, and the influence of social media. Overall, contextual learning presents a relevant strategy for developing open-minded, balanced, and socially adaptive Generation Z learners.

Dumar, Bergita; Wahyuni, Ida; Astarina Prajayanti, Ni Made Dwi; Yahya Fujianti, Mery Eka; Mulyani, Sri

Komunitas: Hasil Kegiatan Pengabdian Masyarakat Indonesia 2026 Asosiasi Riset Ilmu Tanaman Dan Hewani Indonesia

Bullying di lingkungan sekolah merupakan permasalahan yang berdampak pada kesehatan mental dan perkembangan psikososial anak. Tingginya kejadian bullying, baik secara fisik, verbal, maupun digital, menyebabkan siswa merasa tidak aman, mengalami kecemasan, serta penurunan interaksi sosial dan prestasi belajar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai bahaya bullying serta upaya pencegahannya. Metode  pengabdian  yang  dilakukan  berupa  pemberian  penyuluhan  kesehatan menggunakan participatory  action  research (PAR)  dengan  tema “Edukasi Kesehatan Tentang Bullying Pada Anak: “Berani Baik, Bukan Berani Membuli“. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa tentang bentuk, dampak, dan cara mencegah bullying, serta meningkatnya sikap empati dan keberanian untuk melaporkan kejadian bullying. Selain itu, siswa menjadi lebih mampu mengenali perilaku bullying dan berpartisipasi dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman. Kesimpulannya, kegiatan edukasi melalui pengabdian masyarakat efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan siswa terkait bullying, sehingga perlu dilakukan secara berkelanjutan sebagai upaya promotif dan preventif dalam menjaga kesehatan mental anak.

Yuliana Yuliana; Sapuadi Sapuadi

Jurnal Ilmu Pendidikan 2026 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

This research is very important to understand more deeply about the Islamic-based multicultural education approach in forming a character of tolerance, as well as how to apply this approach in the educational environment. This research uses a qualitative approach with the type of literature study (library research). This approach is used to examine in depth the concept of multicultural education in an Islamic perspective and introduce it in forming the character of tolerance of students through the analysis of various relevant library sources. Multicultural education basically aims to create a harmonious society through an educational process that respects differences and eliminates discrimination. In this case, multicultural education is a strategic solution because it does not only focus on cognitive aspects, but also on the formation of social attitudes, such as tolerance, empathy, and inclusive attitudes. In its implementation, multicultural education aims to enable students to appreciate differences, foster a tolerant attitude, and strengthen national identity within the framework of diversity. Therefore, the application of multicultural education needs to continue to be developed optimally in the education system in order to create a harmonious, inclusive, and character-based learning enviroment.

Sihombing, Lisbet N.; Thesalonika, Emelda

Komunitas: Hasil Kegiatan Pengabdian Masyarakat Indonesia 2026 Asosiasi Riset Ilmu Tanaman Dan Hewani Indonesia

Pembelajaran di Sekolah Dasar saat ini masih didominasi metode konvensional berpusat pada guru yang kurang mengaitkan materi dengan kehidupan nyata. Kondisi ini menyebabkan rendahnya keterlibatan aktif dan kemampuan berpikir kreatif siswa sebagai kompetensi abad ke-21. Selain itu, mitra guru menghadapi kendala berupa keterbatasan pemahaman terhadap konsep Contextual Teaching and Learning (CTL), kurangnya variasi strategi, serta ketiadaan perangkat pembelajaran sistematis. Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan mensosialisasikan model CTL guna meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa dan kompetensi guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran inovatif. Metode pelaksanaan meliputi koordinasi analisis kebutuhan, sosialisasi konsep, pendampingan penyusunan Modul Ajar, praktik simulasi kelas, serta evaluasi bersama pihak sekolah. Target luaran meliputi peningkatan pemahaman guru, tersedianya Modul Ajar berbasis CTL yang aplikatif, dan publikasi artikel ilmiah pada jurnal pengabdian masyarakat. Sosialisasi model CTL menjadi solusi strategis dalam meningkatkan kapasitas profesional guru untuk menciptakan suasana belajar yang bermakna. Implementasi CTL diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan dasar dan menstimulasi potensi berpikir kreatif siswa secara optimal guna menghadapi tantangan perkembangan zaman. Dengan demikian, kegiatan ini memberikan dampak positif signifikan bagi pengembangan kompetensi pendidik dan peserta didik di sekolah dasar mitra secara luas serta berkelanjutan melalui integrasi kolaborasi akademik yang kuat.

