Publication Search

71,387 articles from 644 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 44

Analytics

Lidia Selfitri; Eva Inriani; Prasetiawati Prasetiawati

Pengharapan : Jurnal Pendidikan dan Pemuridan Kristen dan Katolik 2026 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

The Tandak Timang tradition in Batu Badinding Village, Central Katingan District, plays an important role in fostering the faith of children aged 1-5 years, which is carried out by parents. From an early age, children are introduced to faith values through Tandak Timang verses that contain advice, prayers, and praise to God. This study aims to (1) describe the role of parents in fostering the faith of children aged 1-5 years through the Tandak Timang tradition in Batu Badinding Village, Central Katingan District; and (2) describe the values implemented by parents for children aged 1-5 years in Batu Badinding Village, Central Katingan District. The research used a qualitative descriptive method with data collection techniques including observation, interviews, and documentation.The results show that Tandak Timang plays a significant role in shaping children's spiritual foundation. Parents' roles are manifested through daily practices, such as singing, storytelling, and rocking children while chanting verses in the Dayak Ngaju language. This practice not only builds strong emotional bonds but also serves as an effective medium for instilling noble values. These values include cultural values, moral and ethical values, ancestral values, and spiritual values that teach children about the importance of prayer and hope in God.The conclusion of this study is that parents act not only as cultural inheritors but also as educators, role models, and facilitators. They utilize intimate moments when putting children to sleep—through singing, storytelling, and rocking—to instill faith values. The strong physical and emotional interaction builds a solid bond, making it easier for children to accept and internalize a deep understanding of the teachings conveyed. The Tandak Timang tradition is rich in noble values that serve as the foundation for faith formation. These values include cultural values, moral and ethical values, ancestral values, and spiritual values. The suggestions put forward are that parents should further understand the meaning of Tandak Timang for fostering children's faith from an early age, and pass on and preserve the character of children through this Central Kalimantan Dayak culture. For subsequent researchers conducting similar studies, it is recommended to develop the research objectives and focus more specifically on the research topics.

Senda, Siprianus Soleman; Undad, Rikardus; Ergon, Isfilus; Sipho Sewa Uma, Pietro Yustiniano; Kuki, Irene Sunirma +3 more

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2026 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Artikel ini bertolak dari kenyataan bahwa banyak umat telah mendengar sabda Allah dalam Liturgi dan pengajaran Gereja, namun belum sepenuhnya menghidupinya dalam kehidupan sehari-hari. Situasi ini menegaskan pentingnya katekese sebagai proses pembinaan iman yang berkelanjutan, yang tidak hanya menekankan aspek pengetahuan, tetapi juga penghayatan dan perwujutan iman dalam tindakan nyata. Tulisan ini bertujuan merefleksikan katekese sebagai jalan pembinaan iman umat yang menuntun dari sabda menuju kehidupan. Fokus kajian artikel ini adalah peran katekese dalam membantu umat dewasa mengintegrasikan sabda Allah kedalam realitas hidup sehari-hari, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun kehidupan sosial. Metode yang digunakan adalah refleksi teologis pastoral dengan pendekatan kualitatif melalui studi literatur gereja dan pengalaman hidup umat. Pendekatan ini menekankan ketertarikan antara pewartaan sabda, pendampingan iman, serta partisiasi aktif umat dalam proses pembinaan. Hasil refleksi menunjukkan bahwa katekese yang kontekstual, dialogis, dan berpusat pada sabda Allah, mampu menumbuhkan iman yang lebih dewasa, sadar, dan tanggung jawab. Melalui katekese, umat tidak hanya memahami ajran iman secara intelektual, tetapi juga didorong untuk menghidupinya dalam sikap kasih, pelayanan, dan kesaksian di tengah masyarakat. Pembinaan iman yang berkelanjutan menjadi sarana penting untuk membentuk umat yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman dan tetap berakar pada nilai-nilai injil. Dengan demikian, katekese sebagai jalan pembinaan iman memiliki peran strategis dalam menjembatani sabda Allah dengan kehidupan konkrit umat. Pembaharuan metode dan pendekatan katekese yang relevan dengan konteks umat masa kini sangat diperlukan agar proses dari sabda menuju kehidupan dapat berlangsung secara nyata, mendalam, dan berkelanjutan dalam kehidupan Gereja. Kata kunci: katekese, sabda Allah, pembinaan iman, umat dewasa, kehidupan kristen

