Publication Search

67,732 articles from 582 journals · 1,699 citations tracked

Showing 341-351 of 351

Analytics

Suprapti E; Azhari N.K; Lestariningsih

JURNAL KEPERAWATAN SISTHANA 2020 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KESDAM IV DIPONEGORO

Satisfaction is a person's feelings of pleasure or disappointment that arise after comparing the results of a service that are in accordance with or not in accordance with the expectations they had before getting service. Patients as users of nursing services demand nursing services in accordance with their rights, namely quality nursing services. In providing nursing services, Standard Operational Procedure (SOP) is very important to assist nurses in achieving quality nursing care. In giving medicine, one must pay attention to the six "correct" principles which have become mandatory procedures before giving medicine, namely: right patient, right drug, right dose, right method, right time, and correct documentation. This study aims to identify the effect of applying standard operational procedures (SOP) for drug administration with the six correct principles on the level of patient satisfaction in Ungaran Hospital. The design of this research is descriptive analysis using a cross sectional approach, the number of samples used is 90 respondents using the Slovin formula to determine. The results of the study using the Chi Square analysis test showed that there was a significant effect between the application (SOP) of drug administration with the six correct principles on the level of patient satisfaction (p = 0.000). From the results of the analysis obtained the value of Odds Ratio (OR) of 59.160. The recommendation from this research is that nurses always apply the SOP correctly to increase patient satisfaction.

Sirumapea, Renhard; Suhartatik, Nanik; Suhartatik, Nanik; Wulandari, Yustina Wuri; Wulandari, Yustina Wuri

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2020 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Diabetes melitus menjadi masalah kesehatan di dunia karena terjadi peningkatan setiap tahun. Oleh karena itu dibutuhkan obat atau agensi terapi yang efektif dan murah untuk menanggulangi diabetes melitus. Ekstrak kulit terong Belanda mempunyai kandungan antosianin dan betakaroten yang memiliki kemampuan menurunkan kadar gula darah, sehingga dapat dijadikan sebagai obat tradisional yang efektif dan murah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak kulit terong Belanda terhadap penurunan kadar gula darah tikus wistar jantan yang diinduksi aloksan. Metode penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pre and post test randomized controlled group design. Penelitian ini menggunakan tikus wistar jantan sebanyak 25 ekor  yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu perlakuan dengan aquadest (kontrol negatif), ekstrak kulit terong Belanda (Solanum betaceum) dosis 0,25 ; 0,75 ; 1,25 g/kg BB dan metformin sebagai obat diabetes dengan dosis 18 mg/tikus (kontrol positif). Semua kelompok diinduksi aloksan sampai dengan kadar gula darahnya mencapai ≥ 200 mg/dL lalu diukur kadar gula darah sebagai data pre test. Perlakuan diberikan selama 14 hari dan pada hari ke – 14 diukur kadar gula darah sebagai post test. Ekstrak kulit terong Belanda dosis 0,25; 0,75 dan 1,25 g/kg BB mampu menurunkan kadar gula darah secara signifikan selama 14 hari akan tetapi belum ada dosis yang memiliki efektifitas yang sebanding dengan metformin dalam penurunan kadar gula darah apabila diberikan selama 14 hari.Kata kunci: Ekstrak kulit terong Belanda, diabetes, tikus, aloksanABSTRACT Diabetes melitus is a health problem in the world because the sufferers increase from year to year. So that it is needed an effective and economical drug or therapeutic agency to cope with the disease. Tamarillo peel extract contains anthocyanin and beta-carotene which are capable to reducing blood sugar levels, so that it can be used as an effective and economical traditional medicine. The aim of the study was to analyze the effect of the administration of Tamarillo peel extract on decreasing blood sugar levels in male wistar rats induced by alloxan. The research method used a pre and post test randomized controlled group design. This study used 25 male wistar rats divided into 5 treatment groups namely aquadest treatment (negative control), metformin as a diabetes drug with a dose of 18 mg / rat (positive control), and Tamarillo skin extract (Solanum betaceum) dose 0, 25; 0.75; 1.25 g / kg BB. All treatment groups were induced by alloxan until their blood glucose levels reached ≥ 200 mg / dL then measured blood sugar levels as the pre test data. The treatment was given for 14 days and on the 14th day blood sugar levels were measured as a post test. Tamarillo peel extract dose of 0.25; 0.75 and 1.25 g / kg BB can significantly reduce blood glucose levels for 14 days but there is no dose that has an effectiveness comparable to metformin in reducing blood glucose levels if given for 14 days.Keywords: Tamarillo peel extract, diabetes, rats, alloxan

