Publication Search

95,605 articles from 887 journals · 2,123 citations tracked

Showing 41-60 of 231

Analytics

Miftahul Jannah; Mayadatur Rahmah

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Penelitian ini membahas pendidikan adab bagi anak sebagai fondasi utama dalam pembentukan karakter yang menekankan integrasi antara pengetahuan, kesadaran moral, dan praktik perilaku. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis library research melalui analisis isi terhadap sumber-sumber kepustakaan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan adab tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga mencakup internalisasi nilai spiritual, sosial, dan etis melalui lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Berbagai metode pendidikan adab seperti ceramah atau cerita, keteladanan, pengembangan empati, pembiasaan, tsawab dan iqab, serta umpan balik memiliki peran saling melengkapi dalam proses pembentukan karakter anak. Keberhasilan pendidikan adab ditentukan oleh sinergi metode, konsistensi keteladanan pendidik, serta keberlanjutan lingkungan pendidikan dalam membentuk generasi berakhlak mulia dan berkesadaran moral yang kuat.

Abul A’la Al-Maududi; Andi Muhammad Rizky; Daffa Magodang Pandjaitan; Dinda Alifia Hidayat; Laura Belva Wailah

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan global karena tingkat penularan dan angka kematiannya yang tinggi. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar melalui udara. Dalam Islam, menjaga kesehatan dan mencegah penyakit merupakan bagian dari ibadah serta tanggung jawab setiap muslim terhadap diri sendiri dan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara ajaran Islam dengan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular, khususnya tuberkulosis. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif melalui kajian berbagai literatur, artikel ilmiah, dan sumber terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam telah mengajarkan berbagai prinsip pencegahan penyakit menular, seperti menjaga kebersihan (thaharah), mencuci tangan, menutup mulut saat batuk atau bersin, melakukan isolasi atau karantina saat terjadi wabah, serta menjaga kesehatan sebagai bentuk ikhtiar. Selain itu, Islam mengajarkan prinsip la dharar wa la dhirar yang menekankan larangan membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip kesehatan modern dalam pencegahan dan pengendalian penyakit menular. Oleh karena itu, penerapan ajaran Islam yang dipadukan dengan upaya kesehatan masyarakat dapat menjadi strategi yang efektif dalam mengurangi risiko penularan tuberkulosis serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan.

Juma`adi; Musleh Maulana

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Perdebatan mengenai pemaknaan hadis tentang kepemimpinan perempuan masih menjadi isu akademik yang belum mencapai titik temu. Sebagian ulama memahaminya secara tekstual sebagai larangan mutlak, sedangkan sarjana kontemporer cenderung menafsirkannya secara kontekstual dengan mempertimbangkan latar historis kemunculan hadis. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan akan pendekatan interpretasi yang mampu menjembatani otoritas teks dengan dinamika sosial yang terus berkembang. Penelitian ini bertujuan menganalisis hadis kepemimpinan perempuan melalui perspektif hermeneutika Hans-Georg Gadamer, khususnya konsep Wirkungsgeschichte (sejarah efek) dan fusion of horizons (peleburan cakrawala), untuk mengungkap relevansi makna hadis dalam konteks masyarakat modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari kitab-kitab hadis, karya-karya Hans-Georg Gadamer, serta literatur ilmiah yang relevan, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis dengan pendekatan hermeneutika filosofis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis tentang kepemimpinan perempuan tidak dapat dipahami semata-mata secara literal, melainkan harus dikaitkan dengan konteks historis kemunculannya. Pendekatan Gadamer memungkinkan terjadinya dialog antara horizon teks dan horizon pembaca sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih kontekstual tanpa mengabaikan otoritas hadis. Dengan demikian, hermeneutika Gadamer memberikan kontribusi metodologis dalam memahami hadis secara historis, dialogis, dan relevan dengan perkembangan masyarakat kontemporer.

