Publication Search

70,857 articles from 624 journals · 1,760 citations tracked

Showing 1-16 of 16

Analytics

Ficky Adi Kurniawan

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2026 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Indonesia, as a country with a high level of disaster vulnerability, faces an increased risk of communicable diseases during the emergency response phase due to disrupted sanitation, limited access to clean water, overcrowded evacuation shelters, and weakened health services. This study aims to analyze the strategic role of health workers in health education and the prevention of communicable diseases during disaster emergency response. The method used is a literature review of relevant national and international scientific articles. The findings indicate that health workers have a multidimensional role, not only as providers of curative services but also as educators, change agents, advocates, and collaborators in promotive and preventive efforts. Effective health education, participatory risk communication, strengthened epidemiological surveillance, and the implementation of Infection Prevention and Control (IPC) are key strategies to reduce the risk of communicable disease outbreaks. However, implementation in the field still faces challenges, including limited resources, cross-sectoral coordination constraints, heavy workloads, and suboptimal disaster-related policy systems and standard operating procedures (SOPs). Therefore, strengthening the capacity of health workers through training, policy support, and community-based approaches is necessary to enhance health system resilience in responding to disaster crises.

Fridella Grace Natalia Tarigan; Rumiris Simatupang; Percaya Hia; Siti Ratna Harefa; Soeandi Malik Pratama

Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan 2026 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Floods and landslides in Hutanabolon Village, Tukka District, Central Tapanuli Regency have disrupted access to food and health services, particularly for vulnerable groups such as children. Public kitchens, as the frontline of emergency nutrition response, face challenges in providing food that meets the specific nutritional needs of children. This study aims to evaluate the effectiveness of public kitchens at Disaster Emergency Response Posts (TDB) in meeting the nutritional needs of post-disaster children, identify supporting and inhibiting factors, and formulate recommendations for improving the public kitchen management system. The research employed a descriptive evaluative approach using survey methods, structured interviews, direct observation, 24-hour dietary recall, and anthropometric measurements (weight and height). The study subjects included 15 children aged 1–12 years and 8 public kitchen managers selected purposively. Data were analyzed descriptively by comparing nutritional intake against the Recommended Dietary Allowance (RDA) standards and analyzing kitchen management practices based on emergency nutrition guidelines. The findings revealed that children's average energy intake was only 1,140 kcal/day (below the minimum standard of 1,200–2,000 kcal/day) and protein intake was 18.7 g/day (below the standard of 20–35 g/day). A total of 33.3% of children were classified as having malnutrition to severe malnutrition based on weight-for-age indicators. Public kitchen management showed weaknesses in menu planning (100% had no child-specific menu), managers' nutritional knowledge (62.5% categorized as low), food availability (75% relied on instant aid without variation), and limited cross-sectoral coordination (50%). The effectiveness of public kitchens in meeting children's nutritional needs after disasters remains low.

Rati Awaliah; M. Dio Triyoga; Nabila Chairunissa; Nazla Nur Riastini; Ririn Zuhairini

Jurnal Siti Rufaidah 2025 PPNI UNIMMAN

Disasters are global phenomena that continue to increase in both frequency and impact, posing serious challenges to health systems worldwide. One of the crucial components in disaster management is the preparedness of Emergency Medical Services (EMS) during the pre-hospital phase, which determines the speed and effectiveness of the initial medical response. However, multiple studies indicate that EMS preparedness and response capacity remain suboptimal, particularly in areas such as personnel training, intersectoral coordination, communication systems, infrastructure, and policy support. This study aims to map the preparedness and emergency response capacity of EMS in disaster situations using a scoping review approach. The research follows the methodological framework of Arksey and O’Malley (2005), which includes formulating research questions, conducting literature searches, selecting relevant studies, extracting data, and synthesizing findings. Literature searches were conducted through PubMed, ScienceDirect, Cochrane Library, and Google Scholar databases. From 114 identified records, 12 studies met the inclusion criteria. The review reveals that EMS disaster preparedness varies across countries. The main factors influencing EMS response capacity include: (1) training and competency development of EMS personnel, (2) effectiveness of interagency coordination and communication, (3) availability of medical facilities and infrastructure, (4) national policy and system support, and (5) the use of technology to enhance response efficiency. This scoping review underscores the need for stronger national policies, improved cross-sectoral coordination, and sustainable capacity-building programs to enhance the effectiveness of EMS in disaster response, particularly in developing countries such as Indonesia.

