Publication Search

67,742 articles from 584 journals · 1,699 citations tracked

Showing 41-44 of 44

Analytics

Vimala, Jassen; Nugroho, Adi

IT-Explore: Jurnal Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi 2022 Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Kristen Satya Wacana

Abstrak – Obat merupakan bahan biologis yang sangat penting digunakan untuk penyembuhan dan peningkatan kesehatan untuk manusia. Kebutuhan obat akan semakin terus meningkat seiring dengan menuanya penuduk, sehingga diperlukan peramalan penjualan ketersediaan obat. Peramalan merupakan proses menyusun informasi untuk mendapatkan informasi yang baru. Peramalan memiliki banyak metode, pada penelitian ini menggunakan Metode Single, Double, dan Triple Exponential Smoothing dengan menggunakan studi kasus obat. Ketiga algoritma ini akan dilakukan perbandingan untuk mengetahui metode mana yang terbaik dalam peramalan. Hasil penelitian ini menunjukan metode Triple Exponential Smoothing merupakan metode yang terbaik degan nilai SSE 3306.302, jika dibandingan dengan Singel Exponential Smoothing sebesar 3945.069 dan Double Exponential Smoothing sebesar 4673.829.   Abstract – Medicine is a very important biological material used for healing and improving health for humans. The need for drugs will continue to increase along with the aging of the population, so it is necessary to forecast sales of drug availability. Forecasting is the process of compiling information to obtain new information. Forecasting has many methods, in this study using the Single, Double, and Triple Exponential Smoothing method using drug case studies. These three algorithms will be compared to find out which method is the best in forecasting. The results of this study indicate that the Triple Exponential Smoothing method is the best method with an SSE value of 3306,302, when compared with Single Exponential Smoothing of 3945,069 and Double Exponential Smoothing of 4673,829.

Rizal Rizal

Jurnal Sains dan Kesehatan (JUSIKA) 2022 Universitas Muhamadiyah Manado

ABSTRAK Kepatuhan terapi pada pasin hipertensi merupakan hal yang penting untuk diperhatikan karena hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan tetapi hanya dapat dikendalikan. Keberhasilan pengontrolan tekanan darah pada pasien hipertensi dipengaruhi oleh faktor kepatuhan dalam meminum obat antihipertensi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi hubungan tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi pada fasilitas kesehatan tingkat pertama dan lanjutan. Desain penelitian yaitu observasional cross sectional menggunakan subjek pasien hipertensi yang berusia lebih atau sama dengan 18 tahun di Puskesmas Kotabunan Bolaang Mongondow (fasilitas kesehatan tingkat pertama) dan instalasi rawat jalan Rumah Sakit Robert Wolter Monginsidi Manado (fasilitas kesehatan tingkat lanjutan) selama periode bulan Oktober hingga Desember 2019. Tingkat kepatuhan penggunaan obat antihipertensi dinilai dengan menggunakan kuesioner MMAS-8 (Morisky 8-Item Medication Adherence Scale). Total pasien pada penelitian ini yaitu 171 pasien, sebanyak 73 pasien pada faskes (fasilitas kesehatan) tingkat pertama dan 98 pasien pada faskes lanjutan. Data tingkat kepatuhan pasien dalam penggunaan obat antihipertensi pada faskes tingkat pertama menunjukkan 83,56% dengan tingkat kepatuhan rendah (skor MMAS < 6), dan hanya 16,44% dengan tingkat kepatuhan sedang sampai tinggi (skor MMAS 6 – 8). Pada faskes tingkat lanjutan terdapat 85,71%  pasien dengan tingkat kepatuhan rendah dan 14,29% dengan tingkat kepatuhan sedang sampai tinggi. Perbandingan statistik komparatif tingkat kepatuhan pada kedua faskes tersebut tidak berbeda signifikan dengan nilai p=0,767 (confidence interval 95%). Pada data menunjukkan bahwa rata-rata pasien memiliki riwayat rutin untuk kontrol sebanyak 91,8% pada fasilitas kesehatan. Berdasarkan hasil tersebut maka disarankan agar setiap Rumah Sakit dan Puskesmas mewajibkan apotekernya untuk melakukan praktik kefarmasian, dan setiap apotek tidak boleh memberikan pelayanan obat tanpa kehadiran apoteker.  

Rahmat Ismail; Windi Astuti; Dora Susetyaningdyah

Jurnal Sains dan Kesehatan (JUSIKA) 2021 Universitas Muhamadiyah Manado

Peraturan Menteri Kesehatan Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, menetapkan bahwa semua tenaga kefarmasian dalam melaksanakan tugas profesinya di puskesmas agar mengacu pada standar tersebut. Standar Pelayanan Kefarmasian ini dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian, dan melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis standar pelayanan kefarmasian di puskesmas wawonasa kota manado yang mengacu pada Standar Pelayanan Kefarmasian di puskesmas menurut peraturan menteri kesehatan No 74 Tahun 2016. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara kepada apoteker penanggung jawab apotek di puskesmas wawonasa dan dilakukan analisis menggunakan metode Conteks, Input, Proses, dan Produk (CIPP). Dalam penelitian ini Standar I adalah pengelolaan perbekalan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai, dan standar II adalah pelayanan farmasi klinis. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa standar I dan II, masing-masing memiliki ketentuan yang belum terlaksana, untuk standar I ketentuan yang terlaksana sebesar 80% dan untuk standar II ketentuan yang terlaksana sebesar 72,72%, sehingga dapat dikategorikan bahwa pelaksanaan ketentuan untuk Standar I dan II oleh Puskesmas Wawonasa Kota Manado termasuk kategori sedang.  

Fatonah, Siti; Imron, Lukman Ahmad; Haryoso, P. Haryoso

Adi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat 2021 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

The pharmacy was established with the aim of being able to provide good pharmaceutical services to the community including being ready to provide drug consultation, supply of drugs and pharmaceutical supplies of good quality. Therefore, pharmacies need to innovate in carrying out promotional activities to provide information and attract people to want to buy and become loyal drug consumers. One of the factors influencing a pharmacy is that how the pharmacy can provide consumers to order drugs and receive goods easily, quickly, safely and comfortably. The Community Service Team of STIE AUB Surakarta wants to socialize and train and assist to create a drug consumer satisfaction model through improving the quality of order delivery to expand the drug market in large family pharmacies in Surakarta. The size of this Community Service activity can be seen from the output in the form of 1) Pharmacy survey in improving the quality of order delivery, 2) creation of order delivery models, 3) increased pharmacy market supply, 4) scientific articles. The problems that arise by partners are 1) the quality of drug order delivery has not been maximized, 2) there are no innovations in delivery models, 3) the market is still limited. The stages of the implementation of the service carried out by the team are socializing to the community in the process of ordering and sending drugs at pharmacies in Surakarta, training partners / pharmacies in creating order delivery models and training marketing management theories to partners in order to innovate wider markets. The results expected by the team are customer satisfaction and loyalty. The next stage is the evaluation of the results of quality delivery assistance, delivery models and expansion of the pharmacy market Keyword : Quality, Order Delivery Model, Market Share