Publication Search

79,575 articles from 739 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 729

Analytics

Russel Wijaya; Nur Rachmat

JURNAL PENELITIAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN SAINS (JPTIS) 2026 Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Semarang

Tomato (Solanum lycopersicum) is a high-value horticultural commodity in Indonesia, yet its cultivation is frequently disrupted by leaf diseases that are difficult to distinguish visually. Diseases such as Bacterial Spot, Early Blight, and Tomato Yellow Leaf Curl Virus often present overlapping visual symptoms, making early and accurate diagnosis a significant challenge for farmers. The manual identification methods currently in use are inefficient and error-prone, ultimately leading to reduced crop yield  and quality. The general objective of this study is to develop software capable of automatically classifying tomato  leaf diseases. Specifically, this research aims to implement the MobileNetV3 Small architecture based on Convolutional Neural  Network (CNN) with ImageNet pre-trained weights to classify 10 types of tomato leaf diseases. The research methodology encompasses dataset collection from Kaggle comprising 10,000 images (1,000 per class), image pre-processing through resizing to 224x224 pixels, and normalization, as well as hyperparameter optimization (optimizer, learning rate, epoch, batch size) via scheduler. Model performance is evaluated using a confusion matrix encompassing accuracy, precision, recall, and F1-score.

Daryaswanti, Putu Intan; Pendet, Ni Made Diah Pusparini; Remiasa, I Wayan

Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Wahana Usada (WUJ) 2026 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan KESDAM IX/Udayana

Background: Non-communicable diseases (NCDs) are a leading cause of morbidity and mortality worldwide and pose a significant public health challenge in Indonesia. Indonesian Army (TNI AD) personnel are at risk of developing NCDs due to operational stress, smoking habits, unhealthy dietary patterns, sleep disturbances, and insufficient physical activity outside working hours. Health education is an effective health promotion strategy to improve awareness and encourage healthy lifestyle behaviors for NCD prevention. This community service program aimed to improve the knowledge of Indonesian Army personnel regarding the prevention of non-communicable diseases through health education. Methods: The program was conducted at the 18/YKR Combat Engineer Battalion, Gianyar, Bali, in August 2024 and involved 40 Indonesian Army personnel. The intervention consisted of preparation, health education delivered through lectures and interactive discussions, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires to assess participants' knowledge before and after the educational session. Results: Before the intervention, 29 participants (72.5%) had fair knowledge and 11 (27.5%) had good knowledge regarding NCD prevention. Following the health education session, the number of participants with good knowledge increased to 14 (35.0%), while those with fair knowledge decreased to 26 (65.0%). Most participants also demonstrated improved post-test scores, indicating enhanced understanding of NCD risk factors and preventive measures. Conclusion: Health education effectively improved participants' knowledge regarding NCD prevention. Regular and sustainable educational programs in military settings are recommended to strengthen awareness, promote healthy lifestyle practices, and support the prevention of non-communicable diseases among Indonesian Army personnel.

Indasari, Susi; Lestari, Hariati; Rusliafa, Jusniar

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan global dan terus meningkat setiap tahunnya. Penyakit ini tersebar luas dan menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat infeksi. Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) merupakan salah satu strategi penting dalam upaya penanggulangan TB, khususnya pada kelompok berisiko seperti kontak serumah pasien TB, pelaksanaan program TPT di Kota Kendari masih belum optimal dan tergolong rendah dan Puskesmas Poasia merupakan puskesmas dengan jumlah kasus TB tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penerimaan Terapi Pencegahan Tuberkulosis pada kontak serumah pasien TB dengan pendekatan teori Health Belief Model (HBM) di wilayah kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari tahun 2025. Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif yang dilaksanakan pada Maret 2026. Jumlah sampel sebanyak 80 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi dan persentase setiap variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak menerima TPT yaitu sebanyak 71 responden (88,8%), sedangkan yang menerima hanya 9 responden (11,2%). Mayoritas responden memiliki persepsi kerentanan dan keseriusan yang rendah, persepsi hambatan yang tinggi, serta efikasi diri yang rendah, sedangkan persepsi manfaat menunjukkan hasil yang cukup berimbang. Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor dalam Health Belief Model berperan dalam memengaruhi penerimaan TPT. Diperlukan peningkatan edukasi dan dukungan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kesadaran serta penerimaan TPT.