Putri, Dwiana Kartika; Zuiatna, Dian; Amelia, Yummi

Compromise Journal : Community Proffesional Service Journal 2025 LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Keadaan darurat adalah situasi atau kejadian tidak normal yang terjadi tiba-tiba dan dapat menggangu kegiatan komunikasi dan perlu segera ditanggulangi. Puskesmas sebagai salah satu pelayanan kesehatan masyarakat memiliki potensi terjadi keadaan darurat seperti kebakaran dan bencana alam gempa bumi, oleh sebab itu maka Puskesmas harus siap siaga dalam menghadapi bencana dengan melakukan penyiapan sumberdaya, baik fasilitas maupun sumberdaya manusia. Upaya pencegahan untuk meminimalisir risiko yaitu dengan cara perencanaan sistem tanggap darurat bencana, penting dilakukan untuk menanggulangi semua kejadian bencana secara cepat, tepat, dan akurat, serta untuk menekan timbulnya korban jiwa dan kerugian akibat kejadian bencana tersebut. Puskesmas Karang Baru merupakan salah pelayanan kesehatan umum yang memiliki risiko terjadinya keadaan darurat baik keadaan darurat bencana maupun keadaan darurat kebakaran. Maka itu perlu dilakukan sosialisai tanggap darurat kebakaran di Puskesmas Karang Baru, karena kebakaran merupakan salah satu ancaman yang dapat menimbulkan kerugian dan memakan korban jiwa. Untuk itu edukasi perlu dilaksanakan sebagai upaya mencegah dan mengurangi dampak dari kebakaran tersebut. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah memberikan edukasi bagaimana menghindari dan penanganan kebakaran yang tepat serta memberikan informasi dan kesigaptanggapan terhadap  terjdinya bahaya  kebakaran di Puskesmas Karang Baru. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat ini yaitu pemberian edukasi dengan metode ceramah tanya jawab kepada responden yang merupakan pegawai di Puskesmas Karang Baru. Selesai memberikan edukasi, responden mengerti bagaimana melakukan pencegahan terjadinya kebakaran dan tindakan yang akan dilakukan saat terjadinya kebakaran serta mengetahui bagaimana penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan).

Bangun, Aprilianti; Widaningsih, Rr. Ayu

Jurnal Ilmiah Serat Acitya 2024 Universitas 17 Agustus 1945

Penelitian ini bertujuan untuk menilai dampak dari sistem teknologi informasi, komunikasi, dan partisipasi komunitas terhadap efektivitas pelayanan tanggap bencana. Efektivitas pelayanan dalam situasi tanggap bencana sangat penting untuk penanggulangan dan mitigasi bencana, dan penelitian ini berfokus pada tiga variabel utama yang dianggap memengaruhi kinerja dalam konteks ini. Metodologi penelitian yang digunakan adalah analisis regresi berganda, dengan data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada petugas dan relawan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) serta masyarakat lokal. Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem teknologi informasi dan komunikasi tidak berpengaruh signifikan terhadap efektivitas pelayanan tanggap bencana. Sistem teknologi informasi yang optimal dan komunikasi yang efektif terbukti meningkatkan koordinasi serta respons dalam situasi darurat.

