Publication Search

70,516 articles from 611 journals · 1,760 citations tracked

Showing 181-200 of 1,247

Analytics

Dian Setianingrum, Pramukti; Dwi Kusumaningrum, Istika; Khotimah, Anis; Kumalasari, Vita; Az-Zahro, Shafiyyaturrohmah

jurnal ABDIMAS Indonesia 2025 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Anemia dan dismenore adalah masalah kesehatan yang umum dan saling berhubungan pada remaja putri, di mana prevalensi anemia di Indonesia masih tinggi (22,7%) dan berisiko memperparah nyeri menstruasi yang mengganggu aktivitas. Program pengabdian masyarakat dilaksanakan di SMA Negeri 1 Cawas, Klaten, dengan sasaran siswi kelas XII, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mereka mengenai anemia dan dismenore, faktor risiko, tanda-gejala, serta strategi pencegahan melalui penyuluhan dan screening kesehatan. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan, terbukti dari kenaikan rata-rata nilai tes dari 58,3 (pre-test) menjadi 82,7 (post-test), serta peningkatan proporsi siswi dengan pengetahuan baik dari 32% menjadi 85%, menunjukkan dampak positif edukasi tersebut terhadap pemahaman siswi.

Martani, Rahajeng Win; Nahdliyyah, Ade Irma; Saarah, Siti; Firdaus, Mohammad Adnan

Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Wahana Usada (WUJ) 2025 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan KESDAM IX/Udayana

Background: Adolescence is a developmental period characterized by emotional instability and vulnerability to mental health problems such as anxiety, stress, and low self-esteem. The increasing prevalence of emotional and mental issues among adolescents in Pekalongan City highlights the need for effective and accessible relaxation interventions. Methods: This community service program aimed to introduce and implement mindful meditation as a relaxation medium to help adolescents manage emotional and mental problems. The activity was carried out at SMP Negeri 13 Pekalongan through health education, guided meditation sessions, and reflection activities involving 23 students. Results: Evaluation results showed an increase in participants’ understanding of mindfulness and their ability to practice relaxation independently. Participants also reported reduced emotional tension and improved mood after regular meditation sessions. Conclusion: The findings suggest that mindful meditation can serve as a simple, low-cost, and effective strategy to promote emotional well-being among adolescents. Further programs are recommended to integrate mindfulness-based practices into school health promotion activities

Wenny Nugrahati Carsita; Kusumawati, Mira Wahyu; Basir, Muhammad Ichsan

Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Wahana Usada (WUJ) 2025 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan KESDAM IX/Udayana

Latar Belakang: Kesehatan mental merupakan komponen fundamental dalam menunjang kesejahteraan individu, khususnya pada masa remaja yang merupakan fase rentan terhadap berbagai tekanan kehidupan serta dinamika perkembangan emosional. Masalah kesehatan mental yang dialami pada masa remaja dapat memberikan dampak jangka panjang hingga masa dewasa. Kegagalan dalam menangani kondisi kesehatan mental berpotensi menimbulkan konsekuensi negatif terhadap kesehatan fisik maupun psikologis. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan remaja tentang upaya pencegahan kesehatan mental. Metode: Kegiatan dilaksanakan selama satu hari dengan menggunakan metode ceramah dan sesi tanya jawab. Prosedur kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test menggunakan kuesioner, dilanjutkan dengan pemberian pendidikan kesehatan dan diakhiri dengan post-test. Sasaran kegiatan ini adalah siswa kelas XI-1 berjumlah 30 orang. Hasil: Diketahui adanya peningkatan rata-rata skor dari 85 pada pre-test menjadi 93 pada post-test setelah pelaksanaan kegiatan. Simpulan: Terdapat peningkatan pengetahuan pada remaja setelah diberikan pendidikan kesehatan. Oleh karena itu, kegiatan serupa perlu terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai upaya promotif dan preventif dalam menekan risiko gangguan kesehatan mental pada remaja.

