Publication Search

80,260 articles from 776 journals · 2,111 citations tracked

Showing 181-200 of 898

Analytics

Karel, Tomy Christian; Rezeki, Sri

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

 Peran Pendidikan Agama Kristen dalam pembentukan karakter siswa di era digital yang membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat. Kemajuan teknologi yang memberikan akses yang mudah bagi setiap siswa membawa tantangan dalam pembentuk karakternya. Pendidikan Agama Kristen memiliki peran yang penting dalam membentuk karakter siswa di era digital. Setiap nilai-nilai karakter yang diajarkan memiliki pemahaman yang baik bagi setiap siswa di era digital ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi guru Pendidikan Agama Kristen dalam membentuk karakter siswa di tengah era digital. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan hubungan antara fenomena yang diteliti. Data yang dikumpulkan melalui observasi selama proses pembelajaran, interaksi siswa dan wawancara, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa cenderung lebih tertarik pada dunia digital dan mengalami penurunan dalam hal disiplin, empati dan tanggung jawab. Pendidikan Agama Kristen tetap memiliki peran penting sebagai pembelajaran nilai-nilai Kristen yang relevan dan aplikatif, seperti kasih, penguasaan diri dan integritas. Penelitian ini menekankan perlunya strategi pembelajaran yang kontekstual agar nilai-nilai karakter Kristen dapat diterapkan secara nyata di tengah era digital.

Turege, Lini Widia Astrid; Zasa, Elia Umbu; Rezeki, Sri

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Project Based Learning (PjBL) merupakan model pembelajaran inovatif yang menekankan keterlibatan aktif peserta didik melalui pengerjaan proyek nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Model ini diyakini mampu memadukan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna sekaligus meningkatkan keterampilan kolaboratif siswa. Sejumlah penelitian terdahulu menegaskan efektivitas PjBL, antara lain dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis, serta motivasi belajar siswa. Dalam konteks pendidikan Kristen, nilai-nilai kerja sama, kerendahan hati, dan kebersamaan yang diajarkan Rasul Paulus dalam Filipi 2:1–11 memiliki relevansi kuat dengan prinsip PjBL. Nilai sehati sepikir, rendah hati, dan menanggung bersama menjadi fondasi penting dalam membangun kerja sama kelompok yang sehat.Namun, realitas di SMA Bhakti Insani menunjukkan bahwa implementasi PjBL belum optimal. Siswa masih menunjukkan sikap pasif, kurang fokus, serta minim kerja sama baik dengan guru maupun teman sebaya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji lebih jauh implementasi PjBL yang diintegrasikan dengan nilai-nilai Alkitabiah dalam meningkatkan kerja sama siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik observasi, kuesioner, dan wawancara terhadap 80 responden. Hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh signifikan PjBL terhadap peningkatan kerja sama siswa, dengan korelasi sebesar 0,940 dan kontribusi pengaruh mencapai 94%.Temuan ini menegaskan bahwa PjBL dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kerja sama siswa apabila dijalankan sejalan dengan nilai-nilai Kristiani. Dengan demikian, PjBL tidak hanya melatih keterampilan akademik dan kolaborasi, tetapi juga membentuk karakter siswa yang berlandaskan kasih, kerendahan hati, dan kebersamaan

Telaumbanua, Hartati; Telaumbanua, Elianus; Windarti, Maria Titik

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini menganalisis peran guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam mengimplementasikan Amanat Agung berdasarkan Matius 28:19–20, serta implikasinya terhadap pertumbuhan iman peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif di SD Kristen Pelita Bangsa Bandung dengan observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAK memiliki tiga peran utama, yaitu sebagai penginjil, pelatih, dan pengajar. Ketiga peran ini berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan iman peserta didik melalui penginjilan, pembinaan rohani, dan pengajaran firman Tuhan. Tantangan yang muncul meliputi kurangnya dukungan keluarga, pengaruh teknologi digital, dan dangkalnya pemahaman rohani siswa. Penelitian ini menegaskan urgensi guru PAK sebagai agen Amanat Agung di sekolah.