Nian Afrian Nuari; Efa Nur Aini; Sela Dwi Prasetianing U; Prajna Paramita Dwi Nugraha; Muchlis Santoso

Jurnal Pengabdian Masyarakat Waradin 2024 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Indonesia Semarang

The general public, including children in schools, has to be trained in Basic Life Support (BLS). The advancement of communication and information technologies has created new avenues for the delivery of important skills training, including Basic Life Support (BLS).  The goal of this community service is to use blended learning to improve students' knowledge and abilities in doing BHD. Online and offline learning are combined to execute this training-based approach to community service. While the offline component consists of practice exercises and simulations, the online component features instructional videos and other materials. The participants were 35 SMK K students in Nganjuk City. Student knowledge is measured using pre-test and post-test. The results showed a significant increase in post-test scores compared to the pre-test, with the average score increasing from 74.14 to 85.551. Students' skills in carrying out BHD also increase after participating in simulations and practice. The blended learning method has proven to be effective in increasing students' understanding and ability to perform BHD. It is hoped that this training can prepare students as potential bystanders who are able to provide first aid in cases of cardiac arrest in the community.

Ayu Febriyanti; Mazdra Urzais, Vivia Mustaqimah Jarita Dewi; Moch. Luqman Ashari

Journal of Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Pelabuhan merupakan bagian dari suatu sistem kompleks yang bertujuan untuk menjaga rantai logistik agar berjalan lancar.Seluruh aktivitas operasional di area kerja pelabuhan tentu tidak lepas dari adanya risiko kecelakaan dan keadaan darurat lainnya, tak terkecuali Terminal Petikemas. Adapun risiko yang mungkin terjadi di antaranya kelalaian operator, kesalahan dalam menjalankan prosedur, ataupun kebakaran. perusahaan dengan risiko tinggi wajib memiliki sistem tanggap darurat beserta organisasi tanggap darurat.Maka dari itu fokus pada penelitian kali ini adalah pada salah satu Perusahaan Jasa Petikemas di Surabaya. Proses kerja di perusahaan ini tentu terkait penanganan container dengan berbagai jenis muatan. Container ini kemudian diletakkan pada lapangan penumpukan petikemas yang memiliki risiko tinggi akan terjadinya kebakaran. Setelah dilakukan observasi, pada masing-masing CY telah tersedia Fire Hydrant dengan kondisi berupa rusaknya bagian-bagian hidran, kurang mencakupnya pemanfaatan hidran ke seluruh area, serta titik lokasi penempatan hidran yang tidak maksimal. Maka dari itu, penulis melakukan kajian lebih lanjut terkait kondisi sistem tanggap darurat di Lapangan Penumpukan Petikemas dan melakukan perancangan ulang penempatan hidran di Container Yard.  Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif di mana setelah  pengambilan data maka dilakukan analisis terhadap tingkat risiko kebakaran dan selanjutnya perhitungan dan perancangan ulang kebutuhan hidran. Hasil penilaian risiko menunjukkan tingkat risiko kebakaran tingkat tinggi pada CY 01, serta tingkat sedang di CY 02 dan CY 03. Kondisi hidran di Terminal Petikemas di Surabaya memiliki beberapa ketidaksesuaian yang harus dilakukan perbaikan dengan penggantian bagian serta pemeliharaan berkala. Selanjutnya pada perhitungan kebutuhan hidran di area Container Yard menghasilkan dibutuhkannya penambahan 3 pilar hidran serta 2 sambungan hose di CY 01, serta penambahan 3 pilar hidran dan 2 sambungan hose di CY 02.

Febta Alkarin Putri; Rafly Prawira; Moch. Luqman Ashari

Journal of Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Industri peleburan baja di Sidoarjo merupakan salah satu perusahaan special steel yang diperhitungkan dalam industri peleburan baja. Pada industri peleburan baja di Sidoarjo ini memiliki potensi bahaya kebakaran yang sangat tinggi yang disebabkan oleh proses produksi peleburan itu sendiri. Kebakaran pada industri peleburan baja di Sidoarjo ini merupakan ancaman serius yang dapat menyebabkan kerugian material, kehilangan nyawa, dan merusak lingkungan sekitar. Oleh karena itu, penanggulangan dan pencegahan kebakaran menjadi sangat penting dalam menjaga keselamatan dan keberlanjutan operasional industri peleburan baja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pencegahan dan penanggulangan kebarakan di perusahaan peleburan baja. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Data didapatkan dengan cara observasi dan wawancara mengenai penerapan sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perusahaan peleburan baja sudah menerepakan dan melaksanakan sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran sesuai standar namun masih ada beberapa yang perlu dioptimalkan kembali seperti penambahan APAR serta pelaksanakan simulasi tanggap darurat.

