This study aims to examine and analyze the effect of income on consumption patterns of students of the Faculty of Islamic Economics and Business at UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten and to determine differences in consumption patterns of FEBI students at UIN BANTEN based on scholarship recipients, gender and place of residence. This study used a quantitative approach by distributing questionnaires to 30 respondents. Then the collected data were analyzed using a simple regression equation with the help of the Eviews program and the average difference test with the help of the SPSS program. The results of the simple linear regression equation obtained Y = 1.850 + 0.680X a constant of 1.850 which is the value of consumption before it is affected by income, then the regression coefficient equal to 0.680 is the value of income which has a positive and significant influence on the level of student consumption and if increased Rp. 100,000 it will increase consumption by Rp. 68,000. Then it can be seen that the coefficient of determination is 0.345 or when multiplied by 100 percent, 34.5% of the income variable will influence the level of consumption of FEBI students at UIN Banten in Serang City and the remaining 65.5% is influenced by other variables not included in the study This. The variable is additional income. The t test obtained t count > t table or obtained 3.840 > t table 2.048 thus Ho was rejected and Ha was accepted so that it can be stated that income has a positive and significant effect on the level of consumption of FEBI Banten UIN students in Serang City.
The preparation and control of all student-related activities, from their arrival through their departure from a madrasa or educational institution, constitutes student management. When implementing instructional activities at madrasas, student management activities are a crucial component that must be taken into consideration. It has been adopted in the management of students at MTs Lab UINSU, but there are still some students who are not disciplined in respecting the regulations that have been introduced in madrasas, which is causing issues in the management of students. The goal of this study was to learn more about the descriptive qualitative field research approach that MTs Lab UINSU utilizes to supervise its students. It was done to gather data.
STRATEGI DAKWAH BIL HAL BERBAGI SAYUR GRATIS OLEH
PERGURUAN SILAT PERSAUDARAAN SETIA HATI WINONGO
DI KABUPATEN MAGETAN JAWA TIMUR
Anggie Novita, Davita Dyah Ayu Puspitasari, Andhita Risko Faristiana
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah
Institut Agama Islam Negeri Ponorogo
Email : anggienovita8523@gmail.com, ayup1178@gmail.com, andhitarisko@iainponorogo.ac.id
ABSTRAK
Sesuai dengan pergeseran sosial selama periode reformasi saat ini, di mana pidato lisan kadang-kadang berjumlah sedikit lebih dari hiasan bibir lipstik karena tidak ada bukti nyata, Oleh karena itu, dakwah perlu dilakukan dengan contoh positif untuk mendukung proses reformasi. Dakwah bil Hal merupakan jalan yang baik karena dakwah bil-hal mencakup semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan manusia, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan material, fisik, dan ekonomi. Seperti kegiatan berbagi sayur gratis oleh perguruan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Winongo. Teknik pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, yang memungkinkan untuk produksi data deskriptif selanjutnya dalam bentuk kata-kata dan tulisan serta perilaku yang ditemukan melalui pengamatan subjek penelitian. Peneliti menggunakan strategi ini karena tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan penyebab di balik penyelenggaraan acara berbagi sayuran gratis. Menurut pemaparan pembahasan penelitian di atas dapat diperoleh kesimpulan dengan adanya kegiatan berbagi sayur gratis di Magetan Desa Duyung Takeran, adapun pelaksana dari kegiatan tersebut yaitu organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo di Desa Duyung. Tujuan diadakanya kegiatan tersebut adalah semata-mata karena munculnya rasa kepedulian kepada masyarakat di masa pandemi Covid-19 di tahun 2020 dengan membantu sedikit kebutungan ekonomi berupa bahan pangan yang berlanjut hingga tahun 2023.
ABSTRACT
In keeping with the social shifts during the current reform period, where oral speech sometimes amounted to little more than lipstick lipstick decoration because there was no concrete evidence, therefore, da'wah needs to be done with positive examples to support the reform process. Da'wah bil Hal is a good way because da'wah bil-hal covers all matters related to human needs, especially those related to material, physical, and economic needs. Such as free vegetable sharing activities by the Persaudaraan Setia Hati Winongo pencak silat college. The technique of qualitative approach is used in the study, which allows for the subsequent production of descriptive data in the form of words and writing as well as behaviors found through the observation of the research subject. Researchers used this strategy because the purpose of the study was to determine the cause behind organizing free vegetable sharing events. According to the presentation of the research discussion above, conclusions can be obtained with the free vegetable sharing activity in Magetan, Takeran Duyung Village, as for the implementer of the activity, namely the Persaudaraan Setia Hati Winongo organization in Duyung Village. The purpose of holding this activity is solely because of the emergence of a sense of concern for the community during the Covid-19 pandemic in 2020 by helping a little economic struggle in the form of food which continues until 2023.
PENDAHULUAN
Islam merupakan agama yang diturunkan Allah SWT kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai nabi dan rasul terakhir untuk dijadikan pedoman bagi seluruh manusia hingga akhir zaman (H. A.Kadir Sobur : 2013). Dimana agama Islam menugaskan umatnya untuk menyebarluaskan dan mensiarkan Islam kepada seluruh umat atau biasa disebut dengan agama dakwah. Islam tidak hanya menugaskan melainkan juga mengajak agar umatnya mampu menerima sekaligus melaksanakan ajaran-ajaran yang ada di dalam Islam, maka dari itu perlunya metode dakwah bil-hal yang tepat seperti tolong-menolong antar masyarakat dikarenakan manusia merupakan makhluk sosial yang artinya tidak bisa untuk hidup sendiri tanpa adanya bantuan orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ
(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah shalat, dan tunaikanlah zakat.” Akan tetapi, kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang. Al-Baqarah [2]:83
Strategi dakwah merupakan suatu proses yang mengatur, mengarahkan, serta menentukan cara dan upaya apa yang dapat menghadapi sasaran dakwah pada situasi ataupun kondisi tertentu agar bisa menjadi tujuan dan sasaran dakwah yang tercapai secara maksimal (Syamsul Munir Amin;2008:165). Bentuk nyata strategi dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat di Madinah yaitu dengan membangun masjid sebagai pusat kegiatan dakwah, melakukan perjanjian dengan kaum Yahudi Madinah yang mana berisikan tentang memperkuat posisi kaum muslimin dari gangguan penduduk asli, Yahudi maupun bangsa Arab.
