Publication Search

72,574 articles from 669 journals · 2,111 citations tracked

Showing 181-200 of 218

Analytics

Nanik Suhartatik, Samuel Bayu Saputro, Merkuria Karyantina &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Biskuit merupakan produk kering dengan daya awet yang relatif tinggi dan salah satu produk makananyang popular di masyarakat. Bahan baku biskuit adalah tepung terigu, yang sampai saat ini masih impordari luar negeri, sehingga ketergantungan terhadap tepung terigu cukup besar. Pemanfaatan tepung sorgumsebagai substitusi dalam pembuatan produk pangan akan mengurangi impor tepung terigu dan menambahnilai fungsional sorgum, serta lebih membudayakan bahan baku lokal dengan maksimal. Penelitian inibertujuan untuk menentukan formulasi dan mengetahui karakteristik biskuit dengan substitusi tepungsorgum dan penambahan ekstrak jahe. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap(RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu konsentrasi tepung sorgum (10, 20, dan 30%) dan penambahanekstrak jahe (10, 15, dan 20 ml). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi tepung sorgum20% dan penambahan ekstrak jahe 10 ml adalah yang paling disukai. Biskuit dengan perlakuan ini memilikikadar air 4,01%; kadar gula total 34,28%; kadar protein 6,39%; kadar lemak 21,33%; rasa terasa manis (2,8000);aroma jahe sedikit terasa (2,0000); kerenyahan terasa renyah (2,8000); dan kesukaan keseluruhan disukai(2,6000).Kata kunci: Biskuit, tepung sorgum, ekstrak jahe, substitusi.

Akhmad Mustofa, Nurtika Sari, Yannie Asri Widanti &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Labu kuning merupakan sumber karoten (pro vitamin A) yang tinggi, serta mengandung antioksidansebagai penangkal radikal bebas. Labu kuning tersusun atas karbohidrat, protein, lemak, kalsium, fosfor,zat besi, vitamin A, vitamin B, vitamin C, dan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenissusu dengan tingkat penambahan bubur labu kuning terhadap karakteristik fisik dan kimia es krim yangdisukai konsumen. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari2 faktor. Faktor pertama yaitu jenis susu (susu kedelai, susu sapi UHT, dan susu kambing) dan faktor yangkedua yaitu konsentrasi labu kuning (20, 30, dan 40%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa es krim labukuning dengan jenis susu kambing dan konsentrasi labu kuning 20% yang paling banyak disukai konsumendan memiliki karakteristik sebagai berikut: kadar protein 2,39%, kadar lemak 0,36%, kadar betakaroten555,79μg, kadar gula total 12,90%, kadar air 55,48%, kadar abu 1,45%, titik leleh 13,45 menit; warna kuning(2,05); aroma sangat khas susu (1,45); rasa labu kuning agak terasa (3,35); tekstur sangat lembut (1,40);disukai (1,55).Kata kunci: es krim, susu, fisikokimia, sensori, labu kuning.

Nanik Suhartatik, Eka Wahyu Ismail, Linda Kurniawati &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Beras analog merupakan sebutan lain dari beras tiruan (artificial rice) yang dibuat dari bahan non padidengan kandungan karbohidrat yang mendekati atau melebihi dengan bentuk menyerupai beras dapatberasal dari tepung lokal atau padi. Metode pembuatan beras analog terdiri dua cara, yaitu metode granulasidan ekstruksi. Hasil cetakan metode granulasi adalah butiran sedangkan hasil cetakan metode ekstruksiadalah bulat lonjong dan sudah lebih menyerupai beras.Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktorjenis ubi jalar (ubi jalar putih, ubi jalar kuning, ubi jalar ungu) dan rasio tepung singkong dan tepung ubijalar (putih, kuning, dan ungu) sebagai berikut: 100:0, 85:15, 70:30, 55:45.Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang terbaik rasio tepung singkong dan ubi jalar 55:45 pada jenisubi jalar putih. Hasil beras analog yang terbaik mengandung kadar air 10,07%; kadar abu 2,52%; kadar gulatotal 8,87%; kadar betakaroten 326 mg/100 g; dan kadar serat kasar 6,74%.Kata kunci: beras analog, tepung singkong ubi jalar, rasio tepung, jenis ubi jalar

