Publication Search

72,574 articles from 669 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-12 of 12

Analytics

Stefani, Greciela Yolanda; Aji Fajar Ramadhani; Nugrahani Astuti; Annisa Nur’aini

Jurnal Agrifoodtech 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Mie basah bebas gluten umumnya memiliki kandungan protein yang relatif rendah karena didominasi oleh bahan berpati, sehingga diperlukan upaya peningkatan nilai gizi tanpa menurunkan tingkat penerimaan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung ikan teri medan (Stolephorus sp.) terhadap tingkat kesukaan mie basah bebas gluten serta mengetahui karakteristik kimia pada perlakuan terbaik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat taraf penambahan tepung ikan teri medan, yaitu P0 (0 g), P1 (5 g), P2 (10 g), dan P3 (15 g). Tingkat kesukaan dinilai oleh 40 panelis pada parameter warna, aroma, rasa, dan tekstur menggunakan uji hedonik. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Perlakuan terbaik ditentukan menggunakan metode indeks efektivitas dan selanjutnya dianalisis secara proksimat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung ikan teri medan berpengaruh terhadap tingkat kesukaan mie basah bebas gluten. Perlakuan terbaik diperoleh pada P1 (5 g) berdasarkan nilai indeks efektivitas tertinggi. Hasil analisis kimia pada P1 menunjukkan kadar air 37,33%, kadar abu 1,71%, kadar lemak 3,34%, kadar protein 9,76%, dan kadar karbohidrat 47,86%. Kadar protein telah memenuhi persyaratan mutu mie basah berdasarkan SNI 2987:2015, meskipun kadar air masih melebihi standar. Penambahan tepung ikan teri medan berpotensi meningkatkan nilai gizi mie basah bebas gluten dengan tetap mempertahankan tingkat penerimaan konsumen.

Mohamamd Makbul; Awan Dharmawan; Muhaimin

Journal of Law and Administrative Science (JLAS) 2026 Universitas Teknologi Surabaya

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam upaya pemenuhan gizi masyarakat yang dilaksanakan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penyedia layanan pangan. Dalam implementasinya, setiap SPPG diwajibkan memiliki sejumlah legalitas keamanan pangan, seperti Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), dan Sertifikat Halal guna menjamin mutu serta keamanan produk makanan yang didistribusikan kepada penerima manfaat. Namun demikian, masih ditemukan SPPG yang belum memenuhi persyaratan sertifikasi tersebut tetapi telah beroperasi dan ditetapkan sebagai penyedia layanan dalam Program MBG. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk inkonsistensi regulasi dalam sertifikasi keamanan pangan pada SPPG serta mengkaji dampaknya terhadap implementasi Program MBG. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka. Data penelitian diperoleh melalui studi dokumentasi terkait implementasi sertifikasi keamanan pangan pada SPPG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inkonsistensi regulasi terjadi akibat disharmoni kebijakan antar institusi, perbedaan standar operasional sertifikasi, lemahnya mekanisme validasi dan audit oleh Badan Gizi Nasional (BGN), serta seringnya pelanggaran administratif dan rendahnya penerapan sanksi. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya jaminan kualitas dan keamanan pangan, ketidakpastian standar kandungan gizi produk makanan, serta potensi kerugian bagi penerima manfaat, khususnya siswa, ibu menyusui, dan lansia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa harmonisasi regulasi, standardisasi mekanisme sertifikasi, serta penguatan koordinasi dan konsistensi penerapan sanksi merupakan faktor penting dalam meningkatkan efektivitas sertifikasi keamanan pangan pada SPPG guna mendukung keberhasilan implementasi Program MBG secara berkelanjutan.

