Publication Search

72,085 articles from 647 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-3 of 3

Analytics

Stella Aprilia; Paulina Maria Ekasari Wahyuningrum

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2022 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan nilai pintar tuntang harati pada materi aku pribadi yang unik untuk meminimalisir perilaku bullying pada siswa kelas VII di SMPN 1 Muarateweh. Masalah yang didapat peneliti adalah perilaku bullying yang dilakukan oleh para siswa baik itu bullying verbal seperti mengejek fisik sampai dengan perlakuan kasar seperti memukul. Hal tersebut menjadi keprihatinan pihak sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Responden penelitian ini adalah siswa beragama Katolik kelas VII yang berjumlah 10 orang. Penelitian dilaksanakan di SMPN 1 Muarateweh. Waktu penelitian dilaksanakan mulai dari 10 Agustus sampai dengan 20 Agustus 2022. Data dikumpulkan melalui angket tentang perilaku bullying. Data pendukung penelitian ini didapat dengan menggunakan metode wawancara singkat dengan guru agama katolik dan guru bimbingan konseling. Teknik analisis data menggunakan rumus persentase. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa nilai pintar tuntang harati yang diberikan oleh guru dalam materi aku pribadi yang unik dapat memberikan pemahaman kepada siswa tentang perilaku bullying dan meminimalisir perilaku bullying yang terjadi di SMPN 1 Muarateweh.

Ferry Hartono

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2021 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Pembacaan Dekonstruktif Derrida, sebagai salah satu kritikan atas tawaran kemapanan strukturalisme, menawarkan pendekatan yang berbeda dalam menganalisis data riset kualitatif. Ketika berbicara tentang riset keagamaan, pembacaan dekonstruktif tidak dapat begitu saja meniadakan banalitas diskusi mengenai sifat apofatis realitas ilahi. Namun, ketika diskusi ditarik ke arah fenomena keagamaan, pembacaan dekonstruktif seperti ikan menemukan kolam yang tenang, tempat ia dapat berenang dengan bebas. Metodologi- metodologi studi keagamaan umum, seperti Fenomenologi, Fungsionalisme, dan Agama Terhayati menekankan kemungkinan untuk menarik dunia metafisis kepada realitas fenomenologis yang dapat diamati dan dipahami. Fenomena-fenomena tersebut, ketika dikaitkan dengan kaidah ruang dan waktu, akan selalu menghasilkan anomali. Keasingan dan penyimpangan dalam fenomena tidak perlu dimusuhi. Dalam pembacaan dekonstruktif, justru unsur pengejut dan pengesan unik dalam fenomena sering menjadi agen kuat untuk memahami suatu obyek pembacaan. Artikel ini bertujuan menunjukkan kedigjayaan pembacaan dekonstruktif sebagai sarana analisis data dalam suatu riset keagamaan. Pembacaan dekonstruktif ini dapat dipakai baik dalam riset kuantitatif maupun riset kualitatif, meskipun harus segera ditambahkan, bahwa riset kuantitatif memiliki handicap-nya tersendiri dalam riset keagamaan. Dalam fenomena keagamaan, jumlah tidak menentukan kebenaran. Justru lebih sering terjadi, fenomena yang unik atau menyimpang, entah itu dalam arti pribadi atau barang mati atau kejadian atau prediksi sekalipun, lebih ‘berkualitas’ dan lebih benar. Di sinilah ada konformasi antara riset kualitatif dan pembacaan dekonstruktif.

Tuti Anggarawati; Nanang; Enggar Dwi Prasetyo; Alfia Tyas Mahestye; Bynar Fredy Anggara +2 more

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2019 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Remaja adalah masa transisi usia dimana seseorang belum dikatakan dewasa namun bukan lagi seorang anak. Remaja  akan fase pencarian identitas diri, gejolak hormon, dan tekanan yang besar dari sekolah serta lingkungan sekitarnya. Proses pematangan fisik  yang terjadi lebih cepat dari proses pematangan kejiwaan (psikososial)  menyebabkan   remaja harus menghadapi perubagan fisik, kognitif dan emosional yang dapat menimbulkan kondisi stres dan memicu perilaku unik pada remaja. Perilaku –perilaku yang dimunculkan oleh remaja untuk menghadapi kondisi stres seperti  cemas,  depresi, merokok,  menjadi anak  jalanan,  adiksi game, kekerasan, penyalahgunaan obat, sampai bunuh diri. Bunuh diri merupakan kematian no.2 terbanyak di dunia pada usia 15 – 29 tahun (WHO, Preventing Suicide, 2014), 350 juta orang di dunia diestimasikan mengalami  depresi,  dan  depresi  merupakan  penyebab  disabilitas  utama  di dunia. (WHO, Depression, 2012). Gangguan mental emosional: gejala depresi dan anxietas pada usia ? 15 tahun sebesar 6% atau sebesar > 14 juta jiwa Gangguan jiwa berat (Psikosis): gejala psikosis sebesar 1,7/1000 atau sebesar > 400.000 jiwa.   Salah satu penyebab dari timbulnya gangguan mental emosional sampai akhirnya mengalami psikotik adalah karena remaja tidak mampu dalam beradaptasi pada masa transisi atau dalam menghadapi perubahan kehidupannya. Secara alamiah sebenarnya apabila tubuh baik fisiologis maupun psikologis  terpapar  oleh  suatu  stressor  atau  tekanan  atau  keadaan  yang tidakpasti tubuh akan melakukan suatu mekanisme untuk mempertahankan kondisi tubuhnya seperti semula. Bentuk dari pertahanan diri seseorang berbeda sesuai dengan mekanisme psikis yang diperlukan untuk beradaptasi dengan relitas eksternal.Defence  mekanisme  yang  positif  /konstruktif  akan  membangun  jiwa remaja menjadi pribadi yang handal dan siap menjadi generasi penerus bangsa yang dapat dibanggakan untuk keluarga, masyarakat dan negara. Kesehatan jiwa remaja merupakan hal  penting dalam menentukan kualitas bangsa. Remaja yang tumbuh dalam lingkungan kondusif dan mendukung merupakan sumber daya manusia yang dapat menjadi aset bangsa tidak ternilai.