Publication Search

59,950 articles from 482 journals · 1,579 citations tracked

Showing 181-200 of 253

Analytics

Reny Rachmawati

SARGA: Journal of Architecture and Urbanism 2026 Universitas 17 Agustus 1945

Taman burung di kawasan perkotaan merupakan salah satu strategi integrasi lanskap ekosistem yang mampu mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas ruang hijau kota. Penelitian ini mengkaji Taman 3 Generasi Balikpapan sebagai studi kasus untuk mengevaluasi sejauh mana elemen desain lanskapnya memenuhi kriteria taman burung yang ramah ekosistem. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui observasi langsung dan analisis, penelitian menilai aspek struktural (jalur, kontur, elemen air, tempat berlindung, dan fasilitas pendukung) serta aspek vegetatif (jenis dan fungsi vegetasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar elemen fisik Taman 3 Generasi telah sesuai dengan prinsip desain taman burung, terutama pada keberadaan elemen air, rumah burung, serta vegetasi yang menyediakan sumber makanan dan tempat berlindung. Namun, keterbatasan variasi kontur dan spesies tanaman tertentu masih menjadi faktor yang perlu ditingkatkan untuk memperkuat fungsi ekologisnya. Penelitian ini menegaskan bahwa Taman 3 Generasi memiliki potensi sebagai model integrasi desain lanskap ekosistem pada taman burung perkotaan, sekaligus memberikan kontribusi bagi konservasi biodiversitas dan peningkatan kualitas lingkungan hidup di kawasan urban.

Fadilawati Khairunnisa; Lia Rosmala Schiffer; Agus Dharma; Yonav Partana

SARGA: Journal of Architecture and Urbanism 2026 Universitas 17 Agustus 1945

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh bentuk bukaan terhadap kondisi termal bangunan Masjid Jami Al-Hurriyah di Jakarta Selatan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan dukungan data kuantitatif sebagai data pendukung untuk memperkuat analisis kualitatif, bukan untuk pengujian statistik. Teknik pengumpulan data meliputi observasi lapangan, pengukuran suhu udara menggunakan termometer digital, serta analisis visual terhadap pola aliran udara pada setiap lantai bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) bukaan yang terbatas di lantai dasar menyebabkansirkulasi udara tidak optimal dengan suhu berkisar antara 27,6–29,3°C; (2) penggunaan bukaan lebar berbahan kaca di lantai satu meningkatkan suhu ruang hingga 29,1°C akibat paparan radiasi matahari; dan (3) keberadaan bukaan vertikal berupa skylight di lantai dua mampu menciptakan mekanisme stack ventilation yang lebih efektif dengan suhu ruang berkisar antara 26,8–27,3°C. Meskipun demikian, seluruh lantai bangunan belum memenuhi standar kenyamanan termal berdasarkan SNI, yaitu 22,8–25,8°C. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya penerapan strategi desain pasif, seperti optimalisasiventilasi silang, pengendalian radiasi matahari melalui elemen peneduh, serta pemilihan material bangunan yang mampu mengurangi perpindahan panas, guna meningkatkan kenyamanan termal pada bangunan masjid di iklim tropis.

Agus Sarwo Edy Sudrajat; Akbar Diva Mahendra

SARGA: Journal of Architecture and Urbanism 2026 Universitas 17 Agustus 1945

Pertumbuhan kawasan industri sebagai dampak urbanisasi turut mendorong peningkatan aktivitas ekonomi di Indonesia. Kawasan Industri Candi di Kota Semarang menjadi salah satu contohnya, namun belum sepenuhnya ditunjang oleh infrastruktur yang memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kepuasan dan prioritas pemenuhan infrastruktur berdasarkan persepsi pekerja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 100 pekerja dari 111 perusahaan, dengan teknik multi-stage random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan metode Customer Satisfaction Index dan Importance Performance Analysis. Hasil menunjukkan bahwa dari total infrastruktur yang dianalisis, sebelas telah memenuhi standar, empat cukup memenuhi, dan satu belum memenuhi pedoman teknis kawasan industri. Tingkat kepuasan pekerja terhadap ketersediaan dan kondisi infrastruktur mencapai 72% (kategori puas), sedangkan tingkat kesesuaian antara kepentingan dan kepuasan sebesar 99%. Meski demikian, lima infrastruktur jaringan jalan, jaringan air bersih, sistem pengolahan sampah, unit pemadam kebakaran, dan sarana Kesehatan masih memerlukan pemenuhan atau perbaikan segera. Temuan ini menjadi dasar rekomendasi bagi pengelola dan pemerintah untuk memprioritaskan pemenuhan infrastruktur, guna mendukung keberlangsungan industri dan kesejahteraan pekerja secara optimal.

