Publication Search

95,605 articles from 887 journals · 2,123 citations tracked

Showing 1-16 of 16

Analytics

Jocky Parningotan Hutabarat; Gomgom Ruben Sianipar; Helena Turnip

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Artikel ini membahas tentang aspek spiritual dari karakter seorang guru  agama Kristen. Spiritualitas  sangat penting karena ajaran guru  agama Kristen  bertujuan untuk memperkuat spiritualitas siswa. Ia harus mempunyai kerohanian yang baik agar bisa menjadi teladan di kelas. Dalam artikel ini, penulis mencoba menjelaskan nilai-nilai esensial spiritualitas yang harus dimiliki  guru PAK dalam rangka mewujudkan misinya sebagai penikmat profesi  guru. Untuk mencapai tujuan tersebut, penulis mengembangkan nilai-nilai esensial spiritualitas melalui tinjauan pustaka dan analisis isi. Berdasarkan penelitian dari berbagai sumber seperti hakikat spiritualitas dalam perspektif Kristiani, penulis menjelaskan nilai-nilai spiritual esensial  yang harus dimiliki seorang guru PAK. Nilai-nilai esensial spiritualitas dapat dibagi menjadi dua dimensi: dimensi personal dan dimensi interpersonal. Kepribadian guru menjadi faktor yang penting, apakah peserta didik mendapatkan keberhasilan ataukah kegagalan bagi masa depan mendidiknya yang masih di sekolah dasar dan bagi mereka yang di kelas  menegah saat mengalami kegoncangan jiwa. Pemaparan dalam penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan memaparkan kompetensi kepirbadian yang perlu dimiliki oleh guru berdasarkan 2 Timotius 3:7-10. Dalam studi penelitian ini menggunakan penelitian studi literatur tentang teks-teks Alkitab dalam 2 Timotius 3: 10-17 yang mengandung tentang prinsip memuridkan dari Paulus kepada Timotius dalam pendekatan dengan menggunakan metode deskripsi analisis pada teks 2 Timotius 3:10-17. Sehingga didapati karakteristik tentang kepribadian guru Pendidikan Agama Kristen. Hasil yang ditemukan adalah kepribadian guru Pendidikan Agama Kristen adalah merupakan kepribadian guru yang rela berkorban, taat, dan tekun sehingga kepribadian tersebut secara tidak langsung dapat mempengaruhi dan membina peserta didik yang diajar dan didik oleh guru yang bersangkutan

Dorlan Naibaho; Dimas Giraldo Purba

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Guru merupakan suatu profesi yang menuntut kemampuan dan keahlian khusus yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan tertentu di bidangnya. Profesi baru dapat dikatakan apabila guru telah memenuhi syarat sebagai suatu profesi, maka guru dapat digolongkan sebagai suatu profesi. Guru mempunyai tanggung jawab yang sangat besar dan mempunyai pengaruh langsung terhadap tercapainya tujuan pendidikan. Menjadi guru yang profesional tidaklah mudah. Seorang guru harus memiliki dan memberikan dedikasi terhadap pekerjaan ini. Jika tidak, maka tujuan pendidikan yang erat kaitannya dengan pembentukan kualitas sumber daya manusia tidak akan tercapai. Profesi guru dituntut untuk mampu bekerja maksimal dalam mendidik peserta didiknya agar pendidikan tidak gagal. Profesionalisme guru dapat meningkatkan pendidikan akademik dan karakter siswa. Guru yang profesional adalah guru yang mau mengedepankan mutu dan kualitas jasa dan produknya, pelayanan guru harus memenuhi standar seperti kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi pengawasan, dan kompetensi sosial. Serta memaksimalkan kemampuan peserta didik berdasarkan potensi dan keterampilan yang dimiliki setiap individu menjadi lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji: 1) strategi pengembangan profesional guru 2) peran pendidik profesional dalam pengembangan akademik dan karakter siswa 3) kinerja pendidik profesional.

Ria Agustina Surbakti; Sara Mariana Nasution; Turnip, Helena

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Pendidikan di Indonesia saat ini mengalami penurunan, hal ini menyebabkan turunnya prestasi generasi dari generasi. Dalam hal ini guru harus berperan aktif, tidak hanya itu, namun juga guru harus profesional dalam profesinya. Dalam penelitian ini membahas tentang kompetensi pedagogik guru sebagai salah satu faktor penting dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini mengidentifikasi strategi pengajaran, adaptasi kurikulum, dan interaksi guru terhadap siswa sebagai komponen penting kompetensi pedagogik. Hasil ini menyoroti pentingnya mengembangkan keterampilan penyampaian instruksional, memahami karakteristik siswa, dan menerapkan metode penilaian yang efektif. Implikasi dari penelitian ini dapat menjadi panduan bagi para pendidik, lembaga, dan kebijakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil  siswa.