Abul A’la Al-Maududi; Andi Muhammad Rizky; Daffa Magodang Pandjaitan; Sri Maziyyah; Naufa Nuraniyyah Ayudina

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Pertanian adalah sebuah sektor yang memiliki peran yang penting dalam kehidupan manusia, karena berfungsi sebagai penyedia pangan, sumber mata pencaharian, serta penunjang kesejahteraan masyarakat. Dalam perspektif Islam, pertanian tidak hanya dipandang sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep pertanian dalam Islam, ruang lingkupnya, serta urgensinya dalam mendukung kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif melalui studi berbagai literatur ilmiah, buku, jurnal, dam sumber-sumber terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam mengatur berbagai aspek pertanian, meliputi budidaya dan produksi pertanian, pengelolaan sumber daya alam, aspek sosial ekonomi melalui zakat dan muamalah, serta penyediaan pangan dan obat-obatan. Islam menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana, adil, dan berkelanjutan, serta mendorong praktik pertanian yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Selain itu, zakat pertanian dan sistem muamalah seperti muzara’ah, mukhabarah, dan musaqah berperan dalam meningkatkan kesejahteraan petani serta mengurangi kesenjangan sosial. Dengan demikian, prinsip-prinsip Islam dibidang pertanian dapat mendorong pengembangan ketahanan pangan, keberlangsungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.

Sugiharto; Muhammad Lutfi Putra Nawawi; Nadia Zahwa Sabrina; Viky Maulana; Nasir Husny Mubarok +1 more

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Masjid memiliki peran penting sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan kegiatan sosial dalam kehidupan masyarakat. Keberhasilan pengelolaan masjid tidak hanya bergantung pada pengurus, tetapi juga partisipasi aktif jamaah. Pengurus masjid memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengatur administrasi, menjaga kebersihan dan kenyamanan masjid, mengelola kegiatan keagamaan, serta meningkatkan kesejahteraan umat melalui program sosial dan pendidikan. Sementara itu, jamaah memiliki tanggung jawab untuk menjaga ketertiban, memakmurkan masjid dengan aktif mengikuti kegiatan ibadah, serta mendukung program-program yang telah direncanakan oleh pengurus. Kerja sama yang baik antara pengurus dan jamaah dapat menciptakan suasana masjid yang harmonis, nyaman, dan bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan rasa tanggung jawab bersama agar fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat dapat berjalan dengan optimal.

Rifqiy Dwi Cahyadi; Azka Fadhly Resya; M Iqbal Al Fateh; Roni Hidayat

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Puasa merupakan salah satu ibadah pokok dalam Islam yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga memiliki dimensi spiritual, moral, dan sosial yang mendalam. Ibadah ini berfungsi sebagai sarana pendidikan jiwa yang melatih individu untuk mengendalikan hawa nafsu, menjaga perilaku, serta meningkatkan kesadaran akan kehadiran Allah SWT. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna puasa dalam membentuk dan memperkuat pengendalian diri, khususnya di tengah tantangan kehidupan modern yang ditandai dengan budaya instan, tekanan sosial, dan dominasi teknologi digital. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka dengan menganalisis sumber-sumber primer berupa Al-Qur’an, hadis, serta pemikiran ulama klasik dan kontemporer, serta sumber sekunder berupa buku dan jurnal ilmiah terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puasa memiliki peran signifikan dalam membentuk pengendalian diri melalui latihan kesabaran, disiplin, kejujuran, dan kesadaran spiritual (muraqabah). Selain itu, puasa juga menghadapi berbagai tantangan modern yang dapat melemahkan nilai spiritualnya, seperti gaya hidup konsumtif dan distraksi digital. Oleh karena itu, diperlukan upaya sadar berupa pelurusan niat, pengelolaan waktu, lingkungan sosial yang positif, serta evaluasi diri agar puasa dapat dijalankan secara optimal dan memberikan dampak nyata dalam pembentukan karakter individu.