Selanjutnya mempersaudarakan kaum Muhajirin dan anshor yang mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menganjurkan kepada kaum Muhajirin dan Anshar untuk saling bersaudara dan menentang keras akan adanya kesukuan, bentuk strategi dakwah yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang terakhir yakni membangun ekonomi rakyat dengan mendirikan pasar di mana pasar ini dijadikan untuk sarana berdakwah yang pada umumnya pasar adalah tempat ramai para masyarakat atau kaum berkumpul untuk mencari kebutuhan atau keperluan.
Dakwah adalah upaya untuk mengubah perspektif orang dari yang buruk ke yang baik. Dari kufur ke iman, dari kemiskinan ke kekayaan, dari perpecahan ke persatuan, dan dari kemaksiatan menuju ketaatan untuk menerima rahmat Tuhan (M.Qoddaruddin A. : 2019). Dakwah lebih menekankan pada inisiatif untuk meningkatkan motivasi daripada mempromosikan penghindaran tindakan yang dilarang oleh keyakinan agama. Perbuatan larangan suatu tindakan adalah tindakan hukum spasial. Dakwah dalam konteks sekarang bukan merupakan tindakan hukum, meskipun faktanya diakui bahwa dakwah dan hukum dapat hidup berdampingan.
Tujuan dakwah adalah untuk membuat Islam dikenal orang-orang pada tingkat individu dan sosial untuk membuat kasih sayang Islam dikenal oleh semua makhluk hidup sebagai "Rahmat Lil'alamen" (Pimay, 2005: 35-38). Agar kesinambungan ajaran Islam dan penganutnya dari generasi ke generasi tetap terjaga, dakwah dapat menjaga nilai-nilai Islam di kalangan umat Islam dari satu generasi ke generasi berikutnya. Fungsi dakwah lainnya adalah fungsi korektif, yang melibatkan meluruskan nilai-nilai yang bengkok, menghentikan kejahatan, dan menyelamatkan manusia dari kegelapan spiritual (Sayyid Quthub :1991).
Metode dalam menyampaikan dakwah Islam dapat dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu lisan, tulisan, dan perbuatan. Pendekatan bil lisan adalah dakwah yang berfokus pada kemapuan lisan. Pendekatan bil-risalah adalah dakwah melalui tulisan seperti buku, brosur, atau media elektronik. Selanjutnya dakwah dengan metode bil-hal yaitu dakwah yang berfokus pada aksi atau kreativitas perilaku da’i secara luas (perbuatan nyata).
Da'wah bil hal juga dikenal sebagai dakwah bil Qudwah, yang mengacu pada dakwah yang sebenarnya melalui penggunaan Akhlaq Karimah. Menurut Buya Hamka, yang menyatakan bahwa "Akhlaq adalah sebagai alat dakwah, yaitu etika pikiran yang dapat dilihat orang, bukan dalam ucapan tulisan yang manis dan menarik tetapi dengan etika yang baik. luhur," ini sesuai dengan pernyataan (Suisyanto : 2002)
Efek globalisasi di dunia dakwah adalah pengalaman yang sangat dirasakan karena kita memahami pentingnya. Semua Muslim memiliki tanggung jawab untuk melakukannya, terutama mereka yang memiliki pengetahuan tentang Islam. Sampai sekarang, lebih banyak dakwah telah dilakukan dengan menggunakan strategi lisan yang mencakup lebih banyak elemen kognitif.
Sesuai dengan pergeseran sosial selama periode reformasi saat ini, di mana pidato lisan kadang-kadang berjumlah sedikit lebih dari hiasan bibir lipstik karena tidak ada bukti nyata, Oleh karena itu, dakwah perlu dilakukan dengan contoh positif untuk mendukung proses reformasi. Sangat penting bagi dakwah untuk memainkan peran positif menyiratkan bahwa fokus pada sikap perilaku afektif ditempatkan pada amal nyata serta aspek lisan, lebih tulus, dan kurang mendalam. Ini menunjukkan bahwa seruan hadir. Dakwah lisan juga diimbangi dengan sedekah konkret yang dapat diamati secara empiris dan dapat digunakan untuk memobilisasi kesadaran tujuan dakwah. Untuk melakukan itu, seseorang harus mempertimbangkan bagaimana gaya dakwah bil-hal dapat mengatasi masalah ini.
Menurut Manual Dakwah (Harun, 10-14), dakwah bil-hal mencakup semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan manusia, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan material, fisik, dan ekonomi. Ini menempatkan fokus yang lebih besar pada pertumbuhan pribadi dan kesejahteraan masyarakat untuk meningkatkan standar hidup Anda sesuai dengan doktrin Islam.
Pengembangan kegiatan dakwah dapat berupa: 1) kegiatan transmigrasi, 2) pelaksanaan pendidikan masyarakat, 3) kegiatan koperasi, 4) perbaikan gizi masyarakat, 5) pelaksanaan usaha kesehatan masyarakat, seperti rumah sakit, 6) penciptaan lapangan kerja, 7) pelaksanaan panti asuhan, dan 8) peningkatan pemanfaatan media komunikasi dan seni budaya. Untuk mencapai hasil yang diinginkan, Nabi Muhammad (saw) menggunakan dakwah bil hal di bidang amal.
Dakwah menunjukan akan adanya organisasi dakwah untuk menjalankan fardhu kifayah disebut dakwah dan juga pelaksanaan dakwah perorangan terhadap hubungan dan juga kriteria disebut tabligh. Perlunya memiliki sikap berbagi antar sesama merupakan salah satu perilaku yang sangat baik diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang mana dapat membangun kesadaran pada masyarakat untuk berbagi pada sesama untuk bisa membantu walaupun hal tersebut tidak mudah untuk dijalankan, dilihat dari masih sedikit yang memiliki kesadaran untuk berbagi pada sesama manusia.
Dalam hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi organisasi yang ada di Indonesia yang mana perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya berbagi dengan sesama, salah satu organisasi yang berperan dalam konsentrasi berbagi yaitu perguruan Persaudaraan Setia Hati Winongo dalam program berbagi sayur gratis. Kegiatan berbagi sayur gratis ini berawal dari mewabahnya virus Covid-19. Organisai PSHW di Desa Duyung ini termotivasi untuk mengadakan kegiatan berbagi sayur gratis karena melihat kondisi masyarakat yang terkena dampak dari virus Covid-19 dengan maksud membantu sedikit kebutuhan pangan masyarakat.
