Publication Search

71,387 articles from 644 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-20 of 198

Analytics

Masrur; Dahlia Yusuf; Lilis Nurhotimah; Maulida Romadhon; Ruhaya mustafar

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik pembelajaran tafsir Al-Qur'an menggunakan bahasa Bali sebagai media instruksional di Desa Pegayaman, Buleleng. Di tengah arus globalisasi yang mengancam eksistensi bahasa daerah, masyarakat Pegayaman menunjukkan resiliensi budaya melalui integrasi nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal Bali. Melalui studi kasus pada kegiatan pengabdian masyarakat di Masjid Safinatussalam pada 04 April 2026, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana Ustadz Zihni Hasan mentransformasikan pemahaman Surah Al-Baqarah kepada jamaah remaja putri dan ibu-ibu melalui medium bahasa Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnopedagogi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan strategi "pribumisasi" Islam yang memperkuat identitas "Nyama Selam"( penduduk islam yang telah lama menetap dan mengadopsi budaya bali dalam kehidupan sehari-hari). Penggunaan bahasa ibu terbukti efektif menurunkan hambatan kognitif dan emosional dalam memahami teks suci, sekaligus berfungsi sebagai sarana konservasi bahasa daerah. Temuan ini menegaskan pentingnya pendidikan agama Islam berbasis budaya sebagai model moderasi beragama di Indonesia.

OKSAVINA, MONICA BELINDA

Notary Law Research 2026 Program Studi Kenotariatan Program Magister Fakultas Hukum UNTAG Semarang

Perceraian dalam masyarakat adat Batak Toba merupakan suatu fenomena hukum yang tidak dapat dilepaskan dari sistem kekerabatan dan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat. Meskipun perceraian pada dasarnya dihindari, dalam praktiknya perceraian tetap dimungkinkan melalui mekanisme adat yang menitikberatkan pada musyawarah dan kesepakatan keluarga besar. Permasalahan muncul ketika perceraian yang dilakukan secara adat tersebut dihadapkan pada ketentuan hukum positif di Indonesia, khususnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mensyaratkan perceraian harus dilakukan melalui putusan pengadilan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme perceraian menurut adat Batak Toba serta mengkaji keabsahannya ditinjau dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, serta menggunakan data sekunder berupa bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme perceraian adat Batak Toba dilakukan melalui tahapan musyawarah keluarga dengan melibatkan unsur dalihan na tolu, dan memiliki kekuatan mengikat secara sosial dalam masyarakat adat. Namun, secara yuridis formal, perceraian tersebut tidak memiliki keabsahan hukum apabila tidak dilakukan melalui putusan pengadilan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Oleh karena itu, perceraian adat hanya sah secara sosiologis, tetapi belum sah secara hukum negara. Diperlukan harmonisasi antara hukum adat dan hukum nasional agar tercipta kepastian hukum tanpa mengabaikan nilai-nilai kearifan lokal.

Simanjuntak, Ayub; Kurniawan, Martha Mulyani

Jurnal Silih Asah 2026 LPPM - STT Kadesi Bogor

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi strategi manajemen kesiswaan berbasis nilai Kristiani serta kontribusinya terhadap pembentukan karakter peserta didik dalam lingkungan pendidikan multikultural di SDS Unity Primary School. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada meningkatnya kompleksitas keberagaman di lingkungan sekolah yang menuntut adanya pengelolaan peserta didik yang tidak hanya berorientasi administratif, tetapi juga mampu membangun sikap toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan karakter yang kuat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara, dan analisis dokumentasi sekolah, kemudian dianalisis menggunakan kerangka SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen kesiswaan di SDS Unity Primary School diimplementasikan melalui integrasi nilai-nilai Kristiani, seperti kasih, integritas, tanggung jawab, kerendahan hati, dan pelayanan ke dalam berbagai kebijakan dan program kesiswaan. Keberagaman peserta didik yang terdiri atas berbagai agama dan etnis dikelola melalui pendekatan inklusif yang mendorong interaksi lintas budaya dan lintas agama. Analisis SWOT menunjukkan bahwa identitas spiritual sekolah, program pembinaan rohani, kegiatan ekstrakurikuler, serta dukungan orang tua menjadi kekuatan utama dalam pembentukan karakter peserta didik. Di sisi lain, keterbatasan pembina rohani dan tantangan sekularisasi menjadi faktor yang perlu diantisipasi. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa harmonisasi program kerohanian, ekstrakurikuler, dan program anti-perundungan berbasis pendekatan restoratif berkontribusi terhadap terciptanya iklim sekolah yang aman, toleran, dan harmonis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi manajemen kesiswaan berbasis nilai Kristiani efektif mendukung pembentukan karakter peserta didik serta dapat menjadi model pengelolaan pendidikan multikultural yang inklusif dan berorientasi pada pengembangan karakter secara holistik.