Rika Ardila; Yelsey; Fatmawati

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Perkembangan teknologi digital telah mendorong lahirnya berbagai bentuk komunikasi kreatif, salah satunya melalui konten storytelling horor di platform YouTube. Dalam penyampaian narasi horor, penggunaan bahasa memiliki peran penting dalam membangun suasana, emosi, dan keterlibatan audiens. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk campur kode yang digunakan dalam narasi horor “Wawak” pada kanal YouTube Nadia Omara serta menjelaskan fungsi campur kode sebagai strategi dramatisasi dalam membangun pengalaman emosional audiens. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data penelitian berupa tuturan yang mengandung campur kode dalam konten “Kisah Horor Wawak” yang diperoleh melalui teknik simak dan catat. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campur kode muncul dalam berbagai bentuk, seperti kata, frasa, dan ungkapan tertentu yang disisipkan secara sadar oleh narator selama proses penceritaan. Penggunaan campur kode lebih dominan pada bagian cerita yang memiliki intensitas emosional tinggi, seperti saat membangun ketegangan, menggambarkan peristiwa supranatural, dan menyampaikan klimaks cerita. Campur kode berfungsi untuk memperkuat ekspresi, memberikan penekanan terhadap situasi tertentu, meningkatkan unsur dramatik, serta membangun kedekatan antara narator dan audiens. Selain itu, penggunaan campur kode juga berkontribusi dalam pembentukan unsur pathos yang mampu meningkatkan keterlibatan emosional penonton. Temuan penelitian menunjukkan bahwa campur kode tidak hanya merupakan fenomena kebahasaan, tetapi juga menjadi strategi komunikatif yang efektif dalam memperkuat storytelling horor digital dan menciptakan pengalaman naratif yang lebih imersif bagi audiens.

Amilia Ulfa; Siti Muflihah; Islamiyah

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Perkembangan pesat platform social networking telah mengubah cara individu berinteraksi dan membentuk komunitas virtual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur interaksi dan dampak psikologis dari penggunaan situs jejaring sosial di kalangan remaja. Menggunakan metode campuran (kuantitatif dan kualitatif), hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan jejaring sosial yang tinggi berkorelasi positif dengan pembentukan ikatan sosial daring, namun juga memunculkan risiko kecanduan media sosial. Studi ini menyarankan perlunya literasi digital untuk mengoptimalkan manfaat positif jejaring sosial dalam pendidikan dan meminimalisir dampak buruknya terhadap kesehatan mental.

Muhammad Ilmi; Muhammad Akmal Ridha; Aulia Sapitri; Akhmad Rezky Padhillah

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Lahirnya generasi emas yang sehat dan cerdas merupakan pilar penting dalam pembangunan nasional, dan orang tua termasuk di antara pihak utama yang bertanggung jawab untuk mewujudkan dan menjamin hal tersebut. Namun, ancaman malnutrisi, seperti stunting, tetap menjadi masalah global yang kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak, yang diperparah oleh kurangnya pemahaman dan tindakan dari pihak orang tua dalam menangani serta memastikan gizi yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kewajiban orang tua dalam mencegah stunting melalui perspektif hukum Islam dan hukum positif di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode normatif dengan mengkaji teks-teks hukum Islam, peraturan perundang-undangan yang relevan, dan kebijakan perlindungan anak, serta interpretasi maqashidi, hermeneutika, dan teori hukum sebagai alat rekayasa sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari perspektif hukum Islam, pencegahan stunting oleh orang tua merupakan kewajiban mutlak yang termasuk dalam kategori Maqashid syari’ah, khususnya pelestarian jiwa (Hifz al-Nafs) dan pelestarian keturunan (Hifz al-Nasl), dan hal ini juga sejalan dengan teori hermeneutika. Sejalan dengan hal tersebut, dari sudut pandang hukum positif, kebutuhan gizi anak-anak dijamin oleh konstitusi nasional serta berbagai aturan atau kebijakan dan berbagai langkah yang dirancang dan dilaksanakan untuk memastikan, melindungi, mengintegrasikan, dan bahkan menegakkan kepatuhan melalui sanksi hukum, sehingga menempatkan hukum sebagai alat rekayasa sosial melalui kolaborasi dan sinergi di antara berbagai pihak dan lembaga.