Taqwanda, Klarisma Rizki; Riyanto, Joko

Jurnal Ilmiah Serat Acitya 2026 Universitas 17 Agustus 1945

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh promosi, kemudahan transaksi dan kepercayaan terhadap menggunakan SPayLater. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat Generasi Z (usia 18-29 tahun) di Kota Semarang yang menggunakan layanan SPayLater. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100 orang yang tersebar di 5 kecamatan yaitu Gunungpati, Banyumanik, Gajahmungkur, Tembalang, dan Pedurungan dengan menggunakan metode purposive sampling dan proporsional random sampling. variabel eksogen (bebas) terdiri dari promosi, kemudahan transaksi,dan kepercayaan,yang mempengaruhi variabel endogen (terikat), yaitu keputusan pembelian. Teknik analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi pengaruh tersebut adalah analisis regresi linier. Hasil analisis data, diketahui bahwa variabel eksogen yang meliputi promosi, kemudahan transaksi, dan kepercayaan memiliki dampak searah dan berarti secara statistik terhadap penggunaan SPayLater dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Artinya Peningkatan promosi, kemudahan transaksi, dan kepercayaan terbukti mendorong penggunaan SPayLater di kalangan Gen Z Kota Semarang.

Didit Darmawan; Dzakiyatul Fuada

SIMPATI: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Bahasa 2026 CV. Alim's Publishing

This study conducts a qualitative literature review on students' awareness in following school rules as a reflection of high internal motivation forming self-discipline without pressure, and examines the influence of time management discipline on the effectiveness of achieving Islamic Education learning outcomes. The analysis reveals that awareness in following rules develops through a long process of value internalization, starting from external compliance due to fear of punishment, shifting to compliance due to understanding the benefits of rules, and finally reaching a stage where rules are followed because their values have merged with self-identity. Factors such as dialogical rule socialization, teacher role modeling, conducive social environment, educational sanction systems, and consistent implementation significantly determine the success of this internalization. Meanwhile, time management discipline significantly influences the effectiveness of Islamic Education learning outcomes. Students with time management skills can organize study schedules, allocate time for reflection and appreciation of religious material, and consistently perform worship. The impact is seen not only in cognitive aspects through academic grades, but also in affective aspects through religious awareness and psychomotor aspects through regular worship behavior. These findings imply the need for schools to shift disciplinary development paradigms from authoritarian approaches focused on supervision and punishment toward humanist approaches focused on value internalization.

Dwi Lestari, Indah; Aulia Ramdini, Dwi; Yuliyanda Pardilawati, Citra; Dwi Rahayu , Ihsanti

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit progresif yang ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel, serta memiliki tingkat kepatuhan pengobatan yang rendah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan adalah melalui konseling oleh apoteker. Tujuan dari tinjauan literatur ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh konseling apoteker terhadap tingkat kepatuhan pengobatan pada pasien PPOK. Pencarian data dilakukan melalui beberapa basis data, yaitu Google Scholar, Springer, ScienceDirect, dan PubMed dengan topik yang relevan. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa konseling apoteker secara signifikan meningkatkan pemahaman pasien mengenai penyakit PPOK, manajemen eksaserbasi, dan teknik penggunaan inhaler yang benar. Selain itu, konseling juga berperan dalam mengurangi kecemasan, meningkatkan kepercayaan diri, efikasi diri, dan pengelolaan terapi yang lebih baik. Dengan demikian, implementasi konseling apoteker dalam praktik klinis sangat dianjurkan sebagai upaya meningkatkan kepatuhan pengobatan dan memperbaiki kualitas hidup pasien PPOK.

alja, Dzakiyyah-azizah; Nurica; Nadzifah, Nurul; Jannah, Miftahul; Adelia Daud, Suci +3 more