Hardiyanti, Diana; Heryyanoor, Heryyanoor; Pertiwi, Melinda Restu

Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Wahana Usada (WUJ) 2025 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan KESDAM IX/Udayana

Latar Belakang:Dehidrasi dapat menurunkan daya tahan fisik dan mengganggu fungsi tubuh. Aktivitas fisik yang tinggi pada siswa berisiko menyebabkan dehidrasi, terutama jika pengetahuan tentang pencegahan dan penanganannya masih rendah. Edukasi mengenai manajemen dehidrasi penting dilakukan agar siswa mampu mencegah dan menangani dehidrasi dengan tepat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai dehidrasi dan manajemen dehidrasi melalui sosialisasi edukatif. Metode: Peserta yang dipilih dalam kegiatan ini adalah siswa SMA Negeri 1 Martapura sebanyak 37 orang. Metode pelaksanaannya meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, dengan pendekatan penyuluhan interaktif serta penggunaan website “TERHIDRASI” sebagai alat bantu deteksi status hidrasi. Penilaian pengetahuan dilakukan melalui pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa setelah sosialisasi. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan terdapat peningkatan signifikan pengetahuan siswa mengenai pengertian, tanda, dampak, dan pencegahan dehidrasi setelah dilakukan edukasi, dengan proporsi pengetahuan baik meningkat dari 64,9% menjadi 81,1%. Sosialisasi edukatif terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa tentang pentingnya menjaga hidrasi tubuh. Simpulan: Kegiatan ini merekomendasikan agar sosialisasi mengenai manajemen dehidrasi terus dilakukan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah, disertai pembiasaan membawa air minum sendiri dan penyediaan fasilitas isi ulang air minum oleh pihak sekolah untuk mendukung perilaku hidrasi sehat siswa.   Kata kunci: manajemen, dehidrasi, prototype, remaja

Ophilia Lindy Agrecia; Siren Nugroho; Cintya Fioni; Prita Aura Eklesia

Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Implementation of the Youth and Youth Service Section (SPRP) Worship Program at the GKE Barimba Congregation in the context of developing the character of Christian teenagers and young people. Using descriptive qualitative methods, data was collected through in-depth interviews with youth and youth leaders who play an active role in development activities at the church. The results of the study revealed various challenges faced by teenagers and young people, such as peer pressure that affects worship motivation, a less engaging atmosphere of togetherness in worship, and differences in age and maturity levels between teenagers and young people that cause emotional distance. Their spiritual needs include relational aspects, a contextual understanding of faith, real spiritual experiences, and the formation of strong moral character to face the challenges of the modern era. Effective development strategies involve the active role of families in spiritual development at home, Christian educators as guides and motivators, the use of interactive learning methods such as Bible-based games and digital media that are relevant to the character of the younger generation, and the implementation of dynamic and creative worship services to increase engagement. The implementation of this program aims to form a strong Christian character and prepare teenagers and young people to become faithful, responsible individuals who are able to serve actively in the church and society. Close synergy between family, church, and education is a key factor in the success of spiritual development of the younger generation amidst rapid social and technological change.

Siska Panduwinata; Margareta Margareta; Wandi Wandi

Nubuat : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Spiritual needs during adolescence are very important because this time in life helps shape who a person is, how they feel, and their beliefs. This study looks at the spiritual needs of teenagers and young people at GKE Betang Kahanjak Palangkaraya, and explores ways that Christian Religious Education (PAK) can help them grow spiritually. By looking at existing research and observing the local context, the study finds that young people need support in their personal spirituality, their Christian identity, building relationships, getting guidance, becoming stronger in tough situations, and making good moral choices. Good PAK approaches include mentoring that focuses on relationships, studying the Bible in a way that fits their situation, using digital tools for spiritual growth, combining service with learning, and guidance that builds strong character. Churches need to keep up with how young people are changing and create new ways of ministry that really help teenagers and young adults grow spiritually.