Berdasarkan latar belakang di atas maka akan muncul masalah di mana peran perguruan Persaudaraan Setia Hati Winongo di kabupaten Magetan dalam menerapkan nilai-nilai dakwah bil hal melalui program berbagi sayur gratis. Dalam hal ini penulis melakukan penelitian lebih lanjut terhadap program berbagi sayur gratis dengan judul: “Strategi Dakwah Bil Hal berbagi sayur gratis oleh perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Winongo di Kabupaten Magetan Jawa Timur”.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Duyung Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur Indonesia. Alasan memilih tempat ini dengan pertimbangan bahwa peneliti tertarik dengan program kegiatan berbagi sayur gratis oleh organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo. Waktu penelitian dilaksanakan pada 28 Mei 2023.
Teknik pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, yang memungkinkan untuk produksi data deskriptif selanjutnya dalam bentuk kata-kata dan tulisan serta perilaku yang ditemukan melalui pengamatan subjek penelitian (Sugiyono, 2017). Peneliti menggunakan strategi ini karena tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan penyebab di balik penyelenggaraan acara berbagi sayuran gratis.
Berbeda dengan penelitian kuantitatif, temuan penelitian kualitatif dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara, dokumentasi, studi kasus, dan metode lain daripada dengan prosedur statistik atau jenis perhitungan lainnya. penelitian kualitatif semacam ini disebut fenomenologi kualitatif, sebuah atau metode yang menekankan filsafat untuk menyelidiki pengalaman peserta penelitian. Fenomenologi diartikan sebagai cara berpikir yang menggunakan tahapan-tahapan yang dilakukan secara rasional, kritis, dan tidak didasarkan pada spekulasi bias belaka untuk menghasilkan informasi baru atau mengembangkan pengetahuan yang ada.
Data dapat dikumpulkan dengan dua cara: melalui metode pengumpulan data primer, dan melalui data sekunder. Data primer merupakan sumber data penelitian yang diterima langsung dari sumber asal, tanpa menggunakan perantara, menurut Nur Indrianto dan Bambang Supomo (2013: 142). Organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo, yang menawarkan acara berbagi sayuran gratis, dihubungi untuk penelitian pengumpulan data utama proyek menggunakan metodologi wawancara langsung.
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diterima peneliti secara tidak langsung melalui perantara (diperoleh dan didokumentasikan oleh pihak lain), menurut Nur Indrianto dan Bambang Supomo (2013-143). Untuk memeriksa laporan, tujuan penelitian ini adalah untuk meninjau literatur. Literatur dan buku domuken yang relevan dengan penelitian ini dan dapat mendukung penelitian ini merupakan contoh sumber data sekunder yang memiliki sifat pendukung bagi proses penelitian dan memenuhi kebutuhan data primer.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Apa Itu Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW)?
Pada tahun 1903 Ki Ngabehi Soerodwirdjo mendirikan perguruan pencak silat yang diberi nama Sedulur Tunggal Kecer atau STK yang bertempat diDesa Tambak Gringsing, Kota Surabaya. setelah itu pada tahun 1966 berdirilah Perguruan Setia Hati Winongo yang didirikan oleh Bapak Raden Djimat Hendro Soewarno yang merupakan murid kesayangan dari Ki Ngabehi Soerodwirdjo. Persaudaraan Setia Hati Winongo berada di Desa Duyung, Kecamatan Mangunharjo, Kota Madiun, nama persaudaraan pencak silat tersebuut diambil dari nama Desa letak didirikannya. Awal berdiri perguruan pencak silat ini diajarkan pelajaran pencak silat yang berasal dari para pendekar terkenal pada zaman Ki Ngabehi Soerodwordjo, Sasaran utama perguruan ini pada saat itu merupakan generasi-generasi muda. Dalam mencari generasi baru pada saat itu Persaudaraan Setia Hati Winongo menamai dengan “Tunas Muda”, yang memiliki arti “Setia hati yang akan bersinar Kembali” dimana Gerakan tunas muda tersebut pertama kali populer dan digunakan pada berdirinya Persaudaraan Setia Hati Winongo, yang mana diharapkan generasi muda dapat menjadi penerus yang berguna bagi kepentingan bangsa dan negara.
Pada saat penerimaan anggota baru Tunas Muda Winongo harus diadakannya pengesahan terlebih dahulu dengan adanya pengesahan maka akan resmi menjadi warga atau anggota baru. Tidak hanya itu ilmu-ilmu setia hati hanya boleh diketahui oleh warga yang telah diresmikan dan dilarang bagi warganya untuk mengajarkan kepada selain warga. Adanya pelajaran tingkat lanjut mau diikuti atau tidak itu tergantung kesadaran dari warga dari Setia Hati winongo tersebut, karena dalam mengikuti peruguruan ini tidak ada unsur paksaan. Persaudaraan Setia Hati Winongo selain berada di Madiun, tidak pernah membuka cabang perguruan pencak silat dimanapun, kalaupun ada kemungkinan itu hanya dijadikan tempat berlatih ataupun juga kunjungan silaturahmi. Seseorang yang ingin bergabung pada perguruan ini baik dari luar madiun atau bahkan mancanegara tetap saja saat pengesahan dilakukan dimadiun, karena sebagai pusat awal berdirinya perguruan setia hati winongo. Hal tersebuut dilakukan agar tetap menjaga kemurnian aliran setia hati winongo dan karena hal ini juga yang mana menjadikan ikatan persaudaraan dalam perguruan ini sangat kuat antara satu warga dengan yang lain.
Ajaran dasar mengeai kesetia hatian yang sangat erat dalam Persaudaraan Setia Hati Winongo, anggota yang baru masuk harus segera disahkan sebagai Warga agar ikatan emosional dan fisik yang bersangkutan dengan perguruan tidak terlepas, dari adanya ini menjadikan momen-momen yang mengikat solidaritas atau dapat menumbuhkan rasa kekompakan dengan seiring berjalannya proses pengesahan sehari semalam yang mana dapat membentuk kuatnya ikatan persaudaraan dan kesetiaan. Persaudaraan setia hati yang mana memiliki arti “satu rasa, satu jiwa, untuk saudara”, maka selain mengamalkan seni bela diri menggabungkan antara bela diri dengan peragakan seni tarinya, dalam Persaudaraan Setia Hati Winongo.