Ramadhan, Aditya Galang; Hidayati , Fajrina; Perdana, Silvia Mawarti; Lesmana, Oka

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Kondisi fisik rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat meningkatkan risiko terjadinya penularan tuberkulosis paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kondisi fisik rumah dan Personal Hygiene dengan kejadian tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain case control dengan pendekatan retrospektif. Sampel penelitian berjumlah 46 responden yang terdiri dari 23 kasus dan 23 kontrol. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, pengukuran menggunakan lux meter, thermohygrometer, meteran, serta wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda metode Backward LR. analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pencahayaan rumah dengan kejadian tuberkulosis paru (p=0,039; OR=4,286; 95%CI=1,240–14,730) dan kelembaban rumah dengan kejadian tuberkulosis paru (p=0,018; OR=5,313; 95%CI=1,498–18,840). Sementara itu, luas ventilasi (p=0,429; OR=0,521), kepadatan hunian (p=0,343; OR=0,216), dan Personal Hygiene (p=0,167; OR=3,550) tidak berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa kelembaban rumah merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru (p=0,010; OR=5,312; 95%CI=1,498–18,840). penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pencahayaan dan kelembaban rumah dengan kejadian tuberkulosis paru. Kelembaban rumah merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Talang Bakung Kota Jambi Tahun 2026. Disarankan kepada masyarakat untuk meningkatkan kualitas lingkungan rumah, terutama menjaga kelembaban dan pencahayaan agar memenuhi standar kesehatan guna mencegah penularan tuberkulosis paru.

Muhammad Arif Taufik; Prema Hapsari Hidayati; Dian Fahmi Utami; Mochammad Erwin Rachman; Muh. Jabal Nur

Jurnal Sains dan Kesehatan (JUSIKA) 2026 Universitas Muhamadiyah Manado

Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disease with an increasing prevalence and a risk of causing macrovascular complications such as stroke. This study aimed to describe the characteristics of Diabetes Mellitus patients with stroke complications based on CT-scan results at RSKD Dadi Makassar in 2024–2025. This was a descriptive observational study with a retrospective design using medical record data. Samples were taken using a total sampling technique, comprising 60 patients, and analyzed univariately using the Statistical Product and Service Solutions (SPSS) version 26. The results showed that the majority of respondents were in the late elderly group (>56 years) at 66.7%, female (51.7%), and from the Makassar ethnic group (63.3%). Most respondents experienced hyperglycemia in random blood glucose (66.7%) and had uncontrolled fasting blood glucose (68.3%) and HbA1c (76.7%) levels. CT-scan results were dominated by non-specific cerebral infarction (68.3%), with ischemic stroke as the most common type (93.3%), a length of stay of 5–10 days (53.3%), and right-sided hemiparesis as the most common clinical manifestation (45.0%). It was concluded that DM patients with stroke complications were generally elderly, female, had poor glycemic control, and were dominated by ischemic stroke with non-specific cerebral infarction. Abstrak. Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik dengan prevalensi yang terus meningkat dan berisiko menimbulkan komplikasi makrovaskular berupa stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien Diabetes Melitus yang mengalami komplikasi stroke berdasarkan hasil CT-scan di RSKD Dadi Makassar tahun 2024–2025. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan desain retrospektif menggunakan data rekam medis. Sampel diambil dengan teknik total sampling sebanyak 60 pasien dan dianalisis secara univariat menggunakan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 26. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia lansia akhir (>56 tahun) sebanyak 66,7%, berjenis kelamin perempuan (51,7%), dan berasal dari Suku Makassar (63,3%). Sebagian besar responden mengalami hiperglikemia pada GDS (66,7%) serta memiliki kadar GDP (68,3%) dan HbA1c (76,7%) yang tidak terkontrol. Hasil CT-scan didominasi oleh infark serebri tidak spesifik (68,3%) dengan jenis stroke terbanyak berupa stroke iskemik (93,3%), lama rawat inap terbanyak 5–10 hari (53,3%), dan manifestasi klinis tersering berupa hemiparese dextra (45,0%). Disimpulkan bahwa pasien DM dengan komplikasi stroke umumnya berusia lanjut, berjenis kelamin perempuan, memiliki kontrol glikemik yang buruk, dan didominasi oleh stroke iskemik dengan gambaran infark serebri tidak spesifik.