Jessy Monica Ompusungggu; Dorlan Naibaho

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Metode kreatif dan efektif untuk mencapai tujuan pendidikan Kristen. Tujuan pembelajaran tidak hanya menguasai konsep-konsep pengetahuan dan terampil dalam keterampilan motorik, tetapi juga mengubah sikap. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan studi literatur yaitu Alkitab dan buku referensi. Hasilnya, baik siswa sekolah maupun non sekolah merasa puas dengan perubahan karakter yang terjadi pada diri siswa, sehingga metode yang digunakan sangat efektif. Metode tidak boleh menjadi hal yang utama dengan mengabaikan pengajaran. Metode digunakan untuk menunjang pengajaran agar tujuan pendidikan tercapai. Metode yang bervariasi akan membantu siswa dalam memahami materi ajar yang disampaikan. Proses belajar mengajar harus dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode. Guru harus mempunyai kemampuan mengajar baik secara kognitif, psikomorik maupun afektif untuk mencapai tujuan pendidikan agama Kristen. Pegang semua yang telah Anda dengar dari saya sebagai contoh doktrin yang sehat dan lakukan itu dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

Kharista Hany Frikana Purba; Dorlan Naibaho

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Guru merupakan seorang pengajar yang menjagar di sekolah negeri atau swasta yang mempunyai latar belakang pendidikan formal sekurang-kurangnya sarjana dan mempunyai status hukum sebagai guru berdasarkan Undang-Undang tentang Guru dan Dosen. Kepribadian adalah kemampuan pribadi yang mencerminkan kepribadian yang kuat tentang seorang Guru,Guru adalah tombak utama dalam dunia pendidikan untuk membentuk anak anak bangsa,Menjadi seorang guru harus memiliki suatu keterampilan dalam dirinya agar data membentuk eserta didik menjadi generasi bangsa, Keterampilan berkomunikasi sangat diperlukan seorang Guru dalam dunia pendidikan, Keterampilan komunikasi guru sangat penting untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini menunjukkan bahwa guru merupakan landasan terpenting dalam pengembangan komunikasi dalam proses pembelajaran. Ini merupakan keterampilan yang diperlukan guru untuk mengembangkan karakter siswa

Sweet Tri Sonya Cicilia Hutajulu; Dorlan Naibaho

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Pendidikan mempunyai rencana untuk pembangunan manusia. Selama pengembangan Maraknya teknologi baru dan  semakin canggih  mempengaruhi perilaku manusia. Saat ini, banyak orang lebih sibuk menggunakan ponsel dibandingkan secara langsung. Terhubung dengan orang-orang di sekitarnya. Tentu saja dari sudut pandang psikologis ya. Kesalahpahaman mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain. Karena itu membuat koneksi atau percakapan, Rasa itu penting.  Keberhasilan pendidikan suatu sekolah adalah keberhasilan perkembangan siswa. Bukan hanya keberhasilan guru saja, tetapi juga sikapnya yang penting dalam membentuk karakter siswa. rakyat pendidikan Ketidaktahuan di lembaga mana pun, terutama di keluarga, tidak akan berjalan dengan baik. Karena adanya keluarga Merupakan lingkungan tumbuh kembang anak sejak bayi hingga dewasa. Melalui pendidikan keluarga, Anak-anak dikonfirmasi. Komunikasi antara pihak sekolah (kepala sekolah) dan orang tua/wali menjadi salah satu aspeknya. Pelaksanaan tanggung jawab sekolah. Guru sekolah  sudah menerimanya Kesempatan untuk berinteraksi dan memberi dampak pada kehidupan Para siswa kembali ke dada mereka orang tua Beberapa contoh komunikasi antara guru dan orang tua  adalah:  Memanfaatkan pertemuan guru-orang tua, memanfaatkan kemajuan teknologi, dan menyediakan Website sekolah, pembentukan komite sekolah.