Suy, Ina Naomi; Mujiono, John Gershom; Setiawan, Yusak Agus

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peranan guru menurut perspektif Alkitab, khususnya Amsal 23:19–29, dalam mengatasi kenakalan peserta didik di SMP Bhakti Insani Bogor. Fenomena kenakalan remaja di sekolah menjadi tantangan serius yang memerlukan pendekatan holistik, baik dari aspek pendidikan formal maupun nilai-nilai iman. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan guru dalam perspektif Amsal mencakup tiga dimensi utama. Pertama, guru berperan sebagai pengarah jalan yang benar, yakni memberikan bimbingan moral, spiritual, dan sosial agar peserta didik menghindari perilaku yang merugikan diri dan lingkungan. Kedua, guru berperan sebagai pendidik dengan dedikasi, yang diwujudkan melalui perhatian, pengajaran yang membangun karakter, dan keteladanan hidup. Ketiga, guru berperan sebagai penasihat yang mendorong peserta didik menghindari pertengkaran, melatih pengendalian diri, serta membangun relasi yang sehat dengan sesama. Temuan ini menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Amsal 23:19–29 relevan untuk diterapkan dalam konteks pendidikan modern, khususnya dalam pembinaan perilaku siswa. Dengan demikian, penerapan prinsip-prinsip biblis dalam peranan guru dapat menjadi strategi efektif dalam mencegah dan mengatasi kenakalan peserta didik, serta membentuk karakter yang takut akan Tuhan, bertanggung jawab, dan mampu hidup harmonis di tengah masyarakat.

Novianti, Delpi

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripisikan bagaimana kontribusi psikologi pendidikan bagi guru pendidikan agama Kristen. Guru adalah bagian terpenting dan menjadi salah satu faktor penentu untuk kesuksesan pendidikan. Namun, guru diperhadapakan pada berbagai masalah yang sangat kompleks seperti sikap, karakter, tindakan, tingkat kecerdasan, dan emosional dari  naradidik. Masalah tersebut menjadi tantangan dalam mencapai tujuan pendidikan. Salah satu pendekatan kunci pemecahan masalah dalam pendidikan adalah lewat ilmu psikologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menganalisis data dari berbagai sumber buku, literatur dan jurnal kemudian diinterpretasikan dalam bentuk naratif atau deskriptif. Hasil penelitian ditemukan bahwa seorang guru pendidikan agama Kristen yang memanfaatkan ilmu psikologi dapat mengoptimalkan peran dan tugasnya sebagai guru sebab: Mampu mengembangkan tujuan pembelajaran; Penerapan metode belajar yang relevan; Mampu menciptakan lingkungan kelas yang kondusif; Penemuan potensi dan bakat peserta didik; Mampu memecahkan masalah; serta Menciptakan relasi yang baik lewat kemampuan komunikasi. Penelitian ini sangat relevan dengan urgensi pengetahuan psikologi bagi guru sehingga masalah-masalah dalam dunia pendidikan dapat diatasi secara tepat. Selain itu guru akan lebih peka pada kebutuhan peserta didik, lebih sistematis, serta mampu mewujudkan sistem pembelajaran yang lebih berkualitas, efektif dan relavan.

Chika, Gracie Beatrice; Sutrisna, Ayu

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti di SMP Negeri 2 Cianjur. Minat belajar merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan melakukan observasi di kelas dan menggunakan google form sebagai media pengumpulan data. Responden dalam penelitian ini adalah siswa-siswi Kristen kelas VII hingga IX dengan jumlah 8 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat belajar siswa tinggi. Para siswa menunjukkan ketertarikan terhadap materi yang disampaikan, khususnya ketika metode pembelajaran yang digunakan bersifat interaktif dam kontekstual dengan kehidupan sehari-hari, siswa aktif bertanya di dalam kelas jika ada materi yang tidak dimengerti, siswa menunjukkan kedisiplinan dalam mengerjakan tugas belajar serta hadir ke sekolah tepat waktu. Dalam konteks pendidikan agama Kristen, minat belajar membantu siswa menghayati nilai-nilai iman, kasih dan tanggung jawab secara nyata dalam hidup.