Rani Cahya; Sah Marianta Ginting; Melisa Anggryani Sitorus; Debora Keresya Pane; Hikmah Mia Syahira

Sevaka : Hasil Kegiatan Layanan Masyarakat 2025 STIKES Columbia Asia Medan

Adolescent reproductive health is a crucial issue often overlooked in primary education, especially for young girls. The lack of accurate and age-appropriate information causes confusion among students when experiencing puberty, including menarche. This community service project aims to increase the knowledge and awareness of female students at MIS AL-KAUTSAR regarding reproductive organ health through an educational and participatory approach. The method used is Participatory Action Research (PAR), consisting of needs identification, program planning, educational implementation, and evaluation stages. The results indicate a significant increase in students' understanding of reproductive anatomy and hygiene, as well as behavioral changes such as greater openness to discussing menstruation and the emergence of local leaders among students. The program also led to the creation of new social structures in the school, such as a youth information corner and the involvement of female teachers as mentors. This initiative proves effective as an educational intervention model that can be replicated in other primary schools.

La Ode Liaumin Azim

Jurnal Praba : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum 2025 STIKES Columbia Asia Medan

Obesity among adolescents is a growing health problem in Indonesia, especially among adolescents aged 6-12 years, which was 19.7% in 2023. Unhealthy eating patterns and lack of physical activity are the main factors that can influence the incidence of obesity. This study aims to analyze the relationship between eating patterns, physical activity, and the incidence of obesity among adolescents at SMA Negeri 1 Abuki. This study used a quantitative method with a cross-sectional approach. The population in this study consisted of 82 adolescent students. The sample used in this study consisted of 41 people selected using simple random sampling. The data were obtained from direct interviews in the field using questionnaires and measurements, and the measurement results were processed using SPSS 25 For Windows. The data were then analyzed using univariate and bivariate analyses using the Chi-Square statistical test. Based on the results of the chi-square statistical test on the eating pattern variable, a p-value of 0.000 was obtained, which is less than 0.05 (0.000 < 0.05). Meanwhile, the results of the chi-square statistical test on the physical activity variable obtained a p-value of 0.000, which is less than 0.05 (0.000 < 0.05). Unhealthy eating patterns and lack of physical activity are the main risk factors for obesity among adolescents at SMA Negeri 1 Abuki. This study suggests the need for intervention in the form of health education to improve

Cantikawanti, Aninda Putri; Widanti, Yannie Asrie; Suhartatik, Nanik

Agrobioteknologi 2025 Fakultas Teknologi dan Industri Pangan Unisri Surakarta

Nutritional problems during the growth phase of adolescent are mostly caused by consumption patterns. The most commonly used eating patterns during adolescent are foods that are high in calories, fat, sugar and salt. The habits of an unhealthy eating pattern can affect nutritional status. The foods most consumed by adolescent are often junk food and caffeinated beverages. All kinds of food and drinks are easily found around campuses surrounded by student. The purpose of this study was to determine the relationship between junk food consumption and caffeinated beverages to the nutritional status of students of the Faculty of Technology and Food Industry at Slamet Riyadi University, Surakarta. The respondents involved were students aged 18-24 years. Data was collected using a questionnaire and interview to the student. Data were analyzed using Chi-Square test. The results showed that factor affecting the nutritional status of student was mother’s education (p=0,000) and father’s education (p=0.000). Factors that do not affect nutritional status were energy intake (p=0.545), protein (p=0.085), fat (p=0.204) and carbohydrate (p=0.112), the amount of pocket money (p=0.310), the consumption level of junk food (p=0.671) and caffeinated drinks (p=0.535). The results showed that there was no significant relationship between the consumption patterns of junk food and caffeinated drinks on the nutritional status of students of the Faculty of Food Technology and Industry at Slamet Riyadi University, Surakarta. Permasalahan gizi yang terjadi saat pertumbuhan fase remaja lebih banyak disebabkan karena pola konsumsi.  Pola makan yang sering diterapkan pada masa remaja adalah makanan tinggi kalori, lemak, gula, dan garam. Pola makan yang tidak sehat dapat mempengaruhi status gizi seseorang. Makanan yang paling banyak dikonsumsi oleh kalangan remaja masuk dalam kategori junk food dan juga minuman berkafein. Makanan dan minuman kategori ini mudah ditemukan di sekitar kampus yang dikelilingi mahasiswa. Tujuan pada penelitian ini ialah menentukan hubungan pola konsumsi junk food dan minuman berkafein terhadap status gizi mahasiswa Fakultas Teknologi dan Industri Pangan di Universitas Slamet Riyadi, Surakarta. Responden yang terlibat ialah mahasiswa berusia 18-24 tahun. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara kepada mahasiswa. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi status gizi mahasiswa adalah pendidikan ibu (p=0.000) dan pendidikan ayah (p=0.000). faktor yang tidak mempengaruhi status gizi ialah asupan energi (p=0.545), protein (p=0.085), lemak (p=0.204) and karbohidrat (p=0.112), jumlah uang saku (p=0.310), tingkat konsumsi junk food (p=0.671) dan minuman berkafein (p=0.535). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pola konsumsi junk food dan minuman berkafein terhadap status gizi mahasiswa Fakultas Teknologi dan Industri Pangan Universitas Slamet Riyadi, Surakarta.