Dorlan Naibaho; Giovani Jandriano Lubis

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Kompetensi sosial merupakan aspek penting bagi guru dalam mengefektifkan pembelajaran. Bisa Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif yang dapat meningkatkan diri Pertunjukan. Didukung dengan komunikasi yang baik maka guru akan lebih mudah menyampaikan. Berbagai informasi dalam pelajaran tertentu yang akan diajarkan kepada siswa. Komunikasi adalah kunci terpenting untuk menunjukkan keterampilan sosial. Diharapkan bahwa berbagai prinsip komunikasi akan diterapkan untuk mengoptimalkan praktik. Prinsip ini adalah: Komunikasi harus dilandaskan pada prinsip hormat, empati, berbicara dengan jelas (intelligibility), mampu memahami apa yang dibicarakan (clarity), dan kesopanan (humility). Kompetensi sosial merupakan salah satu dari empat kompetensi wajib yang harus dimiliki guru.Pada dasarnya kompetensi ini merupakan salah satu hal yang sangat menunjang dalam pembelajaran, baik didalamnya Dan di luar kelas. Kompetensi sosial guru merupakan keterampilan komunikasi yang efektif untuk Siswa, teman sebaya, staf sekolah, dan lingkungan tempat guru tinggal. Keberhasilan pendidikan karakter di sekolah adalah keberhasilan siswa dalam membangun pribadinya Melalui komunikasi Komunikasi Yang baik akan menumbuhkan sikap saling percaya Terhadap Siswa. Adanya sikap saling Mempercayai, saling membantu dalam membimbing  dan berkomunikasi dengan guru, Akan membuat siswa merasa memiliki kebebasan berkreativitas guna pengembangan potensi dirinya, Sehingga bisa meningkatkan kreativitas dan mencapai keberhasilan dalam belajar.

Naomi Shinta Marito Panjaitan; Dorlan Naibaho

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Perkembangan teknologi sekarang yang tak bisa dibendung semakin hari terus mengalami perkembangan tanpa memperhatikan nilai-nilai kristiani etika, karakter serta moral dari manusia, maka sangat dibutuhkan perhatian dari berbagai pihak terkususnya Guru agama Kristen sebagi duta mengembangkan nilai kristiani. Dan siswa dapat mengenal dunia pendidikan dari yang tidak tahu menjadi tahu, terlebih untuk mengenal kebenaran Allah. Tanggung jawab guru adalah membantu peserta didik agar dapat mengembangkan nilai-nilai kristiani  yang dimilikinya secara maksimal. Potensi peserta didik yang harus dikembangkan bukan hanya menyangkut masalah kecerdasan dan keterampilan, melainkan menyangkut seluruh aspek kepribadian seperti nilai-nilai kristiani. Guru tidak hanya dituntut untuk memiliki pemahaman atau kemampuan dalam bidang belajar dan pembelajaran tetapi juga dalam memotivasi peserta didik. Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) berperan dalam mengajarkan nilai-nilai kristiani dan memotivasi peserta didiknya. Guru PAK harus memahami konsep-konsep motivasi sehingga mampu berfungsi sebagai duta mengembangkan  peserta didik, baik yang menyangkut aspek intelektual, emosional, sosial, maupun nilai-nilai kristiani.

Anggriana Manalu; Apiek Gandamana

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui muatan kompetensi kewarganegaraan dalam kurikulum 2013 dengan kurikulum merdeka pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada tingkat sekolah dasar. Jenis penelitian ini yaitu peneltian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian 3 guru sekolah dasar kurikulum 2013, 3 guru sekolah dasar kurikulum merdeka dan 1 dosen ahli Pendidikan Kewarganegaraan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan disertai dengan dokumentasi. Hasil penelitian  pertama menunjukkan bahwa muatan setiap ranah kompetensi kewarganegaraan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dalam kurikulum 2013 dengan kurikulum merdeka disekolah dasar mengandung muatan kompetensi kewarganegaraan secara utuh yang terdiri dari pengetahuan kewarganegaraan, keterampilan kewarganegaraan, dan sikap kewarganegaraan. Kedua dicermati dari kata kerja operasional (KKO), kurikulum 2013 mengandung 25 % komponen pengetahuan kewarganegaraan, 25 % komponen keterampilan kewarganegaraan, 50 %  komponen sikap/karakter. Sedangkan pada kurikulum merdeka mengandung 31,37 % komponen pengetahuan kewarganegaraan, 41,18 % komponen keterampilan kewarganegaraan, dan 27,45% komponen sikap/karakter kewarganegaraan kemudian ditambah 20 % penguatan profil pelajar Pancasila. Kedua kurikulum sama-sama mendominasi komponen sikap/karakater kewarganegaraan dan memiliki perbedaan pada komponen pengetahuan dan keterampilan. Ketiga kompetensi kewarganegaraan akan memberikan nampak pada pembentukan pribadi peserta didik yang memiliki karakter kepribadian yang baik dan benar mencerminkan nilai-nilai yang termuat dalam pengamalan Pancasila dan UUD 1945.