Manafe, Nonce Julianti; Rezeki, Sri; Madjan, Herman

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini berjudul “Pengaruh Penggunaan Multimedia Interaktif Terhadap Motivasi Belajar Siswa Berdasarkan II Timotius 3:14-17 pada Mata Pelajaran PAK di SMK Negeri 3 Kota Bogor”. Skripsi ini mengkaji apakah adanya pengaruh dan sejauh mana penggunaan multimedia interaktif  berdasarkan II Timotius 3:14-17 diaplikasikan dalam konteks pendidikan saat ini untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PAK. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada realitas meningkatnya penggunaan teknologi terlebih multimedia interktif dalam dunia pendidikan. Namun, meskipun di SMK Negeri 3 Kota Bogor akses terhadap multimedia interaktif sangat tinggi namun dalam pembelajaran PAK kurang penggunaannya.Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui dan menjelaskan penggunaan multimedia interaktif yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan menjelaskan manfaat yang akan diperoleh dengan adanya penggunaan multimedia interaktif berdasarkan II Timotius 3:14-17 serta dapat membuktikan bahwa dengan adanya penggunaan multimedia interaktif dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa.Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif melalui wawancara, observasi, dan angket. Implikasinya adalah peneliti telah menerapkan penggunaan multimedia interaktif dalam proses pembelajaran PAK di SMK Negeri 3 Kota Bogor, Pendidik memiliki kemampuan dalam mengelola kelas, menguasai materi dengan penggunaan multimedia interaktif, Mahasiswa STT Kadesi Bogor dapat menerapkan penggunaan multimedia interaktif dalam kegiatan di tempat tersebut, dan bagi peserta didik untuk menambah wawasan melalui membaca arya ilmiah ini sehingga menjadi sumber belajar supaya meningkatkan motivasi belajar.

Befirman Jaya Laia; Gugun Gugun; Malik Bambangan

jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat 2025 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

In a global context marked by religious pluralism, secularization, and a crisis of faith identity, a theological understanding of God’s covenant with Abraham (Genesis 12:1–3) becomes increasingly significant. The rise of postmodern thought has weakened grand narratives, including the theological narrative of Christianity, leading to a fragmented understanding of faith. This study aims to explore the theological, spiritual, and social implications of the Abrahamic covenant using a contextual hermeneutical approach that engages with the current socio-religious realities of Indonesia.The covenant highlights God’s unilateral initiative, a structure of blessing that encompasses personal, national, and universal dimensions, and a call to faith that demands obedience amid uncertainty. Its relevance is evident in shaping the church’s identity as a covenant community, fostering a holistic missional paradigm, and cultivating a spirituality rooted in divine grace. In the Indonesian context, the principle of “blessed to be a blessing” challenges the church to engage actively in social transformation and interfaith dialogue.This study also examines the covenant’s contribution to the development of ecclesiology, missiology, and Christian ethics, while reaffirming the importance of a faith grounded in trust rather than certainty. Through interviews and literature review, the research offers a theologically reflective and contextually grounded perspective. The findings demonstrate that the Abrahamic covenant is not only a historical foundation of Christian faith but also a spiritual blueprint for the contemporary church to respond to the challenges of the age with obedience, courage, and an inclusive missional vision