Laras Eka Nur Hasanah; Fadean Stefany; Dwi Intan Pakuwita AR

Jurnal Sains dan Kesehatan (JUSIKA) 2026 Universitas Muhamadiyah Manado

This study aimed to examine the association between physical activity and nutritional status as risk factors for noncommunicable diseases among women of reproductive age. A descriptive quantitative study with a cross-sectional approach was conducted in Kranggan Village involving 35 respondents selected through purposive sampling. Data on physical activity were collected using questionnaires, while nutritional status was assessed based on Body Mass Index (BMI). The findings showed that most respondents had moderate physical activity levels (51.4%), followed by low physical activity levels (42.8%). Regarding nutritional status, the majority of respondents were classified as overweight (51.4%) and obese (28.6%). Statistical analysis demonstrated a significant relationship between physical activity and nutritional status (p = 0.003). The results indicate that inadequate physical activity is associated with increased nutritional status problems, particularly overweight conditions. Therefore, low physical activity and excessive body weight represent interconnected risk factors contributing to the development of noncommunicable diseases among women of reproductive age. This study highlights the importance of promoting regular physical activity and maintaining balanced nutritional status as preventive strategies to reduce the risk of noncommunicable illnesses.

Tappo, Liberthy Mendila; Zainuddin, Asnia; Yasnani

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Data nasional Kementerian Kesehatan RI tahun 2024 mencatat 257.271 kasus dengan 1.461 kematian, sedangkan hingga 23 Juni 2025 dilaporkan 78.646 kasus dan 346 kematian. Penggunaan larvasida sintetis dapat menimbulkan resistensi dan dampak negatif terhadap lingkungan. diperlukan alternatif larvasida yang berasal dari bahan alami, contohnya serai dapur (Cymbopogon citratus) yang diketahui mengandung senyawa aktif seperti sitronelal, geraniol, flavonoid, saponin, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak serai dapur (Cymbopogon citratus) terhadap mortalitas larva Aedes aegypti. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan post-test only control group design. Larva Aedes aegypti instar III–IV dibagi menjadi lima perlakuan yaitu ekstrak serai dapur konsentrasi 10%, 20% dan 30%, kontrol positif (Abate), serta kontrol negatif. Setiap kelompok terdiri atas empat kali pengulangan dengan 25 larva setiap pengulangan. Pengamatan mortalitas larva dilakukan pada 1 jam, 3 jam, 6 jam, dan 24 jam setelah perlakuan. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mortalitas larva meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak dan lamanya waktu paparan. Pada pengamatan 24 jam, seluruh konsentrasi ekstrak menunjukkan mortalitas sebesar 100%, sedangkan kontrol negatif sebesar 2%. Analisis statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada mortalitas larva Aedes aegypti antar kelompok perlakuan (p<0,05). Berdasarkan Hasil Penelitian, dapat disimpulkan ekstrak serai dapur (Cymbopogon citratus) efektif terhadap mortalitas larva Aedes aegypti sebagai larvasida nabati dalam pengendalian vektor DBD.