Sofania Magdalena Siadari; Julita Herawati P

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Artikel ini membahas tentang melatih kemampuan berpikir dan kreatif anak usia dini melalui bermain sambil belajar sains.Dalam  berpikir kreatif,anak menggunakan imajinasinya dalam bermain peran, membentuk, menggambar, atau membangun dan akhirnya memperoleh hasil.Tujuan penulisan ini agar anak  usia 4-6 tahun dapat diajar berpikir kritis dan kreatif dalam pembelajaran sains .Teori Konstruktivistik, Pengalaman mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan dan mengkomunikasikan dengan bimbingan guru melalui kegiatan bermain merupakan karakteristik bimbingan guru melalui kegiatan bermain dan belajar merupakan karakteristik kurikulum 2013 yang salah satunya adalah menerapkan metode saintifik, Absruscato (dalam Amalia, 2018: 2).Bermain dan belajar sains dapat mengembangkan keterampilan berpikir dan memproses pengetahuan yang sudah didapatkan.Kegiatan sains anak belajar dan bermain secara langsung dengan percobaan-percobaan yang mudah terjadi dalam kehidupan sehari-hari.Sehungga dapat bermanfaat bagi anak untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menanggapi secara kritis pembelajaran sains.

Reni Ester Berutu; Julita Herawati P

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Belajar seorang anak tidak tergantung pada kecerdasan atau kemampuan kognitif, tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lain, seperti aspek perkembangan emosi dan sosial. Sisi emosional dan sosial ini sangat mempengaruhi perilaku anak terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Pada anak usia dini, aspek sosial-emosional dapat dikembangkan melalui pembelajaran sosial-emosional. Dimana pembelajaran sosial emosional merupakan proses pengembangan keterampilan, sikap dan nilai yang diperlukan untuk memperoleh kompetensi sosial dan emosional sebagai modal anak dalam berinteraksi dengan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya. Pembelajaran sosial emosional ini dapat menjadi titik tolak dan dasar pembentukan karakter anak usia dini. Ada empat kompetensi perkembangan penting dalam aspek sosial emosional anak; kesadaran diri, kesadaran sosial, manajemen diri, pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dan manajemen hubungan. Karena perkembangan keempat aspek sosial emosional anak berpengaruh terhadap pengenalan sifat-sifat/karakter baik anak dalam dunia sosial.  Metode yang cocok untuk mengembangkan keempat keterampilan tersebut, seperti bermain, berakting, bercerita, modeling dan lain-lain.

Ronaldes Gokpindo Situmeang; Monica Silitonga; Meysa Nababan; Moses Sirait; Dorlan Naibaho

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Pendidik adalah motivator bagi peserta didik. Tidak sedikit guru yang mengalami kesulitan mengajar ketika berhadapan dengan siswa yang kurang semangat belajar. Bahkan ada beberapa guru agama Kristen yang mengeluh dan tidak mau mengajar karena melihat siswanya tidak tanggap terhadap pembelajaran. Padahal, peran guru tidak hanya membekali siswa dengan pengetahuan tentang mata pelajaran, tetapi guru juga menjadi motivator bagi siswa untuk mengorientasikan diri dalam pembelajarannya Tanggung jawab pendidik adalah untuk membantu siswa mencapai potensi penuh mereka. Potensi yang perlu dikembangkan dalam diri siswa bukan hanya tentang kecerdasan dan kemampuan, tetapi tentang semua aspek kepribadian. Dalam konteks ini, guru dituntut tidak hanya memiliki pemahaman atau keterampilan dalam bidang pembelajaran dan pembelajaran, tetapi juga memberikan dorongan untuk mencapai tujuan. Apalagi bagi mereka yang mengalami patah semangat, putus asa atau gagal, misalnya, peran seorang motivator sangat dibutuhkan untuk membantu mereka bangkit kembali. Cocok bagi siswa untuk belajar giat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Itulah sebabnya guru Kristen adalah guru yang memiliki otoritas dalam kelas. Guru Agama Kristen adalah gembala bagi murid-muridnya. Pendidik juga harus sebagai orang tua bagi siswa. Salah satu permasalahan serius yang sering dijumpai di kalangan siswa adalah kenakalan yang tidak bisa dikendalikan sehingga menimbulkan perpecahan dalam masyarakat yang berkepanjangan. Oleh karena itu, para pendidik Kristen memiliki peran penting untuk menjadi orang tua/konselor bagi siswa. Sekalipun tugas ini adalah tugas para guru Bimbingan Konseling, namun bukan berarti guru-guru lain tidak berkesempatan menolong setiap murid yang sedang ber-masalah, termasuk pendidik Kristen. Pendidik sebagai konselor akan menolong setiap murid yang sedang bermasalah, bukan saja memposisikan dirinya sebagai konselor tetapi lebih dari itu, yakni sebagai orang tua.  Matius 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.