Nisfuh; Syahla Ghaziyah Salsabila; Akhmad Dasuki

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Artikel ini mengkaji fenomena biologis dan ekologis yang terkandung dalam QS. Al-A'raf [7]:133 dan QS. Yusuf [12]:43 melalui pendekatan tafsir sains (tafsir 'ilmi). Kedua ayat tersebut menyebutkan makhluk-makhluk berupa belalang (jarad), kutu/hama kecil (qummal), katak (dhafadi'), dan sapi (baqarat) yang memiliki dimensi saintifik mendalam. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis dan pendekatan integratif antara teks Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan modern, kajian ini menemukan bahwa keempat organisme tersebut tidak sekadar simbol azab ilahi, melainkan representasi nyata dari bencana biologis yang berdampak serius terhadap ekosistem, ketahanan pangan, dan kesehatan manusia. Penelitian ini juga mengintegrasikan data empiris tentang hama pertanian di Indonesia sebagai konteks kekinian. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur'an secara implisit mengandung wawasan ekologis yang relevan untuk memahami krisis lingkungan dan ketahanan pangan kontemporer

Muzarah; Nadia Rohmah

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Abstrak Lingkungan hidup kini makin tertekan akibat ulah manusia, mulai dari pencemaran udara dan air, penebangan hutan, kerusakan tanah, hingga hilangnya keanekaragaman hayati. Padahal, Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar memiliki ajaran Islam yang lengkap tentang kewajiban menjaga alam. Artikel ini membahas masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan dari sudut pandang fiqih Islam dan Pendidikan Agama Islam (PAI), menggunakan metode kajian pustaka. Hasilnya menunjukkan bahwa ajaran Islam lewat konsep khalifah di bumi, larangan merusak, prinsip tidak boleh saling mencelakai, serta aturan menjaga dan memanfaatkan alam dengan baik memiliki dasar yang kuat untuk melindungi lingkungan. Sementara itu, PAI sebenarnya punya potensi besar menanamkan kepedulian lingkungan, namun belum dikembangkan sepenuhnya. Tantangannya ada pada kurikulum yang belum terpadu, cara mengajar yang kurang relevan, serta peran guru yang belum maksimal sebagai pembawa perubahan. Oleh karena itu, disarankan agar materi fiqih lingkungan dimasukkan ke dalam kurikulum PAI, kemampuan guru diperkuat, dan lembaga pendidikan Islam dijadikan contoh pengelolaan lingkungan yang sesuai ajaran Islam dan berkelanjutan.