Nanik Suhartatik, Farida Haznah Ma’ruf, Akhmad Mustofa &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Tortilla merupakan makanan khas dari Meksiko berbentuk keripik dengan bahan baku jagung. Dalampenelitian ini dipergunakan penambahan tepung sukun terhadap perbandingan jagung dan kacang hijau untukmeningkatkan nilai ekonomis produk serta meningkatkan kandungan protein produk dengan penambahankacang hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan proporsi jagung dan kacang hijau dengan penambahantepung sukun dalam pembuatan tortilla yang dapat diterima konsumen serta untuk mengetahui pengaruh variasijagung dan kacang hijau dengan penambahan tepung sukun terhadap karakteristik sensori dan kimia tortilla yangdihasilkan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan perlakuan perbandingan antaratepung sukun, jagung dan kacang hijau dengan komposisi tepung sukun (90, 120, dan 150 g) dan perbandinganjagung dengan kacang hijau (75 : 135, 75 : 105 , 75 : 75 g). Data yang diperoleh dianalisis dengan uji sidik ragampada jenjang nyata 0,05. Jika ada beda nyata dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwatortilla yang terbaik adalah dengan penambahan tepung sukun 120 g dan perbandingan jagung dengan kacanghijau 75 g : 135 g. Hasil tortilla terbaik mengandung kadar air 2,96%, kadar abu 4,63%, kadar protein 7,83%, kadarlemak 25,06%, karbohidrat (by different) 59,49%, warna kuning kecoklatan 3,66%, kerenyahan tortilla renyah3,46%, cita rasa tepung sukun dan kacang hijau nyata atau terasa 3,13% dan kesukaan keseluruhan 3,20%.Kata kunci:Tortilla, tepung sukun, jagung, kacang hijau

Nanik Suhartatik, Rendra Lukmana Septiaji, Merkuria Karyantina &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Cookies merupakan salah satu produk makanan yang popular di masyarakat. Bahan baku cookies adalahtepung terigu, yang sampai saat ini masih impor dari luar negeri, sehingga ketergantungan tepung terigucukup tinggi. Pemanfaatan tepung biji alpukat akan mengurangi penggunaan tepung terigu dan dapatmengolah limbah dari alpukat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi dan karakteristik cookiesdengan substitusi tepung biji alpukat dan tepung jahe. Penelitian ini dilakukan dengan metode rancanganacak lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu rasio tepung biji alpukat (10, 20, 30%) dan tepungjahe (2, 4, 6%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan rasio tepung biji alpukat 10%dan tepung jahe 2% yang terbaik. Perlakuan tersebut menghasilkan karakteristik sebagai berikut kadar air3,28%, kadar abu 1,53%, kadar protein 5,75%, Kadar lemak 30,60%, Kadar gula 33,36%, volume pengembangan1,07%, warna ( 1,80%), rasa (2,13%), kerenyahan (1,93%) dan disukai panelis (3,80%).Kata kunci: cookies, tepung biji alpukat, tepung jahe, substitusi

Merkuria Karyantina, Yoga Irawan, Yustina Wuri Wulandari &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Kerupuk sangat populer di Indonesia, mengandung pati cukup tinggi, serta dibuat dari bahan dasar campuran tepung terigu-tapioka. Kerupuk dapat juga dimodifikasi dengan bahan dari sayuran salah satunya substitusi sawi hijau. Sawi hijau mudah rusak bila terlalu lama disimpan, terkena paparan sinar matahari dan tidak segera diolah. Sawi hijau yang diolah menjadi kerupuk akan meningkatkan nilai fungsional dan gizi sawi.Variasi kerupuk sangat beragam dari bahan baku dan juga bahan pembantu. Salah satunya adalah dengan penambahan bubur sawi dalam adonan kerupuk. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian pembuatan kerupuk sayur dengan variasi konsentrasi bubur sawi hijau dan rasio tepung terigu-tapioka. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor yaitu rasio tepung terigu-tapioka (1:3, 2:2, 3:1) dan konsentrasi bubur sawi hijau dalam 250 ml air (50 g, 100 g, 150 g, 200 g).Hasil penelitian kerupuk sawi hijau yang paling disukai panelis yaitu rasio tepung terigu 100 g, tepung tapioka 100 g (2:2) dan konsentrasi bubur sawi hijau 50 g/250 ml air. kerupuk sawi hijau tersebut mempunyai karakteristik sebagai berikut : kadar air 7,25%; kadar abu 1,30%; kadar lemak 22,35%; kadar serat kasar 9,75%; warna hijau muda (2,13); rasa sawi hijau terasa (2,33); tekstur (3,20); dan disukai panelis (3,33).Kata kunci : kerupuk, sawi hijau, tepung terigu-tapioka.