Fatarum, Syeika N. F.; Ruwiah; Meliahsari , Renni

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Konsumsi UPF dalam jumlah besar yang terjadi secara terus menerus dalam jangka waktu panjang dapat berdampak pada peningkatan risiko obesitas dan berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2, kardiovaskular, sindrom metabolik, dan kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan iklan media sosial, kebiasaan membaca label pangan, dan teman sebaya dengan konsumsi UPF pada mahasiswa gizi Universitas Halu Oleo. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan kuantitatif dan menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah mahasiswa aktif Program Studi gizi Universitas Halu Oleo. Sampel penelitian ini terdiri dari 165 mahasiswa gizi yang diambil menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan dengan pengisian kuesioner. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan 62,4% responden terpapar iklan media sosial, 69,7% responden memiiki kebiasaan membaca label pangan baik, 57% responden terpengaruh teman sebaya, dan 52,1% responden sering mengonsumsi produk UPF. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara paparan iklan media sosial (p=0,024) dan teman sebaya (p=0,013) dengan konsumsi UPF. Tidak terdapat hubungan kebiasaan membaca label pangan dengan konsumsi UPF (p=0,3397). Paparan iklan media sosial dan teman sebaya memiliki hubungan signifikan dengan konsumsi UPF. Kebiasaan membaca label pangan tidak ada hubungan dengan konsumsi UPF.

Suswianti, Dwi; Kurniyanti, Mizam Ari; Apryanto, Frengky

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Asam urat merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar asam urat dalam darah, yaitu >7,0 mg/dL pada laki-laki dan >6,0 mg/dL pada perempuan. Kondisi ini sering dialami lansia akibat penumpukan kristal urat yang dapat menimbulkan nyeri dan gangguan mobilitas. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan adalah senam ergonomik berbasis budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas inovasi senam ergonomik berbasis budaya terhadap kadar asam urat pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Pakis, Kabupaten Malang. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan two-group pretest-posttest control group design. Sampel berjumlah 20 responden yang dibagi menjadi kelompok intervensi (10 responden) dan kelompok kontrol (10 responden). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon untuk mengetahui perubahan sebelum dan sesudah intervensi pada masing-masing kelompok serta uji Mann–Whitney untuk membandingkan hasil antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan kadar asam urat yang signifikan pada kelompok intervensi (p=0,046; p<0,05), sedangkan kelompok kontrol tidak mengalami perubahan bermakna (p=0,317; p>0,05). Perbandingan kadar asam urat pascaintervensi antara kedua kelompok juga menunjukkan perbedaan yang signifikan (p=0,001; p<0,05). Dengan demikian, inovasi senam ergonomik berbasis budaya yang dilakukan sebanyak empat kali selama dua minggu terbukti efektif dalam menurunkan kadar asam urat pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Pakis, Kabupaten Malang.

Sumarni, Rantiningsih; Aryani, Atik; Eriyanti, Etty; Suwarni, Anik

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Diabetes Mellitus (DM) adalah salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat, termasuk pada kelompok usia produktif. Deteksi dini melalui skrining glukosa darah sewaktu menjadi salah satu strategi penting dalam mengidentifikasi individu berisiko sehingga dapat dilakukan pemeriksaan konfirmasi dan penatalaksanaan lebih awal. Tujuan: untuk menganalisis hubungan antara hasil skrining glukosa darah sewaktu dengan kejadian Diabetes Mellitus pada kelompok usia produktif. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 30 responden usia 18–59 tahun yang mengikuti kegiatan Posbindu PTM di Desa Mandong dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan Fisher's Exact Test dan Odds Ratio (OR) dengan tingkat kemaknaan 95% (? = 0,05). Hasil: Sebanyak 21 responden (70,0%) tidak mengalami DM dan 9 responden (30,0%) mengalami DM. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara hasil skrining glukosa darah sewaktu dengan kejadian DM (p = 0,013). Responden dengan hasil skrining tidak normal memiliki kecenderungan peluang lebih tinggi mengalami DM (OR = 17,35; 95% CI: 0,90–336,24). Kesimpulan: Hasil skrining glukosa darah sewaktu berhubungan dengan kejadian Diabetes Mellitus pada usia produktif sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai metode skrining awal untuk mendukung deteksi dini di pelayanan kesehatan primer, yang selanjutnya perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan diagnostik standar.