Muhammad Falihul Anam; Ahmad Fikri; Rezwandi Rezwandi

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Paradigma tafsir pembebasan Farid Esack dalam Qur’an, Liberation and Pluralism serta kontribusinya terhadap perkembangan studi tafsir Al-Qur’an kontemporer. Kajian ini dilatarbelakangi oleh munculnya pendekatan tafsir yang berupaya menghubungkan teks Al-Qur’an dengan realitas sosial, khususnya dalam konteks ketidakadilan dan penindasan. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis kepustakaan (library research) dengan karya Qur’an, Liberation and Pluralism sebagai sumber primer dan berbagai literatur terkait sebagai sumber sekunder. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hermeneutika pembebasan Farid Esack dibangun atas konsep tawḥīd, taqwā, al-mustaḍ‘afūn, al-‘adl, al-qisṭ, dan jihād yang menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber transformasi sosial dan keberpihakan kepada kelompok tertindas. Implementasi paradigma tersebut tampak dalam penafsirannya terhadap konsep al-nās dan al-mustaḍ‘afūn yang menegaskan pentingnya keadilan sosial dan solidaritas kemanusiaan lintas agama. Penelitian ini juga menemukan bahwa pemikiran Esack berkontribusi dalam pengembangan hermeneutika kontekstual dan wacana pluralisme dalam studi Al-Qur’an kontemporer. Meskipun demikian, pendekatannya menuai kritik karena dinilai memberikan ruang yang terlalu besar bagi konteks sosial dalam proses penafsiran. Penelitian ini menegaskan bahwa paradigma tafsir pembebasan Farid Esack merupakan salah satu kontribusi penting dalam dinamika tafsir Al-Qur’an modern yang berorientasi pada keadilan dan pembebasan manusia.

Inatul Mufida; Makrunatul Hasanah; Qurrotu A’yun

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Ilmu hadis merupakan cabang penting dalam studi Islam yang mengkaji perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad saw., yang dalam perkembangannya tidak hanya berfokus pada penghimpunan hadis, tetapi juga pada metode penyusunannya. Perbedaan metode ini bertujuan memudahkan pemahaman, pengkajian, dan penelitian hadis sesuai kebutuhan keilmuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka yang bersifat deskriptif-analitis, yaitu dengan menghimpun, mengategorikan, serta menganalisis data dari berbagai sumber seperti kitab, buku, dan jurnal. Dan Hasil pembahasan menunjukkan bahwa terdapat beragam metode penyusunan kitab hadis, di antaranya muwatta’at, masanid, musannafat, jawāmi‘, sunan, al-ṣiḥāḥ, ma‘ājim, serta maghāzī wa siyar, yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri dalam pengelompokan hadis, baik berdasarkan bab fikih, nama sahabat, maupun cakupan tema ajaran Islam. Selain itu, terdapat pula metode pelengkap seperti mustadrak, mustakhraj, syarḥ, ta‘līq, zawā’id, taḥqīq, dan takhrīj yang berfungsi untuk menelusuri sumber hadis, menilai keabsahannya, memberikan penjelasan, serta melengkapi riwayat yang belum tercantum dalam karya sebelumnya. Keberagaman metode tersebut menunjukkan ketelitian dan kesungguhan para ulama dalam menjaga keaslian hadis sekaligus menyajikannya secara sistematis dan mudah dipahami. Dengan memahami berbagai metode ini, pembaca diharapkan mampu mengenali jenis-jenis kitab hadis serta pendekatan yang digunakan dalam penyusunannya, sehingga dapat meningkatkan kualitas pemahaman terhadap hadis sebagai sumber ajaran Islam.

Ali; Zainal Arifin

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Abad ke-4 Hijriah merupakan fase penting dalam sejarah kodifikasi hadis, ditandai dengan peralihan dari masa pencarian riwayat menuju periode pemeliharaan, penertiban, dan pengembangan karya-karya hadis. Karakteristik kitab hadis pada masa ini mencakup bentuk mu‘jam, ṣaḥīḥ, mustadrak, sunan, syarah, mustakhraj, al-jam‘u, dan mukhtasar. Aktivitas ulama meliputi pengumpulan karya terdahulu, penataan ulang kitab yang ada, penulisan syarah, penyusunan kamus hadis, serta periwayatan ulang dengan sanad independen. Kodifikasi hadis dilakukan dengan seleksi ketat untuk menjaga keaslian riwayat Nabi. Metode penulisan kitab hadis semakin sistematis, antara lain melalui mu‘jam berdasarkan nama sahabat, ṣaḥīḥ mengikuti pola al-Bukhārī dan Muslim, mustadrak sebagai pelengkap Ṣaḥīḥayn, sunan berorientasi fikih, syarah untuk penjelasan makna, mustakhraj dengan sanad tersendiri, dan al-jam‘u yang menggabungkan beberapa kitab. Dalam cabang ilmu hadis, syarah berfungsi menjelaskan kualitas sanad dan matan, menguraikan makna, serta mengungkap hukum dan hikmah. Sementara itu, mukhtasar bertujuan meringkas teks panjang agar lebih ringkas dan mudah dipahami. Karya-karya monumental lahir dari kedua metode ini, seperti Fath al-Bārī, Al-Minhāj, ‘Umdah al-Qārī, dan Ikmāl al-Mu‘allim dalam bidang syarah, serta ‘Umdah al-Aḥkām, Bulūgh al-Marām, Al-Lu’lu’ wal-Marjān, Al-Muntaqā min Akhbār al-Muṣṭafā, dan Al-Adab al-Mufrad dalam bidang mukhtasar. Dengan demikian, abad ke-4 Hijriah menandai era penting dalam perkembangan ilmu hadis, di mana pemeliharaan riwayat Nabi berpadu dengan kreativitas metodologis yang sistematis dan ilmiah.