Cristi Giovanny Sitompul; Debora Paulina Ritonga; Dorlan Naibaho

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Dalam dunia pendidikan, terutama yang diperuntukkan bagi guru, kompetensi pedagogik adalah keterampilan atau kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam melihat karakteristik siswa dari berbagai aspek kehidupan, baik itu moral, emosional,maupun intelektual. Kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh seorang guru dapat dikatakan berhasil jika seorang guru mampu memotivasi siswa dalam proses pembelajaran, karena guru memegang peran yang penting dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di sekolah. Memotivasi siswa merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan semangat belajar. Proses belajar akan berhasil jika siswa memiliki motivasi dalam belajar. Oleh karena itu, guru perlu menumbuhkan motivasi siswa yang optimal. Dalam kaitan ini terkhusus untuk Guru Pendidikan Agama Kristen dituntut memiliki kemampuan dalam membangkitkan semangat belajar siswa .

Geovando Siahaan; Meletios Pakpahan; Ibelala Gea

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Membangun jiwa kepemimpinan Kristen sejak remaja merupakan suatu hal yang penting dalam pembentukan karakter individu yang berakar pada nilai-nilai kekristenan. Kepemimpinan yang baik tidak hanya ditandai dengan kemampuan memimpin orang lain, tetapi juga kemampuan untuk memimpin diri sendiri dengan baik. Artikel ini membahas tentang pentingnya membangun jiwa kepemimpinan Kristen sejak remaja, melalui pendekatan yang holistik dan terintegrasi antara pengembangan rohani, mental, dan sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur yang mengkaji sejumlah literatur yang berkaitan dengan pembangunan jiwa kepemimpinan Kristen sejak remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan jiwa kepemimpinan Kristen sejak remaja dapat dilakukan melalui sejumlah cara, antara lain melalui pembinaan rohani melalui doa, ibadah, bacaan Alkitab, serta pelayanan di gereja atau masyarakat. Selain itu, pengembangan kemampuan sosial dan keterampilan komunikasi juga menjadi penting dalam membangun jiwa kepemimpinan Kristen, seperti belajar bekerja sama dalam kelompok, menghargai perbedaan, dan membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Dalam kesimpulannya, membangun jiwa kepemimpinan Kristen sejak remaja dapat membantu individu untuk menjadi pemimpin yang lebih baik di masa depan, dengan karakter yang kokoh dan berakar pada nilai-nilai kekristenan. Oleh karena itu, para pemimpin gereja, keluarga, dan masyarakat perlu memberikan perhatian yang lebih pada pembangunan jiwa kepemimpinan Kristen sejak remaja, sehingga dapat membentuk generasi yang lebih baik dan berdampak positif bagi lingkungan sekitar.

Damayanti Nababan; Desy Purnama Simangunsong; Des Samuel Randy Pasaribu

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Aspek afektif adalah salah satu dari tiga aspek pembelajaran yang paling signifikan. Aspek afektif adalah bagian dari sikap yang diinternalisasi oleh siswa. Sikap terhubung secara erat, tetapi tidak dapat dipisahkan oleh nilai (nilai). Setiap sikap akan berharga. Salah satu contoh dari siswa yang rajin, sopan, disiplin adalah bahwa mereka dikatakan selalu sabar selama proses pembelajaran, ketika diminta untuk merespons dengan benar dan alami, mereka pasti akan menerima nilai tinggi. Sebaliknya, ini juga benar. Adopsi sikap pada siswa tidak sederhana, itu harus dicapai melalui strategi yang sesuai yang mempromosikan pengaruh. Strategi pembelajaran afektif adalah strategi yang didedikasikan untuk mencapai tujuan sikap dan keterampilan yang efektif. Strategi ini biasanya menghadapi siswa dengan situasi bermasalah.

Damayanti Nababan; Junaedi Simorangkir; Lamtiur Pardede

Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora 2023 Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannahh

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembaelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggota nya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Tujuan pembelajaran kooperatif ini juga dapat meningkatkan minat belajar peserta didik atau hasil belajarnya Pembelajaran kooperatif akan mengembangkan keterampilan sosial peserta didik. Model pembelajaran ini yang dapat disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik serta materi pembelajaran yang akan dibahas. Dengan melibatkan siswa secara aktif pada proses pembelajaran di dalam kelas, diharapkan siswa dapat lebih ikut bertanggung jawab terhadap peningkatan kemampuan belajarnya sendiri.