Azzimatul Hikmah; Sihab, Wahyu

Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Budaya 2026 Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

This study is motivated by the increasing complexity of global culture, which demands a value system capable of providing direction and meaning in human life. In this context, Islam is viewed as having the potential to serve as a global value system through a cultural concept grounded in revelatory values. This study aims to analyze the concept of culture from an Islamic perspective as a global value system by examining the thought of Ali Ahmad Madkur. The method used is a qualitative approach based on a Systematic Literature Review (SLR), systematically and critically examining various relevant scientific literature. The results of the study indicate that Islamic culture in Madkur’s thought is built upon two main dimensions: the normative dimension, which is derived from the Qur’an and Sunnah, and the practical dimension as its actualization in social life. Although this approach has strengths in maintaining the integrity of values, it still faces challenges in responding to the complex, dynamic, and hybrid nature of global cultural dynamics. Therefore, a more integrative approach is needed to ensure that Islamic cultural values remain relevant and operational in a global context. This study has implications for strengthening more contextual studies of Islamic culture and developing Islamic education that is adaptive to the changing times.

Ahmad Muhammad Mustain Nasoha; Retna Khoiriyah; Retna Khoiriyah; Maulida Akmasa Moza Hidayat; Alfi Farras Najwa Sabiel +1 more

GARUDA : Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Filsafat 2026 International Forum of Researchers and Lecturers

This study aims to analyze the process of internalizing legal values in the formation of a culture of law-abidingness by emphasizing the perspective of civic responsibility and the Islamic Sociological Jurisprudence Theory approach. The main problem studied is how legal values are not only understood normatively, but also internalized in the individual and collective consciousness of society, thus giving rise to sustainable law-abiding behavior. The research method used is a normative juridical approach with strengthening conceptual and sociological analysis of legal dynamics in society. The results show that the internalization of legal values is a multidimensional process involving cognitive, affective, and spiritual aspects, which are influenced by education, the social environment, role models, and the consistency of law enforcement. In the context of civic responsibility, a culture of law-abidingness is not only formal compliance with regulations, but also reflects moral awareness and active participation of citizens in maintaining social order. Meanwhile, Islamic Sociological Jurisprudence Theory offers an integrative paradigm that combines the normative dimensions of sharia with social reality, through a comparative approach of schools of thought, maqāṣid al-syarī‘ah, and an orientation toward the welfare of the people. This research emphasizes that the formation of an effective culture of law-abidingness requires a holistic and contextual approach, in which law is understood as a living and adaptive social instrument. Thus, the internalization of legal values based on civic responsibility and an Islamic sociological jurisprudence approach can encourage the realization of substantive justice, high legal awareness, and a civilized and sustainable social order.    

Nasir Nasir; Sirajuddin Saleh; Nasaruddin H; Haerul Haerul; Henri Henri

Pandawa : Pusat Publikasi Hasil Pengabdian Masyarakat 2026 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Indonesia