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Ekstrak tumbuhan dari famili Lauraceae diketahui memiliki potensi neurofarmakologi melalui kandungan metabolit sekunder seperti flavonoid, terpenoid, dan senyawa fenolik. Persea palustris (Swamp Bay) merupakan anggota genus Persea yang masih terbatas kajian ilmiahnya, khususnya terkait efek neurofarmakologi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efek neurofarmakologi ekstrak daun Swamp Bay (Persea palustris) terhadap mencit jantan pada berbagai konsentrasi. Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium menggunakan ekstrak daun yang diperoleh melalui metode infusa dan diuji pada konsentrasi 1%, 2%, dan 4%. Hewan uji berupa mencit jantan dibagi ke dalam kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, kemudian diamati respons sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom melalui parameter perilaku dan fisiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun P. palustris memberikan efek neurofarmakologi yang bervariasi dan bersifat dose-dependent. Konsentrasi 1% cenderung menunjukkan efek stimulasi ringan, konsentrasi 2% menampilkan kecenderungan sedatif ringan hingga sedang, sedangkan konsentrasi 4% menghasilkan spektrum efek yang lebih luas, termasuk relaksasi otot dan aktivitas analeptik. Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak daun Swamp Bay berpotensi sebagai agen neuromodulator alami dan layak untuk diteliti lebih lanjut secara fitokimia dan mekanistik.  

bombing, mychellianien arkam runa; Buna, Nafila; Hadira; Ramadhani, Salsabila; Hafifah, Nurul +3 more

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Pemanfaatan tanaman obat sebagai sumber fitofarmaka terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan akan agen terapeutik berbasis bahan alam yang aman. Salah satu tanaman yang berpotensi dikembangkan adalah daun soliti (Wrightia arborea), yang diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, saponin, terpenoid, dan glikosida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun soliti terhadap respons fisiologis dan perilaku mencit sebagai model hewan uji. Penelitian menggunakan desain eksperimental laboratorik dengan rancangan post-test only. Ekstrak daun soliti diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol dan dibuat dalam konsentrasi 1%, 2%, dan 4%. Hewan uji berupa mencit putih jantan dibagi ke dalam kelompok perlakuan, kemudian diamati respons fisiologis dan perilakunya. Parameter yang diamati meliputi parasimpatomimetik, stimulasi dan depresi sistem saraf pusat, simpatolitik, relaksasi otot, parasimpatolitik, serta analeptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun soliti memberikan pengaruh yang bervariasi terhadap respons fisiologis dan perilaku mencit dengan pola dosis-respons yang tidak linier. Konsentrasi 1% menunjukkan efek tertinggi pada beberapa parameter, konsentrasi 2% menunjukkan penurunan respons, sedangkan konsentrasi 4% meningkatkan kembali respons tertentu, khususnya sistem saraf otonom. Temuan ini mengindikasikan adanya efek bifasik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak daun soliti berpotensi dikembangkan sebagai kandidat fitofarmaka, namun diperlukan penelitian lanjutan untuk mengkaji mekanisme kerja dan aspek keamanannya.  

ardila, fachria; delia Rois, Adelia; Afni Nurul Aliyah T; Annisa Idris Tana, Mutiara; Munsir, Ana +4 more

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Pemanfaatan tanaman obat sebagai sumber agen neurofarmakologis alami semakin mendapat perhatian seiring meningkatnya prevalensi gangguan sistem saraf dan keterbatasan penggunaan obat sintetis. Salah satu tanaman yang berpotensi namun masih terbatas kajian ilmiahnya adalah Kesambi (Schleichera oleosa), yang secara tradisional digunakan untuk berbagai keperluan pengobatan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh variasi konsentrasi ekstrak daun Kesambi terhadap efek neurofarmakologi, serta mengidentifikasi pola respons dosis dan konsentrasi paling efektif dalam memodulasi sistem saraf pusat dan otonom. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan hewan uji yang dibagi ke dalam kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Ekstrak daun Kesambi diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut akuades dan diberikan secara per oral pada konsentrasi 1%, 2%, dan 4%. Evaluasi efek neurofarmakologis dilakukan melalui skrining perilaku terhadap delapan parameter, yaitu parasimpatomimetik, stimulasi sistem saraf pusat, depresi sistem saraf pusat, simpatolitik, relaksasi otot, simpatomimetik, parasimpatiolitik, dan analeptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun Kesambi menimbulkan variasi respons neurofarmakologis yang dipengaruhi oleh konsentrasi. Konsentrasi 4% memberikan efek paling dominan pada sebagian besar parameter, khususnya depresi sistem saraf pusat, relaksasi otot, dan modulasi sistem saraf otonom, sedangkan konsentrasi 2% menunjukkan efek stimulasi sistem saraf pusat yang optimal. Temuan ini menunjukkan potensi ekstrak daun Kesambi sebagai neuromodulator.  