Akhmad Mustofa, Hapsari Putri Purwaningtyas, Nanik Suhartatik &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Daun sirih merupakan tanaman herbal yang banyak tersedia di Indonesia. Daun sirih banyak mengandung minyak atsiri, polifenol, dan flavonoid. Antioksidan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan sehingga berpotensi sebagai sumber bahan pangan fungsional. Salah satunya dapat dimanfaatkan ekstraknya untuk pembuatan permen jelly. Daun suji ditambahkan sebagai pewarna alami dari permen jelly. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun sirih dan daun suji yang optimal dalam pembuatan permen jelly. Selain itu juga bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari permen Jelly yang dihasilkan. Permen jelly yang dihasilkan diharapkan dapat memenuhi standar mutu SNI dan disukai oleh konsumen. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi ekstrak daun sirih 1, 3, dan 5% dan faktor kedua konsentrasi ekstrak daun suji 0, 2, dan 4%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan yang mempunyai aktivitas antioksidan maksimal dan disukai konsumen adalah konsentrasi ekstrak daun sirih 5% dan konsentrasi ekstrak daun suji 2%. Permen jelly tersebut mempunyai karakteristik : aktivitas antioksidan 90,62%; total fenol 2,23 mg ekuivalen asam galat/100 g; kadar air 18,43%; kadar abu 1,49%; kadar gula total 42,21%; kekenyalan 15,85 mm devision; warna hijau tua (3,07); tekstur kenyal (3,47); rasa sirih sedikit pahit (2,07); dan disukai (2,47).Kata kunci: Permen jelly, daun sirih, daun suji, antioksidan

Nanik Suhartatik, Citra Tiara, Merkuria Karyantina &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Temulawak merupakan salah satu jenis rimpang yang sering digunakan untuk bahan baku obat tradisional. Temulawak mengandung zat warna kuning (kurkumin). Begitu pula dengan nanas yang termasuk salah satu bahan pangan yang merupakan sumber antioksidan. Temulawak serta nanas belum banyak dimanfaatkan sebagai produk pangan, padahal keduanya memiliki kandungan antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis temulawak dan nanas dengan mengolahnya menjadi es krim yang juga mengandung antioksidan tinggi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama temulawak (10, 20, dan 30 g) sedangkan faktor yang kedua bubur buah nanas (40, 50, dan 60 g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah kombinasi perlakuan ekstrak temulawak 30 g dan bubur buah nanas 60 g. Es krim temulawak nanas tersebut mempunyai karakteristik: kadar abu 0,855 %; kadar protein 1,458 %; kadar lemak 1,172%; aktivitas antioksidan 71,965 %; kecepatan meleleh 10,55 menit; overrun 7,02 %; warna kuning (3,933), tekstur lembut (3,800), rasa dan aroma temulawak terasa (4,000), rasa dan aroma nanas terasa (3,867), serta disukai oleh konsumen (2,867).Kata Kunci: Antioksidan, es krim, nanas, temulawak

Nanik Suhartatik, Guruh, Merkuria Karyantina &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Biji wijen merupakan salah satu bahan nabati yang mempunyai berbagai macam manfaat bagi kesehatan tubuh. Begitu pula dengan buah bit yang termasuk salah satu bahan pangan yang merupakan sumber antioksidan. Biji wijen serta buah bit belum banyak dimanfaatkan sebagai produk pangan, padahal keduanya memiliki kandungan antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis biji wijen dan buah bit dengan mengolahnya menjadi yoghurt yang mengandung antioksidan tinggi dan disukai konsumen. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama prosentase biji wijen (10, 12, dan 14%) sedangkan faktor yang kedua konsentrasi ekstrak buah bit (5, 10, dan 15%). Hasil penelitian yang optimal adalah kombinasi perlakuan prosentase biji wijen 14% dan konsentrasi ekstrak buah bit terhadap susu 15%. Yoghurt susu wijen-buah bit tersebut mempunyai karakteristik sebagai berikut: aktivitas antioksidan 42,56%; kadar protein 43,95%; gula total 4,70%; pH 4,64 ; warna (3,00); rasa (2,46); tekstur (2,06); aroma (2,40); dan kesukaan keseluruhan (2,13).Kata kunci: antioksidan, biji wijen, buah bit, yoghurt.