Widyastuti, Rosmala; Sunarni, Sunarni

Adi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat 2019 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Kesejahteraan masyarakat dapat didukung dari berbagai aspek. Selain pendidikan dan ekonomi, peran pangan merupakan sumber kebutuhan dalam mencukupi kebutuhan. Program pengabdian ini dimaksudkan mempunyai tujuan mengoptimalisasi pekarangan rumah warga masyarakat dengan penanaman pangan lokal disekitar pekarangan. Metode yang digunakan dalam program ini adalah Pendampingan dan Pemberdayaan. Kegiatan ini dilakukan selama satu bulan yang terdiri dari satu minggu pelatihan praktek dan tiga minggu pendampingan. Hasil dari program pengabdian ini adalah perolehan pemahaman dari masyarakat yang sebelaumnya belum tahu menjadi faham. Pendampingan yang dilakukan menghasilkan kebiasaan warga dalam menanam tumbuhan disekitar pekarangan rumah. Dari yang hanya dahulunya dibaiarkan kini telah digunakan sebagai sumber kebun terdekat dari dapur. Selain dari itu melalui pengabdian ini juga telah memaksimalkan warga dalam memanfaatkan pekarangan rumah dengan penanaman bahan obat dan jamu.

Dwi Mulianda; Margiyati; Andre Dwi Susilo; Jeffri Riyan Mustakim; Nur Khasanah +2 more

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2019 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Peningkatan asam urat (hiperurisemia) didefinisikan sebagai peninggian kadar asam urat lebih dari 7,0 ml/dl dan 6,0 mg/dl. Hiperurisemia perlu dilakukan penatalaksanaan untuk membatasi serangan akut, mencegah kekambuhan, dan mencegah komplikasi yang terkait dengan pengendapan kristal urat di jaringan, serta mencegah kecacatan fisik. Penatalaksaan hiperurisemia selain dapat diselesaikan secara farmakologis menggunakan obat-obatan, namun dapat juga dilakukan secara non farmakologis dengan melakukan senam ergonomis, serta manajemen nutrisi. Kegiatan ini bertujuan agar lansia di Posyandu Lansia Setya Manunggal III Kabupaten Semarang dapat mengetahui penatalaksanaan peningkatan asam urat (hiperurisemia). Berdasarkan Evidance Based penatalaksanaan peningkatan asam urat dengan obat-obatan, senam ergonomis, dan manajemen nutrisi signifikan berpengaruh terhadap penurunan asam urat dalam darah. Hasil pengabdian masyarakat diantaranya adalah Lansia Setya Manunggal III Kabupaten Semarang yang hadir pada tanggal 10 Februari 2019 sebanyak 56 orang; Screening asam urat 16 orang (28,6 %) mengalami peningkatan asam urat, 33 orang (58,9 %) asam urat normal, dan 7 orang (12,5 %) asam urat low; terdapat peningkatan pengetahuan lansia   setelah diberikan pendidikan kesehatan penatalaksanaan peningkatan asam urat; terdapat peningkatan ketrampilan lansia   dalam melakukan senam ergonomic sebagai penatalaksanaan peningkatan asam urat; Lansia Setya Manunggal III Kabupaten Semarang sudah menerapkan penatalaksanaan peningkatan asam urat dalam kehidupan sehari-hari.      

