Publication Search

71,387 articles from 644 journals · 2,111 citations tracked

Showing 1-5 of 5

Analytics

Serli Rosida; Ahmad Ilzamul Hikam

Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya 2025 Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

This study analyzes the representation of psychological trauma and collective memory in the novel Laut Bercerita by Leila S. Chudori through the psychoanalytic approach of Sigmund Freud and Maurice Halbwachs’ theory of collective memory. The research employs a descriptive qualitative method with content analysis techniques applied to the text. The findings reveal that the trauma experienced by the main character, Biru Laut, reflects internal conflicts among the id, ego, and superego, as well as the emergence of various defense mechanisms such as repression, sublimation, and acting out. Trauma is portrayed not only as an individual experience but also as a collective wound affecting families and communities, which manifests in symbolic actions like the Kamisan protest. The novel serves as a cathartic space and cultural archive that voices historical wounds while advocating for justice and social recovery. Thus, Laut Bercerita functions not only as a literary work but also as a reflective medium for understanding and preserving the nation's collective trauma.

Serli Rosida; Ahmad Ilzamul Hikam

Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya 2025 Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

This study analyzes the representation of psychological trauma and collective memory in the novel Laut Bercerita by Leila S. Chudori through the psychoanalytic approach of Sigmund Freud and Maurice Halbwachs’ theory of collective memory. The research employs a descriptive qualitative method with content analysis techniques applied to the text. The findings reveal that the trauma experienced by the main character, Biru Laut, reflects internal conflicts among the id, ego, and superego, as well as the emergence of various defense mechanisms such as repression, sublimation, and acting out. Trauma is portrayed not only as an individual experience but also as a collective wound affecting families and communities, which manifests in symbolic actions like the Kamisan protest. The novel serves as a cathartic space and cultural archive that voices historical wounds while advocating for justice and social recovery. Thus, Laut Bercerita functions not only as a literary work but also as a reflective medium for understanding and preserving the nation's collective trauma.

Wayan Ayu Diana Lestari; Jurana Jurana; Nur Riski Islianty

Jurnal Manajemen Kreatif dan Inovasi 2023 International Forum of Researchers and Lecturers

Penulis menyumbangkan sedikit usaha dan pemikiran untuk membantu usaha kecil bertahan dan tumbuh dalam segala situasi. UMKM Desa Magrove enu, jahe instan merupakan produk makanan dalam bentuk bubuk, minuman jahe instan digunakan untuk menciptakan produk yang hemat dan memiliki banyak manfaat kesehatan yang disukai oleh semua kalangan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa karena sangat mudah disajikan dan bisa juga diminum untuk orang tua, muda atau bahkan anak kecil. penulis berusaha memberikan solusi dan inovasi untuk meningkatkan penjualan dan mengembangkan produk UMKM Magrove di era teknologi yang berkembang. Penulis mencoba membuat label baru untuk UKM jahe instan. . Dengan label yang menarik dapat meningkatkan minat konsumen. Konsumen lebih tertarik dengan label daripada produk yang tidak memiliki label. Label mampu menjadi identitas dan akan masuk dalam ingatan konsumen, hal ini sangat mempengaruhi konsumen jika konsumen berniat untuk membeli kembali.

Angelo Luciani Moa Dosi Woda

Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik 2022 STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Dalam karya terkenalnya, Mendaki Gunung Karmel, III, 1-15, Santo Yohanes Salib mengajarkan kepada segenap umat beriman bagaimana cara memurnikan ingatan melalui Pengharapan. Itu berarti suatu pemurnian terhadap ingatan melalui kebajikan teologal pengharapan. Dalam ingatan sendiri terdiri atas tiga macam objek pengetahuan, yaitu kodrati, imajinatif, dan spiritual. Karena itu hidup dalam pengharapan berarti kelepasan atas pengenalan kodrati dan pengenalan adikodrati. Dalam pemurnian tersebut, seorang harus mengabaikan segala macam bentuk, gambar, dan fantasi supaya ia semakin bersatu dengan Allah. Pada akhirnya, hidup dalam pengharapan sebagai anak-anak Allah ialah suatu hidup dalam pengenalan rohani yang melampaui segala pengertian.

M. Zaki Alfriandi; Fitria Dwi Astuti

Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa 2022 Pusat riset dan Inovasi Nasional

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan simbol romantisisme pada salah satu puisi karya Heri Isnaini yang berjudul “Aku Membawa Angin”. Konsep romantisisme ini dilatarbelakangi oleh salah satu tokoh romantik dari Belanda yaitu Williem Kloos sebagai aliran filosofi atau konsep kesenian yang mengunggulkan perasaan, intuisi, dan imajinasi yang cenderung pada fenomena dan reaksi alam. Sumber data dalam penelitian ini adalah pada buku “Montase Sepilihan Sajak”. Dalam metodologi penelitiannya menggunakan metode deskriptif analisis dan bersifat kualitatif. Adapun prosedur langkah-langkah yang digunakan untuk pengumpulan data (1) membaca puisi tersebut, (2) mengidentifikasi nilai romantisme dalam puisi, (3) mencatat dan mendeskripsikan nilai romantisme puisi berdasarkan interpretasi dengan pendekatan semiotik yang digagas oleh Charles Sanders Peirce dan terakhir (4) menyusun hasil analisis. Hasil analisis puisi secara tekstual, simbol diksi angin dapat diartikan sebagai media pengirim pesan/perasaan yang diciptakan oleh Tuhan untuk membawa jiwa atau ingatan orang yang sedang kita pikirkan. Jika dikorelaskan dengan salah satu ciri romantisisme berkaitan dengan prinsip kembali ke alam sebagai ekspresi untuk mengemukakan perasaan romantik melalui lanskap imajinasi yang mengerucut pada reaksi-reaksi alam.