Haidar Labib Tsany; Vina Kurnia Nabilah; Febrian Sekar Nurfadhilah; Moch. Luqman Ashari

Journal of Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Pada era perkembangan teknologi, bidang industri mengalami kemajuan guna mendorong menunjang efisiensi kerja yang didukung dengan alat dan bahan dasar baru untuk menciptakan produk yang inovatif. Namun hal tersebut seringkali menyimpan potensi bahaya seperti kebakaran. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang bergerak di sektor galangan kapal dengan beradam tahapan proses produksi yang tentunya menyimpan banyak risiko kebakaran. Maka dari itu perusahaan mengadakan pelatihan tanggap darurat kebakaran agar pekerja dapat mengetahui langkah yang harus dilakukan saat kejadian darurat. Pelatihan simulasi tanggap darurat kebakaran ini dilakukan dengan dua rangkaian kegiatan yaitu sosialisasi pemberian materi dan praktek, kemudian dilanjutkan dengan simulasi terjadinya keadaan darurat serta diakhiri dengan evaluasi kegiatan. Kegiatan tersebut menggunakan skenario yang telah disepakati dan disosialisasikan kepada pekerja. Kegiatan pelatihan tersebut dilaksanakan selama 2 jam dan peserta sekitar 25 orang dengan tugas dan peran masing – masing. Hasil dari kegiatan pelatihan ini pekerja memahami proses evakuasi ketika terjadi keadaan darurat dengan catatan waktu yang ideal untuk proses pemadaman api serta proses evakuasi terhadap seluruh pekerja dan korban.

Muchammad Raihan Rakhadary; Moch. Luqman Ashari2

Journal of Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

High-rise office building adalah gedung dengan jumlah lantai paling sedikit 16 lantai yang difungsikan sebagai area kantor. Dengan ketinggian gedung yang cukup tinggi dan jumlah penghuni yang lebih dari 100 orang maka dapat dikategorikan sebagai bangunan dengan potensi bahaya tinggi. Salah satu bahaya yang mengintai adalah kebakaran yang dapat membahayakan penghuni gedung. Dengan pelatihan evakuasi yang tepat saat keadaan darurat kebakaran, diharapkan dapat meminimalisir kerugian yang dapat terjadi. Evaluasi dalam pelaksanaan simulasi evakuasi kebakaran diperlukan untuk mengoptimalkan simulasi yang dilakukan. Melalui penelitian dengan metode deskriptif kualitatif ini, peneliti akan membahas penerapan sistem tanggap darurat kebakaran mulai dari sarana dan prasarana yang diperlukan dalam menghadapi situasi darurat kebakaran pada gedung bertingkat. Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan yang akan membantu pembaca dalam mengoptimalisasi sistem tanggap darurat yang ada pada gedung bertingkat.

Moch. Luqman Ashari; Ayu Puspa Arum Masniarni Kusuma Wardani; Desfita Putri Maharani

Journal of Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Dalam keadaan Indonesia yang terus kehilangan lahan kosong, bangunan gedung bertingkat menjadi salah satu jalan keluar untuk memperluas area beraktivitas. Namun perlu digarisbawahi bahwa gedung bertingkat juga memiliki risiko terbakar sehingga dapat menyebabkan kerugian materi maupun korban jiwa yang lebih besar. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun perencanaan Emergency Response Plan (ERP) pada gedung bertingkat yang memiliki tujuh lantai. Perencanaan ini diharapkan dapat memenuhi standar yang ditetapkan oleh pemerintah melalui undang-undang maupun peraturan lain agar suatu gedung memiliki prosedur tanggap darurat. Penelitian ini diawali dengan pendataan dimensi dari bangunan gedung dan fungsi setiap lantai pada bangunan. Dari data tersebut kemudian didapatkan estimasi kapasitas bangunan yang selanjutnya dapat dihitung kebutuhan pintu darurat, tangga darurat, dan waktu yang diperlukan untuk dapat menyelamatkan diri dari gedung. Setelah dilakukan perhitungan dan analisis, bangunan gedung yang diteliti membutuhkan dua unit pintu darurat masing-masing untuk seriap lantai. Pintu darurat yang dibutuhkan dengan ukuran paling lebar adalah pada lantai 5 karena banyaknya orang yang berada di tempat tersebut. Ukuran lebar tangga yang diperhitungkan adalah satu meter yang mana sudah sesuai dengan rancangan bangunan. Selanjutnya waktu perhitungan matematis total untuk waktu evakuasi yang paling besar adalah lantai 5 pada koridor I, yaitu selama 3,13 menit. Hal tersebut karena kecilnya ukuran lebar dari koridor.