Para peneliti telah menemukan bahwa mayoritas penganut Winongo Setia Hati mengikuti Persaudaraan Pencak Silat, lebih menyukai kekerabatan antara penganut Winongo Setia Hati daripada praktik seni bela diri, dengan tujuan menjalin ikatan persahabatan yang kuat untuk mencapai tingkat fanatisme yang sangat tinggi antara penganutnya dan Persaudaraan Hati Setia Winongo itu sendiri, serta membangun harga diri untuk selalu dihormati dan disegani dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan Berbagi Sayur Gratis Perguruan Setia Hati Winongo di Kabupaten Magetan Jawa Timur
Pada saat adanya pandemic Covid-19 banyaknya masyarakat yang kesulitan sebab tidak diperbolehkannya keluar untuk beraktivitas yang mengakibatkan kondisi ekonomi mereka terpuruk. Pentingnya memiliki rasa peduli terhadap sesama untuk bisa saling membantu satu dengan yang lain. Menurut Hurlock (1980) Seseorang yang tindakannya bermanfaat bagi orang lain akan merasa sangat berarti di lingkungan mereka dan memiliki konsep diri yang positif atau ke atas. Namun, konsep diri seseorang akan condong negatif atau turun jika mereka percaya bahwa apa yang mereka kontribusikan kepada lingkungan mereka tidak ada artinya. Ketika orang terhubung dengan cara yang bermanfaat satu sama lain, mereka dapat memperoleh pengalaman yang mengubah cara mereka memandang diri mereka sendiri.
Adanya pandemic Covid-19 yang mana dapat menumbuhkan rasa keperdulian antar sesama karena mengupayakan agar dampak yang terjadi tidak parah. Sepertinya halnya yang dilakukan oleh Persaudaraan Setia Hati Winongo dikabupaten Magetan Jawa Timur. Yang mana tercetuskannya ide ini karena atas kesadaran sikap tolong menolong pada diri mereka masing-masing, dan mereka juga melihat pada daerah-daerah sekitar yang menerapkan hal ini lalu dimusyawarahkan dan dapat terealisasikan pada tahun 2020 yang mana masih berjalan hingga tahun 2023. Dalam kegiatan ini tidak adanya maksud ataupun tujuan lain selain ingin membantu masyarakat sekitar karena dampak dari pandemic covid-19 ini. Sebelum adanya pandemic Covid-19 Persaudaraan Setia Hati Winongo ini juga memiliki kegiatan-kegiatan lain seperti membersikan masjid yang ada dilingkungan sekitar, memotong rumput yang mana dapat bermanfaat juga untuk lingkungan sekitar.
Untuk anggota dari kegiatan ini yang kebanyakan dari anak sekolah yang lama kelamaan mulai berkurang karena berjalannya waktu anak sekolah mulai mengikuti KBM. Awal dimulainya kegiatan ini menggunakan uang kas dari Persaudaraan Setia Hati Winongo dan juga keikhlasan dari setiap anggota, lalu seiring berjalannya waktu jalan untuk mencari donator, setelah itu banyak donator yang tau dan ikut berpartisipasi mulai dari sayuran atau bahan pangan dan ada juga yang menitipkan uang untuk dibelanjakan sayur, tidak sampai disitu saja jika ada kekurangan itu akan ada sumbangan seikhlasnya bagi para anggota. Untuk sayur yang dibagikan sendiri berupa bahan mentah yang awalnya hanya dibudget lima ribu rupiah perkantong lama kelamaan bisa bertambah karena banyaknya donator yang datang. Pada umumnya setiap kegiatan memang ada struktur kepanitiaan, akan tetapi untuk kegiatan ini karena berniat ikhlas dari hati ntuk menolong sesame jadi semua bertanggung jawab mengetuai diri sendiri dalam kegiatan ini.
Beradasarkan wawancara yang penulis lakukan bahwa peminat dari sayur gratis ini hanya warga sekitar yang jumlahnya juga sudah lumayan banyak, misalkan ada pengendara yang melitas jika memang minat memang dipersilahkan walaupn bukan warga sekitar. Dikarenakan kegiatan ini memang dengan tujuan membantu sesama, tidak ada pengecualian untuk penerima dipersilahkan. Para anggota pun tidak hanya meletakkan satuyuran lalu pergi tetapi juga menawarkan agar semua bisa habis dan tidak mubazir. Kegiatan ini dilakukan pada jum’at pagi, yang mana tidak ada waktu pasti kapan jam pelaksanaan karena jika semua sudah selesai disiapkan maka para warga pun sudah antri.
Sumber : foto dari panitia
Sumber: foto dari panitia
Respon Masyarakat Terhadap Kegiatan Berbagi Sayur Gratis
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan kepada masyarakat Desa Duyung Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan Jawa Timur, banyak respon dari masyarakat. Disini penulis akan menyebutkan beberapa narasumber. Pertama, yaitu wawancara kepada ibu Yuli salah satu warga penerima sayur gratis. Menurut penuturan beliau dengan adanya kegiatan berbagi sayur gratis tersebut sangat membantu keadaan ekonomi keluarga beliau dalam hal pangan. (Wawancara, 5 Juni 2023).
Kedua, wawancara kepada Ibu Siti selaku pemasok tahu pada kegiatan berbagi sayur gratis tersebut. Menurut penuturan beliau kegiatan tersebut membantu beliau dalam menyalurkan sedekah kepada masyarakat dalam bentuk uang maupun bahan pangan. Sedekah bukan di nilai seberapa banyak tetapi ke ikhlasan hati untuk membantu sesama. (Wawancara, 5 Juni 2023).