Fibrianti; Sajalia, Husniyati; Supini, R

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan masalah kesehatan di masyarakat. Penyakit ini banyak di derita oleh para perempuan di negara berkembang, Kanker serviks berawal dari adanya infeksi virus HPV yang terjadi karena pola perilaku hidup yang salah, penyebabnya adalah infeksi dari Human Vapiloma Virus (HPV) yang ditularkan melalui hubungan seksual dan ditemukan pada 95% kasus Kanker serviks. untuk mengetahui Hubungan Faktor Predisposisi dan Fakor Reinforcing dalam pelaksanaan Deteksi dini Kanker serviks Dengan metode IVA Test Pada Wanita Usia Subur di Desa Tembeng Putik wilayah kerja Puskesmas Wanasaba. Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasinya wanita usia subur, jumlah sampel 38 orang dengan teknik pengambilan simple random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner, dan analisis menggunakan uji Chi Square. Hasil uji statistik menunjukkan Faktor Predisposisi (tingkat pendidikan)  didapatkan nilai p-value = 0,234 (>?=0,05), factor reinforcing (dukungan suami,)didapatkan nilai p-value = 0,004 (<?=0,05), Tidak Ada hubungan antara Faktor Predisposisi (tingkat pendidikan) dengan pelaksanaan Deteksi dini Kanker serviks metode IVA Test. Ada Hubungan antara factor reinforcing (dukungan suami,) dengan pelaksanaan Deteksi dini Kanker serviks metode IVA Test.

Wahyuni, Ade Sri; Yasnani; Fithria

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Personal hygiene saat menstruasi adalah tindakan untuk memelihara kesehatan dan kebersihan pada organ kewanitaan saat menstruasi. Perawatan pada saat menstruasi diperlukan karena pada saat menstruasi pembuluh darah rahim sangat mudah terkena infeksi. Kebersihan harus selalu dijaga karena kuman mudah sekali masuk dan akan menyebabkan penyakit pada organ reproduksi. Menurut World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa sekitar 90% perempuan di Indonesia mengalami keputihan, dan 60% kasus tersebut terjadi pada kelompok remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan  personal hygiene selama menstruasi pada remaja putri di SMA Negeri 1 Kabangka Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara Tahun 2026. Penelitian ini berjenis penelitian kuantitatif dengan jumlah sampel mencapai 102 siswi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling yaitu jumlah sampel sama dengan populasi. Analisis datanya menggunakan analisis univariat dan bivariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi dan menguji adanya hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel sikap dan sumber informasi berhubungan dengan tindakan personal hygiene saat menstruasi dengan nilai p-value masing-masing sebesar 0,004 dan 0,000 (p < 0,05). Variabel pengetahuan, fasilitas sanitasi, dan petugas kesehatan tidak memiliki hubungan dengan tindakan  personal hygiene saat menstruasi dengan nilai p-value masing-masing sebesar 0,25, 0,746, dan 0,467 (p > 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini berdasarkan uji statistik Chi Square menunjukkan adanya hubungan variabel sikap dan sumber informasi dengan tindakan personal hygiene saat menstruasi serta tidak adanya hubungan antara variabel pengetahuan, fasilitas sanitasi, dan petugas kesehatan dengan tindakan personal hygiene saat menstruasi.

Ingrat, Intan Wahid; Yuniar, Nani; Salsabila, Syefira

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Pengelolaan limbah medis merupakan salah satu upaya penting dalam menjaga kesehatan lingkungan rumah sakit serta mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan penularan penyakit. Limbah medis yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi petugas kesehatan, pasien, pengunjung rumah sakit, dan masyarakat sekitar. Keberhasilan pengelolaan limbah medis dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya pengetahuan, sikap, dan tindakan petugas kesehatan sebagai pelaksana utama dalam proses pengelolaan limbah medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dan tindakan petugas kesehatan dengan upaya pengelolaan limbah medis di Rumah Sakit Aliyah II Kota Kendari Tahun 2026.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 81 petugas kesehatan yang seluruhnya dijadikan sampel dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (?=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang baik sebanyak 62 responden (76,5%), sikap negatif sebanyak 72 responden (88,9%), tindakan kurang baik sebanyak 68 responden (84,0%), dan upaya pengelolaan limbah medis kurang baik sebanyak 42 responden (51,9%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan upaya pengelolaan limbah medis (p=0,002) dan tindakan dengan upaya pengelolaan limbah medis (p=0,004). Sementara itu, sikap petugas kesehatan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan upaya pengelolaan limbah medis (p=0,059).Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan tindakan petugas kesehatan berhubungan dengan upaya pengelolaan limbah medis, sedangkan sikap petugas kesehatan tidak berhubungan dengan upaya pengelolaan limbah medis di Rumah Sakit Aliyah II Kota Kendari Tahun 2026.