Hartati, Ineke Juni; Efvah, Efvah

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Pembinaan Rohani itu bisa dipakai dan diterapkan dalam Kelompok Sel. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini menggunakan jenis data primer dan sekunder. Data primer dilakukan dengan wawancara dan observasi. Data sekunder dilakukan dengan studi dokumentasi. Narasumber penelitian berjumlah 20 orang dengan rentang usia 29 tahun sampai dengan 65 tahun dalam Kelompok Sel. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembinaan rohani di kelompok sel telah membantu anggota untuk bertumbuh secara rohani dan menjaga stamina roh anggota. Selanjutnya, pembinaan rohani berdasarkan Kitab Kisah Para Rasul 4 : 23-31 dalam Kelompok Sel selanjutnya memunculkan nilai-nilai yang diajarkan dalam Kisah Para Rasul 4:23-31 sangat relevan untuk diterapkan dalam kelompok sel. Melalui kesatuan dalam doa, keberanian untuk bersaksi, mengandalkan Tuhan dalam setiap tantangan, berserah sepenuhnya kepada Tuhan, saling menguatkan, dan memiliki mental pemenang, kelompok sel menjadi tempat di mana setiap anggota dapat bertumbuh dalam iman, mengalami kuasa Tuhan, dan siap diutus untuk memberitakan Firman Tuhan kepada dunia. Sementara itu, pembinaan rohani dalam kelompok sel memberikan pengaruh signifikan terhadap keimanan dan tindakan anggota. Selain mendalami Firman Tuhan, kelompok sel mendorong penerapan ajaran dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hubungan antar sesama. Anggota diajarkan untuk mengampuni, mengasihi, dan menjaga hati, serta terbuka dalam memperbaiki hubungan yang rusak.

Nelvi Datu Rombe

Damai : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Filsafat 2026 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Considering the importance of the next generation in the church, children must be empowered to be better. Therefore, this research can be a work that provides education about the influence of technology on Sunday school children at the Imanuel Batubara' Ra'Bung church which can be used as an instrument to help them in developing better thinking patterns. The research method used is a qualitative research method with a descriptive approach to describe the reality of the reality that occurs in the field. The qualitative method is applied through library research and field analysis. The library study is applied by finding supporting theories that are relevant to the research. Furthermore, a descriptive approach is applied through interview techniques and field analysis. Interviews were conducted by the author through field research and social analysis. The theories applied by the author are theories about counseling, theories about the church and theories about social assistance. The results of this study are that Sunday school teachers and child care providers must work together to help Sunday school children know God well and also be able to lead themselves in a better direction.

Adinuhgra, Silvester Adinuhgra

Perigel: Jurnal Penyuluhan Masyarakat Indonesia 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

This Community Service activity aims to foster the spiritual life of NTT Migrant Communities on Oil Palm Plantations. The activities include weekly faith formation and year-end recollections. Through these weekly faith formation activities, NTT migrants receive regular spiritual care and further strengthen their faith amidst the harsh challenges of the working world. Furthermore, through the year-end recollections, NTT Catholics gain valuable experience through the materials provided by competent speakers and the series of activities presented. These activities foster a spirit of togetherness and solidarity, and a deeper understanding of the richness and meaning of the Church's sacraments.