Ketiga, wawancara kepada Bapak Agus selaku salah satu panitia yang mengadakan kegiatan berbagi sayur gratis. Menurut penuturan beliau, kegiatan tersebut pada dasarnya adalah membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan ekonomi dalam bidang pangan. Uang yang digunakan untuk menjalankan kegiatan ini awalnya dari kas organisasi, namu seiring berjalanya waktu bagi siapapun yang ingin berbagi dengan ikhlas bisa ikut bersedekah. (Wawancara, 28 Mei 2023)
Metode Dakwah Bil Hal
Kata "dakwah" dikatakan berasal dari bahasa Arab "( )" (Shodiqin, 2011; Asror, 2018; Enjang, et al., 2009), yang berarti mengundang, memanggil, melayani, dan memanggil. Istilah "dakwah" juga digunakan dalam sumber-sumber lain untuk merujuk pada berbagai hal, termasuk: 1) propaganda dan penyiaran; 2) panggilan untuk merangkul, mengkaji, dan mengikuti ajaran Islam; dan 3) tumbuhnya agama di masyarakat. Irawan dan Suriadi (2019) menegaskan bahwa kata-kata lain, seperti tabligh, tabsyir indzhar, amar ma'ruf dan nahi munkar, mauidzoh hasanah, tarbiyah, ta'lim, wasyiyah, dan khotbah, juga dapat digunakan untuk memahami kata "dakwah".
Tujuan dakwah, di sisi lain, adalah untuk meningkatkan status umat di semua bidang kehidupan dengan mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan pribadi, keluarga, dan komunitas seseorang (Mulkan, 1993). Apabila terdapat interaksi antara berbagai faktor yang saling mempengaruhi seperti yang ditunjukkan pada pembahasan sebelumnya, antara lain: pesan dakwah, mad'u, lingkungan, lingkungan, dan sarana/media dakwah, maka tujuan dakwah dapat terwujud dengan tepat (Attabik, 2014; Maghfiroh, 2016).
Fungsi dakwah sebagai media pembinaan dan pengembangan, menurut Asmuni Syukir dalam Asror (2018), dapat terwujudkan secara optimal jika semua unsur terpenuhi. Pembinaan dalam dakwah berarti mempertahankan dan menyempurnakan suatu hal yang telah ada sebelumnya, sedangkan pengembangan berarti mengadakan atau membaharui suatu hal yang belum ada sebelumnya.
Secara harfiah, dakwah bil-hal mengacu pada penyebaran prinsip-prinsip Islam melalui perbuatan. Definisi dakwah bil-hal yang diberikan oleh Rasyid et al. dalam Sagir (2015) adalah upaya untuk mendorong orang dan kelompok untuk mengembangkan diri dan masyarakat dalam rangka mewujudkan tatanan dan kebutuhan sosial ekonomi yang lebih baik sesuai dengan tuntunan Islam tentang isu-isu sosial seperti kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan.
Strategi dakwah bil-hal adalah cara untuk menyebarkan nilai-nilai agama melalui tindakan suri tauladan. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa si penerima dakwah tidak akan mengikuti jejak si da'i sebagai juru dakwah. Dengan demikian, tidak hanya penyebaran pengetahuan tetapi juga penyebaran nilai-nilai, yang dimaksudkan untuk menjadi dakwah efektif dan efisien bagi mereka yang menerimanya (Zakiyyah & Haqq, 2018).
Strategi dakwah bil-hal adalah cara untuk menyebarkan nilai-nilai agama melalui tindakan suri tauladan. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa si penerima dakwah tidak akan mengikuti jejak si da'i sebagai juru dakwah. Dengan demikian, tidak hanya penyebaran pengetahuan tetapi juga penyebaran nilai-nilai, yang dimaksudkan untuk menjadi dakwah efektif dan efisien bagi mereka yang menerimanya (Zakiyyah & Haqq, 2018).
Metode dakwah bil hal ini berkaitan dengan penelitian ini. Kegiatan berbagi sayur gratis di hari jumat yang diselenggarakan oleh organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo di Desa Duyung Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan Jawa Timur. Kegiatan tersebut merupakan suatu bentuk dari merealisasikan metode dakwah bil hal dalam bidang ekonomi. Berdasarkan penjelasan di atas bahwa awal mula kegiatan ini diadakan yaitu marak nya virus Covid-19 yang berdampak pada masyarakat salah satu nya ekonomi yang menurun. Berawal dari rasa peduli organisasi ini terhadap kondisi masyarakat yang tidak bisa bekerja maka kegiatan ini akhirnya didirikan dan berjalan hingga tahun 2023 dengan maksud bersedekah membantu masyarakat dalam hal kebutuhan pangan. Hal ini merupakan suatu bentuk terealisasikanya metode dakwah bil hal.
Kesimpulan
Menurut pemaparan pembahasan penelitian di atas dapat diperoleh kesimpulan dengan adanya kegiatan berbagi sayur gratis di Magetan Desa Duyung Takeran, adapun pelaksana dari kegiatan tersebut yaitu organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo di Desa Duyung. Tujuan diadakanya kegiatan tersebut adalah semata-mata karena munculnya rasa kepedulian kepada masyarakat di masa pandemi Covid-19 di tahun 2020 dengan membantu sedikit kebutungan ekonomi berupa bahan pangan yang berlanjut hingga tahun 2023.
Adapun uang untuk mengadakan kegiatan ini awalnya diambilkan dari uang kas anggota organisasi Persaudaraan Setia Hati Winongo. Namun, seiiring berjalanya waktu bagi siapapun yang berkenan untuk sedekah dipersilahkan. Kegiatan ini juga sudah mendaptkan beberapa sponsor/pemasok berupa sayuran, tahu, bahkan uang yang nantinya akan dibelikan sayur untuk dibagikan. Pelaksanaan berbagi sayur gratis ini yaitu satu minggu satu kali pada hari jumat. Dimulai kisaran pukul 6 sampai pukul 7 biasanya sudah habis. Dalam sehari sayur yang dibagikan yaitu 50 sampai 100 kantong. Setiap satu kantong sayur di budget 5000 rupiah.
Kaitanya dalam hal berdakwah yaitu kegiatan tersebut masuk dalam kategori strategi dakwah bil hal atau dakwah dengan aksi langsung kepada masyarakat dalam bentuk membantu kebutuhan pangan. Hal ini bisa dijadikan suatu motivasi kepada kita semua, bahwa dalam berdakwah tidak hanya pemantapan dalam hal keimanan saja namun juga dalam bentuk dakwah bil hal yaitu dengan aksi terdahap kondisi masyarakat yang masih belum sejahtera di bidang ekonomi maupun di bidang pendidikan.
Daftar Pustaka
Abdullah, Muhammad Qadaruddin. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta: Qiara Media, 2019.
Chosinawarotin, C., & Sudrajat, H. (2021, October). Sayur Berkah di Masa Pandemi. In Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat Universitas Ma Chung (Vol. 1, pp. 75-81).