Achmad Muhaimin, Nadzifurrohman; Aniq Barlian, Akhmad; Muldiyana, Tya

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Penyimpanan obat merupakan salah satu aspek penting dalam pelayanan kefarmasian di apotek yang berperan besar dalam menjamin kualitas, stabilitas, dan keamanan obat sampai ke tangan pasien. Khususnya pada obat-obatan yang termasuk kategori High Alert dan Look-Alike Sound-Alike (LASA), penyimpanan yang tidak sesuai standar dapat meningkatkan risiko kesalahan penggunaan obat (medication error) yang berpotensi menimbulkan efek samping serius hingga membahayakan nyawa pasien. Oleh karena itu, diperlukan sistem penyimpanan yang sesuai dengan standar yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengocok penyimpanan obat High Alert dan LASA di Apotek Kaligelang, Kabupaten Pemalang, berdasarkan standar yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan observasional langsung dan wawancara terstruktur kepada tenaga kefarmasian yang bekerja di apotek. Evaluasi dilakukan terhadap aspek identifikasi, penandaan khusus, dan pemisahan fisik pada penyimpanan obat High Alert dan LASA. Hasil pengamatan Kesesuaian penyimpanan obat High Alert dan obat LASA di Apotek Kaligelang yang mengacu pada Permenkes RI No. 73 Tahun 2016, diperoleh bahwa sebagian besar aspek penyimpanan telah sesuai. Untuk obat High Alert, diperoleh Jumlah Total Prosentase 80% sudah sesuai, Sedangkan untuk obat LASA, diperoleh Jumlah Total Prosentase 75% sudah sesuai. Secara keseluruhan, tingkat kesesuaian penyimpanan obat High Alert dan LASA di Apotek Kaligelang mencapai rata-rata 77,5%, menunjukkan bahwa sistem pengelolaan obat berisiko tinggi di apotek ini telah berjalan dengan baik. Namun demikian, masih diperlukan beberapa perbaikan untuk meningkatkan keselamatan pasien (patient safety) serta mencegah terjadinya kesalahan pengobatan di lingkungan Apotek.

Frans Mitran Ajami; Abas, Mamat; Iken Meyti Katili; Marwan Bakari Suleman

Jurnal Suara Pengabdian 45 2026 LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Pemanfaatan lahan kosong di wilayah perdesaan sering kali belum optimal akibat rendahnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi ruang terbuka hijau dan konsep desain lanskap. Desa Suka Makmur, Kabupaten Pohuwato, merupakan salah satu wilayah yang memiliki lahan terbuka cukup luas namun berada dalam kondisi gersang dan belum tertata. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan lahan kosong melalui sosialisasi dan edukasi desain lanskap ruang terbuka hijau sebagai upaya awal pembangunan lingkungan yang berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah KKN-PAR (Participatory Action Research) dengan tahapan identifikasi awal, sosialisasi dan edukasi, serta evaluasi perubahan pemahaman masyarakat. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test terhadap 24 responden. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat pada seluruh indikator yang diukur, meliputi fungsi ruang terbuka hijau, manfaat ekologis dan sosial, serta konsep dasar desain lanskap. Peningkatan pemahaman ini mengindikasikan terjadinya perubahan perilaku awal masyarakat pada aspek kognitif. Hasil pengabdian ini menegaskan bahwa pendekatan edukatif berbasis partisipasi masyarakat efektif dalam membangun kesadaran lingkungan dan dapat menjadi landasan bagi pengelolaan ruang terbuka hijau yang berkelanjutan di wilayah perdesaan.