Telaumbanua, Frendling Juliaman; Olis, Olis

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Revolusi Industri 4.0 mendorong lahirnya Pendidikan 4.0 yang terintegrasi dengan teknologi digital. Perubahan ini berdampak signifikan pada seluruh sistem pendidikan, termasuk Pendidikan Agama Kristen (PAK). PAK memiliki mandat unik, yaitu membentuk manusia seutuhnya berdasarkan nilai-nilai Alkitab, sehingga harus responsif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan integritas teologisnya. Tantangan utama terletak pada keterbatasan kompetensi guru dalam mengintegrasikan teknologi dengan pendekatan pembelajaran yang relevan. Dalam konteks ini, pembelajaran adaptif muncul sebagai strategi pedagogis yang menyesuaikan metode, materi, dan tempo dengan karakteristik peserta didik. Melalui pembelajaran adaptif, guru PAK dapat memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pengalaman belajar yang kontekstual, personal, dan bermakna.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka, mengkaji literatur terkini terkait PAK, pembelajaran adaptif, dan teknologi pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran adaptif dan teknologi dalam PAK mampu menjawab tantangan Pendidikan 4.0 dengan memfasilitasi diferensiasi pengajaran, penilaian formatif, dan kolaborasi lintas pihak. Teknologi berperan sebagai medium strategis untuk menyampaikan nilai iman dengan cara yang kreatif dan relevan, sementara pembelajaran adaptif memastikan relevansi materi sesuai kebutuhan peserta didik yang beragam.Kesimpulannya, PAK adaptif berbasis teknologi bukan hanya alternatif metodologis, tetapi strategi strategis yang harus dikembangkan secara berkelanjutan. Dengan dukungan kompetensi guru, infrastruktur teknologi, serta sinergi antara sekolah, gereja, dan keluarga, PAK dapat menjadi sarana pembentukan generasi Kristen yang matang secara intelektual, spiritual, dan moral di tengah dinamika global abad ke-21.

Laia, Idaman; Madjan, Herman P

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini membahas relevansi integritas Kristus sebagaimana dicontohkan dalam Matius 4:1–11 sebagai dasar etika profesional dan spiritual bagi guru-guru Kristen. Dalam kisah pencobaan di padang gurun, Yesus menunjukkan keteguhan hati dan kesetiaan terhadap firman Tuhan, tanpa kompromi terhadap godaan kuasa, kekayaan, dan pengakuan. Sikap ini menjadi model sempurna integritas, yang tidak hanya bersifat moral tetapi juga spiritual. Guru Kristen sebagai pendidik dan pembentuk karakter generasi masa depan, diharapkan hidup selaras antara ucapan, prinsip, dan tindakan, sebagaimana Kristus meneladankan.Melalui pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka, penelitian ini menganalisis prinsip-prinsip integritas Kristus dan implikasinya dalam dunia pendidikan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas guru Kristen berdampak langsung terhadap efektivitas pendidikan karakter, kepercayaan peserta didik, dan kredibilitas lembaga pendidikan. Namun, tantangan besar juga diidentifikasi, seperti tekanan profesional, relativisme moral, dan godaan kompromi nilai.Strategi pembinaan integritas meliputi penguatan disiplin rohani, pelatihan etika Kristen, mentoring oleh figur teladan, serta dukungan institusional dari gereja dan sekolah. Guru Kristen dipanggil tidak hanya mengajar pengetahuan, tetapi juga menjadi pemimpin rohani yang mencerminkan kehidupan Kristus. Dengan menjadikan integritas sebagai inti dari pelayanan pendidikan, guru mampu menjadi terang dan garam bagi dunia pendidikan yang tengah menghadapi krisis moral. Oleh karena itu, implementasi integritas Kristus menjadi kebutuhan mendesak dalam membentuk guru Kristen yang profesional, beriman, dan berpengaruh secara transformatif.