Muhammad Rizal Ramadhani; Muhammad Kemal Fahrezi; Moch. Luqman Ashari

Journal of Student Research 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI) is a terminal port that serves container loading and unloading services at the port. One of the hazards that threaten the loading and unloading industry is the danger of fire. Fires can cause a lot of material and non-material losses. Efforts that can be made to minimize the danger and impact of fires are the implementation of an efficient and optimal emergency response system in accordance with applicable regulations and standards. This study aims to analyze the implementation of the emergency response system in an effort to prevent and control fires in the PT. Berlian Terminal Services Indonesia. This research is a descriptive qualitative research, with primary data sourced from direct observation and interviews, while secondary data obtained through a literature study of company documents. This research will explain how the implementation of the fire emergency response system in PT. Berlian Terminal Services Indonesia. The result of this research is that it can be concluded that PT. Berlian Jasa Terminal Indonesia has implemented a fire emergency response system in accordance with applicable regulations and standards, but there are still things that need to be optimized, such as the implementation of APAR inspections that are late in their implementation and the lack of intensity in fire emergency response simulations.

Alvionita Damayanti

Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPPMI) 2023 Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Yappi Makassar

program upaya pembuatan jalur evakuasi dan Titik Kumpul (Assembly Point) di Rumah Tahanan Kelas IIB Blora bertujuan untuk mendukung Permen PUPR No.14 Tahun 2017 tentang persyaratan kemudahan bangunan gedung dan memberikan layanan terbaik bagi masyarakat. Jalur evakuasi dan titik kumpul ini didesain untuk kasus darurat seperti kebakaran, gempa bumi, dan situasi darurat lainnya. Fasilitas ini menyediakan petunjuk evakuasi dan titik kumpul yang memudahkan seluruh pengguna layanan di Rumah Tahanan Kelas IIB Blora untuk mencari tempat yang aman dan berkumpul di titik kumpul setelah proses evakuasi. Tujuan dari pembuatan jalur evakuasi dan titik kumpul (Assembly Point) di Rumah Tahanan Kelas IIB Blora adalah untuk menyusun rencana tanggap darurat yang praktis, sederhana, dan mudah dimengerti, yang dapat membantu mencegah atau meminimalkan cidera, kerusakan aset, dan kerugian material akibat dari berbagai bentuk dan tingkat resiko atau bahaya di tempat kerja. Meskipun tempat kerja yang sepenuhnya aman dari keadaan darurat sulit dicapai, rencana tanggap darurat yang matang dapat menormalisasi situasi dan menyelamatkan banyak nyawa. Lokasi titik kumpul yang jelas merupakan bagian penting dari perencanaan tersebut. Kegiatan ini diawali dengan melakukan koordinasi bersama pejabat struktural dan Pembimbing Kegiatan sehingga dapat ditentukan kepastian waktu dan tempat yang tepat untuk mengadakan program  di Rumah Tahanan Kelas IIB Blora.                               