Catherine James

Damai : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Filsafat 2026 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This study aims to analyze the implementation of group guidance services in developing alpha girl characteristics among senior high school (SMA) female students. The method used is a literature review by examining various relevant sources, including books and scientific journals published within the last five years. The findings indicate that group guidance plays a significant role in shaping alpha girl characteristics through social interaction, group dynamics, communication skills, and participatory learning experiences. Through the stages of formation, transition, core activities, and termination, students gradually experience improvements in self-confidence, independence, leadership ability, and the courage to express themselves in social settings. This developmental process does not occur instantly but emerges through repeated experiences supported by a conducive group environment, effective facilitation from counselors, and continuous self-reflection. In addition, peer feedback within the group contributes to strengthening personal awareness and emotional maturity. Therefore, group guidance services can serve as an effective and systematic strategy in supporting the development of alpha girl characteristics among senior high school female students.

Ferry Rhendra Pananda Putra Sitorus; Irene Daniella Merahabia

Jurnal Inovasi Sosial dan Pengabdian 2026 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

The increasing spread of HIV/AIDS in Jayapura City requires immediate and sustainable preventive efforts, particularly through reproductive health education for adolescents. This program aimed to improve adolescents’ understanding of reproductive health, puberty changes, and behaviors that may increase the risk of HIV/AIDS transmission. The activity was conducted for adolescents participating in Sunday School at GKKD Buper Waena, aged between 10 and 15 years. The program was carried out in April 2025 through counseling sessions, question-and-answer activities, and focus group discussions. These approaches were chosen to provide participants with an interactive learning experience while also creating opportunities for them to share their personal experiences and perspectives related to reproductive health. A total of fifty adolescents participated enthusiastically in the activity. During the sessions, participants asked various questions that were answered directly by the speakers to clarify their understanding of reproductive health and risky behaviors. In addition, six focus group discussions were conducted to discuss participants’ personal experiences regarding puberty, friendships, dating, and behaviors such as kissing. The results of the activity indicate that reproductive health education can improve adolescents’ knowledge, awareness, and skills in maintaining personal health and avoiding behaviors that may increase the risk of HIV/AIDS transmission.

Putri Yani; Khaira Rizki; Nurul Amna

Jurnal Ilmu Kesehatan Umum, Psikolog, Keperawatan dan Kebidanan 2026 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

. Malnutrition rates among children remain quite high, according to 2024 national statistics, which indicate that good eating habits in accordance with balanced nutritional needs are not yet ideal. Children's eating habits, dietary diversity, and parental understanding all impact their nutritional status. To promote optimal growth and development in children, it is crucial to monitor and establish appropriate eating habits from an early age. The aim of this study was to determine the relationship between eating habits and nutritional status of preschool-aged children. This study used a cross-sectional analytical design and quantitative methodology. Purposeful sampling was used to select a sample of 33 children from the 50 children in the study population. The study was conducted between September 22 and October 1, 2025. A Food Frequency Questionnaire (FFQ) was used to examine dietary patterns, while nutritional status was measured through weighing using a digital scale. Based on the findings, 22 children (66.7%) had a healthy diet, while 11 children (33.3%) had a poor diet. The Chi-Square statistical test showed a p value of 0.008 (p < 0.05), indicating a relationship between eating habits and nutritional status in preschool children at Taman Annisa Miruek Kindergarten, Aceh Besar Regency. According to balanced nutrition guidelines, parents should regularly assess their children's growth and focus more on the diversity and balance of their food intake. To improve children's nutritional status as much as possible, schools are required to collaborate with health workers to educate parents and children about nutrition.