Nur Hali; Muzammil

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Penelitian ini mengkaji pemikiran ḥadīth KH. Ali Musthafa Ya’qub dengan menyoroti latar belakang biografi dan pendidikannya, pengaruh intelektual yang membentuk corak pemikirannya, metode pemahaman ḥadīth yang dikembangkan, serta kontribusinya melalui karya-karya di bidang ḥadīth. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara komprehensif konstruksi pemikiran ḥadīth Ali Musthafa Ya’qub dan perannya dalam perkembangan studi ḥadīth di Indonesia kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data diperoleh dari sumber primer berupa karya-karya Ali Musthafa Ya’qub dan sumber sekunder berupa buku, artikel jurnal, serta karya ilmiah lain yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran ḥadīth Ali Musthafa Ya’qub dipengaruhi oleh latar belakang pesantren, pendidikan formal dalam dan luar negeri, serta lingkungan intelektual yang membentuk sikap keilmuan moderat dan kritis. Dalam memahami ḥadīth, ia menekankan pemahaman tekstual pada aspek gaib dan ibadah mahdhah, serta pemahaman kontekstual pada ḥadīth-ḥadīth tertentu dengan mempertimbangkan sebab kemunculan ḥadīth dan kondisi sosial budaya. Pemikirannya berkontribusi signifikan terhadap penguatan metodologi kajian ḥadīth di Indonesia.

Athoillah Jauheri; M. Amirullah; Syaifullah; Islamiyah

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Abstrak Penelitian ini membahas pemikiran Muhammad 'Abid al-Jabiri dalam merekonstruksi metode penafsiran Al-Qur'an sebagai bagian dari upaya pembaruan pemikiran Islam kontemporer. Al-Jabiri menilai bahwa kemunduran dunia Islam tidak hanya disebabkan oleh faktor eksternal, tetapi juga oleh krisis epistemologis yang berakar pada cara berpikir tradisional yang kurang responsif terhadap perkembangan zaman. Melalui kritik terhadap struktur nalar Arab, ia mengembangkan konsep epistemologi yang terdiri atas tiga sistem pengetahuan, yaitu bayani, burhani, dan irfani. Dalam kajian Al-Qur'an, al-Jabiri menawarkan pendekatan tafsir yang bersifat historis, kritis, dan kontekstual. Ia menekankan pentingnya memahami Al-Qur'an berdasarkan urutan turunnya wahyu (tartib nuzuli) agar pesan-pesan Al-Qur'an dapat dipahami sesuai dengan konteks sosial dan sejarah yang melatarbelakanginya. Untuk mencapai pemahaman yang objektif, al-Jabiri mengajukan tiga langkah utama, yaitu membebaskan teks dari kepentingan ideologis, melakukan pembacaan objektif melalui pendekatan struktural dan historis, serta melakukan pembacaan berkelanjutan yang menghubungkan makna objektif teks dengan realitas kekinian. Hasil kajian menunjukkan bahwa rekonstruksi penafsiran Al-Qur'an menurut al-Jabiri bertujuan menjadikan Al-Qur'an tetap relevan bagi setiap zaman dan tempat tanpa menghilangkan keotentikan maknanya. Dengan demikian, pemikiran al-Jabiri memberikan kontribusi penting dalam pengembangan studi Al-Qur'an yang lebih rasional, kritis, dan adaptif terhadap tantangan modernitas.