Local wisdom is an important part of a nation's cultural identity, but its existence is beginning to be marginalized in the midst of modernization. The Kajang Indigenous People in Bulukumba Regency, South Sulawesi, are one of the communities that still maintain their traditional values through a customary legal system called Pasang ri Kajang. This community service activity aims to introduce the potential of Kajang cultural tourism to students as an educational effort in instilling the values of local wisdom. The partners in this activity are the Kajang indigenous people and local traditional leaders, including Ammatoa as the traditional leader. The activity is carried out with a participatory and educational method based on direct experience, which involves students in observation, discussion, and reflection on local culture. The results of the activity showed an increase in student knowledge by 31% and a significant change in attitudes towards the preservation of local culture, where more than 80% of participants showed an appreciative attitude towards the values inherited by the Kajang community. This activity also received a positive response from the local community because of its approach that respects traditional values. In addition, this activity produces several outputs, such as cultural introduction modules, activity documentation, and draft service articles. This activity shows that student involvement in the introduction of local culture can be an effective strategy in building multicultural awareness and preserving the nation's cultural heritage.

Basaria, Ida; Hutabarat, Gaby Gabriela; Habeahan, Marta Erinda; Sembiring, Gressella Sesinta

Realisasi : Ilmu Pendidikan, Seni Rupa dan Desain 2026 Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

This article examines umpasa as the determinant of the validity of the Mangalahat Horbo ritual and as a vehicle for transmitting the cultural values of the Batak Toba people from an anthropolinguistic perspective. Mangalahat Horbo is a buffalo sacrifice ritual that functions simultaneously as a cosmological, political, and linguistic event. This study employs a descriptive qualitative approach using three theoretical frameworks: Dell Hymes' (1974) SPEAKING model to analyze the ritual as a speech event, Roland Barthes' (1968) semiotics to dissect the denotative and connotative meanings of umpasa, and Kluckhohn's (1953) theory of cultural values and Sibarani's (2014) local wisdom theory to identify embedded cultural values. The findings reveal that umpasa operates on three simultaneous layers of meaning: pragmatic-performative, social-hierarchical, and cosmological-ecological. Umpasa is not merely an aesthetic ornament but a constitutive element of the ritual that shapes the social and cosmological reality of the Bius community. Eight cultural values are identified: communicative courtesy, adat knowledge transmission, self-restraint, collective responsibility, cultural preservation, cosmological reciprocity, distributive justice, and ecological harmony. This study affirms the urgency of anthropolinguistic documentation of Mangalahat Horbo before the Parhata masters of umpasa diminish further.

Afifah Luthfiani; Mamlahatun Buduroh; Syahrial; Silva Tenrisara Pertiwi Isma

NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Preferensi bermain anak-anak di era digital cenderung beralih ke permainan digital sehingga permainan tradisional seperti congkak mulai ditinggalkan. Sebagai upaya pelestarian, permainan congkak dialihwahanakan ke bentuk digital, salah satunya melalui aplikasi Congkak di Google Play Store. Namun, congkak digital menghadirkan pengalaman dan aturan bermain yang berbeda dari congkak tradisional yang berdampak pada pewarisan nilai dan fungsi budaya congkak tradisional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik dokumentasi dan observasi partisipatif serta diolah dengan analisis komparatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi Congkak tidak sepenuhnya mewariskan unsur nilai dan fungsi budaya permainan congkak tradisional. Aplikasi Congkak memberikan rasa senang dan bebas serta mewariskan fungsi permainan congkak untuk melatih keuletan, kemampuan berpikir kritis, dan berhitung anak.  Ketika aplikasi dimainkan berdua, unsur nilai yang diwariskan meliputi nilai demokrasi (musyawarah dan kejujuran), nilai sosial (kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi, serta menghadapi dan memecahkan masalah), dan nilai kesatria (sportivitas, rendah hati, lapang dada, dan tenggang rasa).  Namun, ketika aplikasi dimainkan sendiri, unsur nilai-nilai tersebut tidak terwariskan. Meskipun inovasi ini relevan dengan era digital, peneliti berharap pengembang dapat memperbarui aplikasi dengan mempertimbangkan pewarisan nilai dan fungsi budaya congkak tradisional. Dengan demikian,  nilai dan fungsi congkak tradisional yang terwariskan bisa lebih banyak.