Fadilah, A. (2011). Pengaruh penggunaan alat komunikasi handphone (hp) terhadap aktivitas belajar siswa SMP negeri 66 Jakarta Selatan.
A.Kadir Sobur, Tauhid Teologis, (Jakarta: Gaung Persada Press Group 2013), hlm. 5
Khaerunnisa, N. (2021, December). Efektivitas Dakwah Bil-Hal Melalui Gerakan Infaq Beras Bengkayang di Kecamatan Bengkayang. In Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication (Vol. 1, No. 1, pp. 28-31).
Kholis, N., Mudhofi, M., Hamid, N., & Aroyandin, E. N. (2021). Dakwah Bil-Hal Kiai sebagai Upaya Pemberdayaan Santri (Action Da'wah by the Kiai as an Effort to Empower Students). Jurnal Dakwah Risalah, 32(1), 112-129.
Mahanani, S. (2019). Efektivitas Kegiatan Jimpitan dalam Meningkatkan Kepedulian Sosial Masyarakat di Desa Karanglo Kidul Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo (Doctoral dissertation, IAIN PONOROGO).
Martanti, D. E., Hartono, N. R., & Sunarsasi, S. (2021). FENOMENOLOGI “SAYUR GANTUNG” MASYARAKAT BLITAR SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN DAMPAK EKONOMI DI TENGAH COVID-19. AKUNTABILITAS: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Ekonomi, 14(1), 40-41.
Mulkan, AM, 1993; “Paradigma Intelektual Muslim”, Yogyakarta, Si Press
Putra, I. D. G. U., & Rustika, I. M. (2015). Hubungan antara perilaku menolong dengan konsep diri pada remaja akhir yang menjadi anggota tim bantuan medis janar duta fakultas kedokteran universitas udayana. Jurnal Psikologi Udayana, 2(2), 198-205.
Shodiqin, Asep. (2011) Membingkai “Episteme” Ilmu Dakwah, Jurnal Ilmu Dakwah Vol.5 No 2
Sugiyono, F. X. (2017), Neraca pembayaran: Konsep, Metodologi dan Penerapan (Vol. 4). Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia.
Seeing the root of the problem of student independence during the Covid-19 pandemic, implementing the effectiveness of learning with the Seven Jumps model assisted by the whatsapp group during the Covid-19 Pandemic is the aim of this research. This type of research approach is a qualitative and quantitative experiment carried out online with the Seven Jumps learning model assisted by WhatsApp groups. Data was collected by questionnaires, observation sheets and tests. Valid device tests come from expert perceptions, test the effectiveness of learning with statistical tests of the effect of regression and comparative t tests.
The results showed that the root problems and constraints for student independence in utilizing information technology to achieve the expected competencies were: low self-motivation to learn, self-assessment ability, self-discipline, self-control, responsibility, pattern-learning ability, self-reliance in designing appropriate learning objectives, design implementation strategies, monitoring the progress of learning outcomes, coordination of learning methods, and the need for guidance in finding learning resources, implementing independent learning with the Seven Jumps model assisted by the whatsapp group is effective. This is indicated by: a) there is a positive influence of independent learning on problem solving ability of 60.8%, b) The gain test to measure the effectiveness of the pretest and posttest is 0.52 in the medium category and the effectiveness is sufficient. The Seven Jumps method can be implemented boldly during the Covid-19 Pandemic.
Seeing the root of the problem of student independence during the Covid-19 pandemic, implementing the effectiveness of learning with the Seven Jumps model assisted by the whatsapp group during the Covid-19 Pandemic is the aim of this research. This type of research approach is a qualitative and quantitative experiment carried out online with the Seven Jumps learning model assisted by WhatsApp groups. Data was collected by questionnaires, observation sheets and tests. Valid device tests come from expert perceptions, test the effectiveness of learning with statistical tests of the effect of regression and comparative t tests.
The results showed that the root problems and constraints for student independence in utilizing information technology to achieve the expected competencies were: low self-motivation to learn, self-assessment ability, self-discipline, self-control, responsibility, pattern-learning ability, self-reliance in designing appropriate learning objectives, design implementation strategies, monitoring the progress of learning outcomes, coordination of learning methods, and the need for guidance in finding learning resources, implementing independent learning with the Seven Jumps model assisted by the whatsapp group is effective. This is indicated by: a) there is a positive influence of independent learning on problem solving ability of 60.8%, b) The gain test to measure the effectiveness of the pretest and posttest is 0.52 in the medium category and the effectiveness is sufficient. The Seven Jumps method can be implemented boldly during the Covid-19 Pandemic.
In today's modernization era, it is very important for an institution to combine the values of Pancasila and the dimensions of Islamic education. Through this article we can find out the form of the critical paradigm of Pancasila and the factors that influence the crisis of Pancasila in the dimension of Islamic education and provide solutions to problems that may arise. This research method uses qualitative descriptive methods with a descriptive approach. Research informants consisted of three responders, namely students of Raden Fatah State Islamic University Palembang, the community around campus A UIN Raden Fatah Palembang, and finally students of other universities. Data were collected through observation and direct interviews. Data analysis is collected through qualitative descriptive, so that deep and accurate conclusions are obtained on the problems studied. The results of this study are first, That is the form or form of the Pancasila crisis paradigm which can be described as the Pancasila philosophy. Describe it as the philosophy of pancasila itself. Second, the factors that influence the critical paradigm of pancasila in the dimension of Islamic education are 1) The theme of evic educational democracy, 2) Multicultural culture, 3) Economy, 4) Mindset, 5) Pancasila values, 6) Education, 7) Social, and 8) Educational environment. Finally, the solution to maintain the sovereignty of the critical paradigm of Pancasila in the dimension of Islamic education, among others: improving the quality of efficiency of Islamic education, cultural approaches, internalizing education, implementing behaviors contained in the values of Pancasila.