Karamoi; Pratiwi, Arum Dian; Saktiansyah, La Ode Ahmad

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Low Back Pain (LBP) secara terminologi medis, merupakan gejala ketidaknyamanan yang dialami oleh seseorang akibat nyeri pada punggung bagian bawah. Kabupaten Muna Barat menempati urutan ke 11 dari 15 Kabupaten setelah kabupaten Kolaka Utara tertinggi di Sulawesi Tenggara yang menunjukan prevalensi Low Back Pain (LBP). Berdasarkan diagnosis dokter, penduduk umur ?15 tahun mengalami penyakit Low Back Pain (LBP) sebesar 2,15% dari 440 jiwa yang mengalami gangguan kesehatan.Tujuan dari peneliti ini adalah untuk mengetahui Faktor yang Berhubungan dengan Keluhan Low Back Pain pada Pekerja Pembuat Batu Bata di Kecamatan Kusambi Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional dengan jumlah sampel sebanyak 125 orang yang diambil menggunakan teknik Alokasi Propostional. Analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi variabel dan analisis bivariat menggunakan metode chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara usia dengan keluhan LBP (p-value=0,000), tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan keluhan LBP (p-value=0,276), ada hubungan antara posisi kerja dengan keluhan LBP (p-value=0,000), tidak ada hubungan antara durasi kerja dengan keluhan LBP (p-value=0,648), ada hubungan antara beban kerja dengan keluhan LBP (p-value=0,012).Kesimpulan dari penelitian ini yaitu faktor yang berhubungan dengan keluhan low back pain yaitu variabel usia, posisi kerja dan beban kerja, sedangkan varibel jenis kelamin dan durasi kerja tidak berhubungan.

Enjelita, Citra; Lisnawaty; Salsabila, Syefira

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Diabetes Melitus (DM) merupakan kondisi kronis yang ditandai dengan meningkatnya konsentrasi glukosa dalam darah. Penyakit ini dapat terjadi akibat ketidakmampuan tubuh memproduksi insulin. Kekurangan insulin, atau ketidakmampuan sel untuk meresponsnya, menyebabkan kadar glukosa darah tinggi (hiperglikemia), yang merupakan indikator klinis diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya terima, kandungan zat gizi, dan nilai indeks glikemik Cookies berbahan dasar tepung ubi jalar ungu dan rumput laut sebagai pangan alternatif bagi penderita diabetes melitus. Penelitian ini menggunakan  quasi experimental dengan rancangan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 3 kali pengulangan. yaitu P1 (60 g tepung ubi jalar ungu : 40 g tepung rumput laut), P2 (65 g : 35 g), dan P3 (70 g : 30 g). Uji organoleptik dilakukan terhadap 30 panelis tidak terlatih menggunakan metode hedonik. Analisis kandungan gizi meliputi kadar air, abu, protein, lemak, dan karbohidrat, sedangkan indeks glikemik dihitung menggunakan metode incremental area under the curve (iAUC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P3 merupakan formulasi terbaik dan paling disukai panelis pada atribut warna, rasa, tekstur, dan kerenyahan. Hasil analisis kandungan gizi Cookies per 100 gram pada perlakuan P3 diperoleh kadar air 4,73%, kadar abu 3,25%, protein 6,71%, lemak 12,80%, dan karbohidrat 61,13%. Cookies juga memiliki kadar gula total sebesar 16,11%, kadar pati 36,2%, dan available carbohydrate sebesar 55,93%. Nilai rata-rata indeks glikemik Cookies sebesar 21,5 dan termasuk kategori indeks glikemik rendah.