Haycal Saddat F.; Iman Santoso

Jurnal Hasil Kegiatan Bersama Masyarakat 2025 Asosiasi Riset Ekonomi dan Akuntansi Indonesia

The 2025 Pelita Warna Program is a form of participatory-based community service implemented at the Class II Children's Special Development Institution (LPKA) in Jakarta. This activity aims to design and implement relevant development programs for foster children using a contextual, psychosocial, and vocational skills approach. The main problems behind this activity include minimal access to development that suits the children's needs, limited infrastructure, and psychological challenges faced by foster children. The implementation method begins with observation, needs assessment, coordination with LPKA and partners, program development, and implementation and evaluation. The programs implemented include barbershop training, creative literacy, psychological assistance, and ready-to-work training. Evaluation is carried out formatively and summatively through qualitative and descriptive approaches, using indicators of involvement, attitude change, skill improvement, and foster children's work results. The results of the activity show a significant increase in the foster children's self-confidence, self-awareness, technical skills, and motivation to live independently. This program is considered successful in creating a safe and supportive space that encourages positive transformation among participants. In the future, this model has the potential to be replicated in other institutions as a form of humanistic and sustainable development

Soumilena, Selfiana

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kode etik guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan keteladanan teologis dalam praktik pendidikan di sekolah menengah. Guru PAK tidak hanya dipandang sebagai penyampai pengetahuan kognitif, tetapi juga sebagai teladan hidup yang menghadirkan nilai-nilai Kristiani melalui sikap, perkataan, dan tindakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka terhadap berbagai literatur terkini yang membahas etika profesi guru, teologi pendidikan, serta praktik pendidikan agama Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman guru PAK terhadap kode etik masih bervariasi, mulai dari yang melihatnya sekadar aturan administratif hingga yang menafsirkannya sebagai panggilan iman dan tanggung jawab moral. Keteladanan teologis terbukti menjadi aspek penting dalam implementasi kode etik karena guru PAK dituntut untuk menunjukkan konsistensi antara ajaran iman dan perilaku nyata. Implementasi kode etik dalam praktik pendidikan terlihat dalam pengajaran, relasi interpersonal, dan kerja sama kelembagaan, meski menghadapi tantangan etis seperti dilema nilai, tekanan eksternal, serta pengaruh media digital. Temuan juga menegaskan bahwa kode etik dan keteladanan teologis guru PAK berperan signifikan dalam pendidikan karakter siswa, membentuk integritas, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Kesimpulannya, integrasi antara kode etik profesional dan keteladanan teologis memungkinkan guru PAK menjadi agen transformasi moral dan spiritual yang relevan di tengah kompleksitas pendidikan modern. Penelitian ini menekankan perlunya pembinaan berkelanjutan bagi guru PAK agar mampu menghidupi kode etik dan menghadirkan teladan Kristiani dalam proses pendidikan.

Adinuhgra, Silvester; Sinaga, Louis Fingky Alexander; Ngarani, Nullya

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2025 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Penelitian ini mengkaji pengalaman umat Stasi Ibu Teresa Sei Hanyu dalam membangun Gereja Sinodal, sebuah model gereja yang menekankan partisipasi aktif dan kolaborasi seluruh umat beriman. Melalui wawancara mendalam dan observasi partisipan selama tiga minggu, studi ini mengungkap bagaimana prinsip-prinsip sinodalitas diterapkan di tingkat akar rumput. Temuan utama menunjukkan bahwa Stasi Ibu Teresa telah mengimplementasikan berbagai inisiatif untuk mewujudkan Gereja Sinodal, termasuk dialog antar umat, pemberdayaan kelompok kategorial, dan peningkatan partisipasi dalam liturgi serta pelayanan sosial. Meskipun menghadapi tantangan seperti resistensi terhadap perubahan dan kesenjangan generasi, stasi ini berhasil menciptakan ruang dialog yang memungkinkan suara-suara beragam untuk didengar dan dihargai. Dampak penerapan prinsip Gereja Sinodal terlihat dalam peningkatan keterlibatan umat dalam pengambilan keputusan gereja dan penguatan relasi sosial antar umat. Kolaborasi antara Stasi Ibu Teresa dengan Paroki induk juga mengalami peningkatan, terutama dalam perencanaan pastoral dan pelaksanaan program pembinaan iman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi menuju model gereja yang lebih partisipatif dan inklusif membutuhkan komitmen dan keterlibatan aktif dari seluruh umat. Stasi Ibu Teresa mendemonstrasikan bahwa prinsip-prinsip sinodalitas dapat diterapkan secara konkret di tingkat lokal, memberikan kontribusi pada visi Gereja Katolik universal yang lebih inklusif dan responsif.