Nuryana, Riska; Nagaring, Sulaiman Putra; Lahay, Sitty Fadhilla Fitrianty

Pemberdayaan Masyarakat: Jurnal Aksi Sosial 2025 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Anemia is one of the most common nutritional problems in the world and is mainly caused by iron deficiency. In Indonesia, the prevalence of anemia among adolescents remains high, especially in adolescent girls who have greater iron requirements due to growth and menstruation. Low levels of knowledge, unbalanced dietary patterns, and poor adherence to iron supplementation are the main factors contributing to anemia in this group. Therefore, efforts to increase knowledge through health education activities are needed. This Community Service activity aimed to increase the knowledge of adolescent girls about anemia prevention through improving iron intake and adopting a healthy lifestyle. The activity was carried out in Bongohulawa, Limboto District, Gorontalo Regency, on November 3, 2025, involving 40 adolescent girls. The methods used included health education, interactive discussions, demonstrations, and distribution of educational media. Evaluation was conducted using a pre-test and post-test. The pre-test results showed that only 25% of participants had good knowledge, while 45% had moderate knowledge and 30% had poor knowledge. After the educational intervention, the percentage of participants with good knowledge increased to 75%, moderate knowledge decreased to 20%, and poor knowledge decreased to 5%. It can be concluded that this educational activity was effective in increasing adolescent girls’ knowledge of anemia prevention and the importance of iron intake and a healthy lifestyle as early preventive measures.

Nuryana, Riska; Nagaring, Sulaiman Putra; Lahay, Sitty Fadhilla Fitrianty

Pemberdayaan Masyarakat: Jurnal Aksi Sosial 2025 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Anemia is one of the most common nutritional problems in the world and is mainly caused by iron deficiency. In Indonesia, the prevalence of anemia among adolescents remains high, especially in adolescent girls who have greater iron requirements due to growth and menstruation. Low levels of knowledge, unbalanced dietary patterns, and poor adherence to iron supplementation are the main factors contributing to anemia in this group. Therefore, efforts to increase knowledge through health education activities are needed. This Community Service activity aimed to increase the knowledge of adolescent girls about anemia prevention through improving iron intake and adopting a healthy lifestyle. The activity was carried out in Bongohulawa, Limboto District, Gorontalo Regency, on November 3, 2025, involving 40 adolescent girls. The methods used included health education, interactive discussions, demonstrations, and distribution of educational media. Evaluation was conducted using a pre-test and post-test. The pre-test results showed that only 25% of participants had good knowledge, while 45% had moderate knowledge and 30% had poor knowledge. After the educational intervention, the percentage of participants with good knowledge increased to 75%, moderate knowledge decreased to 20%, and poor knowledge decreased to 5%. It can be concluded that this educational activity was effective in increasing adolescent girls’ knowledge of anemia prevention and the importance of iron intake and a healthy lifestyle as early preventive measures.