Melda Greace; Malik Bambangan

Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Agama 2025 Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Fransiskus Assisi

the liberation of the Israelites from slavery in Egypt, marking God's intervention in the history of His people and the beginning of a new grain harvest. On the other hand, Easter marks the resurrection of Jesus Christ, a symbol of victory over sin and death, and the culmination of salvation provided through His sacrifice on the cross. In this context, the Eucharist becomes an important sacrament symbolizing the body and Passover and Easter have deep meanings in their respective religious traditions. Passover (Pesach) celebrates blood of Christ. The bread, as a symbol of His broken body, and the cup, as a symbol of His shed blood, remind Christians of God's infinite sacrifice and love. However, in the early days of Christianity, the practice of the Eucharist was often misunderstood, leading to accusations of cannibalism against Christians. This misunderstanding arose because the terms "body" and "blood" were interpreted literally by outsiders. To counter these accusations, Christian apologists, such as Justin Martyr and Tertullian, attempted to provide a theological explanation for the symbolism, emphasizing that the Eucharist was a spiritual and not a physical act. Thus, both Easter and the Eucharist reflect the profound themes of liberation and hope, as well as the importance of a correct understanding of the symbolism of Christian teaching to avoid harmful misunderstandings. This shows that a proper understanding of religious traditions can strengthen faith and strengthen relationships among believers.

Monalia Simanjuntak; Dorlan Naibaho; Meditatio Situmorang; Pestaria Naibaho; Helena Turnip

Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Agama 2025 Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Fransiskus Assisi

The purpose of this study was to determine the effect of the Think Talk Write Cooperative Type model on the motivation to learn Christian Religious Education and Character Education of Class VIII Students of SMP Negeri 2 Siborongborong in the 2024/2025 Academic Year. The method used in this study is a quantitative research method. The population is all Christian students of class VIII of SMP Negeri 2 Siborongborong in the 2024/2025 Academic Year totaling 222 people and a sample of 55 people was determined, namely 25% of the population using random sampling techniques. Data were collected with a positive questionnaire of 40 items, namely 25 items for variable X and 15 items for variable Y. The results of the data analysis showed that there was an influence of the Cooperative Think Talk Write Type model on the motivation to learn Christian Religious Education and Character Education of Class VIII Students of SMP Negeri 2 Siborongborong in the 2024/2025 Academic Year as evidenced by the following data analysis: 1) Analysis requirements test: a) positive relationship test obtained rxy value = 0.584> rtable ( = 0.05, n = 55) = 0.226. b) Significant relationship test obtained tcount = 5.232> ttable ( = 0.05, dk = n-2 = 53) = 2,000. 2) Influence test: a) Regression equation test, obtained regression equation . b) Regression determination coefficient test (r2) = 34.1%. 3) Hypothesis testing using the F test obtained Fcount > Ftable = ( = 0.05, df numerator k = 25, df denominator = n-2 = 55-2 = 53) which is 27.26 > 1.39. Thus Ha is accepted and H0 is rejected.

Adelia Tamo Ina; Malik Bambangan

Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Agama 2025 Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Fransiskus Assisi

The Reformation led by Martin Luther in the 16th century was one of the most influential events in the history of the church and the Christian world. This research aims to analyze the impact of Martin Luther’s Reformation on the church and the Christian world as a whole. Luther, through his 95 Theses, challenged the authority of the Catholic Church, particularly regarding the sale of indulgences, and emphasized the doctrines of salvation by faith alone (sola fide) and the authority of Scripture alone (sola scriptura). The result of this movement was the emergence of Protestant Christian denominations, a deep division between Catholicism and Protestantism, and reforms within the Catholic Church known as the Counter-Reformation. This study employs historical methods, analyzing relevant primary and secondary documents to understand the theological, social, and political impacts of Luther’s Reformation. The Reformation also brought significant changes in education, liturgical languages, and the church’s role in the socio-political life of European society. Overall, Martin Luther’s Reformation triggered a transformation in the structure of the church and Christian society that persists into the modern era.