Ulan Dari, Liska Kristiani

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2025 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Krisis ekologis di Kalimantan Barat, seperti banjir tahunan, deforestasi, dan pencemaran sungai, menuntut keterlibatan berbagai pihak, termasuk mahasiswa Katolik. Gereja Katolik melalui ajaran ekologi integral menegaskan bahwa tanggung jawab ekologis adalah bagian dari iman. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan, kesadaran, gaya hidup, dan refleksi iman mahasiswa Katolik terhadap isu lingkungan. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, data dikumpulkan dari 34 responden melalui angket daring dan dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki kesadaran ekologis awal dan bersedia terlibat dalam aksi lingkungan, namun belum sepenuhnya konsisten dalam praktik gaya hidup ramah lingkungan. Hanya sebagian kecil yang menerapkan kebiasaan konkret seperti membawa tempat makan sendiri. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kesadaran dan tindakan, serta perlunya strategi pembinaan iman yang mengintegrasikan spiritualitas dan praktik ekologis. Penelitian ini menjadi dasar awal untuk pengembangan program ekopastoral yang kontekstual di lingkungan kampus dan komunitas kategorial.

Aprilia, Stella

Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 2025 Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya

Penelitian ini mengkaji integrasi nilai-nilai budaya Huma Betang masyarakat Dayak Kalimantan Tengah sebagai fondasi spiritualitas ekologis bagi kaum muda Katolik. Melalui pendekatan diskursus teologis-kultural, studi ini mengeksplorasi bagaimana nilai belom bahadat (hidup bersama secara harmonis), handep (gotong royong), dan filosofi huma betang dapat diintegrasikan dengan prinsip ekologi integral Laudato Si'. Temuan menunjukkan nilai budaya lokal menjadi jembatan efektif antara iman Katolik dan identitas kulturan, menghasilkan spiritualitas ekologis kontekstual yang relevan. Strategi integrasi mencakup: transformasi paradigma iman dari antroposentris ke ekosentris, rekonstruksi pembinaan pastoral berbasis kearifan lokal, dan penguatan komunitas kaum muda sebagai agen perubahan ekologis. Penelitian berkontribusi pada pengembangan teologi kontekstual Indonesia yang mengangkat kearifan Dayak sebagai medium pewartaan iman sekaligus advokasi pelestarian lingkungan, menawarkan model inkulturasi yang responsif terhadap krisis ekologis kontemporer.

Telaumbanua, Hartati; Telaumbanua, Elianus; Windarti, Maria Titik

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini menganalisis peran guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam mengimplementasikan Amanat Agung berdasarkan Matius 28:19–20, serta implikasinya terhadap pertumbuhan iman peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif di SD Kristen Pelita Bangsa Bandung dengan observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAK memiliki tiga peran utama, yaitu sebagai penginjil, pelatih, dan pengajar. Ketiga peran ini berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan iman peserta didik melalui penginjilan, pembinaan rohani, dan pengajaran firman Tuhan. Tantangan yang muncul meliputi kurangnya dukungan keluarga, pengaruh teknologi digital, dan dangkalnya pemahaman rohani siswa. Penelitian ini menegaskan urgensi guru PAK sebagai agen Amanat Agung di sekolah.

