SciRepID - Scientific Publication Search

Publication Search

50,562 articles from 425 journals · 1,447 citations tracked

Showing 1-10 of 10

Analytics

Nining Tunggal Sri Sunarti; Reni Tri Lestari

Jurnal Pelaksanaan Pengabdian Bergerak bersama Masyarakat 2026 Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Status gizi ibu dan anak merupakan indikator penting kesehatan masyarakat dan berperan besar dalam pencegahan anemia, kekurangan energi kronis (KEK), dan stunting. Rendahnya literasi gizi serta keterbatasan kemandirian ibu dalam melakukan deteksi dini status gizi masih menjadi tantangan di tingkat komunitas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai gizi seimbang serta kemampuan deteksi dini status gizi ibu dan anak melalui edukasi berbasis teknologi informasi. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Persiapan dilakukan melalui observasi awal dan pengembangan media edukasi digital. Pelaksanaan dilakukan dengan penyuluhan langsung, diskusi interaktif, serta pengenalan aplikasi edukasi gizi dan deteksi dini pertumbuhan anak. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk menilai perubahan tingkat pengetahuan peserta. Kegiatan ini melibatkan 22 ibu sebagai peserta. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan, ditandai dengan meningkatnya jumlah peserta pada kategori pengetahuan baik dan tidak ditemukannya lagi peserta dengan kategori pengetahuan kurang setelah intervensi. Peserta menunjukkan antusiasme dan komitmen untuk menerapkan prinsip gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi gizi seimbang berbasis teknologi informasi terbukti efektif dalam meningkatkan literasi gizi ibu dan berpotensi mendukung deteksi dini masalah gizi secara mandiri. Kegiatan ini direkomendasikan untuk diintegrasikan secara berkelanjutan dalam program kesehatan ibu dan anak di tingkat komunitas.

Maria Susana Ine Nona Ringgi; Rosania Euthropia Brigita Conterius; Ariyanto Ayupir

Inovasi Kesehatan Global 2025 Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Nutritional problems in toddlers remain a major challenge in Indonesia, particularly in rural areas such as Paga Village, Sikka Regency. Nutritional problems are not only caused by a lack of nutritious food intake but are also exacerbated by the high incidence of infectious diseases, inadequate parenting, low public nutrition knowledge, limited access to health services, and low socioeconomic conditions. These factors directly and indirectly impact children's nutritional status. One intervention effort that can be implemented to address this problem is through the provision of locally-based food supplements (PMT), which aims to improve children's nutritional intake and encourage food independence and sustainable family nutritional security. This study aims to determine the effect of providing locally-based food supplements as a nutritional intervention on improving the nutritional status of toddlers experiencing malnutrition. The research method used was an observational analytic approach with a cross-sectional design approach. The sample in this study were toddlers with malnutrition status who received an intervention in the form of local food-based PMT. The results showed an improvement in nutritional status in toddlers after receiving PMT. A total of 46 toddlers who were initially malnourished experienced an improvement to normal nutritional status after the intervention. These results indicate that providing locally-based food supplements has a positive effect on the nutritional status of toddlers. In conclusion, local food-based PMT has proven effective as a nutritional intervention in improving the nutritional status of toddlers in Paga Village. Such programs need to be further developed and supported by various parties to reduce the prevalence of malnutrition in the community and strengthen local food self-sufficiency.

Lestari, Siti; Kristiyawati, Sri Puguh; Asih, Sri Hartini Mardi

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2024 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Stunting merupakan permasalah gizi global termasuk di negara Indonesia yang memerlukan penanganan secara sistematis dan menyeluruh dari bidang keperawatan. Tenaga kesehatan dan pendidikan kesehatan turut berperan dalam penanggulangan masalah stunting, STIKES Telogorejo melaksanakan upaya promotif, preventif, dan tatalaksana lanjut pada temuan kasus stunting untuk mencapai tujuan dan cita-cita SDGs. Sebuah program yang digagas oleh STIKES Telogorejo yaitu POHON RANTING KAYU yang merupakan akronim dari Pola asuh, Hygiene, Hipnosis, Optimalkan sehat, Ngerti Gizi, Gerakan Anti Stunting Kelurahan Karangayu bertujuan untuk menurunkan angka stunting di wilayah Kelurahan Karangayu Kota Semarang. Metode yang digunakan yaitu melaksanakan upaya promotif, preventif, kuratif, dan maintenance dengan membentuk tim penanggungjawab khusus seperti Satgas Ranting Kayu dan Tim Kinclong. Upaya promotif dilakukan dengan sosialisasi & edukasi, Upaya preventif dilakukan dengan pelatihan kepada kader. Upaya kuratif dilakukan oleh Satgas Ranting Kayu, Tim Kinclong, dan hipnoterapis. Hasil Program POHON Ranting Kayu yang bersinergi dengan program lainnya baik dari pemerintah maupun pihak lain telah menurunkan angka stunting sebesar 73% di wilayah Kelurahan Karangayu. Berbagai upaya promotif dan preventif yang telah diberikan juga berpotensi mencegah temuan kasus baru.