Tuti Anggarawati; Nanang; Enggar Dwi Prasetyo; Alfia Tyas Mahestye; Bynar Fredy Anggara +2 more

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2019 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Remaja adalah masa transisi usia dimana seseorang belum dikatakan dewasa namun bukan lagi seorang anak. Remaja  akan fase pencarian identitas diri, gejolak hormon, dan tekanan yang besar dari sekolah serta lingkungan sekitarnya. Proses pematangan fisik  yang terjadi lebih cepat dari proses pematangan kejiwaan (psikososial)  menyebabkan   remaja harus menghadapi perubagan fisik, kognitif dan emosional yang dapat menimbulkan kondisi stres dan memicu perilaku unik pada remaja. Perilaku –perilaku yang dimunculkan oleh remaja untuk menghadapi kondisi stres seperti  cemas,  depresi, merokok,  menjadi anak  jalanan,  adiksi game, kekerasan, penyalahgunaan obat, sampai bunuh diri. Bunuh diri merupakan kematian no.2 terbanyak di dunia pada usia 15 – 29 tahun (WHO, Preventing Suicide, 2014), 350 juta orang di dunia diestimasikan mengalami  depresi,  dan  depresi  merupakan  penyebab  disabilitas  utama  di dunia. (WHO, Depression, 2012). Gangguan mental emosional: gejala depresi dan anxietas pada usia ? 15 tahun sebesar 6% atau sebesar > 14 juta jiwa Gangguan jiwa berat (Psikosis): gejala psikosis sebesar 1,7/1000 atau sebesar > 400.000 jiwa.   Salah satu penyebab dari timbulnya gangguan mental emosional sampai akhirnya mengalami psikotik adalah karena remaja tidak mampu dalam beradaptasi pada masa transisi atau dalam menghadapi perubahan kehidupannya. Secara alamiah sebenarnya apabila tubuh baik fisiologis maupun psikologis  terpapar  oleh  suatu  stressor  atau  tekanan  atau  keadaan  yang tidakpasti tubuh akan melakukan suatu mekanisme untuk mempertahankan kondisi tubuhnya seperti semula. Bentuk dari pertahanan diri seseorang berbeda sesuai dengan mekanisme psikis yang diperlukan untuk beradaptasi dengan relitas eksternal.Defence  mekanisme  yang  positif  /konstruktif  akan  membangun  jiwa remaja menjadi pribadi yang handal dan siap menjadi generasi penerus bangsa yang dapat dibanggakan untuk keluarga, masyarakat dan negara. Kesehatan jiwa remaja merupakan hal  penting dalam menentukan kualitas bangsa. Remaja yang tumbuh dalam lingkungan kondusif dan mendukung merupakan sumber daya manusia yang dapat menjadi aset bangsa tidak ternilai.          

SU, Setyaningsih; Wibowo, Edi; Susanti, Rina

Adi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat 2019 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Kelompok kerja PKK yang berperan penting dalam pemberdayaan masyarakat yaitu Pokja III yang membidangi program pangan, sandang, perumahan dan tatalaksana rumah tangga.Pemberdayaan ibu-ibu PKK Desa Ngunut kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar dalam memanfaatkan Tanaman Obat Keluarga diharapkan dapat menjadi alternatif peningkatan pendapatan keluarga Permasalahan yang dialami bahwa jumlah TOGA yang ditanam di pekarangan jumlahnya masih terbatas.Belum semua masyarakat mengetahui peluang usaha tanaman TOGA. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menumbuh kembangkan berwirausaha dengan memanfaatkan tanaman toga dan meningkatkan ketrampilan dalam pengolahan tanaman TOGA sehingga bisa menambah pendapatan keluarga. Metode yang di gunakan penyuluhan. Kegiatan ini memberikan manfaat ibu-ibu PKK Desa Ngunut yang semula belum pernah berwirausaha bisa mencoba untuk berwirausaha dan yang sudah berwirausaha bisa melakukan pengembangan usaha melalui diversifikasi produk aneka tanaman obat keluarga sehingga akan meningkatkan pendapatan keluarga.Kata kunci:tanaman obat keluarga, DesaNgunut, peluang usaha, diversifikasi produk,pendapatan