An’nisa, Mila Lutfiyatun; Sholihah, Enny Mar’atus; Nurdiana, Fara

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Pelaksanaan Medical Check-Up (MCU) merupakan bagian penting dalam program K3RS untuk mencegah penyakit akibat kerja dan memantau kesehatan tenaga kerja. Namun, pelaksanaan MCU di RSU Muhammadiyah Babat belum sepenuhnya sesuai dengan Permenkes Nomor 66 Tahun 2016. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi MCU dalam program K3RS berdasarkan Permenkes Nomor 66 Tahun 2016 di RSU Muhammadiyah Babat. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap tujuh informan. Analisis data dilakukan melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan MCU telah tersedia dan mengacu pada regulasi, pedoman K3, SOP, serta program kerja rumah sakit. Perencanaan MCU mencakup jadwal, sasaran, anggaran, dan jenis pemeriksaan berbasis risiko, namun belum terlaksana secara konsisten. MCU pra-kerja dan khusus telah dilaksanakan, sedangkan MCU berkala dan pasca kerja belum optimal. Implementasi MCU masih menghadapi kendala manajerial, administratif, SDM, dan individu. Pelaksanaan MCU belum sepenuhnya sesuai dengan Permenkes Nomor 66 Tahun 2016, terutama pada MCU berkala dan pasca kerja yang belum mencakup seluruh tenaga kerja, sehingga diperlukan peningkatan cakupan pemeriksaan, konsistensi pelaksanaan program, serta optimalisasi fitur notifikasi jadwal dan daftar peserta MCU pada aplikasi portal karyawan.

Selfia, Siti; Yasnani; Fithria

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Tuberkulosis  (TB)  menjadi penyebab kematian terbesar kedua setelah penyakit kardiovaskuler dan infeksi saluran pernapasan nomor satu yang paling umum di Indonesia dan dunia. Tuberkulosis (TB) adalah salah satu penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Secara global, sekitar 1,25 juta orang meninggal akibat TB pada tahun 2023. Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan penyebab terjadinya penyakit tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas wakobhalu tahun 2026.: Metodologi penelitian cross-sectional digunakan dalam bentuk studi kuantitatif. Data dianalisis dengan menggunakan uji chi-square. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang berkunjung di Puskesmas Wakobhaku. Dan sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang positif TB yang berjumlah 32 dan pasien yang negatif TB yang berjumlah 32 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Instrumen penelitian yang di gunakan yaitu lembar informan konset, lembar kuisioner, alat tulis, alat dokumentasi, dan komputer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Variabel pengetahuan memiliki nilai signifikan 0,001, variabel pekerjaan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000, variabel kebiasaan merokok memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000, variabel lingkungan rumah  memiliki nilai signifikansi sebesar 0,006 dan  variabel riwayat kontak dengan penderita memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000. Kesimpulan ada hubungan pengetahuan, pekerjaan, lingkungan rumah dan riwayat kontak dengan penderita dengan penyebab terjadinya TB, serta tidak ada hubungan kebiasaan merokok dengan terjadinya TB di area Wilayah Kerja Puskemas Wakobhalu tahun 2026.

Ivanka, Carens Sintha Iralin De; Zaynul, Farah Andrawinari Zakihanis; Govinda, Ida Ayu NSL; Mumtaza, Muhammad Katsar; Wulandari, Relda Djunieteg +2 more