Trinitas Nuryani Dakhi

Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Agama 2025 Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Fransiskus Assisi

Moyo Dance or also known as Eagle Dance is a form of traditional art originating from Nias Island in North Sumatra. Historically, this performance was performed at royal events to entertain kings and queens and welcome guests in an honorable manner. The people of Nias live in a cultural environment that is deeply rooted in customs and traditions, although most of this traditional culture is still little known, even among the people themselves. This dance has significant historical and cultural value, reflecting the identity and heritage of the Nias people. With the arrival of Christianity in the 19th century, there was an interesting interaction between local culture and Christian teachings. This article aims to explore how the Moyo Dance is a form of cultural expression that also embodies Christian spirituality, and how these two aspects can complement each other in the lives of the Nias people.

Yosfhina Limbong Lembung; Herlina Siska; Melianti Toding Allo; Elisabet Nirta; Yurnita Sampe Bassang

Sabar : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

The disruption era, marked by rapid technological development and socio-cultural transformation, presents significant challenges to the spiritual and character formation of young children. In this dynamic context, Christian Early Childhood Education (ECE) teachers are not merely facilitators of learning but are also expected to act as spiritual leaders and moral role models. These responsibilities require a form of leadership that is not only rooted in biblical principles but also adaptive to the shifting demands of the digital age. This study aims to (1) identify the core challenges faced by Christian ECE teachers in the disruption era, (2) examine Christ-centered leadership values, and (3) propose an adaptive spiritual leadership model suitable for Christian ECE settings. Utilizing a qualitative approach through a literature review, data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive model, which includes data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings highlight two main categories of challenges: external challenges such as the influence of digital media, shifting values in society, and increased parental expectations; and internal challenges including limited teacher capacity, spiritual stagnation, and institutional gaps. In response, this research proposes the "Three-Pillar Adaptive Spiritual Leadership Model," which emphasizes: (1) the teacher's internal spiritual formation and integrity, (2) the implementation of innovative and contextually relevant pedagogical strategies grounded in Christian values, and (3) synergistic collaboration with families and church communities as key support systems. This model provides a conceptual and practical framework for Christian educational institutions to empower teachers in forming resilient, Christ-like character in children. The study contributes to the discourse on faith-based education in the 21st

Rosmawati Rosmawati; Angelicha Tangke Tasik; Delpianti Delpianti; Gita Sartiva Parinussa; Juan Fakkach Tulak Allo

Sabar : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

In the digital era, Christians face significant challenges in maintaining an authentic spirituality amidst a continuous stream of information and the influence of popular culture that often contradicts biblical values. The command in Romans 12:2 to "not conform to the pattern of this world, but be transformed by the renewing of your mind" remains highly relevant, yet its practical application in contemporary Christian life is frequently overlooked. This study aims to explore the theological depth of Romans 12:2, identify the dominant patterns of worldly thought in the digital age, and develop a contextual and applicable framework for transformative Christian spirituality. Utilizing a qualitative method with a library research approach, data were gathered from theological works, biblical commentaries, and scholarly literature on spirituality, culture, and digital engagement. The study reveals that the renewal of the mind refers not only to a personal inner change but to a reorientation of worldview through the power of the Holy Spirit. This transformation involves resisting cultural tendencies such as self-image obsession on social media, intellectual complacency caused by technological convenience, and the rise of individualistic spirituality detached from community life. To address these challenges, the study proposes several implementation strategies: fostering deeper biblical literacy contextualized to current issues, cultivating critical thinking as a form of spiritual discipline, and nurturing accountability within faith communities. These elements form a holistic framework of contemporary Christian spirituality that is Christ-centered, critically aware, and outward-focused in mission. The implications of this framework suggest that Christian spirituality in the digital era must engage both heart and mind, remain rooted in Scripture, and be lived out in communal and missional contexts.