Yannie Asrie Widanti, Dobby Rohmadianto, Nanik Suhartatik &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2019 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Zea mays L. sacharata adalah nama latin dari tanaman jagung yang banyak dibudidayakan oleh petanidi Indonesia. Bagian yang sering dimanfaatkan adalah bagian buah, sedangkan rambut jagung masih banyakdibuang atau menjadi limbah. Rambut jagung mempunyai kandungan vitamin B (niasin, riboflavin dantiamin) dan kaya akan mineral (abu, alumunium, krom, kobalt, zat besi, magnesium, mangan, fosfor, kalium,selenium, natrium, saponin, tanin, dan flavonoid). Selain itu rambut jagung dapat digunakan sebagai obattradisional sebagai peluruh air seni, penurun tekanan darah tinggi dengan senyawa yang diduga berperanadalah saponin.Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan kombinasi perlakuan konsentrasi rambut jagung-roseladan lama pengeringan yang mempunyai aktivitas antioksidan tinggi dan disukai konsumen. Penelitiandilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktorpertama dengan konsentrasi rambut jagung dan rosela (85:15, 70:30, 55:45) sedangkan faktor yang kedua lamapengeringan (1,5; 2; 2,5 jam). Hasil penelitian menunjukan kombinasi perlakuan konsentrasi rambut jagungdan rosela 55:45 dengan lama pengeringan 2,5 jam adalah yang paling optimal, karena kandungan aktivitasantioksidan yang tinggi dan disukai berdasarkan uji organoleptik. Pada perlakuan ini dihasilkan kadar air1,72%, aktivitas antioksidan DPPH 90,63%, aktivitas antioksidan FRAP 97,35%, total fenol 24,24 mg asamgalat/100ml, vitamin C 0,50 mg/100g, pH 2,00 serta uji organoleptik terhadap kesukaan keseluruhan yaitu3,67 (suka). Lama pengeringan berpengaruh nyata terhadap aktivitas antioksidan DPPH, FRAP, vitamin Cdan pH, sedangkan pada kadar air dan total fenol lama pengeringan tidak berpengaruh.Kata kunci: Antioksidan, teh, rambut jagung, rosela, pengeringan.

Martana, Efrain Patola &

Adi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat 2018 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk (1) meningkatkan pemahaman tentang pekarangan, tanaman obat keluarga, dan teknik budidayanya; serta (2) meningkatkan keterampilan teknik membudidayakan tanaman obat keluarga. Sedangkan target khusus yang ingin dicapai adalah PKK Rt 05/RW 08 dapat memproduksi sendiri berbagai tanaman obat keluarga sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan obat, serta menghemat pengeluaran rumah tangga. Kegiatan ini telah dilaksanakan di kelurahan Banyuanyar kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah, yang diikuti 30 orang peserta dari PKK Rt 05/ RW 08. Metode kegiatan yang digunakan adalah “pemberian pengetahuan dan pembentukan sikap melalui ceramah, diskusi, dan praktek budidaya tanaman obat keluarga. Hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa Ibu-Ibu PKK Rt 05 RW 08 sudah dapat memahami dan membudidayakan tanaman obat keluarga secara benar.Kata Kunci: Pekarangan, tanaman obat keluarga, teknik budidaya

Nanik Suhartatik, Citra Tiara, Merkuria Karyantina &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Temulawak merupakan salah satu jenis rimpang yang sering digunakan untuk bahan baku obat tradisional. Temulawak mengandung zat warna kuning (kurkumin). Begitu pula dengan nanas yang termasuk salah satu bahan pangan yang merupakan sumber antioksidan. Temulawak serta nanas belum banyak dimanfaatkan sebagai produk pangan, padahal keduanya memiliki kandungan antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis temulawak dan nanas dengan mengolahnya menjadi es krim yang juga mengandung antioksidan tinggi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama temulawak (10, 20, dan 30 g) sedangkan faktor yang kedua bubur buah nanas (40, 50, dan 60 g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah kombinasi perlakuan ekstrak temulawak 30 g dan bubur buah nanas 60 g. Es krim temulawak nanas tersebut mempunyai karakteristik: kadar abu 0,855 %; kadar protein 1,458 %; kadar lemak 1,172%; aktivitas antioksidan 71,965 %; kecepatan meleleh 10,55 menit; overrun 7,02 %; warna kuning (3,933), tekstur lembut (3,800), rasa dan aroma temulawak terasa (4,000), rasa dan aroma nanas terasa (3,867), serta disukai oleh konsumen (2,867).Kata Kunci: Antioksidan, es krim, nanas, temulawak