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai oleh hiperglikemia akibat resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Kondisi hiperglikemia yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai komplikasi kronis, seperti neuropati diabetik, penyakit kardiovaskular, dan penyakit ginjal kronis hingga end-stage renal disease (ESRD). Komplikasi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan angka morbiditas, mortalitas, serta penurunan kualitas hidup pasien. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan manifestasi klinis dan penatalaksanaan pasien DMT2 tidak terkontrol dengan komplikasi multisistem. Dilaporkan seorang wanita berusia 52 tahun dengan riwayat DMT2 tidak terkontrol yang datang dengan keluhan lemas, mual, dan muntah. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hiperglikemia berat dengan kadar glukosa darah sewaktu 650 mg/dL, disertai gangguan fungsi ginjal, anemia, dan gangguan elektrolit. Pemeriksaan ultrasonografi abdomen menunjukkan adanya kolesistitis. Pasien didiagnosis dengan DMT2 tidak terkontrol disertai komplikasi hiperglikemia berat, neuropati diabetik, end-stage chronic kidney disease, dan kolesistitis. Penatalaksanaan dilakukan melalui pemberian terapi cairan, insulin, antibiotik, koreksi elektrolit, serta terapi suportif lainnya. Selama perawatan, kondisi klinis pasien menunjukkan perbaikan secara bertahap. Kasus ini menegaskan bahwa pengendalian glikemik yang optimal, pemantauan rutin, serta penatalaksanaan komprehensif sangat penting dalam mencegah progresivitas komplikasi kronis dan multisistem pada pasien DMT2.

Tetelepta, Josi Petrosina; Mulyanti; Ester

Jurnal Kesehatan Tropis Indonesia 2026 PT. LARPA JAYA PUBLISHER

Stunting dan malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang banyak ditemukan pada wilayah endemis, termasuk Kabupaten Nabire, Papua. Kondisi lingkungan tempat tinggal yang kurang memadai diduga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko infeksi malaria dan gangguan pertumbuhan pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor lingkungan rumah dengan kejadian stunting pada balita yang memiliki riwayat malaria di wilayah kerja Puskesmas Kimi. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case-control. Kelompok kasus terdiri atas balita stunting yang memiliki riwayat malaria dalam satu tahun terakhir, sedangkan kelompok kontrol merupakan balita dengan status gizi normal dan tanpa riwayat malaria. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi kondisi lingkungan rumah, serta penelusuran data kesehatan. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa karakteristik lingkungan fisik rumah berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting pada balita yang memiliki riwayat malaria (p<0,05). Faktor yang terbukti berasosiasi meliputi tipe bangunan rumah, jenis lantai, penggunaan kawat kasa pada ventilasi, kondisi lingkungan di dalam rumah, serta kondisi lingkungan sekitar rumah yang mendukung perkembangbiakan nyamuk. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas lingkungan tempat tinggal memiliki peran penting dalam meningkatkan paparan terhadap malaria yang selanjutnya dapat memengaruhi status kesehatan dan pertumbuhan anak. Dapat disimpulkan bahwa lingkungan rumah yang tidak memenuhi standar kesehatan berpotensi meningkatkan risiko stunting melalui peningkatan kejadian malaria dan penyakit infeksi lainnya. Oleh karena itu, upaya penanggulangan stunting di daerah endemis malaria perlu diintegrasikan dengan perbaikan kualitas perumahan, peningkatan sanitasi lingkungan, pengendalian vektor, serta edukasi kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Isjworowati, Rr. Sri Isjworowati; Isjworowati, Rr. Sri; Fatma M, Nida; Delima, Rainy; Gaura JW, Raz

Perigel: Jurnal Penyuluhan Masyarakat Indonesia 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Non-Communicable Diseases (NCDs) such as Diabetes Mellitus and Gout pose a serious threat to the health of the elderly due to their often asymptomatic nature. Cost barriers hinder the elderly community from accessing laboratory services. This community service activity aims to improve health standards and early detection of NCDs through monitoring blood glucose and uric acid levels in the Generasi Kaleb community of the JKI Injil Kerajaan Church, Semarang. The Participatory Health Screening and Education method used includes health education, screening using the Point of Care Testing (POCT) tool, and personal consultation on the results. The service subjects were 50 elderly respondents. The examination results showed a prevalence of abnormal random blood glucose (GDS) of 8%, 32%, had high uric acid levels with a maximum value of 10.3 mg/dL. This activity successfully transformed the elderly's awareness from subjective perception to awareness based on objective data, and encouraged community independence in managing a healthy lifestyle to prevent further NCD complications. .