Linda Kurniawati, Risti Febriani, Kapti Rahayu Kuswanto &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Buah naga merah, jambu biji merah, dan nanas madu merupakan buah-buahan yang kaya akan antioksidan alami dan vitamin C. Buah-buahan tersebut memiliki potensi sebagai bahan selai. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama rasio buah naga merah: jambu biji merah:nanas madu (1:2:3, 3:1:2, dan 2:3:1), sedangkan faktor yang kedua kadar gula (50, 55, dan 60%). Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan selai yang bersifat fungsional yaitu mempunyai aktivitas antioksidan dan kadar vitamin C yang tinggi serta disukai panelis. Hasil penelitian yang direkomendasikan adalah kombinasi perlakuan rasio buah naga merah:jambu biji merah:nanas madu 3:1:2 dan penambahan gula 55%. Karakteristik selai yang direkomendasikan adalah: aktivitas antioksidan 71,34%; kadar vitamin C 82,67 mg/100g; kadar air 29,74% b/b; kadar gula 63,24% b/v; kadar pektin 1,45% b/b; kadar padatan tak terlarut 8,53% b/b. Selai yang paling baik menunjukkan warna merah; aroma buah yang dominan buah jambu biji merah; dan tekstur mudah dioles.Kata kunci: Antioksidan, buah naga, jambu biji, nanas madu, selai, vitamin C

Linda Kurniawati, Aprilana Dwi Ningrum, Nanik Suhartatik &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Biskuit adalah kue kering yang terbuat dari tepung terigu dan merupakan salah satu produk makanan yang populer di masyarakat, biskuit mengandung karbohidrat, protein, dan lemak sehingga bagus dikonsumsi terutama anak-anak. Biskuit yang beredar di pasaran mempunyai kadar protein yang relatif rendah yaitu minimum 9% sehingga perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kadar proteinnya. Pemanfaatan tepung ikan patin sebagai substitusi dalam pembuatan produk pangan akan meningkatkan kandungan protein, serta lebih meningkatkan kandungan gizinya. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dua faktor yaitu rasio tepung terigu : tepung ikan patin (90 : 10)%, (85 : 15)%, (80 : 20)% dan kadar ekstrak jahe gajah (4, 6, 8, dan 10%). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula biskuit tepung ikan patin dengan penambahan ekstrak jahe gajah yang mempunyai aktivitas antioksidan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan rasio tepung terigu : tepung ikan patin dan kadar ekstrak jahe gajah yang terbaik adalah pada rasio tepung terigu : tepung ikan patin (85 : 15)% dan kadar ekstrak jahe gajah 4%. Hasil biskuit ikan patin yang terbaik mengandung kadar air 1,71%; kadar abu 1,56%; kadar protein 20,54%; kadar lemak 10,45%; aktivitas antioksidan 81,18%; volume pengembangan 0,32%; warna kuning kecoklatan (2,80); rasa amis tidak terasa (1,20); flavour jahe terasa (2,00); memiliki kerenyahan atau tekstur renyah (2,93); dan disukai panelis (2,47).Kata kunci: Biskuit, tepung ikan patin, ekstrak jahe gajah, substitusi.

Merkuria Karyantina, Desi Triwulandari, Akhmad Mustofa &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Cookies merupakan kue kering yang renyah, tipis, datar dan berukuran kecil. Bahan baku cookies adalah tepung terigu. Kulit buah naga dan ampas tahu dapat dimanfaatkan dalam pembuatan cookies, yang merupakan hal baru dalam industri makanan. Kulit buah naga adalah limbah yang belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, padahal memiliki antioksidan yang tinggi. Selain itu ditambahkan tepung ampas tahu hasil samping dari pembuatan tahu, ampas tahu memiliki kandungan protein nabati. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan cookies yang mengandung protein tinggi dan antioksidan serta disukai oleh konsumen.Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama prosentase tepung ampas tahu (0, 10, dan 20%) sedangkan faktor yang kedua konsentrasi tepung kulit buah naga (5, 10, dan 15%).Hasil penelitian yang optimal adalah kombinasi tepung ampas tahu 10% dan tepung kulit buah naga 4% dengan kadar air air 1,69%, kadar gula total 36,23%, kadar protein 6,61%, aktivitas antioksidan 78,16%, volume pengembangan 1,09%, warna (2,40), rasa (2,00), kerenyahan (2,87) dan disukai panelis (2,73).Kata kunci: ampas tahu, cookies, dan kulit buah naga.ABSTRACT