Putra, Adam Pramugio; Azlin Resiana

NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Penelitian ini mengkaji tentang Analisis Semiotika Roland Barthes pada Tingkuluak patiak di Nagari Cupak. Latar belakang berlandaskan pada pentingnya pelestarian nilai budaya Minangkabau yang muncul dalam pakaian adat tradisional yakni tingkuluak patiak ditinjau dari segi bentuk, bahan, warna, dan motif sebagai simbol identitas perempuan khususnya bundo kanduang. Tujuannya adalah untuk mengungkap makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung serta menjelaskan fungsi simboliknya dalam prosesi pernikahan di Nagari Cupak. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui pengamatan, wawancara, disertai dengan catatan lapangan terkait tingkuluak patiak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa denotasi dari tingkuluak patiak merupakan penutup kepala yang digunakan oleh perempuan memiliki bentuk seperti kipas dengan lima lipatan mengembang di sisi kanan dan kiri terbuat dari kain lame kemudian diberi kanji agar tampak kokoh. Secara konotasi berdasarkan pada bentuk lipatan yang ada di tingkuluak patiak mencerminkan simbol identitas masyarakat dengan adanya lima suku yang mendiami wilayah Nagari Cupak. Mitosnya, tingkuluak patiak dimaknai sebagai ideologi yang hidup dalam masyarakat dengan adanya penghormatan terhadap leluhur yang dianggap oleh masyarakat setempat. Tingkuluak patiak digunakan hanya saat menjalani prosesi pernikahan yang berfungsi sebagai penanda status dan kehormatan serta menegaskan peran bagi mande rubiah dan bundo kanduang di Nagari Cupak.

Imetrimawati Imetrimawati; Frendi Sofyan Zebua

Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2026 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Fahombo (Hombo Batu) is a cultural heritage of the South Nias people that not only displays visual beauty and symbolic meaning, but also contains educational values for character building for the younger generation. This study aims to explore the pedagogical aspects contained within it while examining its relevance to the integration of arts and culture in holistic learning in the modern era. A qualitative approach with descriptive methods was chosen to understand the meaning, function, and educational messages that are alive and passed down through this cultural practice. Data collection was conducted through field observations, in-depth interviews, and documentation involving traditional leaders, parents, and actively participating youth. Analysis was carried out through stages of reduction, presentation, and drawing conclusions by applying triangulation of sources and techniques to ensure the validity of the findings. The results of the study indicate the existence of character-building values such as courage, discipline, responsibility, perseverance, and social solidarity. Furthermore, this activity reflects a comprehensive learning process because it involves the physical, mental, emotional, social, and cultural dimensions in an integrated manner. These findings confirm that local wisdom can be utilized as a relevant contextual learning resource to develop a holistic education model that is adaptive to current developments while rooted in cultural identity.

Rostiana, Aneva; Cantika, Cherin Denis Fera; Surayanah

NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Penelitian ini bertujuan memahami pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) sebagai upaya meningkatkan pemahaman nilai-nilai Pancasila pada siswa kelas 5A di SDN 1 Bendogerit Kota Blitar. Penelitian ini dilatarbelakangi pentingnya pendidikan karakter berlandaskan Pancasila dalam membentuk generasi berakhlak, disiplin, dan bertanggung jawab di tengah tantangan globalisasi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode wawancara terpusat dan observasi langsung terhadap guru serta proses pembelajaran. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan guru berperan aktif sebagai teladan dalam membentuk nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, sopan santun, dan kejujuran siswa. Penguatan nilai Pancasila juga didukung budaya sekolah melalui program pagi rutin dan kegiatan literasi berkelanjutan. Faktor pendukung utama ialah keteladanan guru dan lingkungan yang kondusif, sedangkan tantangan meliputi kebutuhan siswa yang beragam serta keterbatasan sarana digital. This study aims to understand the implementation of Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) as an effort to enhance students’ understanding of Pancasila values among fifth-grade students at SDN 1 Bendogerit, Blitar City. The research is motivated by the importance of character education based on Pancasila in shaping a generation that is virtuous, disciplined, and responsible amid the challenges of globalization. A descriptive qualitative approach was employed, using focused interviews and direct classroom observations involving teachers and the learning process. Data were analyzed through the stages of data reduction, presentation, and conclusion drawing systematically. The results indicate that teachers play an active role as role models in cultivating students’ values of discipline, responsibility, cooperation, politeness, and honesty. The reinforcement of Pancasila values is also supported by the school culture through regular morning programs and continuous literacy activities. The main supporting factors include teacher exemplarity and a conducive school environment, while challenges involve diverse student needs and limited digital learning facilities. 