Wismarini, Th. Dwiati; Santoso, Dwi Budi; Ningsih, Dewi Handayani Untari

Dinamik 2013 Universitas Stikubank

Tanaman obat (TO) adalah tanaman yang memiliki khasiat obat dan digunakan sebagai obat dalam penyembuhan maupun pencegahan penyakit. TO sebagai Obat Tradisional (OT) ini masih banyak digunakan oleh masyarakat, terutama dari kalangan menengah ke bawah. Bahkan dari masa ke masa,  OT ini mengalami perkembangan yang semakin meningkat, terlebih dengan munculnya isu kembali ke alam (back to nature) serta krisis yang berkepanjangan dan telah diakui juga bahwa OT dari TO tersebut  memiliki efek samping relatif kecil dibandingkan obat modern, meski tetap perlu diperhatikan bila ditinjau dari kepastian bahan aktif dan konsistensinya yang belum terjamin terutama untuk penggunaannya secara rutin. Bentuk dari kearifan budaya khususnya bagi masyarakat yang melestarikan pengobatan alami, TO perlulah didata dan didokumentasikan dengan tujuan agar berbagai manfaat TO dapat semakin banyak teridentifikasi dan secepatnya diimplementasikan kepada masyarakat. Dalam penelitian ini dihasilkan sebuah Elektronik Ensiklopedia Tanaman Herba (EETH) berbasis WEB yang merupakan salah satu upaya mendokumentasikan dan menginformasikan kepada masyarakat tentang berbagai tanaman yang berkhasiat obat. EETH ini dapat menyajikan informasi secara online mengenai berbagai macam tanaman yang berkhasiat obat/tanaman herba yang dapat membantu user dalam menambah pengetahuan mereka mengenaiTO, terutama TO yang tumbuh di sekitar lingkungan rumah dan cara pengolahan TO agar menjadi obat yang berkhasiat   Kata Kunci : Tanaman, Obat, Penyembuhan, Penyakit, Ensiklopedia

Murti, Hari; Santi, Rina Candra Noor

Dinamik 2011 Universitas Stikubank

Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut  dalam retina mata yang mengalami kelemahan atau kerusakan permanen dan tidak mampu merespon warna dengan semestinya. Buta warna  merupakan kelainan genetik atau bawaan yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya,  kebutaan warna juga dapat disebabkan seseorang mengkonsumsi obat dalam periode waktu tertentu karena penyakit yang dideritanya. Penglihatan warna sangat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari dari seseorang, menjadikan masalah dan bahkan mungkin  bisa menjadikan seseorang akan merasa tersiksa dan frustasi dengan keadaan ini, misal pada anak-anak dimana tidak dapat memilih warna spidol atau crayon yang tepat, seseorang tidak dapat memadu padan warna baju yang cocok, seorang ibu yang tidak bisa mengetahui kapan daging benar-benar matang, seseorang tidak mengerti tanda lalu-lintas dan masih banyak lagi fakta-fakta tentang buta warna. Menurut dokter spesialis mata bahwa tidak ada cara untuk mengobati buta warna karena bawaan, karena buta warna bukan suatu penyakit melainkan gangguan penglihatan pada seseorang. Penyandang buta warna tetap mengenal warna tetapi warna yang sesuai dengan persepsi sendiri. Sedangkan penderita kebutaan warna yang disebabkan akibat samping dari mengkonsumsi obat maka kebutaan warna yang disandangnya dapat disembuhkan.