Astuti, Yuni; Anggarawati, Tuti

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana 2023 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat terutama pada negara yang sedang berkembang dan penghasilan rendah sampai menengah. Stunting saat ini termasuk masalah gizi kronis yang terdapat di negara Indonesia dan selalu dikaitkan dengan keadaan kurang gizi kronik atau kegagalan dalam pertumbuhan. Stunting dapat mengakibatkan gangguan perkembangan kognitif, motorik, bahasa serta dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas. Di samping itu juga dapat penurunan kemampuan fungsi kognitif, rendahnya prestasi belajar, dan juga imunitas lemah sehingga rentan terhadap penyakit infeksi.  Tingkat kesadaran masyarakat merupakan tantangan terbesar dalam upaya pencegahan stunting terutama ibu hamil. Ibu hamil yang mempunyai pengetahuan baik tentang pencegahan stunting akan memperhatikan asupan gizi selama masa kehamilan. Dari hasil paparan perlu dilakukan pengabdian masyarakat “IbM pemberdayaan keluarga dengan ibu hamil untuk pencegahan stunting melalui paket ESiD (Edukasi, Simulasi, Diskusi)”. Kegiatan ini terdiri dari edukasi, simulasi, diskusi, serta monitoring. Target luaran berupa tercapainya pemberdayaan masyarakat dan meningkatnya pengetahuan keluarga dengan ibu hamil, terpublikasinya hasil pengabdian masyarakat di jurnal nasional, serta media elektronik.

Kurniati Akhfar; Erniawati Erniawati; Bau Kanang; Husnul Khatimah; Jusni Jusni

Journal of Educational Innovation and Public Health 2023 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Indonesia is still facing major challenges in the field of nutrition. Lack of nutritional intake is a type of nutritional problem that can cause disturbances in the growth and development of children, so efforts are needed to be made to overcome them. Specific nutrition interventions have been shown to reduce nutritional problems through supplementation and fortification interventions, supporting exclusive breastfeeding, counseling about children's diets, and providing additional food. This study aims to identify specific interventions that have been carried out in addressing under-five nutritional problems using qualitative methods using non-probability sampling techniques. Data was collected through in-depth interviews. The results showed specific nutrition interventions, namely toddler interventions (monitoring toddlers at posyandu, immunization, vitamin A, and PMT). Maternal intervention (pregnancy women's classes, PMT for pregnant women, nutrition and health seminars) and youth interventions (blood-boosting tablets/TTD program).      