Udin, Dwi Alfin; Ikerismawati, Senja

Jurnal Agrifoodtech 2026 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Mutu dalam pengolahan pangan menjadi hal penting untuk menjamin produk yang aman, higienis, dan berkualitas. Suatu produk dikatakan bermutu apabila mampu memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan oleh pihak terkait dalam hal ini adalah Standar Nasional Indonesia (SNI). Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kualitas kimia dari produk kupang krispi yang dihasilkan oleh UD. Bunda Foods, dengan menitikberatkan pada tiga parameter utama yaitu kadar air, kadar abu, dan kadar protein. Kupang krispi dipilih sebagai bahan uji karena merupakan inovasi olahan hasil laut yang memiliki nilai gizi tinggi serta daya simpan yang baik, sehingga potensial dijadikan produk camilan unggulan. Metodologi penelitian mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 8272:2016 tentang kerupuk ikan, mengingat belum tersedia standar khusus untuk kupang krispi. Pengujian kadar air menggunakan metode gravimetri, analisis kadar abu dilakukan melalui proses pembakaran pada suhu 550°C, dan pengukuran kadar protein menggunakan metode Kjeldahl. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar air berada pada rata-rata 6,75%, kadar protein mencapai 19,20%, dan kadar abu sebesar 2,5%. Jika dibandingkan dengan ketentuan dalam SNI, kadar air dan protein telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan, namun kadar abu jauh melebihi batas maksimal yang diperbolehkan sebesar 0,2%. Kupang krispi memiliki mutu kimia yang baik dari sisi nutrisi dan ketahanan produk, namun masih diperlukan perbaikan terutama dalam mengendalikan kadar abu yang tinggi. Oleh karena itu, peningkatan sanitasi dalam proses produksi dan pemilihan bahan baku yang lebih bersih menjadi penting agar produk dapat memenuhi standar nasional secara menyeluruh dan mampu bersaing secara optimal di pasar.

Salisya Silvi Nur Nadhifah; Amalia Rahma

Antigen : Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi 2025 LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Nutrition services are an essential component in hospital healthcare systems, directly supporting patient recovery through timely and clinically appropriate nutrition. This study aimed to analyze the timeliness of meal distribution, diet appropriateness, diet types, patient satisfaction, and factors supporting efficient nutrition service at Hospital X. A descriptive quantitative observational design was employed, involving 35 inpatients, observing meal delivery, menu accuracy, and staff performance. Results showed that the majority of diet-receiving patients were male (60%), aged 20–45 years (34.3%), with most staying 2 days (60%). Meal distribution was timely: 94.3% for breakfast, 97.1% for lunch, and 100% for afternoon snacks and dinner. The most common diets were TKTP (High Calorie High Protein, 22.9%) and DMRG (Low Salt Diet, 17.1%), and all patients received diets according to medical indications (100%). Patient satisfaction regarding meal timeliness, diet appropriateness, taste, food temperature, and staff performance was mostly satisfied to very satisfied, with minor dissatisfaction (5.7%) only during breakfast due to distribution delays. Despite limited personnel, service efficiency was achieved through clear task division, effective communication, work discipline, supporting systems, and active supervision. In conclusion, nutrition services at Hospital X are effective, efficient, timely, diet-appropriate, support patient recovery, and comply with hospital service standards. The alternative hypothesis (H1) is accepted, and the null hypothesis (H0) is rejected

Wijayanti, Nor; Amyati, Amyati

jurnal ABDIMAS Indonesia 2025 STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Keamanan makanan jajanan dewasa ini memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang aktivitas dan meningkatkan mutu gizi para murid disekolah. Kebersihan dan jenis makanan jajanan yang dijual oleh para pedagang harus memperhatikan kualitas agar tidak berdampak negatif bagi kesehatan kususnya terkait maslah pencernaan.Selain dari sisi pedagang, edukasi kepada siwa terkait makanan jajanan yang sehat dan aman perlu dilakukan , salah satunya pada siswa di MA Nurul Ummah Yogyakarta. Lingkungan sekolah yang berada di pinggir jalan dan dikelilingi pemukiman penduduk dan sangat ramai dengan pedagang kaki lima yang berjualan mengharuskan para siswa memiliki pengetahuan tentang jajanan sehat. Pengabdian masyarakat  ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa Madrasah Aliyah (MA) Nurul Ummah Yogyakarta tentang higiene dan sanitasi makanan jajanan di lingkungan sekolah, guna mengurangi risiko kesehatan akibat konsumsi jajanan yang tidak higienis. Metode yang digunakan adalah pengabdian masyarakat dengan tahapan sosialisasi, edukasi dan pelatihan dalam pemilihan jajanan sehat. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan sikap siswa terhadap pentingnya higiene sanitasi makanan, serta perubahan perilaku dalam memilih makanan jajanan yang lebih sehat. Program ini diharapkan dapat menjadi model pengabdian masyarakat yang berkelanjutan untuk menjaga kesehatan siswa melalui konsumsi makanan jajanan yang aman. Siswa diharapkan bisa selektif dalam memilih jajanan yang mereka konsumsi agar tidak terkena resiko masalah kesehatan.