Akhmad Mustofa, Ariska Dian Pertiwi, Yannie Asrie Widanti &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Mie adalah produk makanan yang sangat terkenal dan disukai berbagai kalangan dari mulai anak-anak hingga orang dewasa. Mie merupakan makanan yang mengandung protein yang berasal dari bahan utamanya yaitu tepung terigu protein tinggi. Substitusi tepung kacang merah akan meningkatkan kandungan protein dan meningkatkan kandungan gizi mie kering.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi perlakuan terbaik dalam peningkatan nilai gizi protein mie kering yang disukai konsumen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor yaitu rasio tepung terigu : tepung kacang merah 85:15; 75:25; 65:35; dan kadar ekstrak bit 20; 30; 40; 50%. Dari penelitian yang sudah dilakukan kombinasi perlakuan yang terbaik dalam meningkatkan gizi protein serta yang disukai konsumen adalah pada perlakuan substitusi tepung kacang merah 15% dan kadar ekstrak bit 50%. Mie yang dihasilkan memiliki karakteristik sebagai berikut : kadar air 5,24%; kadar abu 2,24%; kadar protein 15,66%; aktivitas antioksidan 17,62%; angka asam 3,61 mg KOH/g minyak; warna merah muda terang (2,26); aroma agak langu (2,20); tekstur agak kenyal (2,26); dan kesukaan keseluruhan menunjukkan disukai oleh panelis (3,06).Kata kunci: mie, tepung kacang merah, ekstrak bit, substitusi.

Merkuria Karyantina, Indriastuti Wiharto, Linda Kurniawati &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Cookies adalah jenis biskuit (kue kering) yang biasanya dibuat dari tepung terigu sehingga ketergantunganterhadap impor terigu sangat besar. Pemanfaatan tepung ganyong sebagai bahan substitusi tepungterigu dalam pembuatan cookies akan mengurangi impor tepung terigu dan mendayagunakan bahan panganlokal. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji karakteristik cookies dengan substitusitepung ganyong. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri dari2 faktor yaitu : kadar substitusi tepung ganyong (25%, 50%, 75% dan 100%) dan jenis perlakuan pendahuluan(tanpa perlakuan pendahuluan, perendaman Na bisulfit 0,2% selama 20 menit dan blanching uap selama 10menit). Data yang diperoleh dianalisis kimia dan fisika dengan Uji Sidik Ragam dan dilajutkan ke DMRT, untukmengetahui beda nyata antar perlakuan pada tingkat signifikan 5%. Hasil penelitian menunjukkanbahwa cookies yang paling disukai panelis dibuat dari substitusi tepung ganyong 25% dan jenis perlakuanpendahuluan perendaman Na bisulfit 0,2% selama 20 menit dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia(SNI). Hasil analisis menunjukkan bahwa cookies tersebut mempunyai kadar air 3,6953%; kadar abu1,2972%; kadar gula total 20,9976%; dan kadar protein 6,1809%; volume pengembangan 0,7985%; warnacoklat muda (1,8333); rasa sedikit berasa ganyong (1,5833); renyah (2,0833); dan disukai panelis (3,000).Kata kunci : cookies, tepung ganyong, subsitusi, perlakuan pendahuluan.

Linda Kurniawati, Wirnaningsih &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Tuntutan diperolehnya produk susu dengan keamanan dan kandungan protein yang menyerupai sususapi menyebabkan dialihkannya perhatian pada sumber protein nabati. Biji kecipir (Psophocarpustetragonolobus) dapat diolah menjadi susu karena memiliki kandungan protein yang hampir setara dengankedelai. Dalam proses tersebut, selain bahan baku, juga perlu penambahan bahan lain agar hasilnya memenuhiselera konsumen. Biji wijen (Sesamun indicum L.) merupakan bahan pembantu yang dapat menghilangkan baulangu pada susu kecipir, karena jika biji wijen disangrai, akan mengeluarkan minyak yang beraroma sangatharum dan gurih. Minyak wijen ini juga berperan sebagai pengikat aroma dan katalisator, sehingga bau langudapat dihilangkan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL)faktorial yang terdiri atas 2 faktor yaitu penambahan biji wijen (0 g, 75 g, 85 g dan 95 g) dan lama perebusan (20menit, 25 menit dan 30 menit). Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam F pada jenjang 0,05. Jika adabeda nyata dilanjutkan uji jarak berganda Duncan (DMRT) 5 % untuk mengetahui beda nyata antar perlakuan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan berat wijen, maka kadar protein dan lemaksemakin meningkat. Pada perlakuan penambahan wijen 95 g dan lama perebusan 20 menit, menghasilkan susukecipir yang cukup disukai oleh panelis dengan didukung oleh faktor‐faktor lain, yaitu kadar protein 2,846%,kadar lemak 3,348%, warna coklat muda sekali dan aroma kecipir (langu) tidak terasa.Kata kunci : Biji kecipir, berat wijen, lama perebusan, kualitas.