Ivan Ivan; Rannu Sanderan

Damai : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Filsafat 2025 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

The digital era has brought profound transformations in religious life, creating both opportunities and challenges for the younger generation of Christians in maintaining their faith. The Toraja Church Youth Fellowship (PPGT) of the Buntu Masakke Congregation is one such community struggling to maintain the steadfastness of its youth's faith amidst the tide of globalization, the temptations of materialism, worldly positions, and the increasingly prevalent dynamics of interfaith romance. This reality drives the need for a faith training strategy that is relevant, contextual, and utilizes the potential of digital technology wisely. This study aims to implement an effective faith training strategy for PPGT through the use of digital media to produce church youth who not only unleash strength in faith, but also grow spiritually and are able to serve in creative and impactful ways in the modern era. This study used a four-month practicum method involving 22 active participants. Three training modules were implemented in stages: (1) Rooted in God's Word in the Digital Age, which encourages the use of Bible applications and digital devotionals; (2) Growing in Christ's Character Amidst Worldly Temptations, which emphasizes the values of integrity, faithfulness, and holiness; and (3) Serving with Creativity and Relevance in the Digital Age, which invites young people to produce digital content with spiritual value. The results of the study showed significant success, with 95% achieving “rootedness,” 80% achieving “growth,” and 86% achieving “serving.” In fact, 63.6% of participants experienced spiritual transformation and are now active as digital ministry drivers. These findings confirm that digital media, when utilized strategically and in harmony with Christian values, can be an effective tool in fostering the faith of the younger generation. Therefore, the church needs to develop a sustainable and contextual digital training model to strengthen the role of young people in current and future ministry.

Suy, Ina Naomi; Mujiono, John Gershom; Setiawan, Yusak Agus

Jurnal Silih Asah 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peranan guru menurut perspektif Alkitab, khususnya Amsal 23:19–29, dalam mengatasi kenakalan peserta didik di SMP Bhakti Insani Bogor. Fenomena kenakalan remaja di sekolah menjadi tantangan serius yang memerlukan pendekatan holistik, baik dari aspek pendidikan formal maupun nilai-nilai iman. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan guru dalam perspektif Amsal mencakup tiga dimensi utama. Pertama, guru berperan sebagai pengarah jalan yang benar, yakni memberikan bimbingan moral, spiritual, dan sosial agar peserta didik menghindari perilaku yang merugikan diri dan lingkungan. Kedua, guru berperan sebagai pendidik dengan dedikasi, yang diwujudkan melalui perhatian, pengajaran yang membangun karakter, dan keteladanan hidup. Ketiga, guru berperan sebagai penasihat yang mendorong peserta didik menghindari pertengkaran, melatih pengendalian diri, serta membangun relasi yang sehat dengan sesama. Temuan ini menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Amsal 23:19–29 relevan untuk diterapkan dalam konteks pendidikan modern, khususnya dalam pembinaan perilaku siswa. Dengan demikian, penerapan prinsip-prinsip biblis dalam peranan guru dapat menjadi strategi efektif dalam mencegah dan mengatasi kenakalan peserta didik, serta membentuk karakter yang takut akan Tuhan, bertanggung jawab, dan mampu hidup harmonis di tengah masyarakat.

Din Oloan Sihotang; Ray Andika Perangin-angin; Ermina Waruwu

As a substitute for parents in school, the role of Catholic Religious Education (PAK) teachers is crucial in guiding and nurturing students to avoid behaviors that may lead them towards inappropriate social interactions. This research is significant to understand the role of Catholic Religious Education (PAK) teachers in shaping the faith of Catholic students at SD Negeri 045957 Suka, Kabupaten Karo. The research methodology employed is qualitative, involving observations, interviews, and document analysis. Data was collected through observing PAK teachers' activities, interviewing teachers, the school principal, other subject teachers, and students, as well as analyzing documents related to the Catholic religious curriculum. The research was conducted at SD Negeri 045957 Suka in the sixth grade over a period of three months. The findings indicate that the creative and in-depth teaching methods of PAK teachers are effective in strengthening students' faith through prayer, Bible teachings, and active participation in church worship. The results underscore the need for enhanced teacher training in deep teaching approaches and the integration of Catholic values into daily school activity.