Motammimah; Qurratul A’yun

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2025 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Wanita memiliki banyak masalah  pada  area  vagina.  Kebanyakan  kasus  yang  terjadi  adalah  keputihan.  Keputihan  atau  dalam bahasa  medis  disebut  dengan  flour  albus  merupakan  keluarnya  cairan  yang  berlebihan  dari vagina  yang  bukan  darah  haid. Pengobatan  keputihan  non  farmakologis  dapat  dilakukan  dengan  perubahan  tingkah  laku  personal  hygiene,  psikologis,  serta menggunakan daun sirih. Daun sirih telah terbukti secara ilmiah dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans pada berbagai konsentrasi (20-100%).  Berdasarkan  data  yang  didapat  di  Desa Majungan Kecamatan Pademawu kabupaten Pamekasan  pada  tanggal  18  Juli  2025  terdapat remaja usia reproduktif yang mengalami keputihan sejumlah 8 orang, rata –rata usia 18-22 tahun. Berdasarkan data yang didapat di Desa Majungan Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan pada tanggal 18 Juli 2025 terdapat remaja usia reproduktif yang mengalami keputihan sejumlah 8 orang dari 35 remaja lainnya,  rata –rata  usia  18-22  tahun  wanita  usia  reproduktif  di  Desa Majungan Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan ini belum pernah mengetahui banyak manfaat pada daun sirih hijau, sehingga tim  pengabdian  kepada  Masyarakat  tertarik  untuk  melakukan  Pendidikan  Kesehatan dalam  bentuk  penyuluhan  terkait  manfaat  air  rebusan  daun  sirih  terhadap  fluor  albus pada wanita usia reproduktif di Desa Majungan Kecamatan Pademawu.

Hasanah, Yulia Rachmawati; Widhiyanto, Alwin

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2025 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Latar Belakang: Remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak ke masa menuju dewasa dan selama perubahan tersebut akan ada terjadi perubahan baik secara hormonal, fisik, perilaku serta hubungan sosial. Kekerasan verbal dapat terjadi dimana saja, baik di lingkungan kerja, lingkungan rumah, sesama teman, maupun kedua orangtua terhadap anaknya. Kekerasan verbal tentu bukanlah hal yang dapat dinormalisasi dalam kehidupan. Kekerasan verbal merupakan kekerasan yang dilakukan dengan kata-kata kasar, hinaan, umpatan, olok kan, dan perkataan lain yang membuat lawan bicara marah, tersinggung, atau emosi. Studi pendahuluan pada remaja usia 12-15 tahun dari 5 anak (100%) tersebut semuanya sering menggunakan kata tidak baik, seperti anjay, resek, brengsek, kimey. Tujuan: peningkatan pengetahuan dan penerapan komunikasi verbal dan non verbal yang digunakan kelompok remaja usia 12-15 tahun Metode: Pengabdian masayarakt ini menggunakan motode ceramah dengan bentuk penyuluhan kesehatan Hasil: Penyuluhan yang dilakukan pada remaja yang awalnya sekitar 87% mereka kurang faham jenis komunikasi verbal dan non verbal yang baik dan benar untuk komunikasi sehari-hari, selama ini komunikasi yang digunakan dengan teman merupakan kata-kata umum dikalangan remaja sehingga menganggap kata-kata tersebut hal biasa menjadi 95% mengerti, bisa menerapkan komunikasi verbal dan non verbal yang baik, remaja mengerti bahwa kata-kata selama ini yang mereka ucapkan termasuk tindakan bullying. Kesimpulan: Komunikasi merupakan hal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak remaja dalam menjalani kehidupan menuju dewasa nanti. Komunikasi yang baik akan memberikan dampak yang baik pula demikian sebaliknya jika komunikasi tidak baik maka akan terbawa hingga dewasa