Irdati Ainina Fataya; Veni Indrawati

Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi 2025 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Breast milk (ASI) is the primary and best food for infants because it contains almost all the nutrients in the right composition to meet the needs of the baby for optimal growth and development. Breastfeeding mothers require additional nutrients such as carbohydrates, protein, and iron. One of the food ingredients that contains carbohydrates, protein, and iron is sorghum and katuk leaves. Sorghum is rich in carbohydrates and protein, while katuk leaves contain lactagogue, which helps increase breast milk production. This study aims to analyze the effect of sorghum flour substitution and the addition of katuk leaves in wet noodles on the level of preference, organoleptic quality, and nutritional content of wet noodles as an alternative food for breastfeeding mothers. This study used a true experimental method with a 3x2 factorial design, involving three levels of sorghum flour substitution (10%, 20%, 30%) and two levels of katuk leaf flour addition (2%, 4%). A preference test was conducted with 35 panelists, while an organoleptic quality test was conducted with 25 panelists using a hedonic scale, analyzed with Friedman, Wilcoxon, and Two-Way Anova tests. The results showed that sorghum flour and katuk leaf flour substitutions significantly affected preference levels in terms of color, aroma, texture, and taste, with formula X1Y1 being the most preferred. Sorghum flour and katuk leaf flour substitution affected the organoleptic quality parameters of color and texture but did not influence aroma and taste. The best nutritional content of noodles from the preference test in formula X1Y1 (10% sorghum, 2% katuk leaves) per 100 grams was 6.08% protein, 42.51% carbohydrates, and 3.11% iron.

Azis, Rahmatullah Farid; Jumiyati, Jumiyati; Yulianti, Risda

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2024 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Fish floss is a processed fishery product made from fresh fish as raw material in the form of powder or fiber from fish meat. The seasoning given has a brownish color which goes through boiling, steaming, shredding, adding spices and the cooking process. Jackfruit dami contains 1.94% crude fiber. Due to its high fiber content, Dami jackfruit has the potential to be processed into food products and is a good source of fiber in making shredded meat. This research aims to determine the differences in organoleptic hedonic tests and hedonic quality and nutritional value profile of tuna fish floss with the addition of jackfruit dami as an alternative source of protein and fiber. The design used was a completely randomized design with 3 different treatments between tuna (gr) and jackfruit dami (gr) F1 (75:25), F2 (50:50), and F3 (25:75). The results of this study showed that the F2 treatment had a level of preference for color (3.93), taste (3.67), texture (3.63), aroma (3.63), and overall (3.67). Color, texture and overall have significant differences in panelists' preferences, but the aroma and taste aspects are not significant in panelists' preferences. The best treatment, F2, has a water content of 7.08%, protein content of 48.1%, and fiber content of 3.50%.

Br Sianturi, Marta Imelda

Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Wahana Usada (WUJ) 2023 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan KESDAM IX/Udayana