News texts have an important role in life. Each sentence in the news text contains one or more information depending on the type of sentence used. The length of sentences in a news text makes it difficult for readers to digest the information presented. For this reason, this research is more focused on analyzing the phrases and sentences contained in news text excerpts. The goal is to make it easier for readers to understand the information in a sentence. Theoretically, this research is useful for adding insight into several types of phrases and sentences in Indonesian. The practical benefits obtained are in the form of ease in determining the core information of a phrase or sentence in a news text. This research is descriptive qualitative research that uses a pragmatic approach. The theoretical approach used in this research is the syntactic approach. The data used is in the form of news text excerpts from class VII Indonesian books which are suspected of having endocentric and exocentric phrases as well as single sentences and compound sentences. Retrieval of research data using literature study techniques, namely observing and noting. The data was then analyzed using the Miles and Huberman technique combined with the distribution method in sorting the data. The results of this study are presented informally. From the research results of five news texts in class VII Indonesian books, 50 data were found which included 7 coordinating endocentric phrases, 10 attributive endocentric phrases, 4 appositive endocentric phrases, 9 directive exocentric phrases, 2 non-directive exocentric phrases, and 8 single sentences and 10 sentences compound.
In the paragraphs of scientific writings, it is possible to find multilevel compound sentences, namely sentences consisting of one basic sentence that acts as the core and one or many other basic sentences that also act as subordinate clauses. Thus, the writing team was moved to carry out an analysis of multilevel compound sentences. The purpose of this analysis is to examine or dissect multilevel compound sentences, both in the use of variations in patterns and sequences of clauses and their descriptions. A qualitative, descriptive approach is the method used in this analysis. The data used in this analysis comes from scientific papers entitled "Status Kondisi Terumbu Karang di Teluk Ambon" and "Karakteristik Vegetasi Habitat Orang Utan (Pongo pymaeus morio) di Hutan Tepi Sungai Menamang, Kalimantan Timur" in the Language and Literature Smart Book Indonesia SMA/SMK Class XI Independent Curriculum. This data was collected using observing and note-taking techniques. The results of this analysis indicate that there are 8 multilevel compound sentence forms, consisting of 6 multilevel compound sentences with time relations, 2 multilevel compound sentences with conditional relations, 2 multilevel compound sentences with comparative relations, 7 compound multilevel sentences with causal relations, 12 multilevel compound sentences with causal relations, 8 multilevel compound sentences with manner relations, 6 compound multilevel sentences with explanatory relations, and 16 compound multilevel sentences with attribute relations. This research is expected to be useful in providing an understanding of multilevel compound sentence patterns and can be used as reference material for subsequent research.
This study focuses on the analysis of the study of sentence types in prose text literary works. The formulation of the problem in this study is how the arrangement or sentence structure is contained in the prose text of the Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut Cakap Berbahasa dan Bersastra Indonesia Kelas XI Kurikulum Merdeka textbook. Prose text is a genre in literature which is commonly called fiction or narrative text. Prose texts presented in narrative form contain various types of sentences. Sentence types are divided into declarative sentences, interrogative sentences, imperative sentences, and exclamatory sentences. This research was conducted with the aim of finding and describing types of sentences based on syntactic structures in prose texts of the Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut Cakap Berbahasa dan Bersastra Indonesia Kelas XI Kurikulum Merdeka textbook. The method used in this study is a descriptive qualitative approach combined with note-taking techniques for the data collection process and syntax analysis techniques. Qualitative research is included in the methodology used for research procedures that produce descriptive data. Based on the analysis that has been carried out on prose texts, it is known that of the 3 prose titles analyzed, namely “Penggali Sumur yang Ingin Pensiun”, “Saat Ayah Meninggal Dunia”, and “Janji Ayah” there are only three types of sentences, namely 229 declarative sentences, 17 question sentence, and 1 imperative sentence. So, it can be concluded that there are no exclamatory sentences in the prose text but are strongly influenced by declarative sentences.
The study was created to analyze the function, role, and syntax category in the sentences in story texts used in the Indonesian language textbook for class VIII junior high school independent curriculum. The data analysis technique used in this study is a billing technique with a theoretical language approach that focuses on each of the grammatical elements in sentence formation. The data on this analysis is the function, role, and syntax category in direct sentences and indirect sentences. The data source is two-story texts entitled "Parki and Egg Allergies" and "Uncle Tom's Magic Box" of the Indonesian language textbook for class VIII junior high school independent curriculum. Research has revealed five syntax functions (subjects, predicates, objects, appendages, and references), revealed a variety of syntax roles that do not always occupy the same function (the perpetrator, activity, target, driver, status, circumstances, time, tools, locative, and result), then found ten syntactic categories (pronouns, nouns, verbs, transitive verbs, intransitive verbs, verbal phrases, nominal phrases, adjective phrases, nominal-adjective phrases, and prepositional phrases). It is hoped that more variations of syntax functions, roles, and categories based on the findings of the research conducted.
Community Farmer Groups as agents of change, which lately have been more charged with the role of guarding and regulating the conversion of forest functions, this must receive attention and of course it is very appropriate if applying for a Community Forest Management Permit (Hkm) is seen as a priority that must be considered. both by the Forest Service, NGOs and the community in general. The inefficiency of community forest licensing services is due to several obstacles that have so far not been properly resolved. These obstacles are mainly related to the institutional mechanisms of the Regional Government, especially those in the UPTD KPH Unit II Lasalimu, which so far have not been designed as a public service institution. The main objective of this research is to find out the role of the local government in managing and utilizing forest products under Community Forest (HKM) status and to find out the efforts by the local government in following up on Ministerial Regulation P.88/Menhut-II/2014 concerning Community Forestry. This study uses a normative and empirical juridical approach.
This research aims to determine the evaluation of learning in class. The research approach used in this study is a qualitative approach. This research is qualitative in nature where the main problem in this research is about the evaluation of classroom learning. The method used in this research is the literature method in which this method uses topics from certain research that support a specific identification of research questions, as well as processing research material from researchers and from books that have been published or which have been researched. From the data analysis it is known that evaluation of learning in class is a process for determining the value of learning and learning carried out, through assessment activities or measuring learning and learning.
A phenomenon in Islamic boarding schools which has recently emerged to the surface, raises competition regarding the existence of a group. This group is called LGBT, in terms of sexual behavior that is not in general and is not common in the Islamic boarding school environment which upholds the Islamic religion. Therefore, this study aims to provide views from an Islamic religious, social, and health perspective on the LGBT phenomenon. The research method used is a qualitative descriptive approach with a phenomenological strategy. Research information includes observations of the author, LGBT individuals, in-depth interviews with his fellow students and analysis of documents. The results of the study show that religion views LGBT as deviant behavior that is not in accordance with Islamic religious principles. Many internal factors that influence a person to become LGBT are internal factors that are more dominant. The Islamic religion does not want this behavior by referring to the holy book and hadiths that marriage can only be carried out by a man and a woman, and if it deviates it is a big sin. On the other hand, there are efforts to restrain them from returning to their nature so that true human dignity and dignity are maintained and Islamic harmony with Islamic boarding school education.