Nurul Laili; Ro’isah; Ainul Yaqin Salam

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2025 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Permasalahan yang menimpa remaja dikatakan kompleks yang berkaitan dengan pergaulan, perilaku pacaran, prestasi yang bermasalah di sekolah, dan lain-lain. Berdasarkan hasil survei didapatkan data bahwa seperempat remaja menyatakan mulai berpacaran pada usia 15 tahun dan gaya pacaran yang dilakukan seperti berpegangan tangan, ciuman, dan ada beberapa remaja yang pernah meraba bagian tubuh yang sensitif pada pasangannya. Faktor dominan perilaku seksual di pedesaan adalah teman sebaya sedangkan di perkotaan dipengaruhi oleh pengetahuan. Kurangnya bimbingan dan konseling dari orang tua menyebabkan remaja melakukan perilaku seksual yang berakibat pada kehamilan, akibat yang lain seperti remaja tertular peyakit mematikan, dan tingginya kasus kriminalitas. Berdasarkan analisa tersebut maka dukungan keluarga berbasis family centered care yang melibatkan orang tua dalam mengatasi permasalahan remaja. Tujuan dari PKM ini adalah meningkatkan dukungan kelurga berbasis family centered care dalam mencegah perilaku seksual beresiko pada remaja. Metode yang digunakan adalah ceramah dan konseling tentang dukungan keluarga berupa emosional, informasional, penghargaan dan instrumental. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta baru mengetahui bentuk-bentuk dukungan yang harus diberikan kepada anak remaja, selain itu ada beberapa peserta yang membiarkan anaknya pacaran tanpa dibekali pengetahuan yang cukup, selama pelaksanaan peserta antusias sehingga banyak pertanyaan yang muncul tentang perilaku seksual beresiko pada remaja. Hasil kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu strategi dalam mencegah dan menguarangi perilaku seksual beresiko pada remaja.

Elma Zahara; Ali Imran Sinaga; Miswar Miswar

Jurnal Budi Pekerti Agama Islam 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This study aims to determine the character of youth at the Nurul Hasanah Mosque, Percut Sei Tuan District, Deli Serdang Regency, to determine and describe the role of the Nurul Hasanah Mosque, Percut Sei Tuan District, Deli Serdang Regency as an educational center for youth, and to determine the supporting and inhibiting factors in shaping the character of youth at the Nurul Hasanah Mosque, Percut Sei Tuan District, Deli Serdang Regency. This study uses a qualitative research method with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The data sources and informants of the researcher are the administrators of the Nurul Hasanah Mosque, teachers/mentors of the Nurul Hasanah Mosque, youth at the Nurul Hasanah Mosque, and parents of youth at the Nurul Hasanah Mosque. The results of this study indicate that youth at the Nurul Hasanah Mosque have prominent characters, including being religious, enthusiastic, tolerant, and appreciating achievement. The mosque plays an important role not only as a place of worship, but also as a center for youth education. through programs such as memorizing the Qur'an, regular studies, and social activities.

Wafidatul Itsna Mukholidah; Dian Ayu Ainun Nafies

Jurnal Ilmu Kesehatan 2025 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Adolescent obesity is a health problem that arises due to an imbalance between energy intake and expenditure, one of which is influenced by a diet high in fat and low in fiber. This condition needs attention because it has an impact on the risk of chronic diseases in adulthood. This study aims to analyze the effect of substitution of katuk leaf flour and yellow sweet potato flour on the nutritional content and acceptability of muffins as a healthier alternative to high-fiber and low-fat snacks for adolescents. This laboratory's experimental research used a Complete Random Design (RAL) with four formulations (P0, P1, P2, P3). The analysis carried out included a proximate test to determine the nutritional content and an organoleptic test to assess the level of acceptance of panelists. The results of the study show that the substitution of katuk leaf flour and yellow sweet potato flour can increase fiber content and significantly reduce fat content. The best formulation is found in P2 with the highest level of preference. Thus, the use of these two types of flour has been proven to be able to improve the nutritional quality of muffins without reducing the acceptance of panelists, so that it has the potential to be a nutritious snack choice for teenagers.

Diyanatil Azkiya; Shabrina Hulyati; Irza Nur Oktavia; Muhammad Is’adur Rofik; Elok Hadia Putri +6 more

Manfaat : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Indonesia 2025 Asosiasi Riset Ilmu Tanaman Dan Hewan Indonesia

The program “Youth Empowerment in Developing UMKM Assets through a Basic Business Management Workshop in Balung Lor Village” aims to address the low involvement of youth in the village’s micro-business sector, which is currently dominated by elderly entrepreneurs. This community service initiative applies the Asset-Based Community Development (ABCD) approach using observation, interviews, focus group discussions, and community asset mapping. The theoretical framework of asset-based empowerment positions youth as a crucial human asset for economic regeneration. The discussion highlights entrepreneurial mindset building, basic business literacy, digital marketing skills, and youth creativity in generating new economic initiatives. The results show significant improvement in youth understanding of production costing, capital management, business planning, and social media-based promotion. In conclusion, the ABCD approach effectively enhances youth participation in local economic development, strengthens UMKM sustainability, and lays a solid foundation for creating a future generation of adaptive and innovative village entrepreneurs.  

