SciRepID - Scientific Publication Search

Publication Search

41,520 articles from 397 journals · 1,447 citations tracked

Showing 1-8 of 8

Analytics

Tashella Nazha; Munawaroh Munawaroh

Jurnal Manajemen dan Ekonomi Bisnis 2025 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Plastic is a non-organic waste that has uses, especially in daily activities. Plastic is widely used by traders to package food and others. The widespread use of plastic by the community and its indiscriminate disposal after use can lead to the accumulation of waste. The problem can be solved with the 3R strategy, namely Reduce, Reuse, and Recycle. Not all locations have facilities to dispose of waste. Nowadays, landfills are a necessity, so it is necessary to provide these facilities. The solution is to make ecobrick products because they can be made easily. This research aims to increase public awareness in Pamarayan Village, Jiput Sub-district, Pandeglang Regency, Banten Province regarding ecobrick products as an invitation to care for the environment in order to create a healthy environment. The method used was the observation method and the approach was training in ecobricking. The result is that the community can understand the importance of maintaining environmental cleanliness and health through proper waste sorting, and are able to make ecobrick products in the form of trash cans from bottle waste for personal or community use.

Yuni Suprapto, Eka Farida Fasha, Umi Chabibahtus Z &

Adi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat 2024 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Kegiatan IbM yang diusulkan bertujuan membentuk dan mengembangkan masyarakat yang mandiri secara ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan limbah kayu menjadi produk kreatif yang bernilai ekonomis tinggi. Permasalahan prioritas yang akan ditangani dalam kegiatan IbM ini adalah: bagaimana membentuk system pemberdayaan pengrajin kayu sehingga dapat mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Target khusus dari kegiatan IbM ini adalah : 1) Kesadaran dan motivasi mitra, akan dampak limbah kayu yang mengganggu masyarakat, sebenarnya dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, 2) pengetahuan, kemampuan, ketrampilan dan kreativitas mitra untuk dapat membuat produk mainan edukasi dari limbah kayu yang berkualitas, bernilai seni dengan desain unik dan beragam dapat meningkat, 3) kemampuan mitra untuk melakukan kegiatan promosi untuk mengenalkan produk mainan edukasi dari limbah kayu kepada konsumen potensial dengan menggunakan berbagai media dapat meningkat. Metode pendekatan yang digunakan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi mitra adalah dengan metode pelatihan, pendampingan, penyuluhan. Hasil kegiatan dalam program IbM yang diusulkan berupa model pemberdayaan yaitu, 1) pengolahan limbah kayu dan peningkatan kualitas produk olahan kayu. 2) peningkatan pengetahuan desain olahan limbah kayu dan penerapan teknologi berupa alat produksi. 3) keberlanjutan pendampingan dalam pembutan dan pemasaran produk education toys.Keywords: pengrajin kayu, limbah kayu, Education Toys.

Atika Nandini; Mu’tasim Billah; Revita Arendri Vashti

Sejahtera: Jurnal Inspirasi Mengabdi Untuk Negeri 2023 Universitas Maritim AMNI Semarang

Desa tutur merupakan salah satu desa dari Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan yang memiliki potensi alam yang melimpah seperti susu sapi, kopi dan bunga krisan. Dalam pembudidayaan bunga krisan diperlukan pupuk yang tepat untuk tanaman agar dapat berkembang dengan baik. Pupuk organik kerap dikenal sebagai pupuk yang berasal dari segala proses sisa makhluk hidup seperti hewan, tumbuhan, dan manusia. Kotoran sapi dari produk susu sapi yang dihasilkan desa Tutur dapat dijadikan pupuk organik karena kaya akan nutrien. Namun pada desa Tutur, belum memanfaatkan limbah kotoran sapi tersebut secara maksimal. Pelatihan pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi ini dapat menjadikan peluang baik bagi warga desa Tutur agar membantu pembudidayaan pada bunga krisan dan tanaman lainnya untuk peningkatan produktivitas tanah. Dalam pelatihan ini, warga dijelaskan terkait pupuk organik serta metodologi pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi. Hasil pelatihan menunjukan peningkatan pemahaman serta pengetahuan akan pengolahan limbah kotoran sapi sebesar 99%. Hasil tersebut dapat diterapkan oleh warga Tutur kedepannya untuk memanfaatkan kotoran sapi menjadi pupuk organik.  