Andreas Jimmy; Bernard Antonius Rahawarin; Sandi Nugroho

This article highlights the important role of catechism in developing the faith of young Catholics in the modern era. This study uses a theological analytical discourse methodology to analyze the role of catechism as a medium for building faith. Catechesis is a means used by the Church to communicate the teachings of faith to the people. Through catechesis, the Church can provide effective accompaniment of faith to young people. This study focuses on the problems faced by young people today. They are the next generation of the Church who need special attention because they are very vulnerable to being influenced by the fast and swift currents of modernity. Therefore, an effective assistance effort is needed for them. The research findings show that young people, who are in a period of searching for identity, tend to get bored easily and are quickly satisfied. In this context, catechesis as a form of faith formation is an effective choice and responsive to the lifestyle of today's youth. Through catechesis, young people can gain a deeper understanding of the teachings of the faith, strengthen their relationship with God and develop a strong Christian identity. Digital catechesis, which combines technology with messages of faith, can be a relevant and attractive medium for young people. In conclusion, digital catechesis has a significant role in developing the faith of young Christians. In facing the challenges of modern times, the Church needs to use catechesis as an effective strategy to assist young people in strengthening their faith. By utilizing technology and adapting the right content, digital catechism can be an effective tool in forming a young generation who are firm in their faith and ready to face the changing times.    

Andreas Jimmy; Bernard Antonius Rahawarin; Sandi Nugroho

This article highlights the important role of catechism in developing the faith of young Catholics in the modern era. This study uses a theological analytical discourse methodology to analyze the role of catechism as a medium for building faith. Catechesis is a means used by the Church to communicate the teachings of faith to the people. Through catechesis, the Church can provide effective accompaniment of faith to young people. This study focuses on the problems faced by young people today. They are the next generation of the Church who need special attention because they are very vulnerable to being influenced by the fast and swift currents of modernity. Therefore, an effective assistance effort is needed for them. The research findings show that young people, who are in a period of searching for identity, tend to get bored easily and are quickly satisfied. In this context, catechesis as a form of faith formation is an effective choice and responsive to the lifestyle of today's youth. Through catechesis, young people can gain a deeper understanding of the teachings of the faith, strengthen their relationship with God and develop a strong Christian identity. Digital catechesis, which combines technology with messages of faith, can be a relevant and attractive medium for young people. In conclusion, digital catechesis has a significant role in developing the faith of young Christians. In facing the challenges of modern times, the Church needs to use catechesis as an effective strategy to assist young people in strengthening their faith. By utilizing technology and adapting the right content, digital catechism can be an effective tool in forming a young generation who are firm in their faith and ready to face the changing times.    

Din Oloan Sihotang; Ray Andika Perangin-angin; Ermina Waruwu

As a substitute for parents in school, the role of Catholic Religious Education (PAK) teachers is crucial in guiding and nurturing students to avoid behaviors that may lead them towards inappropriate social interactions. This research is significant to understand the role of Catholic Religious Education (PAK) teachers in shaping the faith of Catholic students at SD Negeri 045957 Suka, Kabupaten Karo. The research methodology employed is qualitative, involving observations, interviews, and document analysis. Data was collected through observing PAK teachers' activities, interviewing teachers, the school principal, other subject teachers, and students, as well as analyzing documents related to the Catholic religious curriculum. The research was conducted at SD Negeri 045957 Suka in the sixth grade over a period of three months. The findings indicate that the creative and in-depth teaching methods of PAK teachers are effective in strengthening students' faith through prayer, Bible teachings, and active participation in church worship. The results underscore the need for enhanced teacher training in deep teaching approaches and the integration of Catholic values into daily school activity.