Novri Novri; Gita Lestari; Vincen Tonapa

Sabar : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

The digital era presents serious challenges to the character formation of Christian adolescents, marked by a rise in moral and spiritual degradation due to exposure to negative content and lifestyle changes. Christian Religious Education (CRE), as a moral foundation, is expected to respond to this phenomenon but often faces issues of relevance. This study aims to analyze the role and effectiveness of CRE in shaping adolescent character, identify the impacts of digital technology, and formulate an integrative character education strategy for the digital age. The method used is qualitative with a library research approach, where data from various relevant journals, books, and articles are analyzed using an interactive model. The results indicate that the effectiveness of conventional CRE tends to decline as it is not contextual to the struggles of adolescents. Digital technology was found to have negative impacts that are more easily absorbed compared to its positive impacts, which require intentional guidance. The key finding of this study is that the solution to these challenges lies in an integrative strategy that synergizes the roles of the school, family, and church holistically. The implication is that CRE must be transformed by integrating digital literacy based on Christian values and strengthening the role of educators as role models. A solid collaboration among stakeholders is the key to equipping adolescents to become wise, ethical, and character-driven technology users in accordance with their Christian faith.

Aimme Reskita; Iteor Tappi' Cia'ba; Theo Lheci; Yuyun Febrianti; Hazaryani Bombongan

Nubuat : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Community-based servant leadership development has emerged as a critical approach for Christian nonprofit organizations seeking to cultivate authentic leaders who embody Christ-centered values. This study explores the integration of theological foundations from Mark 10:45 with Robert K. Greenleaf's servant leadership theory to develop a comprehensive model for leader formation within Christian nonprofit contexts. Employing a qualitative methodology with a library research design, data were collected from scholarly literature and theological sources, then analyzed using Miles and Huberman's interactive model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The research reveals a significant alignment between the core message of Mark 10:45—“For even the Son of Man did not come to be served, but to serve”—and the key principles of Greenleaf’s servant leadership, particularly the emphasis on selfless service, empathy, listening, and community building. Community plays a vital role as both a laboratory and an incubator for spiritual and leadership formation, where individuals can internalize leadership values through biblical teaching, mentorship, active religious practices, and shared life experiences. The study proposes a five-stage model: Foundation Building, Community Immersion, Skill Development, Practical Application, and Leadership Multiplication. This model serves as a strategic guide for Christian organizations to intentionally nurture servant leaders. Findings highlight improvements in character formation, organizational effectiveness, and the embodiment of servant leadership traits such as humility, sacrifice, and empathy. The study concludes with practical recommendations for implementation, including structured mentoring systems, the formation of communities of practice, and ongoing evaluation mechanisms. Ultimately, this integrated model supports the mission of Christian nonprofits by shaping leaders who advance both spiritual and social transformation.

Jessintha Filardin Laukapitang; Hemi D.Bara Pa; Delsi Oktoviana Oematan; Yasinta Emalia Waang; Jeanne Paula Konay +4 more

Sabar : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This study aims to examine the impact of test variations on students’ motivation and academic achievement in Christian Religious Education subjects. Traditional evaluations that focus only on cognitive aspects often fail to capture students' full spiritual and character development. Using a qualitative descriptive approach through literature review, this article emphasizes the importance of varied assessmentssuch as written tests, oral exams, practical applications, service projects, portfolios, and personal faith reflectionsin creating meaningful, contextual, and transformative evaluations. The findings indicate that diverse testing methods enhance students’ learning motivation by accommodating different learning styles and have a positive effect on academic achievement, not only in knowledge mastery but also in the application of Christian values in daily life.

Truli Nugroho; Suryo Adinugroho; Yusak Prakoso; Alexander Mario Retto Djong; Kristian Faskahariyanto

Nusantara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat 2025 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

This community service activity aims to enhance the pastry presentation skills of students at SMK Kristen Surakarta, focusing on professional and aesthetic standards. Presentation is the final stage in food production and influences consumer perceptions. The mentoring process included technical guidance, demonstrations, and hands-on practice aligned with industry standards. Through this program, students gained both theoretical understanding and practical competency in presenting pastry products. Evaluation results show notable improvements in students’ ability to apply principles of aesthetics, hygiene, and presentation structure. The program also fostered students' confidence and job-readiness for future careers in the hospitality and food industries.