Adam Ahmad Najib; Fadila Amalia; Ilya Hanifah Hakim; Risma Aulia

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, Asia Tenggara berhasil mempertahankan stabilitas kawasan melalui pendekatan diplomasi ASEAN Way. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana The ASEAN Way sebagai pendekatan diplomasi ASEAN berperan dalam menjaga stabilitas politik dan mendukung pembangunan ekonomi regional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, melalui penelaahan berbagai literatur, dokumen resmi, dan hasil penelitian terkait ASEAN. Hasil menunjukkan bahwa prinsip ASEAN Way menjadi fondasi utama pengambilan keputusan ASEAN yang menghasilkan produk hukum dominan bersifat soft law. Pendekatan tersebut berhasil membangun kepercayaan antarnegara anggota dan mencegah konflik terbuka, meskipun sering dinilai lamban dalam merespons berbagai krisis. Studi kasus krisis politik Myanmar dan sengketa Laut China Selatan memperlihatkan bahwa ASEAN menghadapi keterbatasan dalam mengambil tindakan tegas, tetapi tetap berperan efektif sebagai fasilitator dialog dan manajer kawasan dalam menjaga keseimbangan diplomatik. Di bidang ekonomi, stabilitas yang terjaga mendorong harmonisasi kebijakan dalam kerangka Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) serta terbukti meningkatkan daya tarik investasi asing, sebagaimana tercermin dari rekor arus masuk FDI sebesar US$ 230 miliar pada tahun 2023.

Fitriatul Hasanah; Husnul Hotimah; Nailatul Akromiyah; Islamiyah

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Wasiat merupakan salah satu bentuk pengaturan harta yang diberikan seseorang kepada pihak lain untuk dilaksanakan setelah ia meninggal dunia. Dalam Islam, wasiat memiliki fungsi sosial dan kemanusiaan, terutama untuk menjaga keadilan, mempererat hubungan kekeluargaan, serta memberikan hak kepada pihak-pihak yang tidak memperoleh bagian warisan. QS. Al-Baqarah ayat 180 menjelaskan kewajiban berwasiat kepada orang tua dan kerabat ketika seseorang mendekati kematian dan memiliki harta peninggalan. Permasalahan dalam penelitian ini terletak pada perbedaan pandangan para ulama mengenai status hukum ayat wasiat setelah turunnya ayat-ayat waris dalam Surah al-Nisa’ serta hadis Nabi yang menyatakan bahwa tidak ada wasiat bagi ahli waris. Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum wasiat dalam ayat tersebut telah dinasakh oleh ayat waris, sedangkan sebagian lainnya berpendapat bahwa ayat tersebut tetap berlaku dalam kondisi tertentu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber data diperoleh dari Al-Qur’an, hadis, kitab tafsir, buku, dan jurnal yang berkaitan dengan tema penelitian. Metode tafsir yang digunakan adalah metode muqaran dengan membandingkan penafsiran beberapa mufasir, seperti Hamka, M. Quraish Shihab, Ibnu Kathir, dan al-Baghawi. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis untuk menemukan persamaan dan perbedaan pandangan para mufasir mengenai ayat wasiat serta implikasi hukumnya dalam hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awal Islam wasiat dipandang sebagai kewajiban bagi orang yang memiliki harta dan mendekati kematian. Namun, setelah turunnya ayat-ayat waris dalam Surah Al-Nisa’, sebagian ulama berpendapat bahwa kewajiban wasiat kepada ahli waris telah dihapus (nasakh) karena hak waris telah diatur secara jelas dalam syariat. Pendapat tersebut diperkuat oleh hadis Nabi SAW yang menyatakan bahwa tidak ada wasiat bagi ahli waris. Sementara itu, sebagian ulama lain berpendapat bahwa wasiat tetap berlaku bagi kerabat yang tidak memperoleh bagian warisan. Dengan demikian, wasiat dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan pembagian harta, tetapi juga mengandung nilai keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap keluarga.