Jusuf Leiwakabessy; Nathalie Elischeva Kailola; Carl Hein Huwaa; Fellicia Dominique Birahy; Nining Ayu Lestari +4 more

Jurnal Pengabdian Masyarakat Waradin 2025 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Indonesia Semarang

Adolescence represents a transitional phase characterized by complex biological, psychological, and social changes, during which insufficient understanding of reproductive health can lead to risky behaviors such as premarital sexual activity, unintended pregnancy, and sexually transmitted infections (STIs). The purpose of the activity titled “Reproductive Health Knowledge Socialization among Adolescents at SMAN 37 Central Maluku in 2025” was to enhance adolescents’ knowledge and awareness regarding reproductive health. This community service program employed a cross-sectional design and involved 54 students from grades X to XII, selected purposively. Data were collected through online pre-tests and post-tests using Google Forms, and the results were analyzed with Microsoft Excel to evaluate changes in participants’ knowledge levels. The findings revealed a notable increase in the average knowledge score from 76% to 89.8%, with the most significant improvements observed in aspects related to reproductive hygiene and understanding of STI risks. The activity proved effective in improving adolescents’ reproductive health literacy and strengthening their awareness of responsible reproductive behavior. Therefore, face-to-face interactive socialization serves as a strategic approach to reinforce healthy understanding and behavior among adolescents in archipelagic regions. Moreover, it can be adopted as a model for developing sustainable health education programs in schools across Eastern Indonesia.

Novia Mungawanah; Elen Anedya Frahma; Febryan Alam Susatyo; Sri murni; Monica Belinda Oksavina +1 more

Jurnal Suara Pengabdian 45 2025 LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

rogram pengabdian masyarakat ini bertujuan memperkuat peran orang tua dalam mencegah perilaku bullying pada remaja di Kelurahan Jatibarang, Mijen, Kota Semarang melalui edukasi berbasis pendekatan partisipatif. Kegiatan dilakukan dengan model Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan para orang tua, kader atau masyarakat dalam proses pemetaan masalah, edukasi, diskusi, serta evaluasi. Intervensi berupa sesi edukasi parenting, role-play, dan diskusi kasus lokal. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan orang tua dalam mendeteksi serta menangani perilaku bullying, disertai terbentuknya jejaring dukungan komunitas untuk keberlanjutan program. Program ini menegaskan pentingnya kolaborasi komunitas dalam membangun lingkungan aman bagi remaja dan mendorong penguatan fungsi keluarga dalam pencegahan bullying.

Nuralawiyah, Rispiyanti Siti; Komalasari, Kokom; Insani, Nisrina Nurul

Jurnal Global Citizen : Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan Kewarganegaraan 2025 Prodi PPKn Universitas Slamet Riyadi

Fenomena pelajar yang mengendarai kendaraan bermotor tanpa Surat Izin Mengemudi (SIM) merupakan permasalahan yang mengancam keselamatan lalu lintas serta mencerminkan rendahnya kesadaran hukum remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) mampu menginternalisasikan nilai-nilai hukum dalam membentuk sikap berkendara yang bertanggung jawab. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus di SMPN 1 Ciamis. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi pembelajaran, dan penyebaran kuisioner kepada siswa, guru, dan orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pembelajaran PKN telah memberikan pemahaman normatif terhadap hukum lalu lintas, namun masih terdapat kesenjangan antara pemahaman dan implementasi. Faktor lingkungan sosial, pola asuh orang tua, serta lemahnya pengawasan eksternal menjadi kendala utama. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang kontekstual, kolaboratif, dan terintegrasi dengan berbagai pihak untuk mengoptimalkan internalisasi nilai hukum.