Rhima Intan Kurniasih; Fina Hiasa; Emi Agustina

Bhinneka: Jurnal Bintang Pendidikan dan Bahasa 2026 Universitas Palan

This study aims to collect Serawai ethnic folktales, analyze their narrative structures, and identify the cultural values embedded within them. The research employs a qualitative descriptive method using structural and cultural value approaches. Data were obtained through interviews with informants, resulting in the collection of six Serawai folktales, namely Si Pahit Lidah (Serunting Sakti), Dusun Tinggi (Sebakas), Danau Kuranding, Batu Balai, Misteri Bukit Candi, and Sepit Kancing. The analysis focuses on structural elements, including theme, plot, characters and characterization, and setting, followed by an examination of cultural values using Clyde Kluckhohn’s cultural value orientation theory. The findings show that the six folktales are constructed through the integration of narrative elements that form a unified meaning and convey moral and cultural messages to the community. The dominant character, Serunting Sakti, represents wisdom, moral responsibility, and leadership. Furthermore, the analysis reveals that Serawai folktales contain five cultural value orientations proposed by Kluckhohn: the nature of human life, human work, human relations with time, human relations with nature, and human relations with others. These values are reflected in attitudes of wisdom, honesty, responsibility, hard work, appreciation of experience, environmental awareness, mutual cooperation, deliberation, and respect for customary traditions. Among these orientations, the most dominant is human relations with others. Overall, Serawai folktales function as oral literary heritage and as a medium for transmitting cultural values, preserving local wisdom, and strengthening Serawai cultural identity.

Erna Martia Anggraini; Suhendi Suhendi; Tania Fadillah; Wahyu Saputra; Abdul Syukur +2 more

Jurnal Pengabdian Bersama Masyarakat Indonesia 2026 CV. Aksara Global Akademia

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan model dakwah keagamaan yang bertujuan memberdayakan nilai-nilai dan norma-norma adat masyarakat Sai Batin di Lampung, dengan mengintegrasikan tradisi budaya lokal dengan ajaran agama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian deskriptif, menganalisis sumber primer dan sekunder, termasuk dokumen resmi terkait kegiatan dakwah keagamaan, laporan masyarakat, dan literatur tentang integrasi nilai-nilai adat dengan ajaran agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model dakwah keagamaan di masyarakat Sai Batin di Lampung berhasil mengintegrasikan ajaran agama dengan nilai-nilai adat setempat, sehingga meningkatkan pemahaman dan penerimaan masyarakat terhadap ajaran agama berdasarkan norma-norma adat. Metode dakwah partisipatif terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan masyarakat, memfasilitasi diskusi, dan memperkuat pemahaman ajaran agama. Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan, seperti keterbatasan sumber daya dan pemahaman sebagian anggota masyarakat tentang pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai adat dalam dakwah keagamaan. Meskipun demikian, penelitian ini menegaskan bahwa integrasi nilai-nilai adat dalam dakwah keagamaan sangat penting untuk memberdayakan masyarakat dan memastikan pelestarian tradisi lokal sambil tetap berpegang pada ajaran agama. Studi ini berkontribusi pada pengembangan model dakwah keagamaan yang menghormati nilai-nilai lokal, memberikan wawasan untuk program serupa di komunitas lain. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk fokus pada peningkatan alokasi sumber daya dan perluasan penggunaan teknologi untuk memperluas jangkauan dan dampak dakwah keagamaan

Sri Yulianty Mozin; Siti Mardia Mareteng; Fadila Ladiku; Rahmawaty M. Noho; Cipta Monoarfa

RISOMA : Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan 2026 Asosiasi Ilmuwan Pendidikan, Sosial, dan Humaniora Indonesia