Mike Elly Anitasari; Widiyatmoko Widiyatmoko; Rifqi Naufal Kholis; Ansita Diah Septiani; Eva Widya Cendani +7 more

Karunia: Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat Indonesia 2023 Fakultas Teknik Universitas Maritim AMNI Semarang

Desa Pekutan khususnya di wilayah dusun 1,2,3 belum menggiat kegiatan bank sampah yang digunakan untuk mengelola sampah sehingga sampah dapat dimanfaatkan menjadi barang yang sedikit berguna dan bisa ditukar dengan nilai rupiah. Sehingga masyarakat harus bisa menyesuaikan dan memanfaatkan limbah ataupun barang yang sudah tidak terpakai khususnya yaitu limbah sampah organik maupun sampah non organik. Untuk Program kerja yang kedua yaitu pengadaan servis kunjung yang bekerja sama dengan astra honda purworejo. Permasalahan yang ada di Desa Pekutan, hanya terdapat sedikit bengkel sehingga warga sekitar kurang memperhatikan kondisi motor. Dengan adanya permasalahan tersebut kelompok KKN-T 36 memfasilitasi servis kunjung dengan harga yang terjangkau sehingga warga Desa Pekutan dapat memanfaatkan adanya acara tersebut. Program Kerja ketiga yaitu video profil. Teknologi informasi menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi manusia. Media yang paling efektif adalah melalui video profil Desa Pekutan, diharapkan informasi yang diperoleh semakin lengkap. Video ini berupa video profil desa meliputi informasi geografis, mata pencaharian warga desa pekutan serta keadaan yang ada disekitar desa Pekutan.

Ni Komang Ayu Artiningsih

Jurnal Agrifoodtech 2022 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Dalam pengelohan makanan untuk Teknologi Pangan perlu dan dibutuhkan pewarna alami karena pewarna sintesis sangat berbahaya bagi tubuh kita, maka paling tepat dalam penggunaan pewarna adalah pewarna alami. Makanan yang kita lihat dan kita sering beli dipasaran tradisional dan mall-mall adalah membutuhkan zat pewarna,  tanpa pewarna maka segala jenis makanan maupun minuman tidak akan punya daya tarik bagi konsumen, karena dengan pewarna maka produk akan manaikkan harga jual disamping eksotik dan daya tarik dari makanan tersebut. Buah Naga dari warna kulit kemerahan yang menarik  dan jarang di manfaatkan, biasanya banyak yang dimanfaatkan adalah isi dari buah naga tersebut, sehingga kulitnya menjagadi limbah yang tentu mengganngu lingkungan dan pandangan kita. Lingkungan saat ini banyak sekali kendala yang di hadapi, salah satunya adalah sampah yang menumpuk dan berkepanjangan,  masalah itu menjadi delema dalam kehidupan masyarakat, maupun pemerintah dalam pengelolaannya. Karena dengan jumlah penduduk yang selalu berkembang  maka sampah juga akan semakin banyak dan secara otomatis membutuhkan penangan yang baik pula. Dengan adanya beban lingkungan  yang semakin kedepan semakin rumit ditanggulangi, dan setiap saat semakin menumpuk, maka penulis mengangkat salah satu limbah lingkungan yaitu limbah kulit buah naga, untuk di manfaatkan menjadi zat pewarna  alami makanan. Penelitian yang dilaksanakan menggunakan kulit buahn naga (hylocereus Undatus)yang berwarna merah merona, dengan metode ekstraksi dan hasil ekstraksi di uji laboratorium, dengan pengujian pH, uji sinar, stabilitas zat warna antosianin kulit buah naga. Hasil uji yang diperoleh adalah : pH 6 dan tingkat absorbennya  0.5445, sedangkan uji sinar UV pada hari ke6 menghasilkan 1.5566 nm (nanometer). Jadi kesimpulannya adalah pengguanaan zat warna alami dari limbah kulit buah naga bagus digunakan untuk pewarna alami makanan.  