Febi Finensya Tambunan; Jelita Marsyah Sinaga; Mickael Ria Elisabet Bancin

Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik 2025 Asosiasi Riset Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This paper investigates various forms of church training for children, highlighting the central role of the family as the primary foundation. Based on a theological interpretation of Job 5:18 and an understanding of the family as a "mini church," this article explores how the family functions as the primary agent in instilling Christian values ​​through education, character education, faith and moral cultivation, and parental role models. In addition, this paper identifies the unique characteristics of children in terms of nature, needs, physical, mental, moral, psycho-social, and faith development that need to be considered in designing effective training strategies. Furthermore, this article outlines the main materials of child training and various implementation strategies that can be applied by churches and families, including increasing Sunday school services, age grouping, dexterity training, utilization of literature, emphasizing God's love and calling, and teaching principles from Proverbs 22:6. This study emphasizes the importance of a deep understanding of children and the development of empathy in the effort to foster the next generation of church members who are faithful and have Christian character.

Sugiyana Sugiyana; Anselmus Joko Prayitno; Nerita Setyaningtyas

Jurnal Hasil Kegiatan Bersama Masyarakat 2025 Asosiasi Riset Ekonomi dan Akuntansi Indonesia

This community service program aimed to enhance the theological competence of novice catechists and community guides at Santo Krisologus BSB Parish Semarang, focusing on understanding and articulating Catholic Fundamental Beliefs, particularly the Credo. Based on observations from January-August 2024, a gap was identified between high enthusiasm for service and the competency readiness of novice faith proclaimers. The program employed an integrative methodological approach combining interactive lectures, question-and-answer sessions, and participatory observation, accompanied by multi-stage evaluation. Results showed significant improvements in participants' doctrinal understanding and pedagogical abilities, reflected in the quality of theological discussions and the formation of sustainable learning communities. The main challenge identified was the complexity of articulating Trinitarian dogma in contemporary pastoral contexts. This program produced a replicable catechist formation model while affirming the importance of an integrative approach in faith proclaimer development.

Benaja, Semuel; Suharto, Daniel; Lontoh, Julien

Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi 2025 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini meneliti peran pemuridan gereja dalam mendorong pertumbuhan dan kedewasaan rohani jemaat, dengan menggunakan Gereja Gerakan Pentakosta Immanuel Bogor sebagai studi kasus. Gereja dipanggil untuk berfungsi sebagai sekolah rohani, memperlengkapi jemaat untuk menerapkan iman mereka dalam kehidupan sehari-hari dan bertumbuh dalam karakter yang selaras dengan ajaran Kristen. Meskipun telah melakukan ibadah rutin dan berbagai kegiatan pastoral, jemaat sering kali tidak mengalami pertumbuhan rohani yang signifikan, yang disebabkan oleh kurangnya fokus pada program pemuridan yang terstruktur.Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif yang didasarkan pada prinsip-prinsip alkitabiah, penelitian ini mengungkapkan korelasi yang signifikan antara upaya pemuridan dan pertumbuhan rohani jemaat. Temuan-temuan menyoroti bahwa materi pemuridan yang sistematis dan relevan secara kontekstual secara efektif meningkatkan pertumbuhan rohani. Lebih lanjut, Efesus 4:11-16 menggarisbawahi pentingnya memperlengkapi jemaat untuk pelayanan, mencapai kesatuan dalam iman, dan menjadi dewasa di dalam Kristus.Studi ini menekankan perlunya pemuridan strategis yang disesuaikan dengan kebutuhan jemaat, yang mencakup anak-anak, remaja, wanita, dan orang dewasa. Penelitian ini menyerukan pergeseran prioritas gereja dari infrastruktur fisik ke pendidikan rohani para anggota. Selain memberikan wawasan yang berharga, penelitian lebih lanjut direkomendasikan untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan rohani dalam konteks gereja yang berbeda, untuk memastikan keberlanjutan dampak pemuridan.