Luluk Hilda Kusumarini; Sri Wahyuni Ningsih; Mirza Fathan Fuadi

JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL 2026 CV. ALIM'SPUBLISHING

The Free Nutritious Meal Program (MBG) is one of the government’s strategic policies aimed at improving students’ nutritional status and learning quality, particularly at the junior high school level. Early adolescence, aged 13–15 years, is a critical growth period that requires optimal nutritional intake, while national surveys still indicate deficiencies in energy and protein intake among this age group. This study aims to describe the implementation of the MBG Program and the level of student satisfaction as direct beneficiaries. The research employed a quantitative descriptive design conducted over one month in the working area of SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang, Gunungpati, Semarang City. The sample consisted of 101 junior high school students selected using purposive sampling techniques. Data were collected through structured questionnaires covering program implementation and student satisfaction aspects. The findings revealed that most students assessed the program implementation as high to very high. Student satisfaction was also categorized as high, particularly regarding food quality, portion adequacy, cleanliness, safety, and service. The MBG Program was considered effective in improving learning concentration, reducing unhealthy snacking habits, and encouraging healthy eating patterns. This study concludes that the MBG Program has been implemented effectively and is relevant in supporting sustainable improvements in students’ nutritional status and educational quality.

Luluk Hilda Kusumarini; Sri Wahyuni Ningsih; Mirza Fathan Fuadi

JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL 2026 CV. ALIM'SPUBLISHING

The Free Nutritious Meal Program (MBG) is one of the government’s strategic policies aimed at improving students’ nutritional status and learning quality, particularly at the junior high school level. Early adolescence, aged 13–15 years, is a critical growth period that requires optimal nutritional intake, while national surveys still indicate deficiencies in energy and protein intake among this age group. This study aims to describe the implementation of the MBG Program and the level of student satisfaction as direct beneficiaries. The research employed a quantitative descriptive design conducted over one month in the working area of SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang, Gunungpati, Semarang City. The sample consisted of 101 junior high school students selected using purposive sampling techniques. Data were collected through structured questionnaires covering program implementation and student satisfaction aspects. The findings revealed that most students assessed the program implementation as high to very high. Student satisfaction was also categorized as high, particularly regarding food quality, portion adequacy, cleanliness, safety, and service. The MBG Program was considered effective in improving learning concentration, reducing unhealthy snacking habits, and encouraging healthy eating patterns. This study concludes that the MBG Program has been implemented effectively and is relevant in supporting sustainable improvements in students’ nutritional status and educational quality.

Mely Purnadian

Pemberdayaan Masyarakat: Jurnal Aksi Sosial 2026 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

 Dental and oral health is an essential part of overall bodily health. The high prevalence of caries and cavities in children is generally caused by a lack of tooth-brushing skills. Incorrect techniques and improper duration cause food residue to remain, which ultimately triggers the demineralization of the tooth enamel. This socialization activity aims to provide education on the importance of brushing teeth with correct and effective techniques for elementary school students. The activity was conducted at SDIT Al-Azhar Kediri City, using a practical and interactive simulation approach; starting with a PowerPoint presentation, followed by a demonstration of proper tooth-brushing techniques using teaching aids. There were 84 children involved in this activity, and the results showed that approximately 90% of the participants could correctly answer the questions provided. Consequently, this socialization activity successfully increased the participants' knowledge and understanding of maintaining dental and oral health

Mely Purnadian

Pemberdayaan Masyarakat: Jurnal Aksi Sosial 2026 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

 Dental and oral health is an essential part of overall bodily health. The high prevalence of caries and cavities in children is generally caused by a lack of tooth-brushing skills. Incorrect techniques and improper duration cause food residue to remain, which ultimately triggers the demineralization of the tooth enamel. This socialization activity aims to provide education on the importance of brushing teeth with correct and effective techniques for elementary school students. The activity was conducted at SDIT Al-Azhar Kediri City, using a practical and interactive simulation approach; starting with a PowerPoint presentation, followed by a demonstration of proper tooth-brushing techniques using teaching aids. There were 84 children involved in this activity, and the results showed that approximately 90% of the participants could correctly answer the questions provided. Consequently, this socialization activity successfully increased the participants' knowledge and understanding of maintaining dental and oral health