Pramukti Dian, Setianingrum; Anis, Khotimah; IStika Dwi, Kusumaningrum; Vita, Kumalasari; Shafiyyaturrohmah , Az-zahro

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Anemia pada remaja putri (27,2% nasional) berdampak pada penurunan konsentrasi dan prestasi belajar. Di SMA Negeri 1 Cawas, ditemukan 100% sampel (70 siswi) mengalami anemia (92,9% ringan, 7,1% sedang), yang menunjukkan urgensi penanganan khusus.Tujuan: Menganalisis hubungan dismenore, status gizi, dan aktivitas fisik dengan kejadian anemia pada siswi SMA Negeri 1 Cawas Klaten tahun 2025.Metode Penelitian: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 70 siswi kelas XI dipilih melalui simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, pengukuran IMT/U, dan pemeriksaan kadar hemoglobin, kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square.Hasil: Mayoritas responden mengalami anemia ringan (92,9%) dan sisanya anemia sedang (7,1%). Hasil uji statistik menunjukkan aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan kejadian anemia ($p=0,046$), sedangkan dismenore ($p=0,161$) dan status gizi ($p=0,556$) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.Kesimpulan: Seluruh responden terdeteksi anemia, dengan aktivitas fisik sebagai faktor yang berhubungan secara signifikan. Diperlukan pendekatan komprehensif melalui edukasi kesehatan reproduksi, perbaikan pola makan, dan penguatan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD) di lingkungan sekolah.

Khotimah, Anis; Dian Setianingrum, Pramukti; Kusumaningrum, Istika Dwi; Kumalasari, Vita; Al-zalmasry, Luthfi ah

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis dengan prevalensi yang semakin meningkat, tidak hanya pada orang dewasa tetapi juga pada remaja. Berdasarkan data Riskesdas (2018), Prevalensi DM berdasarkan pemeriksaan gula darah naik dari 6.9% menjadi 8.5%.Di Jawa Tengan, 64.709 dari 647.093 jiwa terdiagnosis DM pada 2022. Di Kecamatan Cawas, data Puskesmas Cawas I tahun 2024 menunjukkan terdapat 1.076 kasus DM. dan gejala pre-Diabetes mulai muncul pada kalangan remaja akibat gaya hidup konsumtif, kurangnya aktivitas fisik, serta pola makan yang tidak sehat. Tujuan: Mengetahui hubungan aktivitas fisik, pola makan dan status gizi dengan risiko terjadinya Diabetes Mellitus pada siswa kelas XII SMA N 1 Cawas Klaten Tahun 2025. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 53 siswa diambil dengan teknik Proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner aktivitas fisik (PAL), kuesioner frekuensi makan (FFQ), pemeriksaan berat badan dan tinggi badan serta pemeriksaan kadar gula darah menggunakan glucometer. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square dan multivariat. Hasil: Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan risiko Diabetes Mellitus (p = 0.757), tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan risiko Diabetes Mellitus (p = 0.272), dan terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan risiko terjadinya Diabetes Mellitus ( p = 0.020) pada siswa kelas XII SMA N 1 Cawas Klaten tahun 2025. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan pola makan dengan risiko terjadinya Diabetes Mellitus, namun terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan risiko Diabetes Mellitus pada siswa kelas XII SMA N 1 Cawas Klaten tahun 2025.

Britanya Bonauli Hutapea

Majelis : Jurnal Hukum Indonesia 2026 Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Cooperatives, as the backbone of the people's economy, play a strategic role in improving the welfare of their members, particularly through the management of business profits. This role becomes even more complex when cooperatives receive government assistance sourced from state finances, as its management concerns not only the internal interests of the cooperative, but also the public interest. In practice, the extensive authority of cooperative administrators is often not balanced with strict restrictions and effective oversight mechanisms, thereby creating the potential for abuse of authority and weak accountability. The purpose of this study is to determine whether legal regulations can limit the authority of administrators so that they do not abuse government assistance and to determine whether existing regulations provide adequate oversight mechanisms. The research method used was normative juridical with a statutory approach and a conceptual approach. The results of the study show that normatively, the authority of cooperative administrators has been limited through the principle of delegation from member meetings and accountability obligations, and reinforced by the state financial legal regime through government assistance. In addition, the supervisory mechanism has been regulated in layers through internal and external supervision, although in practice it still has the potential to be formalistic. The implication of this study is the importance of strengthening the implementation of authority restrictions and effective supervisory mechanisms in order to realize accountable, transparent, and sustainable cooperative governance, while maintaining public trust in government assistance programs.