Linda Kurniawati, Athanasia Lungga, Merkuria Karyantina &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Kue mochi dikenal sebagai salah satu kue basah yang terbuat dari beras ketan. Kue mochi dapatdimodifikasi dengan menggunakan bahan lain sebagai substitusi untuk meningkatkan nilai fungsionalnya.Salah satunya dengan penambahan ekstrak daun jambu biji merah. Ekstrak daun jambu merah mempunyairasa sepat. Oleh karena itu perlu diimbangi dengan penambahan bubuk jahe yang diharapkan mampumengurangi rasa sepat kue mochi sehingga disukai konsumen.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi daun jambu dan konsentrasi bubuk jahe yangtepat dalam pembuatan kue mochi yang berkualitas dan disukai konsumen. Penelitian ini menggunakanRancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor yaitu konsentrasi daun jambu biji (30, 40, 50, dan60%) dan konsentrasi bubuk jahe (0, 1, dan 2%).Hasil penelitian menunjukkan bahwa kue mochi daun jambu biji yang berkualitas dan disukaikonsumen yaitu kue mochi dengan perlakuan konsentrasi daun jambu merah 60% dan konsentrasi bubukjahe 1% yang mempunyai karakteristik sebagai berikut: kadar air 47,58%; kadar abu 0,23%; kadar gula total14,59%; dan kadar vitamin C 71,06%. Uji oganoleptik kue mochi diperoleh warna hijau dengan skor 2,67(2,67); aroma jahe sedikit terasa dengan skor 2,13 (2,13); dan rasa yang tidak terlalu sepat dengan skor 1,60(1,60).Kata Kunci: Kue mochi, daun jambu biji merah, bubuk jahe

Linda Kurniawati, Fajar Riyawan, Akhmad Mustofa &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Kayu secang merupakan bahan herbal yang banyak tersedia di Indonesia. Kayu secang mengandungantioksidan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, sehingga berpotensi sebagai sumber bahan pangan fungsional,salah satunya dapat dimanfaatkan ekstraknya untuk pembuatan permen jelly. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui konsentrasi ekstrak kayu secang yang tepat dan lama ekstraksi yang optimal dalam pembuatanpermen jelly yang berkualitas, memenuhi standar mutu SNI, dan disukai konsumen. Selain itu jugabertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari permen Jelly yang dihasilkan, serta karakteristik permenjelly.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiriatas dua faktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi ekstrak secang (4, 6, 8, dan 10%) dan faktor kedua lama ekstraksi(15, 20 dan 25 menit).Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan yang mempunyai aktivitas antioksidan maksimaldan disukai konsumen adalah konsentrasi ekstrak 10% dan lama ekstraksi 25 menit. Permen jelly tersebutmempunyai karakteristik : aktivitas antioksidan 92,48%; kadar air 19,24%; kadar abu 0,22%; kadar gula reduksi22,33%; kekenyalan 13,75 mm devision; warna coklat agak tua (4,00); agak berasa secang (2,07); teksturkenyal (2,67); dan disukai (2,27).Kata kunci: permen jelly, kayu secang, antioksidan