Alfa Laila Ma’isyatuz Zakiyah; Efa Maya Sari; Eva Yunia Rahmawati; Meika Putri Nur Azizah; Amalia Nuril Hidayati

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan menjadi tantangan global yang memerlukan dukungan sebagai sektor, termasuk sektor keuangan. Perbankan syariah miliki potensi besar dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui penerapan green finance yang sejalan dengan prinsip syariah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep green finance dalam perbankan syariah, mengidentifikasi instrument yang dapat diterapkan, serta menjelaskan perannya dalam mendukung ekonomi ramah lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode library research melalui kajian berbagai buku, jurnal ilmiah, laporan resmi, dan sumber akademik terkait. Hasil penelitian menunjukan bahwa green finance dalam perbankan syariah diwujudkan melalui pembiayaan proyek ramah lingkungan seperti energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan infrastruktur hijau. Instrumen yang dapat digunakan meliputi green sukuk, green bonds, green funds, dan green loands. Penerapan green finance sejalan dengan prinsip syariah seperti keadilan, kemaslahatan, amanah,dan larangan merusak lingkungan. Selain memberikan manfaat ekonomi, green finance juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan berupa rendahnya literasi masyarakat, keterbatasan regulasi, dan tingginya biaya pengembangan produk hijau. Oleh karena itu, diperlukan inovasi produk, peningkatan edukasi, serta sinergi antara pemerintah, regulator, dan perbankan syariah untuk memperkuat peran green finance dalam mewujudkan ekonomi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Moh Imam Sofyan; Mohammad Saat Ibnu Waqfin; Waslah

Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2026 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Perubahan perilaku remaja akibat perkembangan teknologi menuntut hadirnya pembinaan karakter yang lebih terarah di lingkungan pesantren. Pondok Pesantren Madrasatul Qur an Tebuireng Jombang, khususnya Asrama Maqomin Amin, menjadi ruang pembentukan karakter disiplin yang berbasis keteladanan, pembiasaan, dan pengawasan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran ustadz dalam membentuk kedisiplinan santri serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam proses pembinaan tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan koordinator ustadz, ustadz kamar, dan santri, serta dokumentasi terkait struktur asrama, kegiatan harian, dan tata tertib.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ustadz memegang peran sentral sebagai figur teladan yang memengaruhi perilaku santri melalui tindakan nyata seperti kedisiplinan ibadah, kebersihan, ketertiban, dan manajemen waktu. Pembiasaan melalui rutinitas harian dan pengawasan berjenjang menjadikan pembinaan disiplin berlangsung lebih efektif. Faktor pendukung meliputi kekompakan ustadz, kultur pesantren yang kuat, dan motivasi santri; sementara hambatan berasal dari kebiasaan lama santri, kurangnya kesadaran disiplin, dan pengaruh teknologi.Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya memperkuat keteladanan ustadz sebagai inti pembinaan karakter, meningkatkan koordinasi pengasuh, serta mengembangkan strategi pendekatan personal untuk mengatasi hambatan disiplin. Penelitian ini juga memperkaya kajian pendidikan karakter berbasis pesantren dan dapat menjadi rujukan bagi lembaga pendidikan Islam dalam merancang pembinaan kedisiplinan yang berkelanjutan dan efektif.