Putri Festiyanti, Wilda; Pipit Miranti, Indira; Puji Lestari, Fina; Nur'aeni, Jihan

jurnal ABDIMAS Indonesia 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Desa Kotayasa merupakan salah satu desa yang memiliki potensi besar di bidang pertanian dan pariwisata. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani serta pelaku usaha di sektor pariwisata yang berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat dan daerah. Namun demikian, masih terdapat siswa yang putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi sehingga memilih bekerja untuk membantu keluarga. Kondisi tersebut menyebabkan rendahnya akses pendidikan, termasuk kemampuan bahasa Inggris yang penting dalam mendukung sektor pariwisata dan komunikasi dengan wisatawan asing. Selain itu, masyarakat juga perlu memahami kosakata bahasa Inggris yang berkaitan dengan empon-empon sebagai komoditas lokal unggulan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kemampuan dasar bahasa Inggris peserta didik PKBM Desa Kotayasa melalui pelatihan simple present tense, simple past tense, dan pengenalan kosakata empon-empon dalam bahasa Inggris. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui ceramah interaktif, latihan terstruktur, diskusi, dan permainan edukatif berbasis gamifikasi. Kegiatan dilaksanakan secara komunikatif dan menyenangkan agar peserta lebih aktif dan mudah memahami materi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan peserta dalam menyusun kalimat sederhana menggunakan simple present tense dan simple past tense, serta meningkatnya pemahaman kosakata empon-empon dalam bahasa Inggris. Program ini diharapkan dapat menjadi model pembelajaran kontekstual dan aplikatif bagi PKBM lainnya, khususnya pada wilayah berbasis pertanian dan pariwisata.

Gulo, Didi Kristina; Olis Olis

Jurnal Silih Asah 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

 Penelitian ini bertujuan mengimplementasikan pendidikan dasar anak usia dini antara 3-6 tahun berlandaskan pada Ulangan 6:6-9 di PAUD Kristen Agape Sentani.  Pendidikan anak usia dini merupakan tahap pendidikan yang sangat fundamental dalam membentuk dasar perkembangan kognitif, sosial-emosional, moral, dan spiritual anak. Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya pengasuhan positif dan minimnya pembentukan nilai moral sejak usia dini dapat meningkatkan risiko munculnya perilaku menyimpang, kesulitan pengendalian emosi, serta masalah penyesuaian sosial pada masa remaja dan dewasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melakukan pengumpulan data melalui penelusuran pustaka yang relevan. Penerapan prinsip nilai Ulangan 6:6-9 dalam pendidikan anak usia dini dilakukan dengan mengintegrasikan Firman Tuhan yang harus diajarkan berulang-ulang secara konsisten dalam seluruh aktivitas pembelajaran. Prinsip ulangan 6:6-9 menunjukkan bahwa pendidikan iman harus hadir dalam setiap rutinitas sehingga anak dapat mencerminkan iman dalam lingkungan sekolah yang menciptakan suasana kelas penuh kasih, aman, dan menyenangkan. Ketika prinsip-prinsip ini diimplementasikan secara konsisten melalui kurikulum, metode pembelajaran, lingkungan belajar, dan kemitraan dengan orang tua, PAUD Kristen Kasih Agape Sentani akan mampu mewujudkan visinya dalam membentuk generasi yang mengenal dan mengasihi Tuhan sejak usia dini.

Ispandiyah, Woro; Sularsih Endartiwi, Sri; Wijayanti, Nor

jurnal ABDIMAS Indonesia 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyebab utama kematian secara global dan menunjukkan peningkatan pada kelompok remaja. Rendahnya pengetahuan terkait faktor risiko PTM menjadi salah satu penyebab munculnya perilaku tidak sehat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan faktor risiko PTM melalui edukasi kesehatan. Metode yang digunakan adalah pre-experimental dengan desain one group pretest-posttest pada santri di pondok pesantren Harun Assyafi’i Bantul. Intervensi dilakukan melalui ceramah interaktif dan media visual. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah edukasi. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan dari 51,36 menjadi 79,73. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja terkait pencegahan PTM. Program edukasi kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah untuk mendorong perubahan perilaku jangka panjang. Studi ini juga mendukung penerapan teori perilaku seperti Model Keyakinan Kesehatan dan PRECEDE-PROCEED dalam merancang intervensi yang efektif.