Latar belakang: Keadaan gizi yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam upaya mencapai derajat kesehatan yang optimal. Namun, berbagai penyakit gangguan gizi dan gizi buruk akibat tidak baiknya mutu makanan maupun jumlah makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh masing-masing orang masih sering ditemukan diberbagai tempat di Indonesia. Rendahnya status gizi jelas berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Status gizi masyarakat dapat diketahui melalui penilaian konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif maupun kualitatif.   Tujuan Kegiatan ini bertujuan memberi motivasi serta informasi kepada orang tua yang memiliki balita tentang pentingnya pemenuhan gizi pada balita dan memberi motivasi kepada orang tua yang memiliki balita tentang pentingnya kesadaran dalam memperhatikan asupan kebutuhan anak. Metode Metode yang digunakan yaitu dengan melibatkan masyarakat   sebagai   bentuk   pemberdayaan   seperti   penyuluhan tentang gizi balita, pengukuran BB dan TB balita dan pemberian makanan tambahan kepada balita. Populasi  pada  kegiatan  ini  adalah  orang tua yang memiliki anak balita  di  Desa Rumah Berastagi, Kecamatan Berastagi. Hasil: Dari hasil pemantauan tumbuh kembang balita yaitu dengan tindakan pengukuran tinggi badan dan penimbangan berat badan diperoleh bahwa pertumbuhan balita mayoritas dalam kategori bagus atau baik. Simpulan: Pemantauan tumbuh kembang balita dapat terus dilakukan olah ibu yang memiliki anak balita melalui kegiatan posyandu.

Rika Asmirah

Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana (JUFDIKES) 2022 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Lip balm merupakan sediaan yang diaplikasikan pada bibir yang berfungsi sebagai pelembab dan pencerah bibir. Tanaman Mentimun dan jeruk nipis dapat dimanfaatkan untuk mencerahkan kulit, khususnya kulit yang kering dan juga kulit yang menghitam akibat penggunaan kosmetik yang salah. Tujuan penelitian untuk mengetahui kombinasi perasan buah mentimun dan jeruk nipis sebagai pencerah bibir dan mengetahui formulasi dari kombinasi perasan buah mentimun dan jeruk nipis yang memiliki sifat yang baik. Metode penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen meliputi formulasi sediaan lip balm dengan konsentrasi perasaan buah mentimun (Cucumis sativus L.) dan buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia) konsentrasi 5%, 6% dan 7%. Dengan bahan dasar oleum cacao dan cera flava. Pemeriksaan mutu fisik sediaan meliputi pemeriksaan organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, stabilitas, suhu lebur, dan iritasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa perasan buah mentimun dan buah jeruk nipis dapat diformulasikan kedalam bentuk sediaan lip balm dengan konsentrasi 5% (F1), 6% (F2), 7% (F3) dan telah memenuhi persyaratan uji homogenitas, titik lebur sediaan dan tidak mengiritasi kulit. Karakteristik buah mentimun dan buah jeruk nipis yang dapat membentuk sediaan lip balm yang baik yaitu sediaan ketiga karena dilihat dari hasilnya warna pada bibir lebih banyak menunjukan kecerahan dan juga kelembaban.

Budi Hartoyo

Jurnal Agrifoodtech 2022 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Kekurangan gizi merupakan permasalahan serius, sekitar 30% penduduk dunia termasuk Indonesia, terutama anak-anak, berisiko menderita kekurangan gizi Zn. Kekurangan gizi Zn juga menjadi salah satu faktor kekerdilan (stunting) yang prevalensinya cukup besar dan merata di Indonesia. Demikian pula masalah anemia karena kekurangan asupan zat gizi mikro terutama zat besi. Beras adalah makanan pokok sebagian besar penduduk di Indonesia. Sebagai pangan utama, beras diketahui memiliki nilai gizi mikro yang tidak memadai sehingga berpotensi menimbulkan kekurangan gizi bagi konsumen. Biofortifikasi merupakan salah satu inovasi dalam meningkatkan mutu gizi beras. Keuntungan biofortifikasi antara lain : (1) dapat dikembangkan pada bahan makanan pokok, (2) lebih murah dan menguntungkan dari aspek budidaya karena benih yang sudah melalui proses fortifikasi akan terikut pada generasi selanjutnya, (3) bermanfaat bagi masyarakat konsumen rawan gizi. Kandungan mineral penting seperti Fe (besi) dan Zn (seng) pada beras dapat ditingkatkan melalui biofortifikasi menjadi beras kaya Fe atau Zn. Beras kaya gizi mineral hasil biofortifikasi dapat dimanfaatkan dan dikembangkan Pemerintah guna menanggulangi masalah gizi pada masyarakat, terutama dari golongan ekonomi lemah.