Ulfa Fatimah; Alex Prayoga Sidabutar; Jihan Aisyah Ramahdania; Dorlince O Hutapea; Parlaungan G Siahaan +1 more

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora 2026 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

The crime of receiving stolen goods, as regulated in Article 480 of the Criminal Code (KUHP), is an offence that plays a crucial role in the continuation of the principal crime, particularly theft. Receivers provide a market for stolen goods, thereby indirectly encouraging perpetrators to continue their actions. This paper investigates how Article 480 of the KUHP in judicial practice, with a focus on proving the element of ‘knowing or reasonably suspecting’ that the goods purchased were obtained through criminal activity. This study uses a qualitative method with a case study approach through direct observation of a trial at the M. District Court. The observations show that the panel of judges successfully proved the defendant's guilt as a fence through a series of trial facts, such as the unreasonable purchase price, consistent testimony from the perpetrator of the theft, and the defendant's own admission that he had been suspicious. The judge's decision, which was lighter than the prosecutor's demands, also reflected considerations of substantive justice and humanity in addition to legal certainty. This study concludes that the effective enforcement of Article 480 of the Criminal Code in court plays an important role in breaking the chain of crime and providing a deterrent effect not only for the main perpetrators but also for those who participate in enjoying the proceeds of crime.  

Aryanti, Diva Eka; Handayani, Titis

Dinamik 2026 Universitas Stikubank

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Sistem Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) di Universitas Semarang melalui audit dengan menggunakan kerangka kerja COBIT 2019, dengan fokus pada domain Deliver, Service and Support (DSS) dan Monitor, Evaluate and Assess (MEA). SKPI berfungsi sebagai dokumen resmi yang memberikan informasi tambahan mengenai kompetensi lulusan di luar nilai akademik (ijazah), sehingga penting untuk memastikan kualitas dan relevansinya dengan kebutuhan industri. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data primer melalui observasi, wawancara, dan kuesioner, serta data sekunder dari literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kapabilitas pada sub-domain DSS dan MEA berada pada level 4 yang dilabeli sebagai terkelola, dengan nilai rata-rata masing-masing 3,73 untuk DSS dan 3,85 untuk MEA. Meskipun demikian, terdapat sejumlah rekomendasi untuk meningkatkan nilai Maturity Level sistem, dengan GAP masing-masing sebesar 1,07 untuk DSS dan 1,04 untuk MEA. Rekomendasi yang disampaikan meliputi peningkatan kompetensi petugas teknis, pengembangan aplikasi mobile, dan sosialisasi prosedur penyajian SKPI secara digital. Dengan adanya rekomendasi tersebut, diharapkan dapat memberikan masukan positif dalam pengelolaan SKPI di Universitas Semarang dan meningkatkan daya saing lulusan di pasar kerja.Kata Kunci: Audit Sistem, Maturity Level, Rekomendasi, Deliver, Service and Support (DSS), Monitor, Evaluate and Assess (MEA)

Halawa, Pastiani Putri; Octafian, Ray

KOMPAK : Jurnal Ilmiah Komputerisasi Akuntansi 2026 Universitas Sains dan Teknologi Komputer

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengelolaan arus kas dalam mendukung keberlanjutan usaha kue tradisional dengan mengambil studi kasus pada Toko Roti Ganjel Rel Ambarawa. Pengelolaan arus kas yang efektif merupakan faktor krusial dalam menjaga keberlangsungan usaha kecil dan menengah, khususnya pada industri makanan tradisional yang menghadapi tantangan fluktuasi permintaan musiman dan persaingan dengan produk modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan pemilik usaha, serta analisis dokumen keuangan selama periode enam bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Toko Roti Ganjel Rel Ambarawa menerapkan beberapa strategi kunci dalam pengelolaan arus kas, meliputi sistem pencatatan keuangan harian yang terstruktur, pengelolaan persediaan berbasis permintaan historis, diversifikasi produk untuk menstabilkan pendapatan, serta penerapan kebijakan kredit yang ketat kepada pelanggan. Strategi-strategi tersebut terbukti efektif dalam menjaga likuiditas usaha dengan rasio kas rata-rata sebesar 1,8 dan periode perputaran kas selama 15 hari. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi pelaku usaha kue tradisional dalam merancang sistem pengelolaan arus kas yang berkelanjutan serta kontribusi teoretis dalam pengembangan model manajemen keuangan untuk usaha mikro kecil dan menengah sektor kuliner tradisional.