Widya Fuji Astuti Sianu; Pipin Yunus; Harismayanti Harismayanti

Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang terjadi secara mendadak tidak terencana secara perlahan tetapi berlanjut yang menimbulkan dampak terhadap pola khidupan normal atau kerusakan sehingga diperlukan tindakan darurat dan luar biasa untuk menolong dan menyelematkan korban baik manusia maupun lingkungannya. Tujuan Penelitian untuk Mengetahui Gambaran Pengetahuan Perawat Tentang Tanggap Bencana Banjir. Desain penelitian kuantitatif descriptif dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling dengan 40 responden. Pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner. Hasil penelitian diperoleh bahwa yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 22 responden (55,0%), dan pengetahuan cukup sebanyak 18 responden (45,5%). Kesimpulannya pengetahuan perawat tentang tanggap bencana banjir di RSUD Toto Kabila berada pada tingkat yang baik.  

Ida, Ida

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2022 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Abstrak Bencana tanah longsor dapat mengakibatkan ancaman serius bagi masyarakat yang dapat menjadi situasi darurat bencana. Situasi darurat bencana ialah suatu peristiwa atau serangkaian peristiwa yang telah mengakibatkan ancaman yang kritis terhadap kesehatan, keselamatan, keamanan atau kesejahteraan suatu masyarakat atau sekelompok besar orang. Salah satu wilayah dengan resiko tinggi bencana tanah longsor adalah Desa pernah terjadi bencana tanah longsor dan pada tahun 2018 yang menimbulkan kerugian mulai dari kerusakan infrastruktur, kehilangan aset, beban psikis pasca bencana, korban luka-luka bahkan merenggut korban jiwa. Fasilitas sekolah atau sarana Pendidikan juga mengalami kerusakan sehingga mengganggu proses pembelajaran terhadap siswanya. Kegiatan ini melibatkan Siswa remaja dengan tujuan untuk mengoptimalkan pengetahuan dan pemahaman remaja Sirnaresmi dalam menghadapi bencana longsor dan mengoptimalkan pengetahuan dan pemahaman Standar Oprasional Prosedur (SOP) Manajemen Bencana Dalam Kesiapsiagaan Remaja Menghadapi Bencana Tanah Longsor. Metode yang digunakan yaitu Sosialisasi SOP Tanggap Darurat Dalam Manajemen Bencana Di Sekolah daerah rawan bencana Desa Sirnaresmi Kabupaten Sukabumi. Hasil penelitian adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang SOP tanggap darurat dalam manajemen bencana pada remaja di Sirnaresmi.

Dewi, Ratih Puspita; Handitcianawati, Wiwin; Hermawan, Roby

Adi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat 2020 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Gempabumi (earthquake) merupakan suatu fenomena alami yang terjadi pada kulit bumi berupa bergoncangnya atau bergetarnya bumi karena adanya pergerakan pada lapisan batuan secara tiba-tiba disebabkan karena lempeng tektonik. International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (2010) menyebutkan bahwa perempuan dan anak pada umumnyamerupakan korban utama dalam bencana alam, hal ini dikarenakan korban yang tewas lebih tinggi pada perempuan dan anak perempuan, penyebabnya karena kendala budaya berupa mobilitas perempuan, kurangnya ketrampilan yang dimiliki perempuan dibandingkan dengan laki-laki, serta kekuatan fisik perempuan yang lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meminimalkan resiko jatuhnya korban perempuan dalam bencana gempabumi dengan upaya meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan terhadap bencana gempabumi. Metode pelaksanaannya dengan melakukan sosialisasi  kesiapsiagaan  bencana  gempabumi  di  Pimpinan  Cabang  Nasyiatul  Aisyiyah Klaten Selatan. Target luaran dari kegiatan ini adalah (1) menumbuhkan kesadaran kepada kaum perempuan terhadap pentingnya pemahaman mitigasi bencana gempabumi baik sebelum,  saat  tanggap  darurat  maupun  pasca  bencana,  (2)  menumbuhkan  kewaspadaan bahwa bencana gempabumi dapat terjadi sewaktu-waktu sehingga kaum perempuan harus siap  bencana  kapan  saja  dan  dimana  saja,  dan  (3)  meningkatkan  kesiapsiagaan  kaumperempuan terhadap bencana gempabumi sehingga mengurangi resiko terjadinya korban bencana dari pihak perempuan.Kata kunci: gempabumi, perempuan, kesiapsiagaan