Linda Kurniawati, Maryanto, Akhmad Mustofa &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Kerupuk adalah suatu jenis makanan kering yang terbuat dari bahan‐bahan yang mengandung paticukup tinggi. Kerupuk merupakan suatu jenis makanan kecil tradisional yang sudah dikenal oleh sebagianbesar masyarakat Indonesia. Kerupuk biasanya dibuat dari bahan baku terigu dan tapioka. Tapi untukmeningkatkan nilai gizi kerupuk dan mengurangi pemakaian terigu dilakukan penelitian pembuatan kerupuksortagu menggunakan tepung komposit (sorghum‐terigu). Selain itu untuk mendapatkan bahan bakusorghum yang berkualitas perlu dilakukan perlakuan pendahuluan terhadap sorghum tersebut. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui rasio konsentrasi tepung komposit (sorghum‐terigu) yang tepat dan perlakuanpendahuluan perendaman sorghum untuk menghasilkan kerupuk sortagu yang berkualitas dan disukaikonsumen. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiriatas dua faktor. Faktor pertama rasio konsentrasi tepung komposit (sorghum‐terigu) yaitu (0 : 100)%; (25 :75)%; (50 : 50)%; dan (75 : 25)%. Sedangkan faktor kedua perlakuan pendahuluan perendaman sorghum yaituperendaman 0 jam (tanpa perendaman), perendaman 8 jam dalam air, dan perendaman 8 jam dalam larutanNaHCO3 0,3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang optimal untuk menghasilkan kerupuksortagu yang berkualitas dan disukai panelis adalah kombinasi antara konsentrasi tepung komposit (25 :75)% dan perendaman sorghum 8 jam dalam larutan NaHCO3 0,3 %. Kerupuk sortagu tersebut mempunyaikarakteristik : kadar air 14,88%; kadar abu 2,96%; kadar protein 5,24%; warna kuning kecoklatan (1,56); sangatgurih (4,13; amat sangat renyah (4,75); dan amat disukai panelis (4,56)Kata kunci: Kerupuk, (Sorghum‐Tapioka‐Terigu), tepung komposit, perendaman

Nanik Suhartatik, Desliana Putri, Yustina Wuri Wulandari &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Kacang merah merupakan sumber serat yang baik. Setiap 100 gram kacang merah kering menyediakanserat sekitar 24 gram, yang terdiri dari campuran serat larut dan tidak larut air. Kacang merahadalah sumber karbohidrat kompleks, serat, vitamin B (terutama asam folat dan vitamin B1), kalsium, fosfor,zat besi dan protein.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia dan sensori es krim kacangmerah dengan variasi penambahan bubuk kelopak bunga rosella, dan menjadi produk yang dapat diterimaoleh konsumen. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2faktor. Faktor pertama yaitu rasio tepung maizena dan tepung kacang merah (25 g : 0 g; 20 g : 5 g; 15 g : 10 g;dan 10 g : 15 g) dan faktor yang kedua yaitu Bubuk Bunga Rosella (1, 3, dan 5 g).Hasil penelitian menunjukkan bahwa Es Krim Kacang Merah dengan rasio tepung maizena dantepung kacang merah 25 g : 0 g dan bubuk bunga rosella 1 gram yang paling disukai konsumen memilikikarakteristik sebagai berikut : kadar lemak 0,14%; kadar protein 1,06%; kadar vitamin C 49,55 mg; aktivitasantioksidan 29,67%RSA DPPH; daya leleh 4,04 menit; overrun 1,56%; warna 1,93; rasa 1,86; tekstur lembut2,86; dan tingkat kesukaan 3,13 (sangat suka).Kata kunci : Es krim, kacang merah, rosella, fisikokimia, sensori

Nanik Suhartatik, Ika Harifah, Akhmad Mustofa &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Air (H2O) merupakan komponen utama di dalam tubuh manusia. Ada minuman alternatif yang disebutinfused water. Infused water dibuat dengan cara perendaman buah dalam pendingin air selama semalamdi lemari es. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan, kadar vitamin C, kadar gulatotal, pH, dan total fenol infused water. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengandua faktor. Faktor yang pertama jenis jeruk (jeruk nipis, jeruk lemon, dan jeruk baby) dan faktor yang keduabuah tambahan (stroberi, anggur hitam, dan kiwi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasiperlakuan jeruk lemon dan anggur hitam memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi. Karakteristik dariinfused water ini yaitu; aktivitas antioksidan mencapai 68,42% RSA DPPH; kadar vitamin C 172,48 mg/100g; kadar gula total 0,52%; pH 5,50; total fenol 46,20 mg asam galat/100 ml; asam (tes sensoris) 1,26; pahit1 , 6 0 ; a r oma 2 , 2 6 d a n t i n g k a t k e s u k a a n k e s e l u r u h a n 1 , 9 3 .Kata kunci : Infused water, antioksidan, jenis jeruk, buah tambahan