Putri, Shakira Izzatya; Sayoeti, Muhammad Fitra Wardhana; Damayanti, Ervina; Himayani, Rani

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mendorong transformasi pelayanan kesehatan, termasuk di bidang kefarmasian. Salah satu inovasi yang berkembang adalah telefarmasi, yaitu pelayanan kefarmasian jarak jauh yang memanfaatkan teknologi digital untuk menjembatani interaksi antara apoteker dan pasien. Studi ini bertujuan untuk mengkaji persepsi apoteker terhadap implementasi telefarmasi melalui pendekatan tinjauan literatur. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis terhadap 10 artikel yang diperoleh dari basis data ilmiah seperti PubMed, Google Scholar, dan ScienceDirect dalam lima tahun terakhir. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas apoteker memiliki persepsi positif terhadap telefarmasi, terutama dalam aspek efisiensi waktu dan biaya, peningkatan akses dan kepatuhan pasien, serta solusi atas kekurangan tenaga apoteker. Namun, ditemukan pula persepsi negatif seperti beban kerja yang meningkat, risiko kesalahan akibat keterbatasan kontak fisik, dan kendala teknis. Temuan ini menegaskan perlunya dukungan infrastruktur, pelatihan tenaga kesehatan, serta literasi digital pasien untuk memastikan keberhasilan implementasi telefarmasi secara berkelanjutan.

Alifia Salsabila Rizquita; Dwi Rahayu, Ihsanti; Triyandi, Ramadhan; Himayani, Rani

Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Waktu tunggu pelayanan resep obat merupakan salah satu hal penting dalam pelayanan kefarmasian di puskesmas. Waktu menunggu dapat mempengaruhi kepuasan pasien ketika mendapatkan pelayanan, sehingga berdampak pada kualitas pelayanan di puskesmas. Tujuan dari penyusunan artikel ini adalah untuk memberikan gambaran terkait informasi pelayanan waktu tunggu resep obat racik dan non racik yang ada di puskesmas. Pencarian artikel ini mencakup berbagai publikasi mengenai waktu tunggu resep di puskesmas melalui Google Scholar dengan metode Boolean Operator (AND, OR) Kriteria inklusi dalam pencarian artikel yang relevan terdiri dari artikel yang dipublikasikan antara tahun 2016-2026 dan tersedia dalam teks lengkap gratis. Hasil seleksi artikel yang dilakukan, diperoleh 9 artikel jurnal yang memenuhi kriteria inklusi. Berdasarkan 9 artikel tersebut, sebanyak 3 artikel menunjukkan bahwa waktu tunggu pelayanan resep obat racik atau non racik sudah sesuai standar, dan sebanyak 6 artikel menyatakan masih terdapat waktu tunggu pelayanan resep obat racik atau non racik yang belum sesuai standar berdasarkan Permenkes atau puskesmas terkait.

masturoh, Masturoh; Siswati; Ike Putri Setyatama; Nurlaila

Jurnal Suara Pengabdian 45 2026 LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Anemia merupakan suatu kondisi dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin (Hb) seseorang kurang dari normal. Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi pengangkut oksigen dalam darah (hemoglobin) tidak mencukupi kebutuhan fisiologis. Remaja putri dikatakan anemia apabila dari hasil pemeriksaan kadar Hb kurang dari 12 gr%. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mencegah anemia pada remaja dengan pemberian tablet penambah darah yang terintegrasi dengan olahraga pada remaja. Metode yang dipakai pada kegiatan ini adalah edukasi langsung dan diskusi kelompok terfokus, olahraga/senam terjadwal yang dipandu kader remaja, pembagian tablet Fe dan pemantauan kadar Hb berkala. Hasil dari kegiatan ini yaitu peserta yang hadir berumur 12 tahun dengan prosentase 30,43%, peserta dengan umur16 tahun  prosentase 21,74%, selebihnya peserta berumur 13 tahun (13,04%), 14 tahun (8,70%), 15 tahun (13,04%), 17 tahun (4,35%) dan 18 tahun (8,70%). Jumlah target posyandu remaja di Desa Randusari yaitu 35 peserta, tetapi yang hadir hanya 23 peserta. Hal ini terjadi karena ada beberapa peserta yang belum bisa menghadiri posyandu remaja karena teman sebaya tidak bisa hadir di posyandu remaja. Peserta posyandu di Desa Randusari memiliki kadar hemoglobin normal sejumlah 73,91%, anemia ringan 13,04% dan anemia sedang 4,35%.