This research is motivated by the importance of strengthening a professional public service culture through the integration of public administration values, norms, and ethics. Although various regulations and codes of ethics have been established in public organizations, gaps remain between formal norms and service practices in the field, such as low levels of responsiveness and professionalism among civil servants. This study aims to analyze the relationship between values, norms, and ethics in shaping public service culture, and to examine the role of organizational ethics and codes of ethics in strengthening public administration professionalism. The research employed a qualitative approach with a descriptive-analytical design through a literature review of relevant journals, books, and policy documents. Content analysis techniques were used to identify patterns of relationships between concepts. The results indicate that the internalization of ethical values ​​such as integrity, accountability, and transparency significantly influences the quality of public services. An organizational code of ethics serves as a formal instrument that clarifies standards of conduct for civil servants and strengthens a professional work culture. Consequently, public organizations need to strengthen ethics training, oversight mechanisms, and the integration of ethical values ​​into performance evaluation systems to build responsive and public-interest-oriented services.

Astari Herdiani; Dyah Titisari Widyastuti

SARGA: Journal of Architecture and Urbanism 2026 Universitas 17 Agustus 1945

Pusat Kota Lama Toboali merupakan kawasan historis yang menyimpan nilai-nilai spasial, sosial, dan budaya yang penting dalam sejarah urban Kepulauan Bangka Belitung. Transformasi yang terjadi dari masa kolonial hingga kini telah mengubah banyak elemen pembentuk citra kota yang mempengaruhi persepsi kolektif masyarakat terhadap identitas kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis perubahan elemen-elemen pembentuk citra kota berdasarkan teori Kevin Lynch (paths, edges, districts, nodes, landmarks) serta bagaimana perubahan tersebut berdampak terhadap karakter kawasan. Penelitian menggunakan pendekatan rasionalistik kualitatif dengan metode historis-interprektif, observasi lapangan, wawancara mendalam, cognitive mapping, dan analisis konten. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perencanaan kota berkelanjutan dan strategi pelestarian kawasan historis Toboali.  

Juwairiyah; Illu Huril Firdaus; Sutriyahningsih; Izzal Fauzi; Muhammad Adib

Jurnal Miftahul Ilmi: Jurnal Pendidikan Agama Islam 2026 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses adaptasi santri baru terhadap budaya pesantren serta mengidentifikasi faktor-faktor multidisipliner yang memengaruhi terjadinya fenomena boyong pada masa awal mondok di Pondok Pesantren Mansyaul Ulum Malang Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi dengan melibatkan santri baru, santri yang boyong, pengurus, dan ustaz pesantren. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi santri baru merupakan proses kompleks yang dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, kultural, dan pendidikan keislaman yang saling berkelindan. Fenomena boyong terjadi sebagai akibat dari ketidakmampuan santri mengelola tekanan psikologis, lemahnya integrasi sosial, serta belum optimalnya pendampingan adaptasi berbasis nilai-nilai pesantren. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa pengasuhan santri baru perlu dirancang melalui pendekatan multidisiplin agar proses adaptasi berjalan lebih humanis dan berkelanjutan.  

Marini, Marini; Intansakti Pius X; Emmeria Tarihoran

Sabar : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 2026 Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

This study examines the integration of Irau cultural values into Catholic Church ministry in Malinau through the approach of inculturation. The Irau festival, as a cultural heritage of the Dayak community, contains social and spiritual values such as togetherness, brotherhood, and gratitude. The study employs a qualitative method with a library research approach, analyzing Catholic Church documents, literature on inculturation theology, anthropiological studies on Dayak culture, and publications related to Malinau. The results indicate that integrating Irau cultural elements, such as music, dance, and traditional symbols that align with Catholic teaching, can enrich liturgy and pastoral ministry. This inculturation helps Catholics experience their faith contextually while respecting their cultural identity. A selective process is necessary to purify cultural elements that conflict with faith, enabling the Church to be an integral part of Malinau society.