This study aims to explore the role of classroom management on students' interest in learning mathematics in grade IV at SDN Jelegong 01 Rancaekek. This research was conducted because there were still many students who still had difficulties in solving math problems. This research uses observation method and qualitative approach. Through observing and documenting classroom management practices, this study found that good classroom management has a positive impact on students' interest in learning mathematics. Several important aspects of classroom management that were found included effective time management, the use of effective teaching methods, positive interactions between teachers and students, and creating a conducive classroom atmosphere. The research findings show that these factors can increase students' interest in learning mathematics. Thus, the findings of this study suggest that teachers pay attention to classroom management skills and to vary teaching methods. In this way, students' interest in learning can be increased and the experience of learning mathematics becomes more positive and meaningful for students. The implications of this study emphasize the importance of developing classroom management skills for teachers in increasing students' interest in learning mathematics.
This article aims to compile information on the implementation of informatics learning outcomes (CP) in mathematics education at elementary schools. The study utilizes a descriptive analytical research approach, employing library research methods to gather data from journals, news, and books obtained from both internet sources and digital libraries. Data collection techniques involve conducting a literature review, while qualitative analysis is employed to describe the data obtained through document analysis. The results demonstrate that there are three key elements of informatics learning outcomes that are absent during phase A of mathematics education in elementary schools.
The health industry in the Depo City area experiences continuous development from year to year, this causes competition to maintain and increase patient trust to become increasingly difficult. Setya Bakti Mother and Child Hospital as one of the industries engaged in health services feels the impact of competition in the health service industry. Retaining patients is the main thing that must be done. to increase patient satisfaction can be pursued in various ways including by improving the quality of service. A service is said to be satisfied by the patient if the service provided is in accordance with expectations and does not cause dissatisfaction. In this study aims to determine how much influence the quality of service on patient satisfaction. This type of research is quantitative with a cross-sectional design. The technique used in this study is probability sampling with an accidental sampling approach with a total of 93 respondents. It is known that simple linear regression analysis in this study is obtained. Based on the results of the research, the simple linear regression equation is obtained as follows Y = 3.854 + 0.092 X calculated t value of 2.119. at Degree of Freedom (df) = n-2, df = 93-2 = 91, then a t table of 1,984 is found. Then it can be seen that t count > t table (2.119> 1.984). So it can be concluded that Service Quality (X) can have a positive effect on patient satisfaction (Y).
The New Testament is the main source in understanding Christology which is the science of theology that talks about Christ the Messiah. Talking about Christology, the letter to Hebrews has the highest Christology. In Hebrews 2:13 the author understands it as "Jesus' relationship to the Father and his solidarity with the children" which is the result of a quote from the OT in Isaiah 8:17-18. However, this has given rise to much debate. How could the author of Hebrews understand Isaiah 8:17-18 as the relationship between Jesus to the Father and his solidarity with the children who have been given to Him, while there clearly talks about the life of the prophet Isaiah and his children who still choose to cling to God even though they are in the midst of an unbelieving nation. For this reason, in interpreting Hebrews 2:13 we use an approach using steps of interpretation (understanding the use of the Old Testament into the New Testament).
This study investigated the usage differences and similarities of adjectives namely beautiful, pretty, and gorgeous through collocational patterns of nouns they modify in the [adjective + noun] construction (Benson, Benson, and Ilson 1986). The collocational patterns were analysed in terms of the semantic field categories using the Concepticon catalogue and of the noun types of the collocates using theory by (Wren and Martin 2000). The data sources were taken from the Corpus of Contemporary American English (COCA) and the analyses adopted the mix-method approach. In terms of their frequencies, beautiful is the most frequent (hence more common) than pretty and gorgeous. beautiful conveys a meaning of aesthetically pleasing, feelings, or thoughts. The highest semantic field categories for the collocate types of beautiful were “Basic action and Technology” and “Speech and Language”. pretty produced more varied noun collocation than beautiful. pretty conveys meaning of fine looking without being truly beautiful or handsome. “Emotions and Values” and “Possession” were the highest semantic categories of collocates for pretty. Finally, gorgeous attaches more to something that is extremely stunning. The category “Kinship” was very dominant for gorgeous. To conclude, collocational pattern and semantic field can expose the different usage of the three semantically similar adjectives.
The fastest growing financial sector is investment activity. The investment business is certainly included in the scope of supervision by the Financial Services Authority. But in practice, many people carry out their rotten ideas for personal gain which can harm many parties who invest in these people or individuals. The rise of fraudulent investments is certainly part of the responsibility and supervision carried out by the Financial Services Authority. This research is qualitative research using the literature study approach method, the data collection refers to previous research, books, newspapers, documents, and other reading sources. This research focuses on discussing the role of the OJK in preventing and eradicating illegal/bodong/fictitious investments. In an effort to regulate and prevent fraudulent investment practices, the actions launched by OJK are conducting socialization and counseling to the public, providing investment entity establishment licenses only to those who meet the criteria, providing consumer complaint services, forming a fraudulent investment alert task force, issuing regulations and forming capital market protection institutions. The obstacles in efforts to eradicate fraudulent investment are in the form of difficulties in establishing communication between institutions, there is a barrier between OJK and Bank Indonesia as the highest supervision of the financial and banking sectors in Indonesia, this is due to the distance and long transition from OJK to Bank Indonesia.
The purpose of this study is to describe the representation of social values in the sack. The problem explored in this research is social values in the form of spiritual values which include (1) truth values (2) honesty values (3) toughness values (4) caring values.
The method and approach used in this research is a qualitative descriptive approach. Qualitative descriptive approach is used to describe the education values in the film Dua Garis Biru by Gina S. Noer. Data analysis of this research was carried out by collecting data with the method of observing and recording, identifying data, classifying data, and describing data.
The results of this study indicate that the educational values contained in the film Dua Garis Biru by Gina S. Noer with several forms of value are as follows: (a) the educational value of honesty in the film is the most dominant, there are 15 forms of the value of honesty. (b) the educational value of toughness in the film shows 15 forms of toughness value. (c) the educational value of caring in the film shows 13 forms of caring value. (d) religious educational values in the film show 8 forms of religious values.