Ulina, Febriani; Setiawan, Yusak Agus

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dalam menerjemahkan konsep-konsep teologis yang abstrak agar sesuai dengan perkembangan kognitif peserta didik usia sekolah dasar. Latar belakang penelitian ini berangkat dari pentingnya penanaman iman sejak dini dalam keluarga sebagai ecclesia domestica, yang kemudian dilanjutkan secara sistematis dalam pendidikan formal. Namun, pada jenjang sekolah dasar, pembelajaran Pendidikan Agama Kristen menghadapi tantangan karena materi teologis yang bersifat abstrak tidak selalu selaras dengan kemampuan berpikir anak. Berdasarkan teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak usia 7–12 tahun berada pada tahap operasional konkret, sehingga membutuhkan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis pengalaman nyata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan hermeneutika-pedagogis untuk menganalisis strategi pengajaran Yesus dalam Injil Markus 4:1–33. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yesus menerapkan strategi pembelajaran yang efektif melalui pengelolaan ruang belajar (spasial), penggunaan perumpamaan sebagai media naratif, serta pendekatan dialogis-partisipatif. Strategi ini memungkinkan terjadinya jembatan antara konsep abstrak Kerajaan Allah dengan realitas konkret kehidupan pendengar. Dengan demikian, integrasi antara pemahaman teks Alkitab dan pendekatan pedagogis yang sesuai dengan perkembangan kognitif menjadi kunci dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang efektif. Penelitian ini menegaskan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen perlu mengembangkan strategi kreatif dan kontekstual agar nilai-nilai iman tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dihayati dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

Ifah Nurul Khotimah; Emilia Puspitasari

DIAGNOSA: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Keperawatan 2026 International Forum of Researchers and Lecturers

The use of social media can have both positive and negative impacts on children. Proper use can enhance insight, knowledge, and increase learning motivation. However, excessive use can disrupt study time, reduce awareness of the importance of learning, and result in low learning motivation. To determine the relationship between the duration of social media use and the learning motivation of school-aged children at SDN Gisikdrono 03, Semarang City. This study uses a quantitative method with probability sampling technique, specifically stratified random sampling. The sample in this study consisted of 122 respondents. The instrument in the study used a questionnaire on the duration of social media use and learning motivation. Data analysis used the Spearman rank test. There is a relationship between the duration of social media use and the learning motivation of school-aged children at SDN Gisikdrono 03 Semarang City, with a p-value of 0.000 < 0.05, leading to the rejection of H0 and acceptance of Ha, with a correlation value of -0.636, which falls into the strong category with a negative duration, indicating an inverse relationship. This means that the longer the duration of social media use, the lower the learning motivation. Conclusion: There is a significant relationship between the duration of social media use and learning motivation, where the longer the duration of social media use, the lower the learning motivation.

Novianti, Delpi

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini berfokus pada kajian penggunaan teknologi artificial intelligence (AI) dalam kalangan akademik yang memiliki potensi untuk meningkatkan efesiensi proses pendidikan dan transformatif. Meskipun teknologi AI menawarkan berbagai peluang, pengintegrasian  teknologi ini dalam konteks pendidikan khususnya dalam kalangan akademik menimbulkan berbagai tantangan yang perlu diatasi  seperti ketergantungan pada AI, plagiasi, kecurangan, merosotnya cara berpikir kritis, kreativitas yang tidak berkembang, ketidakmampuan dalam mengatasi masalah dan krisis integritas. Dalam mengeksplorasi integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam kalangan akademik, penelitian ini menggunakan metode library research. Metode ini memberikan landasan yang kuat bagi penulis untuk mendalami pemahaman tentang tantangan dari penggunaan AI dalam kalangan akademik dan penerapan reflektif sikap etis teologis terhadap penggunaan AI. Dari penelitian ini ditemukan bahwa penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam kalangan akademik sangat berpotensi untuk mengembangkan pengetahuan dan ilmu manusia untuk mendatangkan kemulian-Nya, jika disertai dengan sikap etis teologis yang selaras dengan mandat budaya Allah seperti bertanggungjawab, jujur, transparansi, dan AI sebagai alat. Implementasi sikap etis teologis dalam kalangan akademik dimulai dari sekolah Kristen, pendidikan tinggi Kristen, pengajar Kristen, pelajar Kristen dan orang percaya pada umumnya adalah cara mempermuliakan Allah dengan teknologi yang disertai dengan hikmat.