Indrinawati, Indrinawati; Widayati, Kurniasih

Bali Health Published Journal (BHPJ) 2022 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan KESDAM IX/Udayana

Latar belakang : Stunting merupakan suatu masalah gizi yang dihadapi oleh balita saat ini. Jika tinggi badan anak berdasarkan usia di bawah standar nasional (Z- Score <-2 SD), maka diklasifikasikan sebagai terhambat. Ibu yang dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan dengan baik akan memberi dampak positif kepada keadaan status gizi anaknya. Pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor tidak langsung yang dapat mempengaruhi keadaan status gizi. Pelayanan kesehatan primer perlu ditingkatkan pelayanannya, sebab pelayanan kesehatan primer memiliki peranan yang cukup signifikan yang dapat ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan gizi anak agar terhindar dari kematian dini dan mutu fisik yang rendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Gambaran Pelayanan Kesehatan Primer Pada Kejadian Stunting” di wilayah Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar. Metode : Metode penelitian yang digunakan yaitu survey dengan jenis penelitian deskriptif yang menggunakan data sekunder tahun 2020 dengan jumlah sampel sebanyak 47 orang yang menggunakan instrumen penelitian lembar ekstrasi data dengan analisis SPSS 20. Hasil : Hasil penelitian ini didapatkan karakteristik responden yang memiliki balita stunting rata-rata berumur 30 tahun sebanyak 4 orang (6,4%), berpendidikan SMA sebanyak 29 orang (61,7%) dan bekerja swasta sebanyak 23 orang (48,9%). Berdasarkan analisis pelayanan kesehatan primer didapatkan bahwa sebagian besar responden berobat ke pelayanan kesehatan praktek bidan dan dokter sebanyak 33 orang (70,2%), jarak ke pelayanan kesehatan kategori jauh sebanyak 33 orang (70,2%), sebagian besar sudah mendapatkan penyuluhan IMD sebanyak 40 orang (85,1%), penyuluhan ASI Eksklusif sebanyak 35 orang (74,5%), penyuluhan MPASI sebanyak 39 orang (83%) dan penyuluhan KB sebanyak 38 orang (80,9%). Berdasarkan analisis gambaran pelayanan kesehatan primer didapatkan bahwa pelayanan kesehatan primer dalam kategori baik sebanyak 40 orang (85,1%). Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian didapatkan pelayanan kesehatan primer pada kejadian stunting di Wilayah Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar dalam kategori baik yaitu banyak responden memanfaatkan pelayanan kesehatan seperti berobat ke pelayanan kesehatan dan mendapatkan penyuluhan.

Linda Kurniawati, Angestia Sindu Fernanda, Yannie Asrie Widanti &

JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) 2017 Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Pisang jenis plantain salah satunya yaitu pisang tanduk tidak banyak disukai karena rasa yang kurangmanis, sehingga lebih cocok diolah menjadi tepung pisang tanduk. Tempe mempunyai kandungan gizi yangcukup tinggi salah satunya yaitu sebagai sumber protein. Substitusi tepung pisang tanduk dan tempe padapembuatan stik vegetarian sebagai salah satu upaya peningkatan mutu ekonomi pisang tanduk dan tempe,serta peningkatan nilai gizi pada produk stik vegetarian. Penelitian ini menggunakan metode RancanganAcak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu kadar tepung pisang tanduk (10, 20, 30%) dan kadartempe (10, 20, 30, 40%). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar tepung pisang tanduk dan kadartempe yang optimal untuk menghasilkan stik vegetarian yang berkualitas dan disukai oleh konsumen. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan yang terbaik adalah pada kadar tepung pisang tanduk30% dan kadar tempe 40%. Hasil stik vegetarian tersebut mempunyai karakteristik sebagai berikut : kadarair 2,92%; kadar abu 2,52%; kadar protein 13,40%; warna coklat (2,00); rasa pisang tanduk sangat terasa(2,40); rasa tempe terasa (2,60) memiliki kerenyahan atau tekstur renyah (3,46); dan disukai panelis (3,46).Kata kunci: Tepung pisang tanduk, stick, substitusi, tempe.