Anita Sriwaty Pardede

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan 2023 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Perubahan demografi akan berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan lanjut usia (lansia) baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan keluarga dan masyarakat. Dengan meningkatnya jumlah penduduk lansia harus diupayakan agar kelompok lansia tetap mempunyai kondisi fisik dan mental yang prima untuk menjadi sumberdaya manusia yang optimal. Masalah gizi yang umum terjadi pada lansia selain kekurangan gizi juga kelebihan gizi  yang memacu timbulnya  penyakit degeneratif  seperti penyakit  jantung  koroner,  hipertensi,  diabetes  mellitus,  batu empedu, gout (reumatik), ginjal, sirosis hati dan kanker. Sehingga dengan peningkatan status gizi pada lansia diharapkan keadaan kesehatan dapat dipertahankan atau bahkan ditingkatkan (Dep.Kes. RI, 2000).             Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain penelitian cross sectional, dimana variabel terikat (dependen) yaitu Status Gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan karakteristik lansia (umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan tingkat pendapatan), perilaku (kebiasaan merokok, aktivitas fisik) dan asupan konsumsi makanan sebagai variabel bebas (independen). Penulis melakukan observasi atau pengukuran  pada  saat bersamaan dan wawancara food recall. Penelitian dilakukan di Wredha Rineksa daerah binaan Puskesmas Tugu Kota Depok dengan jumlah 110 orang lansia. Pemilihan lokasi dengan alasan Wredha Rineksa merupakan rumah singgah (sekarang disebut Pos Pembinaan Terpadu). Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah : Kuesioner tentang karakteristik lansia, perilaku (kebiasaan merokok, aktivitas fisik) dan asupan konsumsi makanan, Format Form Food Recall 24 jam, Alat ukur Tinggi Badan yaitu Microtoise dan Berat Badan dengan timbangan Seca Digital, KMS Lansia.             Hasil penelitian adalah : Sebagian besar (56,4%) lansia di Wredha Rineksa (WR) daerah binaan Puskesmas Tugu Kota Depok berstatus gizi normal, dengan rata-rata IMT 23,5 kg/m² dengan nilai terendah 16 kg/m² dan tertinggi 32,8 kg/m², sedangkan status gizi lebih dengan IMT > 25 kg/m²  adalah  33,6% ; Karakteristik lansia umur > 60 tahun (59,1%), perempuan (73,6%), berstatus kawin (71,8%), berpendidikan menengah (50,9%), tidak bekerja (84,5%), dan tingkat pendapatan rendah  sebanyak 62,7%. Sebagian besar lansia tidak mempunyai kebiasaan merokok (91,8%), dan aktivitas fisik  dengan aktivitas sedang 37,3%. Asupan Konsumsi lansia di WR rata-rata kurang dari Angka Kecukupan Gizi, hanya asupan protein yang lebih dari AKG. Asupan rata-rata konsumsi energi pada laki-laki 87,73% dan perempuan 95,5% dari AKG ; rata-rata konsumsi karbohidrat pada laki-laki 89% dan perempuan 91% dari AKG ;  rata-rata konsumsi protein pada laki-laki 138% dan perempuan 131% dari AKG ;  rata-rata konsumsi lemak pada laki-laki 83,6% dan perempuan 77,8% dari AKG. Pada penelitian ini didapatkan  hubungan yang bermakna antara umur, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan asupan energi dengan status gizi.    

Nur Muhibbah; Eka Falentina Tarigan; Adelina Sembiring

Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan 2022 Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Berdasarkan data WHO tahun 2013 kejadian balita pendek atau biasa disebut dengan stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dialami oleh balita di dunia saat ini. Pada tahun 2017 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami stunting. Balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. Berdasarkan rekap data e-PPGBM pertanggal 27 november 2019, dari 10.755 balita yang didata, terdapat sebnyak 1517 balita stunting di kabupaten aceh singkil, dari survey awal yang dilakukan penulis 10 dari 15 anak mengalami stuning atau bertumbuh pendek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Terjadinya Stunting Di Desa Tanjung Mas Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2020. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang berkunjung pada posyandu didesa tanjung mas kecamatan simpang kanan pada bulan April – Juni Tahun 2020. Dalam penelitian ini jumlah populasi penulis yaitu 33 orang. Jumlah Sampel dalam Penelitian ini diambil secara total sampling yang berjumlah 33 orang. Hasil yang di peroleh dalam penelitian ini mayoritas responden berpendidikan SD memiliki anak yang tidak mengalami stunting yaitu sebanyak 12 (36, 4 %) dengan p value 0,001. Mayoritas responden yang memiliki pengetahuan yang baik memiliki anak yang tidak mengalami stunting yaitu sebanyak 15 (45,5 %) dengan p value 0,000. Mayoritas responden yang memberikan ASI Eksklusif memiliki anak yang tidak mengalami stunting yaitu sebanyak 22 (66,7 %) dengan p value 0,000. Mayoritas responden dengan pendapatan kategori tinggi memiliki anak yang tidak mengalami stunting yaitu sebanyak 22 (66,7 %) dengan p value 0,00. Diharapkan bagi kepala desa tanjung mas untuk memperhatikan anak yang mengalami stunting di Desa Tanjung Mas dan ikut serta dalam mencegah terjadinya stunting dengan Program kesehatan.  

Budi Hartoyo

Jurnal Agrifoodtech 2022 Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Kekurangan gizi merupakan permasalahan serius, sekitar 30% penduduk dunia termasuk Indonesia, terutama anak-anak, berisiko menderita kekurangan gizi Zn. Kekurangan gizi Zn juga menjadi salah satu faktor kekerdilan (stunting) yang prevalensinya cukup besar dan merata di Indonesia. Demikian pula masalah anemia karena kekurangan asupan zat gizi mikro terutama zat besi. Beras adalah makanan pokok sebagian besar penduduk di Indonesia. Sebagai pangan utama, beras diketahui memiliki nilai gizi mikro yang tidak memadai sehingga berpotensi menimbulkan kekurangan gizi bagi konsumen. Biofortifikasi merupakan salah satu inovasi dalam meningkatkan mutu gizi beras. Keuntungan biofortifikasi antara lain : (1) dapat dikembangkan pada bahan makanan pokok, (2) lebih murah dan menguntungkan dari aspek budidaya karena benih yang sudah melalui proses fortifikasi akan terikut pada generasi selanjutnya, (3) bermanfaat bagi masyarakat konsumen rawan gizi. Kandungan mineral penting seperti Fe (besi) dan Zn (seng) pada beras dapat ditingkatkan melalui biofortifikasi menjadi beras kaya Fe atau Zn. Beras kaya gizi mineral hasil biofortifikasi dapat dimanfaatkan dan dikembangkan Pemerintah guna menanggulangi masalah gizi pada masyarakat, terutama dari golongan ekonomi lemah.