Ni Komang Ayu Artiningsih, Ayu

Jurnal Agrifoodtech 2021 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Makanan yang banyak kita jumpai dipasaran tradisional maupun pasar modern dalam proses pembuatan membutuhkan zat pewarna,  tanpa pewarna maka segala jenis makanan maupun minuman tidak akan punya daya tarik bagi konsumen, karena dengan pewarna maka produk mempunyai tekstur dan bisa menaikkan harga jual, disamping eksotik makanan yang menarik, untuk memberi daya tarik warna makanan. Namun demikian masih banyak makanan yang menggunakan bahwa pewarna sintetik yang kadang berbahaya bagi kesehatan manusia. Buah naga merupakan salah satu buah eksotik yang banyak dikonsumsi masyarakat, umumnya yang dikonsumsi adalah daging buahnya, sedangkan kulit buahnya dibuang sebagai sampah atau limbah yang pada suatu saat akan membebani lingkungan hidup. Sejauh ini kulit buah dari buah naga belum dimanfaatkan secara optimal, meskipun sebenarnya memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi bahan-bahan yang bermanfaat.  Salah satu potensinya adalah di manfaatkan menjadi zat pewarna  alami pada makanan. Bermacam-macam bahan pewarna saat ini banyak digunakan pada produk makanan, pewarna alami adalah pewarna yang aman untuk kesehatan,  dibandingkan pewarna sintetik.  Pewarna alami telah banyak diaplikasikan pada pangan, salah satunya yang diangkat  penelitian  adalah memanfaatkan limbah kulit buah naga sebagai pewarna alami, sehingga diharapkan dengan dimanfaatkannya limbah pertanian yang memiliki potensi sebagai bahan pewarna makanan dapat memberikan jaminan keamanan bagi konsumen juga mengurangi limbah yang akan  mencemari lingkungan.

Teguh Yuwono, Sartono Joko Santosa &

Adi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat 2018 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di Desa Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kotamadya Surakarta pada tanggal 13 Mei 2018. Adapun sasaran dari Pengabdian ini adalah warga masyarakat yang memiliki tanaman hias dalam pot , dengan metode yang digunakan yaitu ceramah dan tanya jawab. Tujuan yang hendak dicapai dalam Pengabdian ini yaitu untuk memberikan pengertian dan penjelasan agar warga masyarakat yang sering minum kopi tidak membuang limbah ampas kopinya, tetapi dapat memanfaatkannya untuk tanaman hias di pot.Hasil yang diharapkan dari kegiatan pengabdian ini yaitu agar warga masyarakat desa Sumber dapat memanfaatkan limbah ampas kopi untuk tanaman hias mereka, karena manfaat limbah ampas kopi selain untuk menyuburkan tanaman juga dapat berfungsi sebagai pestisida organik.Kata Kunci: Limbah ampas kopi, Pupuk dan Pestisida, tanaman hias

Marjam Desma Rahadhini, Lamidi

Adi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat 2018 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Kegiatan penyuluhan ini dilakukan kepada para anggota karang taruna Sinoman Rejosari Bersatu (SiRestu) dukuh Rejosari, Desa Teras, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali. Kegiatan ini dilakukan dengan mengambil tema: ”MENCIPTAKAN PRODUK INOVATIF DENGAN MEMANFAATKAN LIMBAH KAIN BAGI KARANG TARUNA SIRESTU, DUKUH REJOSARI, DESA TERAS, KECAMATAN TERAS, KABUPATEN BOYOLALI”. Luaran dari kegiatan ini adalah: 1. Membuka wawasan bagi anak-anak muda Sirestu agar mampu membaca peluang yang ada di sekitarnya, 2. Meningkatnya pengetahuan bagi anggota Sirestu dalam memanfaatkan limbah kain dari pabrik/industri, yang bisa diberdayakan menjadi produk yang bernilai jual tinggi, 3. Meningkatnya pengetahuan dari anggota Sirestu tentang aneka macam produk yang dapat dihasilkan dari limbah kain, 4. Kegiatan ini dapat berlanjut, sehingga organisasi karang taruna Sirestu bisa lebih berdaya guna karena adanya kemitraan dengan tim pengabdian dari Unisri. Kegiatan ini dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1. Pemilihan obyek pengabdian kepada masyarakat dengan memperhatikan peluang yang ada yaitu limbah kain dari indutri yang demikian banyak, tetapi masyarakat (pemuda) belum ada yang tertarik, 2. Penyampaian materi Penyuluhan tentang bagaimana menghasilkan produk inovatif yang bernilai jual tinggi dengan memanfaatkan limbah kain, 3. Penyampaian materi tentang bagaimana cara-cara pemasaran produk inovatif tersebut, 4. Pelaksanaan evaluasi. Evaluasi yang akan dilakukan dengan cara: sebelum penyuluhan dilakukan tanya jawab untuk mengetahui pengetahuan awal setiap peserta tentang limbah kain. Setelah penyuluhan selesai dilakukan tanya jawab lagi tentang materi yang sama. Dengan membandingkan hasil jawaban yang telah dilakukan, maka akan diketahui apakah ada peningkatan pengetahuan peserta tentang menciptakan produk inovatif dengan memanfaatkan limbah kain.Kata kunci: produk inovatif, limbah kain