Salsabila Barokatu Lana; Imam Amahdi; Nabilah Nurul Izzah; Nanda Rizky Julian Nugraha; Syairul Bahar +1 more

Imajinasi : Jurnal Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Teknologi 2026 Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

Angklung is one of the traditional musical instruments originating from the Sundanese culture in West Java, Indonesia, and has been recognized as an Intangible Cultural Heritage by UNESCO since 2010. This research aims to analyze the functions, values, and development of angklung in West Java society. The study applies a qualitative descriptive approach through literature review, field observations, and interviews with cultural practitioners. The findings show that angklung plays an important role not only as a musical medium but also as a tool for social cohesion, educational development, and cultural identity preservation. Over time, angklung has experienced significant transformation in terms of performance, musical arrangements, and adaptation in modern contexts, such as tourism, creative industries, and international collaborations. However, challenges remain in maintaining authenticity amid commercialization and the declining interest of younger generations in traditional musical arts. This study highlights the need for continuous cultural education, community engagement, and government support to sustain angklung's legacy. The implications of this study contribute to cultural preservation strategies and provide insights into the sustainable development of traditional arts in the modern era.

Rizki Gilang Ramadhan; Laila Fitriah

Misterius: Publikasi Ilmu Seni dan Desain Komunikasi Visual 2025 Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

This study aims to describe and analyze the activities taking place in the Rumah Adat Tinggi of Rengat as a reflection of the social and cultural identity of the Indragiri Hulu community. The research is motivated by the functional shift of traditional houses amid modernization, which threatens the continuity of local wisdom. This study employs a qualitative descriptive method. Data were collected through field observations, interviews with cultural figures and caretakers, and documentation of cultural events held in the traditional house. The findings indicate that the Rumah Adat Tinggi serves not only as a historical heritage but also as a social and cultural center for the community. Activities within it embody values such as mutual cooperation, deliberation, respect for ancestors, and cultural education for the younger generation. From the perspective of functionalism, the traditional house operates as a social system that maintains societal balance through social, cultural, and integrative functions. This research emphasizes the importance of revitalizing the Rumah Adat Tinggi to ensure its continued role as a living space for cultural transmission amid globalization.

Ahlul Aflakha; Putra, Firsta Pramudita Utomo

Penelitian ini menganalisis efektivitas implementasi Kurikulum Berbasis Konteks Minoritas dalam pembentukan karakter siswa, khususnya toleransi, tanggung jawab sosial, dan kemandirian, di Madrasah Aliyah (MA) Kalifa Nusantara, sebuah institusi Islam yang beroperasi di tengah mayoritas Hindu Bali. Masalah utamanya adalah kebutuhan lembaga minoritas menyeimbangkan penanaman nilai-nilai keagamaan dengan adaptasi kultural untuk menciptakan individu yang kokoh identitasnya namun partisipatif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal (single case study) di MA Kalifa Nusantara, dengan pengumpulan data melalui triangulasi sumber. Hasil utama menunjukkan Kurikulum Berbasis Konteks Minoritas berhasil mengintegrasikan filosofi Islam dengan kearifan lokal Bali (Tri Hita Karana dan menyama braya) melalui kurikulum formal, kokurikuler, dan budaya sekolah. Implementasi ini sukses mentransformasi toleransi pasif menjadi toleransi aktif dan partisipatif. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan pemahaman kognitif siswa terhadap budaya mayoritas dan partisipasi aktif dalam kegiatan komunitas non-agama (Pengabdian Kontekstual). Kurikulum Berbasis Konteks Minoritas juga efektif menumbuhkan tanggung jawab sosial dan kemandirian yang selaras dengan prinsip Tri Kon Ki Hajar Dewantara. Simpulannya, model "integrasi kontekstual minoritas-sentris" ini merupakan strategi kurikulum yang sangat efektif. Model ini memperkuat karakter adaptif siswa tanpa melemahkan identitas religius mereka dan menghasilkan agen toleransi aktif. Implikasi penelitian ini menyarankan Kurikulum Berbasis Konteks Minoritas MA Kalifa Nusantara dapat dijadikan model percontohan (blueprint) bagi lembaga minoritas lain di Indonesia untuk mendorong partisipasi aktif dalam komunitas lokal.