Tuti Rahmawati; Dewi Marfuah; Silvia Ika Rahmawati

Sejahtera: Jurnal Inspirasi Mengabdi Untuk Negeri 2022 Universitas Maritim AMNI Semarang

Status Gizi merupakan unsur yang sangat penting bagi kesehatan lansia. Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 50 tahun ke atas dan rentan terhadap gizi. Asupan energi yang cukup dan seimbang memegang peranan yang sangat penting dalam status gizi dan kesehatan lansia dalam jangka panjang. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan gizi lansia dan mengukur status gizi lansia. Kegiatan sosialisasi masalah gizi lansia telah dilakukan di Desa Jetis Kadipiro, Surakarta yang diikuti oleh 17 lansia dengan rentang usia 50-65 tahun. Ada dua kegiatan utama yaitu edukasi gizi pada lansia menggunakan media leaflet dan power point, dan mengukur status gizi berdasarkan berat badan menggunakan timbangan digital stamping dan tinggi badan menggunakan mikrotoa kemudian menghitung indeks massa tubuh atau IMT untuk mengetahui status gizi lansia, dari pretest dan posttest yang dilakukan pada saat pemberian pendidikan gizi terjadi peningkatan pengetahuan pada lansia. Ditemukan juga bahwa rata-rata kategori status gizi lansia adalah obesitas. Hal ini tidak berbanding lurus dengan hasil pretest dan posttest yang menunjukkan tingkat pengetahuan lansia rata-rata berada pada kategori baik. Upaya yang perlu dilakukan adalah pengaturan jenis dan pola makan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh lansia. Dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi dan penilaian status gizi sangat penting karena dapat meningkatkan derajat kesehatan lansia. Adanya pendidikan gizi dan pengkajian status gizi dapat memberikan pemahaman tentang jenis dan pola asupan gizi yang tepat pada lansia.

Jane Leo Mangi

Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana (JUFDIKES) 2020 Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Masalah gizi terbagi menjadi masalah makro dan mikro.  Masalah gizi makro adalah masalah yang utamanya disebabkan oleh kekurangan atau ketidakseimbangan asupan energi dan protein. Manifestasi masalah gizi makro bila terjadi pada wanita subur dan ibu hamil yang kekurangan energi kronis (KEK) adalah berat badan bayi baru lahir yang rendah (BBLR). Keadaan tersebut bila terjadi pada anak balita akan mengakibatkan marasmus dengan kwashiorkor atau marasmic kwashiorkor dan selanjutnya akan terjadi gangguan pertumbuhan pada anak usia sekolah. Masalah gizi terbagi menjadi masalah makro dan mikro.  Masalah gizi makro adalah masalah yang utamanya disebabkan oleh kekurangan atau ketidakseimbangan asupan energi dan protein. Manifestasi masalah gizi makro bila terjadi pada wanita subur dan ibu hamil yang kekurangan energi kronis (KEK) adalah berat badan bayi baru lahir yang rendah (BBLR). Keadaan tersebut bila terjadi pada anak balita akan mengakibatkan marasmus dengan kwashiorkor atau marasmic kwashiorkor dan selanjutnya akan terjadi gangguan pertumbuhan pada anak usia sekolah. Tujuan dari penelitian ini mengetahui pengaruh pemberdayaan keluarga  terhadap  pengetahuan pengelolaan  makanan lokal Bagi Balita di Desa Noepesu. . Besar sampel 120 ibu yang mempunyai balita untuk kelompok eksperimen dan 60  orang ibu balita sebagai kelompok control 60 orang.Hasil penelitian  variable pengetahuan gizi (X1) mempunyai pengaruh positif terhadap perilaku gizi ibu dengan koefisien regresi sebesar 0,333. artinya bahwa apabila pengetahuan gizi meningkat sebesar 1 persen maka perilaku gizi akan meningkat sebesar 0,333 persen. Simpulan dari penelitian ini pemberdayaan keluarga berpengaruh terhadap pengetahuan  ibu dalam memanfaatkan makanan local untuk balita